“Kamu punya sesuatu yang diperlihatkan?” tanyaku dengan tatapan menggoda.
Gadis itu melengos. “ Nggak ada”. Simple word, tapi seperti tusukan jarum didadaku.
“Pulang aku jemput ya.”
“Nggak usah”
Duh! Rasanya aku ingin terbang kepadanya sekarang dan mencakar wajahnya. Rasanya setiap apa yang kulakukan tak pernah berarti di mata gadis itu. Entah berapa purnama sudah aku setengah gila berusaha mendapatkan cintanya. Aku ingat waktu pertama kali OSPEK sekolah, melihatnya dengan rambut terurai, senyumnya begitu menawan. Rasanya ini pertama kali aku melihat senyumnya, padahal aku tahu kalau dia merupakan juniorku. Kemana saja aku selama ini. Jangan-jangan karena aku terlalu sibuk di ekskul basket sehingga tidak memperhatikannnya sama sekali. Perlahan, aku mulai mencoba membangun komunikasi. Bertanya soal guru mata pelajaran yang sama. Bahkan aku bela-belain ikut ekskul sinematik dimana gadis itu juga sebagai anggotanya. Padahal seumur-umur aku tak pernah paham cerita film. Setiap menonton di bioskop, separuh waktunya untuk tidur.
Ternyata si gadis itu sungguh cuek dan dingin bagai lautan di kutub selatan. Padahal harusnya sih dia peka kalau seorang Bimo Arsatya, bintang basket di sekolah itu tengah mendekatinya. Namun si gadis bernama Juana Alexandra itu ttap tak bergeming. Bahkan mungkin sekarang sudah di fase muak padaku. Ahh aku tidak peduli. Rindu didadaku sudah hampir meledakkan hati. 
Seperti biasa dia selalu dingin ketika aku mengirimkan pesan melalui Whatsapp, bahkan bertemupun kadang hanya di sapa “kak”. Dan setiap kata-kata itu keluar dari mulutnya, darahku bergejolak, dadaku bergemuruh, Ampuuunn Bimo, sungguh cinta luar biasa efeknya. Hari itu misalnya, meskipun pagi-pagi tadi dia sudah sedingin gunung es, tapi aku tetap nekat untuk berusaha mencari cara untuk mengobrol. Satu-satunya yang bisa menjadi jalanku adalah sinematik. Juana suka duduk berlama-lama di basecamp sinematik, membahas film dengan anggota ekskul lainnya. Aku plan-pelan melangkahkan kaki ke sana. Basecamp Sinematik memang bersebelahan dengan kelas XI C, Kelasnya Juana. Aku yakin dia ada disana. 
“Assalamualaikum.” Aku mengucapkan salam sebelum memasuki ruangan. Religius.
“Waalaikumsalam.” Suara menyambut dari dalam.
“Kak Bimo.” Suara dari dalam. Darahku bergejolak.
“1917 jadi salah satu film terbaik yang saat ini tengah ramai dibicarakan, konon sepanjang film hanya ada satu cut saja. Aku sih yakin kalau film ini bakal meraih banyak award di Oscar.” Kataku.
