NOVEL: KURSUS KURUS (Bagian 1)
GILAK! Kayaknya tingkat kepedean makin runtuh pas pagi-pagi bercermin didepan kaca lemari. Tidak puas dengan rasa penasaran, gue nekad m…
Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text.
GILAK! Kayaknya tingkat kepedean makin runtuh pas pagi-pagi bercermin didepan kaca lemari. Tidak puas dengan rasa penasaran, gue nekad m…
“Kamu punya sesuatu yang diperlihatkan?” tanyaku dengan tatapan menggoda. Gadis itu melengos. “ Nggak ada”. Simple word, tapi seperti tusukan…
Bagian 6 : Bertikai Perlombaan antar Madrasah tinggal beberapa hari. Persiapan demi persiapan sudah mulai mencapai 90%. Hanafi menjadi orang …
GILAK!
Kayaknya tingkat kepedean makin runtuh pas pagi-pagi bercermin didepan kaca lemari. Tidak puas dengan rasa penasaran, gue nekad mengijakkan kakiku ke timbangan yang tergeletak dibawah lemari. Jujur gue gemetar. Seakan ada dua kekuatan yang menahan dan mewajibkan untuk meletakkan kaki diatasnya walau akhirnya gue letakkan juga kedua kakiku.
Aaaaakkkhhhhh! Pengen menjerit rasanya begitu melihat jarum bergerak semakin ke kanan. Ya Tuhan, perasaan belum lama masih berada di kiri sekarang sudah bergeser jauh. 76 Kilo! Gawat! Mengingat hari pertunangkanku dengan Bimo tinggal menghitung hari. Apa gue salah makan selama beberapa bulan ini. Padahal Senin depan ada pemotretan untuk pre-wedding. Belum lagi harus mengukur baju, dll. Artinya kalau berat badanku tetap segini, maka gue akan terlihat gembrot didepan kamera, secara harfiah gue akan terlihat jelek di mata calon suamiku. Gawat benar-benar gawat.
“Oh no. Gue harus terlihat cantik.” Pikirku dalam hati.
Pingin ngedumel sambil banting cermin yang seolah-olah mengejekku dengan senyum jeleknya. Sumpah, yang terbayang adalah senyuman Fiona, rival beratku di kampus yang kerap melalukan bullying karena ukuran badanku yang terus melebar. Padahal pas pertama kali masuk kampus badanku lebih terbentuk daripada Fiona. Kami berdua sudah seperti dua kutub yang berlainan dan terus berkompetisi untuk mendapatkan predikat sebagai cewek tercantik dan terseksi se-Akuntansi! Bahkan sampai hampir lulus pun masih bersaing. Kayaknya gue sudah terkalahkan. Body itu anak masih biasa-biasa saja sementara gue makin melebar jauh. Apalagi pas semakin dekat dengan momen pertunanganku. Ini tidak bisa di biarkan. Gue harus melakukan sesuatu.
“Tante Sherly mungkin bisa membantu kali ya, dia khan punya gym dan salon kecantikan. Ya, sepertinya cuma Tante Sherly yang bisa membantuku. Pokoknya gue harus terlihat lebih ideal, gue nggak akan biarin Fiona taik kucing itu menghinaku. Tidak akan.”
Ya. Gue benar. Ku cari-cari ponselku yang sudah terlempar di bawah kasur. Kebiasaanku, kalau bangunn tidur semua benda sudah kemana-mana. Tak apa, namanya juga cewek. Pandanganku beralih ke luar jendela, gue bergerak pelan, kupegang ujung gordyn dan ku geser pelan-pelan. Cahaya matahari pagi langsung menerpa wajahku. Hangat. Karena kamar apartemenku berada di lantai 9 maka terlihat jelas lalu-lintas di bawah sana mulai hiruk pikuk. Di ujung sana bangunan-bangunan menjulang tinggi juga terlihat begitu gagah. Uhh Jakarta! Kalau setiap bangun pagi selalu disuguhi pemandangan seperti ini, rasanya memang gue sudah memiliki segalanya. Walau faktanya justru kebalikan. Jam di dinding menunjukkan pukul 08.10. Masih terlalu pagi untuk bangun, tapi karena ini weekend dan gue punya misi makanya gue bangun lebih awal.
