Kamis, 12 September 2019

"Sekali-kali lah. Kita itu sebagai pekerja yang hampir setiap hari berkutat di kantor harus refreshing. Tapi kudu liar."

Dani, sang supervisor di kantor yang punya hobi naik gunung itu mulai menggoda kami tentang planning di akhir pekan nanti. Memang betul, pekerjaan kami yang selalu sibuk dengan dunia teknologi dan media terasa amat membosankan, terlebih dihantam terus-terusan dengan deadline membuat rasanya ingin keluar sebentar dari kehidupan yang fana ini. Lari ke hutan yang sepi dan menikmati hidup.

"Lalu, kemana kita, pantai?"

Rachel, wartawan dari redaksi news yang selalu kerja keluar kota ikut nimbrung.

" Hari gini ke pantai, halo, kita bukan mahasiswa lagi teman-teman." Dani kembali memancing.

" So, kemana kita?" aku yang sedari tadi banyak diam akhirnya ikut gabung juga dengan obrolan mereka.

Dani tersenyum.

" Tergantung. Siapa yang merasa free di akhir pekan ini?"

" Gue mas!" Farid dan Mario mengacungkan jari bersamaan.

"Aku juga." Jawabku.

Dani melirik ke arah Rachel. "Of course, me too." kata Rachel.
Dani menarik kursi yang ada di sebelahku. Kami yang tengah sibuk didepan layar komputer mendadak teralihkan dengan tingkahnya. Kami semua sepakat bahwa apapun rencana sang supervisor pasti akan berakhir menyenangkan. Sudah beberapa kali beliau memberikan planning liburan yang akhirnya memang berakhir istimewa, mulai dari naik gunung, liburan ke Jepang awal tahun kemarin, sampai ketika sama-sama liburan ke Malang waktu pertama kali aku ikut geng mereka ini. Sudah salah satu keahlian supervisor kami ini kalau soal liburan.

"Kita camping sambil berburu." Katanya.

" Berburu?" Mario mengangkat alisnya. " Sebentar, kita akan masuk hutan, lalu...."

"Excatly. Kita berburu dan kita akan malam dengan hasil buruan kita." Dani menengaskan.

"It's sound great." Rachel.

"Belum pernah sih sebelumnya, tapi apa tidak berbahaya?" Farid itu mengajukan pertanyaan.

" Come on, when you have time to do something great before, guys?. Kita akan camping, bawa tenda, dan berburu. Tolong fokus pada kata camping, bukankah itu hal yang menyenangkan. Hutan nan sejuk dan asri, lalu kita akan menghabiskan waktu disana. Mandi di sungai yang masih asri, lalu kita makan dengan membakar daging buruan." 

"Gue ragu pas bagian, gue cewek sendirian guys."

"Siapa juga yang mau ngintip elo, nggak nafsu gue." Farid melempar senyum ejekan.

"Eh homo, denger ya, gue sendirian yang cewek ntar kalau gue kalian apa-apain pegimane?" Rachel mulai berang.

"Oke oke, cukup. Kalau soal itu kita akan jamin deh. Rachel boleh kok ngajak temannya." Ujar Dani.

"Seriously?" Rachel.

"Tentu saja."

"Cowok gue?"

"Yaaaaaahhhh...."

Rachel hanya tertawa. Aku yang sedari tadi hanya sedikit bicara juga sebenarnya merasa ada sedikit hal yang mengganjal kalau benar nanti Rachel akan membawa serta pacarnya. Mungkin tidak ada satu orangpun didunia ini yang tahu tentang perasaannya kepada gadis asli Betawi itu. Aku cuma teman kantor saja. Tidak lebih. Apalah arti seorang Bimo yang tiap hari selalu memberi perhatian dengan mengirim pesan Whatsapp bertanya sudah makan apa belum, kamu dimana, tapi ternyata Rachel lebih memilih pria lain yang sudah berhasil menarik hatinya. Tentu saja aku tahu siapa. Mischa, fotografer profesional yang pernah dikontrak salah satu band papan atas di negeri ini. Cowok maskulin itu yang berhasil merebut pujaan hatiku. Terkadang aku juga heran dengan selera cewek. Secara finansial gajiku pasti diatas Mischa, aku juga dengan tempat dan pakaian yang layak, sementara Mischa malah kesannya urakan. Rambutnya keriting gondrong, celana yang nyaris luntur dan jaket jeans lusuh, sepatu kets bau. Penghasilan sebagai fotografer juga untung-untungan, based on order. Jadi secara kelayakan, aku tentu punya alasan kuat untuk dijadikan sebagai pendampping;
tapi kenyataannya, Rachel lebih dulu jatuh cinta dan menerima Mischa sebagai kekasihnya. Sementara aku, masih bertahan menanti kapan mereka putus lalu aku akan merebut hati gadis cantik itu.

"Bimo, bagaimana?"

Aku terkejut. "Aku terserah kalian saja, I always have time for you all." Jawabku singkat.

" For us or for Rachel?" Farid mulai menggodaku. 
Hampir saja bookshet didepanku melayang kalau aku tidak menahan diri.

"Well, oke, jadi semuanya siap?" Dani mulai mencari penguatan.

"Berangkat!"