Andia dan Juana seperti setengah melotot kearahku. Tiba-tiba saja aku datang dan ngomongin hal yang tak terduga. Hemm, mereka pasti akan berfikir aku update dengan perfilman saat ini.
“Belum nonton sih, soalnya aku kurang terlalu suka dengan genre film perang”
Aduh. Kok jadi gini.
“Andia, kamu juga sama?” Tanyaku.
“Aku sih lebih seneng yang cinta-cintaan. Tapi bukan drama Korea loh kak. Menurutku ada emosi yang bisa dijadikan sebagai value dari sebuah film, tentu saja yang pure kisah cintanya. Kak Bimo seneng nggak yang genre cinta-cintaan gitu?”
“Aku senang sama semua genre film.” Jawabku mantap.
“Emang apa film percintaan yang paling disukai?” Tanya Juana.
“Ehmm, anu itu,,,ah Si Doel Anak Sekolahan.”
Dua gadis cantik itu berpandangan.
“Si Doel?”
“Iya Si Doel. Nama di filnya Kasdullah, seorang insinyur lulusan Universitas Indonesia. Anaknya Babeh Sabeni. Dia punya adik namanya Atun. Terus yang paling kocak adalah pamannya yaitu Mandra. Aku sih seneng banget, apalagi versi movienya. Sepanjang film disuguhi pemandangan indah luar negeri yang berlatar kehidupan sosial budaya masyarakat di Inggris....”
“Bukannya Si Doel ke Belanda ya?”
“Inggris Andia,...aku khan sudah nonton. Nah Si Doel sama Mandra itu ke Belanda nyusul Hans karena katanya bakal dipertemukan sama mantannya Si Doel sewaktu masih kuliah.Si Jaenab.”
“Bukannya Sarah ya?”
“Bukan. Si Sarah itu justru yang dinikahi Doel. Itu loh yang anak kota sering ke rumahnya Si Doel, beli tanahnya di Doel tapi si Doelnya nggak mau.”
“Kak Bimo yakin sudah nonton filmnya?”
Aduh. Apa aku salah ngasih info ya. Jujur aku nggak nonton, Cuma dengerin pas Mama sama Kak Rena ngomongin cerita si Doel kemarin malam di meja makan. Wah, aku tidak mau terlihat bodoh, aku harus nyari alasan bagaimana bisa pergi dari tempat ini. Untuk menyelamatkan reputasiku. Tidak lucu kalau aku terlihat bego didepan Juana, bisa-bisa dia mikir negatif.
“Astaga, aku lupa, kayaknya aku pas istirahat tadi aku lupa belum bayar makan di kantin.”
Dua gadis itu kembali mengkeryitkan keningnya. Tatapannya mulai aneh.
“ Bukannya sekarang jam istirahat ya, dan kakak disini sejak bel” Kata Juana.
“Eh maksudku, Ibu kantin lupa bayar pesanannya. Tadi pagi aku denger beliau harus bayar tagihan. Takutnya kelupaan, hehe. Aku pergi dulu yaa. Bye cantik.”
Aku seger berlalu diikuti tatapan bengong mereka. Syukur aku bisa ngasih alasan yang masuk akal.
***

