Bagian 6 : Bertikai

Perlombaan antar Madrasah tinggal beberapa hari. Persiapan demi persiapan sudah mulai mencapai 90%.  Hanafi menjadi orang paling sibuk, terlebih dia dipercaya Pak Wirman untuk mengurus soal akomodasi, kontingen, dan keperluan semuanya. Dana dari Kabupaten memang sudah diterimanya. Sungguh pak Bupati sedang berbaik hati sehingga tidak sungkan untuk mengeluarkan sejumlah dana pendidikan untuk kegiatan ini. Hal yang wajar, karena Madrasah Al Aminah menjadi satu-satunya sekolah yang akan mewakili Provinsi Riau diajang bergengsi itu. Bagi Hanafi, itu sangat membantu. Karenanya tugasnya akan semakin ringan. Nama-nama kontingen sudah ada ditangan, guru pendamping juga sudah masuk hitungan. Sekarang adalah waktunya untuk mempersiapkan keberangkatan. Tiket Bis yang akan membawa semua kontingen juga sudah ada. Selama tiga hari tiga malam akan puas diperjalanan hingga sampai ke Jogja. Selain Dania, juga ada Pak Anwar dan Ibu Marhumah yang akan ikut mendampingi. Ini adalah pengalaman pertamanya keluar Sumatera, tentu saja akan menjadi momen yang membahagiakan baginya, bagi mereka semua yang akan berangkat tentunya. Rencananya mereka akan di Jogja selama 10 hari, 7 harinya untuk kegiatan perlombaan dan sisanya untuk liburan. Siapa yang tidak senang? Pagi ini dia ditemani dengan Dania sedang berbelanja mempersiapkan keperluannya selama berada di Jogja. Bahkan dia sudah menyiapkan list belanjaan.
Dengan mengendarai motor Shogun 125R nya, pria tampan itu menuju kearah pasar yang letaknya 2 Kilometer dari rumahnya. Memang sengaja memilih untuk berbelanja keperluannya di pasar, karena kalau di Mal pasti akan lebih menghabiskan banyak uang, bukankah lebih baik kalau uangnya dibelikan oleh-oleh saja nanti di Jogja. Dania juga setuju. Mereka sudah berjanji akan bertemu di pasar tepat pukul 09.00 wib. Pagi itu Hanafi hanya mengenakan kemeja lengan pendek, celana bahan berwarna gelap, dan sepatu pantofelnya. Gaya khas rapi nya itu memang selalu saja melekat di dirinya. Dimanapun dia berada, selalu saja berpakaian necis. Rambutnya mengkilap. Janggut dan brewoknya yang lebat menambah daya tariknya. Meskipun hanya akan berbelanja dipasar, namun baginya berpakaian rapi tetaplah suatu hal yang wajib.
Dua puluh menit melaju dijalanan sampailah dia di pasar tujuan. Segera dia parkirkan motornya. Seorang petugas parkir memberinya karcis, dimasukkan kedalam dompetnya, kemudian pelan-pelan dia melangkahkan kaki kedalam. Dania belum terlihat juga, namun dia yakin gadis itu sudah sampai.
“ Bang!”
Sebuah suara mengagetkannya. Hanafi menoleh.
Dania datang menghampirinya. Teman mengajarnya itu tampak begitu cantik dengan balutan pakaian muslimah yang serba biru. Jilbabnya surban berwarna hitam. Kacamata hitam bertengger diantara hidungnya. Bukan main.
“ Abang kira tadi ibu pejabat darimana. Ternyata ibu guru.” Kata Hanafi. Dia melemparkan senyum manis penakluk hati.
“ Pejabat apaan!, Baru sampai kah bang?”
“ Bukannya duluan abang ya?, abang malah baru melihat dirimu.”
“ Dania sudah dari tadi bang. Tapi tadi singgah dulu di warungnya Makcik, ada titipan belanjaan dari bunda.” Dania memperlihatkan bungkusan kresek berwarna merah. Dari aromanya sudah tercium kalau itu adalah bumbu dapur. Bahu khas daun bawang memang begitu mudah ditebak.
“ Sayuran?” Tanya Hanafi.
“ Iya bang.” Jawab Dania.
“ Rasanya tak pantas, orang cantik, pakaian pejabat tapi yang ditenteng kresek berisi sayuran. Sini biar abang yang bawakan.” Kata Hanafi.
Bahu pemuda itu sejenak merasakan tinju Dania.
“ Tak apalah cantik-cantik menenteng sayuran. Naluri bang ai.”
“ Asal bukan menenteng ikan.” Kata Hanafi lagi.
“ Nantipun akan Nia tenteng bang, tunggu saja!” Dania tertawa.
“ Yuk masuk kedalam.” Hanafi tertawa juga mendengarnya.
Suasana pasar cukup ramai. Pasar ini adalah pasar tradisional yang ada di kota Tembilahan. Berbagai macam barang dagangan dijual disini. Mulai dari pakaian, sembako, sampai dengan peralatan besi dan peralatan rumah tangga lainnya. Tampak emak-emak dengan suara kencangnya menawarkan barangnya. Deretan pakaian yang setiap satu toko ketoko lain selalu ada perempuan muda yang menyambut dan mempersilahkan untuk melihat dagangannya. Dania membeli beberapa keperluan seperti handuk dan tissu basah. Hanafi malah kepincut membeli dua celana pendek dan kaos yang ada gambar Rhoma Irama. Dania hampir menahan tawa saat melihat tingkah lelaki itu. Tidak pernah menyangka kalau pak guru idola semua orang itu adalah orang yang menggemari Rhoma Irama. Dania pikir Hanafi yang religius itu akan menyukai lagu-lagu lembut seperti Wali, ST12, atau malah Armada.
Begitu melewati deretan para pedagang yang menjual peralatan elektronik, Hanafi sempat berhenti sebentar. Tenyata dia membeli handset, seperti pemuda itu memang akan mempersiapkan diri untuk menikmati musik disepanjang perjalanan. Dania terus menggodanya. Dania sendiri tidak begitu sering mendengarkan musik. Handphonenya malah menyimpan sedikit lagu, namun aplikasi media sosialnya lebih banyak. Kalau sedang waktu senggang biasanya Dania lebih banyak mengutak-atik media sosial dan aplikasi video karaoke. Baginya itu sudah cukup, meskipun banyak juga temannya yang mengatakan kalau itu justru membuatnya eksis didunia maya. Beberapa waktu yang lalu handphone sempat jatuh tertinggal di mobilnya Zulfikar, pria yang telah membuatnya begitu emosional itu, namun untungnya kemudian segera diantarkan kerumahnya. Entah apa yang sudah dibuka-buka oleh lelaki itu, Dania tak peduli. Meskipun handphonenya tak pernah berpassword, namun masih menggunakan pin sehingga kalau hilang tidak bisa di hard reset. Kalau hanya dibuka isinya, tak pernah ada masalah bagi Dania, lagipula tidak ada yang aneh dihandphonenya. Plaing berisi video-videonya tengah bernyanyi dan sedang action bersama keluarganya.
Lama menunggu Hanafi berbelanja peralatan elektronik, Dania membuka-buka handphonenya. Aplikasi Instagram adalah pilihannya, membuat story hari ini melalui aplikasi handphonenya itu. Beberapa orang tua dan remaja yang lalu lalang melintasinya hanya tersenyum-senyum melihat tingkahnya. Tak lama terdengar keras lagu dangdut dari VCD yang disambung ke speaker. Lagu itu mengalun dari lapak bapak-bapak yang mengenakan topi kupluk. Bapak-bapak berkumis itu menjual VCD. Begitu banyak VCD di dagangannya. Terlihat dia melambaikan tangannya berusaha membuat orang-orang yang lalu-lalang singgah melihat dagangannya. Suara bapak-bapak itu parau saat menawarkan dagangannya. Peluh mengucur dari pelipisnya. Dania menghampiri dan melihat-lihat deretan lagu terbaru sambil kepalanya bergoyang-goyang mengikuti irama lagu yang mengalun keras dari speaker besar di samping bapak-bapak penjualnya itu. Lagu dangdut yang diputar juga begitu asyik dinikmati, Dania tahu betul lagunya karena dia juga begitu menyukainya, yaitu lagu Menanti Di Bawah Pohon Kamboja yang dinyanyikan oleh penyanyi melayu David Fanreza. Dania ikut bernyanyi mengikuti lagunya.
Menanti di bawah pohon kemboja datangnya kekasih yang kucinta
Janganlah sekalipun terlalaikan janjimu yang telah kau ucapkan
Bila kasih tak ingat padaku lihatlah sekuntum kemboja
Disana kita kelak berjumpa
Menanti di bawah pohon kemboja datangnya kekasih yang kucinta
Hanafi yang keluar dari toko elektronik langsung menyeret Dania. Memegang kedua tangan Dania lalu bergoyang sambil menarik tangan kanan dan kiri Dania kedepan dan belakang dan kadang-kadang menggoyangkan kekiri dan kekanan mengikuti nada sambil menggoyangkan kepalanya. Dania yang kaget tak dapat menolak gerakan tiba-tiba itu, sehingga dia hanya mengikuti gerakannya diselingi dengan tawa terbahak-bahaknya. Tidak hanya bergoyang kiri kanan, tapi juga gerakan berputar, lalu Hanafi mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan Danai berputar dibawah tangannya lalu bergoyang lagi bak berdansa di atas panggung yang megah. Beberapa ibu-ibu yang berjualan didepan sana ikut tersenyum dan bertepuk tangan mengikuti nada. Lagunya David Fanreza itu memang begitu indah mengalun dan diikuti dengan goyangan. Seorang bapak-bapak mengenakan kaos polo dan topi Commando juga ikut bergoyang yang disambut dengan tepuk tangan orang-orang yang disekitar mereka. Merasa menjadi pusat perhatian, Dania menyeret Hanafi untuk berlalu sambil berlari kecil dan tertawa-tawa. Persis seperti adegan di film India, bedanya hanya ini berada ditengah-tengah pasar.
Sepanjang lorong itu semua orang bertepuk tangan kepada Hanafi dan Dania. Mungkin mereka keduanya adalah pasangan yang sedang dimabuk cinta sehingga hingga kesadarannya sampai berjoget di tengah pasar. Dania tak henti-hentinya tertawa dalam hatinya. Sungguh Hanafi yang religius dan misterius itu hari ini rasanya berubah menjadi sosok periang diluar dugaan. Hanafi masih terus berjalan sambil menggoyang-goyang kepalanya.
“ Sudah bang! Lagunya dah habis.” Kata Dania.
“ Lagunya enak, otomatis bergoyang. Suka lagunya?” Kata Hanafi.
“  Suka banget. Memangnya abang tahu juga lagunya?” Tanya Dania.
“ Jelaslah tahu. Itu lagu kesukaan abang. Itu lagu untuk yang sedang menunggu kehadiran kekasihnya.  Abang juga bingung kenapa Dania suka lagunya. Kalau abang sedang rindu dengan pacar selalu menyanyikan lagu itu. Duuuh jadi kangen khan.” Kata Hanafi.
Sedikit kaget Dania mendengarnya. Rasa penasarannya mulai hinggap di hatinya. “ Ohya, pacar abang dimana memangnya?” Akhirnya keluar juga pertanyaan itu.
“ Di Jambi. Dia sedang kuliah di jurusan Matematika di UNJA.” 
Terjawab sudah semua pertanyaan Dania selama ini. Jadi ini alasan mengapa Hanafi sepertinya tidak pernah melirik dirinya meskipun banyak yang menjodohkan mereka berdua. Ternyata gadis lain yang telah tinggal lebih dulu didalam hati lelaki tampan itu. Dania menghembuskan nafasnya. Sekarang dia tahu kalau kebaikan Hanafi kepadanya selama ini adalah kebaikan seorang teman kepada temannya yang lain, bukan karena ada maksud tertentu didalam hatinya. Hanafi memang luar biasa. Tak pernah sedikitpun dia menyinggung kedekatan mereka selama ini hanya karena didalam hati Hanafi ada sosok lain yang tak ingin dia sakiti keberadaannya. 
“ Tunggu, tadi Nia bilang kalau Nia suka sama lagu itu. Pasti ada kisah menarik yang harusnya abang tahu.” Kata Hanafi padanya lagi.
“ Bunda yang pertama kali memutar dirumah pas Nia disuruh jadi instruktur senam pas kegiatan mau menyambut 17 Agustusan. Sejak itulah Nia suka mendengarkan lagunya bang.”  Jawab Dania pelan.
“ Ohh begitu. Abang kira juga punya kisah percintaan yang berjauhan.”
“ Ada sih bang. Teman dekat Nia ada di Jogja.” Jawab Dania.
“ Nah khan, siapa dia?” Tanya Hanafi lagi.
“ Ada lah bang. Besoklah Nia ceritakan.” 
“ Siap. Ditunggu. Abang juga punya kenalan di Jogja, nah besok itu dia yang akan membantu akomodasi kita selama disana. Pas Jalan-jalannya juga.”
“ Wah begitu ya bang. Makin terfasilitasi lah anak-anak itu.”
“ Alhamdulillah.”
Sungguh, pasti akan beruntung sekali wanita yang mendapatkan sosok Hanafi ini. Lengkap sudah. Tampannya, pekerjaannya, agamanya, ditambah lagi rasa tanggungjawabnya. Prestasi setia terhadap pasangannya yang mengangumkan juga menjadi penompangnya. Sebagai guru yang memiliki banyak pengagum, Hanafi tak sedikitpun berusaha mengkhianati cinta pada kekasih hatinya. Mendadak Dania ingin menjadi gadis yang menjadi pilihan hati Hanafi itu, seperti apa gadis yang membuat si tampan itu setia dan rela menjalin hubungan yang terhalang oleh jarak.
“ Jarak dan waktu itu hanyalah halangan bagi mereka yang terlalu sederhana dalam menjalin hubungan. Keduanya selalu dijadikan alasan untuk tidak setia. Padahal banyak hubungan yang berhasil meskipun sepertinya tak ada kemungkinan bertemu. Kata orang hebat, itu hanyalah ujian bagi mereka yang menginginkan hubungan abadi selamanya.” Kata Hanafi ketika Dania memberondongnya dengan pertanyaan.
“ Pacar abang itu orang yang mendukung dan memberi perhatian sejak diawal sampai sekarang sudah terbilang berhasil menggapai semua impian. Dia itu satu-satunya yang tak pernah berniat menyakiti. Makanya abang begitu sayang dan cinta padanya.” Lanjut Hanafi.
Sekarang Dania mengerti mengapa Satrio begitu mencintainya dan sampai bertahun-tahun tak berpaling dari dirinya. Satrio sudah sampai dititik dimana dia merelakan hidupnya untuk cinta, untuk dia yang dicintainya. Mendadak kerinduan akan sosok Satrio muncul. Memang sudah lama pemuda itu tak memberi kabar kepadanya. Entah mengapa, tapi Dania yakin kalau pemuda itu sibuk karena pekerjaan dan hatinya tetap menyisakan nama Dania yang sulit untuk dilepaskan. 
“ Heh, malah melamun!, makan yuk.” Kata Hanafi.
“ Maaf bang,” Kata Dania pelan.
“ Makan dulu?” 
“ Dimana?”
“ Ayam bakar sebelah utara sana. Itu langgananku.”
“ Boleh lah bang.” 
Dania mengikuti langkah Hanafi menelusuri lorong itu sambil terus melihat-melihat dagangan yang ada di sepanjang lorong. Beberapa kali mereka singgah dan membeli yang sekiranya akan diperlukan selama seminggu itu. Tanpa sadar barang bawaannya juga mulai berkantong-kantong plastik besar. Hanafi berbaik hati membawakan beberapa kantong kresek Dania. Dania tersenyum melihat sikap guru olahraga itu. Beberapa menit kemudian ayam bakar yang dimaksud Hanafi sudah terlihat. Belum sampai saja bau daging ayam dipanggang sudah menusuk hidung dan menghadirkan rasa lapar. 
Tempatnya tidak terlalu besar namun cukup bersih, seperti warung namun tidak ada kursi, hanya ada tikar lesehan dan meja kecil setingga tiga jengkal. Semua meja hampir penuh, beruntung masih ada satu meja yang kosong di sudut. Hanafi mendahului kesana, diletakkan semua barang yang dibawanya. Dania mengikuti dan duduk bersandarkan tembok.
“ Tuan putri mau pesan apa?” Tanya Hanafi padanya.
Dania tersenyum. Kata-kata itu sering sekali didengarnya, Satrio kerap memanggilnya dengan sebutan Tuan Putri. Panggilan menyenangkan.
“ Maunya pangeran berkuda putih.” Jawab Dania.
“ Kudanya tak ada, kandangnya susah dibikin.” Jawab Hanafi.
“ Hhehe. Sama kan saja dengan pesananmu bang.” Kata Dania.
“ Oke, tunggu sebentar ya.”  Kata Hanafi pelan sambil berlalu.
Kembali Dania menyandarkan tubuhnya ke dinding warung. Hanafi terlihat sedang mengobrol dengan pemilik warung, tampak akrab, keduanya tertawa ringan lalu melanjutkan mengobrol dalam bahasa Bugis yang Dania tidak tahu artinya. Hanafi memang keturunan Bugis. Ayahnya yang Kanwil di Departemen Agama masih keturunan orang Bugis, bundanya Dania kenal sekali karena kerap bertemu dengan kalau sedang ada pertemuan atau rapat masalah pendidikan. Kebetulan sekali ayahnya Dania bekerja di Dinas Pendidikan, jadi kedekatan orangtua mereka memang di lingkup pekerjaan sedemikian akrab. Belum lagi orangtua Hanafi juga berasal dari Kuala Enok, tempat dimana Dania dulu menghabiskan masa sekolahnya dirumah neneknya. Dulunya sekolah mereka berbeda. Namun orangtua sudah saling mengenal. Disekolah tempat Dania mengajar kembali Hanafi dipertemukan dengan dirinya sebagai sosok senior. Hanafi lebih tua dua tahun dari Dania. Hanafi kerap membantunya selama disekolah. Hanafi juga teman akrab Dania diantara guru-guru yang lain. Pokoknya lengkaplah arti Hanafi bagi Dania. Sosok tampannya dan pembawaan manisnya itu yang membuat Dania merasa nyaman.  Tapi karena sekarang dia tahu kalau Hanafi takkan pernah melangkah lebih jauh karena hatinya sudah milik gadis lain, rasanya mulai saat ini dia akan coba untuk tidak merasa melayang lagi kalau dijodoh-jodohkan lagi dengan pemuda tampan itu.
“ Melamun lagi!” Hanafi mengagetkannya sekali lagi.
“ Bang!” terkaget Dania karenanya.
“ Melamunkan apa?, sudah melamunkan suasana Jogja?”
“ Abang kok tahu?” Dania tersipu saja mendengarnya.
“ Menebak saja lah. Sebentar lagi akan sampai kok di kota istimewa itu.”
“ Dah coba browsing apa saja yang menarik di Jogja bang?”
Hanafi mengambil posisi duduk diseberang Dania. Dia mengeluarkan ponselnya. Lama dia baru membalas tanya Dania.
“ Ada beberapa, tapi rasanya tidak semuanya bisa didatangi. Abang percayakan saja dengan teman abang itulah, kita tak paham juga jalannya.”
“ Ada Candi Borobudur, wajib tuh bang!” Kata Dania. Diapun ikut membuka info di internet melalui ponselnya.
“ Banyak ai, ada Borobudur, Candi Roro Jongrang, Malioboro. Temanku kemarin sudah memberi banyak pilihan. Rasanya semua harus didatangi.”
Dania tersenyum mendengarnya. Pikirannya sudah melayang jauh.
Diujung sana sebuah mobil Honda Jazz putih tampak sedang berhenti pelan-pelan. Perasaan Dania langsung tidak enak. Tentulah dia kenal betul siapa pemilik kendaraan itu, namun dia tetap tenang seolah tidak ada apa-apa, namun tetap saja hatinya mulai dihinggapi rasa gelisah. Itu pasti Zulfikar. Entah bagaimana ceritanya Zulfikar bisa sampai disini disaat yang tidak tepat. Tak dapat Dania bayangkan bila lelaki tempramental itu melihat dirinya sedang berduaan dengan Hanafi, mungkin dia akan murka seketika. Didongakkan kepalanya. Tampak Zulfikar keluar dari mobilnya dan berjalan menuju arah yang berlawanan, sedikit lega hati Dania melihatnya. Tanpa disadari, Hanafi memperhatikan gerak-gerik anehnya itu. Dia juga ikut melihat keluar, namun tidak ada apa-apa, hanya ada lalu lalang orang yang lewat melintasi warung.
Saat pesanan makan datangpun Dania masih berkali-kali menatap keluar. Bau harum daging ayam yang dibakar dengan diberi bumbu itu tak juga mengalihkan perhatiannya. Hanafi ternyata memesankan ayam bakar bagian dada untuknya, lengkap dengan es jeruknya. Nasi putih, kol, dan mentimun dua potong menjadi pelengkapnya. Betapa enaknya. Perutpun langsung bergejolak. “ Makan dulu.” Kata Hanafi.
“ Habis ini kemana bang? Masih adakah yang dicari?” Tanya Dania.
“ Pulang. Istirahat untuk persiapan perjalanan jauh.”
“ Besok itu seperti apa bang?”
“ Jadi besok tanggal 9 jam dua sudah berkumpul di sekolah, semua kontingen dan guru pendamping. Dari sekolah nanti akan diantarkan ke agen bis. Bis malamnya berangkat jam empat, kita akan sampai di Jogja tanggal 11. Disana nanti ada bis dari temanku yang menjemput, lalu kita akan menginap di hotel apa gitu, dekat dari lokasi penyelenggaraan.”
“ Tiga hari diperjalanan? Lama bang ai.” Kata Dania.
“ Mau pake pesawat tapi bayar sendiri?” Tanya Hanafi.
“Mending dibayarin sih,hehe.” Jawab Dania.
“ Soalnya kita ramai Nia, 21 orang itu tidak sedikit. Kalau naik pesawat terbang , Citilink misalnya, jumlahkan saja lah 21 x 750.000, bisa mencapai angka 15 jutaan, sekali berangkat saja. Pilihan kedua adalah carter bus sendiri, mungkin bisa tapi untuk carter selama satu minggu berapa biaya yang akan dikeluarkan sementara sewa perharinya saja mencapai 1 jutaan lebih. Belum termasuk nanti biaya sewa hotel selama seminggu disana, makan, dan lain-lain. Anggarannya besar. Meskipun terlihat menyenangkan, tapi dana operasionalnya tidak sedikit. Jadi, kita harus memenangkan perlombaan ini.”
“ Mudah-mudahan bang.” Kata Dania.
“ Kalau sudah sampai di Jogja, nanti ada temanku yang akan mengatur semuanya. Beliau juga putra daerah sini yang sudah cukup berhasil. Kemarin sudah bernegoisasi, dan akan membantu kita, syaratnya ya harus menang.”
“ Ohya, siapakah teman abang itu?” Dania penasaran. Hanafi sudah menyebutnya selama tiga kali selama perbincangan ini.
“ Teman kenalan biasa kok, kebetulan kakaknya itu pernah diklat di Dinas Pendidikan bersamaku. Lalu dari sanalah kenalnya.” Jawab Hanafi.
“ Ohhh...” Hanya itu saja yang keluar dari mulut Dania.
Hanafi tak menyahut lagi karena mulutnya terus mengunyah habis nikmatnya ayam bakar itu. Habis dilahapnya. Tidak ada yang tersisa selain tulang-tulang. Dania sendiri masih setengahnya. Wajar kalau memang seorang perempuan makannya akan lebih lama. Butuh waktu untuk mengunyah dan menikmati lezatnya setiap makanan. Sambil menunggu Dania menyelesaikan makanya, Hanafi tampak sibuk menelepon seseorang. Sesekali tawa renyah meluap dari mulutnya. Dania yang sedikit mendengarnya hanya senyum saja.
Selesai makan keduanya segera bergegas beranjak dan meninggalkan warung makanan. Mereka akan berpisah diparkiran, karena memang tadi berangkatnya tidak menggunakan satu motor. Jalan berduaan dipasar seakan-akan mereka berdua menjadi pusat perhatian beberapa orang yang melintas didepannya, kecantikan Dania kerap menyebabkan siulan-siulan menggoda. Di jalanan itu Hanafi sempat bertemu dan berbincang sejenak dengan teman yang dikenalnya. Terlihat teman Hanafi terus memperhatikan Dania seakan kagum akan kecantikan gadis itu. Dania tidak peduli, dia hanya mengangguk dan melempar senyum manis saat mereka juga menyapa Dania. Ternyata Hanafi memiliki banyak kenalan, entah berapa kali bertemu dan berbincang dipasar. Hanafi juga menceritakan rencana ke Jogja dan meminta doa kepada mereka agar membawa hasil yang memuaskan.
“Ehemmmm!”
Sebuah suara mengejutkan. Datangnya dari arah belakang. Lalu sebuah kata-kata yang nyaris membuat telinga memerah itu menyambar keduanya.
“ Jadi sekarang si gadis bengak ini sedang berduaan dengan guru sok ganteng ini rupanya. Mantapnya berduaan di pasar, seakan dunia miliknya.”
Sontak saja keduanya menoleh. Seorang laki-laki bercelana jeans dan kaos berwarna marun lengkap dengan jaket jeans berwarna biru tua tampak berdiri dengan pongahnya memandang kearah mereka berdua. Hanafi membalikkan badan dan menghadapi lelaki itu.
“ Maaf, ada apa ya bang?, abang siapa?” Tanya Hanafi.
“Awak tanya saja sama gadis bengak itu. Siapa aku.” Katanya.
“ Maaf bang, tolong dijaga perkataannya.”
Dania mendelik dan memandang jijik kearah laki-laki itu.
“ Abang ini apa-apaan!” Bentak Dania.
“ Ahay, lah pandai membentak. Abang itu sibuk mencari awak. Tapi awak menghilang, ternyata sedang berduaan sama si Pantek ini.” Katanya.
Laki-laki itu adalah Zulfikar. Pria tampan tempramental pemilik Honda Jazz berwarna putih yang terparkir dengan pongahnya diujung sana. Matanya terus memandang remeh kearah Hanafi. Hanafi serasa naik darah dengan ucapan itu. Pantang rasanya orang bugis dihina. Badannya gemetar serasa ingin dimakannya lelaki tak tahu diri itu.
“ Abang ini apalah.!” Dania terus saja menimpali.
“ Abang maksudnya apa bilang seperti itu. Siapa yang abang sebut Pantek, Tak terima aku bang!” Hanafi mendidih darahnya.
Zulfikar menyilangkan tangannya didepan dada seperti para jawara yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi. Sesaat kemudian dia mendekati Hanafi. Jarinya menunjuk ke dada Hanafi.
“ Heh, dengar ya budak Bugis. Kau janganlah bertingkah disini ya. Ini tanah Melayu. Kau tau siapa yang kau ajak jalan ini. Dia calon istriku. Beraninya kau dekati dia, aku koyak muka ganteng kau tu.” Ancam Zulfikar padanya.
“ Abang salah duga. Saya tidak ada apa-apa dengan Dania.”
“ Cukup bang Zulfikar. Sudah. Cukup.” Dania berusaha melerai. Tak enak rasanya bertikai di tengah keramaian. Beberapa orang mulai melihat kearah mereka.
Zulfikar menepuk pipi kiri Hanafi sedikit keras.
“ Dengar tu ya budak Bugis. Kalau kau masih nak bernafas, jangan macam-macam disini. Sekali lagi aku tengok kau...” 
Sambil menepis tangan Zulfikar. Hanafi menyahut “ Mengancam?”
“ Ohh berani ya kalau menyelah. Sini kau budak Bugis, aku sobek mulut kau tu!” Zulfikar menarik kerah baju Hanafi. Hanafi menepisnya.
BUUUUUUUUK!
Sebuah tinjuan mendarat menghantam perut Hanafi. Hanafi yang belum refleks tak mampu menghindari serangan tiba-tiba itu, tubuhnya terdorong kearah belakang. Baru sejenak dia berupaya menegakkan badan, Zulfikar sudah kembali menyerangnya dengan tendangan. Kali ini Hanafi berusaha menangkis. Dengan sedikit mengelak tangannya memukul kaki Zulfikar dengan keras.
UHHHH PLAAKKK! PLAAAK!
Nyaris terdorong kesamping membuat Zulfikar sedikit oleng. Namun dia kembali menyerang. Tangan kanannya berayun kencang menghantam wajah tampan Hanafi. Hanafi mengelak, pukulan Zulfikar hanya mengenai angin. Meski begitu serangan selanjutnya tak dapat dihindarkan lagi. Tendangan keras Zulfikar mendarat ke perutnya sekali lagi. Guru olahraga itu memang kerap latian kebugaran, namun belum pernah sekalipun berkelahi jadi untuk yang satu ini dirinya memang dipastikan kalah. Hanafi tersungkur ke tanah gambut yang sedikit becek. Pakaian bersihnya langsung bersimbah lumpur kecoklatan, begitu juga dengan sepatu dan celananya. Sedikit meringkuk Hanafi tak mampu bangkit sesaat. Zulfikar semakin kalap. Hampir saja kakinya menginjak badan Hanafi kalau Dania tidak segera mencegahnya.
Dania menghalangi Zulfikar untuk menerjang Hanafi. Dengan tatapan kebencian dia merentangkan tangannya. Zulfikarpun menghentikan niatnya. Kepalanya didongakkan seakan menunggu alasan mengapa Dania menghalanginya.
“ Cukup bang! Abang ini macam tak tahu tatakrama. Ini tempat umum.”
“ Bagus ya, kau bela juga budak Bugis itu!”
“ Nia bukannya membela bang. Tak pantas rasanya abang yang mengaku beradat melakukan hal seperti ini. Abang dah sarjana, dimana lah letak kedewasaaan dan pendidikannya tuh.” Bentak Dania.
Dengan terus menatap tajam kearah Hanafi, Zulfikar menunjuk dengan jari telunjukknya seakan memnghakimi guru muda nan tampan itu.
“ Heh, kau dengar cakap aku ya budak Bugis. Awas ya, kalau kau tak masukkan kata-kata aku ke hati kau, lain kali aku patahkan kaki kau tuh.”
Dania mendorong dada Zulfikar dan mengusirnya. “ Abang, pergi!”
Sambil terus menunjuk kearah Hanafi, Zulfikar berlalu. Bukan main sok gagahnya dia telah berhasil menjatuhkan lawannya. Dengan pongahnya dia memasuki Honda Jazz nya, kemudian tak lama dia menghilang dijalanan. Sementara guru tampan yang jatuh tersungkur itu berusaha bangun dan mengelap bajunya dengan sapu tangannya. Beberapa orang yang disekitarnya membantunya berdiri. Hanafi duduk dikursi plastik didekatnya. Orang-orang terus mengerumuni. Dania menuju kepadanya, dengan tatapan cemas dipegangnya tangan Hanafi.
“ Abang tak kenapa-napa bang?” Tanyanya pelan. Raut gelisah dan cemas muncul mendadak melihat keadaan Hanafi.
“ Tidak apa-apa Dania. Abang tak ada yang luka, kotor saja sedikit.”
Seorang bapak-bapak berpakaian partai politik ikut memegangi tangan Hanafi dan entah inisiatif apa sehingga diurutnya tangan pemuda itu.
“ Kenapa bang? Siapa orang tadi?” Tanyanya.
“ Bukan siapa-siapa Pakcik, Cuma tadi tersenggol terus marah.”
“ Sepertinya dia menyebut-menyebut Bugis. Orang melayu kah?”
“ Dia orang Bugis juga pakcik. Saya yang salah tadi tak minta maaf jadinya dia marah. “ Hanafi berusaha menutupinya. Rasanya memang harus. Tidak inginlah dia urusan akan berlanjut kalau sudah bersenggolan dengan masalah suku. Di tanah Melayu ini semua suku memang hidup berdampingan. Mulai dari Melayu, Banjar, Minang, Bugis, Jawa dan lain-lain. Rasanya tidak etis kalau masalah pribadi disangkutpautkan dengan membawa SARA.
“ Mabuk mungkin orang itu.” Bapak-bapak yang lain menimpali.
“ Sepertinya begitu pak.” Jawab Hanafi pelan.
“ Lain kali hati-hati jalannya bang. Semoga tidak kenapa-napa.”
“ Terima kasih pak.” 
Kerumunan orang mulai bubar satu persatu. Beberapa memang ada yang ikut menggerutu, namun karena memang tidak mengetahui kejadian pastinya jadi mereka memilih untuk tidak ikut campur lebih lanjut. Dibayangan mereka mungkin hanya kesalahpahaman saja. Hanafi terlihat terus berusaha membersihkan bercak lumpur dibajunya. Dania terus menatap dengan pandangan cemas. Seolah tahu apa yang ada dipikiran gadis itu, Hanafi memberi isyarat.” Kita bahas nanti, sekarang kita pulang.”
***