Aku ikut mengangguk. Planning liburan di akhir pekan pun terencana dengan baik. Kami tinggal menunggu updatean terbaru dari sang supervisor. Seperti biasa, dia akan menorganisir segalanya, siapa yang akan bawa ini-itu, siapa bagian ini-itu, dll. Kali ini aku kebagian untuk mengurus peralatan untuk berburu. Kebetulan aku memang punya aktifitas lain berupa menembak diluar jam kantor. Kupikir yahh ini sekalian aku memantapkan skill menembakku. Tentu saja aku menyambutnya dengan senang hati. Sudah terbayang liburan seperti apa di akhir pekan nanti.


Jumat 13 September 2019; 07.00

Tenda, peralatan masak, obat-obatan dan semuanya sudah ready. Ini beneran akan jadi liburan yang menyenangkan; bagi mereka. Bagiku akan menjadi hal yang tidak menyenangkan, karena kehadiran Mischa ditengah kami akan menjadi hal menyebalkan. Sepanjang perjalanan aku memilih untuk tidak
banyak mengeluarkan kata, aku hanya tersenyum dan menjawab "sedang sariawan" ketika ditanya mengapa. Apalagi kami berangkat dalam satu mobil. Farid, Mario dan dua teman mereka naik mobil pertama sekaligus dengan peralatan camping, sementara aku naik di mobil kedua bersama dengan Dani, Rachel, dan Mischa. Masih untung ada Dani sehingga masih ada obrolan, bayangkan bila hanya ada aku, bisa jadi itu akan jadi perjalanan menyebalkan. Apalagi ketika aku melirik di spion
tampak Rachel sedang bersandar di bahu Mischa. 


Perjalanan terus berlanjut. Hampir dua jam lebih rasanya perjalanan darat namun belum menunjukkan tanda-tanda juga. Ini sudah bukan di wilayah Jogja lagi sih, pikirku. Cuma karena memang belum hapal daerah-daerah, jadi aku hanya memilih untuk diam sampai sesekali melirik ke belakang melalui kaca spion. Jalanan yang tadinya ramai mulai berangsur sepi dan melewati hutan-hutan semacam jati atau pinus. Kulihat Dani juga masih fokus menyetir. Sudah tanggungjawabnya sebagai driver untuk tetap terjaga meskipun penumpangnya sudah beberapa tidur-bangun-tidur.

"Sudah sampai mana, Dan?" tanyaku pelan.

Rachel juga tampak bangun dan menggeliat, mungkin dia mendengarkanku.

"Sudah dekat, sebentar lagi." Jawab Dani sambil terus fokus di jalanan.

"Sebenarnya kita campingnya dimana sih, sudah dua jam an lebih perjalanan dan belum sampai juga." Rachel ikutan komplain.

"Tunggu saya beib, percaya saja sama mas Dani." Mischa, pacarnya Rachel ikut berbicara. 
Muak aku mendengarnya.

Dani hanya mengangguk-angguk sambil terus menghisap asap rokoknya.

Aku melihat ke belakang, mobil yang dikendarai Mario juga terus melaju beriringan. Irama musik pop yang mengalun dari dashboard mengiringi perjalanan yang sudah mulai banyak diamnya. Mungkin faktor ngantuk yang membuat kami memilih untuk memejamkan mata. Tidak untuk Dani, karena dia harus tetap terjaga.

12.15 

Tepukan Dani membangunkanku. "Sudah sampai Bim," katanya.

Aku mengusap wajah sembari membuka mata. Tulisan besar didepan sana menyambut kami. Tidak tampak seperti sebuah area perkemahan atau tempat wisata, namun nama sebuah tempat atau semacam desa begitu. Terlihat juga seorang laki-laki tua berdiri menghadap kami. Pakaiannya serba hitam, celananya cingkrang, topinya semacam udeng atau blangkon khas Jawa lengkap dengan jarikan di pinggangnya. Kumis dan jenggotnya berwarna putih. Pakaian seperti itu mengingatkanku akan tokoh Bajak Laut di komiknya Yan Mintaraga, semacam pendekar di jaman dulu. Mungkin pakaiannya menggambarkan umurnya, tapi jelas sudah tidak fashionable di era 2019 ini. Bagiku tetap jadi pemandangan aneh, entah bagaimana pendapat teman-temanku yang lain.

"Ini pak Aman, beliau salah satu tokoh di perkampungan ini." Dani mulai mengenalkan pada kami.

"Selamat datang, mas dan mbak sekalian." Welcoming speech yang singkat.

Aku ingin tertawa, namun aku tahan.

"Mari ikuti saya, nanti saya jelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan desa ini".

Pak Aman membawa kami di sebuah ruangan yang cukup luas, mungkin bisa dibilang pendopo. Entah itu rumahnya atau bukan, tapi sepertinya memang diperuntukkan untuk menerima kunjungan, atau mungkin semacam ruang pertemuan dalam acara-acara tertentu. Aku mulai merasa tidak nyaman dan ada hal aneh yang menghinggapiku. Bagaimana bisa Dani menemukan perkampungan seperti ini. Dimana kami akan camping dan berburu, seperti planning di awal.

" Baik, silahkan duduk."

Setelah kami duduk melingkar, tak lama seorang perempuan muda datang dan memberikan sesuatu kepada bapak itu.

