REIYS MEDIA

Menu

  • Home
  • Services
  • Conuter
  • Information
  • Projects
  • Reviews
  • Blog
  • social media
  • break
  • culture
  • Shop
  • Home
  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Documentation
  • _Web Documentation
  • _Video Documentation
  • Download This Template

Recent Blog Posts

Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text.

Showing posts from October, 2018Show all
RATRI KEMBANG DESA Mainstream Romance Novel

RATRI KEMBANG DESA Mainstream Romance Novel

Unknown October 10, 2018 literature

Nama Andra hanyalah masa lalu bagi Ratri. Tidak ada lagi nama Andra terlintas di ingatan gadis itu. Tidak ada bayangan soal pemuda tampan…

Popular Posts

Projects

3/Business/post-list

Subscribe Us

Facebook

Categories

Tags

  • 2018
  • 2019
  • 2020
  • artikel
  • blogging
  • cerpen
  • dania
  • destinasi wisata
  • galeri
  • Jawa Tengah
  • Karimun Jawa
  • Klaten
  • kuliner
  • Kulonprogo
  • literature
  • myherisetia
  • novel
  • tavelblogger
  • Travelblogger
  • traveling
  • warisan nusantara
  • wisata alam
  • Yogyakarta
Powered by Blogger

Ad Code

Responsive Advertisement

Contact Me

Report Abuse

Search This Blog

  • December 20201
  • January 20208
  • December 20192
  • November 20193
  • September 20191
  • July 20191
  • June 20195
  • May 20191
  • April 201911
  • March 20196
  • February 20192
  • December 20186
  • November 20181
  • October 20181