Bagian 7 : Sweetest Place

Setelah merasa bahwa beban dirinya sudah mulai berkurang dan kerinduan ibunya sudah teratasi, Satrio memutuskan untuk kembali ke Jogja. Pekerjaan dan undangan sudah memanggilnya. Hari ini dia memang sudah mengambil keputusan itu. Pagi-pagi dia sudah terbang dari bandara Sultan Taha Jambi menuju ke Bandara Adi Sucipto. Selama dipesawat tadi, pandangan terus nanar rasanya dibawah sana semua hal buruk yang dirasakannya pergi jauh meninggalkan dirinya. Awan putih yang berterbangan dan menutupi hijaunya alam menjadi saksi ketegaran dirinya ini. Rasanya ini perantauannya tapi dengan tujuan berbeda. Dulu dia berangkat untuk menuntut ilmu, sekarang dia pergi lagi dengan maksud dan tujuan bekerja. Di kota yang sama, namun ceritanya sudah berbeda. Sempat transit lama karena delay di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, akhirnya tepat pukul 9 malam sampai juga di kota Jogja. Badannya masih terasa pegal. Untung saja dia tidak mabuk. Biasanya dia selalu mabuk kalau melakukan perjalanan jauh. Namun kali ini dia bisa menahannya. Rasanya memang juga aneh, naik pesawat mahal-mahal tapi tidak menikmatinya karena mabuk. Jadinya ditahan sampai tujuan. Bukan rahasia lagi kalau Satrio memang kerap mabuk diperjalanan, dia adalah satu-satunya yang membenci AC mobil dan bau kendaraan. Bau pengap itu yang selalu menjadi musuhnya selama diperjalanan. Itulah kenapa di mobilnya harus ada parfum lembut yang tidak boleh ada pengap, atau kalau tidak sepanjang perjalanan dia akan membuka kaca jendela mobilnya. Sisi lain Satrio yang orang lain tidak tahu. Rahasia konyol yang disimpannya dengan rapi.
Malam di Bandara terasa tidak ada bedanya dengan siang hari, apalagi belum terlalu malam. Orang lalu-lalang dengan segala kepentingannya masih terlihat disana sini. Beberapa orang juga terlihat menunggu di koridor dan kursi tunggu, sepertinya mereka menjemput keluarga atau orang yang spesialnya. Hal biasa yang ditemuinya. Dirinya jangan ditanya, tidak ada satupun yang mengantarkannya ke bandara karena dirinya di istimewakan. Itu diluar staf kantornya sendiri. Karena selama ini yang selalu mengantarnya hanya Rahmat, staffnya dikantor yang bertugas sebagai driver kantor. Kedatangannya kali juga dijemput dengan orang yang sama. Rahmat adalah staff kantornya yang baru sekitar setahun ini bergabung di perusahaan travelnya. Rahmat berasal dari Purworejo. Orangnya ramah dan sangat sering melucu. 
Kali ini dia datang dengan pakaian khas sederhananya. Kemeja abu-abu dan celana pendek selutut. Begitu melihat Satrio dia langsung melambaikan tangan, kemudian menyalami dan tak lama kemudian pergi dan kembali dengan mobil Honda Avanza. Satrio masuk kedalam. Aroma harum mobil itu menyerang hidungnya. Buru-buru ditutup hidungnya, sebelum bau kendaraan itu menyerang sistem pertahanannya. Ditutupnya pintu mobil, tapi jendelanya dibuka. Rahmat hanya tersenyum dengan kebiasaan bos nya itu. Sudah bukan sesuatu yang membuat heran kalau bos nya akan membuka jendela mobil lima menit sebelum menutupnya. Semua orang juga kalau si bos tidak tahan dengan bau pengap.
“ Jam berapa dari rumah pak Satrio?” Rahmat membuka percakapan sambil mengendarai dengan pelannya.
“ Dari pagi tadi mas Rahmat, tapi sempat delay di Jakarta.”
“ Ini AC mobil sudah diservis khan? Saya tidak mau loh klien ada yang komplain kalau mobil pengap dan tidak nyaman.” Lanjut Satrio.
“ Sudah pak, seminggu yang lalu. Sudah beres semua.” Jawab Rahmat.
“ Bagus. Ohya, ada kabar dari Ali? Kemarin katanya ke Malang, memang ada urusan apa di Malang?” Tanya Satrio lagi.
“ Katanya ada kawinan atau apa gitu pak.” Jawab Rahmat lagi.
“ Ohhh..” 
Mobil yang dikendarai terus melaju membelah jalanan kota Jogja. Kendaraan lain juga ramai memenuhi jalanan. Bukan Jogja namanya kalau tidak semakin bertambah saja volume kendaraannya. Di depan mal Ambarukmo bahkan sempat mengalami sedikit kepadatan, namun untungnya tak lama sehingga kendaraan yang dikemudikan Rahmat melaju lagi dengan pelan. Mobilnya terus merangkak melewati kampus UIN Sunan Kalijaga dan terus ke selatan. Rumah  kontrakan Satrio memang ada didaerah Timoho.
Lebih dari dua puluh menit dijalan, akhirnya sampailah dirumah kotrakannya. Sebuah rumah minimalis yang ada di kompleks perumahan. Pagarnya terbuat dari kayu jati, ada taman kecil didepan. Cat temboknya banyak memadukan warna putih dan cokelat. Rumah kecil dan mungil itu memang sengaja dikontrak oleh Satrio sejak setahun yang lalu. Bukan sebuah keinginannnya untuk memiliki rumah di kota pelajar ini, karena dia juga tengah membangun rumah di samping rumah ibunya dikampung, namun karena pemilik usaha property itu dikenalnya baik akhirnya memberinya kemudahan untuk tinggal atas hunian minimalis itu. Mas Felix, si pemilik bisnis property itu dulu adalah orang kerap meminta tolong padanya kalau mau mengiklankan tanah atau bangunan, itu semasa Satrio masih kuliah. Begitu selesai kuliah dan memiliki usaha sendiri, mas Felix menawari hunian dengan cicilan ringan. Namun meskipun bisnisnya terbilang tengah berkembang dan sanggup membeli hunian, tapi karena belum berkeinginan memiliki rumah, akhirnya diputuskan untuk mengontraknya saja, dan agar biaya sewanya tidak terlalu malah Satrio join dengan Ali di rumah yang sama.
“ Mas Rahmat, terima kasih sudah menjemput.” Katanya begitu sampai.
“ Sama-sama pak Satrio. Selamat istirahat pak.”
Satrio melambaikan tangannya sembari mengacungkan jempol. Rahmat membunyikan klakson kemudian melajukan kembali kendaraannya. Sepertinya dia akan segera kembali ke kantor untuk mengembalikan mobil. Kantornya memang ada di daerah berbeda, yaitu di daerah Condongcatur. Seperti biasa, mobil kantor tidak diperbolehkan dibawa pulang kecuali memang sudah demikian urgent nya. Staff manapun tidak diperbolehkan membawa pulang kerumah, alasannya tentu saja agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.
Seminggu ditinggal rumah itu tampak mulai kotor. Sebelum berangkat Satrio bahkan lupa membuang kantong besar berisi sampah yang masih teronggok disamping pintu. Rumah orang bujang, wajarlah kalau tidak rapi. Dengan langkah gontai dia segera memasuki rumahnya. Home sweet home. Dulu alasan mengapa Satrio memilih untuk mengontrak hunian di kompleks karena faktor minimalisnya saja. Rumah minimalis memang menjadi impiannya dulu. Diruang tamu ada sofa berwarna merah marun dan televisi layar datar berukuran besar. Tidak ada penambahan ornamen pemanis ruangan, tidak ada patung atau lukisan apapun diruang tamu, karena memang niat Satrio ingin menciptakan ruangan yang luas dan memiliki suplai udara lebih banyak. Baginya, ruangan yang terbuka akan membuat sirkulasi udaranya juga baik. Masuk kedalam lagi sudah ketemu ruang keluarga, tidak terlalu luas, hanya ada sebaris sofa, karpet berwarna seragam, meja yang menempel dengan dinding dan bertautan dengan rak yang berisi dengan buku-buku. Salah satu hobinya memang membaca, makanya Satrio mendesain ruangan tengah dengan konsep nyaman tapi berkesan. Warna putih dan cokelat kembali mendominasi. Di ruangan ini mulai banyak berisi fhoto-fhoto yang terbingkai dan terpampang didinding. Fhoto keluarga, fhoto perjalanan, dan juga fhoto-fhoto semasa kuliahnya yang dicetak dan dipajang. Lalu diatas rak ada beberapa piagam dan plakat yang pernah Satrio raih selama ini. Memang beberapa kali dirinya menjadi pembicara seminar maupun workshop enterpreneur di kampus-kampus. Di belakang sofa ada kamar tidurnya Ali. Ali memang memilih kamar yang paling depan karena kebiasaannya suka bermain game online jadi suka memamfaatkan ruang tengah sebagai wilayahnya. Diruangan ini juga ada televisi berlayar datar, lengkap dengan DVD dan playstation. Sarana hiburannya ketika sedang suntuk dengan pekerjaannya. Ali yang merekomendasikan semua fasilitas ini.
Dibagian belakang ada kamar tidur lagi yang sampai sekarang masih kosong namun digunakan Satrio sebagai ruang kerjanya, didalamnya Satrio menaruh seperangkat alat elektroniknya seperti Komputer, Gitar listrik, Ampli gitar, keyboard, bahkan mikropon. Ruangan itu dipenuhi dengan poster-poster grup musik dan artis favoritnya. Satrio sangat menggemari band rock lawas seperti Metallica, Guns N Roses, MR BIG, dan Dream Theatre, selain itu juga ada posternya The Beatles, Soekarno, dan tokoh dunia lain yang diidolakan. Satrio yang memiliki hobi bermusik juga pasti takkan pernah meninggalkan kebiasaan lamanya itu. Ditempat itu dulu dia sering bernyanyi atau sekedar menghabiskan waktu bermain gitar seharian. Lalu dibagian paling selatan adalah dapur dan kamar mandi. Jangan ditanya kesan modernisasi juga sudah disematkan, shower dan bak mandi ada didalamnya. Satrio sepertinya  ingin menikmati hidupnya di rumah minimalisnya ini. Kamar tidur Satrio ada dibagian timur. Begitu dia masuk, aroma pengharum ruangan ala glade exotic flower langsung menyambutnya. Kamar tidurnya juga tidak terlalu besar, sekitar 4x5 meter saja. Hanya ada ranjang dan kasur, lemari pakaian, televisi, dan meja kayu yang diatasnya ada tumpukan buku-buku bacaan, kalender meja, gelas berisi pena dan spidol, lalu ada laptop. Total ada tiga kamar dirumah ini. Satu kamarnya, kamar Ali, dan kamar kosong yang difungsikan sebagai ruang kerja sekaligus studio. Kalau ada tamu biasanya akan ditempatkan di salah satu kamar, antara kamarnya dan kamar Ali, dan lebih seringnya Ali yang mengalah.
Kamar tidur adalah hal paling privasi menurut Satrio. Diruangan inilah Satrio menyimpan rahasia kecilnya. Tidak ada poster satupun, hanya ada fhoto-fhoto Dania yang tersusun rapi diatas meja tinggi panjang. Untuk menambah kesan eksotis, Satrio menaruh lampu neon panjang berwarna biru sehingga wajah manis Dania terlihat sedang tersenyum jelas. Dulu ketika masih tinggal dikontrakan, Satrio juga sudah menaruh fhoto-fhoto Dania di dinding maupun disudut yang sekiranya bisa dilihat. Kecintaannya pada wanita itu membuatnya menaruh wajahnya disemua miliknya. Itulah rahasia kecilnya. Melihat itu semua, Satrio hanya bisa tersenyum pahit. Belum ada niatan mengganti dengan gambar lain, karena letihnya membawa dirinya terpaksa langsung melemparkan diri di kasur dan segera saja terlelap. Namun sesaat kemudian dia bangun, mengambil handphonenya dan menelepon ibunya mengabarkan kalau dirinya sudah sampai di rumah. Ini malam pertamanya di Jogja setelah semingguan ini terbang kesana-kemari, mungkin dia akan beristirahat beberapa hari, sebelum akhirnya kembali ke kantor untuk mengurusi bisnis yang ditinggalkannya itu. Pelan-pelan direbahkan kepalanya di bantal empuk. Menghitung mundur dan berlari menuju titik putih yang membawanya menuju mimpi terindahnya.
***
Genap sebulan lebih tidak pernah ada kabar apapun dari Satrio, jangankan telepon, whatsapp saja sudah tidak pernah. Update di media sosialnya juga menghilang tiba-tiba. Bagi Dania itu adalah hal yang tidak biasa, laki-laki itu memang terkenal sibuk dan selalu ada saja yang dikerjakan, namun rasanya tidak pernah melewatkan sehari tanpa menghubunginya. Paling lama mungkin dua hari lah. Bila sampai satu bulan tanpa kabar, jelas ada sesuatu yang telah terjadi. Pikiran Dania langsung tertuju kepada Zulfikar. Entah kenapa mendadak dia berfikiran kalau Zulfikar sudah melakukan sesuatu sama seperti yang sudah dilakukan kepada Hanafi.
Sungguh tidak enak hati kepada pemuda tampan itu, pasti ini adalah kejadian memalukan bagi Hanafi saat dihajar oleh Zulfikar di depan orang banyak. Zulfikar benar-benar sudah keterlaluan. Zulfikar sudah menunjukkan sifat aslinya yang pengecut dan tidak bertanggungjawab. Kasihan Hanafi yang tidak tahu apa-apa tapi menjadi korban tempramentalnya. Bisa Jadi, ketidakmunculan Satrio beberapa waktu terakhir juga ada hubungannya dengan Zulfikar. Meskipun belum menemukan bukti untuk memperkuat tuduhannya, tapi dia yakin kalau lelaki itu menghilang pasti ada kaitannya dengan Zulfikar.
Sudah beberapa kali Dania mencoba menghubungi Satrio namun selalu tidak direspon. Pesannya tidak dibaca, begitu juga dengan teleponnya. Entah kenapa semua ini bisa terjadi. Kekesalannya pada Zulfikar semakin memuncak. Berulang kali Dania mencoba menghubungi namun hasilnya nihil. Tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang. Dengan menarik nafas berat, Dania meletakkan kembali ponselnya dan mulai membenahi pakaian yang akan dibawanya ke Jogja besok.
Ya, besok pagi dia dan rombongan sudah harus berangkat ke Jogja. Hal itu harusnya menjadi hal yang menyenangkan, namun justru kejadian-kejadian tak mengenakan menghantuinya. Mulai dari rusaknya hubungan dirinya dengan Zulfikar karena sikap lelaki itu sendiri, temannya dipukuli, dan sekarang dia kehilangan sosok Satrio, sosok yang selama ini selalu hadir setiap pagi membangunkannya shalat Subuh dengan sapaan hangatnya. Rasanya semua menjadi kacau. Namun demi profesionalitas, seperti Dania harus memahami prioritas, jangan sampai perasaan gundahnya mempengaruhi. Dia harus menunjukkan semangat dan motivasi kepada anak didiknya yang akan berjuang untuk membanggakan banyak orang.
Ibunya muncul dri balik daun pintu.
“ Aduuuh yang mau ke Jogja, sudah siap kah?” Tanya ibunya.
“ Alhamdulillah. Sudah siap bunda, tinggal berangkat.”
“ Bisa ketemu Satrio dong di Jogja.” 
“ Insya Allah, bunda.” Jawabnya lesu.
“ Kok lesu?” Ibunya seperti menangkap perubahan wajahnya.
“ Tidak apa-apa bunda.” Jawabnya pelan.
“ Anak bunda tak pandai berbohong.” Begitu kata ibunya.
“ Bunda,.....”
Ibunya duduk didepannya, ikut membantu merapihkan pakaiannya dan memasukkan kedalam koper. Sambil terus memperhatikan wajah ayunya.
“ Sedang marahan dengan Satrio?” Tanya bundanya lagi.
“ Dania dan Satrio itu tidak pernah punya masalah.”
“ Lalu,...”
Dania menghentikan aktifitasnya. Ibunya terus mengangkat alis mata seakan menggodanya, seakan ada sejuta tanya yang akan terus menghujani Dania bila tidak memberitahukan jawaban yang di mau oleh ibunya itu. Dengan menarik nafas dalam-dalam, diceritakan kisahnya pelan-pelan. Ibunya seperti terkejut namun terus mendengarkan. Ada sinar mata percaya tak percaya dimatanya. Matanya terus menatap kearah putrinya, ada raut iba akan kondisi anak gadisnya itu. Cinta orang muda selalu saja menimbulkan perkara baginya. Padahal beberapa waktu yang lalu terlihat bagaimana gembiranya anak gadisnya itu, namun sekarang rasanya semua sinar kegembiraan itu berlalu begitu saja. Sebagai ibu yang baik, ini adalah saat terbaik untuk menyuntikan imun penyemangat.
Sosok ibulah satu-satunya yang akan didengarkan ketika seluruh dunia seperti berbual. Ibu selalu menjadi tempat dimana masalah selalu memiliki jalan keluar. Untuk kali ini, Dania harus mengakui kalau saran ibunya itu bisa diterima. Mungkin ini adalah jalan terbaiknya, hidup adalah sebuah pilihan, manusia memiliki banyak pilihan namun satu pilihan terbaik akan menentukan kebahagiaan bagi manusia itu sendiri. Cinta akan terus menjadi masalah bagi manusia. Rindu, tawa, gembira, sedih, dan kecewa akan larut didalamnya. Menemukan yang bisa menjadi sosok penyempurna rasanya tidak mudah, tapi menemukan dia yang mau menjadi malaikat penjaga pasti tidak sulit. Selamanya hatinya belum terisi, disaat itulah hatinya akan terbuka, menanti cinta yang sejati dititahkan oleh Yang Maha Kuasa.
***
“ Itu namanya Teori Empirisme. Jhon Locke bilang seseorang terlahir didunia itu dalam kondisi seperti kertas kosong, lalu kita sendirilah yang mengisinya. Pendidikan yang membangun diri manusia, kalau lingkungan disekitar itu disebutnya dunia luar. Faktor tambahan.” Suara diujung telepon sana.
“ Jadi kalau seseorang melakukan penyimpangan dari apa yang sudah dipelajari semasa menempuh pendidikan, itu bisa berarti faktor tambahan itu adalah penyebabnya. Banyak loh yang menjadi faktornya, misal bacaan buku yang salah, atau karena terindikasi oleh cerita drama Korea.” Lanjutnya.
Satrio memukul keningnya sendiri. Rasanya memang tidak ada guna mengobrolkan sesuatu yang penting dengan Ali. Ali pasti akan selalu menggunakan dalil teoritisnya yang bisa masuk kesegala topik. Bahkan untuk masalah percintaanpun disangkut-pautkan dengan teori filsafatnya Jhon Locke. Teman curhat yang salah.
“ Tapi kali ini elu harus mengakui bos. Kisah percintaan elu itu seperti cerita fiksi di sinetron televisi. Hanya saja elu pemeran utamanya.” Katanya.
Sedikit tertawa mendengarnya, Satrio membalasnya juga.
“ Entah kenapa gue selalu pusing tiap dengerin elu ngomong.”
“ Itu karena elu nggak teoritis. Elu terlalu idealis bos. Cinta itu hanya permasalahan hati yang bisa berubah mengikuti perkembangan jaman. Elu bayangin aja, gebetan elu nih tiba-tiba memutuskan untuk menjauhi sementara elu tahu kalau sebenarnya dia sayang, elu yakin itu karena murni kemauan dia?” 
“ Maksudnya, bagaimana?” Tanya Satrio lagi.
“ Elu terlalu mudah percaya Satrio. Kenapa elu nggak berfikir kalau handphonenya dibajak dan yang ngirim pesan ke elu itu ternyata saingan elu?”
Satrio tertegun. Kali ini sepertinya ada benarnya.
“ Bener juga ya, kenapa gue nggak berfikiran seperti itu?”
“ Itu gejala panik. Menurut buku yang gue baca,............”
Satrio membalikkan teleponnya, karena saat Ali sudah membuka awal perkataannya berdasarkan buku, maka bisa dipastikan dia akan berbicara sendiri tanpa titik dan koma minimal dua menit. Jadi, ya lebih baik didengarkan saja. Mungkin benar seperti apa yang dikatakan Ali, bisa saja memang ada orang lain yang ingin dia menjauhi Dania. Ali juga bilang kalau Satrio adalah kompetitor terberat bagi laki-laki yang akan berusaha mendekati Dania. Mungkin Ali benar. Tapi hatinya sudah terlanjur berkeping, bagaimana bila ternyata kabar itu benar, dan Ali yang salah?
Toookk Toook!
Ketukan pintu membuat Satrio buru-buru mematikan teleponnya Ali. Pemuda diseberang sana masih berbicara sendiri dengan teori-teorinya. Gampang, nanti dia akan menelepon lagi.
“ Masuk!” Kata Satrio.
Seorang wanita berkemaja putih dan jas hitam masuk kedalam, kacamata bulat bertengger diantara hidungnya. Tangannya mendekap beberapa stopmap. Wanita itu adalah Anita, staffnya yang bertugas dibagian administrasi. Wanita berasal dari Gunungkidul tampak melempar senyum kepadanya. Wajahnya cantik, tubuhnya sintal bak model majalah. Tak terlihat sama sekali kalau dirinya sudah memiliki dua anak.
“ Pagi pak Satrio,” Katanya menyapa Satrio.
“ Selamat pagi, Anita. Bagaimana?” Tanya Satrio.
Wanita itu menempatkan diri duduk dikursi didepannya.
Pagi ini Satrio memang sedang berada dikantornya. Selain ada meeeting dengan staffnya, juga memang  banyak hal yang harus dikerjakan. Biasanya urusan kantor banyak yang dikerjakan oleh Ali yang bertindak sebagai manager operasionalnya, namun karena Ali sedang ada urusan di Malang, akhirnya Satrio sendiri yang turun tangan. Dikantornya ini memang Satrio dan Ali yang bertindak sebagai leader. Satrio sebagai owner maupun bagian Chief Excecutive Officer sementara Ali menangani operasional. Sebagai perusahaan bidang jasa biro perjalanan, rasanya akan kesulitan bisa melakukan semuanya sendiri. Itu sebabnya peran Ali sangat penting. Ali yang menjalankan operasionalnya, sementara Satrio yang fokus pada branding dan marketing promotionnya. Bisnis yang digelutinya ini memang berangkat dari hobinya yang memiliki kesamaan dengan Ali yang sama-sama menyukai jalan-jalan. Dengan modal kecil akhirnya memberanikan diri membuka layanan jasa perjalanan wisata dan guide service. Seiring waktu berjalan, kliennya makin banyak, dan cukup dikenal. Perkembangan bisnisnya juga semakin melebar ke layanan jasa hotel dan pengiriman barang dan cargo.
Berawal dari menggunakan jasa sewa mobil harian sampai akhirnya memiliki mobil kantoran sendiri dan armada bus pariwisata jelas menunjukkan peningkatan yang signifikan. Belakangan sayap bisnisnya semakin melebar dengan membangun hotel dan resort sendiri. Dari hanya memiliki tiga karyawan sekarang memiliki belasan karyawan sendiri.
Dengan semua pencapaian itu, rasanya memang agak aneh ketika Satrio tiba-tiba memutuskan untuk mencoba peruntungan lain menjadi dosen. Ali pertama kali mendengarnya juga tertawa, lalu dia dengan wejangan teoritisnya mulai menimbang baik dan buruknya. Bagi Satrio, duduk dikantor dengan nyaman ini rsanya tak sebanding saat dia berada dikelas dan membagikan ilmunya, apalagi mengajar ditanah kelahirannya. Keinginan itu memang sudah lama tumbuh didalam dirinya, meski akhirnya Satrio tetap kembali ke pekerjaan lamanya. Kebimbangan itu muncul lagi sejak kejadian dengan Dania itu menghampirinya. Sekarang dia sudah berada di kantornya lagi. Bagi Satrio mungkin dia memang belum bisa memilih, namun disisi lain keinginannya untuk mengajar di Universitas memang sudah tak terbendung lagi. Pesan ibunya adalah ilmu yang didapatkan di bangku pendidikan haruslah diamalkan agar tidak menjadi kesia-siaan. Itu yang selalu memenuhi ruang pemikirannya. 
“ Bagaimana Anita?” Satrio melempar pertanyaan begitu staff cantik itu telah duduk menghadap dirinya. 
“ Begini pak, ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani. Dan ini adalah beberapa catatan order sampai akhir bulan nanti, lalu ada beberapa email yang masuk yang mungkin pak Satrio harus baca.” Kata Anita.
Wanita cantik berambut pirang itu menyodorkan setumpuk stopmap. Satrio membukanya, tapi kemudian dikembalikan kepada Anita.” Bacakan” Katanya. 
“ Baik pak. Jadi ini ada berkas penandatangan kerjasama perusahaan dengan hotel Kencana Inn yang di Semarang, namanya pak Ferdy, lalu ada berkas dari Dinas Pariwisata, yang terakhir dari Pemkot untuk feedback  ijin mendirikan bangunan resort kita di daerah Merapi pak. Untuk catatan order, kemarin beberapa sudah dikonfirmasi sama pak Ali, ada 8 orderan selama bulan ini, di awal sampai pertengahan bulan hanya ada 3 saja yang dalam skala besar. Rutenya dua hanya Jogja sampai ke Borobudur, sementara yang satu sampai ke Bromo. Kata pak Ali yang dua ini teman pak Satrio dan harus di prioritaskan.” Kata Anita.
“ Betul, mereka anak-anak sekolah dari daerahku. Lanjutkan.”
“ Sudah dikonfirmasi. Mereka sudah membayar uang muka. Ada 21 orang, kita sepertinya membawa satu bus, untuk driver dan pemandunya sudah disiapkan, kendalanya hanya masalah timingnya. Menurut orderan, mereka ordernya selama 10 hari, dan mereka meminta keringanan untuk paid nya pak!” 
“ Mereka jadi menginap di HIGHER Timoho khan?” Tanya Satrio.
“ Betul pak. Lokasi penjemputan mereka di hotel tersebut, untuk penyelenggaraannya ada di UIN dan UNY pak. Terus terang kami belum bisa memberikan jawaban pastinya, kata pak Ali harus minta persetujuan pak Satrio.” Kata Anita lagi.
“ Suruh mereka bayar di tiga hari terakhir saja, pas jalan-jalannya. Untuk proses jemput di terminal, perjalanan dari hotel ke lokasi pulang balik itu saya diskon gratis. Untuk pemesanan hotelnya, kamu minta pak Ali untuk konfirmasi dengan mas Haris di HIGHER untuk booking kamar mulai dari sekarang dan jangan lupa mereka adalah titipan saja, jadi minta tolong di prioritaskan.”
“ Serius pak?” Afita tercengang mendengarnya.
“ Perlu saya ulangi?” Satrio tersenyum.
“ Loud and clear, pak!” Jawab Anita.
“ Bagus. Mereka akan tiba tanggal 11. Jadi mohon disiapkan sebaik mungkin. Untuk drivernya juga segera dihubungi agar stanby. Mas Rahmat sepertinya bisa khan?” Kata Satrio lagi.
“ Mas Rahmat yang ke Bromo, pak!”
“ Ya sudah disiapkan saja. Yang penting tidak ada kekosongan.”
“ Baik pak.” 
“ Ada lagi?”
“ Sementara itu saja pak. Ini untuk berkas yang harus ditandatangani.”
Anita menyodorkan lagi berkas itu, Satrio menandatanganinya. Ada tiga lembaran yang harus ditandatanganinya. Setelah mengucapkan terima kasih, Anita meninggalkan ruangan. Satrio kembali fokus dengan ponselnya. Sesaat dia melongok keluar jendela, tampak sebuah minibus baru datang dan terparkir didepan. Seorang lelaki setengah baya yang mengendarainya tampak buru-buru keluar mobil dan masuk kedalam. Satrio mengangkat alisnya. Itu adalah Mang Asep salah satu drivernya. Ada sesuatu yang terjadikah sehingga dia terburu-buru seperti itu.
Jam di dinding sudah menunjukkan waktu tengah hari. Hari ini sehabis lunch ada meeting dengan beberapa staff nya. Sambil menunggu itu Satrio menghidupkan komputernya, dan membuka situs sosial media favoritnya, Facebooknya.  Ini adalah caranya mengisi waktunya kalau dikantor. Facebook selalu menjadi hal menarik, bagi Satrio di Facebook akan ditemukan banyak hal, mulai dari curhatan orang, kegembiraan orang, sampai hal-hal lain yang menurutnya ada yang baik dan ada juga yang negatif.
Dulu dia mengenal Dania juga melalui Facebook. Pertama melihat Satrio langsung tertarik dengan wajah ayunya. Dania memiliki hidung yang indah, tatapan matanya tajam. Dulu rambutnya panjang dan lurus. Dania kerap mengunggah fhoto-fhoto kebersamaannya dengan keluarga, terutama dengan ibunya. Hal menarik yang pertama dilihat Satrio adalah cinta Dania akan keluarganya. Dania sepintas mirip dengan artis Indonesia Pevita Pearce namun lebih tinggi dan sedikit lebih gemuk. Semenjak Dania mengenakan hijab, rasanya itu adalah pertama kalinya Satrio benar-benar jatuh hati padanya. Kalau soal kecantikan, rasanya relatif saja. Satrio kenal beberapa wanita cantik yang juga cukup dekat dengannya beberapa tahun terakhir ini. Sebut saja Lianti yang penyanyi pop, lalu ada Maria teman kampusnya dulu yang sekarang bekerja di finance, atau Reani yang juga berprofesi sebagai guru. Ketiga orang itu tidak kalah cantik dengan Dania, bahkan lebih sering ditemuinya dibanding Dania. Tapi rasa cintanya pada Dania rasanya tak terkalahkan. Bagi Satrio, Dania memang sudah tertanam dibenaknya. Pernah Satrio mencoba menghilangkan perasaannya pada Dania dengan membuka hati untuk gadis lain, namun justru berujung pada menyakiti hati gadis itu, karena ternyata Satrio memang tidak pernah lepas dari bayangan Dania. Ah!
Sepertinya Satrio memang harus mulai berfikir seperti Ali. Walau  kerap memberikan solusi percintaan yang terkesan ngawur, namun Ali ada benarnya juga untuk kasus Dania ini.  Mungkin dia harus menunggu sampai Ali kembali dan membahas semua ini, Satrio yakin Ali dan argumen teoritisnya pasti akan selalu hadir memberikan solusi. Apapun itu, pasti ada baiknya.
Tooook! Tokkk!
Anita masuk lagi, sepertinya dia membawa kabar berita terbaru.
“ Pak Satrio, orderan yang dari sekolah itu sudah beres. Mereka setuju dan mengucapkan terima kasih kepada bapak, pak Ali juga sudah memberikan konfirm. Masalahnya sekarang, untuk pemandunya pak. Di hari pas mereka butuh pemandu, kita kekurangan orang. Mas Rama memandu ke Bromo, mas Andi dan Banu sedang ada ujian, satu-satunya harapan kita tinggal mas Reno, tapi mas Reno juga tidak bisa full, hanya bisa dihari pertama saja. Bagaimana pak?” Tanya Anita.
“ Tidak ada yang bisa menggantikan?”
“ All unit on position pak!” Jawab Anita.
“ Ya sudah di dua hari terakhir, biar saya saja.” 
Anita melongo. “Pak Satrio serius pak?”
***

