Bagian 1 : Pertemuan

Angin laut sore itu berhembus kencang menebarkan hawa sedikit panas di kulit saat langkah gontai Satrio memasuki teras kafe di pinggir sungai.  Langkahnya seakan diiringi oleh daun-daun jambu kering yang juga ikut tertiup oleh angin. Cuaca panas seakan tidak terpengaruh oleh bulan kalender, karena di tempat ini rasanya hawa panas selalu ada. Itu yang membuatnya beberapa kali mengelap wajahnya dengan sapu tangan. Satrio mengenakan kemeja cokelat tua, bercelana jeans, dan bersepatu kets hitam sehingga keringat rasanya membuncah sedemikian cepat akibat pakaiannya yang berlawanan dengan udara panas sore itu. Kakinya melangkah menuju deretan kursi-kursi di kafe itu yang letaknya paling ujung dan menghadap ke arah laut. Dilepaskan kacamata hitamnya nya kemudian diletakkan di samping Ponsel yang ditaruh di atas meja kayu berwarna cokelat tua. Dia rebahkan badannya ke kursi sofa lalu menatap kearah laut sejenak. Pandangannya mengitari seisi kafe yang terlihat sederhana itu. Meja-mejanya terbuat dari kayu Meranti yang di cat berwarna hijau, sudah kusam warnanya. Sofanya berwarna seragam. Ada sekitar sepuluh kursi melingkar yang hanya ada terisi tiga oleh pengunjung. Di atas meja hanya ada dua benda yang terlihat, asbak yang terbuat dari kaca bening dan nomor meja yang terbuat dari kayu. Nomor mejanya adalah nomor 9. Kafe ini demikian minimalis, dinding bambunya dihiasi beberapa poster artis muda Indonesia, Boyband Korea dan beberapa poster yang berisi quote motivasi. Ada poster artis drama Korea juga yang terpampang, namun yang menarik perhatiannya adalah poster Adolf Hitler dan Che Guevara. Entah apa maksud si pemilik menyelipkan poster dua tokoh dunia tersebut diantara gambar artis, quote, dan boyband Korea.
Kursinya terbuat dari sofa empuk. Cukup nyaman. Baru beberapa menit dia menikmati empuknya soda, seorang wanita muda berseragam merah dengan rambutnya yang dicat sedikit blonde menghampirinya sambil menyodorkan buku menu. Waitress kafe itu. Satrio tersenyum dan menerimanya.
“ Menunya bang,” Kata wanita itu.
“ Terima Kasih mbak,” Jawabnya.
Wanita muda itu tersenyum dan agak mengkeryitkan dahinya saat dipanggil Mbak oleh lelaki itu. Sebuah panggilan yang tidak biasa didengarnya, dia sepertinya menduga kalau lelaki itu adalah orang Jawa atau bukan berasal dari daerah ini, karena panggilan Mbak biasanya memang akrab bagi orang Jawa atau orang-orang yang tinggal didaerah hulu yang biasanya memang bukan asli Melayu atau Banjar. Mungkin bagi wanita muda itu panggilan mbak hanya didengarnya dua atau tiga kali selama kerja di kafe itu. Agak sedikit aneh memang. Diamatinya sosok lelaki muda berpakaian rapi itu dan akhirnya dia berhasil menyimpulkan bahwa laki-laki itu jelas berasal dari daerah lain.
“ Saya pesan nasi goreng, juice buah naga, sama air putih.” Katanya sambil membolak-balik lembar kertas menu. “ Nasi gorengnya pedas.”
“ Maaf bang, juice buah naga tidak tersedia,” Ujar si waitress.
“ Habis?” 
“ Memang belum ada bang.” 
Aneh sekali. Tidak ada barangnya tapi ditulis di menu. Satrio tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya.” Ya sudah mbak, Es teh manis dengan air putih diberi es batu saja ya.” Lanjutnya.
“ Baik, ditunggu ya.” Jawab si waitress sambil mengambil buku menu dan berlalu menuju ke belakang, meninggalkan lelaki tampan itu sendiri.
Satrio kembali menyandarkan badannya di sofa panjang, diambil Ponselnya namun kemudian diletakkan kembali. Pandangannya melayang jauh ke lepas sungai di seberangnya. Sungai Indragiri berwarna cokelat muda dengan riak gelombangnya yang tidak terlalu besar itu membuat pemandangan dari kafe tersebut begitu indah. Kali pertama dia mengijakkan kaki di kafe ini. Tadi dia sempat melihat nama yang terpampang di atas pintu masuk, “ Kafe Aulia Tembilahan ”, demikian namanya. Nama yang sangat Indonesia, karena kalau menurut gaya penulisan yang menarik harusnya nama dulu baru tempatnya seperti “ Aulia Kafe “, tapi mungkin demi mudah diingat jadinya nama yang digunakan sipemilik kafe menyesuaikan dengan kondisi didaerahnya. Diperhatikan lagi sekililingnya, di bagian kiri ada sepasang muda mudi remaja tengah duduk bercengkrama, sementara kursi lainnya ada sepasang yang lain juga tengah menikmati suasana kafe, dari gelagatnya sepertinya keduanya pasangan yang sudah menikah atau baru menikah, beberapa sentuhan tangan si pria memperlihatkan sisi romantisme mereka. Satrio hanya menahan tersenyum saat melihat diam-diam kedua pasangan itu saling menggengam tangan, seolah-olah dunia ini milik mereka berdua. Tak sadarkah mereka ada seorang lelaki yang duduk sendirian dan tengah memperhatikan?
Ponselnya berdering, ada pesan masuk.
Ponsel terus bergetar diatas meja dan sesaat diambilnya, membaca pesan kemudian membalasnya lalu kembali meletakkan ke meja. Tak berapa lama si waitress cantik kembali datang sambil membawa air putih dan Es teh pesanannya. “Airnya bang,” Ujarnya sambil tersenyum. Waitress itu melemparkan senyum kearahnya. Wajahnya manis dan oriental, ada kumis tipis diatas bibirnya yang menambah kesan manis si waitress itu. Sepintas Satrio menangkap nama si waitress itu, tertulis jelas di dada sebelah kanannya “ Nella”. 
“ Terima kasih. Namanya Nella ya, namanya bagus,”
Si Waitress mendelik, sesaat kemudian dia tersenyum. “Sama-sama”.
Tak peduli dengan tatapan aneh dari si Waitress, Satrio kembali menyandarkan badannya. Tangannya memberi kode agar si Waitress berlalu. Pandangannya lebih tertarik pada hamparan laut berwarna kecoklatan di depannya. Benar-benar pemandangan yang indah untuk dinikmati, di depan sana seakan sebuah lukisan alam yang membuat lelaki itu merasa bahwa tidak ada satupun yang boleh mengganggunya menikmati suasana.

Brummm brummm!
Hampir sepuluh menit berlalu kemudian lamat-lamat suara kendaraan motor terdengar mendekat, Satrio sontak menolehkan wajah. Tampak olehnya sepeda motor Scoopy tengah menuju kearah kafe. Pengendaranya adalah seorang wanita berpakaian muslimah, motor itu segera saja terparkir tepat disamping motor Kawasaki Ninja berwarna hijau. Pengendaranya melepaskan helm dan segera memasuki teras kafe. Seorang wanita cantik berpakaian hitam dengan rok panjang, jilbabnya adalah surban hitam putih yang dibalik, menyandang tas berwarna biru muda. Langkahnya pelan karena menggunakan sepatu highheels yang memang harus sedikit hati-hati saat melangkah, terlebih lantai kafe tersebut ada beberapa yang berlubang dan kalau tidak hati-hati maka bisa saja tersandung. Wajah wanita itu demikian cantik dengan senyumnya yang begitu manis. Badannya cukup semampai. Kehadirannya menarik perhatian semua orang di kafe tersebut, termasuk dua pasangan yang tengah bercengkrama. Telihat si wanita sedikit cemberut saat melihat pasangannya menoleh dan mengikuti jalannya si gadis dengan tatapan matanya.
Si wanita cantik itu berjalan menuju ke sudut kafe tempat dimana Satrio duduk. Satrio berdiri melambaikan tangan menyambut kehadirannya. Lelaki itu terlihat sekali matanya berbinar, serasa ada ribuan bunga melati dan mawar jatuh menimpa kepalanya disertai lantuan instrumental Sebastian Bach yang seirama dengan setiap langkah wanita cantik itu.
“ Mas Satrio?” 
Sedetik rasanya dunia ini berhenti berputar saat wanita itu bersuara memanggil namanya. Suaranya begitu lembut, syahdu, nyaris menggetarkan seisi tubuhnya.  Seperti ada sentuhan gelombang resonansi menembus telinganya dan mengaduk-aduk hatinya. 
“ Dania?” Tanpa sadar dia malah melempar pertanyaan balik.
“ Betul mas.” Jawab wanita cantik itu.
“ Mari, silahkan duduk,” 
“ Terima kasih mas,”
Wanita cantik itu duduk tepat di hadapannya. Belum sedetikpun Satrio menatap matanya, rasanya ada tarikan gravitasi bumi yang memaksa wajahnya terus menunduk tak mampu menatap mata si wanita cantik itu.
“ Mas sudah lama?” 
“ Kalau sampai Tembilahan sudah dari pagi tadi, di kafe ini baru sekitar 10 menitan sebelum Dania datang.” Jawabnya.
“ Ohh, okey. Mas sudah pesan?”
“ Sudah. Monggo Dania pesan saja,”
“ Tunggu sebentar ya mas, Dania pesan minum dulu.” 
Satrio menunjuk ke arah meja kasir ada di bagian depan, agak sedikit tinggi dengan ornamen ala melayu di setiap sudutnya, terbuat dari kayu Meranti yang sudah di cat berwarna hijau. Si wanita cantik bernama Dania itu kembali beranjak dan menuju kedepan, ke meja kasih kasir dan menemui si waitress tadi. Keduanya berbincang sebentar, sepertinya cukup akrab karena terlihat ada tawa dan gurauan yang terdengar. Mungkin ini adalah kafe langganannya, alasan yang tepat juga kenapa kafe ini yang direkomendasikannya. Betul, si gadis cantik itu yang memberi alamat kafe ini padanya. Satrio yang baru pertama kali mengijakkan kaki di kafe ini cukup mengakui pilihan gadis itu. Suasananya indah sekali. Semenit berlalu, si gadis cantik itu kembali menemuinya.
“ Bagaimana Tembilahan mas? Pasti lebih panas dari Jogja ya?” Tanyanya si gadis cantik begitu sampai di kursinya.
“ Aku pikir perbedaannya hanya sedikit. Di Jogja juga tidak kalah panas, belakangan malah demikian gerah. Kalau Tembilahan, sepertinya sudah dari dahulu terkenal panas, alasannya karena daerah ini memang daerah yang dekat dengan laut makanya hawanya lebih panas,” Jawabnya.
“ Lebih nyaman di Jogja ya?” 
“ Kalau itu adalah adalah pertanyaan yang susah dijawab.”
Gadis bernama Dania itu tersenyum. Lagi-lagi senyumnya benar-benar hampir membuat dada Satrio serasa diberi dorongan kuat yang membuatnya secara mendadak kesulitan bernafas. Tuhan, bidadari kah ini?
“ Pekanbaru lebih panas mas.” Lanjut Dania.
“ Lebih panas saat melihat kamu digandeng pria lain,” Goda Satrio.
“ Mamas ini!” Dania mendelik , kemudian kembali tersenyum manis.
“ Maaf, hehe.” Dania terdiam sejenak dengan tawa Satrio.
Perahu tongkang berwarna biru yang melintas seakan mengalihkan pemandangan Dania, sesaat dia menoleh kearah laut lepas, memperhatikan tongkang berwarna biru itu melintas. Tampak jaring-jaring penangkap ikan di sisi kirinya, beberapa pemuda yang hanya mengenakan singlet tampak berdiri dipinggiran tongkang. Jelas mereka adalah para penangkap ikan, kehadiran tongkang itu seakan menjadi objek tersendiri bagi lautan yang nyaris seolah tanpa batas itu. Memang, sungguh indahnya pemandangan laut seperti ini. Meskipun pemandangan ini sering dilihatnya, namun tidak ada bosannya akan semua ini. Lamunan sebentarnya buyar seketika saat si waitress membawakan pesanan mereka berdua. 
“ Terima kasih mbak.” Kata Satrio pada waitress itu.
“ Makanan kesukaan ya mamas? Nasi goreng?” Tanya Dania.
Satrio tersenyum. Tentu saja Dania tahu tentang makanan kesukaan itu, karena seorang Satrio Syahbana Rais pasti akan selalu ember tentang kegemarannya.
“ Mau mencoba?” Satrio menyodorkan sesendok nasi goreng.
Dania tidak dapat menolak. Dilahapnya juga nasi goreng itu, benar seperti yang terlintas dibenaknya kalau nasi gorengnya itu pasti pedas. Diraihnya gelas berisi juice alpukat miliknya, ditegak isinya.
“ Sedetik yang lalu Dania menebak kalau nasi goreng ini pasti pedas, dan ternyata dugaan Dania benar. Mamas ini, bukankah tidak boleh memakan masakan yang pedas ya?” Dania mendelik kesekian kalinya.
“ Hanya sekedar mencoba, seberapa pedas nasi goreng Tembilahan. Kalau di Jogja pedasnya ada level dan ada manisnya, ternyata disini pedasnya bisa dua kali lipat. Ini pedas sekali.” Jawab Satrio.
“ Jangan dihabiskan mas, kasihan perutnya.”
“ Dirimu perhatian perhatian juga.” Satrio terus berbicara tanpa menoleh sedikitpun. “ Padahal kalau di Whatsapp tidak begitu.”
Dania terdiam. “ Lagi kesambet.” Jawabnya, Sedikit ada rona merah dipipinya. Daniatnya hanya berbasa-basi tenyata berujung pada tanggapan yang membuatnya mati kutu. Berulang kali ditatapnya lelaki dihadapannya itu. Penampilannya sederhana tidak ada kesan keangkuhan yang diperlihatkan. Kemeja cokelat tua, jam tangan yang tidak mahal, sepatu kets ala anak muda, dan Ponsel kelas menengah, bicaranya sopan dan santun luar biasa. Mungkin inilah hasil dari sekolah di kota pelajar sehingga tidak hanya pendidikan saja yang didapat, namun juga tatakrama dan kesederhanaan.