"Baiklah, selamat datang di desa kami mas dan mbak sekalian. Kalau ini pertama kali kalian kesini maka ijinkan saya mengenalkan diri, saya Aman, salah satu tetua atau orang yang mengurus desa ini, kalian juga bisa menyebutnya seperti pak Lurah atau pak RW begitu. Kemarin Mas Dani sudah nge-bel saya dan mengutarakan niatnya untuk berkemah di desa atas, sudah saya sampaikan kepada para tetua yang lain dan kami persilahkan selama tidak mengganggu dan mematuhi aturan-aturan".

Terdengar berbelit-belit, tapi aku cukup mendengarkan saja.

"Jadi, nanti kalian akan berkemah di pinggir hutan Wanarama. Disitu ada tanah lapang yang dekat dengan sumber air, tidak terlalu jauh dengan perkampungan. Mas Dani juga mengatakan akan masuk ke hutan untuk berburu. Memang di hutan atas sana masih benar-benar hutan jadi tidak masalah untuk berburu, tapi hanya diperbolehkan untuk berburu pada hewan tertentu; misalnya kelinci, ayam hutan, unggas, kijang, atau ikan. Tidak diperbolehkan untuk berburu hewan lain selain itu. Selain sudah ada peraturan dari pemerintah, juga memang ada larangan dari para tetua di desa kami ini. Satu lagi, tolong jangan terlalu malam di hutan, sebelum jam setengah lima sudah turun lagi. Bukan apa-apa, untuk menghindari adanya binatang buas."

Beberapa diantara kami saling berpandangan ketika Pak Aman menyebut binatang buas. Dibenakku sendiri bila ada kata binatang buas bisa jadi itu harimau, singa atau srigala. Bila dihutan yang nanti kami akan berburu masih ada binatang tersebut, tentu kewaspadaan juga harus ditingkatkan. Tidak lucu kalau kami mau camping malah ketemu harimau. Bisa lari terbirit-birit nantinya.

"Apakah ada lagi pak?" 

"Terakhir, apapun situasinya, jangan pernah keluar dari tenda antara pukul 02.00 sampai dengan 05.00. Kalaupun keluar tenda, usahakan tidak membawa penerangan."

"Memangnya kenapa pak?" rasa penasaran mendorongku untuk bertanya.

"Seperti yang saya bilang tadi, binatang buas."

Aku dan beberapa teman menghela nafas panjang mendengarnya. Sungguh belum apa-apa sudah diberi peringatan, padahal kami mau bersenang-senang.Ingin rasanya aku protes pada Dani, apa sih yang dibenaknya sehingga berfikir untuk merencakan liburan ditempat seperti ini. Huh! ya sudahlah, nikmati saja.


14.00

Allahu akbar!
ternyata ekspektasiku salah. Tempatnya begitu indah. Hamparan rumput hijau yang asri dan sejuk, dengan pemandangan gunung di kejauhan, membuat alam sekitar menjadi seperti lukisan yang sering dilihat di dinding rumah. Belum lagi ada pemandangan bukit dan air terjun kecilnya. Ini sih seperti berkemah di oase ditengah gurun. Luar biasa. Aku yag sedari tadi ingin marah-marah sekarang jadi berterima kasih dengan Dani yang memilih tempat ini untuk refreshing. 

"Bagaimana, luar biasa khann?" ujar Dani sambil melebarkan senyum.

"Pak supervisor memang te-o-pe be-ge-te lah. Tempat ini tuh tidak seseram yang bapak aneh tadi katakan. Kalau seperti ini, bakal seru!"

Farid langsung menyambar ucapannya Dani. Terlihat ada kegirangan dimatanya. Bisa ditebak, yang paling bahagia tentu Rachel dan Mischa, begitu sampai mereka sudah langsung foto-foto berdua. 
Tempat yang bakal dijadikan lokasi kemah memang tidak terlalu jauh dari perkampungan, namun kami harus naik ke atas menaiki bukit. Sekitar 20 menitan berjalan ke atas. Kalau secara logika, berjalan kaki sejauh 20 menit itu sangat jauh. Mungkin bisa sekitar 4-5 Km an. Pak Aman tidak mengantar kami ke lokasi kemah, beliau hanya memberi secarik kertas yang berisi semacam tanda-tanda peta begitu. Seperti yang tadi beliau jelaskan sebelum mendaki, kami juga tidak diperbolehkan masuk hutan terlalu jauh. Dengan alasan yang sama, yaitu binatang buas. Entah feelingku atau memang kebenaran, aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan bapak tua itu. Bisa jadi beliau sudah memberi tahu Dani, dan Dani hanya memberikan penjelasan yang tidak spesifik. Meski begitu, bukan sebuah masalah sih sebenarnya, toh buat apa kami masuk-masuk ke dalam hutan bila resikonya bakal bertemu dengan binatang buas. Aku terus berfikir sembari membangun tenda bersama dengan Farid dan Mario. Farid dan Mario membawa pacar mereka juga, Rindu dan Diana namanya. Jadi diantara mereka, hanya aku dan Dani yang tidak membawa pasangan. Tidak apa-apa, selama mereka tidak berbuat yang aneh-aneh atau mengumbar kemesraan, aku fine-fine aja. Bagaimanapun juga sebagai satu-satunya yang jomblo, melihat orang berpacaran menjadi pemandangan yang sangat menyeramkan dibanding yang lain.