Bagian 7 : Terbang Tanpa Sayap

Akhirnya semua impian kecil itu terwujud.
Bis malam itu benar-benar membawa Dania ke kota Jogja. Sepanjang jalan Dania rasanya enggan memejamkan matanya, agar sepanjang perjalanannya tak terlewatkan satu momenpun. Bis itu membawa perjalanan panjang, selama tiga dua malam akan duduk saja di kursi dengan sandarannya yang hanya bisa diturunkan beberapa senti saja. Belum sampai ke tujuan, Dania sudah merasakan pegalnya bukan main. Belum lagi AC bis malam yang berkolaborasi dengan pengharum ruangan membuat kepalanya pusing dan ketika baru sampai di perbatasan Riau-Jambi nyaris saja dia muntah-muntah. Untung saja berhasil ditahannya sampai bis berhenti di pemberhentian selanjutnya. Hanafi sempat memberinya obat herbal sehingga berhasil mengatasi mualnya.
Perjalanan terus berlanjut. Dania sudah menghitung beberapa daerah yang dilewati, bahkan dia sempat menulis note di ponselnya. Hanya beberapa daerah saja yang ditulisnya seperti Ogan Komering Ilir, Sungai Lilin, Tulang Bawang, dan Lampung. Ketika sampai sepanjang di Tulang Bawang Dania bahkan tidak memejamkan mata sedikitpun, pandangan matanya terus memperhatikan keluar jendela menikmati pemandangan indah disepanjang jalan. Di Tulang Bawang bentuk rumahnya sangat khas, yang Dania ingat ada semacam candi kecil didepan rumah-rumahnya. Candi khas seperti candi di Bali yang hanya dia tahu dari fhoto dan video di internet. Bentuknya juga seragam, berwarna hampir serupa yaitu merah. Sungguh sangat menarik. Selebihnya dia tidak menulis spesifik karena rasa kantuk yang membuatnya tanpa sadar terlelap. Ibu Marhumah yang menjadi teman perjalanan disebelahnya malah sedari naik langsung tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Entah bagaimana bisa tidur dengan nyaman itu. Dibelakang sana siswa yang ikut juga semuanya tertidur pulas sepanjang perjalanan. Hanya Pak Anwar dan Hanafi yang terdengar masih terus mengobrol banyak hal. Mereka duduk dua kursi dibelakang Dania. Meskipun berjarak, tapi karena Pak Anwar kalau berbicara selalu lantang sehingga apa yang mereka bicarakan juga jelas terdengar.
Sewaktu di Ogan Komering, Pak Anwar bercerita soal semasa kuliahnya di Padang. Lalu berlanjut menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Teh Rani, istrinya yang orang Sunda. Begitu di Tulang Bawang, Pak Anwar bercerita tentang politik dan perkembangan pilkada, dan ketika di Lampung Pak Anwar menceritakan tentang musik dangdut. Pak Anwar terkenal suka mengobrol. Tidak hanya itu, Pak Anwar juga kalau ketawa begitu kerasnya. Di Lampung dia tertawa terpingkal-pingkal saat berbicara tentang Inul Daratista dengan Hanafi. Hanafi juga sepertinya memiliki pengetahuan soal dangdut sehingga obrolan mereka terasa nyambung dan selalu diselingi dengan gelak tawa. Dania berulang kali menepuk jidatnya mendengar obrolan mereka. Tak jarang Dania ikut tertawa mendengarnya. Apalagi saat Pak Anwar secara detail menceritakan tentang menonton video Inul di Youtube tapi ketahuan istrinya.
Bis itu serasa tak pernah berhenti dan laju jalannya. Dari pertama naik sampai ke Lampung sepertinya hanya berhenti dua kali. Bis yang dinaiki adalah SAN atau Siliwangi Antar Nusa. Dania sempat melihat dan berfhoto di samping bis itu. Kursinya banyak, tapi memang hanya diisi oleh kontingen dan guru pendamping saja. Seperti memang sudah di booking oleh Hanafi kalau bis yang satu ini hanya dikhususnya membawa rombongan mereka. Supirnya orang Bengkulu, tadi sempat menggoda Dania begitu turun di Sungai Lilin. Kernetnya juga mengajaknya mengobrol berkali-kali, bahkan menanyakan Instagramnya. Agak sedikit genit menurut Dania, namun masih dalam kewajaran. Bukan main baiknya kernetnya itu. Dia mengaku bernama Bujang. Sudah memiliki istri tapi istrinya ditinggal terus. Menurutnya istrinya pasti akan setia karena Bujang percaya kalau dirinya setampan artis India, Shahrukh Khan. Dania hanya tersenyum dan tertawa dalam hati mendengarnya. Dari Bujang jugalah Dania mengetahui sudah sampai mana bis ini membawanya, dan menurut penuturan Bujang juga kalau tidak sampai setengah jam lagi sudah sampai di Penyebrangan Bakauheni, penyebrangan laut yang akan membawa seluruh penumpang menuju Tanah Jawa.
Benar saja tak lama kemudian hamparan laut mulai terlihat disisi kanan dan kiri. Kadang-kadang menghilang karena tertutup oleh rumah-rumah dan dataran tinggi, lalu muncul lagi. Dania benar-benar menikmati pemandangan itu. Pepohonan dan rumah-rumah itu serasa berlari menjauh mengikuti kecepatan roda bis yang melaju kencang menyalip mobil-mobil besar yang ada didepannya. Satrio pernah bilang kalau Lampung menjadi jalan lintas Provinsi yang ramai setiap harinya, mobil-mobil besar pabrik maupun mobil truk akan melintas setiap menitnya. Truk-truk besar itu membawa banyak bawaan, mulai kendaraan bermotor, kayu-kayu besar, singkong, dan kontainer-kontainer yang ukurannya jumbo. Semakin mendekati pelabuhan, mobil-mobil juga semakin banyak. Semakin lama semakin terlihat jelas lautan luas yang akan diseberangi itu. Kapal-kapal berukuran besar juga terlihat. Bukan main senangnya hati Dania. Sebentar lagi dia akan menyebrang ke Jawa.
Perlahan namun pasti bis yang ditumpangi semakin beranjak mendekati pelabuhan. Pelabuhannya sangat besar, bahkan untuk memasuki kapal sudah ada kelas kendaraannya sendiri. Dermaganya tergantung dengan muatan. Untuk bis penumpang ada dermaganya sendiri.
Tak lama kemudian bis berhenti tapi mesinnya tetap menyala, Bujang si kernet bis tampak turun dan berlari-larian kecil. Beberapa peumpang bis mulai bangun dan melongok keluar, beberapa ada yang bertanya sudah sampai mana dan yang lain menjawab tidak tahu. Dania tersenyum-senyum saja. Dirinya juga tengah asyik memperhatikan diluar sana. Beberapa bis penumpang sudah mulai melaju memasuki kedalam kapal, tapi bis yang ditumpanginya belum juga naik. Beberapa pedagang asongan tiba-tiba naik dan mengagetkan seluruh penghuni bis.
“ Air, air, minuman dingin,minuman dingin!”
Yang lain juga tidak kalah semangatnya menawarkan dagangannya.” Tahu Sumedang, Tahu Sumedang, kacang, telur puyuh!”
Dania merogoh tas nya dan mengeluarkan selembaran dua puluhan.
“ Berapa tahu nya kak?” Tanyanya.
“ Sepuluh ribu dapat tiga kak. Silahkan.”
“ Dua puluh ribu ya.” 
Disodorkan uang dua puluh ribuan yang digantikan dengan enam bungkusan Tahu Sumedang. Diperhatikannya, ada empat potong kecil lengkap dengan dua cabenya. Dibukanya pelan dan dilahapnya. Ibu Marhumah terbangun dan menoleh-noleh serasa bingung sudah sampai mana.
“ Tahu bu?” Dania menyodorkan Tahu Sumedang itu.
“ Mantap nih!” Jumiati mengambil dan melahap isinya.
“ Lumayan!” Jawab Dania.
“ Sebentar lagi menyebrang ya?” Tanya Jumiati.
“ Seperti iya bu.”
Perlahan bis kembali berjalan, Dania melihat ke jam, sudah mencapai sore hari. Berarti sudah seharian lebih di jalan. Matanya terus melihat keluar, berlahan-lahan bis nya memasuki kapal penyebrangan ASDP. Dania sempat membaca tulisan dilambung kapalnya “ We Bridge The Nation”. Bis nya berhenti sejenak lalu mulai meluncur kedalam. Di dalam kapal besi itu sudah berjajar beberapa truk besar dan bis penumpang juga. Bis-bis itu juga akan membawa penumpangnya ke Jawa, ada bis ALS, Lorena, dan SAN yang sama dengan bis yang dinaikinya. Memasuki kapal bau pengap semakin menusuk ke hidungnya, Dania tepaksa harus menutup hidungnya kuat-kuat dan sejenak nafasnya tersengal. Sungguh tak tahan dia dengan baru pengapnya. Matanya sampai berair menahan nafasnya.
Bujang si kernet bis tampak berdiri.
“ Haaa, kita sudah sampai dipenyebrangan bapak-ibu. Semuanya naik ya, bawa barang-barang berharganya, dan jangan ada yang merokok.”
“ Naik bu, naik.”
Semua penumpangnya mulai bangun. Lalu satu persatu turun mengikuti Bujang. Berjalan melewati bis dan truk yang terparkir rapih, berjalan menuju ke tangga di sebelah selatan. Hawa didalam sini sangatlah panas dan pengap. Bau minyak dan oli itu terus menyerang Dania yang membuatnya terus menutup hidungnya dengan sebisanya. Bujang terus membawa mereka menaiki tangga besi yang kotor kehitaman, melewati gang sempit dan terus naik keatas dan melewati pintu besi. Lorong kecil ditelusuri dan sampailah diatas kapal, dek khusus penumpang. Sebagian kursinya sudah terisi oleh para penumpang dari bis lain, beberapa terlihat terbaring, yang lainnya hanya duduk dan mengobrol. Rombongan Dania juga mulai berpencar-pencar. Anak-anak didiknya itu ada yang keluar ada yang naik diatas, ada yang tetap megikutinya.
“ Jangan terpisah jauh-jauh ya, nanti terpisah rombongan lhoh.”
Dania mulai memberi komando kepada anak-anak didiknya. Namun beruntung ada Hanafi yang ikut mengawasi. Beberapa anak-anak didiknya mengikuti Dania ke dek penumpang. Hindun, Annisa, Hani, Vio, Rani, Wella. Dania mulai menghitung murid perempuan yang mengikutinya. Dua murid laki-lakinya juga mengikutinya, Jais dan Ahmad. Sementara murid yang lain sudah entah kemana. Biarlah Hanafi yang mengawasinya, dia yakin Hanafi akan membimbing mereka.
“ Kalian kalau mau ke toilet atau ke mushala berdua ya, dan kalau kapalnya sudah mau merapat kalian berkumpul lagi disini.” Kata Dania.
“ Baik bu.” Jawab mereka.
“ Bu, kami boleh melihat-lihat keluar?” Hindun bertanya padanya.
“ Ya,silahkan. Ingat saja pesan ibu ya.” Kata Dania.
“ Baik bu.” 
Di sekeliling mereka mulai ramai, penumpang terus berdatangan dan mengisi kursi-kursi yang kosong. Jumiati yang sejak tadi tertidur dari pertama kali naik sudah beranjak saja, ke toilet dan Mushala kapal. Dania yang sedang berhalangan hanya duduk-duduk saja di dek penumpang. Menelepon ibunya yang sedari tadi memang menanyakan kabarnya. Tak lama kemudian Dania mulai mencoba kembali memejamkan mata. Lamat-lamat terdengar suara pramugari kapal yang memberikan informasi-informasi keselamatan. Suara khas pramugari itu didengarkan dengan seksama. Matanya memperhatikan wajah-wajah penumpang yang terlihat letih. Mungkin mereka juga memiliki tujuan perjalanan yang jauh. Beruntung ada televisi yang memutar video di dk penumpang ini. Meskipun suaranya tidak terlalu keras karena terkalahkan oleh suara mesin kapal namun masih cukup bisa dinikmati. Sebuah film Warkop di putar. Beberapa kali penumpang di dek itu tertawa ketika adegan lucu Dono, Kasino, dan Indro itu berhasil menimbulkan gelak tawa membahana. Dania sedari tadi tidak melihat Hanafi. Namun biarlah, mungkin dia tengah menemani Pak Anwar untuk berbicara panjang lebar lagi.
Sebuah tepukan dipundak mengangetkan dirinya. Ternyata pemuda tampan itu sudah ada dibelakangnya. “ Astaghfirullah.” Terkaget Dania dibuatnya. Hanafi tersenyum dan tertawa karena berhasil membuatnya terkejut.
“ Mau fhoto-fhoto?” Tanya Hanafi kepadanya.
“ Dimana?” Tanya balik Dania.
“ Ayok, ikut kesini. Ada spot yang bagus.” Jawab Hanafi.
“ Anak-anak ini bagaimana?” 
“ Tinggal saja. Sebentar kok.” 
Hanafi memberi kode untuk mengikutinya. Dania bangun dan menurut saja. Langkahnya menuju ke bagian paling selatan menuju buritan kapal. Ternyata benar, pemandangannya cukup indah. Dari buritan kapal dia bisa melihat hamparan lautan luas dan tanah Lampung dibelakang sana yang terus semakin mengecil. Lautan hijau bersatu dengan langit. Hanafi yang sudah berada disana terlihat memotret kesana sini dengan kamera DLSR nya. 
“ Bang, disini!” 
Dania memberi kode supaya Hanafi mengambil gambarnya. Berulang kali Hanafi memotretnya. Dania hanya tertawa saja melihat tingkahnya yang seperti tukang fhoto profesional. “ Mantap ini modelnya.” Kata Hanafi.
Lampung semakin mengecil dan semakin jauh disana. Kali ini benar-benar berada di tengah lautan luas. Seakan air dan langit bersatu dalam sebuah warna yang seragam. Didepan sana pulau Jawa belum juga terlihat. Menurut informasi yang didapatnya, nanti kapal ini akan berhenti di Pelabuhan Merak, sebuah pelabuhan di Provinsi Banten, setelah itu akan kembali menaiki bis menuju Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan terakhir destinasinya adalah kota Jogja. Ah! Sepertinya masih lama. 
“ Capek.” Hanafi menggelosor di lantai kapal.
“ Istirahatlah bang.” Kata Dania kepadanya.” Lihat fhotonya.”
Kamera DLSR merk Canon itu diberikan Hanafi kepadanya. Dania membuka file-filenya, ada beberapa fhoto ramai-ramai ketika akan berangkay, ada juga fhoto-fhoto waktu makan di Sungai Lilin tadi. Lumayan, menambah koleksi itu album fhotonya. Dania tertawa melihat fhoto-fhoto ekspresi lucu anak-anak didiknya yang tertangkap kamera saat sedang tidur, Hanafi agak sedikit jahil ternyata memfhoto mereka. Yang paling lucu adalah ekspresi tidurnya Jais, tampak tertidur tapi mulutnya terbuka. Sungguh menggelikan.
“ Ini Jais lucu sekali ekspresinya.” Dania tertawa terpingkal karenanya.
“ Itu gaya lumba-lumba mangap. Hehe.” Kata Hanafi.
“ Lhah,ini juga fhoto Dania lagi tidur!” 
Merengutlah gadis cantik itu. Tak disangka ketika sedang tertidur, Hanafi begitu iseng memfhoto dirinya. Tampak bagaimana dirinya sedang memejamkan mata tapi bibirnya seperti sedang tersenyum.
“ Eiiitss, tidak boleh dihapus. Itu moment langkamu.”Jawabnya.
“ Buruk nian adek bang!” Teriak Dania.
“ Siapa bilang, itu ekspresi tidur cantik. Senyumnya itu na yang bikin manis.” Kata Hanafi. Aduh, sejak kapan pemuda religius itu pandai gombal.
“ Buruk!” Kata Dania.
Hanafi terbangun dari duduknya, berdiri menatap langit biru.
“ Laki-laki kemarin itu pacar Dania?”
“ Haahh!” Dania kaget seketika dibuatnya.
“ Dania tidak punya pacar, bang. Tak ada yang mau sama Dania.” Lanjutnya sambil tertawa. Pasti ini yang kemarin maksud Hanafi saat mengatakan “ Kita bahas nanti” setelah kejadian itu. Dania kembali tersenyum pahit karenanya. Maih terbayang peristiwa memalukan itu.
“ Saat dia menunjuk-menunjuk abang, dia bilang Dania calon istri.”
“ Ada ya dia bilang begitu?” Dania mendelik dibuatnya.
“ Tak mungkinlah abang salah dengar.” Kata Hanafi.
“Abang salah dengar saja mungkin. Dia teman saja bang.”
“ Tak mungkin Dania, kalau hanya teman bagaimana bisa marah saat abang berdua dengan Dania? Kasih tahu lah Dania, abang tak suka ribut.”
“ Teman dekat saja bang. Dia saja yang menggangap lebih.”
“ Agak kasar orangnya. Semoga nanti bisa bertemu lagi dan menjelaskan, dia bukan orang jauh juga khan?” Tanya Hanafi lagi.
“ Iya bang.” Jawab Dania lesu.
“ Mohon maaf  kalau abang salah, tapi sepertinya dia bukan teman dekat yang Dania bilang ada di Jogja. Betul?” 
“ Betul bang.” Jawab Dania. “ Dia orang kita jua lah.” Lanjutnya.
“ Kaya nampaknya dia, atau orangtuanya lah berlebih kayanya.”
“ Mungkin bang,”
“ Agaknya dia tak baik buat Dania. Fikirkan lagi Dania. Abang tak bermaksud ikut campur, bisa saja dia kemarin berlaku seperti itu karena dia terlalu sayang dengan Dania, tapi dia kasar.” Kata Hanafi lagi.
“ Dania rasa juga begitu, tapi Dania susah lepasnya bang.” Katanya.
“ Kenapa?” Tanya Hanafi sedikit kaget.
“ Tak enak kami mau bilangnya, takut mengecewakan.” Jawab Dania.
“ Jadi selama ini...”
“ Iya bang. Tak enak hati kami mau bilangnya.” Jawab Dania.
Hanafi tertawa.
“ Jadi, Dania korbankan hati Dania untuk menyenangkan orang lain?”
“ Tidak juga begitu bang ai!” 
Sikapnya memang selalu sama yaitu paling tidak terlalu berminat untuk membahas masalah lelaki. Bagi Dania, tidak perlu rasanya membahas soal lelaki, lebih baik membahas sekolah, ataupun masa depan. Laki-laki hanya membuat pikiran bertahmbah, bukankah lebih baik fokus dengan apa yang sekarang dijalani. Kalau Tuhan sudah memberinya jodoh, jodoh itu juga pasti akan datang dengan sendirinya. Itu mungkin sikapnya yang tidak pernah berubah. Kepalanya langsung mendadak pusing kalau membahas tentang lelaki, apalagi soal si Zulfikar. Membayangkannya saja kepalanya sudah pening.
“ Ya sudah tak usah diambil hati.” Kata Hanafi lagi.
“ Sebenarnya Dania tak enak sama abang...”
“ Soal abang dipukuli itu?” Tanya Hanafi.
“ Iyaa.” 
“ Tak apa, olahraga.” Jawab Hanafi sambil tersenyum.
“ Begitu ya?” Dania ikut tertawa karenanya.
“ Pindah ke depan sana, bagus sepertinya.” Kata Hanafi.
“ Come on, wajahnya jangan murung gitu. We are in holiday right now!” Lanjutnya lagi. Tangannya menyilang didepan dada. Terlihat begitu gagah.
“ So?” Tanya Dania.
“ So, tidak boleh sedih. Tidak boleh murung. Kita nikmati perjalanan ini.” Kata Hanafi. 
“ Memangnya Dania terlihat murung?” Tanya Dania.
Laki-laki tampan itu mendekatinya, menyangga dagu dengan dua jempolnya. Aroma parfumnya beitu terasa di hidung Dania. Senyumnya berkembang. “ Dania tak pandai berbohong.” Jawabnya singkat.
“ Iya bang, Dania tidak sedih kok.” Jawabnya.
Hanafi menepuk dua pipi Dania dengan lembut. Pandangannya menatap kearah gadis itu dengan tatapan tajam. Dania merasakan gemuruh luar biasa didadanya. Laki-laki yang imagenya religius itu tiba-tiba saja berubah. Bagaiaman bisa? Namun diapun merasa senang karenanya.
“ Kita sedang liburan, dan kita akan liburan bersama. Kita nikmati saja semua ini, jangan pikirkan yang lain. Dania tidak boleh murung dan sedih,”
“ Jangan bang, abang sudah punya pacar.” Jawab Dania.
“ Salahkah kalau perjalanan sekali ini Dania yang mengisinya?”
Dania tediam. Dalam hatinya memang pernah terlintas betapa bahagia dan senangnya selama perjalanan ini akan terus bersama dengan Hanafi, namun begitu dia mengetahui bahwa Hanafi punya kekasih, rasanya itu adalah sebuah alasan untuk menjaga jarak. 
“ Maksud abang?” Tanya Dania.
“ Anggap kita sedang berpacaran, dan perjalanan ini akan jadi indah.”
“ Tapi bang...”
Telunjuk Hanafi menempel dibibirnya seakan menjadi pertanda bahwa Dania tidak boleh memprotes. Tatapan laki-laki itu benar-benar telah melumpuhkan hatinya. Disambutnya uluran tangan Hanafi. Diapun berdiri mengikuti kemana langkah laki-laki itu membawanya pergi. Hanafi benar, tidak baik rasanya bila dia bermurung sepanjang perjalanan ini. Sejenak dia memang harus melupakan semua pikirannya tentang sosok laki-laki yang ada dibenaknya. Dania percaya bahwa Hanafi begitu setia pada kekasihnya, mungkin maksud Hanafi adalah menikmati perjalanan ini sebagai teman dekat. Teman dekat yang akan membuat perjalanan menjadi lebih indah. Dilepaskan tangan itu dan terus mengikutinya.
Hanafi berjalan begitu cepat melewati orang-orang yang sedang berdiri dipinggiran kapal menghadap kelaut. Beberapa orang tampak duduk bersandar dinding kapal dengan beralasankan kertas koran, disisi lain ada yang berfhoto-fhoto dengan kekasih maupun keluarganya. Langkah Hanafi terus menuju kedepan, melewati tangga, ruangan dek penumpang, dan berhenti di bagian depan kapal. Dari sisi ini memang pemandangannya lebih indah. Tampak didepan sana pulau Jawa mulai terlihat, dan semakin mendekat. Hanafi tampak berdiri di sisi kiri merentangkan tangannya. Mungkin dia akan bergaya seperti Jack Dawson di film Titanic, Dania hanya tertawa-tawa melihatnya. Air laut bertiup sangat kencang sehingga membuat jilbab Dania terhembus dengan kuat. Tanpa dikomando Dania lansung mengambil fhoto dengan kamera yang ada ditangannya.
“ Yang bagus ya!” Teriak Hanafi padanya.
Dania mengacungkan jempolnya. Menurut Dania, gaya apapun hasilnya pasti bagus, karena modelnya memang sangat tampan. Dania menyerahkan ponselnya pada Hanafi agar lelaki itu juga mengambil fhoto dirinya. Lalu dia pun bergaya dipinggiran kapal itu.
“ Naik diatas situ Dania, lebih bagus.” Hanafi menunjuk kearah besi bulat dipinggiran kapal. Dania terbelalak, ngeri rasanya melihatnya. 
“ Takut bang. Takut jatuh.”
Hanafi tertawa, lalu dengan kamera ponsel Dania dia mengambil beberapa fhoto Dania. “ Senyumannya dek!” Katanya. Dania melempar senyum, namun justru berkali-kali dia tak dapat menahan tawa sehingga terpaksa dia tutup mulutnya. Angin laut yang berhembus terus membuat jilbabnya berkibar, pulau Jawa didepan sana juga semakin terlihat. Rasanya sudah tak sabar lagi sampai ke daratan. 
***
Angin laut yang berhembus kencang seakan membawa kabar tentang sosok Satrio yang menghilang tanpa kabarnya. Entah dimana lelaki itu berada sekarang, apakah masih ada di Pekanbaru atau sudah pulang ke Jogja lagi. Semua pesannya tak dibaca, teleponnya tidak diangkat sama sekali. Mungkin ini pertama kalinya Satrio melakukannya, atau jangan-jangan lelaki itu sedang dalam kondisi sakit. Bukankah Satrio memiliki penyakit radang usus yang kerap kambuh. Mungkinkah itu penyebabnya.
Aaaaaahhhh!
Rasanya Dania ingin berteriak sekencang-kencangnya dan seisi lautan ini akan bergejolak mendengarnya. Perasaan apa yang sedang hinggap dibenaknya ini. Dulu dia kerap mengabaikan laki-laki itu, namun seakan sebuah kerinduan benar-benar menyelimutinya. Semua perjalanan ini mungkin akan menyenangkan seperti kata Hanafi, namun Dania sendiripun tidak tahu itu, bagaimana bisa dia menari gembira sementara hatinya terus-terus dihinggapi oleh sosok bayangan Satrio. Rindu dan kecemasan itu seakan terus menghujam dadanya. 
“ Kenapa kok murung lagi?” Hanafi yang sedang menyandarkan tubuhnya di pagar kapal tampak memang terus memperhatikan dirinya.
“ Hanya kepikiran seseorang saja, bang.” Jawab Dania.
“ Yang akan ditemui di Jogja?” Tanyanya lagi.
Dania tanpa sadar mengangguk meskipun hatinya seperti enggan mengakui. Tokh sepertinya sekarang Hanafi bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan. Hanafi terlihat tersenyum lebar melihatnya, kemudian dia berdiri tegap lalu memandang jauh kedepan sana.
“ Sebentar lagi akan ketemu pujaan hatinya dong.”
“ Dania saja tidak tahu sekarang dia di Jogja atau dimana, sudah sebulan lebih tak ada kabarnya bang. Sejak bertemu Dania, setelah itu dia tidak pernah mengirimi pesan lagi. Kira-kira dia kenapa begitu ya bang?”
“Begitu?” Hanafi tersenyum. “ Dia tengah menyemai cintanya di hati Dania. Meskipun abang belum tahu, tapi abang yakin dia memang sengaja membuat Dania memikirkannya. Ketika Dania sudah mulai tak berhenti untuk memikirkannya, Dania rindu, dan tanpa Dania sadari cinta itu sudah hadir dengan sendirinya...”
“ Memangnya Dania terlihat sedang rindu dan jatuh cinta bang?”
“ Dania tak pandai berbohong.” Katanya sambil tersenyum.
***




Bagian 8 : Lelaki Dania

Saat itu adalah saat dimana semua yang indah didunia ini mulai terasa menyesakkan. Tugas kuliah menumpuk, planning disana-sini menanti, belum lagi pertanyaan kapan lulus terus menghujani setiap ibunya selalu menelpon. Saat itulah sosok gadis cantik berambut panjang yang wajahnya mirip dengan artis Pevita Pearce hadir dikehidupannya dan membawa sebuah fase dimana cinta mulai menyerang dan meminta bagian dari 24 jam hidupnya. Gadis itu memberi kekuatan dengan pembawaannya yang menyenangkan, cerita tentang kehidupannya yang begitu menarik, dan senyuman tulus yang selalu menghiasi wajahnya. Gadis itu adalah Dania Hanifah. Gadis keturunan Banjar dan Minang yang dikenalnya enam tahun lalu saat masih sering menggunakan aplikasi Facebook di laptop usangnya. Sosok gadis baik, tulus, penuh perhatian, dan begitu mencintai keluarga ada di diri gadis itu. Sosok yang menjadi kriteria calon pendamping yang baik.
Tidak banyak hal yang Satrio tahu dari Dania selain gadis itu pernah menjadi Paskibraka, lahir di bulan Maret, dan gadis baik yang begitu mencintai ibunya. Namun diawal perkenalan, ujian pertama untuk kebesaran hatinya muncul saat dia tahu bahwa ternyata gadis itu sudah memiliki kekasih. Mungkin itu adalah tanda mengapa selama ini dirinya kerap selalu diabaikan. Bukan Satrio namanya kalau menyerah begitu saja. Hingga pada suatu malam, awal perjalanan cintanya itu dimulai ketika gadis itu menjawab apa yang sudah sering ditanyakan. Ketika hubungan percintaan dengan kekasihnya berakhir dan si gadis mulai menemukan kehampaan dalam hidupnya, sosok Satrio hadir dengan membawa seribu bunga dan nyanyian kebahagiaan. Percakapan hangat dan gurauan yang tak pernah berhenti merupakan sebuah jalan terbak untuk menelusuri hati. Satrio semakin menemukan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah salah jatuh cinta pada sosoknya. Dan yang paling menyenangkan adalah gadis itu tak pernah berhenti melemparkan senyuman, dan itu adalah tanda dimana sebuah harapan sudah mulai terlihat. Ingat betul Satrio akan percakapan mereka dulu yang membuatnya kemudian tidak menyadari kalau cinta mulai hadir.
Satrio : Rindu selalu menjadi masalah hati;  namun masalah terbesar adalah saat seorang gadis membalas tanya lelaki dengan sebuah senyuman...
Dania : Rindu takkan pernah menyapa dua orang yang tak saling kenal.
     Siapakah engkau wahai lelaki?
Satrio : Aku adalah lelaki dari masa depan yang tengah berjalan di gelapnya malam untuk menjemputmu, istriku...
Dania : Berani sekali engkau mengatakan aku milikmu, katakan apa
     Yang kau punya untuk membuatku percaya bahwa engkau itu
     Adalah lelakiku?
Satrio : Aku punya cinta yang tak pernah memiliki expired date.
Dania : Cintamu tidak dijual di Indomaret berarti ya?
Satrio : Mungkin ada di toko sebelah.
Dania : Alfamart? 
Satrio : Iyaa. Bisa jadi.
Dania : Lelakiku tak pernah mengobral cintanya. Dia selalu percaya hanya pada satu cinta yang diyakininya, dan itu aku.
Satrio : Aku memiliki hati yang kuat untuk mencintai. Pada satu hati.
Dania : Kalau begitu apa yang bisa membuatmu percaya bahwa aku adalah milikmu dimasa depanmu?
Satrio : Keyakinanku.
Dania : Lelakiku, Memiliki tidak hanya berdalilkan keyakinan.
Satrio : Lalu? Haruskah aku menerobos gelap, menyebrangi samudera untuk menemuimu dan membawakan sebutir cincin perak?
Dania : Bila engkau memiliki cincin perak yang indah, sematkanlah di jariku, ketika kepulanganmu hanya untuk menemuiku.
Satrio : Mau menungguku pulang?
Dania : Aku punya penantian yang tak memiliki expired date.
Awal percakapan yang berujung pada sebuah kerinduan untuk terus menyapa. Satrio mulai jatuh cinta pada sosoknya. Kerinduannya untuk pulang membuat dirinya terus berusaha untuk sampai dikota itu begitu dia siap dan benar-benar sudah menetapkan hatinya kepada Dania. Ali, sahabatnya itu pernah mendengar kisahnya, namun belakangan dia memahami posisinya. Permasalahan yang hadir membuat Satrio perlu waktu untuk membangun hatinya kembali, entah sampai kapan. Ali adalah satu-satunya sahabat Satrio yang masih terus percaya bahwa gadis itu tak pernah berniat menyakiti hati Satrio. Ali percaya kalau pasti ada yang berusaha menjauhkan Satrio dan Dania, itulah sebabnya dia kerap berusaha membujuk sahabatnya itu untuk mencari tahu kebenarannya, namun Satrio sepertinya telah kehilangan harapan akan gadis itu. Semua rencana dan mimpi indah yang disemainya serasa disiram air panas dan gugur seketika. Dihati kecilnya mungkin bisa saja menerima saran sahabatnya itu, tapi logika dan rasa kecewanya sudah mengalahkan itu semua. Melupakan Dania, adalah hal yang harus dilakukannya.
“ Ini adalah keputusanku, Ali. Benar atau salah.” Kata Satrio.
“ Itu terserah elu ya, namun kalau saran yang terbaik menurut gue sih lebih baik cari tahu kebenarannya. Rombongan yang baru datang itu bukannya mereka berasal dari sekolah yang sama dengan tempat Dania mengajar, mereka pasti sedikit akan tahu soal itu. Kali aja ada salah satu gurunya yang kenaldekat.” Kata Ali terus berusaha meyakinkan Satrio.
“ Entahlah Li, kita lihat saja nanti.”
“ Itu adalah kata-kata bahwa elu mulai menghadapi kembimbangan.”
***




Bagian 9 : Yogyakarta

Hari pertama di kota istimewa Yogyakarta. Begitu mengijakkan kaki di kota pelajar ini rasanya memang berbeda, suasana sudah terasa begitu menyenangkan. Disana-sini banyak orang lalu lalang, mobil mewah berulang kali melintas. Sejak turun dari bis dan sampai di terminal Giwangan sampai di hotel rasanya sudah lebih puluhan mobil yang melintas. Menurut supir travel yang membawa rombongan, jalan yang dilewati bahkan masih termasuk daerah pinggirannya. Supir travel yang menjemput rombongan juga mengatakan didaerah dekat dengan kampus penyelenggaraan perlombaan akan jauh lebih padat kendaraannya. Rasanya ingin segera sampai disana, tugasnya selesai lalu saatnya untuk berjalan-jalan itu tiba.
Dania terus saja tersenyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan menuju hotel. Pandangannya terus melongok keluar jendela bis. Laju bis itu memang tidak terlalu cepat, selain memang mobil-mobil minibus begitu banyak, agaknya faktor kenyamanan penumpang sedemikian diutamakan. Dania merasakan pegal-pegal yang luar biasa, tiga hari duduk dikursi bis membuat tulang ekornya sedikit pegal, butuh istirahat untuk meluruskan pinggangnya dengan tidur sejenak. Ibu wakil kepala sekolah disebelahnya terlihat begitu letih, padahal sepanjang perjalanan sudah tertidur pulas. Beberapa siswa kontingennya juga tampak kelelahan. Mungkin memang malam ini harus istirahat total agar tidak mengganggu fisik mereka keesokan harinya. Waktu istirahat memang sedikit. Tanggal 11 sampai di Jogja, tanggal 12 langsung ikut pembukaan penyelenggaraan, dan kontingen untuk kategori murotal Al Qur’an langsung bertanding. Kontingen untuk murotal adalah Hindun, Annisa dan Ahmad. Tugas membimbing untuk murotal memang menjadi tugas Dania, makanya dia akan mengalami kesulitan istirahat.  Hari berikutnya adalah Dialog Bahasa Inggris. Bila tim mereka lolos maka akan terus maju sampai ke final dan itu akan membuat Dania dan para guru-guru pendamping akan bekerja keras agar kontingen mereka membawa hasil yang maksimal. Perlombaan itu hanya sampai tanggal 18. Setelah itu maka ada liburan sejenak selama dua hari lalu kemudian akan kembali pulang ke Tembilahan. Rasanya penat Dania tidak sebanding dengan Hanafi, laki-laki itu malah mengurus lebih banyak hal lagi, mulai dari tiket, perlombaan, tempat menginap dan lain-lain.Beruntung Ibu wakil kepala sekolah dan Pak Anwar ikut, jadinya nanti akan sangat terbantu oleh mereka, terlebih keduanya adalah guru senior yang sudah banyak makan asam garam.
Entah berapa lama perjalanan dari terminal sampai ke hotel, sehingga tanpa sadar mereka sudah sampai di hotel tujuan. Sebuah hotel yang terlihat begitu megah, terlihat hampir menyerupai hotel bintang lima dipekanbaru namun lebih besar lagi, entah berapa lantai. Bangunannya menjulang tinggi dan berwarna putih. Dania beberapa kali menginap di hotel berbintang, itu saja hanya sebatas di Pekanbaru. Hotel yang tempat menginapnya itu pasti jauh lebih mahal daripada yang ada di Pekanbaru, bila dilihat dari bangunan dan fasilitas diluarnya, belum melihat bagian dalamnya.
Pak Asep, supir bis travel yang membawa mobil itu memarkirkan kendaraanya tepat didepan pintu masuk hotel. Tadi laki-laki itu memang telah mengenalkan dirinya sebelum berangkat, lagipula dia juga memakai tanda pengenal yang menempel di pakaiannya. Meskipun sekilas rasanya Dania cukup familiar dengan logo travelnya, namun dia lupa-lupa ingat pernah tahu dimana. Pak Asep sangat sopan, sepanjang jalan tadi dia banyak bercerita dengan Hanafi yang kebetulan duduk disebelahnya. Sedikit-sedikit Dania menguping pembicaraan mereka, terdengar samar-samar mereka tengah mengobrolkan tujuan liburan setelah perlombaan usai nanti.
“ Nah, kita sudah sampai bapak,ibu, dan adek-adek. Ini adalah hotel tempat rombongan ini akan menginap selama disini. Nanti bapak langsung saja bertemu dengan resepsionisnya lalu sebutkan nama, nanti akan langsung dibimbing oleh mereka.” Demikian kata lelaki tua itu.
“ Terima kasih pak Asep. Jadi ini hotel tempat kami menginap?”
Agaknya Hanafi juga terlihat kaget dengan hotel tesebut. Dania sedikit penasaran dengan perkataan itu, bukankah seharusnya Hanafi sudah lebih dulu tahu?
“ Betul pak Hanafi. Menginapnya disini.” Kata Pak Asep.
Hanafi turun duluan, diikuti oleh rombongan kontingen. Satu-satu mereka mengikuti Hanafi. Dania dan Ibu wakil kepala sekolah juga mengikutinya dan mengkomando rombongan putri agar mengikutinya. Beberapa siswa tampak berkacak pinggang, sementara yang lainnya tampak lanjut duduk di halaman hotel sambil meluruskan kakinya. “Ayo masuk semua, biar segera bisa istirahat.” Kata Pak Anwar mengkomando. Sementara Hanafi tampak menuju resepsionis dan berbincang sejenak.
Bagian depan hotel itu memang sudah terlihat sedemikian mewahnya. Ornamen batik yang terbuat dari kayu berwarna cokelat sangat mendominasi. Sebuah sofa empuk besar berwarna cokelat muda langsung diserbu oleh anak-anak. Ruangan depannya sedemikian luasnya. Ada patung-patung ala prajurit romawi yang mengenakan baju zirah berdiri di samping tangga yang berputar keatas. Lampu-lampu kecil juga tampak terpasang dan berkelip-kelip begitu indah, rasanya ada perpaduan antara bangunan eropa dengan Jawa. Kesan Jawa juga terlihat begitu mendominasi. Patung Garudawhisnu tampak berdiri kokoh disamping meja resepsionis.  Meskipun sudah cukup berumur, namun Dania juga masih sangat takjub dengan pemandangan ini. Ingin rasanya dia langsung mengeluarkan handphonenya dan membuat story untuk Instagramnya, namun diurungkan karena enggan dianggap narsis didepan siswa-siswanya sendiri. Beberapa siswanya tampak selfi, namun lebih banyak yang diam saja. Dania jelas menebak jalan pikiran mereka, mungkin mereka sedikit minder dengan tempatnya ini. Tidak hanya mereka, dirinya juga merasa sedikit nervous berada disini. Bayangan bahwa mereka berasal dari kampung membuat mereka rikuh dan malu-malu. Dania bangun dan menghampiri Hanafi.
“ Bagaimana bang?” Tanyanya pada Hanafi. Terlihat pemuda itu tampak begitu kebingungan. Berulang kali dia seperti tengah menelepon seseorang, entah siapa. “ Kok kami belum bisa masuk? Anak-anak sudah tampak kelelahan bang.” Lanjut Dania lagi.
“ Sebentar Nia, sepertinya ada kesalahan, tapi sedang abang coba konfirmasi.” Katanya pelan. Terlihat ada raut gelisah diwajahnya.Keringat tampak membanjiri pelipisnya. Rasanya Dania tidak pernah melihat Hanafi sampai berkeringat dingin seperti itu, terlebih AC ruangan sedemikian dinginnya.
“ Ada masalah?, apakah itu bang, lalu bagaimana?”
Hanafi tampak terus mencoba menghubungi seseorang. Tangannya memberi kode kepada Dania untuk memberinya waktu sesaat untuk menjawab. Dania hanya terdiam, kegelisahan mulai menjalari benaknya dan hatinya terus bertanya-tanya.
“ Nia, sementara temani anak-anak dulu. Abang mencoba bertanya pada pak Asep dulu. Sementara duduk saja dahulu di sofa, kalau ada yang mau ke kamar mandi, diperbolehkan saja.” Kata Hanafi tergesa.
“ Baik  bang.” 
Dania kembali ke sofa dan memberitahukan pesan Hanafi. Beberapa langsung mengiyakan. Pak Anwar dan Ibu Marhumah jga terlihat kebingungan dan bertanya pada Dania yang dijawab dengan kata tidak tahu. Sementara mereka menunggu komando dari Hanafi, karena Hanafi yang mengatur semuanya. Kegelisahan mulai muncul. Jangan-jangan Hanafi belum memesan kamar untuk mereka menginap, atau ada kesalahan lain. Dania memperhatikan mereka, terlihat keletihan dan kegelisahan tidak dapat disembunyikan dari wajah rombongan ini. Sementara Hanafi tampak kembali ke depan dan menemui supir travel yang tadi membawa rombongan.
Hampir seperempat jam menunggu dan bertanya-tanya, akhirnya Hanafi kembali muncul diikuti oleh pak Asep, entah pembicaraan mereka namun terlihat Hanafi kembali menemui resepsionis cantik dan kembali berbincang sebentar. Tak lama kemudian Hanafi sudah menuju kearah mereka. Tampak wajahnya sedikit cerah namun keringatnya belum hilang.
“ Sudah selesai. Nanti abang ceritakan.” Kata Hanafi pada Dania setengah berbisik.
“ Baik, semuanya dengarkan saya. Kita akan menginap di hotel ini mulai sekarang sampai tanggal 20 nanti. Kamar kita ada diatas, dilantai tiga. Kita memakai enam kamar, sementara kita ada 21 orang. Sekarang kita bagi saja dengan siapa roommate nya agar tidak bingung diatas.” Kata Hanafi.
“ Jadi kita ada 21 orang. 8 putri dan 13 putra. Jadi, 21 orang dibagi menjadi tujuh kamar. Untuk satu kamar bisa untuk tiga sampai empat orang, karena menurut resepsionis tadi kamarnya memang besar dan bed nya juga cukup, ada bed tambahan juga dibawahnya. Jadi, sekarang kita bagi saja. Ibu Dania tolong bantu membagi ya.” Lanjutnya.
Memang agak sedikit bingung dalam pembagiaannya, namun akhirnya disepakati juga. Dania dan Ibu Marhumah berada di kamar pertama. Hanafi dan Pak Anwar kamar kedua.  Untuk yang putri dibagi menjadi dua kamar. Kamar ketiga diisi oleh Hindun, Annisa dan Hani sementara Rani, Vio, dan Wella berada keempat. Kamar untuk putra dibagi menjadi tiga. Jais, Ahmad, Fikri, dan Fadli dikamar kelima. Rafli, Abdul Rofi, Fatur dan Dandi dikamar keenam, sementara kamar terakhir diisi oleh Agung, Bani, dan Zul. Mereka lalu bersiap-siap untuk memasuki kamar masing-masing, namun terhenti sejenak saat seorang staff hotel terlihat menghampiri mereka. Pakaiannya rapi menggunakan jas lengkap dan dasinya. Rapi. Khas orang perhotelan. Meskipun belum tahu siapa, rombongan ini hanya menebak saja kalau lelaki itu jelas bukan pelayan atau housekeeping.
“ Bagaimana, sudah pembagiannya?” Tanya lelaki itu.
Wajahnya tampah putih cerah. Senyumnya begitu manis. Wajahnya tampak masih terlihat muda. Sejauh ini Hanafi terlihat paling tampan dan rapi, namun begitu melihat penampilan laki-laki itu terlihat kontrasnya, bahkan Hanafi terlihat kalah necis. Rambutnya tidak kalah mengkilat, dan parfumnya jauh lebih tajam dari Hanafi.
“ Alhamdulillah sudah pak.” Hanafi menyambut dan menyalaminya.
“ Baik. Perkenalkan saya Haris, saya kebetulan adalah manager disini. Sebelumnya selamat datang di Jogja dan di HIGHER hotel, semoga layanan kami menyenangkan dan anda semua nyaman disini.”
“ Oh iya, Pak Haris. Saya Hanafi.” Kata Hanafi.
“ Oke baik pak Hanafi, kebetulan Mas Satrio dan Ali adalah sahabat dan juga partner kami. Jadi mulai sekarang sampai 10 hari kedepan, teman-teman ini akan menjadi tamu kami disini.” Kata lelaki itu yang ternyata adalah mangernya. 
“ Betul sekali pak. Terima kasih sekali pak. Ohya sebelumnya ini adalah anak-anak didik kami yang juga kontingen untuk perlombaan, lalu itu ada bapak-ibu guru pembimbing, ada ibu Dania, Pak Anwar bagian kemahasiswaan dan Ibu Marhumah, ibu wakil sekolah kami pak.” Hanafi mengenalkan rombongannya.
Manager itu menatap Dania dengan pandangan tajam, seolah-olah tengah mencari sesuatu. Dania agak risih, terlebih manager itu langsung datang menghampiri dan menyalaminya. 
“ Ibu Dania ya?” Tanyanya.
“ Betul pak.” Jawab Dania pelan.
“ Nama anda rasanya begitu familiar.” Kata manager hotel itu lagi.
“ Wah, nama saya pasaran berarti pak.” Jawab Dania.
Kesekian kalinya ada pertanyaan bergelayut dikepalanya, namun itu ditepisnya. Anggapannya adalah mungkin manager hotel itu tengah berbasa-basi, orang perhotelan biasanya selalu punya trik untuk membuat obrolan menjadi saling berhubungan. Entah ada hubungannya atau tidak dan hanya mendengar sekilas, rasanya lelaki itu tadi menyebut nama Satrio, pikirannya langsung menuju kepada Satrionya yang sudah menghilang selama ini. Mungkinkah?
Setelah menyalami Dania, Pak Anwar, dan Ibu Marhumah, manager hotel yang mengaku bernama Haris itu mempersilahkan rombongan untuk mengikutinya. Spontan semuanya mengikuti langkahnya menuju kearah lift. Dania ingin menepuk dahinya, pengalamannya naik lift rasanya belum cukup banyak. Dia menahan tangan Hanafi agar tidak masuk duluan agar dirinya tidak kebingungan apa yang akan dilakukannya didalam, Hanafi tersentak kaget namun bisikan Dania membuatnya memahami maksud Dania menahannya. “ Lift.” Kata Dania pelan.
Akhirnya rombongan pertama yang naik adalah rombongan putra bersama Pak Anwar dan manager hotel itu. Hanafi tersenyum padanya, lalu dia membalas dengan bisikan. “ Merasa kagok?” Kata Hanafi dengan senyuman yang sedikit menggodanya. Dania hanya menutup bibirnya menahan senyum sambil mengangkat alisnya serasa itu adalah sebuah jawaban yang bermakna iya. Tak lama kemudian mereka masuk lift diikuti oleh Ibu Marhumah dan rombongan kedua. Terus naik keatas dan begitu terbuka mereka sudah sampai dideretan kamar-kamar. Dania dan Ibu Marhumah berada paling depan yaitu dikamar pertama, manager hotel tampan itu sudah menunggu didepan pintu dan mempersilahkan keduanya masuk. Kagetnya Dania melihat isi kamarnya, sungguh begitu indah dan rasanya begitu nyaman. Kantuknya mulai membius. Ingin segera dia melepas penatnya.
***