Baca juga Cerita Pendek: Negeri Sembilan

Sekitar empat tahun yang lalu dia mengenal sosok Satrio Syahbana Rais, seorang lulusan Magister Pendidikan yang manis dan pembawaannya selalu menyenangkan itu melalui jejaring sosial Facebook. Entah bagaimana ceritanya hingga akhirnya dia bisa demikian dekat dengan Satrio. Satrio yang perhatian memang kerap mengisi hari-harinya, bahkan yang diketahuinya adalah Satrio memiliki perasaan padanya. Satrio menyimpan fhotonya, menggunakan fhotonya di Ponsel bahkan dicetak. Satrio juga yang selalu menuliskan lagu untuknya. Tidak banyak yang diketahui dari sosok Satrio, hanya sedikit pengetahuannya tentang lelaki itu, dan entah kenapa di pertemuan pertamanya ini rasanya cukup membuat hatinya berkecamuk. Tanpa seorangpun yang tahu, sebelum berangkat dia sudah berganti baju sebanyak tiga kali agar dirinya terlihat menarik dan tidak mengecewakan lelaki yang diketahuinya begitu menaruh hati padanya itu.
“ Bunda apa kabarnya Dania?” 
“ Hah?” Dania tersentak kaget.
“ Bunda apa kabar?” Satrio mengulangi pertanyaannya.
“ Bunda sehat mas. Beliau sekarang selain mengajar seperti biasa, beliau juga tengah suka belajar memasak masakan Italia.”
“ Menarik. Sejak kapan bunda suka dengan Italia?”
“ Mungkin sejak Telenovela kembali tayang di televisi lagi mas, hehe.”
“ Dania tidak ikut membuat masakan Jepang?” 
“ Dania lebih suka masakan Padang saja mas.”. “ Ah yaa!”
Sesaat Satrio tersadar sejenak kalau Dania adalah gadis keturunan Minang dan juga Banjar. Konon, berdasarkan pengetahuannya, gadis Minang sangat susah disunting menjadi istri karena sistem adat mereka yang masih kental. Sementara dirinya adalah keturunan Jawa, dan sangat jarang orang Jawa yang memiliki istri dari keturunan Minang. Tapi hatinya sudah sedemikian terpaku akan perasaannya terhadap gadis cantik itu.
“ Dania mau coba nasi gorengnya lagi?” Tanya Satrio.
“ Boleh lah mas.”
“ Mau mas pesankan?”
“ Dania minum saja mas. Tadi sudah makan dirumah.”
“ Mari di coba lagi, enak nasi gorengnya.” Satrio menyodorkan sendok kedua yang langsung disambut dengan lahapnya oleh Dania. “Lumayan.”
Satu hal lagi yang Satrio tersenyum. Ini adalah pertemuan pertama dengan gadis yang selama emapat tahun ini sudah berhasil merebut hatinya. Alasannya mengapa akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan menemui Dania. Gadis itu lebih cantik dan lebih anggun dibanding fhoto yang selama ini dimilikinya. Gadis itu tidak hanya cantik, namun juga semampai bak model. Dania lebih tinggi beberapa senti dari dirinya, namun Satrio tidak merasakan minder sama sekali, karena baginya fisik juga akan dikalahkan oleh kenyamanan. Entah Mungkin gadis itu yang minder. Di menit ke tiga puluh sejak pertemuan tadi, Satrio sudah berani memandangi wajahnya, beberapa saat mata keduanya bertemu. Bagi Satrio, melihat gadis yang dikasihinya itu melahap suapan darinya adalah hal terindah selama dia mengenal gadis itu. Dia melirik jam tangannya, waktu serasa berjalan cepat. Tanpa terasa mentari diufuk barat mulai beranjak turun menjemput malam. Pantulan cahaya mentari yang tak terhalang apapun itu membuat cahaya itu memberikan pantulan indah di wajah Dania. Sungguh alam memberkati pertemuannya dengan gadis yang selalu diimpikannya itu.
“ Mamas kenapa?” 
Dania menatap kearah Satrio dengan tatapan indahnya.
“ Tidak ada apa-apa, hanya sedang mensyukuri hidup, akhirnya aku menemukan sosok Dania yang selama hanya berupa mimpi di angan-angan.”
“ Sekarang masih seperti mimpi?”
Angin senja menerpa wajah Satrio dan menyejukkan wajahnya beberapa saat. Seperti ada kipas alam yang menghembuskan angin sejuk menghapus keringatnya yang semenjak tadi terus mengucur deras.
“ Kamu mau tahu seperti apa rasanya?” Tanya Satrio.
“ Seperti apa mamas?” Dania kembali bertanya.
“ Ini seperti mas tengah berdiri diantara aurora yang dikelilingi oleh ribuan awan putih dan kicauan burung merdu, lalu kamu datang membawa angin sepoi-sepoi. Saat itulah mas merasa bahwa ini adalah hal terindah yang pernah mas tahu selama hidup. Dania cantik sekali.”
“ Mamas kadang suka berlebihan.” 
Dania tersipu dan merona merah pipinya untuk kesekian kalinya. Tidak heran mendengar kata-kata seperti itu dari lelaki dihapannya itu, sudah terlalu sering Satrio menggodanya dengan menyebutnya cantik, mengirimi kata-kata puitis, dan diakuinya dia kerap melayang bila disanjung olehnya. Namun, sisi wanitanya selalu menutupinya dengan penyangkalan, meskipun dia tahu kalau lelaki itu begitu tulus dan jujur akan setiap perkataannya.
“ Dania itu lebih jahat dari yang mamas bayangkan.” Kata Dania.
Satrio mengangkat alis matanya, “ Ohya?”
“ Iya, tanya saja sama bunda kalau nanti ketemu mas.”
“ Bunda ada dirumah?”
“ Mamas mau kerumah Dania?, tapi bunda sedang senam mas.”
“ Inginnya seperti itu. Tapi sepertinya sudah terlalu sore, lagipula bundamu tidak ada dirumah. Bagaimana kalau besok siang mamas jemput kerumah, lalu kita jalan, dan nanti mamas akan singgah untuk ketemu dengan bundamu?” 
Dania tersenyum.” Begitu juga boleh mas, terus malam ini mamas menginap dimana? Tidak mungkin khan pulang kerumah?”.
“ Mas sudah pesan homestay didekat masjid besar sampai tiga hari kedepan. Jadi tidak usah khawatir mas akan tinggal dimana.”
“ Buang-buang uang mas.”
“ I dont care about money, yang terpenting sekarang mas bisa ketemu kamu, dan ini adalah hal yang selalu mas nantikan selama ini. Demi kamu.”
“ Terima kasih mas.”
“ Kita pulang?, sebentar lagi adzan Maghrib.”
Dania mengangguk. Dia bangkit. Satrio mengikuti berdiri, keduanya segera kembali menemui kasir didepan. Kedua pasangan yang tadi masih beromantis ria belum juga pergi, pengunjung kafe juga bertambah dua. Mereka semua memandang nyaris tak berkedip kearah Satrio dan Dania. Mungkin mereka mengagumi kecantikan Dania atau merasa aneh melihat Dania berduaan dengan lelaki yang lebih pendek tiga senti meter dari dirinya itu. Satrio sebenarnya cukup minder, Dania memang lebih tinggi, ditambah dengan highheelsnya. Untung saja sifat percaya dirinya cukup tinggi jadi dia lebih acuh dengan respon disekitarnya.
“ Biar mas saja yang bayar.” Kata Satrio begitu melihat Dania mengeluarkan dompet dari tas birunya. Tas itu Satrio begitu mengenalnya, Tas itu yang pernah dibelikannya lalu dikirim lewat pos untuk Dania. Beberapa waktu yang lalu.
“ Mamas yang bayar?”
“ Iyaa.” Satrio meyakinkan Dania dengan mengeluarkan selembaran uang seratus ribuan dari dompet kulitnya. Disodorkan kepada Dania.
“ Terima kasih mas.” Ucapnya singkat.
Satrio tersenyum dan mengangguk pelan. Meskipun dalam hatinya cukup terkaget dengan sejumlah uang yang harus dibayarkan. Rasanya harganya cukup mahal. Mungkin dua kali lipat dengan harga makan di Jogja.
Keduanya menuju parkiran dan segera melajukan kendaraannya melintasi jalanan yang cukup ramai. Jam pulang kerja. Meskipun tidak se ramai di Jogja, namun kota Tembilahan sebagai ibukota Kabupaten terbilang sangat ramai. Hampir Maghrib dan jalanan masih dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan yang rata-rata adalah kendaraan bermotor roda dua. Jalanan yang dilintasi cukup mulus, hanya ada beberapa lubang yang ditemui. Satrio melajukan motornya mengikuti Scoopy yang dikendarai Dania, melewati jalanan ramai, dan lalu masuk ke gang yang lebih sempit, seperti jalanan kompleks perumahan. Satrio baru pertama kali melewati jalanan ini namun dia cukup tahu nama jalannya, karena sudah tiga atau emapat kali dia mengirim oleh-oleh untuk Dania melalui pos. Hampir sepuluh menit dari kafe, keduanya sudah sampai dirumah berwarna hijau dengan berpagar putih. Rumah Dania. Terlihat sepi seperti tidak ada kehidupan, hanya ada mobil Avanza dan honda Beat yang terparkir didepan rumah.
“ Mas, ini rumahku, mau singgah?” Dania bertanya.
“ Besok mas kesini jam 2. Mas akan hapalkan jalannya.”
“ Ya sudah, sampai ketemu besok mas. Hati-hati ya.”
“ Okay. Terima kasih ya sudah datang sore ini.”
Beberapa tetangga Dania yang melintas dengan rumah menyapa Satrio dengan anggukan kepala dan salam sebelum akhirnya Satrio kembali melanjutkan laju motornya. Sesaat dilihatnya Dania tengah memarkirkan motor Scoopynya disebelah motor Beat berwarna hitam. Tanpa menoleh kearahnya sedikitpun. Satrio menarik nafas panjang. Pertemuan pertama berlangsung biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Padahal sejak semalam dia sudah menyiapkan banyak kata-kata yang akan dikatakannya, namun entah mengapa pertemuan ini terasa begitu singkat namun terasa akrab tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Bagi Satrio, hal paling menarik adalah pakaian yang dikenakan Dania sore ini. Jilbabnya adalah surban yang pernah dikasihkan olehnya dulu yang dikirim lewat pos bersama dengan batik sarimbit sebagai tanda sukanya. Begitu juga dengan tas yang dikenakan Dania sore ini. Satrio hanya bisa menduga-duga apa yang ada dipikiran gadis itu, namun apapun itu dia adalah gadis baik yang terlihat tidak ingin membuat dirinya kecewa yang sudah jauh-jauh datang hanya untuk bertemu. Semoga saja apa yang ada dipikirannya tidak salah.
***


Kota Tembilahan di malam hari sungguh mengagumkan. Bila pertama kali mengijakkan kaki disini pasti kesan tanah Melayu akan terasa cukup kental. Bangunan-bangunan pemerintahan masih sangat begitu terasa memasukan unsur melayu didalamnya. Bangunan melayu terkenal dengan ciri khasnya yang rata-rata sama yaitu bangunan dengan warna kuning emas mendominasi, dua kayu melintang diatas dan sudut-sudut atapnya, dilengkapi dengan ornamen-ornamen bunga ataupun tumbuh-tumbuhan. Warna kuningnya merupakan simbol kebesaran dan kejayaan. Hampir semua daerah di Provinsi Riau ini menadopsi bentuk bangunan yang serupa. Bangunan dengan bentuk dan ciri khas yang sama juga terlihat didaerah-daerah lain yang memang masih mengkaitkan culture Melayu sebagai identitasnya. Riau dan culture melayu seperti sebuah kesatuan. Dulunya ada sejarah besar yang mengkaitkannya antara Riau dengan kesultanan di Johor Malaysia sana. Kerajaan Siak Sri Indrapura yang sampai sekarang masih kokoh berdiri menjadi saksinya betapa dulu di tanah Melayu ini pernah masyhur hingga ke negeri-negeri tetangga. Ikatan sejarah yang menjadi pengikatnya, sampai dengan saat ini.
Budaya Melayu jelas adalah kekayaan bangsa. Bahasa Melayu bahkan menjadi bahasa asal dari bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Budayanya yang arif, membawa nilai-nilai luhur dan selalu dekat dengan konteks religius menjadi sebuah pola yang layak dikagumi. Siapa yang tidak kenal dengan Gurindam Dua Belas, kisah Hang Tuah yang perkasa, ataupun tentang Tunjuk Ajar Melayu yang begitu masyur itu. Orang melayu memang terkenal pandai bersyair dan bersajak. Ungkapan adalah seni paling menonjol. Ungkapan yang memadukan antara pilihan kata dan menyelipkan makna menjadi cara untuk memberi wejangan-wejangan. Tunjuk Ajar Melayu yang berisi nasihat-nasihat misalnya, didalamnya mencakup banyak ajaran nasihat yang meliputi hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari agama, ketaatan pada orang tua, sikap yang baik, sampe amanah saat berada di berbagai lingkungan. Ungkapan-ungkapan yang menjadi Tunjuk Ajar itu membimbing agar semua yang mendengar dan membacanya menjadi lebih baik. Misalnya :

Bila hidup bertanam budi ,pantang disebut diungkit lagi
Bila sudah termakan budi, lidah patah duduk menepi