20.00

Malam pertama. Api unggun sudah menyapa. Teko berisi air panas dan mie instan sudah tersedia. Malam yang menyenangkan. Kami sudah duduk melingkari sambil bercerita satu sama lain. Tidak ada yang duduk bersama dengan pasangan, sesuai dengan arahan pak Supervisor, tidak ada yang berpacaran. Hormati yang jomblo, which is itu aku ya. Memang kejam. 

"Bimo itu dulu di awal pernah digosipin suka dengan mbak Veni, anchor yang program pagi, hahaha" Goda Farid.

Aku hanya tersenyum pahit.

"Gue tahu kalau itu. Bimo pernah briefing beliau, terus bilang kalau mbak Veni cantik dan seksi," tambah Mario.

"Kapan?" tanyaku untuk membela diri.

"Pas diawal-awal ente masuk sob, masak ente lupa. Gue aja inget."

Semuanya tertawa. Jahatnya mereka menjadikan aku sebagai bahan bulian.

"Bimo itu sukanya tipe cewek yang tinggi, rambutnya panjang, dan seksi." 
Rachel ikut membantu persengkongkolan.

"Itu Rachel banget, ya khan Bim?" Dani menjelaskan,

Aku terperangah. Itu kata-kata ampuh yang mematikan.

"Aku..hemm,"

"Bimo mati kutu, coba tanya pacarnya Rachel, boleh tidak?" Mario semakin gencar.

Mischa melipat tangan di dadanya. Entah ada sebuah arogansi yang mendorongnya sehingga anak dekil itu bersuara, dan mengagetkan."Wah, kalau aku jangan ditanya mas. Kalau ada yang berani mendekati Rachel, aku potong lehernya, aku bakar didepan mata."

Mendadak semuanya terdiam.

"Serem juga." 

Mario yang paling terkejut dengan ucapan Mischa. Tatapannya tajam ke arahku yang memang terlihat terus menunduk. "Jangan lehernya mas, tangannya saja, minimal tidak mengambil gorenganku kalau dikantor."

Kami kembali tertawa. Walaupun dalam hati aku bisa menebak kalau Mario membelokkan pembicaraan ke arah guyonan supaya perkataan Mischa tadi tidak terlalu dianggap serius. Terkait gorengan, semua orang dikantor pasti paham kalau Farid pernah membawa piring berisi gorengan
di ruang depan kantor dan dibagi-bagi ke teman-temannya, termasuk aku, padahal ketika pak pemimpin redaksi masuk langsung menanyakan gorengan yang hilang. Padahal itu diperuntukkan untuk klien. Tidak ada yang mengaku. Akhirnya Mas Aras, office boy yang disalahkan karena dianggap menghilangan piring berisi gorengan. Mas Aras menutupi kesalahan dengan mengatakan membuangnya karena dikira sisa kemarin, sejak itu Farid menjadi bulan-bulanan kami. Obrolan kembali cair gara-gara mengungkit masalah gorengan. 

Beberapa jam kemudian, Rindu dan Diana minta ditemani untuk buang air kecil. Aku melirik jam ditanganku, sudah hampir jam 10 malam. Tidak masalah kalau membawa penerangan, karena pesan Pak Aman adalah setelah pukul 02.00 tidak diperbolehkan membawa penerangan. Obrolan kami berlanjut. Namun, beberapa saat kemudian teriakan Rindu mengagetkan kami. Spontan kami semua berdiri, dan berlari ke arah mereka.

"Ada apa, ada apa?!"
"Ada bayangan!"

Sialan! kami kira ada sesuatu yang terjadi. Ternyata hanya ada bayangan dan mereka merasa kegelian. Hampir saja membuat kami semua takut. Karena hal itu, kami memutuskan untuk tidur lebih awal. Planning besok pagi adalah berburu kehutan, main di air terjun, dll. Akan menyenangkan.


Sabtu, 14 September 2019: 09.00

Sementara para cewek memasak dengan menggunakan peralatan yang tersedia, para cowok masuk ke dalam hutan untuk berburu. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Jadi sempat kebayang ala-ala di film first kill yang dibintangi oleh Bruce Willis dimana sama-sama adegan berburu di hutan. Kemarin aku yang mempersiapkan senapan berburu, ada enam senapan yang aku pinjam dari kenalanku di sekolah menembak, beruntung masih bisa dipinjamkan sehari.  Aku, Dani, Rachel, Mischa, dan Farid yang masuk ke hutan. Sementara Mario malah memilih tetap ditenda.

"Gue nggak mau kotor-kotoran, lagipula kulit gue terlalu riskan kalau bersentuhan sama rumput liar!" alasan Mario.

"Ya ampun, jadi elu tetep ditenda?" 

Rachel mendelik. Mario hanya tersenyum lebar."Gue bagian cuci piring!" teriaknya.

Dasar Mario. Tapi ya sudahlah, itu lebih baik daripada nanti dia ikut ke hutan tapi sepanjang perjalanan akan terus berteriak dan komplain. Pakaian kami sudah layaknya pemburu profesional. Pakaian lengan panjang lengkap dengan sepatu boats, mengenakan topi dan masker. Memang aku tidak hanya menyewa senapan namun juga sekalian pakaian yang biasa digunakan untuk permainan paintgame menembak. Biar suasananya lebih mendukung. Berita baiknya sih aku mendapat pujian dari mereka. "Ini sih keren banget." Katanya.