Subscribe Us

Ad Space

Responsive Advertisement

Menu Footer Widget

  • Home
  • About
  • Contact Us

Social Plugin

Categories

RATRI KEMBANG DESA Mainstream Romance Novel

by Unknown October 10, 2018




Nama Andra hanyalah masa lalu bagi Ratri. Tidak ada lagi nama Andra terlintas di ingatan gadis itu. Tidak ada bayangan soal pemuda tampan yang pernah singgah dan membuat hatinya selalu ceria. Andra yang pernah dikenalnya sudah Pergi. Pemuda manis yang kerap dirindukan sosoknya itu telah menghilang bak ditelan bumi, dan sejak itulah segenap kerinduan dan cinta yang Ratri tahu berubah menjadi kepahitan yang terus menghantui setiap langkah hidupnya.
Ratri mengenalnya saat pemuda itu hadir ke Dusunnya sebagai salah satu mahasiswa kota yang datang ke Dusunnya saat ada kegiatan KKN. Andra Aldiansya, nama pemuda itu. Dia bersama dengan kesepuluh temannya adalah mahasiswa KKN di Dusunnya. Mereka tinggal di samping rumah pak RT yang kebetulan dekat dengan rumahnya. Andra adalah mahasiswa paling komunikatif dibanding teman-temannya yang lain. Sebagai orang Dusun, Ratri dan remaja Dusun lainnya masih terkagum-kagum dengan sosok ‘orang kota’ yang melekt pada diri mahasiswa-mahasiswa tersebut. Malu rasanya dekat dengan mereka, apalagi mereka juga memiliki kebiasaan yang berbeda dengan pemuda-pemuda di Dusun ini. Dusun ini masih jauh dari perkotaan, berada di pinggiran antara Kabupaten Gunungkidul. Wajar saja di Dusunnya ini masih begitu ‘welcome’ dan ada sedikit pandangan ‘wah’ terhadap orang kota.
Andra berbeda. Andra yang paling rajin berkumpul dengan pemuda Dusun, meskipun tidak ada teman-temannya yang ikut bergabung. Andra yang mahir bermain gitar mampu membuat remaja Dusun itu suka bernyanyi bersama dengan mereka. Andra juga tak malu ikut bermain badminton bersama dengan remaja Dusun lainnya. Seminggu saja di Dusun itu, semua anak sudah mengenalnya, begitu juga dengan warga Dusun lainnya. Andra menjadi idola baru mereka. Andra memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi, namun tubuhnya berotot, yang paling diingat adalah sifatnya yang ramah dan tatakramanya bagus. Pemuda itu padahal bukan berasal dari Jawa, tapi sopan dan santunnya sungguh luar biasa, itu yang membuat banyak yang menyukainya.
Sebagai gadis Dusun yang terbilang masih polos dan lugu, rasa tertarik pada pemuda itu muncul di diri Ratri. Entah sejak kapan perasaan gugup dan nervous hinggap di dadanya setiap dekat-dekat dengan pemuda itu.
Hari itu dia merasakan nervous luar biasa ketika dia sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah lalu tanpa sengaja pemuda itu juga tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Saat itu Andra sedang bersama Lukman, teman KKN nya. Meskipun jaraknya belum dekat  Ratri sudah tak kuasa mengangkat wajahnya, sontak dia hanya menunduk. Dadanya bergetar hebat ketika langkah kedua pemuda itu semakin mendekat ke arahnya.
“Dek Ratri baru pulang sekolah?”
Suara itu.  Menghancurkan segenap kekuatannya. Ingin rasanya dia menggelosor di jalanan seketika. Dihadapannya kini sudah ada pemuda tampan berambut klimis. Aroma parfumnya menusuk hidung. Pemuda itu tersenyum kepadanya. Masya Allah. Betapa nervousnya luar biasa.
“Iy..iyaa kak. Baru pulang.” Jawabnya terbata-bata.
“Kok sendirian? Biasanya sama Janah?” Tanya pemuda itu.
Janah adalah teman sekolahnya yang berasal dari Dusun yang sama. Di Dusun ini hanya ada Janah dan dirinya yang duduk di sekolah menengah atas, sementara yang lain masih duduk di sekolah menengah dan sekolah dasar. Pemuda dan gadis-gadis di Dusunnya rata-rata sudah meninggalkan Dusun begitu selesai sekolah menengah untuk bekerja di kota. Ada yang ke Jakarta, ke Surabaya, Jogja, atau ke Semarang.
“Janah masih ada kegiatan di sekolah kak, jadi aku duluan.”
“Jalan kaki?”
“Iya kak.” Jawab Ratri. “ Kakak-kakak ini mau kemana?”
“Kita mau ke rumahnya Pak,...siapa ini? Ohya, Pak Hamdani.” Kata Andra sembari melihat ke ponselnya. “ Tapi kami tidak tahu rumahnya.”
“Iya nih, rumahnya tidak tahu.” Lukman ikut menimpali.
“Rumahnya di sebelah barat kak, perbatasan yang mau ke RT 2. Nah, disana nanti ada empat rumah, yang dua berwarna hijau tua, lalu ada rumah yang di depannya ada bibit-bibit pohon mangga di plastik, rumah Pak Hamdani yang paling barat. Pak Hamdani ketua RW khan maksudnya?”
“Iya betul, Pak RW yang itu. Jadi ini ke barat ya, ada tikungan atau perempatan? ” Tanya Andra lagi.
“ Perempatan hanya satu kak. Setelah itu tidak ada rumah lagi.”
“Bagaimana, Lukman?” Andra bertanya pada temannya.
“Kita cari?” Tanya Lukman kembali.
“ Dek Ratri tidak mau mengantarkan?”
Pertanyaan Andra membuat gadis itu sedikit terhenyak.
“ Apa kak, ehm mengantarkan?” Tanyanya. Kepalanya menunduk.
“Tidak keberatan?”
Pertanyaan Andra seakan menjadi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tidak. Ratri yang sudah diserang nervous luar biasa sedari tadi hanya bisa mengangguk pelan dan kembali menunduk, tak mampu dia mendongakkan kepala melihat ke arah pemuda itu. Andra sekilas dilihatnya tersenyum. Tangan pemuda itu mengacungkan jempolnya di posisi terbalik dan menunjuk jalan yang ada didepan mereka seakan mempersilahkan dirinya untuk memutar arah dan mengikuti kedua pemuda itu. Tentu saja Ratri tahu betul dengan gerakan tangannya itu, karena bagi orang Jawa itu adalah isyarat mempersilahkan atau meminta dengan sopan. Ratri hanya bisa melangkahkan kakinya bersama kedua pemuda kota itu. Kedua pemuda itu berjalan sambil berbincang tentang kegiatan mereka selama KKN, tak jarang mereka juga bertanya kepadanya tentang banyak hal tentang Dusunnya itu. Kadang diselipi dengan tawa dan candaan yang sebenarnya membuatnya rikuh untuk menimpali namun dia juga terlarut dalam obrolan kedua anak kota itu, ada beberapa topik yang tidak diketahuinya, dia cukup mendengar dan menikmati obrolan mahasiswa-mahasiswa itu.
Berjalan bersama kedua mahasiswa kota itu membuat beberapa warga Dusun melihat kearahnya. Mereka ada yang menyapa dan sebagian justru menggodanya. Di depan rumah Mbak Dewi misalnya, kebetulan ada Mbak Dewi dan Ibu Yani, keduanya menggoda Ratri dengan memberikan “cie cie” kepadanya. Pemuda itu hanya membalas dengan senyuman saja, seakan mereka tidak terlalu peduli dengan tanggapan mereka.
“Mbak-mbak itu naksir kamu, Lukman!” Kata Andra sambil tertawa.
“Bukannya naksirnya ke dirimu bang!, kamu khan yang paling banyak fans nya. Dari mulai anak-anak sampai ibu-ibu.” Sahut Lukman.
“Kata Siapa?” Tanya Andra.
“Tanya saja sama Ratri.”
Ratri ikut tersenyum. “Betul kak.”
“Wah, begitu ya? Kok aku baru tahu ya?” Andra terkekeh.
“Makanya peka!”
Ratri ikut tertawa saja mendengarnya. Andra sepertinya memang orang yang tidak terlalu ambil peduli dengan apa tanggapan orang lain kepada dirinya. Sepertinya dia termasuk sosok yang tulus-tulus saja melakukan sesuatu tanpa memikirkan balasan dari orang lain. Ah, pemuda yang mengagumkan. Ratri serasa ingin menepuk jidatnya, entah setan mana yang memaksanya untuk memikirkan hal itu.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Pak RW yang dituju. Begitu sampai dirinya hendak memutar arah dan pulang karena tugasnya sudah selesai. Namun Andra justru memegang tangannya seakan menahannya untu pergi. Dirasakannya ada aliran listrik yang menyengat kulitnya. Kulit pemuda itu yang menyentuh tangan lembutnya hanya bisa membuatnya berdiri termangu. Bulu disekujur tubuhnya seakan berdiri seketika. Terlebih saat pemuda itu membisikkan sesuatu kepadanya.
 “Masuk dulu, pulangnya nanti bareng kakak.” Katanya.
Ratri tergagap. Dia hanya mengikuti saja saat pemuda itu menyeret tubuhnya memasuki halaman rumah Pak Hamdani. Dia bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Senyum kecil berkembang di bibirnya. Akhirnya mau tidak mau dia ikut pemuda itu. Bahkan Pak RW juga sempat membuatnya rikuh seketika melihat dirinya bersama dengan pemuda-pemuda itu.
 “Wah ada Ratri juga ternyata. Ini gadis yang paling cantik di Dusun ini lho mas Andra, banyak yang sudah kepincut.” Kata Pak RW.
 “Ohya? Seperti itu nggeh pak?”
Andra melirik ke arahnya. Ratri berusaha tak bereaksi.
 “Pak RW berlebihan ah!” Jawab Ratri pelan.
 “Haha, Benar begitu adanya kok!” Pak RW tertawa menggodanya.
Kemudian Pak RW bertubuh gemuk itu mempersilahkan mereka masuk. Rumah sejuk Pak RW dengan kipas angin besar di sudut ruangan seakan menjadi pengusir peluh yang membanjir karena sedari tadi di terjang terik matahari. Tak lama kemudian beberapa gelas yang berisi air es dengan sirup berwarna merah dibawa keluar dengan istri Pak RW. Sirup merah itu menggodanya seakan menari-nari memintanya untuk mencicipi, dia hanya menunggu dipersilahkan saja. Tak lama bakwan dan pisang goreng juga keluar dari dalam disuguhkan kepada mereka.
Hari itu mahasiswa-mahasiwa itu tengah membicarakan tentang salah satu kegiatan mereka selama kegiatan KKN. Salah satu kegiatannya mereka adalah mengadakan pengajian remaja bersama di masjid setiap malam minggu, selain itu juga diselipi oleh pembahasan inspiratif yang nantinya akan menambah wawasan para remaja Dusun. Bila di malam minggu ada pengajian remaja, malam selasa dan rabu ada pengajian lain di rumah-rumah remaja. Intinya adalah memberikan kegiatan positif kepada remaja Dusun sekaligus sebagai media untuk mengkampanyekan hal-hal positif. Ratri serius mendengarkan gagasan mereka, namun semuanya tidak ada nyangkut di kepalanya selain ucapan terakhir Andra ketika mereka dalam perjalanan pulang.
“ Nanti ketemu ya di masjid!” Begitu kata Andra.
***
Cerita soal dirinya menemani pemuda itu ke rumah Pak RW menjadi cerita menarik sore itu, dimana sebelum pengajian dimulai semua hampir-hampir menggodanya. Bukan main malunya Ratri. Ini adalah pertama kali dirinya berjalan berdua dengan lawan jenis. Di sekolahnya saja dia begitu menutup diri dengan enggan untuk menerima ajakan teman lelakinya walau hanya sekedar jalan bersama di kantin atau perpustakaan. Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya berdekatan dengan pemuda yang mampu menghipnotis dirinya itu, tidak ada yang tahu bagaimana rasanya melawan dirinya untuk mengatakan tidak saat pemuda itu meminta dirinya untuk menemani pemuda itu. Lagipula hanya menemani mengantarkan saja, apa salahnya?
Tidak hanya teman-temannya saja, di rumah ibunya pun mulai sedikit menggoda ketika sedang makan malam. Ibunya awalnya hanya bercerita soal para mahasiswa-mahasiswa KKN itu yang belakangan lebih sibuk dengan kegiatannya yang melelahkan, lalu lama-lama pembicaraannya semakin personal. Menurut ibunya, dari kesebelas mahasiswa itu hanya beberapa saja yang dikenalnya, ada Lukman, Intan, Hanif, dan Andra. Andra adalah nama yang paling sering dibahas. Ratri hanya bisa tersenyum-senyum malu saja mendengarkan setiap pujian yang didengar dari mulut ibunya itu. Diam-diam pipinya merona merah, dan tanpa diketahuinya ibunya memperhatikan tingkahnya itu.
Ketika ibunya hendak membahas soal kemarin saat Ratri yang terlihat berjalan bersama pemuda itu, Ratri mendadak merasakan ada gemuruh di dadanya. Ibunya tidak marah sama sekali, justru dia tersenyum menggoda kearahanya.
“Kemarin mereka kebingungan mencari rumah Pak RW.” Kata Ratri.
“Mbak-mbak yang disana malah bilangnya dirimu kencan dengan mereka. Jalan-jalan santai dengan cowok-cowok tampan. Hehe.”
“ Ibuuuuk!” Teriak Ratri.
Seeeeerrrrrrr
Serasa ada perasaan aneh yang hinggap di hatinya. Tidak dapat dia meneruskan pembelaannya, sehingga akhirnya dia hanya bisa memutuskan untuk mendengarkan cerita ibunya saja. Ayahnya juga tak mau kalah, sepertinya cukup antusias mendengar cerita ibunya itu. Ayahnya juga bercerita saat pertama dengan mahasiswa-mahasiswa itu. Menurut cerita ayahnya, mahasiswa-mahasiswa itu ikut membantu warga mengangkuti batu-batu kapur besar untuk membuat tembok di sepanjang selokan Dusun. Batu-batu besar itu beratnya luar biasa, mahasiswa-mahasiswa itu sok merasa kuat dengan ikut membantu mengangkat batu-batu yang berukuran besar, namun tidak sampai satu jam mereka sudah kelelahan sehingga di hari berikutnya mereka tidak ikut kerja bakti lagi karena semuanya tidak ada yang bangun pagi karena kelelahan, bahkan ada yang sampai urut untuk memulihkan badan mereka yang kelelahan. Warga Dusun yang mengetahuinya hanya tertawa saja. Tidak ada yang mengejek apalagi menghina mereka. Bagi warga Dusun wajar kalau anak kota tidak terbiasa dengan pekerjaan orang Dusun, sehingga meskipun di hari berikutnya tidak ada satupun mahasiswa KKN yang datang mereka tetap melanjutkan kerja bakti, bahkan ada yang menjenguk mereka di posko KKN untuk melihat kondisi mereka. Ayahnya ikut menjenguk, sambil membawakan sekarung singkong untuk di masak oleh mahasiswa-mahasiswa itu. Ibu Maryam bahkan membawakan beras dan gula untuk mereka. Bagaimanapun juga mereka yang sedang KKN cukup membuat sedikit banyak perubahan bagi warga Dusun, untuk pemikiran dan kebiasaan baru bagi warga Dusun. Di minggu ketiga ini sudah terlihat perubahan kecilnya. Warga Dusun banyak yang ke masjid untuk shalat berjamaah, anak-anak yang ikut banyak pelatihan di kegiatan mahasiswa tersebut juga mulai semakin rajin belajar. Biasanya sepulang sekolah hanya bermain-main saja, sekarang mereka berkegiatan di balai dusun ataupun di masjid dusun. Sepanjang cerita ayahnya, Andra memang paling banyak disebut namanya. Pemuda yang kerap sebagai juru bicara itu memang yang paling dikenal. Mendengar semua itu rasanya semakin merona saja pipi Ratri.
Malam itu nama pemuda itu terus saja menghantui pikirannya Ratri. Wajah Andra yang rupawan dengan kumis tipis dan hidungnya yang sedikit bulat itu terus menyerang ingatannya. Bau parfumnya apalagi, Ratri seakan hafal dengan baunya dan terus terasa ada didekatnya. Malam itu semua yang ada pada sosok pemuda itu tergambar jelas, bahkan pakaian pemuda itu juga seakan begitu jelas di ingatannya. Andra orangnya memang mudah diingat. Pemuda itu kerap mengenakan kaos dan jaket berwarna merah yang ada gambar logo salah satu klub sepakbola Inggris, Manchester United. Agaknya Andra memang menyukai tim sepakbola itu. Jaket itu selalu dikenakannya. Kadang Andra juga mengenakan jaket hitam KKN miliknya, namun hampir setiap saat Andra memang terlihat mengenakan jaket.
Duuuuuh!
Ratri hanya bisa mengucek-ucek wajahnya berusaha menghilangkan bayangan pemuda itu. Gadis kelas tiga SMA sepertinya rasanya memang berada di masa saat perasaan suka pada lawan jenis mulai hadir. Tapi kenapa perasaan itu tumbuh pada sosok pemuda yang seakan berbeda kasta dengan dirinya. Mahasiswa kota itu jelas memiliki background yang berbeda dengannya, setidaknya Andra sudah mahasiswa. Mahasiswa seakan cukup mewakili bagaimana kehidupan Andra. Pakaian bagusnya, gadget mahalnya, dan topik pembicaraan yang tak dimengertinya sudah menunjukkan betapa dia dan pemuda itu seakan memiliki separate gate untuk bisa memuluskan perasaan yang tumbuh dihatinya itu.
Tapi apakah salah bila dia mengagumi sosok Andra seperti orang lain mengaguminya. Sebenarnya dia juga mengakui itu, namun dia tak mampu untuk melangkah lebih jauh. Pemuda itu bak hanya singgah selama empat puluh hari di Dusunnya, setelah itu akan pergi. Tak pantas rasanya Ratri menaruh hati padanya, bila akhirnya nanti akan merasakan bagaimana dia ditinggalkan begitu kegiatan pemuda itu berakhir.
***
Hari semakin senja namun suasana posko KKN terlihat sepi ketika Ratri dan Janah tiba disana. Hari itu memang ada semacam pelatihan membuat kerajinan dari kain flanel. Seorang kakak mahasiswa kemarin memang memberitahukan selepas kegiatan pelatihan komputer di balai dusun. Hari itu hari kamis, biasanya memang sepi karena pasti ada kegiatan KKN lain di Dusun sebelah, pengolahan limbah menjadi kreasi yang bisa dijual. Namun bila pengumuman dari salah satu kakak mahasiswa kemarin harusnya sore ini ada kegiatan di posko bersama anak-anak.
Agak sedikit canggung Ratri dan Janah menyusuri jalan kecil menuju posko tempat mahasiswa-mahasiswa itu tinggal selama kegiatan KKN. Rumah kosong yang ditempati mahasiswa-mahasiswa tersebut sudah berubah menjadi rumah yang selalu ramai setiap sore. Banner besar yang terpasang didepan posko itu seakan menunjukkan bahwa rumah kosong itu sudah menjadi markas mahasiswa-mahasiswa kota itu. Mereka adalah mahasiswa dari salah satu kampus swasta yang cukup besar di Kota Pelajar. Penampilan-penampilan mereka juga terlihat begitu mencolok. Kebiasaannya juga terkadang terlihat berbeda dengan remaja di Dusun ini. Kalau malam biasanya sudah berjejeran motor-motor mereka terparkir didepan posko, begitu juga saat pagi pasti kendaraan mereka sudah keluar rumah. Musik selalu terdengar dengan berbagai macam lagu-lagu yang diputar. Kalau pagi hari ada yang senam atau berjalan-jalan di sepanjang jalan Dusun,ada juga yang pergi ke pasar untuk membeli sayur dan kebutuhan selama di posko.
Di posko KKN itu memang tidak ada hiburan apa-apa, hanya ada speaker dan laptop milik mereka. Menurut cerita Andra, biasanya mereka bila sedang tidak ada kegiatan maka akan menonton film di laptop atau menonton televisi melalui TV Tuner yang konek dengan laptop mereka lalu dengan tambahan proyektor mereka menonton ramai-ramai. Semakin dekat dengan berakhirnya kegiatan mereka memang katanya sudah jarang melakukan hal tersebut, rata-rata sudah sibuk lembur mengerjakan laporan dan matriks kegiatan mereka yang nanti akan diujiankan untuk mendapatkan nilai maksimal. Itulah sebabnya mengapa di minggu-minggu akhir ini mahasiswa-mahasiswa itu sepertinya berada di titik super hectic untuk menyelesaikan program-program yang sudah di rencanakan di awal kegiatan. Jadi kalau mereka sudah jarang bersama-sama lain itu hal wajar, karena kegiatan yang berbeda membuat mereka kadang terpisah saat melakukan kegiatan, yang sesuai dengan program studinya masing-masing.
Untungnya tak lama kemudian dari dalam muncul dua kakak mahasiswa yang cukup mereka kenal, yaitu Kak Dipa dan Kak Nuri. Mereka kebetulan ada di posko saat Ratri dan Janah celinguk-celinguk.
“Yang lain sebentar lagi pulang, sedang ada kunjungan ke posko di Dusun sebelah. Kebetulan pembimbingnya sama, ditunggu saja ya!” Kata Kak Nuri. Kak Nuri mahasiswa asal Purworejo, dia memakai jilbab syar’i dan senyumannya yang selalu terlihat diwajahnya. Kak Nuri sangat cantik dan sopan, bahkan di antara mahasiswa KKN yang ada disitu dialah yang paling sering menyapa kalau bertemu.
Kak Dipa sendiri dari perkenalannya dulu mengaku berasal dari Bantul. Berbeda dengan Kak Nuri, Kak Dipa terkenal jauh lebih ceplas-ceplos bicaranya, namun sama baiknya. Selain mereka berdua, mahasiswa KKN yang putri lainnya ada Kak Intan, Kak Lani, Kak Dwi, dan Kak Rahma. Sementara yang putra ada Kak Andra, Kak Lukman, Kak Hanif, Kak Endra, dan Kak Fadil.
“Jadi pelatihannya?” Tanya Ratri.
“Jadi, sebentar lagi ya dik, menunggu Kak Lani dan Kak Rahma.”
“Kami tunggu di depan saja kak!”
“Tidak mau masuk?”Tanya Kak Dipa.
“Di sini saja kak,”
“Ya sudah, sebentar ya.”
“Ya kak.” Sahut Ratri dan Janah serentak.
Ratri dan Janah segera duduk di dipan yang ada di samping pintu masuk. Di hadapan mereka adalah kebun kacang tanah miliknya Pak RT, suasana semilir begitu mendamaikan hati. Janah tampaknya sibuk dengan ponselnya. Beberapa waktu yang lalu dia memang dibelikan ponsel baru oleh kakaknya yang kerja di Jakarta, sebuah handphone Android yang membuat temannya itu jadi lebih sering menatap layar ponsel.
Di Dusunnya yang mempunya ponsel bagus masih bisa dihitung jari, jadi memiliki ponsel bagus pasti akan terlihat lebih dibanding yang lain. Katanya dengan Android bisa melakukan apa saja, bukan hanya sekedar Facebookan atau membuka email tapi juga menonton video atau bermain game. Ponsel Ratri sendiri hanyalah handphone jadul merk Nokia, untuk bermain Facebook harus menggunakan aplikasi Opera Mini. Tidak ada aplikasi messaging seperti Blackberry Messenger atau Whatsapp. Baginya itu sudah cukup. Setidaknya dia memiliki, lagipula bagi anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah rasanya kebutuhan komunikasinya sudah tercukupi. Sebenarnya juga pingin memiliki handphone bagus, tapi mau meminta kepada orangtua rasanya tidak akan dikabulkan. Harga handphone yang berjuta-juta tentu tidak akan pernah disetujui bila dia meminta. Lagipula dia juga sadar diri, kondisi keluarganya rasanya tak ada pantas-pantasnya untuk memiliki barang mahal. Beruntung Janah tidak pernah pelit kepadanya, sehingga kalau sedang bersama, Ratri masih bisa meminjam untuk sekedar membuka internet untuk mencari informasi kalau ada tugas dari sekolah atau hanya sekedar membuka Facebook.
***