Rasanya doa dan usahaku hampir menemui hasil. Gadis itu akhirnya mengiyakan ajakanku setelah mungkin hampir puluhan kali menolaknya. Sungguh suatu anugerah yang tak terkira. Rasanya aku ingin bersujud ke lantai atas semua ini. Sebentar ini hanya sekedar jalan bersama. Taman kota menjadi saksi perjalanan pertama ini. Aku sudah menyiapkan segalanya. Pakaian bersih, parfum yang wangi, dan seuntai kata-kata penuh goda yang nantinya akan menarik perhatiannya.
Hapeku bergetar. Itu pasti dia. Jam ditanganku menunjukkan pukul 19.00. Kami janjian 19.30.
“Kak Bimo, ternyata aku ada tugas kelompok nih. Sama teman kelas.
                 Kami mengerjakannya di kafe. Maaf ya, tidak bisa jalan sama kakak.”

Gubrak.
Rasanya aku ingin salto melihat semua itu. Serasa kegembiraanku sudah membuncah namun kemudian meledakkan tubuhku dan menjadikannya berkeping-keping seketika. Ingin marah tapi tidak mungkin. Kenapa setiap aku mengajaknya jalan pasti selalu ada yang dikerjakan, jangan-jangan emang dia sengaja memberi alasan agar tak pergi denganku. Tahan. Aku tak boleh negative thinking.
Gemetar aku mengetik balasan.

“Iya Ju, tak mengapa. Besok masih bisa khan?”
Lama.
“Besok aku ada rapat dengan anak-anak ekskul. Wkwk.”
Damn!
“Ya sudah, kapan saja kalau kamu free ya. Nanti kita jalan. Hehe”
Lama.
“Iya nanti aku kabari kak, tapi kayaknya bulan ini aku akan sibuk.”
Damn!
“Oke ju, siap. Udah makan, jangan telat ya.”