Sungguh sebuah ungkapan yang layak untuk dikagumi.
Sementara masuknya modernisasi menambahkan rasa yang baru di kota ini. Ladang bisnis mulai terlihat. Ibukota Kabupaten Indragiri Hilir yang terletak di pinggir sungai Indragiri ini memang menjadi salah satu daerah perdagangan semenjak dahulu. Kota Tembilahan seperti sebuah jantung dari perdagangan dan pelabuhan dagang. Kota Tembilahan terletak diantara Tanah Merah, Batang Tuaka, Kuala Enok, dan Indragiri Hulu. Meskipun jaraknya cukup jauh ibukota Provinsi Riau dan kota Tembilahan terbilang berada disudut, namun untuk  arus perdagangannya cukup penting. Tembilahan dulunya memang terbilang sepi karena akses infrastruktur jalannya yang tidak memadai, berbanding terbalik dengan Indragiri bagian hulu yang jalannya lebih baik, mungkin itu yang membuat pertumbuhan perekonomiannya juga sedikit lambat. Namun seiring waktu berjalan, perkembangannya mulai terasa. Di Tembilahan sudah berdiri banyak usaha-usaha pendongkrak perekonomian, ruko jangan ditanya karena hampir 80% nya bangunan mendominasinya adalah ruko. Bukti bahwa perdagangan menjadi faktor cukup mengambil peranan di kota ini. Tidak hanya ruko, bangunan semi modern yang mulai bermunculan seperti hotel dan kafe menjamur. Meskipun belum jor-jor an membangun seperti kota-kota Kabupaten di Jawa, namun sudah sangat baik dari segi pertumbuhannya. Dibeberapa titik kafe menjadi tempat favorit baru bagi remaja-remaja di kota ini. Konsep modern dan menarik menjadi daya saingnya. Beberapa diantaranya memamfaatkan geografis kota Tembilahan sebagai faktor pendongkrak daya saing yaitu dengan membangun kafe yang berdekatan dengan laut agar sisi mengesankan dari laut menjadi objek menariknya. Pasarnya tradisionalnya juga menarik, pasar Apung misalnya, dari namanya saja sudah begitu jelas seperti apa gambarannya. Sementara hotelnya juga rata-rata dengan standar yang sama, misalnya hotel Dubest, Harmoni, dan Top 5. Ketiganya cukup dikenal disini.
Malam ini Satrio sengaja memilih homestay di Penginapan Batuah, sebuah penginapan kelas menengah yang berada didekat masjid besar di kota Tembilahan. Selain biaya sewanya terbilang cukup murah, aksesnya juga cukup baik bila ingin berpergian. Kota Tembilahan tidak terlalu besar, jalannya juga tidak banyak gang seperti di Jogja atau sebagaian besar daerah di Jawa, namun karena Satrio kerap lupa jalan makanya dia memilih penginapan yang mudah diingat, yaitu didekat masjid, sehingga kalau lupa maka akan mudah ditemukan bila bertanya lokasi terdekatnya. Penginapannya terbilang biasa, kalau di Jogja mungkin bisa disamakan dengan hotel kecil dipinggiran kota. Tadi dia sempat berkeliling di penginapan. Ada sekitar tujuh sampai sepuluh kamar, dan yang terisi hanya sekitar tiga menurut resepsionisnya. Kamarnya tidak terlalu luas, mungkin berukuran 4x5 meter dan didalamnya hanya ada satu ranjang, satu meja kecil, kipas angin, dan televisi. Kamar mandinya didalam, cukup bersih, meskipun belum ada sentuhan kamar mandi modern. Cukup nyaman. Tidak ada breakfast, jadi kalau mau sarapan atau saat kelaparan maka harus keluar penginapan untuk membeli makan diluar yang harganya cukup mengagetkan. Hampir mengagetkan seperti menu di kafe tadi, makanan disini memang kalau untuk harga bisa dua kali lipat dari di Jogja, dengan ingredientnya  yang tidak jauh berbeda. Meski begitu, rasanya cukup wajar karena UMR nya juga konon lebih tinggi dibanding Jogja. Bagi Satrio, masih dalam batas kewajaran kalau soal harga.  Sebagai pemuda yang lahir dan besar di Sumatera tentu tidak heran dengan suasana seperti ini. Satrio kelahiran Kecamatan Keritang, sebuah Kecamatan di ujung Provinsi Riau, jaraknya sekitar 2,5 Jam dari kota Tembilahan ini. Jadi, kalau untuk bertemu dengan Dania, dia harus menempuh jarak sejauh itu, belum lagi kendala jalan rusak, kerikil, dan jalan berdebu yang ditempuh. Itu sebabnya demi bisa meghabiskan waktu bersama gadis tercintanya itu, Satrio sampai rela merogoh kantong sakunya untuk menyewa penginapan selama tiga hari.
Ini adalah pulang kampung yang tidak hanya sekedar liburan. Karena ini adalah pulang kampungnya setelah dua tahun lebih tidak pulang. Terakhir pulang dua tahun yang lalu, sampai dia selesai akan kewajibannya kuliah Magister, dia akhirnya pulang. Tidak ada waktu yang cukup untuk pulang dan berbagi keDaniaan, karena sebulan kemudian Satrio akan kembali berangkat ke Pekanbaru memenuhi panggilan kerja sebagai staff pengajar di sebuah Universitas negeri di Pekanbaru, sebuah kesempatan yang tidak boleh di sia-siakannya. Menjadi dosen adalah impiannya. Dirinya memang sempat gundah memilih, apakah dia akan kembali saja bekerja sebagai guru dan menemani ibunya yang sendirian dirumah atau menerima tawaran mengajar di perguruan tinggi yang akan begitu penting untuk karirnya. Dia belum memutuskan mana yang akan dipilih, satu-satunya hal penting yang harus dia selesaikan saat ini adalah menemui Dania, gadis yang selama ini sudah hadir di kehidupannya dan memberikan banyak keajaiban besar yang tak terkira baginya, dan itulah alasannya kenapa sekarang dia sampai di kota Tembilahan ini. Di penginapan ini. Demi Dania.
***




Bagian 2 : Jembatan Cinta

“Assalamualaikum!”
“ Assalamualaikum!”
Berulang kali mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah seakan tidak ada tanda-tanda di sahut membuat Satrio nyaris putus asa dan menyerah dan pergi saja dari rumah Dania. Teleponnya juga tidak di jawab. Hampir saja dirinya berfikiran yang tidak-tidak. Berulang kali dia kembali mengucapkan salam, sampai akhirnya terdengar seret langkah mendekati dan sahutan dari dalam. Jam ditangannya menunjukkan pukul 15.00. Mungkinkah semua penghuni rumah ini sedang tidur siang?
Tak lama kemudia suara berat seorang wanita yang sepertinya berumur menyahut salamnya. Sesaat muncullah wajah yang Satrio kenal. Wanita yang kerap dipanggil dengan sebutan bunda oleh Dania itu muncul dihadapannya. Ibu berwajah cantik itu mengenakan daster dengan rambut panjang yang disisir kebelakang. Daster batik bergambar bunga dan bangau berwarna merah muda. Tampak ada bekas-bekas make up tebal di wajahnya. Meskipun baru pertama bertemu, tapi Satrio sudah mengenal dari fhoto-fhotonya Dania. Dania memang kerap mengunggah fhoto bersama keluarga, terutama bersama dengan ibunya itu.  Satrio menyalami dan mencium tangan wanita itu dengan perasaan sedikit gugup. Wanita itu mengangkat alisnya seolah dia mengenal Satrio namun bertanya-tanya dalam hati siapa Satrio.
“ Cari siapa, dek?” Tanya wanita itu.
“ Dania ada bu?” Jawab Satrio dengan kembali melemparkan tanya.
“ Dania sedang mandi. Adek darimana kalau boleh tahu?”
“ Ehmm, saya Satrio. Saya baru datang dari Jogja.”
“ Jogja?” Wanita itu mengkeryitkan dahinya.
“ Betul. Jogja. Saya,...”
“ Sepertinya saya ingat siapa kamu. Mari silahkan masuk, tunggu didalam saja ya,  Dania sedang mandi.”
“ Baik bu, terima kasih.”
Sedikit tergugup Satrio mengikutinya kedalam rumah. Duduk di sofa berwarna merah tua. Rumahnya bersih dan nyaris tidak ada kotoran sama sekali. Dinding kamarnya hanya ada fhoto berbingkai, beberapa fhoto wisuda dan fhoto keluarga, ada juga fhoto adik-adiknya Dania, Dania memang sempat menceritakan tentang kehidupan keluarganya. Bila melihat dari fhoto-fhotonya tersebut, sangat terlihat bahwa mereka adalah keluarga bahagia. Ruang tamunya cukup besar, sofa berwarna merah dengan meja kaca berwarna hitam ada ditengah-tengahnya, didepan sana ada televisi ayar datar berukuran besar, sekitar 29 Inch lah, ber merk terkenal. Televisi itu diletakkan diatas meja kecil yang juga bagian depannya terbuat dari kaca, di dalamnya ada beberapa koleksi piring dan gelas berwarna emas ditingkat teratas, ditingkat paling bawah adalah cangkir dan teko berwarna perak lengkap dengan tataan gelasnya. Ada fhoto yang di bingkai kayu yang bersandar di tekonya, dua anak perempuan kecil yang saling memeluk, Satrio menebak kalau itu adalah kedua adiknya Dania.
“ Satrio mau minum apa?” 
“ Saya minumnya air putih saja bu.” Jawabnya.
“ Tunggu sebentar ya.” Jawab wanita itu sambil berlalu meninggalkan Satrio yang seperti orang hilang. Tak lama kemudian wanita itu muncul lagi membawa segelas air putih dan toples berisi makanan. “ Silahkan.” Katanya.
Seketika diraihnya gelas berisi minuman itu, diteguk airnya hingga membasahi kerongkongannya yang seolah-olah mendadak mengering. Ini adalah situasi dimana dia seperti hendak bertemu dosen penguji saat bimbingan skripi. Wanita itu sangat mirip dengan Dania hanya saja dia lebih gemuk sementara Dania terbilang cukup sintal. Dania pernah cerita kalau ibundanya ketika muda memang mirip dengan Dania, namun kalau soal fisik, ibundanya lebih sama dengan kakaknya, Dini. Walaupun begitu, Ali mengakui bahwa ibu-ibu yang ada didepannya saat itu masih terlihat cantik dengan usianya dan anaknya yang sudah empat, tapi sisa kecantikan semasa mudanya masih terlihat jelas diwajahnya. Terlihat ada gambaran wajah tulus, bijaksana, dan sorot mata indah yang terpancar. Dania juga pernah bilang kalau ibunya adalah seorang guru, terlihat dari setiap perkataan dan gaya berbicaranya.
“ Satrio kapan pulang dari Jogja?” 
“ Saya pulang seminggu yang lalu bu, dan baru sempat kesini.”
“ Sudah selesai kuliahnya?” 
“ Alhamdulillah sudah bu, magister saya juga sudah.”
“ Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang bekerja dimana. Dania bilang Satrio kerja di travel gitu ya, atau masih kerja dikampus?” 
“ Sepertinya Dania sudah bercerita banyak. Masih sama seperti apa yang Dania ceritakan. Sekarang hanya sedang mencoba peruntungan lain.”
“ Bagus. Saya suka dengan anak muda yang punya tekad dan ambisi.”
“ Terima kasih bu. Kalau ibu bagaimana, sehat khan?”
“ Alhamdulillah sehat, cuma berat badan ini nambah terus.”
“Kalau itu sudah takdir bu. Everybody’s problem.” Jawabku.
Kami tertawa. Entah kenapa permasalahan berat badan selalu menjadi guyonan bagi sebagian orang. Jelas bahwa berat badan adalah masalah, yang membuatnya menjadi hal lucu adalah tingkah orang-orang yang kerap berbuat banyak untuk mengatasinya dan mereka selalu punya cerita menarik soal mengatasi berat badan. 
“ Tembilahan sepi ya?” Ibu itu terus menghujani pertanyaan.
“ Ramai kok bu. Saya baru jalan di pinggir-pinggir saja, belum ke daerah pasarnya sana. Seingat saya dulu ada pasar lesehan sepanjang jalan.”
“ Oh, masih ada kok, nanti kesana saja. Jangan lupa nanti mampir ke restoran Padang yang ada di selatan pasar, namanya Masakan Bundo, itu restoran adik saya. Harus mencoba ya.”
“ Dania tahu khan bu?”
“ Ya pasti tahu. Tempat bibinya kok.”
Satrio menepuk jidatnya sendiri. Rasanya tadi baru saja melempar pertanyaan konyol yang seakan membuat reputasinya menurun. Rasanya dia sudah kehilangan kata-kata untuk menyambung percakapan dengan wanita itu, bagaimanapun juga wanita itu adalah ibu dari orang yang dicintainya, ada fase dimana dia harus menjaga tata bahasa dan tingkahnya agar membuat wanita itu terkesan. Terlebih ini adalah pertemuan pertama. Satrio bahkan menangkap bagaimana perempuan itu terlihat beberapa kali begitu memperhatikannya. Mungkin sedang menilai dirinya berdasarkan sisi visualnya. Agak rikuh dengan atmosfer seperti ini, sementara Dania tidak segera muncul-muncul juga. Mandi selama itu kah?
“ Dania kalau mandi lama dek.” Kata wanita itu lagi. Sepertinya dia meraba kegelisahanku.
“ Tidak apa-apa bu, biasanya memang kalau perempuan mandi pasti tidak sebentar. “ Jawab Satrio.
“ Sepertinya begitu. Satrio ini pulang ke Tembilahan ada pekerjaan atau memang pulang karena rindu kampung halaman?”
“ Sebenarnya karena rindu kampung halaman bu. Kalau soal pekerjaan, sedang dalam proses. Doakan saja yang terbaik bu.”
“ Orangtua masih?”
“ Tinggal ibunda saja, kalau bapak sudah meninggal lama bu.”
Meskipun belum tahu kebenarannya tapi Satrio yakin kalau Dania sudah menceritakan banyak tentang dirinya kepada ibunya. Dia tahu betul bagaiamana dekatnya hubungan ibu dan anak itu. Dania orangnya terbuka. Jadi, Satrio hanya menebak saja kalau pertanyaan ibunya Dania hanya sekedar basa-basi saja. Satrio yakin kalau kedatangannya juga pasti sudah diberitahu oleh Dania sebelumnya.
Bersyukur rasanya ketika tak lama setelah itu Dania muncul dari dalam rumah. Dania sudah berdandan dan semakin cantik saja rasanya. Dia mengenakan jilbab bunga-bunga dan setelan sweater berwarna violet dan rok panjang sampai menyentuh mata kaki berwarna hitam. Penampilan yang begitu muslimah, rasanya berbanding terbalik dengan fhoto-fhoto Dania ketika masih sekolah dulu. Fhoto-fhoto yang menunjukkan Dania masih mengenakkan pakaian ketat dan celana jeans yang memperlihatkan bagaimana langsing kakinya. Fhoto itu masih ada dilaptop Satrio, dan Satrio enggan menghapusnya. Karena bagi Satrio dengan melihat fhoto-fhoto tersebut seakan membuatnya kembali di masa saat dia begitu menyukai sosok Dania diawal perkenalan.
“ Sudah lama menunggu Mas Satrio?” 
“ Belum selama saat Bandung Bondowoso membangun candi.”
Dania tertawa. Dia duduk disebelah ibunya. “ Bunda hari ini kemana?”
“ Bunda ada arisan dengan ibu dari Polsek. Dania tidak bisa ikut pasti hari ini, nanti bunda sama kakakmu saja.”
“ Dania ikut yang minggu depan saja ya bun, ibu Polsek itu ibu Rumana yang kemarin ikut senam dengan Dania bukan ya?
“ Betul, ibu Rumana yang itu.” Jawab si ibu.
“ Masih sering senam ya?” Satrio ikut bergabug dengan percakapan.
“ Masih dong mas. Senam itu media kami untuk membakar lemak.”
“ Kemarin terakhir waktu bunda senam rasanya malah pegal lho Nia, bukannya sehat bunda malah langsung urut.” Kata si Ibu lagi.
“ Waktu Nia pergi ke Batam itu ya bun?” Tanya Dania pada ibunya.
“ Iya itu.” 
Bak berada diantara dua orang yang bercengkrama tapi dirinya seolah-olah tidak memberikan tambahan obrolan membuat Satrio hanya ikut tertawa dengan percakapan kedua wanita itu. Rikuhnya memang sedikit berkurang, namun rasanya dirinya tidak memiliki bahan untuk ikut dalam perbincangan. Satrio tidak mau terlihat sok akrab, jadi dia hanya mengikuti saja sambil sesekali melemparkan senyum dan tawa dengan percakapan mereka. Obrolan mereka juga sudah merembet kemana-mana, mulai dari senam, tentang ibu-ibu kompleks, sampai dengan soal artis yang sedang ramai diperbincangkan di program entertainment di televisi. Dania baru tersadar saat Satrio batuk tersedak saat minum.
“ Mas Satrio tidak mau minum teh?”
“ Ini cukup kok. Lagipula kita juga akan pergi khan?”
Dania memandang kearah ibunya seakan meminta persetujuan.
“ Memang hari ini kita mau kemana mas?” Tanya Dania.
“ Haruskah aku beritahu sekarang?” Jawab Satrio sembari tersenyum.
Dania tersenyum. Laki-laki itu cukup pintar mengajaknya. Perempuan mana yang tidak akan penasaran bila diperlakukan seperti itu. Tidak ada alasan baginya untuk menolak pergi. Dania menatap ibunya sekali lagi. Si ibu juga seperti mengerti maksudnya.” Jangan malam-malam pulangnya.” Kata si ibu. Satrio yang melihatnya merasakan plong sendiri. Tidak dapat dipungkiri kalau dia juga ikut terbawa suasana untuk menunggu keputusan si ibu. Dania mengecup pipi ibunya kemudian bangkit sembari mengucapkan terima kasih. Ibunya sedikit kaget dicium tiba-tiba. Satrio yang melihatnya ikut tersenyum. “ Dania suka begitu. Manjanya tidak hilang-hilang.” Kata Ibu.
Sebuah tas kecil merk Gucci berwarna cokelat sudah ada di lengan Dania, terlihat gadis itu memasukkan dompet dan Ponselnya. Setelannya memang begitu anggun. Bak bidadari yang begitu indah dipandang. Wajah ayu dan balutan pakaian muslimahnya seakan menjadi cermin baik di dirinya. Jadi sangat wajar bila selama ini begitu banyak pria yang tertarik pada gadis itu, begitu banyak yang mendekati untuk memilikinya. Satrio adalah salah satunya. Enam tahun lebih dia menyukai gadis itu, dan belum ada jawaban iya atau tidak dari gadis itu, entah seperti apa pria yang diidamkan si gadis, yang pasti pasti akan beruntung memiliki bidadari itu.
“ Pergi kita mas?” Lagi-lagi Dania membuyarkan tidurnya Satrio.
“ Boleh. Sekarang ya.” Satrio bangkit dari duduknya dan menyalami ibunya Dania, tak lupa dia mencium tangannya. Sebenarnya bukan untuk menarik simpati, tapi karena sudah kebiasaannya melakukan hal tersebut pada orang yang lebih tua. Dania memperhatikan tingkah laki-laki itu.
“ Bun, Dania pergi dulu ya.” Dania meminta izin pada ibunya.
“ Hati-hati dijalan. Satrio, jangan lupa singgah di restoran yang tadi bunda ceritakan. Kalau sempat ya.” Kata si ibu yang disambut dengan anggukan dan kata Insya Allah dari Satrio.
***