Bukan main kesalnya hati Ratri saat melihat Andra dan Lani berboncengan bersama sore itu. Keduanya terlihat begitu mesranya. Selama ini memang keduanya cukup dekat, bahkan motor yang kerap digunakan Andra adalah motornya Lani. Keduanya juga kerap bersama bahkan diluar kegiatan. Sore itu pemandangan itu ada didepan matanya. Rasanya ada gelora berkecamuk di hati Ratri melihatnya. Dia hanya bisa diam saja saat mereka datang danlewat begitu saja dari pintu yang lain. Dadanya bergemuruh, ada kecemburuan yang hinggap didalam hatinya.
Sebelumnya memang dirinya sudah berusaha untuk menghilangkan apa yang ada didalam hatinya. Kekagumannya pada Andra mungkin hanya sebatas kagum karena pemuda itu baik dan mampu menjadi pembimbing yang menyenangkan, namun hatinya juga tak dapat menahan firasat yang hadir. Andra mungkin memiliki kekasih, atau kedekatannya dengan Lani adalah hal yang membuatnya harus menghentikan semua perasaan yang tumbuh di hatinya.
Sore itu Lani yang menjadi instruktur di pelatihan membuat kreasi dari kain flanel. Pandangannya terus tertuju pada perempuan itu. Selama kegiatan, Ratri terus memperhatikan, bukan apa yang dikatakan oleh Lani, namun memperhatikan sosok Lani. Lani memang cantik, bahkan mungkin lebih cantik darinya. Lani memiliki kulit yang putih bersih, wajahya juga sangat canti seperti rembulan empat belas hari. Lani matanya sedikit sipit, gadis yang besar di Palembang itu sepertinya ada keturunan chinnese. Bedaknya tipis, namun lipstik merahnya sangat ketara menghiasi bibir indahnya. Pakaiannya rapi. Rambutnya panjang lurus begitu indahnya. Iri rasanya Ratri melihat sosok gadis itu.
***
 Entah ada bisikan gaib dari mana yang membuat Ratri bersolek sebelum ikut di kegiatan yang diadakan mahasiswa KKN di balai dusun pada hari itu. Sedikit ada dorongan yang membuatnya hari itu dengan sengaja mengoleskan lipstik ke bibirnya. Jilbab berwarna biru yang seragam dengan baju lengan panjangnya, bila biasanya memakai rok maka hari itu dia sengaja memakai celana jeans. Selama ini Ratri memakai jeans hanya kalau sedang jalan-jalan ke tempat wisata atau sedang dalam perjalanan ke tempat acara pernikahan atau ada acara keluarga.
Tidak hanya ibunya saja yang terkaget melihat penampilannya hari ini. Janah, sahabatnya itu yang paling terkejut. Perubahan itu sedemikian mencolok. Terutama lipstiknya. Rasanya sejak kenal dari lahir, Ratri hanya memakai lipstik beberapa kali saja itupun kalau sedang ada acara pernikahan atau sedang ikut karnaval kegiatan di sekolah, selebihnya tak pernah dilihatnya berdandan seperti sore itu.
“Tumben...,”Katanya sahabatnya itu.
“Tumben apanya Janah?” Tanya Ratri pelan.
“Tumben hari ini cantik. Mau ketemu siapa?”
“Siapa, siapa? Memangnya aku terlihat berbeda?”
“Mungkin aku yang salah atau bagaimana, tapi hari ini terlihat beda.”
“Ah, hanya perasaanmu saja!” Kata Ratri.
Sebenarnya dalam hatinya juga terselip sedikit malu. Rikuh karena tidak terbiasa berdandan membuatnya mendadak merasa jadi pusat perhatian. Bagi Ratri sekarang semua mata seorang menelanjanginya dari atas sampai kebawah. Dia berusaha untuk tidak peduli, namun akhirnya dia serasa melayang juga saat pemuda nan rupawan yang menjadi alasannya berdandan itu menyapanya dan mengagumi makeup nya hari ini.
“Wah ada Dek Ratri, ah hari ini ada yang beda. Cantik sekali.”
“Yaaa ampun. Kak Andra memujiku!” Teriaknya dalam hati.
Begitu katanya. Bukan main meronanya kedua pipi Ratri mendengar pujian itu. Di dadanya yang sedari tadi bergemuruh karena nervous mendadak serasa terisi oleh udara berlebih sehingga membuat tubuhnya menjadi enteng bak balon gas. Sesaat tubuhnya melayang terbang jauh keatas diantara awan-awan. Namun sesaat kemudian dia kembali mengijakkan kaki di bumi, berusaha menguasai dirinya.
“Ratri, sadar, jangan seperti ini.” Jeritnya dalam hati.
“ Hai kak Andra...”
Akhirnya hanya kalimat itu yang terucap dari mulutnya.
Andra tersenyum manis dan berlalu darinya. Ratri hanya memandangi punggung pemuda itu dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Pemuda sudah berdiri di depan anak-anak dan remaja yang hadir, seperti hari-hari sebelumnya Andra menjadi instruktur sekaligus sebagai pembimbing mereka selama pelatihan di kegiatan KKN. Andra yang terlihat sabar tampak sibuk kesana-kemari untuk memberikan tutorial kepada peserta pelatihan. Sore itu pelatihannya adalah pelatihan komputer. Andra yang merupakan mahasiswa Tekhnik Informatika sangat pintar membuat anak-anak di Dusun ini antusias mengikuti pelatihan.
Ratri jangan ditanya. Sedari tadi dia hanya memandangi terus pemuda itu. Terkadang dia tersenyum sendiri. Ucapan Andra yang memujinya tadi seakan terus terngiang di kepalanya, namun yang terpenting adalah sore itu Lani, teman KKN Andra yang selalu bersama pemuda itu tidak hadir di balai Dusun. Mungkin kalau mahasiswa cantik itu ada disitu, bisa jadi perasaan cemburunya akan kembali hinggap. Secara Lani lebih memiliki ruang gerak yang lebih banyak untuk berada di sisi Andra, dibanding dirinya. Hari itu Andra hanya ditemani oleh Hanif, Intan, Fadil, dan Nuri. Sementara menurut berita yang didapatkan dari anak-anak yang ditanyai nya tadi, Lani dan teman-temannya yang lain sedang di posko untuk persiapan kegiatan nanti malam di rumah Pak RW.
Sampai pelatihan selesai, tidak ada satupun materi yang diberikan Andra yang hinggap di kepalanya. Pandangannya sering mencuri ke arah pemuda itu. Hari itu Andra terlihat tampan, rambutnya yang klimis mengkilap oleh minyak rambutnya, kulitnya yang putih bak memancarkan cahaya dan yang paling disukai Ratri adalah jaketnya. Kalau Andra sudah memakai jaket, pemuda kota tampak lebih gagah bak model iklan yang sering dilihatnya di televisi.
Selesai pelatihan Ratri ditemani Janah masih duduk bersantai di lapangan tepat di depan balai dusun. Mahasiswa-mahasiswa KKN itu terlihat tengah mengangkati kursi besi kedalam ruangan yang ada di belakang Balai dusun. Fadil dan Nuri sudah beranjak hendak pulang, begitu juga dengan Intan dan Hanif. Mereka sempat menyapa Ratri dan Janah, menanyakan mengapa belum pulang. Ratri hanya mengatakan masih ingin menikmati suasana. Balai dusun memang memiliki halaman luasayang ditumbuhi oleh rerumputan kecil, ada kursi-kursi kayu dan lapangan volley didepannya. Balai dusun berbentuk seperti rumah Joglo yang terbuat dari kayu jati, pertama kali sampai didusun ini mahasiswa-mahasiswa itu juga mengagumi keindahannya, apalagi kalau menjelang senja berlalu suasananya terasa semakin damai dan menyenangkan.
Andra yang muncul belakangan langsung menuju motornya. Langkah pemuda di ikuti oleh tatapan mata kedua gadis remaja itu. Janah diam-diam membisiki sesuatu kepada Ratri.
“Tampan ya?” Begitu yang dibisikkan.
“Haah, siapa?” Tanya Ratri tergagap.
“Itu, Kak Andra.”
“Lumayan,..”
“Katanya Kak Andra itu belum pernah punya pacar.”
“Ohya?, kok bisa?”
Mata Ratri seakan membesar. Wah Kak Andra sedang Jomblo!
“Tidak tahu juga, katanya orangnya fokus sama kuliah. Eh orangnya datang, pura-pura tidak sedang ngomongin dia...”
Buru-buru keduanya merubah arah pandangan, kearah ponsel Janah.
“Belum pada pulang?” Suara itu mendekat. Andra!
Keduanya sontak menoleh, menutupi kekagetannya.
“Belum kak, masih santai dulu disini.” Jawab Janah.
“Pada mau makan bakso nggak? Kak Andra lagi ingin makan bakso.”
“Ada sih kak bakso enak di daerah sebelah, jam segini masih buka.”
Andra tersenyum.
“Ada yang lagi slow?” Tanyanya.
“Wah pingin sekali kak, tapi motornya kami tidak ada.” Kata Janah.
“Ada motor di Posko, nanti bisa membawa satu.” Kata Andra.
“Lama tidak kak? Aku mau sekalian ke toko disana, membeli sesuatu.” Ratri sambil menatap ke arah Andra.
“Begitu selesai langsung pulang, nanti malam khan ada pengajian.”
“Ya sudah kalian berdua saja kak, nanti kalau ke Posko lalu pergi ke desa sebelah, waktunya tidak cukup.” Kata Janah. “Ahhh Janah” Teriak Ratri dalam hatinya.
“Bagaimana?” Andra mengangkat alis matanya.
Ratri menarik nafasnya. “Janah pulang?” Tanyanya pada sahabatnya.
“Tak apa. Kamu menemani Kak Andra saja.” Jawab sahabatnya.
“Kak Andra ambil motor dulu, nanti sekalian kita mengantarkan Janah pulang ya.” Kata Andra.
“Aku pulang jalan saja tidak apa-apa Kak. Sudah biasa.” Kata Janah.
“Tidak boleh menolak.” Kata Andra sambil tersenyum.
Begitulah, sore itu akhirnya menjadi sore terindah bagi Ratri. Sungguh suatu keajaiban, akhirnya bisa merasakan dekat dengan pemuda itu. Rasanya dia ingin mencium Janah sahabatnya. Sebelum berangkat kedesa sebelah, terlebih dahulu mengantarkan sahabatnya itu pulang. Nervous dan rikuhnya kembali hadir ketika motor matic yang dikendarai Andra melaju melintasi jalanan kecil itu.
Desa sebelah sudah masuk Kecamatan Ponjong, sebuah kecamatan yang ada di Gunungkidul. Disana ada pasar dan yang jualan banyak, salah satunya adalah bakso. Bakso yang paling terkenal adalah bakso Sedap. Ratri biasanya selalu kesana dengan Janah atau saat menemani ibunya berjualan di pasar. Ibunya yang berjualan sayur mayur selalu berjualan dipasar-pasar setiap harinya, setiap pagi berkeliling, dan begitu jualannya di Pasar Ponjong biasanya pas hari minggu sehingga Ratri kerap ikut menemaninya berjualan. Bila hasilnya lumayan banyak, maka ibunya selalu mentraktirnya makan bakso.
***
Di Toko Niaga Ratri membeli beberapa bahan flanel kain dan benang warna-warni yang nantinya akan digunakan untuk tugas kesenian di sekolah. Tugas pelajaran kesenian adalah membuat kerajinan dari bahan kain flanel. Kain yang dibelinya juga bukan yang termahal. Ibunya hanya memberinya uang 30 ribu saja untuk tugasnya, itupun rasanya cukup banyak. Semua kebutuhannya hanya menghabiskan sekitar 20 ribuan saja. Lumayan ada sisa 10 ribu bisa untuk keperluannya yang lain.
Selesai membeli keperluannya, Ratri mengajak Andra segera ke warung bakso langganannya yang ada di timur Toko Niaga. Warung bakso hanya berjarak beberapa meter saja. Kalau di hari Jumaat sore begini biasanya tidak terlalu ramai, ramainya saat akhir pekan atau di jam-jam sekolah. Kalau sepi berarti itu menguntungkan baginya. Ratri akan merasa malu kalau ada yang melihat mereka. Bukan karena dandanannya hari itu namun karena dia tidak pernah percaya diri saat berjalan dengan lawan jenis, bisa jadi ini adalah kali keduanya dibonceng oleh lawan jenis, selain ayahnya.
“Ini baksonya?” Tanya Andra begitu sampai di depan warung.
“Iya Kak, disini.” Kata Ratri.
Sebenarnya ada sedikit kecemasan di hati Ratri, takutnya Andra tidak berkenan dengan warungnya. Di benaknya Andra pasti terbiasa makan di tempat yang lebih bersih atau lebih nyaman seperti di kafe atau restauran, minimal di warung yang lebih bagus. Warung Bakso Sedap tidak terlalu besar, hanya ada dua dua meja panjang yang terbuat dari kayu dengan tripleks putih dibagian atasnya. Di atas meja hanya ada botol saos dan kecap.
Lesehannya juga hanya beralasakan tikar plastik. Bagian dindingnya juga begitu sederhana, hanya ada kalender berwarna putih dengan angka-anga besar yang menandai tanggalannya, di bagian paling dalam terpajang poster pemilu yang menunjukkan gambar seorang calon anggota DPRD lengkap dengan nomor urut dan visi misinya. Sepertinya itu adalah poster lama yang belum dicopot hingga dua tahun setelah proses pemilu.
Ratri dan Andra memilh duduk paling pojok, tepat disamping kipas angin. Suasananya memang mendukung sehingga mereka bisa mengobrol dengan santai. Andra paling sering bertanya, dia bertanya banyak hal. Tentang sekolah Ratri, teman-temannya, sampai dengan hal-hal lain yang cukup mendetail seperti keluarga hingga kebiasaan-kebiasaannya. Ratri hanya bisa menjawab sambil sesekali melemparkan pertanyaan yang sama. Pertama kali bagi Ratri bisa duduk bersebelahan dengan pemuda selama  belasan tahun hidup. Untungnya Andra adalah tipe orang yang bisa membuat nyaman sehingga sedikit demi sedikit rasa canggungnya itu berkurang, bila sedari tadi tidak pernah tertawa akhirnya dia bisa memberanikan diri untuk tertawa mesti ditahan-tahan. Kata orangtua, gadis yang tertawa kencang tidak ilok dipandang. Tapi dia juga tidak bisa menahannya, saat Andra menceritakan tentang kelucuan anak Pak RT yang selalu datang ke Posko KKN. Lengkap sudah apa yang diidamkan oleh Ratri, semuanya ada pada diri Andra. Tapi rasanya tak berhak dirinya berharap lebih. Wajah yang sedang dilihatnya hari itu, mungkin akan hanya hadir di dalam mimpi indahnya saja, bukan di dunia nyata.