Baca juga Novel: Bertepuk Sebelah Rindu
Duh jadi ngelantur. Mana handphoneku?
Ku cari nama Tante Sherly di kontak Whatsappku. Menghubungkan ke panggilan video. Kalau weekend begini sudah jelas tante cantik itu sudah ada di samping beranda rumahnya untuk senam atau melguekan olahraga ringan. Gue sering mengikuti kegiatannya melalui postingan di guen Instagramnya. Heran juga sih, itu tante-tante padahal kerjanya tidak jauh-jauh dari BANKIR tapi tetap aktif di media sosial dan mengumbar keindahan lekukan body nya. Kuakui sih, body goal banget. Anaknya sudah dua tapi masih kencang dan seksi. Katanya sih rahasianya adalah rajin olahraga. Idih, boro-boro olahraga, gue lari-lari kecil saja maybe sebulan sekali. Alhasil ya, badanku makin bongsor.
Ting!
Wajah cantik muncul di layar handphoneku. Tuh khan bener, si tante sudah siap dengan slim suitnya. Wajahnya berkeringat dan sangat glowing. “Hai rev, selamat pagi. Tumben pagi-pagi sudah videocall. Tante lagi booty fire nih. Apa kabar lo?” Suara di seberang sana.
“Hai tan, baik nih. Tante semangat sekali ya, pagi-pagi sudah workout.”
“Biasalah Rev”. Tante Sherly mendekatkan mulutnya ke layar dengan posisi tangan menunjukkan ekspresi seolah-olah tengah berbisik “buat suami.” Katanya. Aku tertawa.
“Duh! So sweet sekali tante.” Jawabku.
"Well, gimana ada something happen atau ada sesuatu yang perlu kita bahas?”
“Itu dia tante. Gue mau curhat sih. Ini berat badan gue makin lama makin naik. Sedih banget nggak sih tan, padahal Senin ada photoshoot sama Bimo. Tante paham khan apa yang gue rasain. Pengen nangis rasanya tan. Tante harus bantu Reva!”
“Hahaha. I knew that feeling. Lo sih, pola makan tidak teratur, nggak diet, mabok mulu. Melar khan jadinya. Padahal sebelumnya udah kayak gitar Spanyol. Tapi ya tante nggak bisa bantu banyak, mungkin bisa ikutan workout sama tante. Nikahanmu masih beberapa bulan lagi khan, bisa lah, kamu punya waktu kok untuk membakar lemak. Tante bantu.”
“Serius tan?!” Wajahku mendadak sumringah.
“Iya lah cantik. Pokoknya gini deh, mulai besok bisa workout sama tante. Nanti tante kenalin sama temennya tante deh yang juga udah mahir soal beginian. Dia juga salah satu consultant buat urusan kayak gini sih. Buat artis lagi.” Kata tante Sherly.
“Artis siapa tan?”
“Itu loh, Kartika Ringga, pernah dengar nggak. Doi artis sama selebram gitu. Ada artis lain juga sih, kalau nggak salah Diana Lee atau siapa gitu, rata-rata artis yang ada di manajemen atau satu tempat rekamannya gitu. Tante saranin deh, karena tante juga sering banget discuss soal pembentukan booty atau yang lain. Tante sih yakin doi bakal bisa ngasih solusi buat lo.”
“Mau banget tan. Ya udah minggu depan ya.”
“No. Mulai besok pagi! Lo kalau mau bener-bener, harus disiplin, dan itu dimulai besok pagi.”
“Iya deh tante iyaaa. Besok pagi-pagi Reva kesana. Terima kasih banyak tante.”
“Sama-sama Reva. See you tomorrow yaa sayang. Bye bye.”