Baca juga Novel Ratri Kembang Desa

Hampir enam tahun berkomunikasi lewat dunia maya dan aplikasi chatting dan sekarang bisa jalan bersama merupakan hal yang canggung bagi keduanya. Untungnya rasa rikuh itu bisa diatasi dengan guyonan kecil yang selalu terselip disetiap perbincangan. Bukan Satrio namanya kalau tidak bisa membuat suasana menjadi menyenangkan.  Berulang kali tertawa lepas dengan candaan yang dilemparkan oleh Satrio. Bagi Dania, Satrio berbeda hampir delapan puluh derajat dengan sosok Satrio yang selama ini dikenalnya. Sejauh yang diketahuinya Satrio justru sosok yang menyebalkan dan kerap seolah-olah minta perhatian. Satrio memang diakui menyukai dirinya, entah bagaimana bisa lelaki itu bisa jatuh cinta padahal belum pernah bertemu sekalipun dengannya, namun semua yang diperlihatkan padanya menjadi bukti bahwa lelaki itu tidak main-main. Satrio juga sosok yang sepertinya ingin selalu menunjukkan bahwa dia sibuk dan memiliki banyak kegiatan, bagi Dania itu adalah hal yang memalukan. Dania lebih menyukai sosok misterius yang lebih bertingkah apa adanya, namun untuk hari ini dia tidak bisa menolak ajakan Satrio. Itu yang masih menjadi pertanyaan yang bergejolak di kepalanya. 
Motor yang dikendarai Satrio terus melaju melewati jalanan. Dania tidak tahu kemana pemuda itu akan membawanya. Tak lama kemudian motor itu berhenti tepat didepan masjid besar. Satrio memakirkan motornya, setengah berbisik dia mengajak Dania turun. “ Shalat Ashar dulu.” Katanya. Dania mengikuti turun, dirinya juga belum shalat Ashar, tadi hendak shalat dirumah namun takut Satrio menunggu lama akhirnya dia memutuskan untuk menunda ibadah, namun ternyata Satrio malah mengajaknya shalat di masjid. Dilihatnya Satrio mengambil peci dari jok motornya kemudian menghilang dibalik kamar mandi. Dania segera saja mengambil wudhu dan melaksanakan ibadahnya. 
Selesai shalat Dania kembali kekamar mandi, menambahkan bedak untuk wajah cantiknya. Bedaknya memang luntur karena tadi dia berwudhu. Dipoleskan pelan di wajah cantiknya, dirapikan jilbabnya kemudian segera keluar dan menuju ke arah parkiran. Tidak ada Satrio terlihat disana, Dania menoleh kiri kanan, ternyata Satrio duduk di pintu selatan yang menghadap ke laut. Terlihat dia menyandarkan badannya di tiang besar peyangga masjid. Dania beranjak menghampirinya.
“ Mamas disini ternyata.” Kata Dania.
“ Tiga tahun yang lalu mas juga duduk disini, waktu itu ketika lebaran. Bersama keluarga. Kami kemalaman waktu hendak mengunjungi famili di Teluk Pinang. Waktu itu kami lebih dulu ke Pulau Palas diseberang Tembilahan, lalu kami menginap di Tembilahan dirumah saudara. Saat malam, kakakku mendapat kabar kalau salah seorang teman kami ketika sama-sama di Pulau Palas meninggal dunia. Itu sekitar tiga tahun yang lalu.”
“ Ohya, mas tidak pernah cerita. Meninggalnya di Tembilahan?”
“ Tidak. Dia meninggal begitu sampai dirumah. Sebelumnya memang dia memiliki penyakit, wajahnya sudah membiru, saat di Pulau Palas itu kebetulan dirinya sekaligus hendak berobat alternatif. Namun begitu pulang kerumah, ternyata umurnya hanya sampai disitu.” Kata Satrio pelan.
“ Semoga diterima amalnya mas. Kirim doa saja.”
“ Alhamdulillah sudah.”
Dipandanginya laut diseberang sana, deburan ombaknya tidak terlalu kencang meskipun anginnya bertiup cukup untuk menerbangkan daun-daun kering dibawah kakinya.
“ Tembilahan. Nama kota ini selalu saja menari di pikiranku, aku selalu ingin pulang dan sampai di kota ini. Tidak ada satupun kerinduan yang membuatku bergejolak menantikan saat ini. Hanya ada satu nama.” Kata Satrio.
“ Nama?” Dania menyahut pelan.
“ Dania Hanifah.” Jawab Satrio sambil menoleh kearahnya.
Sesaat mata mereka bertemu. Ada aliran listrik yang menyengat keduanya ketika kedua mata beradu dalam satu garis lurus pandangan. Dunia serasa kembali berhenti berputar. Detak jantung di dada menjadi tak beraturan. Senyum Dania dan rona pipinya menciptakan pemandangan yang begitu indahnya. 
“ Sepertinya aku kenal nama itu.” Kata Dania sambil tersenyum.
Satrio tertawa, kemudian dia duduk disamping Dania. Sedikit mengeloyor dan merebahkan dirinya ke tiang, diliriknya jarum jam ditangannya kemudian dia kembali menatap kearah langit. Awan-awan putih berlarian menghiasi langit yang biru cerah.
“ Setelah ini kita kemana mas?” Tanya Dania lagi.
“ Tidak tahu.  Aku khan bukan anak sini.” Jawab Satrio.
“ Kulineran, menikmati senja, atau akan disini sampai Maghrib?” 
“ Ah, menikmati senja. Dimana? Di atas jembatan?” Tanya Satrio.
“ Jembatan Rumbai? Jauh mas.” Jawab Dania.
“ Tidak sampai satu jam khan? Bolehlah kesana.” 
“ Serius?” Dania mendelik.
“ Keberatan?” Ganti Satrio yang mendelik.
“ Engg, tidak juga. Kalau mau kesana, kita berangat sekarang. Biasanya ramai, dan yang paling aku suka adalah jagung bakarnya. Semoga saja masih.”
“ Okay, mas tidak tahu sebenarnya mau kemana.  Kali ini hanya ingin menghabiskan waktu saja dengan Dania. Baiklah, sore ini kita melihat sunset di atas jembatan itu, lalu kita makan di restoran yang diceritakan bundamu, setelah itu kita akan jalan-jalan ke pasar lesehan yang terkenal itu.”
“ Memang bunda cerita soal restoran apa?”
“ Haruskah kuberitahu sekarang?” Jawab Satrio sambil melirik dengan ekor matanya. Kesekian kalinya Dania kembali tak mampu menahan rasa penasarannya. Dirinya hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. Namun ada hal yang membuatnya tersentak kaget ketika tangan Satrio menggengam tangannya dan menarik tubuhnya mengikuti Satrio. Tangan dingin lelaki itu mengalirkan hawa aneh kedalam tubuhnya, Dania hanya tersenyum tanpa bisa berbuat apa-apa saat Satrio membawa dirinya menuju parkiran motor dan segera melaju di jalanan kota. Jalanan sore itu cukup ramai, beberapa kali Satrio harus menyalipkan motornya melewati truk dan mobil pribadi yang melintas. Perjalanan kali ini memang menuju ke luar kota Tembilahan. Jembatan Rumbai. Tujuannya itu adalah sebuah jembatan yang berdiri diatas sungai Indragiri yang menghubungkan antara Rumbai dan Tembilahan.
Baca juga Cerita Pendek: LOVING

Tidak ada yang menarik arti sebuah jembatan bagi sebagian orang selain sebagai sarana infrasuktur yang menghubungkan dua daratan, namun Jembatan Rumbai disulap seolah menjadi sebuah tempat keramaian. Banyak pedagang yang berjualan saat sore, belum lagi banyaknya muda-mudi yang memadu kasih sambil menikmati senja. Dania sebenarnya merasa sedikit canggung. Dulu dia semasa sekolah di Kuala Enok memang kerap menghabiskan waktu nongkrong di Jembatan itu bersama dengan teman sekolahnya. Namun itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia sudah berbeda. Dania sekarang adalah seorang guru Madrasah yang bisa jadi ada anak muridnya yang juga menghabiskan senja disana. Terlintas sejenak bagaimana bila muridnya melihat dirinya, bukankah nanti akan menjadi bahan perbincangan. Namun, dia tidak dapat menolak ajakan Satrio. Mungkin bagi Dania, jembatan hanyalah jembatan, namun bagi Satrio yang baru pulang kampung, jelas jembatan itu memiliki nilai kenangan tersendiri. Dania tidak akan mengecewakan Satrio, itu alasan terbesarnya saat ini.
***