Lama. Tak ada balasan lagi.

Kuhempaskan tubuhku di kasur. Pandanganku rasanya langsung nanar. Berkecamuk pikiranku. Segala macam pikiran merasuki otakku. Jangan-jangan memang gadis itu tidak melihat perjuanganku sama sekali. Padahal sudah berbulan-bulan ini aku gencar mengejar dirinya. Teman-temanku bahkan mulai heran dengan tingkahku. Biasanya selalu ada waktu untuk hangout atau main basket setiap sore kini tiba-tiba menghilang, berdiam dikamar, menunggu balasan chat nya yang kadang hanya sepotong bahkan kadang tidak terbalas sama sekali. Besok diulang lagi. Lagi.
Menelepon berkali-kali namun kadang direject, kadang dijawab tapi tidak ada suara. Aku mulai merasa bahwa ini saatnya harus berhenti mengejarnya. Mungkin benar, tidak semua yang kita mau harus kita dapatkan. Sekuat apapun kita mengejar, apa yang bukan milik kita takkan pernah menjadi milik kita. Mungkinkah itu isyarat. 
Handphoneku kembali bergetar. Kulihat.

“Kak. Besok aku free. Rapatnya ditunda”

Itu saat aku merasa bagai shaolin soccer. Akhirnya kesempatan itu hadir. Semoga panjang.
***


Gadis itu berambut panjang hitam dan wangi. Pipinya tirus. Alis matanya tebal dan begitu indah. Senyumnya luar biasa manis. Hari itu aku melihatnya dengan jarak dekat. Sungguh suatu mukjizat. Hal yang pertama aku suka adalah rambutnya. Terurai panjang dan wangi. Sungguh memabukkan. Sejak kelas X sampai setahun ini tak pernah kulepas tatapanku darinya. Apalagi dia sering tampil-tampil mewakili kelasnya dalam berbagai kegiatan. Aku selalu hadir. Mungkin akan menjadi pemandangan yang mengherankan seorang bintang basket ada di acara sekolah yang katanya ‘nggak’ banget. Misalnya pas perlombaan baca puisi dimana Juana sebagai salah satu pesertanya. Aku ikut menonton dan diam-diam merekam. 
Bagi beberapa teman, Juana mungkin gadis yang biasa-biasa saja. Bahkan terkesan biasa. Pamornya mungkin kalah dengan Ratni atau Michella yang begitu hits di angkatannya. Padahal mereka berteman dan sering bersama. Juana bagai sebuah pilihan ketiga diantara mereka. Juana juga lebih sering bersama dengan Andia, sobat karibnya. Kalau di jejak pendapatkan mungkin dari 10 orang maka 6 memilih Ratni, 3 memilih Michella, dan 1 orang memilih Juana. Satu orang itu pasti aku. Sebenarnya dia cantik. Hanya saja kadang penampilannya membuat kecantikannya tertutupi. Polesan bedak tipis dengan bibir merah tipis membuat wajahnya tak bersinar seperti dua temannya. Namun di sisi lain Juana pintar dan rajin. Dia kerap dimintai bantuan oleh guru-guru kelas kalau ada kegiatan. Karena dia juga merupakan anggota OSIS juga bermurah hati tanpa mengeluh ketika diminta bantuan. Hal yang membuatku selalu jatuh cinta setiap hari pada gadis itu.
Taman Dago mnjadi saksi perjalanan cintaku memburunya. Ini adalah pertama kalinya dia mau pergi denganku. Malam minggu. Rasanya akan menjadi malam panjang dan spesial. Jagung bakar dan segelas kopi susu menjadi teman yang menghangatkan. Obrolanku selalu aneh ketika ada dia. Supaya connect maka aku membuka obrolan terkait tugas sekolahnya. Jangan sampai membahas soal Sinematik lagi, karena terakhir aku terlihat bodoh didepannya.
“Tugasku sebenarnya langsung aku kerjakan setiap pulang sekolah kak Bim. Tapi kadang karena terlalu aktif di ekskul, aku suka mengerjakan buru-buru. Beberapa tidak maksimal. Kadang aku juga bingung, terutama di kelas Bahasa Inggris. Kayaknya aku bodoh banget sama Bahasa Inggris.”
“Aku suka Bahasa Inggris. Dari semua pelajaran, aku justru paling suka Bahasa Inggris”
“Kak Bimo bukannya anak olahraga banget?” Tanyanya.
“Iya, Bahasa Inggris nomor satu, olahraga nomor dua.”
“Wah, kapan-kapan aku bisa minta diajari dong kak?!”
“Wah dengan senang hati, bisa ketemu setiap saat denganmu dong.”
“Apaaan sihh...”
Aku tertawa ketika tinju itu bersarang di pundakku. Sepertinya ini tawa bahagia pertamaku di sampingnya. Hal yang selalu aku rindukan berbulan lamanya. Sungguh aku tak menginginkan hal lain selain ingin terus melihat senyumnya. Tanpa sadar akutak berhenti memandangi wajahnya. Hal serupa juga gadis itu lakukan. Desiran listrik rasanya membuat aku menjadi laki-laki gagah perkasa dengan permaisuri hebat disebelahku. 
Tanpa sadar aku genggam tangannya. Begitu dingin. Sebaliknya dia mengatakan tanganku hangat. Entah mengapa. Seperti ada dua kutub berbeda yang bertemu lalu menghasilkan hawa positif. Kutarik ia hingga bangun dan mengikuti langkahku. Tidak ada sepatah katapun terucap. Hanya ada senyum di bibirnya. Entah apa maksudnya. Namun listrik mengalir lembut menyebar ke seluruh tubuhku. Awal yang baik. Sebuah hasil dari perjuangan yang begitu keras, akhirnya aku menggenggam tangannya.
‘Kenapa tangan saya teh digenggam terus?”
“Oh iya punten. Takut diambil orang.” Jawabku.
“Lepas ah...”
Aku diam saja. Takkan kulepas. Rasanya ini adalah malam terakhir aku menggenggam tangannya. Biar saja. Dia pun tak ingin melepasnya.
***