Hutan yang kita tuju tidak terlalu jauh dari tenda. Kami mulai berlagak ala berburu dengan mengacungkan moncong senapan ke depan, berharap bertemu dengan binatang buruan. Tapi belum ada satupun yang kami temukan, hingga tanpa terasa kami masuk semakin dalam di dalam hutan tersebut. Di kiri kanan yang tadinya hanya semak setinggi perut dan pohon-pohon ala jati sekarang suasananya sedikit berubah. Jalan setapak juga menghilang. Kami tersesat.

"Ini perasaan gue apa emang kita semakin jauh ke dalam?" Farid mulai memecahkan suasana.

"Gue juga mikirnya begitu. Ditambah sedari tadi tidak ada binatang yang kita temukan." Rachel menimpali.

"Terus jalan saja, binatang buruan itu tidak ada di pinggiran."

Benar juga teorinya Dani. Akhirnya langkah berlanjut. Jam ditanganku terus bergerak, dan hal yang aneh terus terjadi, kami serasa berjalan di tempat yang sama.

"Ini aneh, gue inget betul kalau tadi berada di tempat ini dan sekarang setelah berjalan jauh kita kembali ke sini"

"Dani,..."

Aku mulai ikut panik karenanya. Memang benar adanya, ternyata kami cuma berputar-putar ditempat yang sama.Sinyal di smartphone juga menghilang. Disitu kami mulai merasakan hal-hal aneh. Langit juga mendadak mendung, gerimis kecil mulai turun. Hal itu membuat kami terpaksa berteduh dibawah pohon besar. Dani terlihat berusaha tenang meskipun teman-temannya mulai terlihat panik. Aku terus memandangi kiri kanan yang hanya berupa semak belukar tanpa ada tanda-tanda petunjuk arah. Matahari yang bisa jadi patokan arah juga tertutup awan sehinggga kami mulai kesusahan.

"Dan, perasaan gue nggak enak..." Rachel mulai merasakan hal yang aneh.

"Tenang, ini hanya gejala alam biasa. Kita bingung karena tidak ada petunjuk arah, makanya kita kembali ke jalan awal saja." Kata Dani.

Mischa yang sedari tadi diam mengangkat kepalan tangan kirinya. Semuany sontak terdiam dan fokus dengan apa yang dia lakukan.

"Kenapa beb?" tanya Rachel.

Mischa berjalan pelan ke arah kanan. Kami sontak mengikutinya. Ternyata di seberang sana ada dua ekor kijang yang sedang berjalan pelan. Mischa mengarahkan moncong senapannya. Aku mendekatinya. "Biar aku saja." Kataku. Mischa tidak bergeming, itu tanda dia tidak mempersilahkan, meskipun sebenarnya dia juga tahu kalau diantara mereka aku yang paling jago menembak. Mungkin dia mengenalku sehingga dia tetap mengarahkan moncong senapannya. Dani yang melihat itu hanya 
mengangkat bahunya. Mischa pelan-pelan menarik pelatuk.

Dorr! Dorr!

"Kena!" teriaknya.

Dua ekor kijang itu melompat karena terkejut dengan suara tembakan. Salah satunya tersungkur ditanah. Pahanya tertembus tembakan Mischa. Namun sedetik kemudian binatang itu bangun dan berusaha berlari menyusul kawanannya. "Shiiit, dia kabur!" Mischa meloncat ke arah binatang itu. Lagi-lagi dia menarik pelatuknya, namun kali ini meleset. Sedikit geram, kekasih Rachel itu berlari mengejar binatang buruannya tanpa mengidahkan teriakan kami.

"Ikuti dia!" Dani segera bangun dari duduknya dan ikut berlari ke arah Mischa.

Beberapa kali suara tembakan menyalak. Mischa sudah berlari jauh ke depan meninggalkan kami.

"Bangsat, kemana anak itu." Farid mulai gelisah, Mischa sudah tidak terlihat lagi.

"Beb, bebbbbb!" Rachel mulai berteriak memanggil Mischa.

Tidak ada sahutan.

"Dia ke arah sana, ayo terus kita ikuti."

Kami bergegas mengejar Mischa mengikuti jejak kaki. Namun tidak terlihat lagi.

"Kemana dia?"

Sekeliling kami semakin menyeramkan. Pohon-pohon besar dan rimbunan semak belukar yang terlihat. Lamat-lamat telingaku mendengarkan suara daun terinjak. Aku mengangkat kepalan tanganku yang membuat Farid, Dani, dan Rachel mulai fokus dengan pendengaran mereka. Pelan-pelan aku mengarahkan moncong senapanku. Entah mengapa feelingku berubah menjadi cemas. Fokus pandanganku ke balik pepohonan. Keringat mulai menetes. Aku merasa itu bukan Mischa.

Grrrrrrrrr!!!!

Mendadak auman keras membuat kami nyaris tercekat. Auman seperti suara monster itu menimbulkan keyakinan akan wacana binatang buas oleh Pak Aman ketika kami akan melakukan perjalanan. Aku mundur seketika diikuti oleh ketiga temanku. Farid sudah ciut nyalinya. Sementara Dani terlihat pucat. 