Jembatan besar itu berdiri kokoh diatas sungai yang mengalir deras dibawahnya. Rasanya ketinggian bisa bermeter-meter dari permukaan laut. Benar saja, baru setengah lima namun ramainya sudah seperti pasar. Para pedagang membuka lapak jualannya, dan seperti yang sudah ditebak, pasangan muda-mudi juga terlihat sudah memenuhi sepanjang jalan.
Satrio menepikan motornya. Kemudian dia berdiri menghadapi laut dan memunggungi matahari senja. Semilir angin membawa sedikit kesejukkan yang melawan panas matahari. Dania tidak turun dari motor, dia mengelurkan Ponselnya dan membalas beberapa pesan Whatsapp yang belum sempat dibalasnya. Kemudian dia memasukkan kembali Ponselnya. Dilihatnya Satrio seperti larut dan menikmati pemandangan hamparan sungai Indragiri yang luas dan seperti tak berujung.
“ Mas Satrio!” Panggil Dania.
“ Kenapa Nia?” Tanya Satrio sambil menoleh kearahnya.
“ Terakhir kesini kapan?”
“ Ya tiga tahun yang lalu itu. Tiga tahun yang lalu itu Dania dimana?”
“ Dania ya dirumah mas, masih semester pertengahan sepertinya. Kok dulu Mas Satrio tidak berfikiran untuk menemuiku? Kenapa sekarang mas?”
“ Karena aku tidak punya keberanian, Dania.” Jawab Satrio.
“ Jadi sekarang sudah berani?” Tanya Dania sambil melirik manja.
“ Aku disini sekarang.” Jawab Satrio pelan. Dia melebarkan tangannya.
 “ Dulu kenapa takut?” Tanya Dania lagi.
Jembatan itu bagian atasnya melengkung dan diberi peyangga besi berukuran besar dan besi-besi bulat yang horizontal, Satrio duduk di besi bulat yang melintang disisi luar jembatan, tepat disamping Dania. Sekarang dia dan Dania berjarak hanya beberapa centi meter saja. Satrio merasakan parfum lembut Dania menusuk hidungnya. Dia menghembuskan nafas pelan, dipandanginya wajah cantik Dania.
“ Dulu khan bersama keluarga, nanti dikira aku melamar. Lagipula mas belum memiliki keberanian bertemu Dania itu juga karena faktor yang susah dijelaskan, rasanya belum siap saja. Mungkin bagiku Dania terlalu cantik dan takut kalau Dania akan kecewa begitu melihat mas.” Kata Satrio.
“ Memang sekarang tidak kecewa menurutmu?” Goda Dania lagi.
“ Dania tidak akan pernah mengecewakan mamasnya.” Percaya diri Satrio muncul lagi. Dania tertawa mendengar kata-kata lelaki itu.
“ Mas katanya kamu dulu pernah menulis apa gitu ya di jembatan ini.”
“ Oh iya, dulu mas pernah menulis nama mas disini. Waktu masih kelas tiga SMA, ceritanya mas habis mengikuti olimpiade di Tembilahan untuk merebutkan beasiswa dari Chevron Indonesia. Dulu mas nulis nama mas di salah satu tiangnya, mas menulis kelak mas akan sukses dan kembali disini lagi. Mungkin sekarang sudah hilang. Menulis nama dengan spidol di besi jelas bukan ide yang bagus. Namun, kenangannya terus ada disini.”
“ Dania kira mas menulis nama mantannya disini.” Goda Dania lagi.
“ Mulai...” Kata Satrio sambil mengusap-usap kepala Dania pelan.
Perubahan wajah Satrio nyaris membuat Dania tak mampu menahan tawanya. Lelaki itu memang selalu menghindar kalau membahas tentang mantan kekasih. Rasanya hanya sekali dia membahas soal mantan, ketika tanpa sengaja Facebook memberikan reminder tentang kenangan. Dania tidak pernah bertanya, Satrio sendiri yang mengatakannya. Satrio juga memberitahunya dengan diselingi candaan, sebuah sikap yang menunjukkan kalau kedewasaan lelaki itu sudah bertambah. Karena menurut survey, kedewasaan seseorang bisa dilihat bagaimana dia menyingkapi masa lalu dan masalahnya sendiri.
“ Tidak jadi beli jagung bakar?” Tanya Satrio.
“ Carikan Dania. Sampai ketemu ya!” Perintah Dania.
“ Siap bos.”
Satrio bangun dan memberi penghormatan ala militer. Dania tertawa. Dicubitnya kedua pipi Satrio, dan sesaat kemudian lelaki itu berlalu menelusuri jalan di sepanjang jembatan. Dania tersenyum dan kembali meneriaki “ Sampai ketemu ya!”. Satrio mengacungkan jempolnya. Dania kembali tertawa. Lelaki itu benar-benar mencarikan kemauannya. Dania tersenyum manis melihatnya. Sejauh ini Satrio memang terlihat cukup menarik. Laki-laki itu sederhana, bahasanya santun, dan terlihat dari sorot matanya bahwa ada cinta dan kasih sayang yang besar terhadap dirinya. Dania tidaklah bodoh menilai, dia tahu betul bagaimana perasaan Satrio akan dirinya. Namun disini berlawanan, ada rasa tidak percaya pada lelaki itu, itu yang membuatnya sampai detik ini belum bisa menerima kehadiran Satrio di hatinya. Dania menyerahkan semuanya pada takdir. Selain Satrio memang diakui bahwa ada pria lain yang juga mencoba mendekati bahkan ada yang sudah mengena dihatinya, namun entah mengapa hatinya belum bisa untuk membuka lembar percintaan seperti sebagian orang inginkan. Entah, mungkin suatu saat nanti. Tidak tahu kepada siapa hatinya akan berlabuh.

Baca juga Cerita Pendek: Ada Sesuatu di Kamar Itu

Satrio mungkin berbeda dengan lelaki lain yang juga mendekatinya. Selain Satrio, ada sosok Zulfikar, Hanafi, Arifin, dan Rudin, yang terang-terangan mengatakan cinta padanya. Sama dengan Satrio, mereka juga rela menunggu kepastian dari Dania untuk menerima mereka. Meskipun cinta mereka belum ada satupun yang diterima namun Dania menganggap mereka adalah sahabat terdekat. Tidak pernah ada kesepian bagi Dania, Dania selalu punya teman melawan kesepiannya. Sosok Zulfikar yang selalu datang diakhir pekan membawa makanan dan mengajaknya menghabiskan waktu dengan hangout ketempat-tempat yang menarik, Hanafi teman mengajarnya yang selalu memberikan perhatian dan kerap membantunya di Sekolah, atau Arifin si fhotografer yang misterius namun kerap memberikan kejutan padanya. Tak jarang mereka saling cemburu satu sama lain, semua terlihat akan berlomba untuk meraih perhatiannya, lebih ketara lagi begitu ulangtahunnya tiba. Satrio berbeda dengan mereka. Satrio yang sejak dikenalnya tidak pernah bertemu, hanya berkomunikasi melalui Whatsaap itu rasanya sulit dipercaya kalau lelaki itu sedemikian cinta kepada dirinya. Beberapa kali Satrio memposting dan menjadikan fhoto Dania di akunnya. Dania juga menebak teman Satrio pasti tidak sedikit dan dia sudah mengenalkan Dania kepada dunianya, dan itu berlangsung bertahun-tahun. Bukankah sulit mempercayai bagaimana bisa seorang lelaki bisa sedemikian setia akan cintanya padahal dia memiliki banyak kesempatan untuk memiliki cinta gadis yang lain. Itulah Satrio. Lelaki itu sekarang ada didekatnya, menepati janji bahwa dia akan menemui Dania.