“ Ada apa tadi bang?” Dania kembali menghujani Hanafi dengan pertanyaan yang masih bergantung dikepalanya. Keduanya sedang duduk manis di bagian teras hotel yang menghadap keluar. Jam ditangan Dania sudah menunjukkan pukul 20.30 wib. Memang sehabis makan malam tadi dia belum langsung tidur dan memilih untuk duduk diteras hotel. Rombongan yang lain memilih untuk istirahat karena kelelahan setelah tiga hari di perjalanan. Hanya dirinya dan Hanafi yang masih terjaga. Ibu kepala sekolah belum tidur namun hanya dikamar saja mencharge ponselnya sambil menelepon. Hanafi memang belum tidur, dia tampak tadi sempat turun kebawah lalu naik lagi dan menduduki kursi disebelah Dania.
“ Yang mana?” Hanafi bertanya balik.
“ Rasanya ada hal yang harus Dania tahu bang, tadi yang ketika di resepsionis abang terlihat sedemikian paniknya, lalu mendadak manager hotelnya itu seperti kenal dengan Dania. Membingungkan bang.”
“ Oh itu. Tadinya abang sempat kaget karena ketika abang bertanya di resepsionis tadi ternyata nama hotelnya berbeda dengan nama hotel yang sebelumnya diberitahu oleh pihak travelnya. Ini hotelnya lebih besar, karena hotel yang abang pesan itu seperti wisma yang lebih kecil, makanya abang kaget kenapa Pak Asep membawa kita kesini. Ini diluar dugaan.” Katanya.
“ Hah, lalu bagaimana? Sudah tahu salah kenapa masih diambil?”
“ Pak Asepnya bilang kalau dari travelnya yang dituju betul disini. Karena panik dan kaget pak Asepnya menelepon bosnya di travel, ternyata bos nya tersebut yang memindahkannya kesini. Tadi abang sempat browsing di internet, harga perkamar dihotel ini untuk permalamnya itu dua kali lipat dari hotel yang abang pesan sebelumnya. Entah apa alasannya sampai akhirnya seperti ini, namun sampai ini yang terpenting adalah anak-anak bisa beristirahat dan besok persiapan untuk perlombaan. Untuk masalah ini biar abang yang mencoba selesaikan bagaimana baiknya, dan agar tidak menimbulkan hal-hal diluar dugaan, abang minta Dania berusaha untuk tetap tenang dan tidak memberitahukan siapapun.” Kata Hanafi lagi.
“ Ya Allah, bang. Bagaimana bisa seperti itu?” Dania terkejut luar biasa.
Terbayang bagaimana pusingnya hati Hanafi karena semua ini. Bila benar seperti dikatakan Hanafi tadi, pengeluarannya juga pasti akan diluar dugaan. Terlihat ada raut kegelisahan di wajah laki-laki tampan itu yang memang tidak bisa disembunyikan. Serasa bebannya bertambah. Urusan ini belum selesai, besok dia harus mengurus yang lain. Nafasnya terlihat berat.
“ Makanya berdoa saja semoga semua baik-baik saja. Besok abang coba konfirmasi dengan pihak travelnya. Apakah ini disengaja atau ada kesalahan. Sementara istirahat saja dulu.” Katanya lesu.
“ Ya Allah, kasihan abang ini. Abang istirahat juga bang, jaga kesehatannya. Serahkan saja semuanya kepada Allah bang.” Kata Dania lagi.
“ Iyaa, Insya Allah.” Kata Hanafi.
Daniapun rasanya ingin ikut menangis mendengarnya. Bila benar bahwa terjadi kesalahan, maka berapa banyak anggaran yang akan mereka keluarkan selama sepuluh hari disini. Di benaknya Dania, hotel semewah ini dengan kamar hotel yang bak kamar putri raja itu pasti harganya juga tidak murah. Dania sempat melihat-lihat isi kamarnya tadi. Ruangannya begitu luas, lebih luas dari kamar hotel di Pekanbaru yang pernah didatanginya. Bed nya juga dari busa tebak dan besar, lengkap dengan selimut tebal dan bantalnya. Didalamnya sudah ada televisi berukuran besar, AC, dan meja kecil yang diatasnya ada lampu tidur berukuran sedang. Di dindingnya ada lukisan besar bergambar candi Borobudur. Sementara kamar mandinya juga standar hotel mewah, sudah ada shower dan toilet duduk dan dua jenis air yang berbeda yaitu air dingin dan air hangat. Hotel dengan kamar seperti ini kalau di Pekanbaru bisa mencapai 300 ribu sampai dengan 350 ribu permalamnya. Bisa dibayangkan tujuh kamar dengan harga segitu selama 10 hari kedepan. Bahkan dana anggaran mereka semuanya juga rasanya akan tetap nombok hanya untuk membayar sewa menginap. Entah bagaimana nantinya Hanafi menyelesaikan semua masalah ini. Dania sedih mendengarkan dan sedikit menyesalkan mengapa lelaki itu tidak benar-benar memastikan semuanya benar-benar fix sebelum berangkat. Kalau sudah begini jelas akan mengganggu, terlebih mulai besok kegiatan perlombaan sudah dimulai. Waktu akan terus menyempit, sementara Hanafi hanya akan mengandalkan ponselnya untuk penyelesaian masalahnya. Dania yakin malam ini Hanafi tidak akan nyenyak istirahatnya, begitupun Dirinya. Meskipun semua ini menjadi tanggungjawab Hanafi, namun dia juga tidak bisa berdiam diri, karena mau tidak mau masalah itu selalu muncul dikepala dan membuatnya mendadak pusing memikirkannya.
***

Akhirnya hari besar itu datang juga. Jam enam pagi semua rombongan sudah turun kebawah untuk berolahraga agar fisik mereka terjaga. Tim kontingen olahraga terutama. Meski begitu semuanya akhirnya ikut turun dan berolahraga bersama. Pak Anwar kali ini yang memimpin senam dan latian fisik bagi putra dan putri, sementara tim untuk keagamaa hanya mengikuti senam lalu kemudian menjadi penyemangat teman-temannya. Memang ada dua perlombaan olahraga yang diikuti yaitu Futsal dan bulu tangkis.  Untuk tim futsal terdiri dari Jais, Ahmad, Fikri, Zul, Agung, Bani dan Fatur. Sementara untuk bulu tangkis adalah Fadli, Rafli, Dandi, Vio dan Annisa. Untuk tim keagamaan murotal ada Hindun dan Ahmad Rofi. Untuk dialog Bahasa Inggris diwakilkan oleh Annisa, Rani dan Wella. Sementara untuk cerdas cermatnya terbagi dua tim yaitu tim A beranggotakan Hani, Hindun, dan Fadli, untuk tim B terdiri dari Annisa, Rani, dan Agung. Wajah-wajah mereka tampak bersemangat untuk menghadapi lawan-lawan mereka yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Wajah mereka yang segar dan penuh keyakinan untuk melakukan yang terbaik untuk mengharumkan nama sekolah dan daerah asal.
Dania dan Hanafi sebagai pembimbing mereka terus memberikan suntikan motivasi di tengah kegalauan mereka untuk masalah besar yang sedang begelayut di pikiran mereka. Dania berulang kali melihat raut semangat membara dan kegelisahan menghiasi wajah guru olahraga itu. Dia juga mampu membakar semangat tim keagamaan dengan menceritakan kesuksesan saat memenangkan perlombaan membaca Al Qur’an tingkat Kabupaten yang membuatnya dibelikan motor oleh orangtuanya.  Semangat membaranya seakan berhasil menutupi setiap detiknya yang meronta untuk menyelesaikan segenap pikiran-pikiran yang terus menghantuinya sendiri.
“ Ingat, kalian adalah harapan sekolah, harapan tanah Indragiri Hilir, bahkan harapan seluruh warga Riau. Tunjukkan bahwa kita yang berasal dari daerah kecilpun mampu menjadi pemenang mengalahkan semua lawan-lawan kita. Untuk tim keolahragaan, fisik dan fair play menjadi kuncinya. Tim futsal ingat kerjasama kalian sangat dibutuhkan, begitu juga untuk tim bulu tangkis. Ingat teman satu tim, kalian datang dengan tekad yang sama. Untuk tim keagamaan, tetaplah tenang menghadapi semua, jangan terpengaruh dengan lawan kompetititor kalian, tampilkan semua yang terbaik!”
Kata-kata Hanafi seakan menyulut sumbu semangat mereka.
“ Siapa disini yang mau menang?,siapa disini yang datang dari jauh untuk membawa pulang kemenangan?” Teriak Hanafi lagi yang disambut dengan teriakan semangat dari semua kontingen yang ada. Dania tanpa sadar meneteskan airmata haru melihat semua itu. Perjuangan akan segera dimulai, semuanya memikul tanggungjawab masing-masing. 
Semakin lama rasanya tampak tidak ada kegelisahan ditampakkan oleh Hanafi. Lelaki tampan itu memang mampu menyalakan sumbu-sumbu semangat bagi semua kontingen. Bukan main. Dania hanya bisa tersenyum di dalam hatinya. Pak Anwar dan Ibu Marhumah sebagai senior bahkan sempat berbisik pada Dania bahwa selama ada Hanafi, optimis mereka akan selalu ada. Guru olahraga tampan itu memang layak berada disini. Dia berhasil membuat suasana menjadi membara, meskipun Dania tahu kalau didalam pikiran Hanafi pasti sedang berkecamuk oleh perihal hotel itu. 
Tepat pukul 07.30 semua peserta sudah kembali naik dan bersiap-siap. Dania juga melakukan hal yang sama, setelah mandi dan berpakaian dia segera beranjak turun lagi kebawah. Terlihat pak Asep, supir travel itu sudah menunggu mengantarkan rombongan menuju lokasi. Hari ini Dania sengaja make up dan tampil cantik. Dia mengenakan setelan musliman sarimbit dinas disekolah berwarna biru muda, dengan jilbab surban berwarna putih pemberian Satrio. Make up nya sedikit tebal dari biasanya. Lipstiknya berwarna merah tebal, maskara juga disematkan sehingga membuat matanya terlihat lentik dan semakin cantik. Beberapa orang yang juga menginap di hotel tersebut tampak terus-terusan memandangi dirinya. Dania begitu risih bila terus-terusan diperhatikan. Namun dia memutuskan untuk acuh saja. 
“ Pak Asep sudah disini?” Tanya Dania pada supir tua itu.
“ Sudah bu, saya diberi tahu pak Hanafi kalau tepat pukul 07.30 sudah berangkat. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel menuju ke lokasi, namun karena masih pagi dan jalanan kerap macet sementara acaranya dimulai satu jam kemudian jadinya saya segera kesini, agar sampai tepat waktu.” Lapor pak Asep.
“ Wah betul juga. Bapak sudah cukup berpengalaman ya.”
“ Alhamdulillah. Kalau menjadi supir sudah sejak muda, namun sebagai supir travel baru sekitar satu tahun setengah kok bu.” Jawabnya.
“ Memangnya bapak asli Jogja ya?” Tanya Dania.
“ Saya aslinya Kuningan, dekat Garut. Dulu saya kerja sebagai penjaga parkir di kampus tempatnya mas Ali kuliah. Sampai akhirnya saat berhenti menjadi petugas parkir lalu memilih menjadi supir di PT Semen lokal. Sampai akhirnya suatu hari mas Ali mengajak saya bekerja di travelnya,” Katanya.
“ Oh, jadi pak Ali itu pemilik travel tempat bapak bekerja?”
“ Pak Ali itu seperti direkturnya begitu bu. Kalau pemiliknya itu teman kuliahnya pak Ali, katanya mereka berdua yang mendirikannya bersama.”
“ Ooooohh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Dania.
“ Pak Ali itu baik sekali. Saya itu disini selalu diberi bonus.” Lanjutnya.
“ Kalau temannya pak Ali yang satu lagi, pemiliknya. Siapa namanya?”
Baru saja Dania melempar pertanyaan itu dan belum sempat di jawab, mendadak muncul Hanafi yang langsung memotong pembicaraan dengan menyapa pak Asep. Ternyata Hanafi juga sudah siap. Dia mengenakan pakaian sarimbit yang seragam dengannya. Pakaiannya rapi, dengan menggunakan sepatu mengkilap, begitu juga dengan rambutnya seperti habis disiram minyak. Hitam dan terlihat tebal. Parfumnya langsung membius Dania dan membuatnya serasa melayang diawang-awang.
“ Kok melongo?” Hanafi membangunkan dirinya,
“ Tidak ada apa-apa abang. Ini jadi berangkat sekarang?” Tanya Dania.
“ Tunggu yang lain turun, sedang bersiap-siap.” Jawab Hanafi.
“ Pak Asep sudah sarapan?” Tanya Hanafi pada pada pak Asep. 
“ Sudah pak. Siap berangkat.” Jawab pak Asep.
Tak lama rombongan sudah turun kebawah. Ramainya bukan main mereka. Pakaiannya juga seragam dengan menggunakan pakaian kemeja seragam.Memang sebelum berangkat sudah menyiapkan kostum yang seragam, selain sebagai simbol kekompakan juga untuk menunjukkan agar mereka memiliki tekada dan semangat yang sama.
“ Siap berangkat?” Kata Hanafi kepada mereka.
“ Siap pak!” Mereka menjawab kompak dengan berapi-api.
“ Silahkan pak.” Kata Hanafi kepada pak Asep.
Pak Asep mengangguk dan segera beranjak keluar pintu hotel menuju ke bis nya yang terparkir disisi kanan hotel. Sementara tak lama Pak Anwar dan Ibu Marhumah juga sudah turun . Anak-anaknya ramainya bukan main, ada yang berdoa sebelum berangkat, ada yang berfhoto, dan ada juga yang sibuk menelepon. Hanafi sendiri sudah mendahului bersama dengan pak Asep tadi. Dania segera berdiri dan menyusul mereka. Ternyata di bis nya sudah terpasang spanduk yang betuliskan nama sekolah mereka. Para siswanya itu langsung menyerbu dan berfhoto didepan spanduk.
“ Ibu, ikut sini ibu.” Teriak mereka kepada Dania. Dania langsung saja bergabung, diiringi oleh tepuk tangan riuh bis itu segera dihidupkan dan siap untuk menerjang jalanan kota Jogja. 
***
Bis yang dikendarai pak Asep terus melaju membelah jalanan. Pagi ini pak Asep memutar lagu dangdut koplo untuk menambah suasana ceria, beberapa siswa kontingen malah berjoget di dalam bis. Sungguh ini seperti perjalanan wisata, bukan sebuah perjalanan yang sebentar lagi akan membuat mereka menguras pikiran dan tenaga. Fikri dan Zul yang terlihat paling bersemangat sedari tadi, suara mereka selalu terdengar dengan bercanda satu sama lain. Mereka sempat mengatakan kalau tim futsal mereka akan melibas lawan-lawan dengan sepakan keras mereka. Sementara yang lain menggoda mereka karena keduanya memiliki kulit yang kehitaman sehingga nanti di lapangan akan dikira bukan orang Sumatera. Tawa pun pecah di bis itu. Dua siswanya itu memang selalu ramai dimanapun, bahkan di kelas juga kerap membuat suasana riuh. Beberapa kali Dania menghukum mereka karena tidak mengerjakan PR. Meskipun begitu, prestasi mereka di bidang olahraga memang cukup diakui, karena berhasil memenangkan piala antar sekolah menengah di Provinsi. Berkali-kali Hanafi memberi motivasi namun juga memberikan wejangan kalau tidak boleh takabur. Meskipun tim futsal mereka juara di Provinsi, namun lawan mereka nanti juga dari berbagai provinsi di Indonesia yang lebih maju dan prestasinya juga luar biasa. Tim yang berasal dari Jawa terutama yang dianggap sebagai rival paling berat, karena pelatihan dan pengalaman bertanding mereka yang sudah tidak diragukan lagi. Hanafi sempat mencari tahu lawan-lawan mereka, ada beberapa tim sekolah di Jawa bahkan ada yang pemainnya sudah masuk di Timnas junior. Bukankah itu sebuah tantangan. Secara mental mereka lebih unggul. Tim futsal dari ibukota juga berisi pemain-pemain yang kerap muncul di kompetisi bergengsi. Jadi, lawannya juga pasti tangguh. Itu mungkin alasan kenapa Hanafi terus memberikan support dan bimbingan agar mental dan semangat anak-anak asuhnya itu tidak kendur.
Bis terus berjalan. Hampir 20 menit diperjalanan rombongan sudah sampai di lokasi penyelenggaraan yaitu di UIN Sunan Kalijaga. Bukan main takjubnya melihat gedung kampus universitas islam yang terkenal itu. Bangunannya besar dan serasa sebuah universitas di Timur Tengah. Begitu masuk kedalam lingkungan kampus sangatlah terasa aroma akademiknya, disana sini banyak mahasiswi behijab dan mahasiswa yang berpakaian rapi. Tidak tampak kerumuman mahasiswa yang sedang duduk bergosip, namun banyak terlihat berdiskudi dengan temannya. Bangunan sungguh besar dan menjulang tinggi dengan warn putih mendominasi, pohon-pohon rindang membuat kampusnya menjadi sejuk. Belum lagi sapaan para mahasiswanya seakan-akan semuanya adalah saudara. Pagi itu sangat ramai, hampir seperti suasana disebuah tempat wisata. Bis-bis dan ratusan orang tampak berkumpul, puluhan kontingen dari berbagai daerah juga terlihat bersemangat. Pesta besar itu akan segera dimulai.
***

Pembukaan penyelenggaraan perlombaan antar Madrasah pagi itu resmi dibuka oleh Menteri Olahraga yaitu bapak Imam Nahrawi. Pagi itu pak Menteri memang hadir guna membuka pagelaran perlombaan ini. Tidak hanya Menteri Olahraga, ternyata juga hadir Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan tokoh nasional yang juga merupakan wakil DPR RI, Fahri Hamzah. Kehadiran mereka seakan memberikan motivasi dan semangat baru bagi para kontingen yang akan berkompetisi. Fahri Hamzah yang berpidato dengan suara lantangnya seperti seorang jenderal yang membuat siapapun yang mendengarnya langsung terbakar semangatnya. Tidak hanya kehadiran mereka saja, acara itu juga dihadiri oleh penyanyi religi terkenal, Opick.
“ Adapun penyelenggaraan kompetisi ini tidak lain tidak bukan adalah komitmen kami dari Kementrian Olahraga dan Kementrian Agama Republik Indonesia untuk menjadikan generasi muda sebagai bibit unggul penerus generasi dimasa yang akan datang. Dari perhelatan ini diharapkan nantinya generasi baru akan bermunculan dan membawa nama besar negara.” Demikian pidato Menteri Olahraga, Imam Nahrawi.
Kehadiran tokoh-tokoh penting itu menunjukkan kalau perhelatan ini memang sudah dalam skala besar. Ada beberapa cabang perlombaan. Pesertanya juga berasal dari semua Provinsi di Indonesia. Tepukan membahana terus menghiasi ruangan besar itu. Entah sepertinya seribuan orang didalamnya. Ruangan besar itu bahkan memiliki tingkat diatas yang juga diisi oleh kontingen dan para pembimbing yang berasal dari daerah-daerah. Kursi-kursinya sepertinya tidak terhitung. Rombongan Madrasah Al Aminah Tembilahan berada di nomor dua paling kanan, ternyata pemilihan posisi duduknya juga sudah ditentukan dan diacak tidak berurutan seperti urutan Provinsi. Disebalah kanan Madrasah Al Aminah adalah kontingen dari perwakilan Provinsi Jawa Tengah, disebelah kiri adalah kontingen perwakilan Provinsi Maluku, di depan dan belakang diapit oleh Provinsi dari Timur Indonesia yaitu Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pakaian mereka juga seragam. Jawa Tengah mengenakan seragam biru tua, Maluku menggunakan seragam biru tua, Nusa Tenggara Timur menggunakan warna biru muda, sementara kontingen Nusa tenggara Barat dan Madrasah Al Aminah kompak menggunakan warna biru cerah. Sepertinya khusus untuk pembukaan memang sudah diatur warnanya. Telihat memang di deretan lain juga kompak menggunakan warna hijau, merah, kuning, dan warna lainnya.
Pembukaan itu memakan waktu yang lama, dimulai sejak pukul 09.00 selesai pada pukul 11.00 yang kemudian dilanjutkan dengan pencabutan undian untuk perlombaan futsal dan lomba keolahragaan. Semntara untuk Perlombaan murotal Al Qur’an akan diselenggarakan sehabis jam makan siang dan berada di gedung sebelah. Para peserta tampak menantikan hasil undian. Lawan juga akan menentukan untuk berlanjut ke tahap selanjutnya. Gagal diawal akan membuat langkah mereka terhenti.
Cukup lama menanti giliran undian  tersebut dengan berharap-harap cemas. Hingga akhirnya nama Madrasah Al Aminah Tembilahan sebagai wakil dari Provinsi Riau disebut juga. Bola kecil berwarna putih itu samar-samar diliatkan oleh Menteri Olahraga kepada semua hadirin. Lalu dengan lantangnya dia mengucapkan hasilnya yang disambut dengan teriakan oleh pembawa acaranya.
“ Madrasah Al Aminah Tembilahan Provinsi Riau berhadapan dengan Madrasah Ibnu Sina Muhammadiyah 1 Kabupaten Bandung Jawa Barat!”
Tepukan riuh membahana mengiringi hasil undian itu. Tim kontingen Madrasah Al Aminah sendiri justru merasa lemas mendengarnya. Sepertinya itu adalah ketakutan mereka yang menjadi nyata. Melawan tim dari Jawa di awal kompetisi jelas akan menjadi mimpi buruk bagi mereka. Tim dari Jawa memang terkenal menjadi kompetitor yang disegani. Tampak wajah-wajah panik di ketujuh wakil sekolah itu. Dania hanya bisa melihat dan menangkap kegelisahan mereka. Untungnya Hanafi kembali memberi suntikan semangat pada mereka untuk berjuang dan memenangkan pertadingan, sehingga sedikit terangkat juga motivasi mereka kembali.
“ Tim Jawa Barat itu sangat kuat. Mereka pernah menang di kompetisi yang sama tahun lalu, sebagai juara kedua.” Kata Zul dengan nada cemasnya.
“ Mereka juga pasti punya pola permainan dan tehnik yang lebih baik dari kita. Bagaimana ini pak?” Tanya Fikri kepada Hanafi.
Hanafi tersenyum melihat kecemasan anak-anak asuhnya itu.
“ Hei, siapa yang ingat waktu kita melawan tim futsal dari Kampar? Mereka tekhnik dan pola permainannya juga bagus, bahkan sedari awal mereka di potensikan sebagai juara, tapi akhirnya yang menang adalah kita. Kenapa? Karena waktu itu kita bermain kompak dan bagus. Tunjukkan itu kepada mereka kawan. Bila tim ini solid, kita pasti mendapatkan hasil yang terbaik.” Kata Hanafi lagi.
Semua rombongan itu mengamini saja perkataan guru olahraga nan tampan itu. Meskipun kecemasan akan kekalahan sudah terbayang, namun mereka berjanji keesokan harinya akan berusaha semaksimal mungkin untuk bermain bagus. Kepercayaan dari sekolah, dari Kabupaten, dan beban moral mewakili Provinsi sekarang ada di pundak mereka. Tugas mereka adalah memberikan hasil yang terbaik. Untuk membawa pulang kemenangan.
***