Aku mulai gelisah. Sudah hampir lima hari tidak melihat gadis itu di sekolah. Bahkan di basecamp Sinematik juga tak ada tanda-tanda terlihat. Pesan Whatsappku juga tidak terbalas lagi. Ingin kutanya seluruh sekolah, namun aku masih enggan melakukannya. Bagaimanaun juga aku masih merasa malu kalau seandainya seisi sekolah tahu kalau aku amat menyukai gadis itu. Makanya aku berpura-pura tetap biasa saja meski dalam hatiku gelisah. 
Hari keenam, belum juga tampak. Kemana gadis itu?
Terakhir bertemu seminggu yang lalu. Di taman. Tangan dinginnya masih membekas di jemariku. Ada apa gerangan. Bila sehari lagi tidak ada kabarnya maka aku akan mencarinya. Dimanapun berada. Andia juga hanya mengatakan kalau lost contact dengan Juana. Tidak ada surat ijin ataupun pemberitahuan dari sekolah. Aku mulai gelisah. Malam-malam aku menaiki Vespaku menuju ke rumahnya. Cukup jauh. Namun demi menentaskan rasa penasaranku aku tetap mengegas menembus dinginnya malam. Hujan rintik terus turun membasahi jaket bomberku, namun tak kuhiraukan. Kabar darinya mengalahkan apapun cuaca yang menerjangku.
***
Kabar itu menyakitkan. Bagaimana tidak, di hari ke-tujuh kabar itu datang juga ke telingaku. Juana, gadis yang selama ini aku rindukan ternyata memang tidak lagi ada di Bandung tapi sudah diterbangkan ke Singapore untuk pengobatan penyakitnya. Ternyata tanpa aku ketahui gadis itu menderita penggumpalan darah di otak yang amat serius. Begitu kambuh dan cukup serius, gadis itu langsung dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma. Orangtuanya panik dan tak memberi kabar ke sekolah. Seminggu kemudian kabarnya baru sampai ke sekolah. Semuanya kaget dan merasa prihatin dengan keadaan gadis itu. Aku? Aku begitu terpukul. Ingin rasanya aku terbang ke Singapore untuk menemui gadis itu, berada disampingnya, menemani hingga sembuh. 
Malam itu aku tidak bisa tidur. Pikiranku kacau. Dalam benakku hanya terlintas wajahnya. Sungguh aku begitu mengkhawatirkan keadaaanya. Bagaimana dia sekarang, sudah makan kah dia, sudah minum obat kah? 
Di bawah langit Kota Bandung aku duduk diatas jok Vespaku. Menatap langit yang nyaris tak berbintang. Berselimut dengan kedinginan yang seakan-akan terus mengusirku untuk pergi. Aku tak henti menatap satu-satunya bintang yang terlihat diantara ribuan bintang yang tertutupi awan. Aku melihat senyum Juana disana. Senyum yang kulihat di malam itu. Rambut terurai dan wanginya masih begitu terasa. Tiba-tiba dadaku sesak. Kerinduan benar-benar melumpuhkan sendi ditubuhku.
“Tuhaaaan. Bagaiamana keadaannya, ingin aku kesana, disampingnya dan mendoakan untuk kesembuhannya. Sungguh, risau hatiku karena ini semua. Sembuhkanlah dia Ya Allah. Kesunyian ini tak sesunyi saat dia tak ada di kota ini. Walaupun tak bertegur sapa tapi saat aku tahu dia baik-baik saja, itu adalah bahagiaku. Meski dia tak membalas pesanku tapi dia online saja sudah membuatku merasa ada dia di kehidupanku. Aku mencintainya Ya Allah.”
Kabut benar-benar menampar mataku. Aku tak ingin merubahnya menjadi tangis. Aku bintang basket sekolah akan malu jika menangis karena kerinduan ini. Tapi aku ingin menangis. Aku ingin berdoa untuknya. Tapi dimana, bagaimana, aku shalat saja jarang.
Ku jalankan Vespaku pelan. Berhenti di sebuah masjid. Kulepas sepatu dan jaketku. Jam ditanganku menunjukkan pukul 22.45. Masjid itu begitu sepi, namun lampunya masih menyala. Aku memasuki tempat berwudhu, kubasuh tubuhku dengan berwudhu. Kutunaikan shalat Isya. Aku tidak shalat Subuh, Dzuhur, Ashar dan Maghrib. Dadaku bergetar namun aku berusaha untuk khusyuk. Byaangan wajah Juana terus menghantui pikiranku. Rasanya setiap aku berusaha memejamkan mata, justru bayangan wajahnya muncul. 
Kugadahkan tanganku berdoa pada Tuhan. Ingin kuteriak tapi malu kalau nanti ada yang mendengar.
“Ya Allah ya Tuhanku, sungguh aku malu mengadahkan tangan berdoa padamu. Engkau maha mengetahui. Engkau tahu tadi pagi aku bangun kesiangan dan tidak shalat, Tapi malam ini aku meminta ini padamu. Engkau tahu Tuhan, aku mencintai Juana. Aku cinta kepadanya. Sekarang dia sedang sakit, engkau tahu khan Tuhan? Doaku adalah sembuhkan dia. Angkatlah penyakitnya. Dia belum sempat belajar Bahasa Inggris denganku Tuhan. Aku tidak mau dia gagal di Ujian. Aaamiiin”
***