Bagian 3 : Kebesaran Hati

Bukan main senangnya Dania saat Satrio datang menenteng dua jagung bakar berukuran besar dan dua botol minuman dingin kearahnya. Laki-laki yang berpakaian serba hitam itu menghampiri Dania sambil tergopoh-gopoh. Keringat tampak mengucur dipelipisnya. Dania berinisiatif mengeluarkan tisu, dan memberikan kepada Satrio. Satrio mengelap kucuran keringatnya lalu keduanya lalu duduk di gundukan di pinggir jembatan yang menghadap kelaut. Rasanya memang luar biasa. Suasana mendadak sedemikian romantisnya. Senja, angin laut, pemandangan laut tak berujung, aroma sedap jagung bakar, dan laki-laki yang mencintainya, sebuah kesatuan yang membuat Dania harus mengakui kalau ini adalah sore yang indah baginya.
Tampaknya Satrio lebih menikmati nikmatnya jagung bakar dibanding meneruskan perbincangan, memang sedari tadi diam terlihat sibuk melahap jagung bakarnya. Beberapa kali mulutnya dikipas-kipas karena mungkin jagung bakar yang dipilihnya adalah jagung bakar spicy. Dania tertawa melihat tingkah Satrio.
“ Mas Satrio makannya belepotan, seperti anak kecil!” Kata Dania.
Satrio tersenyum sambil mengusap mulutnya dengan telapak tangannya. Dania buru-buru menyambar dengan mengelapkan tisu ke mulut satrio. “Pake ini mas!” Kata Dania lagi. Satrio tersenyum lalu melirik dan melajutkan makannya lagi.
“ Romantis ya? “ Kata Satrio.
“ Hemm...” Dania hanya bergumam. Matanya menatap jauh kedepan.
“ Jadi menurut cerita ini adalah sungai terpanjang di Kabupaten Indragiri Hilir, alirannya juga terbagi menjadi beberapa sungai kecil di seluruh Indragiri Hilir. Indragiri Hilir bisa dibilang sebagai daerah perairan, makanya tidak heran kalau disebut sebagai negeri seribu parit. Di tempat kelahiranku, di daerah Kecamatan Keritang, itu ada banyak parit disepanjang kecamatan, mungkin lebih dari dua puluhan, dan disepanjang parit itulah berdiri perkampungan-perkampungan.” Kata Satrio.
“ Memang begitu mas. Disini juga masih banyak kok. Dari Rumbai ke Tembilahan juga entah sudah beberapa puluh parit yang dilewati. Sebelum Tembilahan itu saja disebutnya Parit Satu, Parit Dua, dan seterusnya.” Tambah Dania.
“ Unik ya?” Imbuh Satrio.
“ Tapi benar tidak ya kalau Tembilahan termasuk daerah landai yang sebenarnya rawan banjir? Kalau di Jogja seperti apa mas?” Tanya Dania.
“ Mungkin. Bisa jadi kalaupun ada banjir itu karena naiknya volume air dari sungai Indragiri ini, bukan karena saluran airnya bermasalah seperti permasalahan yang ada di banyak kota di Jawa. Kalau Jogja itu seperti daerah yang dikelilingi oleh tanah Jawa. Jadi letaknya diantara Jawa Tengah tapi merupakan sebuah Provinsi. Kalau tekstur tanahnya jelas berbeda. Belakangan Jogja juga kerap banjir kalau hujannya turun deras, mungkin karena saluran air yang mulai tertutupi oleh bangunan makanya tidak lancar.”
“ Aku ingin sekali lho mas ke Jogja.” Kata Dania pelan.
“ Suatu saat pasti akan kesana, Dania.” Jawab Satrio.
“ Tapi Mas Satrio sudah tidak disana lagi ya, sudah disini.”
“ Kenapa tidak berfikiran kalau perginya bersama?”
“ Maksud mas...?” Dania menoleh kearah Satrio.
“ Bulan madu.” Jawab Satrio tanpa menoleh, terlihat senyumnya.
“ Mamas ini!” Dania mendorong bahu Satrio.
Setengah kaget dan segera berpegangan pada besi bulat. Jagung bakar ditangannya hampir saja terlepas. Salah pegangan bisa-bisa dirinya tergelincir kebawah jembatan. “Dania, bagaimana kalau mas jatuh?” ucapnya sambil mendelik kearah Dania. Dania tertawa sambil mengangkat dua telapak tangannya. Kemudian keduanya kembali menyandarkan badan dan tatapannya semakin jauh menerawang kedepan. Waktu yang selama ini sangat dinantikan oleh Satrio. Satrio merasa ini adalah saaat terbaik dari kesempatan dimana dia harus mengatakan sesuatu yang besar didalam hatinya, rasa yang sudah bertahan selama ini di hati kecilnya. Perasaan yang Dania juga tahu namun tak kunjung jawaban kepastian.
“ Jadi....?” Tanya Satrio tidak jelas.
“ Jadi, apa mas?” Dania mengejarnya dengan hal yang sama.
“ Jadi mas sudah menepati janji mas. Sekarang mas disini.”
Dania terkejut namun buru-buru menutupinya. Bagaimanapun juga dia tahu kemana arah pembicaraan ini, Satrio pulang pasti akan menanyakan tentang perasaan hatinya kepada Satrio. Dilema itu muncul tiba-tiba.
“ Lalu...?”
“ Lalu, mas berhak kah bertanya sekali lagi?”
“ Bertanya soal apa mas?” Dania masih berusaha menutupinya.
“ Soal hatimu, soal kita Dania.”
Nafas berat terhembus dari dada Satrio, kemudian dia meneruskan kata-katanya kembali. Dan mendadak dunia seperti berubah cuacanya.
“ Mas sekarang sudah berumur Dania, begitupun juga dirimu. Mas menemui Dania pasti ada sebabnya, pertama karena mas memang ingin sekali bertemu dan ini adalah pertama kalinya, kedua karena mas ingin bertanya dengan pertanyaan yang sama yang pernah mas ajukan.”
“ Apa itu mas?”
“ Hatimu Dania. Sudahkah engkau buka hatimu untukku?”
“ Haruskah aku menjawabnya sekarang, Mas Satrio?”
“ Haruskah aku menunggu sampai nafasku terhenti?”
“ Baiklah mas. Dania juga sudah merasa bahwa Mas Satrio pasti akan bertanya hal yang sama kepada Dania. Dania masih sama mas, Dania belum bisa menjawabnya. Dania tidak pernah punya kata-kata untuk menjawabnya.”
“ Sedemikian susahnya kah engkau mengatakan itu?”
“ Mas Satrio tahu kebimbanganku. Tidakkah Mas Satrio memberikan waktu padaku untuk memikirkan dengan sebaik-baiknya?”
“ Enam tahun tidak cukup bagimu, Dania?” Tanya Satrio sedikit keras.
“ Kita baru bertemu 24 jam yang lalu mas,” Jawab Dania.
Satrio terdiam. Dania benar. Mereka baru bertemu 24 jam yang lalu, tidak ada arti sebuah komunikasi selama bertahun-tahun ini. Tidak ada arti dari semua makna kesetiaannya pada perempuan itu. Dania pasti juga akan bertemu dengan lelaki seperti dirinya yang juga rela menunggu demi memiliki gadis cantik itu, dan mereka pasti selangkah lebih menang karena Dania sudah mengenal mereka, mengenal keluarganya, bertemu dan bertatap muka. Sementara Satrio? Rasanya benar bahwa tidak ada perempuan manapun yang akan percaya pada lelaki yang dikenal melalui Facebook lalu mengatakan bahwa lelaki itu mencintainya, mengatakan ketulusannya, namun tidak pernah ditemui seperti apa rupanya.
Seperti bangunan tua yang ditabrak oleh tank-tank baja dan merubuhkan segenap kekuatan dan ketegarannya sebagai lelaki. Itu yang dirasakan Satrio saat ini. Baginya Dania sudah seperti sebuah sumbu yang menyalakan api semangat didalam dirinya. Dania adalah hidupnya yang mengalir didalam sanubarinya. Tidak ada makna cantik yang membuat Satrio sedemikian mencintai sosok Dania, namun karena hatinya sudah benar-benar terpaku pada sosok perempuan idaman bernama Dania. Dania hidup di diri Satrio dan memaksa Satrio menjadi lebih baik. Segala impian yang diraihnya semua karena sumbu semangat nama Dania terus hidup dan membakar dirinya, meskipun sebenarnya Dania tidak pernah memperdulikan Satrio, namun bagi Satrio Dania tetaplah hal paling berharga bagi dirinya. Dania sekarang ada didepannya, dan untuk kesekian kalinya wanita itu merobohkan segenap perasaan yang dibangunnya dengan kerinduan, ketulusan, dan hati. Entah sudah berapa kali Dania menolak membuka hatinya namun Satrio masih tetap menunggu dengan sabar dengan sebuah keyakinan bahwa Dania adalah sosok yang dipersiapkan Tuhan untuk menjadi pendamping hidupnya. Dania itu sekarang ada didepannya, tapi sekali lagi ini bukan waktu yang tepat untuk merengkuh jiwanya.
“ Mas sudah kehilangan kata-kata Dania.” Hanya itu yang terucap.
“ Dania juga mas, Dania tidak tahu harus mengatakan apa.”
Sedikit penyesalan meluap dari dada Satrio. Mungkinkah benar bahwa rasanya ini bukan saatnya mengatakan masalah hati dengan Dania, dan jelas itu akan merusak moment yang sudah ditunggunya itu. Kegembiraannya bisa bertemu dengan Dania seakan hancur karena obrolan seputar hati, namun semua juga karena Dania, Dania tidak pernah memberinya kepastian dan itu yang membuatnya terus terluka sepanjang waktu.
“ Ya sudah lupakan, nanti kita bahas nanti. Keburu Jagungnya dingin.”
Cara terbaik berlari dari kegundahan adalah mencari pelarian berupa topik baru. Meskipun membangun obrolannya seperti membangun dari awal lagi, namun setidaknya akan jauh lebih baik seperti itu. Dania juga sepertinya tidak peduli dengan keadaan hatinya.
“ Mas Satrio makan jagungnya seperti kelaparan.” Kata Dania.
“ Padahal nanti kita harus mampir ke restoran yang diceritakan bundamu tadi, katanya dekat dengan pasar lesehan itu.” Kata Satrio.
“ Sehabis Maghrib saja mas,” Kata Dania. “ Ohya, besok Mas Satrio pulang ke Kemuning lagi ya? Setelah itu keman mas? Jadi ke Pekanbaru?”
“ Rencananya begitu Nia, jadi mas pulang ini memang planningnya hanya sekitar dua minggguan. Panggilan kerja di UNRI itu yang bikin mas berfikiran untuk mencoba, tidak ada salahnya mencoba, kalau setelah urusannya selesai mungkin mas akan ke Jogja lagi. Bisnis.” Kata Satrio.
“ Di Jogja bukannya sudah punya pekerjaan dan usaha sendiri ya mas, apa tidak sayang kalau ditinggalkan begitu saja lalu memulai semuanya dari awal lagi mas?” Tanya Dania.
“ Sebenarnya sih ada kekhawatiran seperti itu, tapi kalau untuk usaha mas itu sudah mas percayakan sama Ali, dia teman kuliahnya mas dan kebetulan merupakan salah satu pendirinya. Sementara ini mas memang mengejar kesempatan menjadi dosen di UNRI, menjadi dosen juga merupakan salah satu mimpiku Dania.”
“ Yaaah, semoga semuanya akan berhasil baik mas.” Kata Dania.
“ Kalau Dania, masih mengajar di Madrasah?” Tanya Satrio.
“ Masih mas. Di sekolah Madrasah Al Aminah Tembilahan, nanti Dania tunjukkan sekolahnya. Dania mengajar di kelas 2 dan 3, sama seperti Mas Satrio, mengajar di sekolah juga merupakan salah satu impian Dania.”
“ Mengajar apa, silat?” Goda Satrio lagi.
Dania meninju bahunya sekali lagi. “ Pendidikan Agama, mas!”.
Satrio tertawa. Berlahan kesedihan yang ada didalam dadanya mampu dia atasi dan ada ruang kosong kembali mengisi dadanya. Mungkin benar bahwa kesabarannya akan membuatnya bisa bertahan, dan hal yang harus dilakukan adalah tetap bersama dengan Dania, apapun nanti yang akan Dania putuskan.
“ Mas Satrio, pindah sebelah sana mas. Sunsetnya sudah mulai.”
Dania menunjuk ke arah seberang jalan, di sisi yang berlawanan.
Satrio mengangguk, dan pindahlah mereka kearah sisi yang berlawanan. Saat kedua tengah melintas, secara mendadak dari arah utara sebuah motor besar melaju dengan kecepatan tinggi. Bruummmmm! ” Dania, awas!” Teriak Satrio. Secara refleks dia menarik tangan Dania sehingga gadis itu yang sudah melangkah kaki menyebrangi jalan tertahan dan tertarik mundur. Hampir terjegal Dania merengkuh Satrio. Dadanya bergemuruh. Tak terbayangkan andai sedetik yang lalu Satrio tidak menarik tangannya, mungkin dirinya akan tertabrak seketika. Beberapa orang yang melihat kejadian itu ikut berteriak keras. Seorang ibu-ibu bahkan menjerit memperingatkan, sementara yang lain menggerutu kearah pengendara motor yang terus melaju tanpa menoleh.
“ Kak, tidak kenapa-napa?” Seorang perempuan muda ikut membantu Dania berdiri, dia memang nyarih bersimpuh sesaat setelah merengkuh Satrio. Kakinya mendadak gemetar. “ Hati-hati menyebrangnya kak!” Kata yang lain.
“ Tidak apa-apa kak.” Jawab Dania dengan sedikit gemetar.
“ Preman sini itu kak. Lain kali hati-hati menyebrangnya.”
Seorang perempuan muda membantu Dania berdiri. Dania menggelosor di pinggir jembatan. Tampak olehnya Satrio terus menggengam tangannya. Tas kecilnya yang jatuh tadi sudah diambil oleh Satrio. Ada raut kecemasan di wajah lelaki itu.
“ Dania tidak apa-apa?” Tanya lelaki itu dengan lembutnya.
“ Tidak apa-apa mas, hanya sedikit kaget saja.” Jawab Dania.
Satrio terus menggengam tangannya dan mengelapkan wajah Dania dengan tisu miliknya tadi. Keringat dingin memang mengucur deras. Peristiwanya begitu cepat, beruntung Satrio begitu sigap. Perempuan muda tadi yang membantunya berdiri juga terus menggengam tangannya. Sesaat kemudian Dania kembali dari shock nya.
“ Alhamdulillah tidak kenapa-napa.” Kata perempuan muda itu.
“ Mbak, terima kasih ya mbak.” Kata Satrio pada perempuan itu.
“ Sama-sama. Pacarnya di jaga ya bang.” Kata perempuan itu.
Perempuan muda itu segera berlalu meninggalkan Dania dan Satrio. Terlihat dia kemudian berbincang dengan beberapa orang yang ditemuinya, meskipun tidak terdengar apa yang diperbincangan, tampak sekali perempuan muda itu tengah menjelaskan kronologi kejadian tadi. Tangannya tampak seperti memberi peraga. Beberapa perempuan lain yang menjadi lawan bicaranya juga terlihat antusias mendengarnya. Tak lama kemudian mereka berangsur-angsur membubarkan diri.
“ Dania masih shock? Ayok nyebrang.” Tanya Satrio.
“ Alhamdulillah sudah mas.” Dania menjawab sambil menganggukkan kepala. Diulurkan tangannya, dan sepertinya Satrio mengerti maksudnya.
Keduanya kembali menyebrang. Kali ini Satrio menggandeng tangan Dania dan menyeretnya hingga menyebrangi jalanan. Tujuannya adalah sebuah area berbentuk persegi panjang yang menghadap kearah barat dan berpagar besi berwarna kuning. Sedikit memanjat keduanya sudah sampai ditempat yang dimaksud. Dari tempat ini matahari yang turun terlihat jelas berangsur-angsur tenggelam. Begitu indahnya.
Suasana yang sungguh romantis tak dapat tergambarkan. Tidak hanya Satrio dan Dania saja yang melakukan hal yang sama, karena di sisi kanan dan kiri juga tempak pasangan muda-mudi lain yang melakukan hal serupa. Bahkan pasangan muda disisi kanannya tampak berpelukan erat sambil memperhatikan mentari yang berlahan-lahan tenggelam. Sementara di sisi kirinya adalah pasangan muda-mudi yang juga tengah menikmati sunset sambil berbincang mesra dengan bahasa Banjar. Satrio dan Dania duduk bersebelahan. Parfum segar Dania yang lembut itu menusuk hidung Satrio dan seakan membius Satrio sedari tadi. Tangan Satrio masih menggengam tangan Dania seakan tidak ingin dilepaskan. Dania juga tidak komplain dan membiarkan saja tangannya terus digenggam oleh Satrio. Di ujung barat sana berlahan-lahan senja mulai turun, suasana juga mulai gelap. Satrio dan Dania nyaris tidak banyak mengeluarkan kata-kata apapun sampai akhirnya mentari tinggal menyisakan beberapa inchi saja. Pemandangan alam yang indah sekali. Bagi keduanya bukan hal melihat mentari turun dan berganti malam, namun suasana hati yang membuat semuanya terasa begitu indah. Tanpa sadar keduanya larut dalam suasana damai itu. Dania menyandarkan kepalanya di pundak Satrio. Sementara Satrio terasa menegakkan dadanya. Mulutnya berkomat kamit sembari melantunkan sebuah lagu.
Senja dibatas kota selalu teringat padamu
Saat kita kan berpisah entah untuk b’rapa lama
Walau senja berganti wajahmu selalu terbayang
Waktu engkau ku lepaskan berdebar hati di dada
Sedikit terhenyak, Dania semakin menyadarkan kepalanya. Gengaman tangannya kepada Satrio juga semakin erat. Entah apa yang membuatnya bisa melakukan semua itu. Dirinya benar-benar terhipnotis oleh keindahan senja kali ini. Matanya menerawang jauh mengikuti setiap bias rona mentari berwarna orange yang mendadak mulai berubah memerah kehitaman.
“ Sepertinya Dania kenal lagu itu Mas Satrio...” Katanya pelan.
“ Lagu kebangsaan pas mas jauh dari Dania.” Kata Satrio.
“ Lagu kebangsaan, hehe.” Dania tertawa kecil. Begitu juga Satrio.
Lagu itu memang dulu pernah Dania suka dan selalu diputarnya berulang-ulang, barangkali Satrio memperhatikan dan karena liriknya related sama kisah cintanya lagu itu kemudian kerap dinyanyikan untuk Dania. Sebenarnya tidak hanya itu, Satrio yang bisa bermain gitar memang kerap menulis lagu untuk Dania, tapi Dania jarang mendengarkannya. Tidak hanya lagu, Satrio juga menuliskan puisi, novel untuknya. Kalung yang dikenakan Satrio juga bertuliskan namanya, dulu juga ada gitarnya Satrio yang ada inisial namanya, begitu juga dengan nama travel perusahaan milik Satrio. Sungguh, sebenarnya Satrio adalah sosok paling romantis di muka bumi ini.
Menikmati senja berdua dengan Satrio tidak pernah terfikirkan sebelumnya oleh Dania, membayangkan saja tidak pernah. Namun sore ini menjadi saksi bagaiman tangannya menggengam erat tangan pemuda itu dan dia tanpa sadar menyadarkan kepala di pundaknya. Seakan pemuda itu sudah layak untuk menjadi sandaran hidupnya. Dania bukan sosok yang romantis, dulu dikampus bahkan dia terkenal sebagai sosok yang ribet dan cerewet, beberapa teman lelakinya bahkan mengatakannya sombong. Namun bagi Dania itu hanya pelarian mereka karena Dania kerap menolak untuk memenuhi keinginan mereka jalan bersama, meskipun tidak memiliki kekasih, bukan berarti Dania mau jalan dengan siapa saja. Alasan terbesarnya belum menentukan pilihan bisa jadi karena dia ingin tahu siapa yang sebenarnya berjuang untuk dirinya. Satrio adalah pemuda yang pantang menyerah. Itu hal yang disuka Dania pada sosoknya. Pelan-pelan Dania menggumam bernyanyi.
Tiada dapat ku lupakan peristiwa kisah  ini,
Engkau diseberang sana , menunaikan tugasmu
Senja dibatas kota terlukis di dalam kalbu
Hanya bila kau kembali hidupku akan bahagia
Lagu Senja di Batas Kota miliknya Ernie Djohan itu mengiringi malam yang turun dan membuat suasana semakin demikian romantisnya. Pasangan muda mudi di kanan dan kirinya terlihat sudah beranjak pulang, namun Satrio dan Dania masih duduk bersama dan belum merubah posisinya. Keduanya masih larut dengan suasana yang begitu syahdunya. Rasanya enggan untuk beranjak sampai waktu akan berangsur berlalu. Sebuah memori yang menyisakan rasa tersendiri bagi keduanya. Tanpa sadar genggam tangannya semakin kuat seakan tak ingin lepas lagi. Bukan Satrio namanya bila tidak memamfaatkan suasana, sebuah kecupan lembut di kening Dania. Dikecupnya yang paling dikasihi selama dirinya hidup didunia itu. Penantian panjang untuk melihat wajahnya dari dekat sudah berada dititik puncaknya. Langit senja menjadi saksi segenap kerinduannya. Tuhan yang maha cinta telah mengatur semua ini. Tuhan yang maha cinta telah merestui. Demikian juga alam ini.
***
Taman Kota Tembilahan dimalam hari menjadi tempat selanjutnya yang disinggahi. Taman kota ini sangat ramai karena merupakan ruangan terbuka untuk publik. Sedari siang saja rumah ramai, apalagi kalau senja sudah turun maka akan semakin ramai oleh orang-orang yang datang mencari hiburan atau sekedar duduk-duduk menghabiskan waktu. Desainnya berbentuk bulatan-bulatan besar dan kecil yang dikelilingi oleh pepohonan hijau. Kalau dilihat sekilas bulatan-bulatan besar itu membentuk seperti lambang mataharinya sedangkan bulatan-bulatan kecilnya seperti lambang senyawa kimia nuklir namun hanya ada empat segitiga tanpa ada bulatan lagi ditengahnya. Logo-logo kecil itu banyak terukir di sepanjang jalan dan mengelilingi bulatan besar yang tadi membentuk matahari. Dania bilang kalau sore tempat itu akan ramai oleh anak-anak dan remaja yang bermain, ada juga yang memamfaatkannya sebagai tempat memadu kasih.
Menyantap nasi goreng untuk menghilangkan lapar menjadi tujuan Satrio dan Dania menhentikan langkahnya ditempat itu, kebetulan ada penjual nasi goreng keliling. Tadinya keduanya berkeinginan ke restoran Masakan Bundo yang tadi di rekomendasikan oleh bundanya Dania namun karena ternyata Satrio penasaran dengan nasi goreng di Taman Kota akhir kedunya memilih untuk menyantap nasi goreng daripada masakan Padang. Suasana Taman Kota juga cukup ramai, lagi-lagi pasangan muda mudi yang memenuhi setiap sudutnya. Beberapa ada yang mengenal Dania dan menyapanya. Dania membalas sapaan mereka dengan khasnya sebagai sosok gadis lembut yang ramah dan santun. Sementara dirinya  terus saja mengikuti kemana gengaman tangan Satrio akan membawanya pergi.
Tangan Satrio terus menggengam tangan Dania, sampai keduanya duduk dilesehan. Menunggu nasi goreng matang keduanya kembali bercerita tentang banyak hal. Beberapa lelaki yang melintasi mereka terus saja memandangi Dania seakan terpesona dengan sosok Dania, dan itu membuat Satrio semakin mempererat pegangan tangannya seolah-olah takut kalau tangan Dania terlepas dari genggamannya. Dania berulang kali ingin melepaskan namun sungguh dia takut mengecewakan Satrio untuk kesekian kali dalam hidupnya, jadi dia biarkan saja sepanjang hari ini tangan Satrio terus menggenggamnya.
Hati Dania sudah tumbuh bunga dan kembang cinta dengan sikap yang diperlihatkan oleh Satrio kepadanya.  Satrio memang terbukti begitu sayang pada dirinya. Satrio dengan sikap dewasanya juga tidak pernah sedikitpun memutuskan pergi dari dirinya meskipun selama ini Dania selalu acuh akan perasaan Satrio. Ingin rasanya Dania mengatakan bahwa dirinya juga mulai menyukai sosok pemuda itu. Seharian ini Satrio memang cukup membuatnya merasa bahwa masih ada sosok pemuda baik dan bertanggungjawab yang bisa dijadikan sebagai sandaran hidup. Mungkin benar bahwa saatnya untuk memilih sudah tiba.  Ini adalah malam terakhir Satrio ada dikotanya, setelah ini Satrio akan pergi lagi karena urusan pekerjaan, dan entah kapan pemuda itu akan menemuinya. Haruskah dia menahan kepergian laki-laki itu dan mengatakan bahwa sesungguhnya dia mulai tak mampu menahan perasaan sayang yang mulai tumbuh, atau dia akan membiarkan laki-laki itu beranjak untuk berjuang mendapatkan dirinya. Bukankah kalau cinta pasti dia akan terus berjuang?
Cinta Satrio sudah teruji, dan Dania percaya bahwa Satrio tidak akan menyerah begitu saja hanya karena Dania belum memberikan kepastian untuk menerima pemuda itu. Bila memang itu adalah kenyataannya, bukankah dia tak perlu takut untuk kehilangan? Dan malam ini akan terus terjadi selamanya.
***