***
Waktu perpisahan semakin dekat. Tanpa terasa mahasiswa yang sedang KKN akan segera menyelesaikan tugasnya dan akan kembali lagi ke kota, tidak terkecuali mahasiswa-mahasiswa yang KKN di dusunnya. Satu hari sebelum mahasiswa-mahasiswa itu pulang, semua anak-anak dan remaja di dusun mulai merasakan kesedihan yang mendalam, seakan akan terpisah jauh dengan kakak-kakak yang selama sebulan ini sudah menjadi teman yang baik bagi mereka.
Kakak-kakak manis itu pertama kalinya memang rasanya memberi jarak pada anak-anak dan remaja di dusun, namun lama-lama semakin dekat. Masa tugas mereka selesai akan menimbulkan kerinduan dikemudian hari. Rasanya baru kemarin mereka datang ke dusun mereka, mengajak bermain, belajar, dan kerap memberikan hal-hal menarik bagi mereka. Sekarang tak lama lagi mereka akan pergi. Waktu yang terus beranjak memilukan bagi mereka. Nanti malam adalah acara perpisahan dan akan diadakan di balai dusun. Acara yang tepat dengan malam minggu itu akan menjadi saksi malam terakhir mereka disini.
Sedari pagi mahasiswa-mahasiswa itu sudah sibuk di posko dan di balai dusun dengan segala persiapan untuk acara perpisahan nanti malam. Di posko semua mahasiswa putri memasak dan membuat berbagai macam kue dibantu dengan ibu-ibu yang ada di dusun, sementara mahasiswa yang putra mempersiapkan panggung dan sound system di balai dusun. Balai dusun sudah disulap menjadi panggung mini. Dindingnya yang hanya ada black board yang terbuat dari semen di cat hitam sudah ditutupi oleh kain hitam besar dan diberi tempelan kata-kata dari kertas warna warni yang dibentuk.
Dua sound system lengkap dengan mikropon dan proyektor juga sudah disusun dengan rapi di pinggir ruangan. Andra yang bertugas sebagai operator mengecek persiapannya dibantu oleh Lukman dan Hanif. Sementara Fadil tampak sibuk laptop dan Proyektor membuat slide dan musik ilustrasi. Acara nanti memang tengah disusun, ada Lani dan Rahma yang sudah tengah mengantur rundown acara. Nantinya ada acara sambutan dari Pak RW, Pak RT, Ibu Kepala Dukuh, dan juga dari ketua posko KKN, lalu ada juga penampilan tarian muda-mudi dan orangtua dari warga dusun. Di akhir acara ada pemutaran film pendek kegiatan KKN dari awal kedatangan sampai berakhirnya acara malam itu.
Ratri yang masih di sekolah sudah tidak tenang, ingin segera pulang. Untungnya hari Sabtu jam pelajaran selesai lebih cepat sehingga dia bisa pulang lebih awal. Jemputan ayahnya dirasa sangat lama datangnya. Ayahnya yang datang terlambat hampir sejam membuatnya semakin gelisah, ingin segera dia pulang ke rumah. Malam ini yang bertepatan dengan pengajian remaja di masjid terpaksa diliburkan. Pak Ustadz Yogi, Ustadz muda yang kerap mengajari tadarus awalnya sempat protes karena kegiatan perpisahan yang menampilkan nyanyian dan tarian itu lebih diutamakan daripada mengaji. Namun akhirnya dengan berat hati Ustadz muda itu akhirnya juga luluh juga dengan meliburkan pengajian malam itu.
Bukan main senangnya anak-anak dan remaja di dusun. Sehari sebelumnya mereka memang sudah berkonspirasi kalau Ustadz muda itu tidak mengijinkan maka mereka akan bolos pengajian. Kakak-kakak mahasiswa bahkan sampai mengirimkan surat kepada Ustadz muda itu, beruntung akhirnya di ijinkan juga olehnya. Mahasiswa-mahasiswa itu sudah menjadi teman baru bagi anak muridnya, dan besok sudah kembali ke kota, jadi tidak ada salahnya bila pengajian malam itu diliburkan, dengan catatan anak-anak selesai acara harus mengaji atau menggantinya di hari minggunya.
Bagi Ratri, perpisahan itu akan menjadi hal memilukan. Mereka sudah cukup bisa menyentuh hati, terutama sosok Andra yang belakangan selalu hadir mewarnai harinya.  Pertama kalinya dalam hidupnya dia memiliki ketertarikan pada sosok pemuda. Nafasnya terasa sesak. Tak terbayangkan bagaimana nanti dia akan menahan semua perasaannya saat melihat pemuda itu akan beranjak pergi meninggalkan dia dan dusunnya. Bila saja waktu ini bisa berputar lebih lambat maka itu akan menjadi hal yang paling menyenangkan bagi dirinya.
***
Malam semakin mendekat. Lampu-lampu terang yang terpancar dari balai dusun membuatnya begitu terang. Lampu kerlap-kerlip warna warni cukup membuat indah suasana. Tikar-tikar plastik sudah digelar di rumput yang ada di depan balai dusun. Orang-orang sudah berdatangan dan mengisi tempat. Penuh. Menurut kakak-kakak mahasiswa, tepat pukul 19.00 acara akan dimulai. Fadil dan Lani yang bertugas sebagai MC sudah bersiap-siap di pinggir panggung. Di sisi yang lain Hanif dan Lukman juga sudah bersiap dengan kamera di tangan mereka. Andra terlihat sibuk kesana kemari, menemui tamu lalu kembali ke dalam, dll. Andra memang paling aktif. Bisa dibilang dia adalah director dari acara malam itu. Sementara teman-teman yang lain ada di backstage untuk mempersiapkan semua di belakang layar.
Malam itu Ratri dan Janah diminta sebagai penerima tamu dan juga nanti akan naik ke panggung saat penyerahan hadiah. Beberapa waktu yang lalu mahasiswa KKN itu memang membuat beberapa perlombaan untuk anak-anak, dan malam ini adalah pengumumannya. Jam di tangan sudah menunjukkan 10 menit sebelum acara dimulai. Musik yang berkumandang dari speaker besar mengalunkan lagunya Still I’m Sure We’ll Love Again nya Dewa 19. Lagu lembut itu membuat suasana seperti kembali ke era 90-an. Ratri yakin pasti itu adalah lagu pilihannya Andra. Andra memang amat menggemari band Dewa 19, setiap di posko bila Andra yang memegang laptop dan speaker maka lagu-lagunya yang diputar.
Tepat pukul 19.00 acarapun dimulai. Diawali oleh pembukaan oleh MC yang disambut begitu meriah oleh semua yang datang. Rupanya tidak hanya warga dusun saja yang hadir, ada warga dari dusun sebelah bahkan dari kecamatan yang hadir. Puluhan orang itu seakan menjadi saksi perpisahan mereka.
Satu persatu acara berlangsung dengan meriah. Pak RW yang hadir memberi sambutan bahkan mampu membuat suasana semakin meriah dengan bernyanyi karaoke lagu dangdut. Ibu Patmi, sang Kepala Dukuh juga ikut menyumbangkan suaranya lewat lagu campursari Perawan Kalimantan dengan berduet dengan Endra. Endra yang paling suka bernyanyi diantara mahasiswa lain di posko, lagu-lagu kegemarannya juga dangdut atau kadang malah lagu Campursari miliknya Didi Kempot. Malam itu dia sukses berduet dengan Ibu Dukuh. Penonton bahkan bertepuk riuh dan meminta pasangan duet itu kembali bernyanyi lagu lain, akhirnya lagu keduapun di nyanyikan, kali ini lagu miliknya Broery Marantika dan Dewi Yull, Kharisma Cinta.
Acara mengesankan itu juga menampilkan tarian-tarian dari warga dusun. Sesi pertama diisi oleh remaja lalu dilanjutkan oleh ibu-ibu yang menari dengan gemulainya. Malam itu acara ditutup dengan penampilan semua mahasiswa KKN dengan membawakan lagu Kemesraan miliknya Iwan Fals dan diberi background slideshow kegiatan mereka selama 40 hari di dusun. Semua penonton yang hadir seakan ikut terbius, ada tawa dan duka saat alunan lagu dan fhoto-fhoto tersebut di putar berbarengan. Saat fhoto yang membuat tawa semuanya ikut tertawa namun dengan berkaca-kaca.
Kemesraan ini janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini akan ku kenang selalu
Hatiku damai jiwaku tenang di sampingmu
Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu...
Malam terakhir mereka ditutup dengan fhoto-fhoto bersama. Semua yang hadir berebutan menyalami mahasiswa-mahasiswa kota itu. Ibu Dukuh dan ibu-ibu lainnya bahkan tak kuasa menahan tetesan airmata, sementara yang lain ikut merasakan mrebes mili.  Memang ini adalah pertama kalinya ada mahasiswa yang KKN didaerah mereka jadi sangat begitu berkesannya kehadiran mereka. Cerita mereka telah berakhir, karena besok mereka akan pergi meninggalkan mereka, dengan sisa pengabdian dan kenangan yang tak mudah untuk dilupakan begitu saja.
***
“Selamat tinggal adik-adik semua, terima kasih sudah menerima kami kakak-kakak mahasiswa selama sebulan disini. Terima kasih yang sudah dengan antusiasnya mewujudkan program-program kami, terima kasih yang telah menjadi teman terbaik selama disini, semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi...”
Begitu kata perpisahan yang keluar dari mulut Hanif. Hanif yang sebagai ketua kelompok memberikan kata perpisahan dihadapan anak-anak dan remaja dusun. Pagi itu memang mereka membuat acara perpisahan khusus dengan anak-anak, karena selama KKN anak-anak dan remaja itulah yang selalu menjadi bagiannya. Mata berkaca-kaca dan senyum yang penuh makna menjadi pemandangan pagi itu. Mobil pick up yang akan mengangkut barang-barang milik mahasiswa-mahasiswa itu sudah datang, beberapa barang sudah diangkut ke pick up. Hari itu mereka benar-benar akan pergi.
“Kak Hanif besok main lagi kesini ya!” Sahut Bintang berteriak.
“Iya kak, besok main lagi kesini.”
Anak-anak yang lain juga ikut berteriak. Mereka mulai memanggil nama-nama mahasiswa itu. Tepat pukul 08.00 mereka makan Nasi goreng bersama di posko, pagi-pagi sekali memang sudah disiapkan. Pagi itu tidak ada yang pergi kepasar atau memasak, mereka membeli nasi goreng di Kota Wonosari dan dibawa pulang untuk dimakan bersama-sama dengan semua yang datang. Semuanya hadir, termasuk Ratri dan Jannah.
Perpisahan sudah didepan mata. Bagi Ratri separuh hati dan jiwanya ikut terbawa saat lambaian tangan mereka menjadi saksi terakhir kali melihat mereka di dusun ini. Beberapa mahasiswa dipeluk satu-satu, ingin rasanya dia menumpahkan airmata saat Andra, pemuda yang sudah hinggap di hatinya itu berdiri merentangkan tangannya.
“Ahhhhh tak perlu malu, Ranti, peluk dia!”
Bisikan gaib terus membujuknya, hingga dia tak kuasa menahan semuanya. Dipeluknya tubuh kekar pemuda itu seakan tak ingin dia lepaskan. Airmatanya tidak tumpah, namun kesenduan merasuki tubuhnya. Langit seakan mendung tiba-tiba. Saat pemuda itu melepaskan pelukannya, saat itu juga seakan tubuhnya lunglai tak bersemangat lagi.
Lambaian tangan mengiringi kepergian mahasiswa-mahasiswa itu. Entah kapan lagi akan bertemu. Ratri, Janah dan semua anak-anak itu hanya bisa mengantarkan sampai ke pinggir jalan dan hanya termangu memandangi punggung mereka yang terus menjauh, jauh, jauh, dan hilang dari pandangan. Ratri mengikuti anak-anak itu memasuki rumah kosong yang dijadikan posko mereka. Rumah itu sudah kembali seperti sedia kala. Tak berpenghuni. Bintik-bintik merah dan mendung airmata tampak terlihat dimata anak-anak itu. Hanya kenangan saja yang tersisa, dan benih kerinduan yang tumbuh di hati mereka. Mahasiswa-mahasiswa itu sudah pergi, namun apa yang mereka tinggalkan akan terus diingat, sampai mereka besar nanti, dan iringan doa mengiringi setiap langkah yang menjauh meninggalkan mereka, semoga suatu saat bertemu kembali.
***
Sehari, dua hari, tiga hari, hingga berminggu-minggu Ratri mulai mencoba membiasakan diri seperti dulu sebelum Andra dan teman-temannya datang. Keadaan memang tidak berubah seperti sedia kala, merea tetap mengaji dengan Ustadz Yogi di masjid, mereka tetap pengajian setiap hari, namun seperti ada yang kurang. Mahasiswa-mahasiswa kota itu selalu menjadi topik setiap saat oleh anak-anak yang ada didusun, mereka hafal dengan sosok masing-masing mahasiswa itu. Ada yang mengeluh bahwa pengajian tidak seasyik saat ada mahasiswa-mahasiswa itu, karena biasanya sebelum pengajian selalu ada permainan atau pelatihan yang menyenangkan dari mereka. Namun bagaimanapun juga semua harus tetap berjalan.
Anak-ana mulai merindukan mereka. Satu-satunya yang menjadi obat kerinduan adalah berkirim pesan melalui SMS atau di Facebooknya, namun balasan mereka lama bahkan ada yang membalas namun sekali dua kali lalu tidak membalas lagi. Mungkin mereka sibuk dengan kegiatan lain di kampus, atau apapun itu, yang jelas mahasiswa-mahasiwa itu selalu dirindukan kehadirannya.
Bagi Ratri, tidak hanya rindu saja yang menyusupi batinnya, namun ada kehilangan yang ikut terbawa. Kabar pemuda itu juga tak lagi terdengar. Sejak perpisahan hari itu sampai berminggu-minggu ini Andra hanya tiga kali membalas pesan singkatnya. Ratri sepenuhnya memahami. Benih-benih kerinduan yang tumbuh hanyalah semu, tak perlu rasanya dia berharap bahwa kelak semua pengharapannya menjadi nyata. Namun bila dia boleh berharap, andai pemuda itu berada disampingnya saat ini maka ada satu kalimat yang akan diucapkan tanpa harus bersembunyi dibalik malu.
“Aku rindu kamu. Datanglah ke desaku, maka akan kupeluk erat dirimu, dadamu akan menjadi tempat penampungan airmata dan kerinduanku. Terima kasih sudah mengukir namamu dihatiku yang lugu, inilah rasanya, aku tak berhenti menantikanmu kembali. Kesini.”
T A M A T