Alhamdulillah. Hanya itu yang aku bisa ucapkan. Juana sudah dipulangkan. Kabar itu aku tahu dari grup ekskul Sinematik. Lagi-lagi aku ingin bersujud dan bersyukur. Terima kasih Tuhan, engkau kembalikan orang yang aku cintai. Hari ini aku berniat untuk menjenguknya. Sudah kusiapkan buah-buahan. Dari info yang aku dapatkan, Juana amat menyukai anggur. Aku sudah belikan. Hari ini aku pergi ke sekolah nebeng dengan Handika, temanku, supaya uang jajanku bisa buat menambah beli buah-buahan ini. Aku juga memecahkan celengan babiku yang hampir beberapa bulan ini aku tabung untuk membeli PS4. Tidak mengapa, yang penting Juana seneng.
Jam ditangaku menunjukkan pukul 16.00. Dengan menaiki Vespa aku menuju rumahnya. Sepi. Hanya ada mobil papanya Juana, sepeda motor dan sebuah mobil lain. Aku mengucapkan bismillah sepanjang jalan menuju pintu. Pelan-pelan aku ketuk.
“Assalamualaikum....”
“Assalamualaikum...”
Tidak ada jawaban. 
“Asslamualaikum...”
“Waalaikumsalam...”
Akhirnya.
Seraut wajah muncul dari pintu. Tatapannya seperti mengulitiku, menatapku dari atas sampai ke bawah. Pasti mamanya Juana. Ada kemiripan, terutama di mata dan hidung.
“Sore tante,,,”
“Iyaa selamat sore, mencari siapa?”
“Juana tante, sudah pulang khan?”
“Ohh. Iya sudah. Anak ini teman sekolahnya, pacar, atau...”
“Saya teman sekelasnya tante. Ketua kelas.” Jawabku gugup.
“Okayyy, mau menjenguk Juana? Tapi Juana baru saja minum obat dan tidur.”
“Oh ya sudah tante, saya nitip ini saja. Semoga Juana lekas sembuh tante.”
Mamanya Juana tersenyum.
“Wah, terima kasih nak. Juana pasti senang. Mau masuk minum teh dulu?”
“Wahh sepertinya saya langsung saja tante, soalnya nanti ada latihan basket.”
“Oh baiklah, terima kasih yaa.”
“Pamit tante.”
Buru-buru aku melangkah pergi. Ada tremor luar biasa. Mungkingkah ini tanda kalau bertemu calon mertua. Tidak mengapa tidak bertemu Juana, dia pasti tahu kalau aku yang datang. Aku setengah berlari segera menuju motorku. Ingin segera pulang dan menghempaskan tubuhku di kasur. Setidaknya aku berani. Awal yang luar biasa. Begitu sampai dirumah langsung masuk kamarku dan benar-benar menghempaskan tubuhku di kasur. Juana, juanaaa... sungguh kamu begitu penting bagiku. 
Aku bangun lagi dan menuju kaca besar yang menempel di lemariku. Tapi langkahku berhenti, pandanganku teralihkan pada selembar kertas di atas meja belajarku.
“Eh sebentar. Loh kertas ini kenapa masih di meja belajarku? Ya ampun aku lupa menaruh di bingkisanku. Ah sial, pasti Juana tidak tahu kalau buah itu dari aku?!!”
Siaaal. Siaaallll. Pasti Juana tidak akan tahu kalau orang yang datang sore itu adalah aku. Aduh bagaimana ini, kenapa aku bisa seceroboh ini. Aku ingin menampar diriku sendiri. Tapi ya sudahlah, sudah terjadi juga. Biarlah. Aku juga sudah berupaya tulus dan berdoa untuknya. Kesembuhannya sudah menentramkan hatiku. Itu sudah cukup.
***