Bagian 4 : Dilema

“ Satrio mau kembali ke Jogja?”
Pertanyaan itu muncul dari bundanya begitu melihat Dania memasuki rumah. Ibu cantik itu sedang mengiris kentang dilantai rumah, televisinya menyala , ternyata ibunya juga sedang menonton acara reality show di televisi. Dania duduk menghampiri ibunya tanpa ikut menyentuh irisan kentang itu, tapi hanya menonton televisinya.
“ Mas Satrio besok mau ke Pekanbaru, Bunda. Katanya ada interview untuk mengajar di UNRI. Kalau ke Jogja lagi, Dania belum tahu.” Jawab Dania.
“ Satrio jadi dosen?”
“ Baru mau jadi dosen, Bunda.”
“ Mantab juga budak tu ye. Tak nyangka pula Satrio kalau pintar.”
“ Mas Satrio itu memang pintar Bunda, dulu dia cerita kalau menjadi asisten dosen di kampusnya terus sampai di rekrut kerja di kampusnya. Meski penampilan begitu, tapi dia sudah master.” Kata Dania.
“ Satrio sudah 30 tahun ya?” Tanya ibunya.
“ Sepertinya iya. Mas Satrio bilang kalau adiknya yang bungsu saja umurnya sama seperti mbak Dini, berarti dia lebih tua enam tahun dari Dania. Kalau soal kuliahnya yang lambat selesai itu karena Mas Satrio pernah cuti waktu ayahnya meninggal, katanya waktu itu ada lima orang yang sedang kuliah jadi harus ada yang mengalah, nah Mas Satrio yang mengalah.” Kata Dania.
“ Orangnya seperti baik. Meskipun baru sekali bertemu tapi orangnya cukup sopan. Hasil didikan kota pelajar ya.” Kata ibunya lagi.
Dania menyandarkan badannya ke sisi belakang sofa. Pandangannya melihat televisi tapi pikirannya menerawang jauh ke sosok Satrio. Pemuda itu memang sudah tidak ada di Tembilahan lagi, tiga hari yang lalu dia memberi kabar kalau sekarang dia sudah di Pekanbaru. Pamitnya juga menyesakkan hati dan dada Dania. Pemuda itu datang ke rumahnya pagi-pagi membawa segepok bunga berwarna putih yang entah kapan dia membelinya, dia mengatakan dia akan pulang ke rumah dan setelah itu akan langsung pergi lagi ke Pekanbaru. Pemuda itu memang selalu pergi-pergi, selama yang Dania tahu.
“ Mulai bingung memilih?” Goda ibunya lagi.
“ Memilih apa Bunda?” Tanya Dania.
“ Memilih laki!” Ibunya tertawa menggodanya. Dania memerah.
“ Bunda!” Teriaknya. Malu rasanya ditodong soal pembicaraan soal lelaki. Sungguh belum pernah terlintas ingin menikah. Masih ditahap menikmati indahnya masa muda bersama dengan teman dan keluarga. Dania tersenyum. Kakaknya, Mbak Dini, sudah memiliki anak yang lucu, namanya Rachel. Teman-teman akrabnya juga sudah ada yang bertunangan. Satu-satunya teman akrab Dania yang belum menikah hanya Rudin. Rudin yang pernah menjadi ketua organisasi dikampus itu belum juga menikah. Ada yang bilang Rudin menyukai dirinya tapi tidak pernah bilang, dan memang Rudin sering di gadang-gadang untuk berjodoh dengan dirinya. Rudin juga cukup dikenal baik oleh keluarganya. Rudin tidak hanya sekedar sahabat baginya namun juga sebagai kakak yang baik. Hanya saja, Dania tidak memiliki perasaan lebih.
 Ibunya mulai sering menyinggung soal lelaki padanya. Terlebih ibunya memang juga tahu kalau dirinya memang dekat dengan beberapa teman lelaki. Sebagai penggemar acara gosip di televisi, ibunya pasti akan lebih agresif melihat perkembangan percintaan anak gadisnya. Ibunya jelas tahu bagaimana para teman lelakinya itu mulai berusaha menarik simpati ibunya. Setiap mereka datang kerumah selalu membawakan oleh-oleh ataupun makanan, kadang ada yang mengajak adik-adiknya jalan ataupun belanja. Zulfikar dan Arifin kerap datang kerumah membawakan martabak, roti bakar, atau sate kambing kesukaan ibunya. Keduanya datang menggunakan mobil mengkilap dengan pakaian yang selalu rapi, memakai jas, Ponsel mereka kelas wahid, seakan-akan segala pencapaian kesuksesan ada pada diri mereka, seakan sisi kenyamanan dan kemampanan sudah ada pada diri mereka. Tapi Dania tidaklah bodoh menilai. Dimata ibunya Zulfikar mungkin terlihat perhatian pada keluarga, namun Dania tahu betul kalau laki-laki itu sebenarnya angkuh dan tempramental, sementara Arifin yang mungkin selalu memiliki pembawaan menarik sudah beberapa kali Dania melihatnya bersama dengan perempuan lain. Pekerjaan sebagai fhotografer professional membuatnya memiliki banyak celah untuk bermain-main dengan perasan orang lain. Sebelum dekat dengan Dania, diketahui bahwa Arifin juga pernah dekat dengan Mirna, teman kuliah Dania, namun Arifin terbukti selingkuh dengan perempuan lain. Ibunya tidak pernah tahu itu, yang ibu tahu kedua laki-laki itu baik, tampan, perhatian, suka memberi, dan peduli terhadap orang lain.
“ Memilih laki itu tidak hanya dari sisi baiknya, ada sisi mapannya, ganteng tidaknya juga jadi bahan pertimbangan. Sisi agamanya juga jadi kriteria. Memilih laki jangan salah. Jangan tergoda dengan sisi luarnya saja, lelaki akan terus memperlihatkan sisi baiknya ketika sedang pendekatan. Justru laki-laki yang bersikap biasa tapi konsisten adalah dia yang sebenarnya. Itu dari yang Bunda tahu. Nia jangan salah.”
“ Dania juga maunya dapat yang sempurna Bunda.”
“ Belum menentukan?” Tanya ibunya lagi.
“ Belum Bunda. Belum kepikiran.” Jawab Dania.
Ibunya meletakkan pisau dan mengaduk-aduk kentang yang sudah diirisnya itu. Berulang kali dia melakukannya, “ Ikut Bunda masak?”
“ Dania ada kerjaan Bunda. Sebentar lagi mau ke sekolah. Ada meeting dengan Pak Kepala Sekolah dan Pak Hanafi, soal perlombaan antar sekolah itu lhoh Bun.” Jawab Dania.
“ Hanafi anaknya Pak Kanwil?” Ibunya mengangkat alis matanya.
“ Iya, Hanafi yang itu. Ganteng dia.” Jawab Dania dengan senyumnya.
Ibunya nyengir, kemudian bangkit dan menghilang ke dalam meninggalkan dirinya. Dania juga kembali bangun, mematikan televisi dan beranjak menuju kamarnya. Segera saja dia berganti pakaian dan make up didepan cermin. Bedak tipis itu dipoleskan ke wajah cantiknya, begitu juga dengan lipstiknya. Zulfikar, salah seorang teman dekatnya selalu bilang kalau dirinya meskipun tanpa make up juga sudah seperti bidadari, sebuah pujian yang membuatnya melayang, tapi perempuan mana yang bisa jauh dari bedak dan lipstik. Meskipun tidak tebal, tapi itu wajib hukumnya. Mungkin hanya sekali dirinya menggunakan make up tebal, saat pernikahan sahabatnya Merland. Di pesta itu beberapa teman memuji make up nya, beberapa malah mengatakannya aneh karena tiba-tiba memakai make up tebal. Itupun sebenarnya karena Zulfikar yang memaksa kalau dirinya sesekali harus tampil cantik, dan Dania menurutinya.
Sebagai seorang guru Pendidikan Agama, jelas tampil modis bukan lagi syarat utama. Image sebagai seorang guru yang dibangun didepan murid-muridnya haruslah memperlihatkan sosok yang bisa ditiru. Itulah sebabnya cukup bedak dan lipstik tipis yang menjadi media mempercantik diri. Berlebihan juga tidak baik, menurutnya.
Ponselnya berdering.
Sebuah pesan Whatsapp dari Zulfikar. Tadi Zulfikar memang sudah berulang kali mengirimkan pesan namun belum dibalasnya satupun. Zulfikar mengajaknya jalan-jalan lagi, sebagai gantinya dia akan mengantarkan Dania meeting ke sekolah. Awalnya Dania menolak. Apa jadinya bila Zulfikar dan Hanafi bertemu nantinya. Kedua lelaki itu memang sudah terang-terangan mengatakan cinta padanya. Bukankah nantinya akan timbul kecemburuan satu sama lain. Tapilagi-lagi Dania tidak pernah bisa menolak ajakan orang. Dania selalu saja tidak ingin mengecewakan orang lain, itu mengapa akhirnya dia mengiyakan kemauan Zulfikar.
Tak lama kemudian terdengar suara raungan mobil didepan rumahnya. Dania mengintip dari daun jendela. Sebuah mobil Honda Jazz berwarna putih sudah terparkir didepan pagar rumahnya. Itu mobilnya Zulfikar. Dia pun segera mengemasi perlengkapan meetingnya, dimasukkan kedalam tas, kemudian dengan berjingkat-jingkat dia keluar kamar. Ditemuinya sebentar ibunya yang tengah memasak di dapur. Bau khas kentang goreng langsung menyambutnya.
“ Bunda, Dania berangkat.” Pamitnya.
“ Dijemput Zulfikar?” Tanya ibunya tanpa menoleh.
“ Iya Bunda. Zulfikar yang jemput.” Jawab Dania.
Zulfikar terlihat melambaikan tangan dari balik kemudi mobilnya. Lelaki tampan itu selalu saja berpakaian rapi dengan setelan jeans dan jaket kainnya. Rambutnya disisir rapi kebelakang dan hitam berkilat. Zulfikar memiliki janggut yang rapih dan menambah kesan jantannya. Mungkin dari semua teman dekat Dania, Zulfikar adalah yang tertampan. Namun terkadang Dania juga kerap tidak suka dengan sikap Zulfikar yang mempertontonkan kekayaannya itu. Zulfikar sering mengajaknya makan ditempat yang mahal, dan sepertinya lelaki itu memang tidak pernah kehabisan uang. Pekerjaannya di bank swasta sepertinya memang memberikan tunjangan untuk semua lifestyle nya itu. Bahkan untuk ukuran Tembilahan, pemuda yang kemana-mana selalu membawa mobil itu sudah memiliki simbol kesuksesan. Zulfikar punya itu semua.
“ Ke sekolah khan sayang?” Tanya Zulfikar begitu Dania membuka pintu.
“ Iya ke sekolah. Dania ada meeting bang.” Jawab Dania.
“ Yuk, berangkat.” Katanya.
Mobil Honda Jazz nya Zulfikar diakui Dania cukup nyaman. Mobilnya selalu bersih nyaris tidak ada kotoran yang menempel. Zulfikar memang orang yang suka akan kebersihan. Tak heran sebenarnya kalau Zulfikar juga memiliki banyak fans, dan rata-rata cemburu pada dirinya karena Zulfikar memilih untuk dekat dengan dirinya.
Lagu Tomorrow Never Comes nya Ronan Keating mengalun mengiringi perjalanan ini. Dania meresapi saja alunan musiknya sambil sesekali menjawab pertanyaan Zulfikar yang seperti menginterogasi dirinya. Zulfikar kerap membuatnya jengkel kalau sudah bertanya lebih seolah-olah apa yang dilakukannya harus laporan, belum lagi Zulfikar kerap melarang-larang ini-itu, padahal mereka belum memiliki status hubungan, tapi dia sudah menunjukkan hal-hal possesif.
“ Dengar ya Dania, pokoknya abang tidak suka kalau abang dekat-dekat dengan Hanafi ataupun Rudin lagi. Jaga jarak dong, kamu khan sama abang.”
“ Mereka itu teman-teman Dania bang. Abang tak boleh melarang Dania seperti itu. Dania juga mau dekat dengan siapa saja.” Kata Dania.
“ Silahkan. Yang jelas abang tak pernah suka kalau Dania dekat dengan mereka. Kamu hargai aku Dania.” Kata Zulfikar.
“ Hargai seperti apa bang?”
“ Seperti laki-laki lain lah. Abang juga mau diutamakan.” Kata Zulfikar.
“ Hah...”
“ Hari ini sama Hanafi juga khan? Abang tunggu di sekolah.”
“ Abang ini kenapa ya?” Dania menggerutu.
“ Tidak kenapa-napa, hanya tidak rela kalau sayangku ini direbut orang lain. Apalagi sama guru olahraga tidak jelas itu.” Jawab Zulfikar dengan kasar.
“ Huh!, Entahlah bang!.” Dania ikut melengos.
Menyesal rasanya hari ini dia mengiyakan kemauan lelaki itu. Rasanya semakin lama Zulfikar semakin bertingkah kurang ajar. Sifat aslinya juga mulai terlihat. Zulfikar tidak hanya sombong dengan kekayaannya, dia mulai berani menghina orang lain. Bagi Dania yang memiliki hati lembut, telinga terasa seperti panas dan memerah melihat kata-kata kasar apalagi berisi hinaan.
“ Pokoknya Dania dengar kata abang.  Jangan sampai pula si Hanafi itu terima akibatnya berani dekat-dekat dengan Dania.” AncamZulfikar.
“ Terserah abang!” Dania yang mulai kesal menjawab seenaknya.
Dania membanting pintu mobil begitu sampai di depan sekolah. Muak rasanya hari ini dengan tingkah lelaki itu. Zulfikar juga buru-buru turun dan menyusulnya. “ Dania, maaf.” Ujarnya. Dipegangnya tangan Dania.