Bagian 10 : Hari Yang Baik

Setelah menunggu dengan waktu yang sedikit molor akhirnya perlombaan keagamaan akhirnya dimulai juga. Lokasinya ada digedung sebelah. Rombongan Madrasah Al Aminah langsung saja menelusuri jalan kecil di kampus UIN Sunan Kalijaga itu menuju ke lokasi. Ternyata lokasinya adalah sebuah gedung disisi lain. Cukup besar. Ramai berjejalan orang untuk memasuki ruangan itu. Tapak kursi-kursi sudah terisi penuh oleh orang-orang yang akan menonton perlombaan pembuka di perhelatan besar itu. Lomba pertamanya adalah Murotal Al Qur’an untuk putra dan putri. Para peserta tampak sudah bersiap-siap. Nanti nama peserta akan dipanggil sesuai dengan nama dan asal daerah. Mereka akan tampil dipanggung yang dilihat oleh ratusan orang dan membaca surah yang akan di sebutkan oleh pembaca acaranya dan kemudian dinilai oleh juri yang duduk didepan. Sebelum acara dimulai sempat ditampilkan nama-nama juri yang akan menilai, beberapa amanya memang cukup familiar karena merupakan ustadz yang sering muncul di televisi, semetara yang lain adalah dosen dan tokoh agama. Juri yang kompeten, penonton yang banyak, dan tantangan membaca surah yang belum dipersiapkan, jelas menjadi atmosfir menakutkan bagi peserta.
Hindun dan Ahmad Rofi yang mewakili Madrasah Al Aminah bahkan sempat mengatakan nervous luar biasa. Dania dan Hanafi terus memberikan suntikan motivasi agar mereka tidak kehilangan semangatnya. Tampak kedua anak asuhnya itu terus-terusan menunduk dan membaca doa didalam hati. Sesuai dengan rundown yang sudah diberikan panitia, Hindun dan Ahmad Rofi yang mewakili Provinsi Riau memang akan tampil di sesi pertama. Memang seperti yang sudah dikatakan bahwa, ada dua sesi nantinya. Sesi pertama dimulai pukul 13.00 sampai dengan 17.00, lalu dilanjutkan sehabis maghrib di sesi kedua pada pukul 19.00 sampai dengan pukul 22.00. Panitianya juga mengkonfirmasi kalau untuk perlombaan dialog Bahasa Inggris akan dilakukan di gedung yang sama keesokan harinya sampai lusa. Untuk dialog Bahasa Inggris, kontingennya tidak sebanyak murotal yaitu hanya berjumlah 20 tim dari 20 Provinsi. Mereka akan diadu jejak berpendapat dalam Bahasa Inggris dengan durasi yang sudah ditentukan dan akan dinilai oleh juri yang berasal dari background agama dan akademis. 
Perlombaan dimulai ketika pembawa acara mulai membacakan urutan peserta. Urutan pertama akan adalah tim murotal dari Provinsi Sumatera Barat, lalu dilanjutkan perwakilan dari Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jambi. Setelah break, akan dilanjutkan oleh peserta dari Riau. Berada di urutan kelima membuat Hindun dan Ahmad sedikit bisa bernafas meskipun mereka tidak bisa menyembunyikan rasa nervous yang terus melandanya. 
Peserta pertama berasal dari perwakilan Sumatera Barat naik keatas panggung. Kedua perwakilan putra putri itu tampak suaranya sedikit bergetar saat ditanya oleh pembawa acaranya. Mungkin mereka merasakan nervous yang sama seperti Hindun dan Ahmad Rofi. Kedua perwakilan dari Sumatera Barat itu memakai pakaian berwarna kuning, lengkap dengan selendang khas daerah mereka. Kedunya mendapat tantangan membaca Surah Al Waaqi’ah. Mereka akan membacakan surah tersebut yang tidak berurutan. Benar-benar sebuah tantangan yang cukup membuat keringat dingin diatas panggung. Dengan diawali dengan mengucapkan salam dan Basmallah, perwakilan dari Sumatera Barat itu mulai membaca surah tersebut. Perwakilan putranya yang mengawali kemudian dilanjutkan oleh putri. Suara keduanya terdengar lantang, jernih, dan sangat indah. Nyaris tidak ada kesalahan sama sekali untuk tajwidnya. Bahkan mereka membuat Al Qur’an dibaca seperti penyair yang sedang berpuisi. Saking indahnya hampir semua yang mendengarkan bagaikan tersihir. Suasana ruangan gedung itu mendadak sunyi dan tenang. Hanya ada suara Al Qur’an yang dibacakan oleh kedua perwakilan dari Sumatera Barat itu. Tepuk tangan menghujani mereka begitu selesai menyelesaikan tugasnya. Berlanjut ke peserta kedua yaitu berasal dari Jawa Timur. Tidak kalah dengan peserta pertama, peserta perwakilan dari Jawa Timur ini juga sukses membius penonton. Mereka kebagian membacakan Surah Al Kahfi. Peserta dari Tenggara Barat mendapatkan bagian Surah Al A’ Raaf, peserta dari Jambi mendapat tantangan untuk membaca Surah Al Baqarah.
Tiba giliran untuk peserta perwakilan dari Riau, yaitu Hindun dan Ahmad Rofi. Dengan tergugup dan tangan gemetar mereka menyalami tangan Dania, Hanafi, Pak Anwar, dan Ibu Marhumah, seakan meminta restu untuk menyelesaikan tugas beratnya. Dania hampir menangis melihatnya. Doa terus dipanjatkan agar anak asuhnya tersebut mampu menyelesaikan tantangan dengan baik. Dipeluknya Hindun sebelum anak itu beranjak menuju kearah panggung. Hanafi yng disebelahnya mengusap pundak Dania seakan menenangkan agar memberikan kepercayaan kepada Hindun dan Ahmad Rofi. Kedua anak asuhnya itu naik keatas panggung dengan diiringi oleh tepukan membahana dari para penonton. Bagi Hindun dan Ahmad Rofi, suara tepukan itu menggema dan nyaris membuat kakinya tak mampu untuk melangkah. Disalaminya kedua pembawa acara yang sudah menanti mereka.
“ Okeeee, sekarang kita sudah ada peserta kelima. Hani, coba tanya dulu, ini mereka jauh-jauh dari Riau loh. Tanya namanya siapa?” Kata pembawa acara yang pria kepada temannya.
“ Haloo, ini dari Riau ya. Namanya Siapa?” Tanya pembawa acara.
“ Ahmad Rofi.” Jawabnya pendek.
“ Baik, ada Rofi, yang cantik ini siapa namanya?”
“ Hindun.” Kata Hindun.
Kedua pembawa acara itu tertawa. “ Ada sedikit nervous ya, semoga ketika membaca tantangan nanti bisa lancar ya. Baik, Ustadz Solmed silahkan berikan tantangan kepada adik-adik kita dari Riau ini.” Lanjut mereka.
Ustadz Soleh Mahmud atau yang biasa dikenal sebagai Ustadz Solmed itu adalah salah satu jurinya. Dengan menggunakan mikropon, ustadz muda itu menyebutkan tantangan untuk Hindun dan Ahmad Rofi. “ Baik, untuk adik-adik dari Madrasah Al Aminah Tembilahan Provinsi Riau, surah yang harus dibaca adalah Surah Al Anfaal ayat 20 sampai dengan ayat 71.”
“ Baik, itu dia tantangannya. Sebentar lagi adik-adik ini akan membacakan Surah Al Anfaal ayat 20 sampai dengan ayat 71 secara bergantian, dimulai dari yang putra lalu yang putri. Oke hadirin sekalian, kita sambut peserta kelima di lomba Murotal antar Madrasah 2017 yang berasal dari Provinsi Riau, Madrasah Al Aminah Tembilahan!”
Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan itu. Ahmad Rofi tampak sudah bersiap-siap. Dengan membaca Basmallah dia mulai membacakan ayat yang pertama. Seluruh hadirin mendadak sunyi dan menikmati keindahan bacaan yang demikian fasih dan indahnya itu. Ahmad Rofi memang pernah mengikuti MTQ namun tidak sampai menjadi juara, Dania yang memilihnya atas rekomendasi banyak pihak. Bacaan jernih dan tidak ada kesalahan sama sekali. Selesai Ahmad Rofi membaca ayatnya, dilanjutkan tugasnya oleh Hindun. Hindun tidak kalah. Suaranya seperti sebuah oase yang memeberikan kesejukkan. Beberapa orang yang mendengarkan lantunan bacaannya menitikkan airmata. Dania jangan ditanya, airmatanya sudah tumpah sedari tadi. Rasa bangga dan haru bercampur aduk. Berulang kali dia mengelap wajah cantiknya dengan tisu. Kedua anak asuhnya itu memang berhasil memukau banyak orang, terlebih dirinya.
Bacaan surat yang dibaca Hindun serasa bercerita dari isi makna ayat-ayat tersebut. Surah Al Anfaal yang berarti rampasan perang itu bercerita tentang peperangan pada zaman Rasulullah SAW saat menegakkan agama Islam. Didalamnya mengandung makna sifat-sifat orang muslimin, kewajiban mematuhi perintah Allah, larangan melarikan diri dari pertempuran dan lain-lain. Surah itu dibaca sedemikian indahnya sehingga mampu menghipnotis ratusan orang yang mendengarkan Hindun membacanya.
Tepuk tangan kembali membahana begitu Hindun menyelesaikan tugasnya. Hampir semua penonton berdiri dan memberikan penghormatan kepada kedua anak asuh Dania itu. Bahkan ketiga juri ikut berdiri dan memberikan tepuk tangan kepada Hindun dan Ahmad Rofi. Bukan main bangganya Dania melihat semua itu. Tangisnya tak mampu ditahan lagi, kali ini dia benar-benar tidak kuasa melihatnya. Kedua anak asuhnya itu berhasil menuntaskan tugasnya dengan sangat baik. Rasa haru membuncah menjadi kebahagiaan. Apapun hasilnya nanti, setidaknya ditengah kelelahan setelah melewati perjalanan panjang, kedua anaknya itu mampu menaklukan panggung dan memberikan kebahagiaan bagi semua rombongan.
Begitu Hindun dan Ahmad Rofi turun panggung dan menghampiri rombongan mereka, spontan saja semuanya menyalami dan memberikan selamat kepada keduanya yang sudah berhasil memukau juri dan penonton. Hindun menangis haru dipelukan Dania. Ternyata dia berhasil menaklukan rasa nervousnya menjadi sebuah kekuatan yang mampu menghipnotis ratusan orang di dalam ruangan itu. Dania memeluk Hindun dengan eratnya. Airmata harunya juga terus mengalir membasahi wajah cantiknya. Dia berjanji akan memberikan hadiah kalau anak asuhnya itu nantinya berhasil mendapat nilai tinggi dimata juri.
“ Kalian luar biasa.” Hanya itu yang bisa dikatakan Dania.
“ Berkat ibu yang selama ini selalu sabar membimbing, memotivasi, dan memberikan banyak hal sehingga akhirnya tugas kami selesai.”
Begitu yang dikatakan Hindun yang diamini oleh Ahmad Rofi.
“ Kalian sudah membahagiakan.” Kata Dania lagi.
Tepuk tangan dari seluruh rombongan itu menyelesaikan akhir tugas keduanya untuk perlombaan kali ini. Namun ini masih tahap awal. Hindun akan kembali berlaga di kompetisi cerdas cermat di hari ketiga. Sementara Ahmad Rofi tugasnya sudah selesai karena dia memang hanya ikut disatu perlombaan saja, setelah ini dia akan membantu Hanafi dan Pak Anwar sebagai tim untuk teman-temannya yang berlomba dikompetisi berbeda. 
Jam ditangan terus bergulir detik dan menit. Peserta-peserta mewakili daerahnya masih-masing juga tampil baik. Suara indah mereka saat membacakan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an menyejukkan di hari pertama ini. Rasanya mereka enggan untuk beranjak, karena lantunan ayat-ayat itu dan aroma kompetisi yang membuat semua rombongan rela berlama-lama ditempat itu. Hingga akhirnya tepat pukul 22.00 acara dhari pertama dinyatakan selesai, dan akan berlanjut di hari kedua. 
***
Hari kedua ini jumlah supporter untuk Madrasah Al Aminah sudah terbagi dua karena masing-masing sudah mulai fokus dengan perlombaannya masing-masing. Di hari kedua ini lomba yang diikuti oleh kontingen dari Madrasah Al Aminah adalah Futsal, Bulu tangkis, dan Dialog berbahasa Inggris. Lomba kelas berat ini akan diadakan dalam waktu yang bersamaan namun ditempat yang berbeda, sehingga nantinya akan terpisah. Tim Futsal akan dipandu oleh Hanafi, tim yang di Bulu tangkis bersama dengan Pak Anwar, sementara untuk peserta dialog berbahasa Inggris dipandu oleh Dania dan Ibu Marhumah. Yang kasihan adalah Annisa, karena waktu lomba yang bersamaan begitu selesai satu  lomba dia harus berada ditempat lain. Annisa  hari itu memang mengikuti dua perlombaan sekaligus yaitu Dialog dan Bulu tangkis. Pagi-pagi sekali dia bersama tim keolahragaan sudah bangun dan latihan fisik, sementara malamnya harus latihan lagi untuk lomba dialog ini. Para guru-guru pembimbing terus memberikan supportnya. Tidak hanya untuk Annisa, namun juga untuk siswanya yang lain yang juga double perlombaan. 
Tim futsal sudah berangkat pagi-pagi diantarkan oleh pak Asep ke sebuah lapangan yang tidak jauh dari kampus tersebut. Pihak penyelenggara sepertinya memang menyiapkan lapangan diluar gedung untuk beberapa pertandingan, agar semua pertandingan bisa berjalan dalam waktu bersamaan. Tim futsal yang terdiri dari Fikri, Zul, Ahmad, Jais, Bani, Fatur, dan Agung sudah bersiap untuk menghadapi lawan pertama mereka pagi ini. Lawan pertamanya adalah tim futsal dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang menurut Hanafi adalah salah satu tim yang wajib diwaspadai di awal pertandingan. Pertandingan pertama sangat menentukan untuk melangkah ke pertandingan selanjutnya. Bila gagal di pertandingan pertama, maka tidak ada harapan untuk pulang dengan hasil maksimal. Entah takdir apa yang membuat mereka harus berhadapan dengan tim dari Jawa Barat itu, namun tim futsal ini akan berjuang keras untuk bisa lolos ke babak selanjutnya.
Pertandingan futsal yang dilakukan di gedung olahraga ini untuk hari pertama berlangsung dari pagi sampai dengan sore hari, sesuai dengan rundownnya. Tim futsal bertanding sesuai dengan grupnya. Di hari pertama ini bila sebuah tim bisa memenangkan pertandingan maka akan berhadapan dengan tim lain di grup yang sama, sampai akhirnya didapatkan juara grup. Sistem yang digunakan adalah yang menang akan naik peringkat dan yang kalah akan terhenti langkahnya. Madrasah Al Aminah ada di grup B bersama dengan Madrasah Ibnu Sina Muhammadiyah Kabupaten Bandung, Madrasah Pembangunan 1 Palembang, dan Madrasah Muhammadiyah 1 Ungaran. Lawan berat itu Madrasah Ibu Sina Kabupaten Bandung. Mereka tidak hanya membawa guru pembimbing namun juga membawa pelatih dan tim sendiri.
Raut cemas muncul di wajah-wajah tim futsal Madrasah Al Aminah ini. Hanya ada satu orang yang tidak ada perubahan air muka sama sekali, yaitu Hanafi. Hanafi terus mempersiapkan semuanya untuk anak-anak didiknya itu berlaga. Dia paham betul apa yang dirasakan oleh anak-anak asuhnya, sehingga kehadiran dirinya sebagai pembakar semangat sekaligus pelatih mereka sangat dibutuhkan. Mereka akan bermain sebagai laga pembuka di fase grup. Waktu yang masih pagi dan segara tentu akan mempengaruhi fisik, jadi harapan itu akan selalu ada
Peluit yang ditiupkan wasit menandai pertandingan berbunyi. Para pemain mulai saling memburu bola dan menyerang satu sama lain. Starter dari Madrasah Al Aminah dipercayakan kepada Jais, Ahmad, Fikri, Zul, dan Agung. Agung bertindak sebagai kiper, sementara Fikri dan Zul sebagai penyerang. Bani dan Fatur bertindak sebagai cadangan untuk bek dan gelandang. Fikri dan Zul begitu lihai memainkan bola, berkali-kali dia mengecoh lawan dan terus menyerah dari sisi sebelah kanan dan kiri. Lawan mereka tidak kalah tangguh, hanya sampai setengah lapangan saja bola kembali direbut oleh mereka dan maju menyerang bersama dan cukup merepotkan lini belakang Madrasah Al Aminah.
Pemain bernomor punggung 10 dari Madrasah Ibu Sina Kabupaten Bandung itu bahkan nyaris merobek gawang yang dijaga Agung di menit ketiga. Hanafi sempat tertahan nafasnya melihat gelombang serangan yang benar-benar merepotkan pertahanan anak didiknya itu. Agung beberapa kali harus keluar kandangnya untuk menghentikan aksi para penyerang dari lawan.
“Agung, awas jangan lengah. Jaga sebelah kirimu itu.” Teriak Hanafi.
Buuuuuukk buk!
Tendangan keras dari pemain bernomor punggung 10 hampir menerobos gawang namun beruntung Agung masih sempat menangkisnya. Kini dia terjerebab dan terpaksa harus ditarik oleh Jais agar bisa kembali bangun. Peluit kembali berbunyi dan permainan kembali dimulai. Kali ini bola di bawa oleh Ahmad dari sisi kiri, dia mencoba melewati dua pemain dari Madrasah Ibnu Sina dan berusaha mempassing bolanya kepada Fikri. Namun sliding dari pemain dengan nomor punggung 7 berhasil menghentikan aksi Ahmad. Kini bola kembali dikuasai pemain lawan, pemain nomor 7 itu berhasil melewati Zul dan Jais. Ahmad berusaha merebut kembali bolanya, namun ternyata diluar dugaan pemain bernomor punggung 7 itu justru mengoper bola kesisi sebelah kiri kepada striker mereka. Kecepatan gerak yang susah diprediksi itu membuat pertahanan belakang tim Madrasah Al Aminah kalang kabut. Dengan sepakan keras, pemain bernomor punggung 10 berhasil menjebol gawang yang dijaga Agung.
Goool!
Teriakan para official tim dari Madrasah Ibnu Sina ketika tendangan keras yang dilancarkan striker mereka sukses menjebol gawang dan menjadikan mereka unggul sementara. Ahmad tampak sedikit kecewa, dengan sedikit menggerutu dia menuju kearah Agung dan membantu temannya itu berdiri. Peluit kembali berbunyi. Fikri yang membawa bola terus meringsek ke pertahanan lawan melalui sebelah kiri, dua pemain berhasil dilewatinya,namun pemain lain datang menyerbu. Kepayahan sendiri, diopernya bola kepada Zul yang berdiri bebas. Zul membawa bola kesebelah kanan dan mengincar gawang lawan. Pemain yang tadi mengerubuti Fikri berbalik arah menyerang ke arah Zul dan berusaha menghalang-halangi Zul menendang ke arah gawang. Zul merasa sedikit kesal dengan manuver para pemain lawan itu, dia menendang keras kearah gawang namun berhasil digagalkan oleh bek bernomor punggung 4. Pemain itu berhasil mendapatkan bola dan meringsek ketengah diikuti oleh ketiga pemain lawan lainnya. Pemain nomor punggung 10 kembali mendekat kearah gawang.  Jais berusaha melakukan blocking dengan menutupi jalan agar bola tidak di oper kearah pemain nomor punggung 10 itu, namun ternyata bola justru dibawa maju terus kedepan. Sepakan keras kearah gawang melaju kencang menuju kearah gawang. Agung dengan sigap melompat dan meninju bola, namun sangat disayangkan karena bola justru gagal landing di kaki Ahmad karena berhasil direbut oleh pemain bernomor punggung 7. Gelandang serang itu berhasil mengecoh Ahmad lagi dengan membelokkan arah bola kemudian melakukan tendangan keras ke sisi kiri gawang yang dijaga Agung. Agung berusaha menangkap dengan menjatuhkan diri namun dia gagal mengantisipasi, tendangan itu sedemikian keras menjebol gawangnya untuk yang kedua kali.
Gooool! Gooolll!
Lapangan kembali bergemuruh. Dua gol berhasil menjatuhkan mental tim Madrasah Al Aminah. Pertandingan berjalan dua puluh menit namun dua gol sudah berhasil diciptakan tim lawan. Hanafi kembali mencoret-coret kertasnya dan berupaya untuk menemukan trik agar bisa mengejar ketinggalan. Ahmad ditarik keluar, digantikan oleh Bani. Peluit kembali berbunyi. Bani yang memiliki perawakan lebih tinggi itu langsung berupaya mengambil fungsi disebelah kiri. Dia berlari dengan cepat berusaha merebut bola. Pemain nomor punggung 7 itu berhasil mengecohnya dengan membuat tipuan dengan sebuah operan kebelakang, dibelakangnya sudah ada gelandang bernomor punggung 6 yang langsung membawa bola ketengah lapangan. Zul dan Jais menghadang dan berusaha merebut bola, namun ternyata pemain nomor punggung 6 itu cukup cerdik. Bola diopernya ke sebelah kanan kepada striker bernomor punggung 10. Jais dan Zul kelabakan dengan manuver tak terduga itu, mereka berdua berbalik menuju kearah pemain nomor punggung 10. Pelan-pelan striker itu mendekati gawang, dari jarak yang terbilang cukup jauh pemain itu melepaskan tendangan melengkung yang mengincar sisi kiri Agung. Tendangan itu cukup tinggi dan susah untuk dijangkau, sehingga untuk kesekian kalinya bola dengan bebasnya bersarang digawangnya.
3-0!
Akkkhhhh! 
Hanafi nyaris membanting botol minuman dingin ditangannya. Ketiga kalinya gawang timnya dibobol dengan sedemikian mudahnya. 
“ Jais, Bani, ikut turut menyerang. Fokuskan sama Fikri!” 
Teriakannya Hanafi dari pinggiran lapangan kembali memberi komando kepada para pemainnya dilapangan itu. Jais dan Bani memberikan kode dengan memberikan jempol sebagai tanda mengerti. Peluit berbunyi. Kali ini Zul yang membawa bola, digiringnya melalui sisi sebelah kanan. Dua pemain lawan bernomor punggung 6 dan 4 sudah menunggu berusaha menghentikan langkahnya. Dari belakang pemain bernomor punggung 10 juga meringsek kebelakang ke arah Zul. Zul tersenyum, dia mengecoh pemain nomor 6 dengan kaki kirinya, dia arahkan bola kepada Bani yang berdiri bebas.
“ Bani!” Teriaknya.
Bani menangkapnya dengan sigap. Pemain nomor 7 yang ada didekatnya melalukan sliding namun berhasil ditahannya, kini Fikri sudah berdiri bebas disisi kiri. Dua pemain belakang lawan itu satu maju kearahnya dan satu lagi kearah Fikri. Namun Bani justru mengoper bolanya kembali ke arah Zul. Zul dengan sigap menyambut dan berlari kencang kearah depan. Pemain nomor 4 memutar arah berusaha menghentikan Zul dengan permainan kakinya. Berhasil direbut. Zul yang kesal menyepakkan kakinya dengan keras kearah kaki kiri pemain dengan nomor punggung 4 itu sehingga terjatuh seketika. Zul mengangkat tangannya seolah-olah dia tidak melakukan pelanggaran, namun wasit melihatnya ada sentuhan disengaja yang dilakukan Zul, sehingga wasit meniup peluit dan memberikan kartu kuning padanya. Pemain nomor punggung 4 itu sedikit tertatih keluar dari lapangan, dan masuklah pemain baru dengan nomor punggung 11. Agaknya tim lawan akan kembali menggedor penyerangan mereka dengan memasukkan pemain dengan tipikal menyerang. Hanafi terus memperhatikan skema permainan mereka dari pinggir lapangan. Pemain lawan memang kemampuannya diatas mereka, sementara tim Madrasah Al Aminah seperti sudah kehilangan kepercayaan satu sama lain sehingga pertahanan rapuh dan sistem menyerangnya pun tidak menjanjikan. Ada yang harus dirubah. Zul ditarik keluar dan digantikan oleh Fatur. Fatur memiliki tipikal yang bisa mobile sehingga dia bisa berbagi dengan temannya yang lain. Fikri yang murni penyerang akan kesusahan bila tidak mendapat suplai bola, sehingga butuh Fatur yang bertindak sebagai assist.
Pelanggaran yang dilakukan Zul membuahkan tendangan bebas. Pemain nomor punggung 11 menendang pelan kearah pemain nomor 7 yang disambut dengan sebuah tangkapan cantik. Pemain nomor 7 kembali maju ke depan. Kali ini Bani mulai bermanuver dengan berkali-kali mengganggu, dia akhirnya berhasil mengambil bola dan memberikan ke arah Fikri. Fikri melaju dengan kecepatan tinggi menuju kearah gawang. Dia berhasil mengecoh penjaga gawang dan merubah penyerangannya dari kiri menuju kanan, Fatur yang berada disisi kiri maju ketengah. Fikri memberi operan bola kepada Fatur. Fatur menendang keras, berhasil digagalkan, bola menggelinding ke sisi kanan. Fikri berlari cepat dan mengambil bola, sepakan pelannya tidak terduga. Bola sukses memasuki gawang lawan. Goool! 3-1.
“Yesss!” 
“ Fikri, mantap!” Teriak Hanafi dari pinggir lapangan.
Tak lama kemudian wasit meniup peluit tanda babak pertama sudah usai. Waktunya untuk beristirahat. Semua pemain keluar lapangan dan menuju ke coach masing-masing. Agung tampak kelelahan. Kegagalannya mengantisipasi tiga gol lawan menjadi bayangan menakutkan baginya. Sudah jauh-jauh ke Jogja, tapi gagal mempertahankan gawangnya. Huh! Itu yang dirasakan olehnya. Dia tampak terus merasa bersalah.
“ Oke, jadi permainan kita kali ini tidak buruk hanya saja lawan cukup tangguh. Rasanya tidak ada ruang gerak, sehingga pergerakan kalian minim sementara lawan cukup sigap dan mampu bergerak cepat. Sehabis minum kita kembali berjuang, dan untuk kali ini saya harapkan semuanya kembali semangat.” Kata Hanafi lagi.
“ Penyerang mereka itu berbahaya sekali pak, terutama yang nomor 7. Kelihatannya dia adalah playmakernya, sementara yang pemain yang baru masuk nomor 11 itu kecepatannya juga gila. Kami kesulitan disana.” Kata Bani dengan nada semangatnya.
“ Betul. Teknik pemain nomor 7 itu sangat bagus. Apa nanti dijegal saja ya?” Tambah Jais kepada mereka. “ Bikin cidera.” Lanjutnya.
“ Jangan ah. Itu tidak fair play namanya. Meskipun kalah kita harus berusaha untuk tidak curang, begitu juga dengan menang. Kalau kalian melakukan kecurangan untuk menang, tak guna rasanya kalian membawa nama Madrasah Al Aminah!” Kata Hanafi kepada mereka,
“ Maaafkan saya pak.” Kata Jais sambil menunggu.
“ Intinya adalah kalian harus solid sepanjang menit terakhir ini. Pertahanan kalian berantakan, kalian seperti ragu-ragu dan tidak fokus sehingga mudah direbut. Untuk babak kedua ini saya mau semua bola menuju kearah Fikri, saya melihat mereka terlalu sering bermain dikanan, terutama karena mereka selalu memberikan umpan ke pemain nomor 7. Bila bola sampai dinomor 7 maka bola itu bisa sampai kemana-mana dan bisa membahayakan. Perhatikan pola mereka. Mereka selalu selalu membawa bola di kiri kemudian begitu sampai ditengah bola berpindah kekanan, lalu begitu mendekati gawang kita mereka pindah kebagian tengah dan kiri. Kita lemah disitu dan mereka bisa membacanya, itu sebabnya beberapa kali lawan memasuki daerah pertahanan dengan bebas.” Kata Hanafi lagi.
“ Betul pak. Jadi bagaimana?” Tanya Zul lagi.
“ Bola arahkan semua kepada Fikri. Fikri punya kecepatan, dan mereka akan berupaya mengahalangi, saat itulah dari sisi sebelah kiri mereka Zul ataupun Fatur akan mengacaukan mereka. Kita serang mereka dari sisi kiri dan klimaksnya adalah menyerang bersama ditengah. Untuk  Jais dan Ahmad ataupun Bani, jangan menunggu bola. Ini bukan lapangan sepakbola, kamu hanya butuh waktu maksimal10 detik dengan bolamu lalu harus sudah berpindah. Untuk Zul tolong emosinya dijaga, karena yang kamu lakukan tadi sehingga mendapatkan kartu itu sangat tidak baik Zul. Mengerti semua?” Lanjut Hanafi lagi.
“ Mengerti pak.” Sahut mereka dengan kompak.
“ Baik. Setelah ini kita akan kembali.Ingat pola yang tadi, untuk itu saya akan beri kode morse untuk merubah pola permainan. Saya akan mengatakan Fikri untuk pola A dan Zul untuk pola B. Saya akan gunakan kata maju, itu artinya kalian semua akan menyerang bersama-sama.Paham?”
“Paham.” Koor kedua kalinya.
“ Baik. Bangun semua, setelah ini kalian akan berjuang lagi. Ingat kalian membawa amanah dan harapan orang banyak. Pulang dengan menang.” Kata Hanafi kepada mereka.
“ Pulang dengan menang!” Teriak mereka berapi-api.
Peluit babak kedua dimulai. Pemain kembali kelapangan.
Bola dibawa oleh Fatur dari sisi kanan, dia berusaha melewati pemain nomor 11 dan memburu kearah Fikri. Fikri maju menyambut bola, namun dari belakang pemain pengganti bernomor punggung 11 berhasil merebut dan melaju kencang. Jais dan Bani mundur meringsek ketengah, namun ternyata pemain nomor 11 itu berputar arah kenomor 7. Bani melakukan sliding dan berhasil menangkap bola, bola menuju kearah Fikri. Fikri melaju dengan kecepatan tinggi dan menendang bola kearah gawang, penjagan gawang maju keluar kandangnya dan berhasil merebut bola Fikri.
Peluit kembali berbunyi. Pelan-pelan pemain nomor punggung 6 membawa bola ketengah, Bani berusaha mengganggunya dengan memberikan sentuhan-sentuhan kecil. Akhirnya berhasil direbut, bola diarahkan kepada Fatur. Fatur mengambil bola, dengan tendangan kaki kirinya dia melakukan tendangan keras. Buuuk bukkk!
Kiper lawan berhasil menangis. Bola terdorong ketengah. Jais dari arah belakang berlari dengan kecepatan tinggi, sepakan kerasnya membawa bola serasa terbang dan akhirnya menukik lurus tepat di jala lawan. Gool!
Skor sementara menjadi 3-2 masih untuk keunggulan tim Madrasah Ibnu Sina. Kali ini bola dibawa oleh pemain nomor punggung 10, melaju kencang melewati Fatur, namun berhasil diambil oleh Jais. Jais kembali membawa bolanya kedepan. Hanafi yang dipinggir lapangan ikut berlari mengikuti jais, dengan teriak kencangnya dia memberi kode kepada pemainnya. “ Maju!” teriaknya. Bani dan Fatur maju ikut membantu penyerangan. Pemain bernomor 11 dan 6 kaget seketika, bola terus berpindah dari kaki kekaki. Begitu bola sampai kepada Fatur, anak itu menendang keras  melengkung dari sisi sebelah kanan yang disambut dengan tandukan kepala Fikri. Penonton menarik nafas. Gooool! 3-3!.
Peluit kembali berbunyi. Kali ini semua tim kembali menyerang dengan ganasnya. Moral mereka meningkat sejak skornya sekarang sama. Jais melaju dengan kecang, kakinya membawa bola dan memindahkannya cepat dari kaki kiri kekanan, diopernya kepada Bani. Bani menarik mundur serangannya dan mengembalikan bola kepada kiper karena pemain nomor 7 berusaha menhalanginya, Agung menendang bola langsung ke Jais, jais memberikannya kepada Fatur. Pelan-pelan Fatur membawanya ke sisi kiri, begitu ada kesempatan dia menendang keras namun berhasil dijangkau. Dari sisi kiri Fikri mengoyak pertahanan lawan. “ Fatur!” Teriak hanafi.
Bola kembali kepada Fatur. Fatur yang berdiri bebas berhasil mengelabuhi penjaga gawang lawan. Tendangan pelannya membuat bola berlari menuju jala gawang lawan. Goool Goolll!
***
Hanafi menelusuri lorong dikamar itu dan menuju kearah bawah. Namun langkahnya tertahan saat panggilan Dania terdengar dibelakangnya. Dia menoleh, gadis itu tampak berjalan kearahnya. “ Ada apa?” Tanya Hanafi.
“ Abang mau kemana?” Tanya Dania. 
“ Dania belum tidur? Abang rencananya mau ketemu dengan pak Ali, yang punya travel untuk memastikan masalaha yang kemarin. Pak Ali sudah memberi lokasinya, ini abang sudah pesan taksi untuk menuju kesana.”
“ Dania beloh ikut?”
“ Dania tidak istirahat?”
“ Belum bisa tidur bang. Bosan pula dikamar rasanya, bolehlah keluar sebentar melihat-lihat pemandangan di Jogja ini.”Kata Dania lagi.
“ Ya sudah, boleh. Pakai jaketnya dan ijin dulu sama Ibu Marhumah, nanti dia menunggu kalau Dania tidak memberi tahu.” Jawab Hanafi.
“ Ya bang. Tunggu sebentar.”
Dania kembali berjalan menjauhi dirinya. Dania berjalan kearah kamarnya lagi. Hanafi hanya menarik nafas dalam melihat Dania yang tengah berjalan. Gadis itu kali ini memang tidak memakai rok panjang seperti biasanya, namun menggunakan celana jeans. Bentuk lekuk tubuhnya begitu sempurna tak ubahnya seperti bentuk gitar Spanyol, jalannya juga anggun mempesona. Astaghfirullah. Hanafi beristigfhar sesaat. Tak baik rasanya dia memikirkan hal itu. Di hatinya juga ada sosok lain. Ditepisnya bayangan Dania dari pikirannya, dia memilih duduk dikursi sambil menunggu gadis itu keluar dari kamar. Tak lama gadis itu sudah keluar, lengkap dengan jaketnya.
“ Berangkat kita?” Tanya Dania. Hanafi melongo.
“ Bang!” Dania membangunkannya.” Kenapa bang?”
“ Dania cantik sekali.” Katanya pelan. Dania menjulurkan lidahnya.
“ Jangan macam-macam.” Kata Dania sambil mengepalkan tinjunya.
Hanafi tertawa. 
Dia melangkahkan kaki diikuti Dania menuju lift dan segera turun ke bawah. Tidak sepatah katapun yang terucap selama didalam. Keduanya sibuk dengan handphonenya masing-masing. Hanafi sibuk membalas kerinduan kekasihnya yang jauh disana, sementara Dania sibuk membalas pesan Zulfikar yang semakin kurang ajar itu. Dania sudah memutuskan untuk meninggalkan Zulfikar dan meminta lelaki itu jangan mendekatinya lagi. 
Kecemburuan Zulfikar pada Hanafi sudah diluar batas dan mulai berusaha memberikan ancaman. Sungguh tidak nyaman rasanya dengan semua ini, Dania akhirnya berlaku kasar juga dengan meminta Zulfikar untuk menjauh, bukannya menerima Zulfikar malah mengatakan hal-hal buruk padanya. Akhirnya tidak ditanggapinya lagi laki-laki itu. Tak penting rasanya menanggapi laki-laki seperti itu. Menambah masalah saja dihidupnya.
Zulfikar sama sekali tidak bisa berubah. Zulfikar harusnya berkaca dirinya itu seperti apa. Tentulah Dania sekarang akan lebih membela Hanafi. Kekaguman Dania akan sosok Hanafi semakin bertambah. Pemuda itu hanya tampan, namun juga nyaris mendekati sosok sempurna seperti yang selama ini di idamkannya. Ahhhh! Dania tersadar sejenak. Jangan bodoh Dania.
Taksi yang menjemput sudah datang. Keduanya masuk kedalam. Taksi itu cukup nyaman rasanya. Namun Dania agak sedikit kecewa saat Hanafi memilih duduk didepan tidak dikursi belakang bersamanya. Akhirnya Dania duduk sendirian dibelakang. “ Ngerti khan?” Bisik Hanafi. Dania mengangguk. Taksi itu melayu melewati jalanan kota Jogja, entah didaerah mana ini namun rasanya memang begitu indah. Jalanannya begitu ramai dan lampu-lampu yang berkerlip disepanjang jalan menambah suasana semakin hidup. Dania terus memandang keluar jendela. Taksi itu terus melewati jalanan, rumah-rumah dan toko-toko. Hanafi tampak tengah sibuk berbincang dengan supir taksi itu. Terdengar Hanafi memperkenalkan dirinya yang tengah ada kegiatan di kota ini. Dania hanya terdiam sambil menyimak saja pembicaraan mereka. Sesekali dia melihat ke handphonenya, ada beberapa pesan masuk dari teman laki-lakinya yang selalu bertanya dirinya sedang dimana, sedang berbuat apa dan lain-lain. Namun tidak ada satupun yang berasal dari Satrio. Lelaki itu sepertinya sudah tidak menggunakan Whatsapp lagi atau malah berganti nomor tanpa memberitahunya. Instagram dan Facebooknya juga tidak ada aktifitas sama sekali. Dia menghilang begitu saja bak ditelan bumi.
Taksi terus berjalan melewati jalanan yang ramai. Sampai akhirnya berhenti disebuah bangunan seperti ruko tingkat dua dikiri jalan. Ada dua bus dan mobil yang terparkir didepannya. Dania melongok keluar, sepertinya betul itu adalah kantor travel tujuan. Hanafi turun duluan,sebelumnya dia melihat kedalam dan memastikan kepada supir taksi. “ Betul ini pak.” Kata supir taksinya. Dania ikut keluar. 
“ Ini kantornya bang?” Tanya Dania.
“ Iya, ini alamat yang diberikan. Sepertinya betul, ayo kita masuk.”
Bangunan kantor itu bagiannya terbuat dari kaca. Ada taman mini dihalaman depan dan kursi memanjang terbuat dari batu, juga ada kolam ikan ikan dengan air mancurnya yang didesain begitu cantiknya.
Memasuki ruangan kantor itu seperti berada di sebuah perkantoran yang hampir tidak pernah dilihatnya selama ini. Bangunannya cukup minimalis. Dindingnya memadukan warna putih dan abu-abu dan list berwarna hijau menyala yang menambah kesan elegan. Bagian depannya juga setiap dindingnya hampir terbuat dari kaca untuk sekat ditengahnya, ada sofa berbentuk bulat berwarna kuning dan hijau, lengkap dengan meja kayu yang bagian datarnya adalah kaca tebal berwarna hitam. Di dinding terdapat poster quote-quote yang sungguh membuat ruangan serasa hidup, lebih seperti berada dikafe bukan disebuah perkantoran. Meja resepsionisnya terbuat dari kayu. Ada logo tulisan besar dibagian depan “ Denia Travells’, sepintas seperti namanya. Dan rasanya namanya tidak asing baginya. Hanafi melangkah masuk dan berbincang sejenak dengan resepsionisnya, sementara Dania duduk di sofa sambil terus mengamati sekelilingnya. Jam didinding menunjukkan pukul 20.17.
“ Bagaimana mas, silahkan. Ada yang bisa dibantu?” Tanya frontliner sambil tersenyum kepada Hanafi. Wanita mengenakan berkacama dengan rambutnya tergerai yang membuatnya begitu anggun. Dia mengenakan pakaian kemeja dengan name tag di dada kanannya.
“ Malam mbak, saya mau ketemu dengan pak Ali. Saya Hanafi dari Riau, dan tadi kami sudah janjian. “Kata Hanafi.
“ Baik, tunggu sebentar pak. Silahkan duduk, nanti akan saya panggilkan.” Resepsionis itu menunjuk sofa yang diduduki Dania.
“ Baik terima kasih.” Jawab Hanafi.
Resepsionis itu masuk kedalam dan tak sampai dua menit dia sudah kembali. Sosok laki-laki berwajah tampan berkacamata dengan cambang dan kumis muncul dari dalam, dia hanya mengenakan kaos berwarna hitam saja. Dia langsung menyalami Hanafi lalu kemudian menyalami Dania. Matanya seakan tak berkedip kearah Dania, dan itu cukup membuat risih. Seolah-olah laki-laki itu tengah memperhatikannya dari atas sampai kebawah. Huhu!
“ Wah, siapa bidadari ini?” Katanya kepada Dania.
“ Halo pak, saya Dania.” Jawab Dania.
“ Namanya familiar ya. Orangnya juga.” Kata lelaki itu.
Ahhh! Akhirnya Dania sadar kalau nama travel itu memang persis dengan namanya hanya berbeda sedikit, belum lagi perkataan laki-laki itu seperti menimbulkan sebuah pertanyaan yang terus bertumpuk. Kemarin manager hotel, sekarang pemilik travel ini. Ada apa ini sebenarnya?
***