Kamus singkat

Nggeh             : Bahasa Jawa, bermakna Iya atau mengiyakan
Ceplas-Ceplos  : Suka berbicara seenaknya tanpa peduli sekelilingnya
Dipan              : Meja panjang berbentuk ranjang yang terbuat dari bambu
yang disusun horizontal dan digunakan sebagai tempat
untuk bersantai
Mrebes Mili     : Perasaan ingin menangis karena terharu


           
           

Lanjut membaca »
  • Get link
  • Facebook
  • X
  • Pinterest
  • Email
  • Other Apps
Post a Comment
Tags: 2018 cerpen literature
Newer Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

RATRI KEMBANG DESA Mainstream Romance Novel

by Unknown October 10, 2018




Nama Andra hanyalah masa lalu bagi Ratri. Tidak ada lagi nama Andra terlintas di ingatan gadis itu. Tidak ada bayangan soal pemuda tampan yang pernah singgah dan membuat hatinya selalu ceria. Andra yang pernah dikenalnya sudah Pergi. Pemuda manis yang kerap dirindukan sosoknya itu telah menghilang bak ditelan bumi, dan sejak itulah segenap kerinduan dan cinta yang Ratri tahu berubah menjadi kepahitan yang terus menghantui setiap langkah hidupnya.
Ratri mengenalnya saat pemuda itu hadir ke Dusunnya sebagai salah satu mahasiswa kota yang datang ke Dusunnya saat ada kegiatan KKN. Andra Aldiansya, nama pemuda itu. Dia bersama dengan kesepuluh temannya adalah mahasiswa KKN di Dusunnya. Mereka tinggal di samping rumah pak RT yang kebetulan dekat dengan rumahnya. Andra adalah mahasiswa paling komunikatif dibanding teman-temannya yang lain. Sebagai orang Dusun, Ratri dan remaja Dusun lainnya masih terkagum-kagum dengan sosok ‘orang kota’ yang melekt pada diri mahasiswa-mahasiswa tersebut. Malu rasanya dekat dengan mereka, apalagi mereka juga memiliki kebiasaan yang berbeda dengan pemuda-pemuda di Dusun ini. Dusun ini masih jauh dari perkotaan, berada di pinggiran antara Kabupaten Gunungkidul. Wajar saja di Dusunnya ini masih begitu ‘welcome’ dan ada sedikit pandangan ‘wah’ terhadap orang kota.
Andra berbeda. Andra yang paling rajin berkumpul dengan pemuda Dusun, meskipun tidak ada teman-temannya yang ikut bergabung. Andra yang mahir bermain gitar mampu membuat remaja Dusun itu suka bernyanyi bersama dengan mereka. Andra juga tak malu ikut bermain badminton bersama dengan remaja Dusun lainnya. Seminggu saja di Dusun itu, semua anak sudah mengenalnya, begitu juga dengan warga Dusun lainnya. Andra menjadi idola baru mereka. Andra memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi, namun tubuhnya berotot, yang paling diingat adalah sifatnya yang ramah dan tatakramanya bagus. Pemuda itu padahal bukan berasal dari Jawa, tapi sopan dan santunnya sungguh luar biasa, itu yang membuat banyak yang menyukainya.
Sebagai gadis Dusun yang terbilang masih polos dan lugu, rasa tertarik pada pemuda itu muncul di diri Ratri. Entah sejak kapan perasaan gugup dan nervous hinggap di dadanya setiap dekat-dekat dengan pemuda itu.
Hari itu dia merasakan nervous luar biasa ketika dia sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah lalu tanpa sengaja pemuda itu juga tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Saat itu Andra sedang bersama Lukman, teman KKN nya. Meskipun jaraknya belum dekat  Ratri sudah tak kuasa mengangkat wajahnya, sontak dia hanya menunduk. Dadanya bergetar hebat ketika langkah kedua pemuda itu semakin mendekat ke arahnya.
“Dek Ratri baru pulang sekolah?”
Suara itu.  Menghancurkan segenap kekuatannya. Ingin rasanya dia menggelosor di jalanan seketika. Dihadapannya kini sudah ada pemuda tampan berambut klimis. Aroma parfumnya menusuk hidung. Pemuda itu tersenyum kepadanya. Masya Allah. Betapa nervousnya luar biasa.
“Iy..iyaa kak. Baru pulang.” Jawabnya terbata-bata.
“Kok sendirian? Biasanya sama Janah?” Tanya pemuda itu.
Janah adalah teman sekolahnya yang berasal dari Dusun yang sama. Di Dusun ini hanya ada Janah dan dirinya yang duduk di sekolah menengah atas, sementara yang lain masih duduk di sekolah menengah dan sekolah dasar. Pemuda dan gadis-gadis di Dusunnya rata-rata sudah meninggalkan Dusun begitu selesai sekolah menengah untuk bekerja di kota. Ada yang ke Jakarta, ke Surabaya, Jogja, atau ke Semarang.
“Janah masih ada kegiatan di sekolah kak, jadi aku duluan.”
“Jalan kaki?”
“Iya kak.” Jawab Ratri. “ Kakak-kakak ini mau kemana?”
“Kita mau ke rumahnya Pak,...siapa ini? Ohya, Pak Hamdani.” Kata Andra sembari melihat ke ponselnya. “ Tapi kami tidak tahu rumahnya.”
“Iya nih, rumahnya tidak tahu.” Lukman ikut menimpali.
“Rumahnya di sebelah barat kak, perbatasan yang mau ke RT 2. Nah, disana nanti ada empat rumah, yang dua berwarna hijau tua, lalu ada rumah yang di depannya ada bibit-bibit pohon mangga di plastik, rumah Pak Hamdani yang paling barat. Pak Hamdani ketua RW khan maksudnya?”
“Iya betul, Pak RW yang itu. Jadi ini ke barat ya, ada tikungan atau perempatan? ” Tanya Andra lagi.
“ Perempatan hanya satu kak. Setelah itu tidak ada rumah lagi.”
“Bagaimana, Lukman?” Andra bertanya pada temannya.
“Kita cari?” Tanya Lukman kembali.
“ Dek Ratri tidak mau mengantarkan?”
Pertanyaan Andra membuat gadis itu sedikit terhenyak.
“ Apa kak, ehm mengantarkan?” Tanyanya. Kepalanya menunduk.
“Tidak keberatan?”
Pertanyaan Andra seakan menjadi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tidak. Ratri yang sudah diserang nervous luar biasa sedari tadi hanya bisa mengangguk pelan dan kembali menunduk, tak mampu dia mendongakkan kepala melihat ke arah pemuda itu. Andra sekilas dilihatnya tersenyum. Tangan pemuda itu mengacungkan jempolnya di posisi terbalik dan menunjuk jalan yang ada didepan mereka seakan mempersilahkan dirinya untuk memutar arah dan mengikuti kedua pemuda itu. Tentu saja Ratri tahu betul dengan gerakan tangannya itu, karena bagi orang Jawa itu adalah isyarat mempersilahkan atau meminta dengan sopan. Ratri hanya bisa melangkahkan kakinya bersama kedua pemuda kota itu. Kedua pemuda itu berjalan sambil berbincang tentang kegiatan mereka selama KKN, tak jarang mereka juga bertanya kepadanya tentang banyak hal tentang Dusunnya itu. Kadang diselipi dengan tawa dan candaan yang sebenarnya membuatnya rikuh untuk menimpali namun dia juga terlarut dalam obrolan kedua anak kota itu, ada beberapa topik yang tidak diketahuinya, dia cukup mendengar dan menikmati obrolan mahasiswa-mahasiswa itu.
Berjalan bersama kedua mahasiswa kota itu membuat beberapa warga Dusun melihat kearahnya. Mereka ada yang menyapa dan sebagian justru menggodanya. Di depan rumah Mbak Dewi misalnya, kebetulan ada Mbak Dewi dan Ibu Yani, keduanya menggoda Ratri dengan memberikan “cie cie” kepadanya. Pemuda itu hanya membalas dengan senyuman saja, seakan mereka tidak terlalu peduli dengan tanggapan mereka.
“Mbak-mbak itu naksir kamu, Lukman!” Kata Andra sambil tertawa.
“Bukannya naksirnya ke dirimu bang!, kamu khan yang paling banyak fans nya. Dari mulai anak-anak sampai ibu-ibu.” Sahut Lukman.
“Kata Siapa?” Tanya Andra.
“Tanya saja sama Ratri.”
Ratri ikut tersenyum. “Betul kak.”
“Wah, begitu ya? Kok aku baru tahu ya?” Andra terkekeh.
“Makanya peka!”
Ratri ikut tertawa saja mendengarnya. Andra sepertinya memang orang yang tidak terlalu ambil peduli dengan apa tanggapan orang lain kepada dirinya. Sepertinya dia termasuk sosok yang tulus-tulus saja melakukan sesuatu tanpa memikirkan balasan dari orang lain. Ah, pemuda yang mengagumkan. Ratri serasa ingin menepuk jidatnya, entah setan mana yang memaksanya untuk memikirkan hal itu.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Pak RW yang dituju. Begitu sampai dirinya hendak memutar arah dan pulang karena tugasnya sudah selesai. Namun Andra justru memegang tangannya seakan menahannya untu pergi. Dirasakannya ada aliran listrik yang menyengat kulitnya. Kulit pemuda itu yang menyentuh tangan lembutnya hanya bisa membuatnya berdiri termangu. Bulu disekujur tubuhnya seakan berdiri seketika. Terlebih saat pemuda itu membisikkan sesuatu kepadanya.
 “Masuk dulu, pulangnya nanti bareng kakak.” Katanya.
Ratri tergagap. Dia hanya mengikuti saja saat pemuda itu menyeret tubuhnya memasuki halaman rumah Pak Hamdani. Dia bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Senyum kecil berkembang di bibirnya. Akhirnya mau tidak mau dia ikut pemuda itu. Bahkan Pak RW juga sempat membuatnya rikuh seketika melihat dirinya bersama dengan pemuda-pemuda itu.
 “Wah ada Ratri juga ternyata. Ini gadis yang paling cantik di Dusun ini lho mas Andra, banyak yang sudah kepincut.” Kata Pak RW.
 “Ohya? Seperti itu nggeh pak?”
Andra melirik ke arahnya. Ratri berusaha tak bereaksi.
 “Pak RW berlebihan ah!” Jawab Ratri pelan.
 “Haha, Benar begitu adanya kok!” Pak RW tertawa menggodanya.
Kemudian Pak RW bertubuh gemuk itu mempersilahkan mereka masuk. Rumah sejuk Pak RW dengan kipas angin besar di sudut ruangan seakan menjadi pengusir peluh yang membanjir karena sedari tadi di terjang terik matahari. Tak lama kemudian beberapa gelas yang berisi air es dengan sirup berwarna merah dibawa keluar dengan istri Pak RW. Sirup merah itu menggodanya seakan menari-nari memintanya untuk mencicipi, dia hanya menunggu dipersilahkan saja. Tak lama bakwan dan pisang goreng juga keluar dari dalam disuguhkan kepada mereka.
Hari itu mahasiswa-mahasiwa itu tengah membicarakan tentang salah satu kegiatan mereka selama kegiatan KKN. Salah satu kegiatannya mereka adalah mengadakan pengajian remaja bersama di masjid setiap malam minggu, selain itu juga diselipi oleh pembahasan inspiratif yang nantinya akan menambah wawasan para remaja Dusun. Bila di malam minggu ada pengajian remaja, malam selasa dan rabu ada pengajian lain di rumah-rumah remaja. Intinya adalah memberikan kegiatan positif kepada remaja Dusun sekaligus sebagai media untuk mengkampanyekan hal-hal positif. Ratri serius mendengarkan gagasan mereka, namun semuanya tidak ada nyangkut di kepalanya selain ucapan terakhir Andra ketika mereka dalam perjalanan pulang.
“ Nanti ketemu ya di masjid!” Begitu kata Andra.
***
Cerita soal dirinya menemani pemuda itu ke rumah Pak RW menjadi cerita menarik sore itu, dimana sebelum pengajian dimulai semua hampir-hampir menggodanya. Bukan main malunya Ratri. Ini adalah pertama kali dirinya berjalan berdua dengan lawan jenis. Di sekolahnya saja dia begitu menutup diri dengan enggan untuk menerima ajakan teman lelakinya walau hanya sekedar jalan bersama di kantin atau perpustakaan. Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya berdekatan dengan pemuda yang mampu menghipnotis dirinya itu, tidak ada yang tahu bagaimana rasanya melawan dirinya untuk mengatakan tidak saat pemuda itu meminta dirinya untuk menemani pemuda itu. Lagipula hanya menemani mengantarkan saja, apa salahnya?