Semoga ini bisa jadi solusi. Sumpah, insecure banget sama keadaan ini. Emang sih kayaknya lebay banget tapi kalau jadi gue sih bakal panik. Pokoknya misi selama beberapa bulan ini gue harus di angka ideal. Target turun sih banyak. Tidak boleh lebih dari 61. Semoga saja bisa. Baiklah, kita mulai besok!
B E R S A M B U N G
GILAK!
Kayaknya tingkat kepedean makin runtuh pas pagi-pagi bercermin didepan kaca lemari. Tidak puas dengan rasa penasaran, gue nekad mengijakkan kakiku ke timbangan yang tergeletak dibawah lemari. Jujur gue gemetar. Seakan ada dua kekuatan yang menahan dan mewajibkan untuk meletakkan kaki diatasnya walau akhirnya gue letakkan juga kedua kakiku.
Aaaaakkkhhhhh! Pengen menjerit rasanya begitu melihat jarum bergerak semakin ke kanan. Ya Tuhan, perasaan belum lama masih berada di kiri sekarang sudah bergeser jauh. 76 Kilo! Gawat! Mengingat hari pertunangkanku dengan Bimo tinggal menghitung hari. Apa gue salah makan selama beberapa bulan ini. Padahal Senin depan ada pemotretan untuk pre-wedding. Belum lagi harus mengukur baju, dll. Artinya kalau berat badanku tetap segini, maka gue akan terlihat gembrot didepan kamera, secara harfiah gue akan terlihat jelek di mata calon suamiku. Gawat benar-benar gawat.
“Oh no. Gue harus terlihat cantik.” Pikirku dalam hati.
Pingin ngedumel sambil banting cermin yang seolah-olah mengejekku dengan senyum jeleknya. Sumpah, yang terbayang adalah senyuman Fiona, rival beratku di kampus yang kerap melalukan bullying karena ukuran badanku yang terus melebar. Padahal pas pertama kali masuk kampus badanku lebih terbentuk daripada Fiona. Kami berdua sudah seperti dua kutub yang berlainan dan terus berkompetisi untuk mendapatkan predikat sebagai cewek tercantik dan terseksi se-Akuntansi! Bahkan sampai hampir lulus pun masih bersaing. Kayaknya gue sudah terkalahkan. Body itu anak masih biasa-biasa saja sementara gue makin melebar jauh. Apalagi pas semakin dekat dengan momen pertunanganku. Ini tidak bisa di biarkan. Gue harus melakukan sesuatu.
“Tante Sherly mungkin bisa membantu kali ya, dia khan punya gym dan salon kecantikan. Ya, sepertinya cuma Tante Sherly yang bisa membantuku. Pokoknya gue harus terlihat lebih ideal, gue nggak akan biarin Fiona taik kucing itu menghinaku. Tidak akan.”
Ya. Gue benar. Ku cari-cari ponselku yang sudah terlempar di bawah kasur. Kebiasaanku, kalau bangunn tidur semua benda sudah kemana-mana. Tak apa, namanya juga cewek. Pandanganku beralih ke luar jendela, gue bergerak pelan, kupegang ujung gordyn dan ku geser pelan-pelan. Cahaya matahari pagi langsung menerpa wajahku. Hangat. Karena kamar apartemenku berada di lantai 9 maka terlihat jelas lalu-lintas di bawah sana mulai hiruk pikuk. Di ujung sana bangunan-bangunan menjulang tinggi juga terlihat begitu gagah. Uhh Jakarta! Kalau setiap bangun pagi selalu disuguhi pemandangan seperti ini, rasanya memang gue sudah memiliki segalanya. Walau faktanya justru kebalikan. Jam di dinding menunjukkan pukul 08.10. Masih terlalu pagi untuk bangun, tapi karena ini weekend dan gue punya misi makanya gue bangun lebih awal.
Baca juga Novel: Bertepuk Sebelah Rindu
Duh jadi ngelantur. Mana handphoneku?