Grrrrrrrrr!!!

Auman kedua membuat kami berbalik arah dan segera berlari tunggang-langgang. Suara daun terinjak itu juga semakin mendekat. Jelas binatang buas itu mengejar kami. Aku berlari sekencang-kencangnya diikuti dengan ketiga temanku.

"Terus ke depan!" Teriak Dani sekencang-kencangnya.

Tanpa sadar kami semakin jauh kedalam hutan. Tapi kami tidak peduli, dengan terengah-engah kami mulai menghentikan laju lari. Aku merasa ada yang kurang.

"Farid kemana?" Benar saja, salah satu temanku tidak terlihat diantara kami.

"Farid, hah tadi dia disebelahku loh." Timpal Dani.

Mungkin karena tadi panik sehingga berlari tanpa memperhatikan sekitar, hingga kami sadar bahwa Farid tidak ada bersama kami.

"Bagaimana bisa anak itu menghilang!"

Rachel mulai menangis. Entah karena mulai frustasi karena kehilangan dua temannya.

"Jangan-jangan Mischa,...."

"Rachel, please jangan berspekulasi dulu."

"Fariiidd! Mischa!" Aku mulai berteriak meneriakkan nama mereka.

Tidak ada jawaban.

"Kita tidak mungkin kembali ke jalan tadi, terlalu beresiko." Kata Dani.

"Tapi Farid dan pacar gue ada disana." Rachel mulai menaikkan nadanya.

"Terlalu berbahaya, jangan, kita tetap lurus kedepan!"

"Elu bajingan ya Dan, bagaimana bisa elu ngomong begitu. Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama Farid dan Mischa?"

Rachel menunjuk dada Dani. "Elu mau tanggungjawab?!"

"Fine. Kita akan temukan mereka, tapi terlalu beresiko kalau kembali ke jalan tadi. Kita tidak tahu tadi srigala atau harimau, yang jelas akan membahayakan nyawa kalau kembali kesana." Dani membela diri.

"Bajingan emang elu Dan! gue akan akan balik kesana, gue akan nemuin mereka sendiri!"

Aku bangun berusaha merelai mereka. "Tenang, sabar kita cari jalan tengahnya. Tolong teman-teman".

Tapi Rachel tetap berusaha untuk melangkah menuju jalan tadi. Dani berusaha mencegah namun tangannya ditepis. Aku arahkan moncong senapanku keatas,dan melepaskan amunisinya. Berharap keduanya berdamai sebenatar sehingga bisa berfikir jernih."Diam semuanya." teriakku.

"Oke, kita kembali ke tempat tadi, tapi ingat kita harus terus waspada." Kataku.

Akhirnya keduanya sepakat, dan kami bergegas menelusuri jalan kami tadi. Suasana semakin mencekam, tidak ada sinar matahari yang menembus pepohonan, gerimis kecil yang terus turun juga membuat pakaian kami mulai basah. Pelan-pelan aku maju kedepan menelusuri jejak langkah kami
tadi. Mataku mulai melihat kekiri-kanan berharap menemukan kedua teman kami yang hilang tadi.

***

Langkah pelanku serasa berat menelusuri jalanan setapak itu. Sayup-sayup terdengar teriakan Farid dari arah depan.Dani dan Rachel meloncat bergegas menuju ke arah itu, tapi setelah sampai ke asal suara, suaranya justru pindah ke tempat lain. Aku mulai bergidik. Mataku nanar memperhatikan sekeliling, begitu juga dengan Dani maupun Rachel. Feeling mengatakan bahwa Farid sudah dalam kondisi yang mengerikan.

Bug bug!

Sebuah benda jatuh dari atas pepohonan yang disambut dengan teriakan Rachel. "Akkkhhhhhhh!!!"
Tercekat nafasku di ujung tenggorokan. Benda yang jatuh itu tak lain tak bukan adalah kepala manusia yang sudah terpenggal. Ada lumuran darah ikut menyembur dan terus mengalir. Aku mundur seketika. Aku kenal wajah itu. Mischa dan Farid!

"Tidaaaaaakkkk!" 

Rachel berteriak sejadi-jadinya, namun tidak bergeming. AKu peluk erat dirinya. Terasa airmata mengalir kencang membasahi kemejaku. Sementara Dani hanya bisa terdiam mematung. Entah apa yang ada dibenaknya namun sudah pasti akan terkejut dengan pemandangan mengeringan itu.
Siapakah yang tega menghabisi teman kami dengan cara mengenaskan itu? sungguh biadab!

"Kita pulang sekarang mas, pulang!" teriak Rachel dengan histeris.

"Siapa yang tega menghabisi mereka dengan cara sedemikian kejam?" Dani hanya bisa tertegun.

"Siapapun itu, dia harus bertanggungjawab" Kataku.

Mataku terus menatap keatas, kedua kepala itu seperti dilemparkan dari atas pepohonan. Tentu pembunuhnya ada disana. Aku arahkan senapanku dan memuntahkan pelurunya. "Haii bangsat, keluar sekarang, hadapi aku!" Teriakku.

Tidak ada respon.

Dor! Dor! Dor!

Aku mulai menembak dengan membabi buta. Sesaat kemudian, rimbunan semak di sebelah kiri bergerak cepat.