Tidak hanya teman-temannya saja, di rumah ibunya pun mulai sedikit menggoda ketika sedang makan malam. Ibunya awalnya hanya bercerita soal para mahasiswa-mahasiswa KKN itu yang belakangan lebih sibuk dengan kegiatannya yang melelahkan, lalu lama-lama pembicaraannya semakin personal. Menurut ibunya, dari kesebelas mahasiswa itu hanya beberapa saja yang dikenalnya, ada Lukman, Intan, Hanif, dan Andra. Andra adalah nama yang paling sering dibahas. Ratri hanya bisa tersenyum-senyum malu saja mendengarkan setiap pujian yang didengar dari mulut ibunya itu. Diam-diam pipinya merona merah, dan tanpa diketahuinya ibunya memperhatikan tingkahnya itu.
Ketika ibunya hendak membahas soal kemarin saat Ratri yang terlihat berjalan bersama pemuda itu, Ratri mendadak merasakan ada gemuruh di dadanya. Ibunya tidak marah sama sekali, justru dia tersenyum menggoda kearahanya.
“Kemarin mereka kebingungan mencari rumah Pak RW.” Kata Ratri.
“Mbak-mbak yang disana malah bilangnya dirimu kencan dengan mereka. Jalan-jalan santai dengan cowok-cowok tampan. Hehe.”
“ Ibuuuuk!” Teriak Ratri.
Seeeeerrrrrrr
Serasa ada perasaan aneh yang hinggap di hatinya. Tidak dapat dia meneruskan pembelaannya, sehingga akhirnya dia hanya bisa memutuskan untuk mendengarkan cerita ibunya saja. Ayahnya juga tak mau kalah, sepertinya cukup antusias mendengar cerita ibunya itu. Ayahnya juga bercerita saat pertama dengan mahasiswa-mahasiswa itu. Menurut cerita ayahnya, mahasiswa-mahasiswa itu ikut membantu warga mengangkuti batu-batu kapur besar untuk membuat tembok di sepanjang selokan Dusun. Batu-batu besar itu beratnya luar biasa, mahasiswa-mahasiswa itu sok merasa kuat dengan ikut membantu mengangkat batu-batu yang berukuran besar, namun tidak sampai satu jam mereka sudah kelelahan sehingga di hari berikutnya mereka tidak ikut kerja bakti lagi karena semuanya tidak ada yang bangun pagi karena kelelahan, bahkan ada yang sampai urut untuk memulihkan badan mereka yang kelelahan. Warga Dusun yang mengetahuinya hanya tertawa saja. Tidak ada yang mengejek apalagi menghina mereka. Bagi warga Dusun wajar kalau anak kota tidak terbiasa dengan pekerjaan orang Dusun, sehingga meskipun di hari berikutnya tidak ada satupun mahasiswa KKN yang datang mereka tetap melanjutkan kerja bakti, bahkan ada yang menjenguk mereka di posko KKN untuk melihat kondisi mereka. Ayahnya ikut menjenguk, sambil membawakan sekarung singkong untuk di masak oleh mahasiswa-mahasiswa itu. Ibu Maryam bahkan membawakan beras dan gula untuk mereka. Bagaimanapun juga mereka yang sedang KKN cukup membuat sedikit banyak perubahan bagi warga Dusun, untuk pemikiran dan kebiasaan baru bagi warga Dusun. Di minggu ketiga ini sudah terlihat perubahan kecilnya. Warga Dusun banyak yang ke masjid untuk shalat berjamaah, anak-anak yang ikut banyak pelatihan di kegiatan mahasiswa tersebut juga mulai semakin rajin belajar. Biasanya sepulang sekolah hanya bermain-main saja, sekarang mereka berkegiatan di balai dusun ataupun di masjid dusun. Sepanjang cerita ayahnya, Andra memang paling banyak disebut namanya. Pemuda yang kerap sebagai juru bicara itu memang yang paling dikenal. Mendengar semua itu rasanya semakin merona saja pipi Ratri.
Malam itu nama pemuda itu terus saja menghantui pikirannya Ratri. Wajah Andra yang rupawan dengan kumis tipis dan hidungnya yang sedikit bulat itu terus menyerang ingatannya. Bau parfumnya apalagi, Ratri seakan hafal dengan baunya dan terus terasa ada didekatnya. Malam itu semua yang ada pada sosok pemuda itu tergambar jelas, bahkan pakaian pemuda itu juga seakan begitu jelas di ingatannya. Andra orangnya memang mudah diingat. Pemuda itu kerap mengenakan kaos dan jaket berwarna merah yang ada gambar logo salah satu klub sepakbola Inggris, Manchester United. Agaknya Andra memang menyukai tim sepakbola itu. Jaket itu selalu dikenakannya. Kadang Andra juga mengenakan jaket hitam KKN miliknya, namun hampir setiap saat Andra memang terlihat mengenakan jaket.
Duuuuuh!
Ratri hanya bisa mengucek-ucek wajahnya berusaha menghilangkan bayangan pemuda itu. Gadis kelas tiga SMA sepertinya rasanya memang berada di masa saat perasaan suka pada lawan jenis mulai hadir. Tapi kenapa perasaan itu tumbuh pada sosok pemuda yang seakan berbeda kasta dengan dirinya. Mahasiswa kota itu jelas memiliki background yang berbeda dengannya, setidaknya Andra sudah mahasiswa. Mahasiswa seakan cukup mewakili bagaimana kehidupan Andra. Pakaian bagusnya, gadget mahalnya, dan topik pembicaraan yang tak dimengertinya sudah menunjukkan betapa dia dan pemuda itu seakan memiliki separate gate untuk bisa memuluskan perasaan yang tumbuh dihatinya itu.
Tapi apakah salah bila dia mengagumi sosok Andra seperti orang lain mengaguminya. Sebenarnya dia juga mengakui itu, namun dia tak mampu untuk melangkah lebih jauh. Pemuda itu bak hanya singgah selama empat puluh hari di Dusunnya, setelah itu akan pergi. Tak pantas rasanya Ratri menaruh hati padanya, bila akhirnya nanti akan merasakan bagaimana dia ditinggalkan begitu kegiatan pemuda itu berakhir.
***
Hari semakin senja namun suasana posko KKN terlihat sepi ketika Ratri dan Janah tiba disana. Hari itu memang ada semacam pelatihan membuat kerajinan dari kain flanel. Seorang kakak mahasiswa kemarin memang memberitahukan selepas kegiatan pelatihan komputer di balai dusun. Hari itu hari kamis, biasanya memang sepi karena pasti ada kegiatan KKN lain di Dusun sebelah, pengolahan limbah menjadi kreasi yang bisa dijual. Namun bila pengumuman dari salah satu kakak mahasiswa kemarin harusnya sore ini ada kegiatan di posko bersama anak-anak.
Agak sedikit canggung Ratri dan Janah menyusuri jalan kecil menuju posko tempat mahasiswa-mahasiswa itu tinggal selama kegiatan KKN. Rumah kosong yang ditempati mahasiswa-mahasiswa tersebut sudah berubah menjadi rumah yang selalu ramai setiap sore. Banner besar yang terpasang didepan posko itu seakan menunjukkan bahwa rumah kosong itu sudah menjadi markas mahasiswa-mahasiswa kota itu. Mereka adalah mahasiswa dari salah satu kampus swasta yang cukup besar di Kota Pelajar. Penampilan-penampilan mereka juga terlihat begitu mencolok. Kebiasaannya juga terkadang terlihat berbeda dengan remaja di Dusun ini. Kalau malam biasanya sudah berjejeran motor-motor mereka terparkir didepan posko, begitu juga saat pagi pasti kendaraan mereka sudah keluar rumah. Musik selalu terdengar dengan berbagai macam lagu-lagu yang diputar. Kalau pagi hari ada yang senam atau berjalan-jalan di sepanjang jalan Dusun,ada juga yang pergi ke pasar untuk membeli sayur dan kebutuhan selama di posko.
Di posko KKN itu memang tidak ada hiburan apa-apa, hanya ada speaker dan laptop milik mereka. Menurut cerita Andra, biasanya mereka bila sedang tidak ada kegiatan maka akan menonton film di laptop atau menonton televisi melalui TV Tuner yang konek dengan laptop mereka lalu dengan tambahan proyektor mereka menonton ramai-ramai. Semakin dekat dengan berakhirnya kegiatan mereka memang katanya sudah jarang melakukan hal tersebut, rata-rata sudah sibuk lembur mengerjakan laporan dan matriks kegiatan mereka yang nanti akan diujiankan untuk mendapatkan nilai maksimal. Itulah sebabnya mengapa di minggu-minggu akhir ini mahasiswa-mahasiswa itu sepertinya berada di titik super hectic untuk menyelesaikan program-program yang sudah di rencanakan di awal kegiatan. Jadi kalau mereka sudah jarang bersama-sama lain itu hal wajar, karena kegiatan yang berbeda membuat mereka kadang terpisah saat melakukan kegiatan, yang sesuai dengan program studinya masing-masing.
Untungnya tak lama kemudian dari dalam muncul dua kakak mahasiswa yang cukup mereka kenal, yaitu Kak Dipa dan Kak Nuri. Mereka kebetulan ada di posko saat Ratri dan Janah celinguk-celinguk.
“Yang lain sebentar lagi pulang, sedang ada kunjungan ke posko di Dusun sebelah. Kebetulan pembimbingnya sama, ditunggu saja ya!” Kata Kak Nuri. Kak Nuri mahasiswa asal Purworejo, dia memakai jilbab syar’i dan senyumannya yang selalu terlihat diwajahnya. Kak Nuri sangat cantik dan sopan, bahkan di antara mahasiswa KKN yang ada disitu dialah yang paling sering menyapa kalau bertemu.
Kak Dipa sendiri dari perkenalannya dulu mengaku berasal dari Bantul. Berbeda dengan Kak Nuri, Kak Dipa terkenal jauh lebih ceplas-ceplos bicaranya, namun sama baiknya. Selain mereka berdua, mahasiswa KKN yang putri lainnya ada Kak Intan, Kak Lani, Kak Dwi, dan Kak Rahma. Sementara yang putra ada Kak Andra, Kak Lukman, Kak Hanif, Kak Endra, dan Kak Fadil.
“Jadi pelatihannya?” Tanya Ratri.
“Jadi, sebentar lagi ya dik, menunggu Kak Lani dan Kak Rahma.”
“Kami tunggu di depan saja kak!”
“Tidak mau masuk?”Tanya Kak Dipa.
“Di sini saja kak,”
“Ya sudah, sebentar ya.”
“Ya kak.” Sahut Ratri dan Janah serentak.
Ratri dan Janah segera duduk di dipan yang ada di samping pintu masuk. Di hadapan mereka adalah kebun kacang tanah miliknya Pak RT, suasana semilir begitu mendamaikan hati. Janah tampaknya sibuk dengan ponselnya. Beberapa waktu yang lalu dia memang dibelikan ponsel baru oleh kakaknya yang kerja di Jakarta, sebuah handphone Android yang membuat temannya itu jadi lebih sering menatap layar ponsel.
Di Dusunnya yang mempunya ponsel bagus masih bisa dihitung jari, jadi memiliki ponsel bagus pasti akan terlihat lebih dibanding yang lain. Katanya dengan Android bisa melakukan apa saja, bukan hanya sekedar Facebookan atau membuka email tapi juga menonton video atau bermain game. Ponsel Ratri sendiri hanyalah handphone jadul merk Nokia, untuk bermain Facebook harus menggunakan aplikasi Opera Mini. Tidak ada aplikasi messaging seperti Blackberry Messenger atau Whatsapp. Baginya itu sudah cukup. Setidaknya dia memiliki, lagipula bagi anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah rasanya kebutuhan komunikasinya sudah tercukupi. Sebenarnya juga pingin memiliki handphone bagus, tapi mau meminta kepada orangtua rasanya tidak akan dikabulkan. Harga handphone yang berjuta-juta tentu tidak akan pernah disetujui bila dia meminta. Lagipula dia juga sadar diri, kondisi keluarganya rasanya tak ada pantas-pantasnya untuk memiliki barang mahal. Beruntung Janah tidak pernah pelit kepadanya, sehingga kalau sedang bersama, Ratri masih bisa meminjam untuk sekedar membuka internet untuk mencari informasi kalau ada tugas dari sekolah atau hanya sekedar membuka Facebook.
***