Benar saja, seminggu kemudian Juana kembali masuk sekolah. Aku melihatnya masuk ke kelasnya. Betapa bahagianya aku. Setidaknya bahagiaku kembali hadir. Aku bisa kembali melihat dirinya. Namun bahagiaku lenyap seketika ketika akhir-akhir ini kabar kedekatan Juana dengan Wahyu, ketua kelas yang cungkring dan berkacamata tebal itu mengoyak-ngoyak dadaku. Bagaimana bisa si culun itu begitu akrab. Bahkan katanya mereka sering teleponan sampai malam, beberapa kali juga terlihat jalan-jalan bersama. Penasaranku meluap, suatu ketika aku sengaja berdiam didepan rumahnya Juana, dan ternyata benar Wahyu dengan Yamaha NMAX nya datang menjemput gadis itu. Di malam minggu. Aku membuntuti, ternyata mereka bersenda gurau di taman kota. Aku sengaja duduk agak jauh untuk menguping. Rupanya mereka sama-sama menyukai kucing. Aku juga melihat gadis itu tertawa lepas ketika Wahyu bercerita soal kucing milik neneknya yang diberi nama “Bonnie” karena tubuhnya yang gemuk dan berbulu lebat. Percakapan apa itu. Tak mengerti aku. Kali ini aku merasa telak dikalahkan. Aku tak mungkin pura-pura suka kucing juga seperti hal nya aku pura-pura suka film. Aku hanya tahu basket dan game. Aku juga tidak paham betul Bahasa Inggris. Aku hanya ahli main basket dan game. Maksudku, aku hanya menguasai hal itu.
Di sekolahpun begitu, sikapnya kembali seperti dulu yang cuek bagai bongkahan es di gunung Tangkuban Perahu. Tidak ada kesan kalau aku pernah mengajaknya jalan di taman kota sebelum dia terkapar hampir mati. Tidak ada sorot mata lain terhadapku bahwa aku yang menangis berdoa untuk kesembuhannya. Namun aku tidak dapat menjelaskan satu hal yang hingga hari ini masih terngiang jelas di kepalaku. Sebuah kalimat yang membuatku ingin membelah Gunung Tangkuban Perahu menjadi dua.
“Kamu kok tidak menjengukku sih kak. Padahal aku menunggu kehadiranmu. Aku pikir selama ini kamu perhatian itu karena kamu sayang sama aku, aku pikir kamu akan ada di saat kesusahanku, namun ternyata perhatianmu hanya sebatas chattingan belaka. Kecewa aku kak. Padahal aku berharap banyak sama kamu”......
Dalam hatiku mengutuk “Aku yang datang. Aku yang berdoa. Aku yang terluka.”
“Tapi ya sudahlah. Biarlah semua menjadi keikhlasanku dalam mencintaimu. Kamu tidak perlu tahu Ju, tak perlu, yang kamu tahu aku akan selalu ada buat kamu. Mungkin aku yang salah dalam doaku. Wahyu juga baik. Dia ketua kelas yang bertanggungjawab, aku yakin dia bisa menjaga Juana” 
Aku tersenyum begitu pertanyaan itu merobek dadaku. Aku hanya bisa menundukkan kepala.
“Maaf Ju, aku pikir kamu sedang keluar kota.”
Dan sejak itulah Juana semakin menjadi orang asing. Dia mulai enggan membalas chat ku, aku telepon tetap saja di reject. Bahkan di ekskul sinematik lebih banyak memilih diam ketika ada aku disitu, kadangkala berlalu ketika aku duduk didepannya. Bagiku itu hal yang menakutkan. Tapi bagaimana lagi, haruskah aku jelaskan, haruskah aku beritahu dia kalau aku yang datang bukan Wahyu, bukan Wahyu yang terluka saat dia sakit? Pertanyaan yang tak bisa kujawab. Gadis itu tetap aku pandangi dari jendela kelasku yang berseberangan dengan kelasnya. Tetap kuhadiri setiap kali ikut lomba, tetap tak berkedip mataku ketika dia presentasi di ekskul. Berlalu seperti air hingga pengumuman kelulusan sekolah itu datang. Hal paling yang tidak aku inginkan. Aku akan beranjak dari sekolah ini dan hilang sudah kebiasaanku menatap senyumnya, mungkin akan sulit melihat rambut terurainya lagi. Ingin rasanya aku datang kembali, mengetuk pintu rumahnya, membawa bingkisan yang berisi secarik kertas tulisanku, dan kukatakan “Ju, aku mencintaimu.”

S E L E S A I

Special thanks to:Indrajid Mayang Safitri