"Mas,...." Rachel mulai terperangkap dengan cemas. Begitupun aku, namun aku segera mengarahkan senapanku.

Rimbunan semak itu berhenti bergerak. Aku berusaha menghampirinya dengan pelan, entah hal gaib apa yang membuatku mendadak berani melakukan itu. Berlahan aku buka rimbunan semak itu. Dadaku bergetar hebat menahan rasa takut dan ketegangan yang luar biasa. Dani ikut mengarahkan moncong senapan, sepertinya dia berusaha akan melindungiku bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan keringat dingin yang menetes, aku sibakkan alang-alang itu.
Kosong. 
Tidak ada sesuatu apapun dibalik rimbunan semak itu. Sejenak kemudian hatiku berdesir, aku mundur seketika. Tatapanku nanar memandangi kedua temanku yang tersisa. 'Kita kembali ke bawah, sekarang." Kataku.

Dani dan Rachel mengangguk. Rachel memegang erat lenganku sambil berjalan mengikutiku. Dani berada didepan. Jalan setengah berlari kami mulai menjauhi tempat itu, tidak ada niat sedikitpun untuk memungut dua kepala teman kami yang sudah dihabisi itu. Hal yang terlintas adalah keluar dari hutan dan kembali ke kampung untuk meminta bantuan. Tanganku tak henti bergetar. Keringat dingin terus membanjiri. Rachel sudah berhenti menarik meskipun aku tahu airmatanya terus mengalir, namun dia hanya menahan sekuatnya.

Grrrrr!!!!

Auman itu menghentikanku. Dani mulai kalap dengan mengacungkan senapannya kekanan kiri. Entah darimana datangnya, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam besar muncul dibelakang. Sasarannya adalah Rachel. Aku yang fokus didepan tidak memperhatikan kehadiranya, yang aku tahu sesaat kemudian Rachel sudah kejang-kejang. Darah menyembur dari dadanya. Jelas dia tertusuk benda tajam. Aku melompat kedepan dan kini berhadapan dengan Rachel. Tanganku dan Dani bergetar hebat, penyebabnya adalah sosok tinggi besar dibelakang Rachel. Tidak terlalu jelas tapi yang terlihat adalah tangannya yang berbulu lebat dengan kuku-kuku tajam, seperti tangan
Kingkong. Aku terus mengarahkan senapanku. 

Grrrrr!!!

Rachel sudah tidak berdaya dan hanya pasrah saja. Sebuah kayu runcing menembus dan membelah dadanya tembus ke depan. Allahu akbar. Aku nanar menyaksikan pemandangan itu. Aku terus memperhatikan tanpa bisa berbuat banyak. Rachel tampak mulai payah, mulutnya seperti hendak mengucapkan sesuatu namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya tapi aku dapat memahaminya. "Lari" itu yang aku tangkap.

Grrrrrr!!!

Auman ketiga itu menyadarkanku. 

Aku mundur dan berlari sekencang-kencangnya. Sekilas menoleh kebelakang makhluk hitam itu melemparkan tubuh Rachel. Aku dan Dani berteriak kencang berharap ada yang mendengar. Aku mulai mengusap keringat yang membanjiri tubuhku. Entah mengapa suasana menjadi berubah amat sangat menyeramkan. kuperhatikan sekelilingku, nyaris tidak ada angin yang berhembus. Lamat-lamat pekikan gagak terdengar bersahutan, seakan menambah suasana semakin mencekam. Mata elangku juga seakan enggan untuk berkedip, kuputar mengelilingi sekitarku. Hanya semak belukar dan ilalang setinggi perut.

" Bagaimana bim?" suara mengagetkan dari arah belakang.

shitt! hampir saja aku tarik pelatuk senapanku.

Dani, temanku yang tinggi besar itu muncul mendadak dan berhasil membuatku terkejut.
"Dia menghilang." Jawabku singkat.

"Makhluk apa itu?"

"Sssstttt..."

Aku menaruh jari telunjuk didepan mulutku. Pelan-pelan aku melangkah ke arah samping. Dani mengikuti. Feelingku mengatakan ada gerakan intens pada semak dibalik pohon besar yang berakar itu. Entah mengapa aku merasa bukan seperti seorang pemburu pada detik ini, melainkan sebagai seorang yang akan menangkap hantu. Pelan-pelan aku mengendap-endap ke pohon besar itu. Terlihat jelas memang ada gerakan di semak belukar. Aku siap menarik pelatukku, demikian juga Dani.

"Aku hitung sampai tiga, kita sergap dia." Kataku. "1...2..."

Grrrrrrr!!!!

Aku terperanjat. Begitu aku keluar dari balik pohon dan mengarahkan muncung senapanku, hal tidak terduga itu terjadi. Jantungku nyaris copot dibuatnya. Bukan rusa atau kelinci liar yang ada dihadapan kami, melainkan sosok tinggi besar dengan rahang yang besar, bulu lebat disekujur tubuhnya. Matanya merah menatap tajam penuh hasrat ingin membunuh.

"What the fuck!" Dani meloncat mundur.