Bukan main kesalnya hati Ratri saat melihat Andra dan Lani berboncengan bersama sore itu. Keduanya terlihat begitu mesranya. Selama ini memang keduanya cukup dekat, bahkan motor yang kerap digunakan Andra adalah motornya Lani. Keduanya juga kerap bersama bahkan diluar kegiatan. Sore itu pemandangan itu ada didepan matanya. Rasanya ada gelora berkecamuk di hati Ratri melihatnya. Dia hanya bisa diam saja saat mereka datang danlewat begitu saja dari pintu yang lain. Dadanya bergemuruh, ada kecemburuan yang hinggap didalam hatinya.
Sebelumnya memang dirinya sudah berusaha untuk menghilangkan apa yang ada didalam hatinya. Kekagumannya pada Andra mungkin hanya sebatas kagum karena pemuda itu baik dan mampu menjadi pembimbing yang menyenangkan, namun hatinya juga tak dapat menahan firasat yang hadir. Andra mungkin memiliki kekasih, atau kedekatannya dengan Lani adalah hal yang membuatnya harus menghentikan semua perasaan yang tumbuh di hatinya.
Sore itu Lani yang menjadi instruktur di pelatihan membuat kreasi dari kain flanel. Pandangannya terus tertuju pada perempuan itu. Selama kegiatan, Ratri terus memperhatikan, bukan apa yang dikatakan oleh Lani, namun memperhatikan sosok Lani. Lani memang cantik, bahkan mungkin lebih cantik darinya. Lani memiliki kulit yang putih bersih, wajahya juga sangat canti seperti rembulan empat belas hari. Lani matanya sedikit sipit, gadis yang besar di Palembang itu sepertinya ada keturunan chinnese. Bedaknya tipis, namun lipstik merahnya sangat ketara menghiasi bibir indahnya. Pakaiannya rapi. Rambutnya panjang lurus begitu indahnya. Iri rasanya Ratri melihat sosok gadis itu.
***
 Entah ada bisikan gaib dari mana yang membuat Ratri bersolek sebelum ikut di kegiatan yang diadakan mahasiswa KKN di balai dusun pada hari itu. Sedikit ada dorongan yang membuatnya hari itu dengan sengaja mengoleskan lipstik ke bibirnya. Jilbab berwarna biru yang seragam dengan baju lengan panjangnya, bila biasanya memakai rok maka hari itu dia sengaja memakai celana jeans. Selama ini Ratri memakai jeans hanya kalau sedang jalan-jalan ke tempat wisata atau sedang dalam perjalanan ke tempat acara pernikahan atau ada acara keluarga.
Tidak hanya ibunya saja yang terkaget melihat penampilannya hari ini. Janah, sahabatnya itu yang paling terkejut. Perubahan itu sedemikian mencolok. Terutama lipstiknya. Rasanya sejak kenal dari lahir, Ratri hanya memakai lipstik beberapa kali saja itupun kalau sedang ada acara pernikahan atau sedang ikut karnaval kegiatan di sekolah, selebihnya tak pernah dilihatnya berdandan seperti sore itu.
“Tumben...,”Katanya sahabatnya itu.
“Tumben apanya Janah?” Tanya Ratri pelan.
“Tumben hari ini cantik. Mau ketemu siapa?”
“Siapa, siapa? Memangnya aku terlihat berbeda?”
“Mungkin aku yang salah atau bagaimana, tapi hari ini terlihat beda.”
“Ah, hanya perasaanmu saja!” Kata Ratri.
Sebenarnya dalam hatinya juga terselip sedikit malu. Rikuh karena tidak terbiasa berdandan membuatnya mendadak merasa jadi pusat perhatian. Bagi Ratri sekarang semua mata seorang menelanjanginya dari atas sampai kebawah. Dia berusaha untuk tidak peduli, namun akhirnya dia serasa melayang juga saat pemuda nan rupawan yang menjadi alasannya berdandan itu menyapanya dan mengagumi makeup nya hari ini.
“Wah ada Dek Ratri, ah hari ini ada yang beda. Cantik sekali.”
“Yaaa ampun. Kak Andra memujiku!” Teriaknya dalam hati.
Begitu katanya. Bukan main meronanya kedua pipi Ratri mendengar pujian itu. Di dadanya yang sedari tadi bergemuruh karena nervous mendadak serasa terisi oleh udara berlebih sehingga membuat tubuhnya menjadi enteng bak balon gas. Sesaat tubuhnya melayang terbang jauh keatas diantara awan-awan. Namun sesaat kemudian dia kembali mengijakkan kaki di bumi, berusaha menguasai dirinya.
“Ratri, sadar, jangan seperti ini.” Jeritnya dalam hati.
“ Hai kak Andra...”
Akhirnya hanya kalimat itu yang terucap dari mulutnya.
Andra tersenyum manis dan berlalu darinya. Ratri hanya memandangi punggung pemuda itu dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Pemuda sudah berdiri di depan anak-anak dan remaja yang hadir, seperti hari-hari sebelumnya Andra menjadi instruktur sekaligus sebagai pembimbing mereka selama pelatihan di kegiatan KKN. Andra yang terlihat sabar tampak sibuk kesana-kemari untuk memberikan tutorial kepada peserta pelatihan. Sore itu pelatihannya adalah pelatihan komputer. Andra yang merupakan mahasiswa Tekhnik Informatika sangat pintar membuat anak-anak di Dusun ini antusias mengikuti pelatihan.
Ratri jangan ditanya. Sedari tadi dia hanya memandangi terus pemuda itu. Terkadang dia tersenyum sendiri. Ucapan Andra yang memujinya tadi seakan terus terngiang di kepalanya, namun yang terpenting adalah sore itu Lani, teman KKN Andra yang selalu bersama pemuda itu tidak hadir di balai Dusun. Mungkin kalau mahasiswa cantik itu ada disitu, bisa jadi perasaan cemburunya akan kembali hinggap. Secara Lani lebih memiliki ruang gerak yang lebih banyak untuk berada di sisi Andra, dibanding dirinya. Hari itu Andra hanya ditemani oleh Hanif, Intan, Fadil, dan Nuri. Sementara menurut berita yang didapatkan dari anak-anak yang ditanyai nya tadi, Lani dan teman-temannya yang lain sedang di posko untuk persiapan kegiatan nanti malam di rumah Pak RW.
Sampai pelatihan selesai, tidak ada satupun materi yang diberikan Andra yang hinggap di kepalanya. Pandangannya sering mencuri ke arah pemuda itu. Hari itu Andra terlihat tampan, rambutnya yang klimis mengkilap oleh minyak rambutnya, kulitnya yang putih bak memancarkan cahaya dan yang paling disukai Ratri adalah jaketnya. Kalau Andra sudah memakai jaket, pemuda kota tampak lebih gagah bak model iklan yang sering dilihatnya di televisi.
Selesai pelatihan Ratri ditemani Janah masih duduk bersantai di lapangan tepat di depan balai dusun. Mahasiswa-mahasiswa KKN itu terlihat tengah mengangkati kursi besi kedalam ruangan yang ada di belakang Balai dusun. Fadil dan Nuri sudah beranjak hendak pulang, begitu juga dengan Intan dan Hanif. Mereka sempat menyapa Ratri dan Janah, menanyakan mengapa belum pulang. Ratri hanya mengatakan masih ingin menikmati suasana. Balai dusun memang memiliki halaman luasayang ditumbuhi oleh rerumputan kecil, ada kursi-kursi kayu dan lapangan volley didepannya. Balai dusun berbentuk seperti rumah Joglo yang terbuat dari kayu jati, pertama kali sampai didusun ini mahasiswa-mahasiswa itu juga mengagumi keindahannya, apalagi kalau menjelang senja berlalu suasananya terasa semakin damai dan menyenangkan.
Andra yang muncul belakangan langsung menuju motornya. Langkah pemuda di ikuti oleh tatapan mata kedua gadis remaja itu. Janah diam-diam membisiki sesuatu kepada Ratri.
“Tampan ya?” Begitu yang dibisikkan.
“Haah, siapa?” Tanya Ratri tergagap.
“Itu, Kak Andra.”
“Lumayan,..”
“Katanya Kak Andra itu belum pernah punya pacar.”
“Ohya?, kok bisa?”
Mata Ratri seakan membesar. Wah Kak Andra sedang Jomblo!
“Tidak tahu juga, katanya orangnya fokus sama kuliah. Eh orangnya datang, pura-pura tidak sedang ngomongin dia...”
Buru-buru keduanya merubah arah pandangan, kearah ponsel Janah.
“Belum pada pulang?” Suara itu mendekat. Andra!
Keduanya sontak menoleh, menutupi kekagetannya.
“Belum kak, masih santai dulu disini.” Jawab Janah.
“Pada mau makan bakso nggak? Kak Andra lagi ingin makan bakso.”
“Ada sih kak bakso enak di daerah sebelah, jam segini masih buka.”
Andra tersenyum.
“Ada yang lagi slow?” Tanyanya.
“Wah pingin sekali kak, tapi motornya kami tidak ada.” Kata Janah.
“Ada motor di Posko, nanti bisa membawa satu.” Kata Andra.
“Lama tidak kak? Aku mau sekalian ke toko disana, membeli sesuatu.” Ratri sambil menatap ke arah Andra.
“Begitu selesai langsung pulang, nanti malam khan ada pengajian.”
“Ya sudah kalian berdua saja kak, nanti kalau ke Posko lalu pergi ke desa sebelah, waktunya tidak cukup.” Kata Janah. “Ahhh Janah” Teriak Ratri dalam hatinya.
“Bagaimana?” Andra mengangkat alis matanya.
Ratri menarik nafasnya. “Janah pulang?” Tanyanya pada sahabatnya.
“Tak apa. Kamu menemani Kak Andra saja.” Jawab sahabatnya.
“Kak Andra ambil motor dulu, nanti sekalian kita mengantarkan Janah pulang ya.” Kata Andra.
“Aku pulang jalan saja tidak apa-apa Kak. Sudah biasa.” Kata Janah.
“Tidak boleh menolak.” Kata Andra sambil tersenyum.
Begitulah, sore itu akhirnya menjadi sore terindah bagi Ratri. Sungguh suatu keajaiban, akhirnya bisa merasakan dekat dengan pemuda itu. Rasanya dia ingin mencium Janah sahabatnya. Sebelum berangkat kedesa sebelah, terlebih dahulu mengantarkan sahabatnya itu pulang. Nervous dan rikuhnya kembali hadir ketika motor matic yang dikendarai Andra melaju melintasi jalanan kecil itu.
Desa sebelah sudah masuk Kecamatan Ponjong, sebuah kecamatan yang ada di Gunungkidul. Disana ada pasar dan yang jualan banyak, salah satunya adalah bakso. Bakso yang paling terkenal adalah bakso Sedap. Ratri biasanya selalu kesana dengan Janah atau saat menemani ibunya berjualan di pasar. Ibunya yang berjualan sayur mayur selalu berjualan dipasar-pasar setiap harinya, setiap pagi berkeliling, dan begitu jualannya di Pasar Ponjong biasanya pas hari minggu sehingga Ratri kerap ikut menemaninya berjualan. Bila hasilnya lumayan banyak, maka ibunya selalu mentraktirnya makan bakso.
***
Di Toko Niaga Ratri membeli beberapa bahan flanel kain dan benang warna-warni yang nantinya akan digunakan untuk tugas kesenian di sekolah. Tugas pelajaran kesenian adalah membuat kerajinan dari bahan kain flanel. Kain yang dibelinya juga bukan yang termahal. Ibunya hanya memberinya uang 30 ribu saja untuk tugasnya, itupun rasanya cukup banyak. Semua kebutuhannya hanya menghabiskan sekitar 20 ribuan saja. Lumayan ada sisa 10 ribu bisa untuk keperluannya yang lain.
Selesai membeli keperluannya, Ratri mengajak Andra segera ke warung bakso langganannya yang ada di timur Toko Niaga. Warung bakso hanya berjarak beberapa meter saja. Kalau di hari Jumaat sore begini biasanya tidak terlalu ramai, ramainya saat akhir pekan atau di jam-jam sekolah. Kalau sepi berarti itu menguntungkan baginya. Ratri akan merasa malu kalau ada yang melihat mereka. Bukan karena dandanannya hari itu namun karena dia tidak pernah percaya diri saat berjalan dengan lawan jenis, bisa jadi ini adalah kali keduanya dibonceng oleh lawan jenis, selain ayahnya.
“Ini baksonya?” Tanya Andra begitu sampai di depan warung.
“Iya Kak, disini.” Kata Ratri.
Sebenarnya ada sedikit kecemasan di hati Ratri, takutnya Andra tidak berkenan dengan warungnya. Di benaknya Andra pasti terbiasa makan di tempat yang lebih bersih atau lebih nyaman seperti di kafe atau restauran, minimal di warung yang lebih bagus. Warung Bakso Sedap tidak terlalu besar, hanya ada dua dua meja panjang yang terbuat dari kayu dengan tripleks putih dibagian atasnya. Di atas meja hanya ada botol saos dan kecap.
Lesehannya juga hanya beralasakan tikar plastik. Bagian dindingnya juga begitu sederhana, hanya ada kalender berwarna putih dengan angka-anga besar yang menandai tanggalannya, di bagian paling dalam terpajang poster pemilu yang menunjukkan gambar seorang calon anggota DPRD lengkap dengan nomor urut dan visi misinya. Sepertinya itu adalah poster lama yang belum dicopot hingga dua tahun setelah proses pemilu.
Ratri dan Andra memilh duduk paling pojok, tepat disamping kipas angin. Suasananya memang mendukung sehingga mereka bisa mengobrol dengan santai. Andra paling sering bertanya, dia bertanya banyak hal. Tentang sekolah Ratri, teman-temannya, sampai dengan hal-hal lain yang cukup mendetail seperti keluarga hingga kebiasaan-kebiasaannya. Ratri hanya bisa menjawab sambil sesekali melemparkan pertanyaan yang sama. Pertama kali bagi Ratri bisa duduk bersebelahan dengan pemuda selama  belasan tahun hidup. Untungnya Andra adalah tipe orang yang bisa membuat nyaman sehingga sedikit demi sedikit rasa canggungnya itu berkurang, bila sedari tadi tidak pernah tertawa akhirnya dia bisa memberanikan diri untuk tertawa mesti ditahan-tahan. Kata orangtua, gadis yang tertawa kencang tidak ilok dipandang. Tapi dia juga tidak bisa menahannya, saat Andra menceritakan tentang kelucuan anak Pak RT yang selalu datang ke Posko KKN. Lengkap sudah apa yang diidamkan oleh Ratri, semuanya ada pada diri Andra. Tapi rasanya tak berhak dirinya berharap lebih. Wajah yang sedang dilihatnya hari itu, mungkin akan hanya hadir di dalam mimpi indahnya saja, bukan di dunia nyata.
***
Waktu perpisahan semakin dekat. Tanpa terasa mahasiswa yang sedang KKN akan segera menyelesaikan tugasnya dan akan kembali lagi ke kota, tidak terkecuali mahasiswa-mahasiswa yang KKN di dusunnya. Satu hari sebelum mahasiswa-mahasiswa itu pulang, semua anak-anak dan remaja di dusun mulai merasakan kesedihan yang mendalam, seakan akan terpisah jauh dengan kakak-kakak yang selama sebulan ini sudah menjadi teman yang baik bagi mereka.