Bagian 11 : Malamku Malammu

“ Bagaimana perlombaannya mas Hanafi?”
Pemuda bercambang dan berkumis itu bertanya pada Hanafi yang duduk didepannya. Pemuda tampak tak henti-hentinya tersenyum. Tadi dia sudah mengenalkan dirinya sebagai Ali.
“ Alhamdulillah untuk tim Futsal sudah lolos dari fase grup, besok kita akan pertandingan lagi untuk di grup selanjutnya. Jika lolos akan masuk ke semi final. Untuk lomba murotal Al Qur’an sudah selesai. Untuk lomba dialog berbahasa Inggris sepertinya kami tidak lolos, sementara untuk Bulu tangkis hanya tim ganda putra dan tunggal putra yang maju kebabak selanutnya. Lomba cerdas cermat akan dimulai besok, begitu mas Ali.” Kata Hanafi.
“ Alhamdulillah, semoga dan pulang membawa kemenangan.”
“ Semoga saja mas Ali. Ohya, Kedatangan kami kesini malam ini sengaja untuk mengclearkan tentang masalah hotel dan segala macamnya itu mas Ali. Terus terang saya sedikit bingung dan panik, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya.” Kata Hanafi mulai menjurus kearah serius.
“ Ah iya, bagaimana? Untuk masalah transport sepertinya sudah clear ya, dari awal sampai akhir kalian akan memakai bis yang sama.” Kata Ali.
“ Betul. Kemarin Mas Satrio juga juga mengkonfirmasi. Kami dari pihak sekolah sangat berterima kasih atas bantuannya sehingga sedikit banyak kami sangat terbantu. Untuk transport sudah selesai, kami hanya ingin memastikan soal penyewaan hotel itu. Karena sebelumnya hotel yang saya pesan bukan itu, dan untuk harga rasanya jauh berbeda.”
“ Baik. Untuk masalah hotel itu sebenarnya sudah di handle juga oleh Mas Satrio. Kebetulan mereka merupakan partner kerja kami, jadi sudah aman untuk masalah perpindahannya. Saya kira sebelumnya pak Haris sudah menjelaskan, belum ya?” Kata Ali lagi.
“ Belum mas Ali.”Kata Hanafi.
“ Jadi memang sengaja kami pindahkan dari hotel sebelumnya ke HIGHER hotel atas rekomendasi Mas Satrio. Hotel itu kebetulan sedang memberikan voucher promo kepada kami, dan itu yang kemudian sebagai peralihannya. Mas Hanafi dan yang lain tidak perlu khawatir soal pembayaran, pembayarannya tetap sama seperti yang sudah disepakati.”
“ Jadi kami tidak dikenakan biaya tambahan lagi mas?” Tanya Hanafi.
“ Tidak sama sekali.” Jawab Ali.
“ Wah alhamdulillah sekali kalau begitu. Saya sempat kepikiran pak, sudah tiga hari kami disini, saya sama bu Dania juga sampai menghitung berapa yang nantinya akan kami keluarkan. Kalau memang seperti itu, kami sangat berterima kasih mas Ali.” Kata Hanafi lagi.
“ Nanti terima kasihnya sama Mas Satrio saja. Dia yang mengatur semuanya. Saya hanya menjalankan apa yang sudah diamanahkan saja mas.”
“ Wah saya harus bertemu dengan beliau ini.” Kata Hanafi.
“ Mas Satrio kebetulan sedang di Semarang sejak beberapa waktu yang lalu. Tadi pagi sempat mengatakan akan sampai di Jogja malam hari ini.” 
Dania semakin penasaran dengan nama yang sering disebutkan itu. Rasanya namanya itu tidak asing lagi. Satrio dan Denia Travells, dua nama itu sepertinya begitu erat dengan dirinya. Bukankah Satrionya juga kerja di travel agency seperti yang pernah dikatakannya dulu? Mungkinkah kantor yang ditempatinya ini adalah kantor tempat Satrio nya bekerja? Akhirnya tidak tahan lagi dengan semua rasa penasarannya itu, Dania memberikan diri untuk bertanya.
“ Maaf kalau boleh saya bertanya. Beberapa kali mas nya ini menyebut nama Satrio, Pak Satrio itu pemilik travel ini mas?” Tanya Dania.
“ Betul Dania. Jadi Mas Satrio itu orang yang dulu abang ceritakan, yang kakaknya pernah diklat sama abang. Orangnya baik, dan sekarang dia membuktikan kepeduliannya dengan kampung halamannya. Jadi, bis kita sampai besok selesai itu diberikan banyak potongan harga, dan sekarang hotelnya juga.” Kata Hanafi menimpali.
Ali menambahkan. “ Iya itu betul sekali bu. Jadi Mas Satrio itu memang berasal dari daerah yang sama dengan ibu, dan dialah pemilik travel ini.”
“ Sekarang dimana ya?” Tanya Dania lagi.
“ Beliau sedang di Semarang, tapi hari ini akan pulang kok.”
Baru saja selesai mengatakan itu, sebuah mobil datang dari arah selatan. Sebuah honda Jazz berwarna merah langsung terparkir didepan kantor itu. “ Itu orangnya datang!” Kata Ali sambil menunjuk kearah mobil. Dua orang lelaki tampak keluar dari mobil, diluar agak sedikit gelap sehingga tidak terlalu jelas kedua wajahnya. Dania melihatnya hanya samar-samar dua orang memakai pakaian hitam-hitam. Keduanya tampak masuk kedalam. Dania langsung merasa seperti jantungnya mau copot. Mendadak dia merasa ada hawa grogi dan sedikit nervous. Kedua laki-laki tampak masih mengobrol diluar, kemudian salah seorang masuk kedalam. Ali melambaikan tangannya.
“ Pulang bos?” Tanya Ali.
“ Gila, dari Ungaran sampai kesini hujannya deras sekali. Dani membawa mobil tidak mau kencang, katanya takut licin jadinya jam segini baru sampai Jogja.” Suara serak dan berat itu. Dania mengenalinya. 
“ Dani masuk dulu, makan didalam sudah disiapkan.” Teriaknya pada temannya yang tadi bersamanya. Lelaki yang tadi dipanggil Dani itu masuk dan menyalami Ali, Hanafi dan Dania, menyapa resepsionis sebentar kemudian menghilang didalam, sementara lelaki yang satunya kelihatan masuk lagi kedalam mobil mengambil sesuatu lalu kembali masuk kedalam. Langkah kakinya terus mendekat. Seorang laki-laki yang Dania kenali sekarang muncul dan ternyata Dania tidak salah, dia adalah Satrio!
Satrio  tampaknya belum menyadari keberadaan Dania dan Hanafi, itu terlihat dia langsung masuk kedalam, menyalami Ali dan kemudian langsung buru-buru masuk kedalam. Resepsionis cantik juga langsung menyapanya.
“ Akhirnya sampai juga di kantor pak, “ Kata resepsionis berkacamata.
“ Gara-gara hujan tadi, jadinya kemalaman.” Kata Satrio. Satrio lalu menyadari ada dua orang yang sedang duduk di sofa. “ Ah, ada tamu ternyata, ini darimana ini kalau boleh tahu?” Satrio bertanya pada si resepsionis, namun agak terhenyak dia saat pandangan tertuju pada sosok Dania yang sedari tadi terus menatapnya. 
“ Halo Mas Satrio, saya Hanafi mas. Madrasah Al Aminah.” Hanafi menyapanya sambil mengangkat tangannya. Satrio mendekat. Dengan sedikit membungkukkan badannya dia menyalami Hanafi dan Dania.
“ Ah ya, mas Hanafi, betul. Saya ingat. Maafkan saya yang tadi tidak memperhatikan. Bagaimana kabarnya mas?” Satrio duduk di sofa tepat berhadapan dengan Hanafi, ssehingga sehingga Dania berhadapan dengan Ali. Dania terus menundukkan kepalanya, sesekali dia mencuri pandang pada laki-laki itu.
“ Alhamdulillah sehat mas. Mas Satrio bagaimana kabarnya?”.
“ Alhamdulillah saya selalu sehat. Mohon maaf kalau beberapa hari ini saya susah dihubungi, kebetulan handphone saya sedang di servis, jadi kalau ada apa-apa biasanya bisa lewat mas Ali. Sudah kenal dengan mas Ali?”
“ Ah iya, sudah mas. Kami kesini tadi sebenarnya mau menanyakan soal hotel itu dan sudah dijelaskan oleh mas Ali, kami sangat berterima kasih atas bantuannya. Sungguh hanya itu yang bisa kami lakukan. Ohya mas, ini teman mengajar saya di sekolah, ibu Dania.” Kata Hanafi lagi.
“ Sama-sama mas Hanafi.” Kemudian Satrio melihat kearah Dania dan tersenyum begitu manisnya, “ Ibu guru ya?” Tanyanya.
Dania hanya bisa menjawab “ Salam kenal ya mas.”
“ Jadi berapa lama disini mas dan ibu guru ini?” Tanya Satrio lagi.
“ Ini sudah hari ketiga kami mas, ada seminggu lagi. Doakan saja kami semua membawa hasil maksimal mas.” Jawab Hanafi.
“ Perlombaannya di UIN, betul?” 
“ Betul mas. Silahkan datang mas kalau ada waktu, mungkin anak-anak itu juga butuh motivasi tambahan dari orang hebat seperti mas ini.”
“ Yang hebat itu mas dan ibu guru berdua ini yang sudah membuat anak-anak daerah bisa sampai di perlombaan tingkat nasional ini.” Satrio.
“ Terima kasih mas, kami tetap menunggu kedatangannya.”
Dania terus saja menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Entah ada perasaan apa yang berkecamuk di dadanya. Satu pertanyaan itu terjawab pertanyaan lain muncul. Mungkinkah Satrio tahu kalau dirinya ikut ke Jogja, tapi darimana dia tahu bukannya tadi dia sendiri mengatakan kalau handphonenya rusak. Tanpa sadar Dania kerap mencuri pandang ke arah Satrio. Sungguh berbeda sekali Satrio dengan sosok lelaki manapun yang pernah dia kenal. Kata-katanya lemah lembut dan santun.Tidak hanya kepada orangtua, kepada yang seumuran, bahkan lebih muda diapun melakukan hal yang sama. Pakaiannya jelas berbeda. Dia hanya mengenakan jaket berwarna hitam, kaos hitam polos dan celana yang juga hitam dan hanya mengenakan sandal jepit. Padahal dia adalah pemilik perusahaan ini. Pegawainya saja mengenakan jas dan rapi, sementara dirinya tampil sedemikian sederhananya. Ali yang juga merupakan kepercayaannya juga tidak jauh berbeda pakaiannya. Handphone mereka bahkan bukan handphone mahal layaknya bos-bos lainnya, padahal kalau dihitung-hitung omset mereka juga tidak sedikit.
Kalau mereka berdua adalah orang-orang yang tinggal didaerahnya mungkin penampilannya akan berbeda. Bos-bos ditempatnya dengan bisnis seperti ini pasti akan menampilkan segala kelebihannya, pakaiannya, kendaraannya, dan segala yang ada ditubuhnya ditampilkan untuk memperlihatkan bukti keberhasilannya. Mereka pasti akan memamerkan apa yang bisa membuat orang lain terkagum-kagum. Jangankan membandingkan dengan gaya para bos-bos yang tidak ada disitu, dengan Hanafi saja sudah terlihat perbedaannya. Hanafi saat itu mengenakan kemeja rapi, pakaiannya bersih dan wangi, memakai sepatu mahal, dan handphonenya yang kelas wahid. Padahal Hanafi hanyalah seorang guru di Madrasah dengan gajinya dibawah setengah juta setiap bulannya. Sementara Satrio ataupun Ali dalam sekali mendapat order bisa mendapatkan income jutaan. Travelnya juga terlihat besar, itu terbukti sudah memiliki ruko dan kantor sendiri. Dari penampakan dikantornya juga terlihat seberapa bonafitnya perusahaan mereka ini. Penampilan mereka yang sederhana itu sama seperti tidak menunjukkan kalau mereka adalah big bos nya, sungguh suatu hal yang jarang Dania ketahui selama dia hidup selama ini.
“ Kalian kesini naik apa tadi?” Tanya Satrio.
“ Kami naik taksi mas. Kebetulan sebentar lagi kami juga harus pulang karena waktu sudah malam, dan mungkin ibu Dania akan beristirahat.”
“ Nanti biar sama kita saja, kebetulan satu arah pulangnya.”
“ Tidak usah Mas Satrio, kami naik taksi tidak apa-apa.” Kata Hanafi.
“ Orang Jawa bilang jangan pernah tolak kebaikan orang.” Kata Satrio sambil tersenyum. Hanafi akhirnya mengiyakan meskipun agaknya dia merasa tidak enak.
“ Terima kasih mas. Maaf kalau merepotkan.” Jawab Hanafi.
“ Sama-sama mas Hanafi. Saya senang membantu teman.” Kata Satrio.
Hanafi melihat kearah jam, waktu memang berjalan terus tanpa disadari sudah lewat dari pukul 21.00. “ Ini kantornya buka sampai malam?”
“ Disini kalau Senin sampai Kamis itu sampai dengan jam 21.00 mas Hanafi. Kalau Jumaat sampe sabtu hanya sampe sore saja. Biasa, para staff nya biasanya harus bermalam mingguan, haha.” Jawab Ali sambil tertawa.
“ Kalau boleh tau disini ada apa saja ya mas?” Tanya Hanafi lagi.
“ Disini ya yang pokok itu Biro perjalanan wisata, ticketing, cargo, homestay, dan juga guide service. Kami baru membuka hotel dan resort baru didaerah Merapi sana, nanti kalau njenengan ke Jogja lagi di lain waktu bisa mencobanya.” Lanjut Ali menjelaskan.
“ Wah ternyata cukup besar juga ya. Sudah ada cabangnya mas?”
“ Kalau untuk cabang baru ada di empat kota saja di Jawa. Kita belum sampai ke luar Jawa, namun kalau perjalanannya kami sudah sampai ke Lombok dan Labuan Lajo, bahkan kita pernah sampai ke Raja Ampat.”
“ Wah, sudah jauh juga jangkauannya. Semoga makin sukses.”
“ Doakan saja mas Hanafi. “ Kata Ali lagi.
“ Mas Ali salah satu orang yang paling paham masalah promosi mas, jadi harap dimaklumi saja kalau setiap perkataannya selalu saja diselipkan konten-konten marketing, hahaha.” Kata Satrio.
Semuanya tertawa. Terlebih saat Ali menceletuk “ Elu yang ngajari.”
“ Baik mas mas, karena waktunya sudah mulai malam, sepertinya kami harus pulang untuk mempersiapkan fisik dan persiapan lainnya untuk besok pagi. Jadi sekiranya maksud dan tujuan kami, kami mau mohon diri”
Hanafi menyalami Satrio dan Ali bergantian. Dania ikut menyalami dengan tangan yang mendadak berubah dingin. Entah kenapa dia merasa begitu rikuh sehingga tidak ada sepatah katapun selain senyum yang keluar dari mulutnya. Satrio menyambut salamnya sambil tersenyum dan sedikit kata menggodanya” Ibu guru paling cantik nih.” Kata Satrio.
“ Mas Hanafi, nanti biar sama saya dan Ali pulangnya. Karena searah, kebetulan kami berdua tinggal di rumah dekat dengan hotel tempat njenengan menginap.” Kata Satrio lagi. Ali mengiyakan.
“ Baik mas.” Jawab Hanafi.
“ Kalau begitu tunggu sebentar mas.” Kata Satrio.
Satrio dan Ali meminta ijin masuk kedalam. Agak lama mereka didalam, Hanafi dan Dania masih menunggu di sofa sambil membuka handphone mereka. Dania terus saja terdiam dan enggan untuk mengeluarkan kata-kata, pikirannya bercampur aduk, rasanya dia butuh pelukan guling dan bantal untuk mencurahkan semua yang ada di benaknya. Satrio sepertinya tidak berubah, namun apa yang membuatnya selama ini dia menghilang begitu saja lalu muncul dengan tiba-tiba pula.
Tak lama kemudian kedua lelaki tampan itu sudah kembali. Satrio mempersilahkan Hanafi dan Dania untuk mengikutinya. Mereka menaiki mobil Honda Jazz berwarna merah tadi. Sementara teman Satrio yang tadi datang bersamanya membawa mobil avanza. Kedua mobil itu lalu meluncur lagi menembus jalanan kota Jogja.
***
Di hari keempat, Satrio dan Ali benar-benar datang ke hotel tempat rombongan menginap. Sudah satu jam lebih mereka disini. Dania sudah hampir tertidur saat mereka datang tadi. Perlombaan hari ini memang selesai lebih awal, pukul 20.00 sudah selesai dan semua kontingen kembali ke hotel. Menurut Hanafi, kedua orang itu memang sengaja kehotel karena ada pertemuan dengan manager hotel yang kemarin ditemuinya, Pak Haris. Dania juga sebenarnya tidak terlalu peduli, tapi entah yang membuatnya dirinya akhirnya turun juga dari kamarnya dan menuju ke bawah. Dilihatnya ketiga pemuda tampan itu memang tengah berbincang santai di sofa yang ada didepan hotel. Kali ini pakaian mereka sedikit berbeda. Ali mengenakan kemeja berwarna hitam dengan sepatu sport, sementara Satrio masih sama yaitu menggunakan kaos oblong berwarna hitam dan dia hanya memakai sandal jepit. Hanafi masih dengan pakaian rapinya, meskipun sama-sama memakai sandal namun sandalnya adalah sandal kulit asli. Ketiganya tampak berbincang dan diselingi dengan tawa. Didepan mereka sudah ada gelas minuman kecil dan satu cangkir besar gelas grendle yang berisi air putih. Dania menebak kalau gelas grendle itu adalah minumannya Satrio. Satrio yang dikenalnya memang selalu minum air putih, tidak meminum air gula apalagi kopi.
Kedatangannya langsung disambut oleh ketiganya. Malam itu Dania mengenakan pakaian lengan panjang berwarna hitam lengkap dengan jaket jeansnya dan jilbabnya yang juga berwarna hitam. Tanpa ada yang tahu, diam-diam tadi memoleskan sedikit make up diwajah cantiknya.
“ Ah, Ibu belum tidur juga?” Ali bertanya padanya.
“ Panggil Dania saja mas, lebih tua mas Ali khan. Kebetulan belum mengantuk, jadi ingin keluar mencari angin segar saja.” Jawab Dania. Satrio menatapnya.
“ Tidak lelah ya sudah seharian beraktifitas?” Tanya Ali lagi.
“ Malah saya inginnya jalan-jalan mas.” Kata Dania sambil melihat ke arah Satrio. Seakan ingin memberikan sebuah kode yang hanya mereka berdua yang tahu. “ Katanya Jogja kalau malam lebih indah.” Lanjutnya.
“ Tadi kami sempat berfikiran begitu. Kebetulan mereka berdua ada disini nih, rencananya itu memang di hari-hari terakhir. Karena waktunya yang terus menyempit, sementara aktifitas kita juga seperti kejar-kejaran.” Kata Hanafi kepada mereka.
“ Tapi kalau mau sekarang juga tidak apa-apa.” Kata Satrio.
“ Betul. Kebetulan kami berdua juga sedang tidak sibuk.” Kata Ali.
“ Dania?” Hanafi melemparkan pertanyaan.
“ Betul begitu mas?, wah boleh itu.” Kata Dania.
“ Perlu mengajak yang lain?” Tanya Hanafi.
“ Boleh. Asal muat di mobil, sempit-sempit tak masalah, bagi yang mau ikut.” Kata Ali lagi. Satrio mengiyakan. “ Baik, tunggu pak.” Kata Hanafi.
Hanafi langsung mengirim pesan kepada anak-anak asuhnya dan juga kepada dua guru pembimbing yang lain. Beberapa menjawab mau, dan ada juga yang mengatakan besok saja. Mereka mungkin kelelahan atau inginnya beramai-ramai bersama dengan teman-temannya. Pak Anwar dan Ibu Marhumah juga akhirnya memilih besok beramai-ramai saja. Akhirnya memang hanya berempat saja yang bisa. “ Bagaimana?” Kata Hanafi.
“ Boleh. Tidak apa-apa. Kita berangkat sekarang saja.” Kata Satrio.
Ketiga orang itu mengangguk. Lalu segera saja mereka keluar hotel menuju ke parkiran mobil. Honda Jazz merah itu sudah terparkir disana. Ali yang menjadi supir langsung menghidupkan mobil. Hanafi yang kemarin ketika diantarkan oleh mereka duduk dibelakang bersama Dania, kali ini dia meminta ijin kepada Satrio untuk bertukar tempat duduk agar dia bisa duduk didepan bersama dengan Ali, dan itu artinya Satrio akan duduk bersebelahan dengan Dania. Dania terdiam seketika, dadanya mendadak berdesir. Benar saja, tak lama pintu sebelah kiri terbuka dan Satrio masuk lalu duduk disebelahnya. Dania hanya menunduk saja. Sementara Satrio terus memandangi Dania dengan tatapan penuh arti.
“ Mas Hanafi suka mendengarkan lagu apa?” Tanya Ali sambil fokus menjalankan mobilnya. Tangannya juga sibuk mencolokkan handphonenya untuk menyambungkan handphonenya dengan speaker mobil
“ Kalau saya sukanya sih dangdut mas.” Kata Hanafi.
Dania tertawa dan menyahut “ Rhoma Irama.”
“ Haaa Rhoma jelaslah, tak ada Rhoma Inul pun jadilah.” Kata Hanafi.
“ Baik mas. Haha,” Ali tertawa.
Tak lama kemudian lagu dangdut miliknya Via Vallen mengalun dari tape mobil itu. Sebuah lagu yang demikian populer. Hanafi terdengar ikut bernyanyi-nyanyi kecil. Malam itu jalanan kota Jogja cukup rapat, dari sejak keluar dari hotel tadi langsung menuju ke arah barat. Sudah melewati sekitar empat lampu merah, dan terus ke barat. 
“ Malioboro kalau jam segini sudah tutup ya mas?” Tanya Hanafi.
“ Hampir mas. Paling kita hanya lewat atau duduk-duduk saja didepannya, tidak bisa belanja-belanja. Ini kita boleh mampir kesana, lalu menuju ke Alun-alun Selatan yang terkenal itu, setelah itu saya akan mengajak mas dan mbak berdua ini ke Kopi Joss, itu seperti tempat orang hangout kalau di Jogja.” Kata Ali.
“ Wah, saya sempat browsing soal Alun-alun itu mas, yang ada spot jalan sambil menutup mata itu ya?” Tanya Hanafi.
“ Betul mas. Kalau berhasil melewati beringin kembar sambil menutup mata, menutup kepercayaan yang sudah turun temurun maka keinginannya akan tercapai. Dengan catatan ya matanya harus ditutup.”
“ Perlu dicoba. Mas mas berdua ini sudah lolos kah?”
“ Saya pernah sekali mas. Dulu. Kalau Mas Satrio pernah memecahkan rekor melewatinya sambil berlari dan tutup mata.” Kata Ali lagi.
“ Wah wah, betulkah itu Mas Satrio?”
“ Itu dulu mas, jaman masih mahasiswa.” Kata Satrio.
“ Betul-betul berlari sambil tutup mata mas?” Tanya Hanafi heran.
“ Betul mas. Itu dulu tantangan, dan saya berhasil, haha.”
“ Luar biasa.” 
“ Luar biasa gilanya ya mas.” Kata Satrio.
Dania tertawa. Entah rasanya dia bisa membayangkan bagaimana kalau dirinya melakukan itu, pasti mungkin akan menabrak kesana-kesini. Namun sesaat dia kembali terdiam. Dania memandangi keluar jendela mobil dan melihat rumah-rumah seperti berlari menjauh. Hatinya masih terkekang oleh pertanyaan dan pertanyaan. Satrio kenapa berubah menjadi begitu dingin bahkan sedari tadi tidak mengajaknya mengobrol, kecuali hanya sebatas pertanyaan kecil dan singkat. Apa yang terjadi dengannya, mungkinkah cintanya sudah berubah haluan, atau dia sudah tidak cinta lagi kepadanya dan melupakan janjinya bahwa dia akan menunggu Dania menyambut cintanya.Apa yang membuat Satrio berubah? Mungkinkah dia kecewa dengan sikap Dania saat Dania masih tegas dengan keputusannya yang belum bisa menerima Satrio. Dania merasa sampai dititik dimana ada sebuah perasaan bersalah dihatinya, dirinya tersiksa dengan keadaan ini.. Dania tidak mau itu terjadi, dia harus menanyakannya untuk mengurangi tanya besar didalam hatinya.
***

Bagian 12 : Cincin

“ Mas Ali!” 
Teriak Dania memanggil pemuda bercambang yang melintas menjauhi dirinya. Ali terlihat kemudian duduk di tanah di samping beringin di Alun-alun itu. Handphonenya berbunyi terus menerus penyebabnya. Sementara Hanafi dan Satrio tampak sedang serius mengobrol ditengah keramaian. Alun-alun selatan malam itu memang cukup ramai, begitu banyak orang yang rata-rata memang wisatawan dari luar Jogja. Mereka mencoba melewati pohon beringin kembar itu, ada yang duduk-duduk mengobrol di rerumputan, sementara banyka juga yang berdiri sambil bersenda gurau dengan rombongannya. Dania tadi sudah mencoba melewati pohon beringin kembar itu namun gagal, dua kali dirinya mencoba namun melenceng jauh. Sementara Hania sudah mencoba berkali-kali dan masih penasaran mengapa dirinya belum juga bisa melewatinya.
Percobaan pertama dia melenceng kekanan. Kedua dan ketiga agak sedikit ketengah namun belum berhasil menembusnya, ini entah sudah percobaan keberapa dan pemuda tampan itu terus mencobanya. Sementara Ali, teman Satrio itu justru tampak beberapa kali menjauh untuk menerima telepon. Sebagai orang yang bertugas untuk bagian operasional perusahaan, jelas dia lebih sibuk untuk urusan ini itu. Sampai akhirnya ketika pemuda itu sudah tidak menelepon lagi, Dania menghampirinya.
“ Mas, mas Ali...” Panggil Dania.
Ali mendkatinya. “Ada apa mbak?”
“ Sini mas, mengobrol disini.” Kata Dania.
Keduanya memilih lalu duduk dipinggiran jalan yang agak menjauhi keramaian. Keduanya duduk tepat diseberang Sasono Hinggil. Sebuah bangunan berwarna putih dan memiliki tangga menuju keatas. Dikanan dan kiri Dania juga ada muda-mudi lain yang tengah bercengkrama dengan pasangannya, para pedagang juga ada lewat dan menawarkan dagangannya, tak jarang pengemis juga melintas.
“ Ada apa mbak Dania?” Tanya Ali.
“ Mas Ali tinggal serumah dengan Mas Satrio ya?” Tanya Dania.
“ Iya mbak, kebetulan kami berdua memang tinggal bersama.”
“ Mas Ali pasti tahu saya khan?” 
“ Maksudnya mbak?”
“ Mas Ali tidak perlu menutupinya mas. Mas Ali pasti dekat dengan Mas Satrio dan pasti juga kenal sama saya ya, betul khan mas?”
“ Sebenarnya iya mbak. Mas Satrio pernah cerita sedikit,..”.
“ Saya cuma bertanya saja mas. Kenapa Mas Satrio sekarang seperti berubah ya mas, padahal dulu dia tidak begitu sama saya.” Tanya Dania lagi.
“ Berubah bagaimana mbak? Menurut saya dia tidak berubah.”
“ Mas, tolong mas. Saya yakin mas sudah tahu semuanya. Bagaimana perasaan Mas Satrio. Sudah satu bulan lebih Mas Satrio tidak pernah memberi kabar, bahkan begitu sulitnya dihubungi, padahal dulu setiap pagi dia selalu menyapa. Saya hanya merasa bahwa dia tidak sedang baik-baik saja, karena itu terjadi sejak dia bertemu dengan saya mas.” Kata Dania.
“ Bagaimana ya mbak, Mas Satrio memang pernah sedikit membahas hal ini, tapi apakah itu harus diperjelas lagi?” Tanya Ali.
“ Maksudnya mas?” Dania mulai penasaran.
“ Bukannya mbak Dania sendiri yang meminta Mas Satrio untuk tidak mendekatinya lagi, bukannya mbak sendiri yang meminta Mas Satrio untuk menjauhi mbak.” Kata Ali.
Dania tertegun.
“ Saya tidak pernah melakukan itu mas. Sungguh.” Kata Dania.
Ali menunjuk kearah Satrio.
“ Mbak lihat Mas Satrio mbak, disana dia tertawa dan terlihat bahagia dan selalu ceria, namun tidak ada satupun yang tahu kalau hatinya sudah hancur dan berkeping-keping mbak, dan semua itu karena mbak Dania.”
“ Karena saya? Saya tidak melakukan apa-apa mas Ali.” Dania berusaha meyakinkan. Sungguh dia sudah berkata dengan sebenarnya. Benar seperti apa yang ada dibenaknya kali ini, Satrio menghilang karena ada hal yang membuatnya melakukan itu, dan Dania tidak pernah meminta lelaki itu menjauhinya. 
“ Mbak, besok saya akan tunjukkan sesuatu.” Kata Ali.
“ Baiklah mas. Semoga itu menjadi jawaban dari pertanyaan saya.”
“ Kita kesana lagi mbak. Anggap saja malam ini tidak ada percakapan tadi mbak, bersikaplah seperti biasa.” Kata Ali lagi.
Dania mengangguk.
Keduanya bangkit dan menuju kearah Hanafi dan Satrio lagi. Tampak Hanafi sudah berhenti mencoba melewati beringin kembar itu, dia justru terngah mengobrol serius dengan Satrio.Entah apa yang diperbincangkan.
“ Kita pindah ketempat lain? Mbak Dania ingin minum kopi katanya.” Begitu kata Ali kepada Hanafi dan Satrio.
“ Oh ya? Kita jadi ke Kopi Joss?” Tanya Satrio.
“ Itu yang tadi saya tanyakan sama mas Ali. Makanya sekarang saya ingin mencobanya mas, tidak jauh dari sini ya katanya.” Kata Dania.
“ Tidak sampai setengah jam, kita kembali ke utara.” Kata Satrio.
“ Kopi arang yang tadi mas ceritakan?” Tanya Hanafi.
“ Betul mas.” Jawab Satrio.
“ Ayok pindah kesana.” Kata Ali lagi.
Mereka kembali menaiki mobil. Ali kembali bercerita tentang Kopi Joss itu kepada Hanafi. Sementara dari tape kembali mengalun lagu dangdut miliknya David Fanreza, lagu yang menjadi kesukaannya Hanafi. Dania yang duduk dibelakang bersebelahan dengan Satrio hanya diam dan mendengar perbincangan mereka. Satrio juga tampaknya lebih banyak diam, sesekali dia hanya menimpali dengan suara berat dan seraknya yang khas itu.
“ Jadi didalam kopinya itu dimasukkan bara gitu mas?” Tanya Hanafi.
“ Iya betul. Seperti arang berwarna hitam, dan itu yang membuat kopi tersebut selalu panas. Kalau normalnya kopi yang diseduh itu panasnya hanya mencapai dua puluh menitan, dengan tambahan arang tersebut panasnya bisa mencapai empat puluh menit sampai satu jam.”
“ Arang kayu?” Tanya Dania.
“ Betul. Jadi arang itu masih mengepul, dan itu dimasukkan kedalam seduhan kopi. Bersih dan halal kok. Kalau hari-hari seperti ini sepertinya ramai, itu kopinya sampai dengan pagi.” Jawab Satrio.
“ Tapi nanti dibatasi jamnya mas, takutnya kami tidak tidur nanti. Besok ngantuk di tempat acara, haha.” Kata Hanafi sambil tertawa.
“ Yaa, nanti sampai maksimal jam 12 saja.” Kata Ali. 
Ternyata jalannya berputar, seperti bertemu dengan jalan yang pertama dilewati tapi lewat lagi kearah utara. Melewati jalanan dua arah yang terus ke utara dan kemudian berbelok arah. Tidak lama sampailah ditempat yang dimaksud. Begitu memarkirkan mobilnya, mereka dengan berlari kecil menyebrangi rel kereta terus keutara.
“ Ini Malioboro ya Mas Satrio?” Tanya Dania.
“ Iya betul. Ini Malioboro, nanti kalian juga akan kesini.” Kata Satrio.
“ Sayang ya sudah malam, padahal Dania ingin beli oleh-oleh untuk bunda dirumah mas.” Kata Dania.
“ Hemm...” 
Dania menatap Satrio. Ternyata Satrio berjalan lebih cepat, Dania berharap Satrio akan menggandeng tangannya namun ternyata tidak. Dania tersenyum sendiri. Sementara Ali seolah tahu maksud Dania itu, dia hanya tersenyum kepada Dania dan mengangkat alis matanya itu. Dania membalasnya dengan senyum kecut sambil memoncongkan bibirnya. Dia berjalan mengikuti Satrio terus menelurusi jalanan itu.
Kopi Joss yang dimaksud Ali ternyata adalah sebuah lesehan yang ada dipinggiran rel kereta, tepatnya di depan stasiunnya. Ada gerobak-gerobak yang Dania tahu itu bernama Angkringan, ada banyak gerobak serupa disepanjang jalan. Pengunjungnya juga begitu banyak. Mereka rata-rata tidak sendiri, ada yang rombongan, ada juga yang memamfaatkan keindahannya bagi mereka yang tengah sedang kasmaran. Sedikit kesulitan menemukan ruang yang kosong, sampai akhirnya seorang laki-laki bertopi menghampiri dan mencarikan tempat yang kosong. Tempat itu hanya diberi alas tikar plastik, ada selembar menu terbuat dari kertas yang dilaminating.
Ali mengambil menu itu dan berlagak seperti waitress dia mulai mencatat semua pesanan mereka. Lalu dia menuju kearah laki-laki bertopi yang tadi mencarikan mereka tempat duduk, tak lama dia kembali lagi. Satrio tampaknya sedang membuka handphonenya, dan membalas pesan yang mungkin tadi belum dibalasnya. Hanafi juga melakukan hal yang sama. Dania menarik nafas. Kehidupan manusia modern dimana gadget sudah menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan dari keseharian manusia. Bahkan saat sedang berkumpul seperti ini sepertinya mereka fokus dengan dunianya masing-masing. Namun tidak lama makanan datang dan Satrio terlihat memasukkan handphonenya lagi.
“ Nah, ini namanya nasi kucing. Kalian harus mencoba.” Kata Satrio.
“ Wah jadi ini nasi kucing yang pernah mas ceritakan?” Tanya Dania.
“ Iyaa, jadi inilah nasi kucing. Nasi yang lauknya sambal teri.”
“ Akhirnya kesampaian juga aku memakan nasi kucing.”
“ Tidak ada ditempat lain khan?” Tanya Satrio lagi.
“ Di Tembilahan tidak ada.” 
“ Mau mencoba?” Tanya Satrio.
“ Boleh mas. Mas ini lapar ya, sampai beli tiga.” Kata Dania
“ Satu tidak cukup, haha.” 
“ Pura-pura tegar membuat lapar ya mas?” Timpal Ali.
Satrio menghentikan makannya lalu mengacungkan tinjunya kearah Ali. Ali tertawa terbahak-bahak karenanya. Sementara Hanafi diam dan hanya memperhatikan saja mereka, dirinya masih fokus dengan handphonenya. Dia tidak begitu memperhatikan obrolan ketiga orang itu, dirinya tampaknya lebih sibuk memfhoto makanan dan kopi didepannya.
“ Upload, upload!” Kata Ali.
“ Hahaha.” Hanafi tertawa mendengarnya.
Kopi yang diberi arang itu sungguh enak memang rasanya. Benar seperti yang dikatakan Ali kalau panasnya itu lebih terasa, meskipun hanya kopi dengan gula namun rasanya seperti berbeda dengan kopi lain. Yang menariknya adalah arang kayu yang dimasukkan kedalam gelas, setiap diaduk arangnya mengepulkan asap. Dania terus berulangkali melakukannya. Sampai akhirnya Satrio menyuruhnya menghentikan yang dilakukannya itu. Menurut Satrio kalau semakin sering diaduk maka tingkat panasnya akan cepat habis, justru diaduknya kalau sudah terasa mulai dingin sehingga seduhan kopinya akan panas lebih lama. Kopi ini sungguh terasa nikmat. Suasananya juga sedemikian mendukung, berada dikeramaian. Disana-sini banyak orang, ada yang tengah mengobrol, ada juga yang sedang rapat yang sepertinya adalah mahasiswa. Sejauh yang Dania tahu di Jogja mahasiswa memang dimana-mana. Kota pelajar ini menjadi syurganya mencari ilmu. Universitas-universitas terbaik ada dikota ini. Tiap tahunnya jumlah pendantang terus bertambah dan rata-rata adalah mahasiswa. Jadi tidak heran kalau populasi mahasiswa di kota Jogja akan semakin bertambah, dan dimana-mana selalu bertemu mahasiswa. Ketika siang mereka belajar, malamnya berkumpul seperti ini untuk rapat dan berdiskusi. Sebuah pemandangan yang begitu menarik untuk dinikmati.
***