Aku yang sudah terlanjur berada di posisi yang tidak terlalu jauh dari makhluk itu hanya bisa mundur berlahan. Tanganku sedikit gemetar dan terus mengacungkan moncong senapan ke arah makhluk itu.
Entah apa itu. Badannya nyaris sebesar beruang, kukunya panjang, namun aku yakin itu bukan beruang, juga bukan srigala. Mungkin ini binatang buas yang disebut Pak Aman beberapa kali. Sungguh mengerikan. Muluitku berkomat-kamit membaca doa sembari terus menatap mata makhluk itu. 

"Demi tuhan, kalau tidak mundur, aku tembak kau." Kataku dalam hati.

Makhluk itu malah semakin maju mendekatiku. Jaraknya kini semakin dekat, badanku sudah menempel di batang pohon, tidak ada jalan untuk berlari. Aku merasakan tanganku bergetar hebat, namun tak juga kutarik pelatuk senapanku.

Dor! dor!

Grrrrrr!!!!

Mahkluk itu justru meloncat melewatiku. Ternyata Dani tanpa sengaja menarik pelatuk senapannya. 
Sedetik kemudian, hal mengerikan itu terjadi. Tepat didepan mataku, makhluk buas itu merobek-robek dada Dani, mencakar, serta menusuk dengan kuku tajamnya. Dani sempat melepaskan tembakan beberapa kali, namun akhirnya roboh. Kini pemandangan mengerikan itu aku lihat mata kepalaku sendiri bagaimana makhluk itu mencengkram erat kepala temanku itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Sontak aku mundur berlahan. Tanpa pikir panjang, aku buang tas ku dan segera berlari sekencang mungkin menjauhinya, tanpa menoleh kebelakang.

Grrrr!!! Grrrr!

Auman itu menggelegar, membuatku semakin pontang-panting berlari. Menerobos semak, tanpa memperhatikan jalan. Hal yang paling terlintas dibenakku adalah menyelamatkan diri dengan menjauhi makhluk buas itu. Aku terus berlari kencang, menuruni bukitan kecil.
Tujuanku adalah perkampungan tempat kami masuk pertama kali tadi. Bulu kuduk berdiri luar biasa. Sambil terengah-engah aku terus membaca Ayat Kursi sekencang-kencangnya. Entah bagaimana nasibnya Dani sekarang, mungkin sudah dilahap habis oleh makhluk itu.

"Demi Tuhan, mahkluk apa itu ya Allah. Pertama kali aku melihatnya."

Grrr!

Sayup-sayup aku masih mendengar raungannya. Suasana sudah hampir gelap, jalanan setapak itu juga sudah mulai tidak terlihat. Aku hampir buta arah dibuatnya. Terus saja berlari, sehingga tanpa sadar aku melewati jalanan yang semakin menjauh dari arah perkampungan. Allahu akbar, bagaimana ini, pikirku. Namun aku terus berlari. Feeling pemburuku mengatakan bahwa arahku sudah benar.
Hingga akhirnya aku menghentikan laju lariku ketika samar-samar ada sepasang bola merah menyala di hadapanku. Tercekat aku karenanya. Benar saja, sedetik kemudian makhluk hitam besar itu sudah berdiri didepanku. AKu mundur berlahan. Meskipun tidak memperhatikan secara seksama tapi aku dapat memastikan bahwa mahluk ini berbeda dengan sebelumnya atau setidaknya mereka berjenis sama namun bukan makhluk yang tadi menghabisi Dani.

"Maju!" teriakku sambil mengacungkan moncong senapanku.
Sudah habis rasanya harapanku. Dalam benakku hanya ada kata bertahan atau mati. 

Grrr!!! Grrr!

Auman keras terdengar dibelakangku. Mendadak jantungku berhenti seketika. Benar saja, ketika aku menoleh makhluk yang tadi menghabisi Dani sudah berdiri dengan gagahnya sembari menatap tajam ke arahku. Kini aku berada di tengah-tengah dua makhluk buas yang siap menhabisiku. Berulang kali aku mengarahkan moncong senapanku. Tidak terasa airmataku meleleh, membayangkan tubuhku juga akan dikoyak seperti yang makhluk itu lakukan kepada Dani. Keduanya juga pelan mendekat kearahku. Aku terus mundur kebelakang. Auman menyeramkan dari mulut makhluk itu benar-benar menghentikan segenap keberanianku. Pasrah rasanya. "Tolong! tolong!" teriakku. Berharap Mario atau siapapun yang mendegar teriakku akan memberikan pertolongan, atau jangan-jangan mereka juga telah mengalami nasib yang sama dengan kami.Keduanya juga terus meringsek memojokkanku. Aku menoleh kebelakang, dibelakangku sudah tebing curam. Aku benar-benar terpojok sekarang.
Pikirkanku kalap dan tidak dapat menentukan pilihanku. Aku tarik pelatuk senapanku.

Dor! Dor!

Beberapa kali aku memuncratkan amunisi kearah makhluk yang tadi menghabisi Dani. Bertepatan dengan keduanya menyerang dengan kalap kearahku, aku melompat ke arah tebing. Ahhhhhhhhh! teriakku kencang ketika badanku melayang diudara, sedetik kemudian hempasan keras tubuhku ditanah bebatuan membuat kepalaku sedemikian pusing, gelap, dan gelap. Lalu semuanya berubah menjadi hitam.


Bersambung ke Pemburu part.2