Kakak-kakak manis itu pertama kalinya memang rasanya memberi jarak pada anak-anak dan remaja di dusun, namun lama-lama semakin dekat. Masa tugas mereka selesai akan menimbulkan kerinduan dikemudian hari. Rasanya baru kemarin mereka datang ke dusun mereka, mengajak bermain, belajar, dan kerap memberikan hal-hal menarik bagi mereka. Sekarang tak lama lagi mereka akan pergi. Waktu yang terus beranjak memilukan bagi mereka. Nanti malam adalah acara perpisahan dan akan diadakan di balai dusun. Acara yang tepat dengan malam minggu itu akan menjadi saksi malam terakhir mereka disini.
Sedari pagi mahasiswa-mahasiswa itu sudah sibuk di posko dan di balai dusun dengan segala persiapan untuk acara perpisahan nanti malam. Di posko semua mahasiswa putri memasak dan membuat berbagai macam kue dibantu dengan ibu-ibu yang ada di dusun, sementara mahasiswa yang putra mempersiapkan panggung dan sound system di balai dusun. Balai dusun sudah disulap menjadi panggung mini. Dindingnya yang hanya ada black board yang terbuat dari semen di cat hitam sudah ditutupi oleh kain hitam besar dan diberi tempelan kata-kata dari kertas warna warni yang dibentuk.
Dua sound system lengkap dengan mikropon dan proyektor juga sudah disusun dengan rapi di pinggir ruangan. Andra yang bertugas sebagai operator mengecek persiapannya dibantu oleh Lukman dan Hanif. Sementara Fadil tampak sibuk laptop dan Proyektor membuat slide dan musik ilustrasi. Acara nanti memang tengah disusun, ada Lani dan Rahma yang sudah tengah mengantur rundown acara. Nantinya ada acara sambutan dari Pak RW, Pak RT, Ibu Kepala Dukuh, dan juga dari ketua posko KKN, lalu ada juga penampilan tarian muda-mudi dan orangtua dari warga dusun. Di akhir acara ada pemutaran film pendek kegiatan KKN dari awal kedatangan sampai berakhirnya acara malam itu.
Ratri yang masih di sekolah sudah tidak tenang, ingin segera pulang. Untungnya hari Sabtu jam pelajaran selesai lebih cepat sehingga dia bisa pulang lebih awal. Jemputan ayahnya dirasa sangat lama datangnya. Ayahnya yang datang terlambat hampir sejam membuatnya semakin gelisah, ingin segera dia pulang ke rumah. Malam ini yang bertepatan dengan pengajian remaja di masjid terpaksa diliburkan. Pak Ustadz Yogi, Ustadz muda yang kerap mengajari tadarus awalnya sempat protes karena kegiatan perpisahan yang menampilkan nyanyian dan tarian itu lebih diutamakan daripada mengaji. Namun akhirnya dengan berat hati Ustadz muda itu akhirnya juga luluh juga dengan meliburkan pengajian malam itu.
Bukan main senangnya anak-anak dan remaja di dusun. Sehari sebelumnya mereka memang sudah berkonspirasi kalau Ustadz muda itu tidak mengijinkan maka mereka akan bolos pengajian. Kakak-kakak mahasiswa bahkan sampai mengirimkan surat kepada Ustadz muda itu, beruntung akhirnya di ijinkan juga olehnya. Mahasiswa-mahasiswa itu sudah menjadi teman baru bagi anak muridnya, dan besok sudah kembali ke kota, jadi tidak ada salahnya bila pengajian malam itu diliburkan, dengan catatan anak-anak selesai acara harus mengaji atau menggantinya di hari minggunya.
Bagi Ratri, perpisahan itu akan menjadi hal memilukan. Mereka sudah cukup bisa menyentuh hati, terutama sosok Andra yang belakangan selalu hadir mewarnai harinya.  Pertama kalinya dalam hidupnya dia memiliki ketertarikan pada sosok pemuda. Nafasnya terasa sesak. Tak terbayangkan bagaimana nanti dia akan menahan semua perasaannya saat melihat pemuda itu akan beranjak pergi meninggalkan dia dan dusunnya. Bila saja waktu ini bisa berputar lebih lambat maka itu akan menjadi hal yang paling menyenangkan bagi dirinya.
***
Malam semakin mendekat. Lampu-lampu terang yang terpancar dari balai dusun membuatnya begitu terang. Lampu kerlap-kerlip warna warni cukup membuat indah suasana. Tikar-tikar plastik sudah digelar di rumput yang ada di depan balai dusun. Orang-orang sudah berdatangan dan mengisi tempat. Penuh. Menurut kakak-kakak mahasiswa, tepat pukul 19.00 acara akan dimulai. Fadil dan Lani yang bertugas sebagai MC sudah bersiap-siap di pinggir panggung. Di sisi yang lain Hanif dan Lukman juga sudah bersiap dengan kamera di tangan mereka. Andra terlihat sibuk kesana kemari, menemui tamu lalu kembali ke dalam, dll. Andra memang paling aktif. Bisa dibilang dia adalah director dari acara malam itu. Sementara teman-teman yang lain ada di backstage untuk mempersiapkan semua di belakang layar.
Malam itu Ratri dan Janah diminta sebagai penerima tamu dan juga nanti akan naik ke panggung saat penyerahan hadiah. Beberapa waktu yang lalu mahasiswa KKN itu memang membuat beberapa perlombaan untuk anak-anak, dan malam ini adalah pengumumannya. Jam di tangan sudah menunjukkan 10 menit sebelum acara dimulai. Musik yang berkumandang dari speaker besar mengalunkan lagunya Still I’m Sure We’ll Love Again nya Dewa 19. Lagu lembut itu membuat suasana seperti kembali ke era 90-an. Ratri yakin pasti itu adalah lagu pilihannya Andra. Andra memang amat menggemari band Dewa 19, setiap di posko bila Andra yang memegang laptop dan speaker maka lagu-lagunya yang diputar.
Tepat pukul 19.00 acarapun dimulai. Diawali oleh pembukaan oleh MC yang disambut begitu meriah oleh semua yang datang. Rupanya tidak hanya warga dusun saja yang hadir, ada warga dari dusun sebelah bahkan dari kecamatan yang hadir. Puluhan orang itu seakan menjadi saksi perpisahan mereka.
Satu persatu acara berlangsung dengan meriah. Pak RW yang hadir memberi sambutan bahkan mampu membuat suasana semakin meriah dengan bernyanyi karaoke lagu dangdut. Ibu Patmi, sang Kepala Dukuh juga ikut menyumbangkan suaranya lewat lagu campursari Perawan Kalimantan dengan berduet dengan Endra. Endra yang paling suka bernyanyi diantara mahasiswa lain di posko, lagu-lagu kegemarannya juga dangdut atau kadang malah lagu Campursari miliknya Didi Kempot. Malam itu dia sukses berduet dengan Ibu Dukuh. Penonton bahkan bertepuk riuh dan meminta pasangan duet itu kembali bernyanyi lagu lain, akhirnya lagu keduapun di nyanyikan, kali ini lagu miliknya Broery Marantika dan Dewi Yull, Kharisma Cinta.
Acara mengesankan itu juga menampilkan tarian-tarian dari warga dusun. Sesi pertama diisi oleh remaja lalu dilanjutkan oleh ibu-ibu yang menari dengan gemulainya. Malam itu acara ditutup dengan penampilan semua mahasiswa KKN dengan membawakan lagu Kemesraan miliknya Iwan Fals dan diberi background slideshow kegiatan mereka selama 40 hari di dusun. Semua penonton yang hadir seakan ikut terbius, ada tawa dan duka saat alunan lagu dan fhoto-fhoto tersebut di putar berbarengan. Saat fhoto yang membuat tawa semuanya ikut tertawa namun dengan berkaca-kaca.
Kemesraan ini janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini akan ku kenang selalu
Hatiku damai jiwaku tenang di sampingmu
Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu...
Malam terakhir mereka ditutup dengan fhoto-fhoto bersama. Semua yang hadir berebutan menyalami mahasiswa-mahasiswa kota itu. Ibu Dukuh dan ibu-ibu lainnya bahkan tak kuasa menahan tetesan airmata, sementara yang lain ikut merasakan mrebes mili.  Memang ini adalah pertama kalinya ada mahasiswa yang KKN didaerah mereka jadi sangat begitu berkesannya kehadiran mereka. Cerita mereka telah berakhir, karena besok mereka akan pergi meninggalkan mereka, dengan sisa pengabdian dan kenangan yang tak mudah untuk dilupakan begitu saja.
***
“Selamat tinggal adik-adik semua, terima kasih sudah menerima kami kakak-kakak mahasiswa selama sebulan disini. Terima kasih yang sudah dengan antusiasnya mewujudkan program-program kami, terima kasih yang telah menjadi teman terbaik selama disini, semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi...”
Begitu kata perpisahan yang keluar dari mulut Hanif. Hanif yang sebagai ketua kelompok memberikan kata perpisahan dihadapan anak-anak dan remaja dusun. Pagi itu memang mereka membuat acara perpisahan khusus dengan anak-anak, karena selama KKN anak-anak dan remaja itulah yang selalu menjadi bagiannya. Mata berkaca-kaca dan senyum yang penuh makna menjadi pemandangan pagi itu. Mobil pick up yang akan mengangkut barang-barang milik mahasiswa-mahasiswa itu sudah datang, beberapa barang sudah diangkut ke pick up. Hari itu mereka benar-benar akan pergi.
“Kak Hanif besok main lagi kesini ya!” Sahut Bintang berteriak.
“Iya kak, besok main lagi kesini.”
Anak-anak yang lain juga ikut berteriak. Mereka mulai memanggil nama-nama mahasiswa itu. Tepat pukul 08.00 mereka makan Nasi goreng bersama di posko, pagi-pagi sekali memang sudah disiapkan. Pagi itu tidak ada yang pergi kepasar atau memasak, mereka membeli nasi goreng di Kota Wonosari dan dibawa pulang untuk dimakan bersama-sama dengan semua yang datang. Semuanya hadir, termasuk Ratri dan Jannah.
Perpisahan sudah didepan mata. Bagi Ratri separuh hati dan jiwanya ikut terbawa saat lambaian tangan mereka menjadi saksi terakhir kali melihat mereka di dusun ini. Beberapa mahasiswa dipeluk satu-satu, ingin rasanya dia menumpahkan airmata saat Andra, pemuda yang sudah hinggap di hatinya itu berdiri merentangkan tangannya.
“Ahhhhh tak perlu malu, Ranti, peluk dia!”
Bisikan gaib terus membujuknya, hingga dia tak kuasa menahan semuanya. Dipeluknya tubuh kekar pemuda itu seakan tak ingin dia lepaskan. Airmatanya tidak tumpah, namun kesenduan merasuki tubuhnya. Langit seakan mendung tiba-tiba. Saat pemuda itu melepaskan pelukannya, saat itu juga seakan tubuhnya lunglai tak bersemangat lagi.
Lambaian tangan mengiringi kepergian mahasiswa-mahasiswa itu. Entah kapan lagi akan bertemu. Ratri, Janah dan semua anak-anak itu hanya bisa mengantarkan sampai ke pinggir jalan dan hanya termangu memandangi punggung mereka yang terus menjauh, jauh, jauh, dan hilang dari pandangan. Ratri mengikuti anak-anak itu memasuki rumah kosong yang dijadikan posko mereka. Rumah itu sudah kembali seperti sedia kala. Tak berpenghuni. Bintik-bintik merah dan mendung airmata tampak terlihat dimata anak-anak itu. Hanya kenangan saja yang tersisa, dan benih kerinduan yang tumbuh di hati mereka. Mahasiswa-mahasiswa itu sudah pergi, namun apa yang mereka tinggalkan akan terus diingat, sampai mereka besar nanti, dan iringan doa mengiringi setiap langkah yang menjauh meninggalkan mereka, semoga suatu saat bertemu kembali.
***
Sehari, dua hari, tiga hari, hingga berminggu-minggu Ratri mulai mencoba membiasakan diri seperti dulu sebelum Andra dan teman-temannya datang. Keadaan memang tidak berubah seperti sedia kala, merea tetap mengaji dengan Ustadz Yogi di masjid, mereka tetap pengajian setiap hari, namun seperti ada yang kurang. Mahasiswa-mahasiswa kota itu selalu menjadi topik setiap saat oleh anak-anak yang ada didusun, mereka hafal dengan sosok masing-masing mahasiswa itu. Ada yang mengeluh bahwa pengajian tidak seasyik saat ada mahasiswa-mahasiswa itu, karena biasanya sebelum pengajian selalu ada permainan atau pelatihan yang menyenangkan dari mereka. Namun bagaimanapun juga semua harus tetap berjalan.
Anak-ana mulai merindukan mereka. Satu-satunya yang menjadi obat kerinduan adalah berkirim pesan melalui SMS atau di Facebooknya, namun balasan mereka lama bahkan ada yang membalas namun sekali dua kali lalu tidak membalas lagi. Mungkin mereka sibuk dengan kegiatan lain di kampus, atau apapun itu, yang jelas mahasiswa-mahasiwa itu selalu dirindukan kehadirannya.
Bagi Ratri, tidak hanya rindu saja yang menyusupi batinnya, namun ada kehilangan yang ikut terbawa. Kabar pemuda itu juga tak lagi terdengar. Sejak perpisahan hari itu sampai berminggu-minggu ini Andra hanya tiga kali membalas pesan singkatnya. Ratri sepenuhnya memahami. Benih-benih kerinduan yang tumbuh hanyalah semu, tak perlu rasanya dia berharap bahwa kelak semua pengharapannya menjadi nyata. Namun bila dia boleh berharap, andai pemuda itu berada disampingnya saat ini maka ada satu kalimat yang akan diucapkan tanpa harus bersembunyi dibalik malu.
“Aku rindu kamu. Datanglah ke desaku, maka akan kupeluk erat dirimu, dadamu akan menjadi tempat penampungan airmata dan kerinduanku. Terima kasih sudah mengukir namamu dihatiku yang lugu, inilah rasanya, aku tak berhenti menantikanmu kembali. Kesini.”
T A M A T


Kamus singkat

Nggeh             : Bahasa Jawa, bermakna Iya atau mengiyakan
Ceplas-Ceplos  : Suka berbicara seenaknya tanpa peduli sekelilingnya
Dipan              : Meja panjang berbentuk ranjang yang terbuat dari bambu
yang disusun horizontal dan digunakan sebagai tempat
untuk bersantai
Mrebes Mili     : Perasaan ingin menangis karena terharu


           
           

Lanjut membaca »
  • Get link
  • Facebook
  • X
  • Pinterest
  • Email
  • Other Apps
Post a Comment
Tags: 2018 cerpen literature
Newer Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Tags

  • 2018
  • 2019
  • 2020
  • artikel
  • blogging
  • cerpen
  • dania
  • destinasi wisata
  • galeri
  • Jawa Tengah
  • Karimun Jawa
  • Klaten
  • kuliner
  • Kulonprogo
  • literature
  • myherisetia
  • novel
  • tavelblogger
  • Travelblogger
  • traveling
  • warisan nusantara
  • wisata alam
  • Yogyakarta

Pages

Recent Posts

REIYS MEDIA

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Most Popular

Popular Posts

Created By Blogspot | Distributed By Gooyaabi Template
  • Home
  • About
  • Contact Us