Setelah kembali sibuk perlombaan dan aktifitas membimbing anak-anak asuhnya, di hari keenam Dania baru bisa berpergian lagi. Bukan untuk jalan-jalan, namun dia menemui Ali yang katanya akan menunjukkan sebuah rahasia tentang Satrio, sebuah rahasia yang selama ini mungkin kerap menimbulkan pertanyaan dikepalanya dan terus menghantuinya. Bagi Dania itu adalah hal yang harus diselesaikan. Bila kata-kata Ali berberapa yang lalu dengan jelas mengatakan bahwa Dania yang meminta Satrio untuk menjauhinya adalah alasan mengapa pemuda itu menghilang, rasanya dia harus meluruskannya. Dia sama sekali tidak pernah meminta Satrio untuk jauh dari dirinya, justru sebaliknya kerinduan besar sudah bertahta dihatinya. Dia berharap Ali bisa jadi perantara untuk membuat permasalahan hatinya itu selesai. Bila Satrio memang sudah memantapkan hati untuk tetap menjauh darinya, maka Dania pun harus merelakannya, namun setidaknya dia sudah berusaha untuk mencoba merekatkan kembali hubungan yang sedang tidak harmonis. Ali mungkin tahu sesuatu, dan Ali akan menjadi jembatan antara dia dan Satrio.
Sore itu Satrio memang sedang tidak ada di Jogja, dia ada urusan ke Solo untuk bertemu dengan partner bisnisnya. Ali yang menjemput Dania ke hotel tempat Dania menginap, masih dengan menggunakan mobil Honda Jazz kemarin. Dania menebak mungkin Satrio bersama dengan staff nya yang lain, sejauh dia ketahui memang ada beberapa driver di kantornya Satrio, salah satunya adalah Pak Asep, driver bus yang selalu mengantarkan rombongan.
Ali orangnya juga cukup ramah dan santun, bahkan nyaris tidak jauh berbeda dengan Satrio. Mungkin karena kedekatan keduanya membuat gaya dan perilakunya juga tidak jauh berbeda. Ali hanya lebih banyak bergurau dan kadang nyeleneh dibanding Satrio. Sepanjang perjalanan Ali bercerita tentang pertama kali bertemu Satrio sampai akhirnya kedua orang itu dekat dan sukses membangun karir bersama. Dania memang sedikit ingin tahu banyak tentang Satrio, selama ini dia memiliki sedikit pengetahuan soal pemuda itu.
“ Mas Satrio itu orangnya humble, komunikatif, dan memiliki jiwa seorang pemimpin mbak. Pertama kenal dulu di kampus, kami di fakultas yang sama namun kampus tempat kuliahnya berbeda, saya dikampus pusat sementara Mas Satrio dikampus kelas karyawan. Pertama kenal, Mas Satrio begitu pandai berkomunikasi. Dia adalah tipe orang yang begitu kenal langsung bisa membuat orang lain tertarik. Itu yang membuat saya kemudian dekat. Setahun kemudian dia menjadi ketua himpunan mahasiswa di jurusan, itu jadi semacam batu lompatannya hingga akhirnya dikenal luas dan teman-temannya semakin banyak. Dia dikenal memiliki banyak koneksi di dalam dan diluar kampus. Namun tidak semua orang suka kepadanya yang kerap dianggap terlalu sering mengekspos dirinya. Bagi saya orangnya justru apa adanya. Dia mulai mengenal banyak teman yang rata-rata stratanya lebih tinggi, saya hanya ikut-ikutan saja. Saya belajar bagaimana Mas Satrio bersosialisasi, hingga pada suatu ketika ide membuat bisnis travel itu muncul.” Kata Ali.
“ Kekuatan koneksi dan jaringan pertemanannya Mas Satrio yang membuat bisnisnya berkembang mbak. Satrio adalah tipe pemimpin yang paling mengerti sisi staffnya, makanya semua orang itu senang diajak kerjasama dengan dirinya.” Lanjutnya.
“ Kalau soal percintaan?” Tanya Dania.
“ Saya yakin mbak pasti akan menanyakan itu. Mas Satrio itu orangnya setia mbak. Sejauh yang saya tahu dulunya dia pernah punya kekasih yang begitu dicintainya, namanya saya lupa. Kekasihnya itu pernah bekerja di Jakarta sebagai waitress disebuah resto hotel, waktu itu Mas Satrio masih kuliah. Menurut Satrio dia kenal kekasih pertamanya itu dari pemain drum nya, Satrio pernah main musik dulu. Cukup lama kisah percintaan mereka, dua tahunan lebih. Satrio itu orangnya tidak terlalu merasa wah dengan yang namanya cinta, makanya dia betah berhubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Suatu ketika, kekasihnya itu memutuskan untuk pindah kerja ke Jogja agar mereka dekat. Kekasihnya itu sempat kerja di Ibis Hotel, Royal Ambarukmo Hotel, dan terakhir di Grand Aston. Itu hotel besar semua.”
“ Percintaannya kandas karena semakin lama gaya hidup kekasihnya itu berubah. Pertemuan mereka justru semakin jarang, padahal mereka ada di kota yang sama. Mas Satrio memutuskan berpisah dengan kekasihnya itu. Kekasihnya sempat meminta untuk kembali namun Mas Satrio enggan untuk kembali meskipun sebenarnya Mas Satrio masih cinta, Mas Satrio lalu fokus pada pekerjaannya. Tidak ada kabar sampai setahun lebih, Mas Satrio sempat merindukan sosoknya kembali, namun ternyata rasanya sudah hampa. Mas Satrio bilang terakhir jalan bersama mereka berdua namun mereka seperti berjalan sendiri-sendiri. Sekarang kekasihnya itu sudah menikah dan memiliki anak, dia menikah dengan mantan kekasihnya semasa sekolah. Ada yang bilang dia menerima lelaki itu sebagai pelarian dari Satrio, namun ada juga yang berkata kalau memang sudah jodohnya bersama yang lain, bukan dengan Satrio.” Kata Ali panjang lebar.
“ Bagus ceritanya, lalu setelah itu Mas Satrio punya kekasih lagi?”
“ Setelah itu Mas Satrio memang sempat mencoba untuk membuka hati dengan beberapa teman wanitanya, semuanya cantik-cantik, namun entah mengapa tidak ada yang benar-benar menyentuh hatinya. Lalu sejak dia kenal dengan mbak Dania ini, hidupnya seakan berubah...”
“ Berubah bagaimana mas?”
“ Mas Satrio seperti menemukan cinta sejatinya pada diri mbak Dania. Mbak adalah satu-satunya orang yang begitu dicintai Satrio sejak enam tahun terakhir ini. Satrio selalu mengatakan kalau Dania adalah orang yang berhasil menyentuh hatinya, orang kedua yang membuatnya benar-benar mencintai sosok wanita. Mbak Dania bukanlah orang yang mirip atau sama dengan sosok kekasihnya dulu, Mas Satrio tidak pernah membanding-bandingkan, selama yang saya tahu, mbak Dania lebih dicintai dari sosok kekasih pertamanya itu.” Kata Ali.
“ Bagaimana bisa mas, padahal kami bertemu belum lama,”
“ Ya itulah cinta mbak. Cinta tidak mengenal ruang dan waktu.”
“ Ya saya heran saja, bagaimana bisa perasaan Mas Satrio seperti itu kepada saya, padahal bertemu saja belum pernah sekalipun.” Kata Dania.
“ Satrio pernah pulang dulu mbak, dia sudah melihat mbak Dania.”
“ Ohya?” Dania terkaget. ”Kapan?”
Mobil yang dikendarai Ali sudah sampai dan memasuki sebuah kompleks perumahan, sepertinya keduanya memang tinggal di kompleks tersebut. Seorang satpam tampak melambaikan tangan yang disambut dengan klakson dari mobilnya. Ali menjalankan pelan-pelan mobilnya dan berhenti disebuah rumah. Sambil membuka seat belt, dia menjawab pertanyaan Dania.
“ Pertama kali mbak Dania dilihat Mas Satrio itu waktu Dania masih semester satu katanya, sejak itulah dia jatuh cinta sampai sekarang.”
“ Mbak, ini rumah tempat kami tinggal.” Kata Ali.
“ Oh disini ya mas, lalu kenapa Mas Ali mengajak saya kesini?” 
“ Saya khan hendak memperlihatkan sesuatu. Masuk mbak.” Kata Ali.
Dania mengikuti pemuda bercambang itu memasuki rumah. Rumah itu tidak terlalu besar, lebih kecil dari rumahnya, namun rasanya lebih nyaman. Desain interiornya sungguh terlihat minimalis dan elegan. Ruang tamu dan ruang tengahnya demikian nyaman. Dania hanya menebak saja pasti Satrio yang mendesain interior ruangannya sehingga rapi dan cukup indah dan sedap dipandang. Satrio memiliki cita rasa akan seni yang tinggi. Dania begitu menyukai rak bukunya yang berisi buku-buku bacaan dan novel yang lumayan banyak dan bagus-bagus. Dania membuka-buka sebentar, ada buu-bukunya Pramudya Ananta Toer, Arswendo Atmowiloto, Tere Liye, Asma Nadia, Habbiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata dan lain-lain. Saking rapinya sampai dibeli tulisan layaknya rak buku diperpustakaan, ada politik, novel sastra, teenlit, dan buku resep atau tutorial. Satrio memang suka membaca juga, dulu sempat bercerita kalau dia akan membuatkan novel untuk Dania yang akan menceritakan kisah cintanya kepada Dania.
Diruang tengah ini ada televisi lagi. Rasanya sudah ada dua televisi dirumah ini. Mungkin karena rumah ini juga kerap digunakan sebagai tempat meeeting karyawan kantornya jadi dibuat sedemikian rupa. Ali mengajak dirinya menuju ke sebuah kamar, saat dibuka seperti sebuah ruang studio karena didalamnya ada gitar, keyboard, dan komputer. Dania menebak ini adalah ruang kerjanya Satrio.
“ Ini ruang kerja kami mbak, disini juga jadi studionya Mas Satrio. Mas Satrio itu orangnya romantis, dia kerap membuat lagu untuk mbak disini, di komputer itu ada beberapa lagunya yang ditulis untuk mbak Dania. Mungkin mbak tidak ingin mendengarkan, tapi Mas Satrio kerap menulis lagu sampai pagi lalu ingin mbak Dania mendengarkannya. Itu bukti kecintaannya mbak.”
“ Mas Satrio memang pernah mengirimi lagu tulisannya.”
Ali menunjuk kekamar satunya. “ Nah ini kamar tidurnya Mas Satrio.”
“ Kita boleh masuk?”
Ali mengeluarkan kunci dari saku dan membuka pintunya.
“ Sebenarnya Satrio paling enggan kalau ada yang memasuki kamar pribadinya, mbak tahu kenapa? Itu penyebabnya mbak.”
Ali menunjuk kearah dinding. Disitu tertempel fhoto-fhoto Dania yang sudah dicetak dan diberi frame cantik. Dania tertegun sejenak melihatnya, rasa tak percaya dengan semua ini. Matanya langsung tertuju pada hiasan yang didalam kamar Satrio itu. Kumpulan fhoto dirinya dari semenjak SMA sampai sekarang ada disitu, diberi hiasan yang membuatnya indah. Dania saja tidak pernah mencetak fhotonya sendiri, bagaimana Satrio mau melakukan hal ini. Ali menunjuk ke dinding yang lain, sebuah stereofoam putih tertempel didinding yang dihiasi beberapa fhoto Dania, dan tulisan-tulisan lain. Ada fhoto-fhoto Satrio sedang berwisata di berbagai daerah. Namun yang menarik adalah Tree of life nya Satrio yang terpampang jelas disitu. Satrio menulis bahwa dia akan lulus kuliah, dia akan melajutkan S2 nya, membangun bisnis, mengajar, dia juga akan membeli gitar impian, dia akan memiliki rumah, dan yang disitu juga tertulis bahwa di umur 30 tahun dia akan menikahi Dania, lengkap dengan fhotonya Dania yang tertempel disitu. Semuanya sudah dicoret kecuali memiliki rumah dan menikahi Dania.
Melihat itu semua Dania hanya menelan ludahnya. Ternyata Satrio tidak hanya sekedar mencintainya, namun pemuda sudah berharap banyak dengan dirinya. Hal yang begitu mengejutkan bagi Dania, disitu juga dituliskan bagaimana step sampai akhirnya dia menikahi Dania. Dania benar-benar terharu melihat semua ini, pertama kalinya ada orang mencintai seseorang dengan hal yang demikian luar biasa.
Ali mengagetkan Dania dengan menunjukkan sesuatu yang lebih mengagetkan, saat Ali menunjukkan sesuatu yang ada disudut ruangan itu. Terselip dibagian samping sekali dekat dengan kumpulan fhoto-fhoto dirinya yang diberi lampu neon berwarna biru, disitu ada sebuah kotak batik berukuran sejengkal, Dania melihat kepada Ali, Ali mengangguk seakan dia mempersilahkan Dania untuk membukannya.
Tercekat rasanya hati Dania melihat isinya. Sebuah cincin perak indah berwarna putih dengan liontinnya berwarna biru terlihat disana, sebuah secarik kertas juga ada disana. Dania membukanya untuk menghilangkan semua rasa penasarannya, secarik kertas putih itu bertuliskan “Bila engkau memiliki cincin perak yang indah, sematkanlah di jariku, ketika kepulanganmu hanya untuk menemuiku”. Dania menekap mulutnya. Rasa sesak menghujani dirinya bak ribuan jarum menusuk tubuhnya, ingin rasanya dia terduduk bersimpuh seketika. Badannya mendadak lemas, gemuruh didadanya membuat banjir airmata membasahi kedua kelopak matanya.
Sebuah cincin dan secarik kertas itu adalah penyebabnya. Dania ingat betul, itu adalah kata-kata yang pernah diucapkan pada pemuda itu saat mereka sedemikian dekatnya. Dania tak pernah menyangka kalau pemuda itu begitu memperhatikan dan menjadikannya sebagai sesuatu hal yang besar didalam hidupnya. Dipertemuan terakhir ketika Satrio menemuinya memang pemuda itu sempat mengatakan tentang maksud kepulangan dan keberaniannya untuk menemui Dania. Dania tak menyangka bila kepulangan Satrio adalah pulang untuk menuntaskan janji. Janji yang berawal dari sebuah perkataan yang diselesaikan oleh seorang laki-laki, laki-laki yang tahu bahwa janji adalah amanah yang menjadi kewajiban untuk diselesaikan. Satrio tidak pernah mengatakan dia membawa cincin itu, Satrio tidak mengatakan bahwa dia akan melamar Dania begitu dia pulang, Satrio justru memilih menunggu sampai Dania benar-benar menjawab cintanya.
Rasa haru menusuk-nusuk hati Dania. Sungguh hatinya tak pernah menyangka sebesar ini cinta Satrio kepadanya. Laki-laki itu yang menjadi laki-laki yang dikenal Dania dengan cintanya yang luar biasa. Entah sudah berapa kali Dania menolak cintanya, entah berapa kali Dania mencoba menghindar, namun Satrio tidak pernah berhenti mencintainya. Laki-laki itu terus berdoa untuknya dan mencintai seolah cintanya tak ada batas habisnya.
“ Sudah mbak?, mbak sudah tahu bagaimana cinta Mas Satrio?”
“ Iya mas Ali. Sungguh saya tak pernah menyangka.” Kata Dania.
Ali menyerahkan sebuah ponsel Oppo berwarna hitam kepada Dania. Dania keheranan, namun diterimanya juga ponsel itu dengan tanda tanya lagi. Rasanya dia pernah melihat ponsel itu, ponsel itu pernah dibawa Satrio ketika laki-laki itu pulang menemuinya. “ Apa ini mas?” Tanya Dania.
“ Buka saja.” Kata Ali.
Rasa keingintahuan membuat Dania membuka kunci pengaman ponsel itu. Tidak ada password dan sandi pengaman. Di wallpaper depannya ada fhoto dirinya yang sedang tersenyum, berpakaian hitam, dan rambutnya terurai panjang. Dania membuka-buka galerinya, ditemukan juga fhoto-fhotonya yang lain. Satrio menyimpan banyak fhoto dirinya di ponsel. Dania tersenyum dengan mata yang masih basah. Tidak ada sesuatu. Dania memandang ke arah Ali. “ Buka Whatsapp nya mbak.” Kata Ali.
Dania membuka aplikasi whatsapp. Entah ada apa disitu sampai ini menjadi hal yang begitu penting yang akan ditunjukkan oleh Ali. Dania membuka, ada banyak chatting di ponsel Satrio. Beberapa dari grup dan partner bisnis, temannya, dan akhirnya dia menemukan chat Satrio dengan dirinya. Dia buka chattingannya. Tertegun dan sejenak dirinya membaca pesan yang terkirim di ponsel Satrio dari kontaknya. 
“Mas Satrio yang baik,
Apa kabar mas? Semoga baik-baik saja. Maafkan aku mas yang
baru sempat memberi kabar. Sungguh aku ingin memberi kabar
namun aku tidak tahu bagaimana caranya mas. Mas Satrio itu
adalah sosok baik yang selama ini sudah hadir dalam hidupku,
terima kasih mas. Namun ada hal yang harus aku beritahukan mas,
aku meminta maaf kalau aku harus melukaimu sekali lagi. Aku sungguh
tak bisa menerima kehadiranmu mas, hatiku sudah terisi dengan cinta
yang lain. Aku telah melakukan hal besar yang harus aku tebus mas.
Aku jatuh kepelukan pria lain, aku hamil mas, dan aku harus menebus
Semua kesalahan dengan pernikahan. Lupakan aku mas, lupakan”.
“ Mas Ali, ini bukan saya mas. Saya tidak pernah mengirim ini!”
“ Benarkah itu mbak?” Tanya Ali.
“ Sungguh mas, demi Allah. Saya tidak mungkin seperti ini mas. Ini adalah fitnah yang sungguh keji mas. Saya tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi yang pasti ini sangat kejam.” Kata Dania.
“ Saya percaya sama mbak. Tapi Mas Satrio sudah terlanjur pergi mbak, hatinya sudah terlalu sakit dengan semua ini. Hatinya seperti daging yang ditusuk dengan bara api mbak, aku bisa merasakannya.” Kata Ali.
“ Saya harus menjelaskannya mas. Harus.” Kata Dania. Dania benar-benar mendidih darahnya. Pikirannya langsung tertuju pada Zulfikar, pasti laki-laki bangsat itu yang sudah melakukan semua ini. Tidak ada tersangka lain yang bisa melakukannya selain Zulfikar. Mungkin saat ponselnya terjatuh setelah dia memarahi Zulfikar yang membuat pemuda itu sedemikian keji melakukan fitnah ini. Tidak terima rasanya dia dihina seperti ini, sungguh suatu penghinaan besar. Dimata Satrio dia sudah seperti sampah yang teronggok dan layak, dan entah apa yang membuat Satrio begitu mempercayai tanpa mencari tahu kebenarannya. Mengapa semua laki-laki itu kerap melakukan tindakan bodoh?
“ Bila memang itu kebenarannya, saya akan membantu mbak.”
“ Bagaimana caranya mas?” Tanya Dania.
“ Nanti kita cari cara yang tepat mbak, semoga ini menjadi akhir dari cinta Satrio. Namun sebelumnya ijinkan saya bertanya pada mbak Dania, apa yang mbak rasakan saat ini kepada Satrio? Karena percuma saja mbak akan menjelaskan untuk memperbaiki citra mbak tapi hati mbak masih sama seperti Dania yang selama ini belum bisa mencintai Satrio, apa gunanya mbak..”
“ Kalau saya boleh jujur. Hati saya sudah menerima Mas Satrio mas, hanya saja saya butuh kepastian yang membuat saya benar-benar bisa begitu percaya, hari ini semuanya sudah membuat percaya saya itu menguat.”
“ Baik, kita akan dapatkan kembali hati Mas Satrio. Dengan catatan mbak, jangan sakiti hatinya mbak. Sekali ini saja. Dia sudah mempertaruhkan semua hati dan perasaannya untuk mbak, gadis yang amat dicintainya. Cinta Satrio itu tulus mbak. Percaya sama saya.”
“ Iya mas. Saya tahu itu.” Kata Dania sambil mengangguk. Airmata terus mengalir membasahi wajah cantiknya. Dipeluknya erat kotak berisi cincin perak itu dengan segenap jiwanya. 
***

Malam itu juga Dania dan Ali mulai merencanakan pertemuan dengan Dania didepan teras rumah itu. Ini sudah hari keenam, hanya tinggal beberapa hari lagi Dania dan rombongan akan pulang kembali ke Tembilahan. Bila masalahnya dengan Satrio belum selesai, rasanya Dania akan menyesalkan sesuatu yang begitu besar dalam hidupnya. Satrio juga begitu jahat menyelipkan kerinduan dan menghujamkan cinta dihatinya, namun pergi begitu saja lalu setelah sekian lama Dania baru tahu kebenarannya. Benar seperti apa yang diprasangkakan sebelumnya, Zulfikar adalah bing keroknya. Ternyata laki-laki itu betul-betul sudah berusaha untuk melakukan kejahatan untuk mendapatkan dirinya. Setelah Hanafi yang menjadi korban kecemburuannya, sekarang dia sukses memperdaya Satrio, lelaki yang paling mencintai Dania. Satrio dengan cintanya yang luar biasa harus terpaksa merelakan dirinya untuk hal yang tidak benar. Bagaimana bisa Satrio berlari sejauh itu dengan luka bersimbah darah dihatinya? Dania tahu seberapa pedih hati lelaki itu, menghilangkan semua dan belajar hidup tanpa Dania adalah hal terberat bagi Satrio. Dania tidak ingin itu terjadi, dia harus menjemput raga Satrio yang sudah belajar terbang menjauh darinya, memastikan bahwa dirinya punya ruang untuk pemuda itu. Memastikan bahwa cinta sudah hadir dan Satrio adalah lelaki yang Dania mau saat ini.
Untuk Zulfikar sendiri dia sudah berjanji dia akan menyiramkan cuka ke muka pemuda tampan namun berperilaku buruk itu. Dania sempat berusaha menghubunginya dan memaki pemuda itu, bukannya takut dan malu karena perbuatannya diketahui, namun pemuda itu justru tertawa dan akan membuat perhitungan lain kepada Dania. Cinta buta Zulfikar membuat pemuda yang baik berubah menjadi sosok yang sudah jauh melampaui batas. Seharusnya dia bisa berkompetisi dengan baik, toh Dania sudah menerima kehadirannya dengan baik juga. Namun ambisi memiliki yang membuat pemuda itu tampaknya sudah benar-benar gelap mata. Tidak ada ketakutan dimata Dania, bila pemuda itu nekat maka Dania juga takan tega untuk membalasnya. Benci sekali dirinya dengan pemuda itu. Dania tidak takut. Kalaupun nanti Zulfikar melakukan tindakan kriminal yang membahayakan, dia tidak segan-segan untuk melaporkan kepada polisi, sekalian saja pemuda itu membusuk di tahanan. 
Yang pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana untuk membuat Satrio kembali kepadanya. Pemuda itu memiliki hati yang mudah untuk merelakan segala sesuatu untuk orang lain, dia rela mengorbankan hati dan jiwanya untuk kepentingan dan kebahagiaan orang yang dikasihi, namun kali ini itu tidak boleh terjadi, karena kebahagiaan Satrio tidak boleh direlakan begitu saja, Satrio harus bahagia, dan bahagia Satrio adalah dirinya.
***

Keberuntungan terus hadir dan menciptakan harapan-harapan baru. Hari terakhir di ajang perlombaan digelar juga akhirnya hari ini. Ini adalah final dari semua perjuangan dan doa tim kontingen Madrasah Al Aminah Tembilahan untuk bisa membawa pulang kemenangan. Meskipun tidak semua perlombaan di lalui dengan mulus namun Madrasah Al Aminah Tembilahan berhasil sampai di final untuk perlombaan Futsal dan Cerdas Cermat. Sementara untuk dialog berbahasa Inggris dan Bulu Tangkis, hanya sampai di semifinal saja hingga akhirnya dikalahkan oleh tim lawan. Tim Cerdas cermat B berhasil menyabet juara ketiga. Kabar baik juga datang dari perlombaan keagamaan, dimana Hindun dan Ahmad Rofi akhirnya berhasil menyabet juara ketiga mengalahkan puluhan peserta terbaik mewakili daerah masing-masing. Hindun dan Ahmad Rofi menjadi juara ketiga dan berhak mendapatkan piagam dan uang pembinaan yang akan diberikan di penutupan acara. Untuk juara 1 dan 2 direbut oleh Perwakilan Sumatera Barat dan Provinsi Gorontalo. Kedua pemenang itu memang berhasil memukau juri dengan lantunan bacaannya yang luar biasa indahnya. 
Meskipun hanya sukses merebut tempat ketiga, namun itu sudah menjadi kebahagiaan dan penghargaan besar bagi sekolah. Dania adalah orang yang paling berbahagia dengan prestasi itu, tidak sia-sia dia melatih kedua anak asuhnya itu hingga akhirnya berhasil memberikan hasil terbaik untuk sekolah, daerah, dan diri mereka sendiri. Kabar baik yang juga ditunggu adalah kemenangan untuk tim futsal yang hari ini akan bertanding melawan tim dari Madrasah Fatahillah Jakarta memperebutkan juara 1. Hanafi juga jelas bangga bukan main. Kecemasan dan kegelisahan diawal berbuah menjadi kebanggaan luar biasa. 
Perjuangan anak-anak asuhnya untuk sampai ke final memang benar-benar menguras pikiran dan tenaga. Dengan hanya jeda sehari mereka harus kembali berhadapan dengan lawan yang berat. Tim mereka memang menjadi solid dan tak terkalahkan di tiga pertandingan terakhir, bahwa di semifinal berhasil menghancurkan tim lawan dengan skor fantastik 8-6. Hanafi jelas berbangga. Namun perjuangan belum selesai. Hari ini menjadi pertandingan terakhir mereka, dan lawan yang dihadapi juga tidak tanggung-tanggung, yaitu tim Madrasah Fatahillah Jakarta. Tim yang sedari pertandingan pertama sampai kefinal selalu menggungguli lawannya dengan skor yang berjarak. Tim terkuat yang menjadi idola itu terlihat memang memiliki skill diatas yang lain. Bagi tim dari Tembilahan, jelas menjadi sebuah momok yang menakutkan.
Hanafi tak henti-hentinya memberikan semangat kepada anak-anak asuhnya itu untuk tetap tidak gentar menghadapi lawan. Pak Anwar dan Ibu Marhumah juga sampai memberikan kata-kata motivasi untuk membangun jiwa kontingen yang akan bertanding. Bagi Ahmad, Jais, Bani, Zul, Agung, Fikri, dan Fatur, semua support mereka sangat ampuh. Mungkin tanpa motivasi dan dukungan tulus dari mereka, tim ini tidak pernah sampai ke final. Mereka berjanji untuk memberikan kemenangan agar menjadi kebanggaan untuk kesekian kalinya bagi sekolah. Hari ini sebelum pertandingan dimulai, tim ini berdiskusi terlebih dahulu, meskipun tidak diperintah oleh pak Hanafi mereka memutuskan untuk berdiskusi dan membangun kekompakan. Di pertandingan semifinal pak Hanafi memang sempat kembali marah kepada tim, terutama kepada Ahmad yang sering terlalu lama membawa bola, kepada Zul yang kerap melakukan pelanggaran, dan kepada Fikri yang enggan turun membantu temannya. Hampir saja mereka down saat dimarahi. Rasanya pak Hanafi belum pernah marah sedemikian rupa, namun akhirnya mereka menyadari sehingga berupaya bangkit dan mengubah kedudukan skor. Meskipun begitu mereka masih merasa bersalah karena merasa tidak mendengarkan instruksi dari pak Hanafi sebagai coach. Kali ini mereka akan berupaya untuk memberikan permainan maksimal dan hasilnya baik.
Walau sempat bersikeras untuk menggunakan strategi menyerang penuh, akhirnya tim mendengarkan saja apa yang diperintahkan Hanafi untuk berada di posisi bertahan dan menyerang hanya dengan tekhnik one by one. Keberuntungan kembali memihak karena akhirnya tim kontingen Madrasah Al Aminah kembali berhasil mengungguli lawan di babak pertama. Target menjadi juara sampai didepan mata, hingga sampai akhirnya begitu skor sudah imbang, sebuah kesalahan kecil menghentikan mimpi mereka. Ahmad tanpa sengaja melakukan sliding keras tepat dititik pinalti dan membuat striker dari Madrasah Fatahillah Jakarta terkampar seketika.
Nafas tertahan dan keringat dingin semua penonton menjadi saksi saat itu ketika tendangan pinalti gelandang tim Madrasah Fatahillah membobol pertahanan gawang tim Madrasah Al Aminah Tembilahan. Mimpi menjadi juara pertama hilang didepan mata. Sampai pertandingan berakhir, skor tidak berubah dan memaksa tim Madrasah Al Aminah harus berpuas diri dengan menjadi juara kedua di kompetisi tersebut. Tidak ada kekecewaan, setidaknya kesalahan dan perjuangan sudah membawa mereka berada dititik yang tidak dibayangkan sebelumya. Penyesalan akan sebuah kesalahan pasti ada, namun rasa syukur tetap mengalahkan segalanya.Perjalanan mereka tidak sia-sia, walaupun beberapa kontingen gagal mendapatkan hasil maksimal, setidaknya ada kemenangan yang dibawa pulang. Sekolah harus bangaa, semua pendukung juga wajib berbahagia. Namun yang paling berbahagia adalah Hanafi dan Dania, kerja keras membimbing anak-anak asuhnya berakhir dengan sebuah kebanggaan.

***

Bagian 13 : Pilihan Hati Dania

Hanafi setengah terkejut dengan pengakuan Dania itu. Tidak pernah terlintas dibenaknya bahwa lelaki yang selama ini dimaksud Dania adalah Satrio. Satrio Syahbana Rais, sosok yang selama ini begitu diidolakannya. Hati Hanafi merasa ikut bahagia bila akhirnya nanti Dania dan Satrio bisa betul-betul dipersatukan. Dania adalah wanita baik hati yang lembut dan bijaksana sementara Satrio dengan sifat sopan, baik hati dan sederhana. Rasanya keduanya akan menjadi pasangan yang sempurna.
Namun begitu mendengar cerita dari Dania tentang kisah cinta mereka, Hanafi seperti tersihir dan tak mampu berkata apa-apa. Hatinya bak mengutus sosok Zulfikar yang benar-benar sudah menjadi duri bagi kehidupan gadis baik itu. Kali ini sepertinya Hanafi ikut geram dan rasanya ingin sekali meninju wajah pemuda itu. Masih terbayang sepakan pemuda itu di tubuhnya, dia berusaha memaafkan, namun kali ini pemudaitu tidak hanya menyakiti Satrio namun juga sudah membuat Dania ikut terluka. 
Dipandanginya gadis malang itu dengan pandangan nanar. Selama yang Hanafi tahu Dania memang selalu saja dipertemukan dengan pemuda yang salah. Ingin rasanya dia memeluk gadis itu yang saat ini tengah berusaha keras menahan airmatanya. Disisi lain dia punya perasaan untuk menenangkan gadis itu namun batinnya juga bergejolak menahan perasaan bahwa ada gadis lain yang juga tinggal dihatinya yang mungkin akan terluka seperti Dania bila Hanafi memberikan perhatian lebih pada Dania. Akhirnya dia hanya bisa mengusap pundak gadis cantik itu dengan senyuman manis dan kata-kata ala motivator kelas professional.
“ Cinta manusia akan membawa manusia bertemu dan merasakan saat berpisah. Pertemuan dan perpisahan adalah sebuah paket yang selalu ada di dalam kisah percintaan manusia. Kita hanya menjalani dengan hati. Bila hati kita terhenti pada satu titik dan tak mampu berpaling darinya maka kita akan di lemahkan oleh perasaan. Kehilangan cinta akan membawa seseorang belajar untuk mencari tahu mengapa Tuhan sang maha cinta memisahkan dua hati yang dihembuskan cinta dari padanya,” Kata Hanafi.
“ Cinta Dania kepada Satrio adalah cinta yang tumbuh karena hati perempuan sudah tersentuh oleh perasaan. Cinta Satrio kepada Dania adalah cinta lelaki yang tumbuh karena hatinya mampu mengalahkan segala apa yang ada didalam dirinya. Cinta kalian adalah murni dari hati. Bila cintamu dan Satrio bersatu, maka pondasi itu akan kokoh berdiri, bila cintamu tak mampu bersatu maka kalian harus rela membangun hati dengan pondasi baru yang butuh waktu lama untuknya berdiri tegak.” Lanjutnya.
“ Lalu apa yang harus Dania perbuat bang?” Tanya Dania.
“ Mas Satrio tidak akan pernah meminta cinta yang pernah diberikan kepada Dania. Abang yakin Mas Satrio adalah sosok laki-laki yang akan berjuang keras untuk mendapatkan cintanya namun akan menerima dengan bijaksana bila dia merasa telah terkalahkan. Mas Satrio itu seperti halnya Adipati Karna di cerita Mahabarata. Dia tahu dengan posisinya, dia tahu akan kebenarannya, namun dia akan memilih bijaksana menurut versinya.”
“ Mas Satrio punya jiwa yang kuat bang. Rasanya tidak mudah untuk membuatnya kembali percaya, apalagi sudah berulangkali Dania membuat dirinya kecewa.” Kata Dania.
“ Temui dia.” Kata Hanafi lagi.
“ Apakah pantas bang seorang gadis mendatangi lelaki untuk meminta cinta lelaki yang tidak pernah dianggapnya selama ini bang, pantas?”
“ Lalu apa yang harus Dania perbuat?! Membiarkan lelaki itu pergi, dan itu sama dengan membunuh bara cinta yang baru tumbuh dihatimu?”
Dania mengusap airmatanya. 
“ Dania malu bang,..”
“ Mas Satrio memiliki hati seperti baja. Namun dia memiliki sifat yang tidak semua orang miliki, ketulusan dan keihlasannya. Mas Satrio telah bisa membuktikan itu semua. Mas Satrio itu sosok paling tepat mendampingi Dania. Abang yakinkan itu. Meskipun abang belum kenal betul akan sosok Satrio lebih dari Dania, namun abang yakin seyakin-yakinnya dengan apa yang abang katakan kali ini.” Kata Hanafi,
“ Bagaimana bisa abang mengatakan itu?”
“ Ingat masalah sewa hotel dan travel yang kemarin sempat membuat abang panik, lalu kamu juga tahu seperti apa kebenarannya yang ternyata Mas Satrio yang membuat semuanya menjadi mudah. Mas Satrio tidak pernah tahu kalau Dania juga ada dirombongan, tapi dia tahu Madrasah Al Aminah adalah sekolah tempat Dania mengajar. Abang tidak bodoh menilai. Mas Satrio itu mencintaimu Dania, dia mencintai Dania dan semua yang ada di hidup Dania. Itulah cinta Satrio. Ingat juga cerita Mas Ali tempo hari mengapa Mas Satrio masih menunggu cintamu padahal bisa saja dia memilih gadis lain, Mas Satrio hanya mencintai satu perempuan, dan itu kamu.”
Tertegun Dania mendengarnya. Agaknya memang benar dan tidak diragukan lagi mendeskripsikan seperti apa perasaan Satrio kepada dirinya. Namun apakah itu berarti dia harus benar-benar datang kepada lelaki itu dan meminta cinta yang pernah diberikan lelaki yang sedang tengah mencoba untuk melupakannya? Apakah itu sebuah keharusan?
“ Dania, dua hari lagi kita sudah beranjak dari kota ini. Ini adalah saat terbaik Dania. Bila kakipun sudah meninggalkan kota ini dengan suasana yang sama, maka semua hal yang indah itu akan selesai. Mas Satrio akan memulai hidupnya dengan kisah hidupnya yang baru, dan kamu akan melihat dirinya dari jauh dan menyesali mengapa kamu membiarkan rasa malu mengalahkan kebahagiaanmu sendiri...” Kata Hanafi lagi.
Suasana malam terus turun dan menyisakan bintang-bintang dilangit gelap sana. Embun terus berjatuhan mengiringi detak jam yang terus menuju kearah pagi. Sudah hampir sejam lebih Dania duduk didepan teras hotel, memandang kearah langit sana. Hanafi yang sebenarnya letih tetap terjaga menemani dirinya. Nun jauh disana bulan bak mengintai dari balik awan dan menertawakan dirinya yang tengah galau dengan dilema dihatinya.
Aaaaaaaakhhh!
Ingin rasanya Dania berteriak keras melepas segenap beban pikiran di dalam hatinya. Paling enggan rasanya dia memikirkan sosok lelaki. Tak penting rasanya. Namun kalau dibiarkan, bayangan itu terus saja menghantuinya. Semua yang dikatakan Hanafi memang benar adanya, yang menjadi pikirannya sekarang adalah bagaimana caranya. Haruskah seorang gadis seperti dirinya melakukan itu? Tak terbayang andai Satrio justru nanti berbalik menertawakan dirinya seakan dirinya menjadi pengemis yang tiba di halaman rumah Satrio dan meminta belas kasihan lelaki itu.
“ Dania, kamu harus melawan hatimu. Harus.” Kata Hanafi lagi.
“ Jadi, aku harus bertemu dengan Mas Satrio?” Tanya Dania lagi.
“Bukankah itu cara terbaik untuk menyelesaikan semuanya?”
“ Dengan apa, bagaimana?”
“ Mas Ali bisa membantu. Abang juga, bila Dania minta.”
Huh! Mungkinkah ini memang pertanda bahwa sudah seharusnya Dania harus datang kepada lelaki itu. Menimbang ini itu mungkin hanya membuat pikirannya buntu, sementara waktu terus menyempit. Bila Satrio tidak diketuk pintu hatinya, maka pemuda itu akan menutup hatinya untuk selamanya, dan yang menyesal adalah Dania. Kali ini sepertinya Dania harus mampu menghadapinya. Dania yakin pemuda itu tidak mudah menjauh darinya, kalau bisa maka hanya jawaban kepastian yang Dania mau. Dania tahu siapa orang yang akan membantunya menyelesaikan semua ini. Ali!.
***