Ku cari nama Tante Sherly di kontak Whatsappku. Menghubungkan ke panggilan video. Kalau weekend begini sudah jelas tante cantik itu sudah ada di samping beranda rumahnya untuk senam atau melguekan olahraga ringan. Gue sering mengikuti kegiatannya melalui postingan di guen Instagramnya. Heran juga sih, itu tante-tante padahal kerjanya tidak jauh-jauh dari BANKIR tapi tetap aktif di media sosial dan mengumbar keindahan lekukan body nya. Kuakui sih, body goal banget. Anaknya sudah dua tapi masih kencang dan seksi. Katanya sih rahasianya adalah rajin olahraga. Idih, boro-boro olahraga, gue lari-lari kecil saja maybe sebulan sekali. Alhasil ya, badanku makin bongsor.
Ting!
Wajah cantik muncul di layar handphoneku. Tuh khan bener, si tante sudah siap dengan slim suitnya. Wajahnya berkeringat dan sangat glowing. “Hai rev, selamat pagi. Tumben pagi-pagi sudah videocall. Tante lagi booty fire nih. Apa kabar lo?” Suara di seberang sana.
“Hai tan, baik nih. Tante semangat sekali ya, pagi-pagi sudah workout.”
“Biasalah Rev”. Tante Sherly mendekatkan mulutnya ke layar dengan posisi tangan menunjukkan ekspresi seolah-olah tengah berbisik “buat suami.” Katanya. Aku tertawa.
“Duh! So sweet sekali tante.” Jawabku.
"Well, gimana ada something happen atau ada sesuatu yang perlu kita bahas?”
“Itu dia tante. Gue mau curhat sih. Ini berat badan gue makin lama makin naik. Sedih banget nggak sih tan, padahal Senin ada photoshoot sama Bimo. Tante paham khan apa yang gue rasain. Pengen nangis rasanya tan. Tante harus bantu Reva!”
“Hahaha. I knew that feeling. Lo sih, pola makan tidak teratur, nggak diet, mabok mulu. Melar khan jadinya. Padahal sebelumnya udah kayak gitar Spanyol. Tapi ya tante nggak bisa bantu banyak, mungkin bisa ikutan workout sama tante. Nikahanmu masih beberapa bulan lagi khan, bisa lah, kamu punya waktu kok untuk membakar lemak. Tante bantu.”
“Serius tan?!” Wajahku mendadak sumringah.
“Iya lah cantik. Pokoknya gini deh, mulai besok bisa workout sama tante. Nanti tante kenalin sama temennya tante deh yang juga udah mahir soal beginian. Dia juga salah satu consultant buat urusan kayak gini sih. Buat artis lagi.” Kata tante Sherly.
“Artis siapa tan?”
“Itu loh, Kartika Ringga, pernah dengar nggak. Doi artis sama selebram gitu. Ada artis lain juga sih, kalau nggak salah Diana Lee atau siapa gitu, rata-rata artis yang ada di manajemen atau satu tempat rekamannya gitu. Tante saranin deh, karena tante juga sering banget discuss soal pembentukan booty atau yang lain. Tante sih yakin doi bakal bisa ngasih solusi buat lo.”
“Mau banget tan. Ya udah minggu depan ya.”
“No. Mulai besok pagi! Lo kalau mau bener-bener, harus disiplin, dan itu dimulai besok pagi.”
“Iya deh tante iyaaa. Besok pagi-pagi Reva kesana. Terima kasih banyak tante.”
“Sama-sama Reva. See you tomorrow yaa sayang. Bye bye.”
Semoga ini bisa jadi solusi. Sumpah, insecure banget sama keadaan ini. Emang sih kayaknya lebay banget tapi kalau jadi gue sih bakal panik. Pokoknya misi selama beberapa bulan ini gue harus di angka ideal. Target turun sih banyak. Tidak boleh lebih dari 61. Semoga saja bisa. Baiklah, kita mulai besok!
B E R S A M B U N G