Sepertinya Satrio memang memang menghindari Dania. Menurut Ali hari ini seharusnya Satrio memang menjadi tour guide bagi rombongan dari Madrasah Al Aminah, karena sebelumnya Satrio sudah menyanggupinya begitu dia tahu kalau tidak ada guide yang bisa hari ini. Tapi kenyataannya adalah Satrio meminta Ali untuk menjadi pemandu bagi rombongan sementara Satrio justru menghilang. Dania dan Ali yang sudah merencanakan pertemuan Dania dan Satrio terancam gagal. Meskipun begitu Ali tetap datang ke hotel menjemput rombongan. Pemuda tampan bercambang itu sudah hadir sejak pukul 07.00 tadi dan langsung bertemu dengan Hanafi. Dania tidak tahu pasti apakah mereka akan membahas soal dirinya ataupun yang lain, dibenak Dania pasti Hanafi akan membahas persoalan dirinya dengan Satrio itu. Begitu Dania turun menemui mereka tampak ada tatapan yang terus memperhatikannya. Dania sudah mencoba menutupi dengan make up namun mata sembabnya memang tidak bisa disembuntyikan. Dihari-hari terakhirnya di kota ini justru banyak hal-hal yang membuat dirinya menitikkan airmata.
Ali sudah memberitahukan lewat pesan Whatsapp sebelum pemuda itu menuju hotel. Ini adalah hal yang membuat Dania bimbang. Besok dirinya sudah harus pulang ke Tembilahan. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“ Mana yang menurut Dania perlu di prioritaskan?” Tanya Hanafi.
“ Ya anak-anak lah, bang.” Jawab Dania.
“ Hari ini kami kemana mas Ali?” Tanya Hanafi.
“ Hari ini kita Borobudur mas.” Jawab Ali.
Hanafi terdiam. Rasa kasihan mulai menjalari benaknya, berulang kali ditatapnya gadis cantik yang sedang dikerubungi oleh kebimbangan itu.
“ Pak sopir nanti tahu jalannya khan mas?” Tanya Hanafi.
“ Iya, sopirnya tahu kok. Bagaimana?”
“ Mas Ali bisa saya minta tolong untuk menemani Dania, menemukan Mas Satrio. Anak-anak biar sama saya saja, untuk tour guidenya saya rasa pak Asep juga pastinya bisa, karena beliau juga sudah lama khan disini?”
Agak terkejut Dania mendengarnya. ”Abang,..”
“ Kali ini abang tidak akan mau membiarkan Dania mengorbankan perasaan Dania untuk orang lain. Seperti yang kemarin abang bilang, temui Satrio. Dimanapun dirinya berada. Saya percaya mas Ali tahu dimana sekiranya Mas Satrio berada. Anak-anak biar sama abang.” Kata Hanafi.
“ Tapi bang,....” 
Hanafi memegang pundak Dania seolah-olah meyakinkan gadis itu dengan apa yang sudah dikatakannya tadi. Matanya tajam menyorot kearah gadis cantik itu.
“ Temui Satrio.” Kata Hanafi.
Kemudian Hanafi menoleh kepada Ali lagi. ” Saya titip Dania mas.”
Ali mengangguk. Sungguh dia sudah berjanji juga dengan gadis itu untuk membantunya bersatu dengan sahabatnya itu. Akhirnya dia menurut saja dengan semua ini. Lagipula dia juga mendukung Satrio dan Dania bisa benar-benar bersama. 
“ Jadi, Dania harus benar-benar menemui Satrio bang?” Tanya Dania.
“ Dan semua harus selesai hari ini.” Kata Hanafi.
Akhirnya Dania hanya bisa mengangguk. “ Iya bang.” Jawabnya.
Dan itulah yang kemudian terjadi. Hari ini Dania tidak ikut dengan rombongan Madrasah yang sedang berjalan-jalan. Beberapa siswanya sempat menanyakannya, namun Hanafi dengan senyum lebarnya mengatakan kalau Dania punya urusan lain yang harus diselesaikan. Dania mengikuti Ali mencari Satrio dengan menggunakan mobil Honda Jazz merah yang kerap dibawa oleh Ali itu. Entah kemana mereka harus menemukan Satrio, namun mereka hanya berkeyakinan bahwa Satrio ada dikota ini.
Satrio bukan tipe laki-laki pengecut. Namun entah mengapa dia tidak se-gentle biasanya kali ini. Menurut Ali, ini juga pertama kalinya Satrio menghindar dari seseorang. Ali yakin kalau Satrio enggan untuk melihat Dania karena takut akan kehilangan Dania untuk kesekian kalinya. Bila Satrio datang, maka dia akan merasakan bahwa Dania akan pergi lagi. Bukankah dulu dia menyanggupi untuk menjadi pengganti guide hari ini karena tidak berfikiran kalau ada sosok gadis yang sudah menghancurkan hatinya itu? 
Bagaimanapun juga Satrio harus ditemukan. Hanya ada tiga tempat yang memungkinkan Satrio ada disana. Sebagai teman dekat yang bertahun-tahun bersamanya, Ali jelas paham betul kemana pemuda itu akan pergi bila sedang dalam keadaan seperti ini. Ali mengajak Dania untuk menemukan Satrio ditempat itu. Jam ditangan sudah menunjukkan pukul 09.00, Ali melajukan kecepatan mobilnya dengan kencangnya. Tujuan pertama yang harus dicapainya adalah Candi Prambanan. Candi Prambanan adalah tempat yang memungkinan Satrio berada disana. Ali tahu betul kalau Satrio memang kerap berada disana , dan bisa jadi sekarang dia juga berada ditempat itu.
Hari itu suasana cukup ramai. Ali memarkirkan mobilnya dan segera keluar, dengan langkah terburu-buru dia menuju kebagian dalam. Ali dan Satrio memang sudah dikenal sebagai partner guiding jadinya mereka masuk tanpa tiket. Setengah berlari, keduanya menuju kedalam kearah kompleks candi. Dania baru pertama kali ke tempat ini, meskipun dia ingin sekali menyempatkan diri berfhoto namun tetap setengah berlari dia mengikuti langkah pemuda bercambang itu. Ditelusurinya jalanan kecil yang sejuk dibawah pepohonan hijau. Dikejauhan Candi Prambanan tampak berdiri kokoh menjulang kearah langit. Satrio pernah bercerita kalau candi terbesar adalah Siwa. Lalu ada Brahma dan Wisnu. Dari kejauhan memang ketiga candi itu cukup anggun dan mempesona.
Ali terus melangkahkan kakinya dengan buru-buru. Dia menuju kearah barat kebagian guide service. Tampak lenggang. Ali mengisyaratkan kepada Dania untuk menunggunya. Ali berlari menuju ke kantor sebelah timur, bertemu dengan seseorang dan berbincang sebentar. Kemudian tak lama pemuda bercambang itu kembali lagi kepada Dania.
“ Mas Satrio tidak ada disini.” Kata Ali. 
“ Jadi? Bagaimana mas?” Tanya Dania.
“ Mungkin dia didalam sana. Kuat jalan? Kita kecandinya sana.”
Dania mengiyakan. Jarak menuju Candi memang jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, namun demi bertemu dengan Satrio itu akan tetap dilakukannya. Dengan berlari-larian Dania mengikuti Ali melewati jalanan kecil itu terus menuju kearah bangunan dalam candi. Jaraknya cukup jauh mencapai 2 KM. Dengan nafas terengah-engah dia berusaha tetap berusaha berlari kecil. 
“ Masih semangat mbak?” Tanya Ali sambil tersenyum
“ Lanjut mas!” Kata Dania.
Langkah kakinya terus mendekati bangunan candi. Seorang satpam mempersilahkan keduanya memasuki ke area candi, karena memang sudah sangat mengenal Ali. Ali sempat menanyakan keberadaan Satrio, namun kedua satpam yang ada disitu menggeleng.
“ Sepertinya hari ini Pak Satrio tidak kesini mas. Kami dari pagi disini.”
“ Baik. Terima kasih pak!” Kata Ali.
Ali memandang kearah Dania.”Dia tidak disini, mbak” Lalu pemuda tertunduk lesu dengan nafas terengah-engah.
“ Kemana lagi kita cari Mas Satrio, mas?” Tanya Dania pelan.
“ Ketempat kedua mbak, di pantai Ngedan. Pantainya cukup jauh dari sini mbak, kita nanti menuju ke arah Wonosari kemudian putar balik sedikit dan sampai kesana, sekitar 1 jam lebih dari sini. Feeling saya mengatakan Mas Satrio ada ditempat itu.” Kata Pemuda bercambang itu.
“ Apa yang Mas Satrio biasa lakukan disana?” 
“ Ada sebuah bukit diatas ketinggian yang menghadap ke laut. Itu adalah tempat favoritnya Mas Satrio. Dia kerap menghilangkan suntuk dan kejenuhannya disana. Menurutnya kalau memandangi lautan luas diseberang sana itu seperti melihat mbak Dania berdiri diseberang dan melambaikan tangan seolah-olah menanti kepulangannya.” Kata Ali.
“ Kita kesana mas?” 
“ Mbak tidak lelah khan?, kalau saya siap saja mbak.”
“ Tidak apa-apa, asal tidak berlari-lari ya Ali. Hehe,..” 
Keduanya tertawa. Adegan berlari-larian di Candi Prambanan tadi memang seprti terlalu mendramatisir keadaan. Dania juga tidak berniat menghantikannya, malah mengikuti pemuda itu berlari-lari. Ali tertawa, seperti scence disebuah film saja rasanya. Berharap berakhir happy ending namun yang terjadi adalah lelahnya saja, karena pemeran utamanya malah berada ditempat lain. 
Keduanya kembali memasuki mobil dan Ali melajukan kendaraannya lagi. Kali ini memang sedikit berputar arah, mereka menuju ke selatan. Jalanan yang sedikit ramai membuat Ali kali ini sedikit pelan mengenderai. Sementara Dania terus membuka ponselnya. Satrio benar-benar tidak bisa dihubungi. Pesan lain diponselnya dari Hanafi, rombongan mereka sudah dalam perjalanan menuju Candi Borobudur. Hanafi terus saja menanyakan keadaan dirinya. Perhatian pemuda itu benar-benar muncul saat tahu akan kegundahan hatinya. 
“ Hanafi dan rombongan sudah berangkat mas.” Lapor Dania kepada Ali. Ali tampak fokus menyetir sambil bernyanyi-nyanyi mengikuti musik yang diputar di tape mobilnya.
“ Pak Asep pasti akan menemani mereka.” Jawab Ali. “Menyesal?”
“ Menyesal karena tidak ikut dengan rombongan?” Tanya Dania
“ Hu um.” 
“ Sedikit. Namun seperti kata Hanafi, untuk kali ini saya harus bisa...”
Dania terdiam sesaat. Kemudian melanjutkan kata-katanya. “ Saya harus bertemu dengan Mas Satrio. Rasanya takkan tenang hidup saya nanti bila tidak bertemu dengan dirinya sekarang.” 
“ Kita akan temukan Mas Satrio, mbak.” Kata Ali.
“ Mudah-mudahan mas.”
Jalanan menuju kearah pantai yang dimaksud Ali tidak terlalu rapat, sehingga pemuda itu bisa melajukan laju kendaraannya. Dari Candi Prambanan tadi terus saja ke selatan melewati jalanan mendaki dan cukup rimbun dengan pohon-pohon hijau disepanjang jalan. Andai ini adalah jalan-jalan wisata maka Dania akan benar-benar menikmatinya. Dia mencoba untuk menikmati hijaunya pemandangan alam yang dilewati. Satrio pernah becanda bahwa kelak mereka akan berada di Jogja menikmati bulan madu berdua dan mengunjungi banyak tempat yang indah dan menyenangkan. Impian kecil itu belum terpenuhi namun si pemberi janjinya justru menghilang entah kemana. Kota Jogja sudah tidak terlihat lagi, perjalanan terus menanjak melewati daerah yang sudah jarang terlihat rumah-rumah. Meskipun begitu jalanannya benar-benar mulus dan nyaris tidak ada lubang yang ditemui disepanjang jalan yang dilewati. Keindahan inilah sebenarnya yang beberapa waktu ini ada dibenak Dania. Ingin rasanya dia menghabiskan waktu ditempat yang teduh dan damai seperti ini. Bayangannya menuju pada Hanafi dan rombongan yang sekarang mungkin sedang bergembira bisa berfhoto beramai-ramai. Sementara dirinya justru memburu sesuatu yang belum pasti ada ditempat tujuan itu. Keyakinan Ali yang membuatnya tetap berusaha untuk menikmati.
Hampir satu jam lebih perjalanan ini, sudah melewati jalanan kecil menuju ke lokasi pantainya. Dari jalanan yang mulus berubah menjadi jalanan gang setapak yang berbatu dan masuk jauh kedalam hutan. Dikiri kaan juga lebih banyak tanaman pohon jati. Beberapa kali mobil itu bergejolak karena jalanan yang dilewati tidak rata. Semakin masuk kedalam semakin tidak ada rumah yang ditemui, hanya ada perkembunan dan pohon-pohon yang terlihat. Suasana yang begitu menyeramkan. Ditempat inikah tersembunyi pantai yang indah tempat Satrio kerap melepaskan rasa suntuk dan gundah gulananya?
Cukup lama dijalanan berbatu itu hingga akhirnya deburan ombak dipantai sudah mulai terlihat. Rumah-rumah kecil juga tampak, dan bukit tinggi yang menjorok kearah laut seperti cerita Ali sudah terlihat. Ali pelan-pelan menjalankan mobilnya, agak susah menemukan lokasi untuk parkir karena memang lokasi pantainya yang terbilang masih baru sehingga pengelolaan untuk lahan parkir juga belum maksimal. Kalau untuk parkir kendaraan roda dua sudah ada lahan yang disediakan. Dari kejauhan terlihat gelombang tinggi laut selatan begitu ganas menghunjam pantai dan menyebar disepanjang bibir pantai. Siang itu terlihat tidak terlalu ramai pantainya, ada beberapa kendaraan bermotor yang terparkir.
“ Disini mas?” Tanya Dania.
“ Iya disini. Nah, benar dugaanku Sartrio ada disini. Itu mobilnya.”
Sebuah mobil Avanza hitam terparkir dibagian kiri jalan. Mobil itu yang terlihat di kantor travelnya Satrio beberapa waktu yang lalu memang. Benar seperti dugaan Ali kalau Satrio tengah berada disini, dan ketika dia ada ditempat ini maka itu sudah cukup mewakili apa yang ada di pikiran Satrio. Mobil Avanza hitam itu tidak ada pengemudinya lagi. Berarti Satrio ada diatas. Seorang petugas parkir muncul dan memberi aba-aba kepada Ali untuk menepikan mobilnya.
“ Mas, yang punya mobil ini ada dimana ya?” Tanya Ali begitu keluar dari mobilnya. Dania mengikuti Ali.
“ Sepertinya diatas mas.” Kata petugas parkir 
Dania melihat kearah jalan setapak menuju perbukitan kecil itu ada tepat dibagian barat. “ Mas Ali, kita kesana?” Tanya Dania.
“ Iya mbak, kita kesana.” Jawab Ali pelan.
Setelah membayar uang parkir keduanya segera beranjak menuju keatas menelusuri jalanan setapak yang tidak terlalu luas. Jalanan itu menanjak naik dan dikelilingi oleh batuan-batuan.  Pinggiran jalannya diberi pagar dua bilah bambu berukuran lengan orang dewasa yang memanjang disepanjang jalanan kecil itu sampai dengan keatas. Jalanannya cukup terjal dan mendaki keatas sehingga terpaksa harus membungkuk atau berpegangan dengan pagar disepanjang jalan agar tidak terjatuh.
Pemandangan disamping kiri adalah Laut China Selatan yang ombaknya terus-terusan menghantam keras karang-karang dan bibir pantai. Angin laut bertiup cukup kencang membuat jilbab  Dania berterbang-terbangan. Alam sekitar sungguh luar biasa indahnya. Pantai ini cukup tenang dan suasananya begitu menenangkan, tidak heran rasanya Satrio memilih tempat ini untuk mengusir kegundahan. Pendakian menuju keatas bukit memang cukup jauh, bisa mencapai sepuluh menitan baru akhirnya sampai di perbukitan kecil yang dikiri kanannya sudah dikelilingi oleh batuan karang. Akhirnya sampai di tempat yang dimaksud Ali yaitu puncak dari bukit kecil itu. Sebuah tempat yang lebih tinggi dan menghadap kelaut, deburan ombaknya jauh lebih kencang. Suara ombak dibawah bergemuruh kencang saat menghantam karang. Bukit itu kecil itu diberi tangga-tangga batu dan pagar kayu sebesar lengan yang fungsinya sebagai penghalang untuk menghindari wisatawan berdiri terlalu dekat dengan bibir jurang yang menjorok ke laut. Matahari sudah mulai bergeser dari atas kepala, sepertinya suasananya akan lebih bagus kalau sunset atau menjelang malam karena arah matahari tepat dihadapan bukit itu. Tidak ada seorangpun, tadi sempat ada sepasang muda-mudi yang turun dari atas. Sosok pemuda tampan yang dicari tampak terlihat dari bawah sedang duduk sendirian menghadap kelaut.
Pemuda tampan itu mengenakan jaket dan celana hitam, begitu juga dengan sepatunya. Di telinganya terpasang headphone. Sepertinya dia memang tengah menikmati kesendiriannya. Pemuda itu adalah Satrio, laki-laki yang sudah membuat Dania sampai rela berlari-larian hari ini. Ali memberi tanda kepada Dania agar diam ditempat sementara dia berjalan kearah Satrio. “ Tunggu disini sebentar mbak.” Katanya.
Ali adalah sahabat terdekat Satrio. Ali bisa menenangkan Satrio dan membuka percakapan serius antara dua orang yang sama-sama sedang dilanda kegalauan. Kehadiran Ali membuat Satrio cukup kaget. Spontan dia membuka headphonenya. Ali tersenyum lebar. Tanpa sepatah katapun dia duduk disamping Satrio sambil ikut memandang ke arah laut diiringi oleh tatapan aneh Satrio.
“ Jadi ini cara terbaik untuk melepas kegundahan, dengan duduk manis mendengarkan musik sambil memandang kearah laut lepas.” Katanya.
“ Ali, kok kamu disini?” Tanya Satrio.
“ Aku khan juga tengah gundah.” Kata Ali lagi.
“ Bukannya seharusnya kamu dengan rombongan yang ke Borobudur, mereka dengan siapa Li?, atau mereka tidak jadi kesana?”
“Mereka sudah berangkat kok. Aku kesini karena ada hal penting lain yang harus diselesaikan, dan aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Orang yang paling tepat untuk menyelesaikannya adalah kamu.”
“ Apa itu Li?” Tanya Satrio.
Ali menunjuk kebawah. Di tangga tempatnya tadi pertama naik.
“ Disana ada wanita cantik yang kehilangan sosok yang dicintainya. Dia meminta tolong untuk menemukannya hari ini, bila hari ini tidak bertemu mungkin dia akan kehilangan sosok yang dicintainya seumur hidupnya. Aku tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya, sehingga dia aku bawa kesini. Mungkin disini dia akan menemukan caranya.” Kata Ali lagi.
“ Ohya, siapa dia?”
“ Sebentar lagi dia akan kesini. Hei, jangan membuatnya menangis.”
Ditepuknya bahu sahabatnya itu sambil berdiri lagi. 
“ Dia mencintaimu Satrio.” Kata Ali lagi sambil berdiri menjauh dan turun ke tangga batu itu, tidak peduli panggilan Satrio yang meneriaki namanya. Dania yang sudah menunggu dibawah langsung menyambut Ali dengan wajah cantiknya. “ Bagaimana mas?” Tanya Ali.
“ Saya tunggu di mobil ya mbak.” Kata Ali lagi.
Dania tersenyum dan mengangguk seketika. Dia mengerti kalau Ali mempersilahkan dirinya untuk berbicara berdua dengan Satrio. Ali melambaikan tangannya sebelum akhirnya turun menelusuri tangga batu dan menghilang dibalik karang besar yang menutupi tikungan jalan. Dania menghembuskan nafasnya kemudian dia naik menelusuri tangga batu, menuju kearah Satrio. Satrio tampaknya memang terlihat sedikit terkejut, namun pemuda itu tetap tidak beranjak dari tempat duduknya. Dania mengambil posisi duduk disebelah Satrio.
“ Kok kamu tidak jadi ikut ke rombongan, dan ternyata disini.”
“ Mendadak ada acara sehingga langsung ketempat lain. Kalau disini hanya sekedar singgah saja.” Kata Satrio.
“ Tempat ini indah. Pantas saja kamu suka dengan tempat ini.”
“ Ini adalah salah satu tempat yang aku suka karena memang suasananya begitu menenangkan. Aku selalu berada disini hampir satu bulan sekali.”
“ Bukan karena kalau sedang galau baru kesini?” Tanya Dania.
“ Ali pasti sudah cerita banyak.” Kata Satrio.
“ Kenapa kamu menghindariku Mas Satrio?” 
“ Aku terlihat seperti itu?” 
“ Aku berfikiran seperti itu.”
“ Kamu tahu jawabannya.”
“ Jawaban yang mana, Jawaban dari pertanyaan yang mana?”
Satrio menarik nafasnya dengan berat.
“ Haruskah aku jawab itu?” Tanyanya pada Dania.
“ Kali ini harus mas. Aku sudah disini.”
“ Kenapa kamu tega menyakitiku. Sekali lagi.” Kata Satrio.
“ Kenapa kamu tidak bertanya tentang kebenarannya?” Tanya Dania kembali. Pemuda yang terkenal misterius itu pasti tidak akan membuka apa yang ada didalam pikirannya kecuali harus dipancing-pancing. Sifat Satrio.
“ Pertanyaan tentang apa Dania? Rasanya tidak perlu ada pertanyaan, kamu sudah menjelaskan semuanya. Mas sudah menerima, dan kita selesai.”
“ Bagaimana kalau yang Mas Satrio terima adalah kesalahann?”
“ Salah bagaimana?”
“ Bukan aku yang mengirimkan pesan itu. Bukan aku yang pergi darimu, bahkan aku tak pernah menghindari.” Kata Dania pelan sekali.
“ Bagaimana bisa aku percaya dengan semua itu?” Tanya Satrio.
“ Tanya hatimu mas, meskipun sebagian dari hatimu sudah terluka, tapi aku yakin kamu masih memiliki rasa percaya. Aku tidak pernah melakukan hal seperti yang tertulis dipesan itu. Pesan itu memang terkirim dari ponselku, tapi aku pastikan bahwa itu bukan aku yang mengirimkannya. Lihat diriku mas, tidak ada perubahan pada diriku, lagipula aku takkan pernah meminta Mas Satrio pergi begitu saja, aku tidak sejahat itu.”
“ Zulfikar, pemuda itu sudah begitu mencintaiku sejak setahun yang lalu mengenalnya. Dia pemuda yang kaya, ayahnya memiliki kekayaan, dia juga cukup berhasil dengan pekerjaannya. Dia nyaris memiliki sosok lelaki yang Dania idamkan, dia yang selalu ada kapanpun Dania butuh. Namun, hal yang paling Dania suka adalah karena dia berada dekat dengan Dania. Dania itu wanita Mas Satrio, Dania punya rasa dimana dia butuh sosok laki-laki yang bisa menjaga dan memberikan kenyamanan. Zulfikar memiliki itu semua. Hanya saja, sikap kesombongan dan keangkuhannya yang membuat Dania bahkan sampai detik ini tak pernah membalas perasaannya. Zulfikar selalu beranggapan dialah sosok yang paling tepat untuk Dania, tidak ada lelaki manapun yang boleh mendekati Dania. Dia selalu berusaha membuat lelaki yang dekat dengan Dania pergi menjauh.”
Satrio tertegun.
“ Termasuk diriku?, aku lelaki yang harus dijauhkan.”
“ Mas Satrio adalah salah satunya. Entah bagaimana dia bisa tahu.”
“ Mungkin seharusnya dia memang harus tahu, atau memang kamu sengaja menyembunyikan sosokku demi kebahagiaanmu sendiri?”
“ Bagaimana bisa Mas Satrio berkata seperti itu?”
“ Bukankah itu terjadi. Aku itu laki-laki yang mencintai sosok wanita namun wanita itu tidak pernah menganggap keberadaanku, dia sibuk mencari sosok yang tepat untuknya, menilai sisi baik laki-laki, sementara aku terlalu percaya diri bahwa aku termasuk salah satunya. Aku bukan salah satunya, benar khan?” Tanya Satrio.
“ Aku tidak pernah begitu. Semua aku perlakukan sama. Mas Satrio, Dania itu wanita mas. Wanita itu tidak bisa memperlihatkan sosok lelaki yang dekat dengan dirinya, karena Dania tidak mau melukai siapapun. Dania akan benar-benar menerima sosok yang bisa menjadi suami, bukan kekasih.”
“ Lalu apa yang kamu mau dari aku Dania?” 
“ Ini adalah hal memalukan bagiku, namun aku sudah berusaha melawannya. Aku mencintaimu Mas, aku mencintai Mas Satrio. Kalau itu yang kamu harapkan selama ini, aku sudah memiliki hati yang kamu mau.”
Satrio tertawa.
“ Kamu bercanda Dania. Kamu mengatakan itu setelah kamu berada disini, kamu tahu apa yang aku lakukan, kamu tahu pekerjaanku. Kamu tahu kalau aku bukan lagi mahasiswa miskin yang tidak pernah bisa pulang, kamu tahu kalau aku bisa menghidupimu tidak hanya dengan cinta...”
“ Apa maksudmu mas?” 
“ Bukankah itu yang kamu mau dari sosok lelakimu. Lelaki yang berkecukupan, yang punya materi dan punya jaminan kehidupan bagimu. Andai aku tidak seperti sekarang, kamu mungkin akan tetap menganggapku tidak pernah ada, atau kamu akan memilih untuk bersama dengan lelaki yang kaya itu, yang bapaknya punya kedudukan, meskipun kamu tahu siapa yang memiliki cinta lebih besar. Siapa yang bertahun-tahun melawan kesepian, ketika semuanya berpegangan tangan erat dengan kekasihnya, sementara dia dia hanya menahan diri. Siapa yang tidak terluka karena melawan kerinduan, siapa yang selama ini melawan api cemburu yang terus melukainya? Siapa?”
“ Aku tidak pernah menilai orang dari apa yang dia punya Mas Satrio. Aku tidak peduli dengan seberapa banyak uangmu saat ini.” Kata Dania.
“ Bukankah setahun yang lalu lelaki bernama Zulfikar itu hadir memberi kenyaman dengan semua itu?” Tanya Satrio.
“ Sekarang aku tanya dengan Mas Satrio, perempuan mana yang mau dinikahi oleh lelaki yang bahkan tidak bisa menghidupi dirinya sendiri?”
“ Mungkin tidak ada.”
“ Dania tidak buta Mas Satrio. Dania tahu seperti apa cinta lelaki kepada Dania. Mas Satrio tidak perlu bangga dengan cinta yang Mas Satrio punya, lelaki lain juga memilikinya. Tak pernah sekalipun terlintas untuk memilih laki-laki karena faktor kekayaan dan materinya saja, bukan itu yang Dania cari. Lelaki yang mau bekerja keras dan berusaha itulah laki-laki yang Dania mau. Mas Satrio tidak perlu bangga sudah berhasil setia dengan cinta Mas kepada Dania, Dania selalu menghargai itu. Tapi Dania juga punya hak untuk memilih. Sedalam dan sebesar apapun cinta Mas Satrio pada Dania, bila hati Dania tidak pernah terbuka maka Dania tidak akan pernah menerimanya Mas...”
“ Itulah yang sedang terjadi, aku tidak tahu isi hatimu.” Potong Satrio.
“ Mas Satrio yang aku pernah tahu memiliki cinta yang tulus. Namun apa yang kamu katakan hari ini seakan menjelaskan kalau Mas Satrio tidak ada bedanya dengan laki-laki lain!” Kata Dania.
“ Cukup Dania. Cukup.” Kata Satrio.
“ Mas harusnya bisa,....”
“ Tinggalkan aku sendiri Dania. Sudah cukup Dania menyakiti hatiku berulang kalinya, rasanya lukanya belum kering dan mungkin tidak akan pernah sembuh. Aku hanya meyakini apa yang aku yakini benar. Sekarang aku minta tinggalkan aku sendiri, hiduplah dengan hidupmu, dan aku hidup dengan hidupku,...” Kata Satrio.
“ Mas Satrio mau kita untuk saling melupakan?” Tanya Dania.
“ Kita sudah melakukannya.” 
“ Jadi itu yang Mas Satrio benar-benar inginkan?”
“ Haruskah aku ulangi?” Kata Satrio.
“ Baik.” Kata Dania.
Ditelannya ludah yang mulai terasa pahit. Lelaki disampingnya bahkan seakan tidak bereaksi sedari tadi, menolehpun tidak. 
“ Aku datang kesini karena aku pikir Mas Satrio adalah sosok lelaki yang Dania cari selama ini. Lelaki yang memiliki cinta tulusnya, lelaki yang selalu memiliki satu wanita, dan lelaki yang sama dengan dia yang pernah datang menepati janjinya untuk menemui wanita yang dicintainya,  membawa cincin perak sebagai tanda cintanya.  Dia yang berjanji akan menikahi, menjadikanku wanita terakhirnya. Tapi sepertinya aku salah, lelaki itu sudah tidak ada disini. Besok aku akan pulang ke Tembilahan, dan mungkin ini adalah saat terakhir bertemu dengan dirinya....”
“ Mas Satrio benar. Sekarang kita harus belajar dewasa, bagaimana kita melawan kemauan dan ego besar kita. Sekarang kita hidup untuk hidup kita sendiri, dengan jalan hidup kita sendiri. Aku tidak akan mengharap banyak pada takdir hidupku, tapi aku percaya akan kekuatan cinta. Bila takdir itu yang menuntunku ketempat ini, maka takdir juga yang akan membuat lelaki itu akan kembali hadir kepadaku.” Kata Dania.
Setengah kaget Satrio saat melihat jari tangan Dania. Cincin perak bermata biru miliknya itu sudah melingkar di jari manis Dania. Bagaiamana bisa Dania memakai cincin itu, bila Dania sudah mengetahuinya, pasti dia juga akan tahu semua rahasia besar dirinya?
Dania bangun dari duduknya, menghadapkan tubuhnya ke lautan luas didepan sana, seakan tanah kelahirannya sudah menunggu kepulangannya, esok hari. Tangannya bergerak kebawah dagu, melepaskan jarum yang membuat hijabnya tidak terlepas. Dibuangnya jarum itu, berlahan dilepaskan jilbabnya, sehingga sekarang rambut panjang indahnya tergerai begitu saja tertiup oleh angin kencang. Dia lipat kerudungnya itu, dia sodorkan kepada Satrio. Satrio tertegun sendiri melihatnya. Dia diam seribu bahasa melihat apa yang dilakukan Dania kali ini.
“ Ini diberikan oleh lelaki baik yang mencintai diriku dengan hatinya, lelaki yang selalu membangunkanku dan mengingatku kepad Tuhan, lelaki yang memiliki cinta luar biasa. Aku selalu memakainya karena itu mengingatkanku bahwa aku punya cinta luar biasa yang aku miliki didunia ini. Mungkin sekarang lelaki itu sudah tidak ada disini, cintanya mungkin sudah tidak sehebat dulu. Tapi aku percaya bahwa kelak akan ada pria yang datang kepadaku dengan cinta yang sama besarnya, dia akan membawakan kerudung sebagai maharku, dan dia akan menggantikan cincin perak ini dengan ikatan yang membuat kami tidak pernah terpisahkan lagi. Ini punyamu mas,..”
Dania tersenyum dan menyodorkan kerudung itu pada Satrio. Satrio terdiam seribu bahasa, pelan-pelan dia menerima kerudung itu dengan hati yang bergemuruh seperti bunti deburan ombak menghantam karang-karang terjal dibawah sana. Hatinya yang sudah sekeras karang rasanya, dan sesaat karang itu seperti dihantam oleh ombak yang deras dan membuat dirinya seakan runtuh seketika, ketika Dania memberikan kata-kata terakhirnya.
“ Selamat tinggal Mas Satrio,...”
Gadis itu menyodorkan tangannya seakan memberi salam perpisahan pada Satrio. Satrio hanya terdiam namun akhirnya dia menyambut tangan gadis itu. Berlahan genggaman tangan gadis itu terlepas dan pelan-pelan gadis itu berjalan menjauhi dirinya. Satrio berdiri dan hanya bisa melihat gadis itu berjalan tanpa menoleh kepadanya lagi. Satrio menghembuskan nafas beratnya. Gadis itu terus dengan langkah yang terus menjauhinya. Rambutnya berkibar tertiup angin.
Satrio bangun dan mengejar Dania, pelan-pelan dia pegang tangan Dania sehingga langkah gadis itu terhenti. Dania sontak menoleh berbalik badan. Kini pemuda itu ada dihadapannya dengan hanya berjarak tak lebih dari 12 inchi darinya. Pandangan Satrio begitu sayu dan menatap dalam kearah matanya. Dania merasakan getaran luar biasa didalam hatinya. Angin yang berhembus kencang terus membuat rambutnya berkibar, begitu juga dengan bunyi debur ombak seakan menjadi musik pengiring suasana hati mereka. Pelan-pelan Satrio membuka lipatan surban berwarna hitam itu, dibentangkannya kemudian dia putar tangannya melewati kepala Dania, memasangkan surban itu kembali kekepalanya. Satrio merapikan rambut Dania yang menutupi dahi. Dania hanya terdiam saja saat Satrio melakukan itu semua. Dia terdiam seribu bahasa. Pelan-pelan Satrio mendekatkan wajahnya kepada Dania. Dania hanya mendelik dan berdegup kencang didalam hatinya. Pundaknya yang sekarang dipegang Satrio serasa terguncang hebat. Dirasakan nafas lelaki itu mendekati hidungnya. Sampai akhirnya dirasakan sebuah sentuhan hinggap dikeningnya. Dania memejamkan matanya. Kecupan Satrio membuat raganya melayang terbang jauh melintasi samudera dan mendadak kembali begitu Satrio melepaskan pegangan pada pundaknya. 
“ Kerudung itu milikmu.” Kata Satrio sambil melangkah kembali keatas tempat dimana pemuda itu tadi duduk memandang kearah laut lepas. Dania terdiam dan tertegun seketika. Tak mampu lagi dia berkata-kata. Untuk beberapa saat kakinya sepertinya terpaku ditanah, dan dirinya hanya bisa memandangi punggung laki-laki yang terus berjalan menjauhinya itu.
***




Bagian 14 : Dibawah Langit

Delapan bulan kemudian.
Rasanya Dania seperti terlahir kembali didunia ini. Hidup sebagai seorang guru Madrasah yang berbahagia dengan cinta keluarga, teman, dan sahabat-sahabatnya. Hidupnya lebih damai sekarang. Dania memilih untuk lebih dekat dengan keluarganya, menghabiskan waktu bersama mereka dengan jalan-jalan bersama mengisi waktu, kadangkala menghabiskan akhir pekan untuk karaoke bersama. Keluarga menjadi hal terpenting bagi Dania saat ini. Ibunya masih belum berubah dengan kebiasaan senamnya bersama dengan ibu-ibu kompleks dan ibu-ibu guru teman mengajarnya di sekolah. Kakaknya, Mbak Dini sekarang tengah hamil anak kedua dan sudah lima bulan. Suaminya Mbak Dini diterima kerja di tempat instalasi jaringan internet, meskipun semakin sibuk namun waktunya untuk menjadi suami siaga tidak berkurang. Sudah dua minggu ini Mbak Dini memilih tinggal dirumah bersama dengan keluarganya. Dania juga menjadi pengawal yang baik selama Mbak Dini hamil. Kemana-mana bila kakaknya itu pergi dia selalu menjadi teman. Hal yang dulu jarang terjadi karena faktor kesibukannya di oraganisasi semasa dikampus, kesibukan masing-masing di tempat kerja. Kedua adiknya juga sudah tumbuh besar. Adik nomor tiga sudah masuk sekolah menengah pertama, dan dia mengenal hijab juga seperti kakak-kakaknya. Adik yang paling bungsu tengah menyukai membaca buku. Akhir pekan lalu bahkan merengek minta dibelikan buku bacaan, adiknya sangat menginginkan menjadi penulis sejak kerap membaca buku-bukunya Raditya Dhika. Entah bagaimana bisa awalnya adiknya yang paling bungsu itu menyukai buku-buku komedi. Hal menyenangkannya adalah sekarang kedua adiknya itu tidak cerewet meminta jalan-jalan terus kepada ibu atau dirinya.
Teman-teman dan sahabatnya juga banyak yang sudah mengalami perubahan. Rudin, sahabatnya sudah menikah dengan teman sekampusnya dulu. Zulfikar yang kerap mengancam akan membuatnya celaka justru tidak pernah menampakkan wajahnya lagi, terakhir bertemu dia justru meminta maaf dan berjanji akan berubah menjadi pemuda yang baik. Sekarang Zulfikar sudah tidak ada di Tembilahan lagi, pemuda itu pindah kerja ke Batam untuk mencoba peruntungan baru karena ditempat sebelumnya dia dipecat oleh pimpinannya karena tertangkap melakukan penyelewengan terhadap anggaran dana kredit untuk rakyat. Beruntung pemuda itu tidak dilaporkan ke polisi, hanya diberhentikan saja dari tempat kerjanya.
Satrio juga tidak ada kabarnya lagi. Terakhir kali Dania sempat menanyakan keadaan Satrio kepada Ali, sahabat Satrio yang juga partner kerja dan selalu ada didekat Satrio. Jawabannya adalah Satrio semakin sibuk mengembangkan usahanya. Usaha yang dirintis mereka sudah membuka cabang baru di kota lain. Hotel dan resto yang menjadi mimpi besar Satrio juga sudah selesai dibangun. Dania senang mendengarkan semua itu. Pemuda itu memang seorang pekerja keras yang terus berjuang dengan semua impiannya. Pemuda yang tidak pernah berhenti untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Ali tidak pernah bercerita siapa wanita yang ada didekat Satrio sekarang, Ali hanya mengatakan dia belum pernah sekalipun melihat Satrio bersama dengan gadis lain. Sementara Ali juga mengatakan akan bertunangan dalam waktu dekat ini dengan gadis yang dicintainya
Hanafi menjadi orang yang paling dekat dengan Dania saat ini. Pemuda tampan itu sudah jauh lebih terbuka dan selalu ada kapanpun Dania membutuhkan bantuannya. Tidak ada yang berubah dari Hanafi. Penampilan masih sama dengan pakaian rapi, aroma parfum menyengat, dan rambutnya yang selalu disisir rapi. Kisah percintaan pemuda itu juga tidak terlihat dalam masalah, Dania hanya tahu saja kalau mereka akan menikah di akhir tahun nanti tepat tanggal dimana Hanafi dan kekasihnya menjalin kasih untuk pertama kalinya.
Hanafi adalah orang yang sekarang paling tahu dengan apa yang dialami oleh Dania. Tahu betul betul dengan kisah rumit yang dialaminya. Itu mungkin yang membuat Hanafi semakin support padanya. Dania sendiri sudah berusaha untuk melupakan semuanya, Dania selalu mengatakan bahwa dia akan hidup baru dengan kebiasaan barunya saat ini. Hidupnya yang sudah berwarna bersama dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya membuat Dania tidak mau berfikiran lebih soal laki-laki. Sejak kisah percintaannya dengan Satrio yang berakhir dengan memilih untuk berpisah dan hidup masing-masing, Dania lebih memilih untuk menutup dirinya dari laki-laki, sampai ada yang benar-benar tulus dan datang sebagai pendamping hidup yang tepat selamanya.
Sekarang kalau Dania membutuhkan teman untuk melepaskan kegundahan hatinya, maka Hanafi akan selalu hadir. Tak jarang Hanafi mencoba mengenalkan Dania dengan teman-teman Hanafi agar Dania tidak terlalu terperangkap oleh kisah percintaannya dengan Satrio yang berujung manis itu. Hanafi sudah mengenalkan dua temannya. Syaiful, teman kuliah Hanafi dulu yang sekarang menjadi pegawan di Dinas Pendidikan Daerah, ada juga sosok Hamzah yang merupakan saudara sepupu Hanafi yang tengah menempuh S2 di UNRI. Hanafi berharap agar Dania tidak terlarut terlalu dalam, meskipun sebenarnya dia juga berharap Dania bisa kembali kepada Satrio meskipun rasanya tidak mungkin terjadi.
Untuk membuat Dania benar-benar melupakan Satrio, Hanafi kerap mengajak Dania berjalan-jalan. Seperti pagi itu dia mengajak Dania untuk jalan-jalan ke Jembatan Rumbai, tempat dimana dulu Satrio mengajak Dania saat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Menurut Hanafi, untuk melupakan seseorang maka harus membuat semua kenangan bersama orang tersebut menjadi hal biasa dan tak meninggalkan jejak apapun dihatinya. Hanafi begitu peduli dengan dirinya sekarang. Dania sangat bersyukur dengan kehadiran pemuda itu, berawal dari perjalanan panjang yang ditempuh saat tugas sekolah hingga akhirnya Hanafi seperti menjadi seorang kakak yang baik bagi dirinya. Kebahagiaan Dania semakin bertambah ketika hari itu Hanafi menyodorkan sebuah kertas berwarna merah muda yang dibungkus plastik bening. Ada fhoto Hanafi dan kekasihnya tersenyum mengenakan pakaian yangs begitu indah, jas hitam dan gaun berwarna merah. Hanafi tersenyum lebar di fhoto tersebut, kekasihnya juga begitu cantik. Hanafi sudah menemukan jodohnya.
“ Harus datang ya, bawa pasangan.” Kata Hanafii. Perkataan itu hanya dibalas dengan senyuman manis. Hati Dania sudah menebak apa yang akan dikatakan oleh Hanafi padanya. Namun hatinya masih belum bisa menerima sosok siapapun. Tidak peduli usianya akan terus bertambah, hatinya masih meyakini bahwa lelaki yang benar-benar diharapkannya saat ini pasti akan datang menemuinya. Sepulang dari menerima undangan itu, Dania hanya berfikir dengan siapa dia nanti akan hadir kepernikahan orang yang spesial baginya itu. Haruskah dia memilih salah satu dari kedua pemuda yang dikenalkan oleh Hanafi kepadanya itu? Atau siapa?
Tooook! Tooook! Tooook Tooook!
Dania menuju kearah pintu, dibuka pintunya.  Dunianya bak berhenti berputar untuk sesaat. Angin seakan berhenti berhembus. Untuk beberapa saat dia tertegun seperti patung didepan pintu. Sosok dihadapannya yang membuatnya begitu. Pemuda berambut klimis, memakai kemeja berwarna biru lengkap dengan jas berwarna hitam. Tangannya mendekap bunga ditangan kiri dan kotak merah kecil dengan cincin berwarna emas bermata putih yang berkilat tertimpa lampu-lampu. Pemuda itu tersenyum manis. Pemuda itu yang menghilang dan kabarnya selalu dia nantikan selama ini. Satrio. Senyum yang membuat Dania tak mampu berkata apa-apa. Satrio.
“ Mau menikah denganku?”
“ Haruskah kujawab tidak?” 
TAMAT