“ Bang, kalau abang hari ini hanya mau membuat Dania jengkel, lebih baik abang pulang. Dania nanti bisa pulang sendiri.” Kata Dania kepadanya.
“ Ya sudah, abang minta maaf ya. Abang tunggu saja disini sampai Dania pulang. Dania, aku mau mengajakmu pergi malam ini. Lupa?” Kata Zulfikar lagi.
Orang-orang disekitar sekolah tampak memperhatikan mereka, Dania mulai merasa tidak enak hati. Kemudian dia berbalik badan sambil menarik nafas lalu melemparkan senyum manisnya, “ Ya sudah, abang tunggu Dania selesai.” Jawabnya. Kemudian Dania berlalu memasuki gerbang sekolah, tidak peduli lagi teriakan Zulfikar didepan sana “ Jangan lupa pesan abang!”. Huh!
***
Lorong sekolah ditelusurinya. Masih pukul 14.00 namun suasana sudah tidak begitu ramai. Hanya tinggal dua kelas yang terlihat masih ada siswanya, hari Sabtu memang kelas pulangnya lebih cepat. Dania kebetulan mengajarnya hanya di hari Senin dan Selasa, selebihnya biasanya dia kesekolah untuk mengurusi bagian perpustakaan pada hari Rabu sampai dengan Sabtu. Meskipun gaji mengajar di sekolah tidalah besar, namun bagi Dania ini adalah impiannya yang sudah dicapai olehnya. Menjadi guru menyenangkan baginya, dunia anak-anak sungguh menenangkan hatinya. Kakaknya yang mengambil jurusan kedokteran gajinya memang lebih besar, namun kerjanya juga seakan tidak mengenal waktu karena setiap ada pasien maka itu artinya harus siap. Kakaknya, Mbak Dini, bahkan pernah mengeluh tentang pekerjaannya. Beruntung suaminya cukup mengerti keadaannya. Sehingga ketika tugas memanggil, suaminya yang bekerja di sebuah provider selular itu yang menghabiskan waktu menjaga anak mereka.
Dania terus meneruskan langkah menelusuri lorong-lorong, melewati ruang kelas, kemudian dia belok kekiri menuju deretan kantor sekolah. Bangunan sekolah Madrasah ini sudah cukup modern, ada deretan kursi besi dan tong sampah yang berbeda jenis didepan kelas, papan pengumuman juga ada ditiap kelas. Sekolah Madrasah yang katanya paling besar di Kota Tembilahan ini memang sekolah impian bagi banyak orang, sungguh nyaman rasanya belajar dan mengajar disini. Deretan kantor sekolah juga tampak lengang, hanya ada Pak Anas dan Bang Ridwan yang ditemuinya, kedua staff kebersihan itu tengah mengepel lantai sekolah. Dania sempat menyapa namun sepertinya keduanya tengah fokus sehingga tidak memperhatikan Dania yang melintas. Dua menit kemudian sampailah Dania diruang rapat para guru. Lamat-lamat terdengar suara gelak tawa dari dalam. Ruang rapat terletak paling timur, berdekatan dengan laboratorium bahasa. Seperti namanya, ruangan ini memang khusus diperguruan untuk rapat, dan kadang juga sebagai ruang khusus untuk masalah Bimbingan Konseling di Madrasah itu.
Diketuknya pintu ruangan itu tiga kali sembari mengucapkan salam. Kemudian dia melangkah masuk, sudah ada empat orang yang ada didalam ruangan. Pak Wirman kepala sekolah, Ibu Marhumah wakil kepala sekolah, Hanafi si guru olahraga, dan Nurhasanah petugas tata usaha yang kerap ikut setiap kegiatan sekolah. Keempat orang itu segera saja menyambut kehadiran Dania dengan senyum berkembang.
Pak Wirman Gani, kepala sekolah berkacamata tebal dengan potongan rambutnya yang rapi siang ini terlihat segar, dia mengenakan kemeja berwarna hijau dengan celana kain berwarna cokelat. Memang warnanya kali ini tidak sinkron, namun itulah ciri khas dari pak kepala sekolah nyentrik itu. Pak Wirman memang kerap mengenakan pakaian tabrak lari, dimana fashionnya kadang tidak padu satu sama lain. Hari ini sedikit berbeda, karena biasanya beliau selalu menggunakan peci. Rambutnya hampir putih semua dan mulai mengalami kerontokan, jadi mengenakan peci sebenarnya adalah trik untuk menutupi kebotakannya. Bila di jam-jam tertentu para guru memang kerap menampilkan sosok Wak Wirman sebagai bahan guyonan. Namanya juga aneh ditelinga orang melayu. Katanya Pak Wirman aslinya adalah kelahiran Brebes di Jawa Tengah yang kemudian besar di Kuansing, hingga pada akhirnya menjadi kepala sekolah di Madrasah Al Aminah ini. Orangnya tegas, pengertian, dan kadang-kadang suka melucu. Justru saat tengah melucu semua yang mendengarnya enggan untuk tertawa, mungkin karena kebiasaan Pak Wirman yang lebih banyak serius di sekolah. Di kalangan murid jangan ditanya bagaimana tegasnya, bahkan bisa dibilang Pak Wirman sangat ditakuti oleh seisi sekolah.
Berbanding terbalik dengan sosok laki-laki yang satunya. Sosok lelaki tampan yang selama di sekolah ini kerap di jodoh-jodohkan dengan Dania, ya dia adalah Hanafi Al Kahfi, seorang guru terbaik lulusan Universitas Islam Indragiri, berwajah tampan seperti aktor Bollywood, dan pembawaannya lembut dan perhatiannya luar biasa. Hanafi adalah lelaki yang menempati top survey dari semua survey tentang siapa yang layak menjadi pendamping hidup Dania selama ini. Bagi Dania, Hanafi adalah sosok yang begitu sempurna. Hanafi si guru olahraga itu memang sukses membuat banyak orang menyukainya, beberapa temannya juga banyak menitipkan salam, dan yang paling Dania suka adalah Hanafi begitu religius. Si guru olahraga yang lahir dan besar di Kuala Enok itu dulunya pernah menang di lomba membaca Al Qur’an tingkat Kabupaten. Tidak hanya didunia nyata, di dunia mayapun Hanafi memiliki banyak followers. Followersnya ribuan. Untuk beberapa waktu terakhir Hanafi memang begitu memikat Dania, dia tidak menyangkal itu. Hanafi adalah lelaki idaman semua orang.
Siang itu Hanafi mengenakan kemeja berwarna cokelat. Wajahnya putih bersih. Rambutnya hitam mengkilap disisir dengan gaya rockabily, sepatunya jangan ditanya karena jelas seorang Hanafi pasti akan memakai sepatu sport. Seakan mewakili pekerjaannya sebagai seorang guru olahraga. Guru olahraga yang satu ini tidak akan kecut, Hanafi terkenal memiliki parfum dengan aroma yang begitu lelaki. Hanafi melempar senyuman manis padanya Dania begitu Dania duduk tepat dihadapannya. Senyumnya semanis juice yang diberi banyak gula, nyaris membuat raga Dania melayang di udara.
“ Baik, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Pak Wirman kepala sekolah membuka rapat sore itu dan disambut dengan salam juga dengan ketiga peserta rapatnya.
“ Terima kasih untuk bapak dan ibu yang sudah hadir di rapat tertutup ini, adapun tujuan saya mengumpulkan bapak dan ibu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membahas masalah perlombaan antar Madrasah se-Indonesia itu; kita tahu sebagai salah satu Madrasah yang cukup dikenal akan prestasinya, Madrasah Al Aminah Tembilahan selalu mengirimkan kontingennya setiap tahunnya. Untuk tahun ini gelaran perlombaan akbar itu akan di laksanakan di kota Jogja. Tepatnya di UIN Sunan Kalijaga.” Kata Pak Wirman membuka presentasinya.
“ Ada beberapa jenis perlombaan yang akan dilaksanakan, terutamanya adalah di bidang ilmu agama dan olahraga. Itu kenapa bapak dan ibu berdua kami undang untuk rapat tertutup ini, begitu dengan bapak berdua sudah fix, nanti kita akan lanjutkan di rapat guru-guru.” Lanjutnya.
“ Itu bulan depan pelaksanaan ya pak?” Tanya Hanafi.
“ Betul sekali pak Hanafi. Sebagai guru olahraga, pak Hanafi pasti lebih tahu jenis olahraga apa yang nantikan akan kita kirim kontigennya.”
“ Kalau melihat SDM yang ada di sekolah kita pak, sejauh ini kita masih unggul di olahraga Badminton dan Futsal. Prestasi kelas Provinsi pastilah bukan suatu hal yang kecil. Untuk cabang lain seperti Volley dan Basket, kita masih lemah, namun kalau memang nanti kita fix untuk mengirimkan kontingen Volley juga, saya siap untuk melatih mereka selama satu bulan ini.”
“ Sebenarnya itu adalah permasalahannya, kita tidak hanya menimbang untuk soal kontingen. Inginnya sekolah juga pasti akan membawa kontingen sebanyak mungkin, tapi itu tentu saja akan menambah pengeluaran juga.” Lanjut pak kepala sekolah dengan jawaban yang padat.
“ Tidak ada dana tambahan dari Kabupaten atau Provinsi pak?”
“ Sedang diusahakan. Nanti Ibu wakil kepala sekolah yang akan mengurusi untuk segala keperluannya. Yang terpenting sekarang jumlahnya yang harus segera diselesaikan. Nanti ibu Sanah saya minta tolong untuk membantu Ibu Marhumah daam hal persiapannya, terutama dibagian anggaran. Sementara untuk pak Hanafi dan bu Dania, saya minta kesediaannya untuk mempersiapkan kontingennya, jumlah, dan sebagainya.” Kata Pak Wirman.
“ Perlombaan dari keagamaan apa saja pak?” Tanya Dania.
“ Untuk perlombaan dibidang agama, sejauh yang saya terima adalah perlombaan baca Al Qur’an, dialog Bahasa Inggris, dan cerdas cermat. Itu yang harus dipersiapakan. Tadi saya dan Ibu Marhumah sudah membicarakan sisi baik dan buruknya, dan kami berdua mengambil sedikit wacana kalau untuk tahun ini sekolah hanya mengikuti empat jenis perlombaan saja, dua untuk olahraga dan dua untuk keagamaan, sekali lagi ini untuk menekan biaya pengeluaran. Namun alangkah baiknya bila seorang kontingennya bisa berlomba di dua atau tiga jenis perlombaan, itu lebih baik lagi.” Lanjut kepala sekolah.
“ Sangat disayangkan kalau prestasi siswa tidak dapat difasilitasi pak. Tapi untuk opsi kedua sepertinya saya setuju. Untuk perlombaan keagamaan rasanya satu kontingen bisa untuk dua perlombaan. Hindun misalnya, dia pernah menjuarai membaca Al Qur’an dan juga cerdas cermat. Jadi, kalau di bagian keagamaan, saya yakin sekolah punya banyak kontingen pak!” Kata Dania.
“ Kalau dari keolahragaan sepertinya memang cukup dua saja pak, dengan catatan sekolah benar-benar mengirim kontingen terbaiknya. Volley dan Basket rasanya prestasi kita belum berkembang, jadi sangat tidak bijak kalau kita memaksakan kehendak kepada mereka untuk tampil baik, apalagi ini sudah berada di level tertinggi. Kalau untuk Futsal dan Badminton, sekolah sudah punya aset. Sekarang kita punya atlet yang terbilang cukup berprestasi seperti Fikri, Zul, Ahmad, Jais, sama Annisa, mereka atlet sekolah kita yang memang sudah teruji skillnya.” Tambah Hanafi meyakinkan.
“ Bagaiamana bu Jumiati?” Pak Wirman melirik wakilnya.
“ Kalian berdua ini memang cocok. Kalau mendengar kalian berdua rasanya kita selalu punya optimistis. Karena itu saya nanti akan membuat kebijakan-kebijakan bersama pak kepala sekolah, semoga semuanya bisa terfasilitasi dengan baik. Kalian berdua sekarang mulai mengadakan pendekatan kepada calon kontingen yang akan kita kirim kesana. Saya percaya pada kinerja kalian berdua, dan saya yakin tahun ini kita akan kembali membawa pulang prestasi yang membanggakan.” Kata Ibu Marhumah.
“ Untuk Ibu Nurhasanah, seperti yang tadi pak Wirman katakan, ibu bantu saya ya untuk bagian administratifnya.” Lanjutnya.
“ Baik bu.” Jawab Nurhasanah singkat.
“ Baik bu,” Dania dan Hanafi koor menyahut bersama.
“ Baik, sementara saya akan jelaskan singkat soal perlombaan ini. Kebetulan panitianya sudah mengirimkan filenya, akan saya tampilkan ke slide.” Kata ibu kepala sekolah.
Sebuah video diputar di proyektor, menampilkan kota Yogyakarta, kampus UIN Sunan Kalijaga yang nantinya akan menjadi lokasi penyelenggara. Dania hanya tersenyum melihat video tersebut. Ingatannya melayang saat beberapa puluh minggu yang lalu Satrio kerap mengirimkan fhoto-fhoto seputar Jogja, tidak hanya tempat-tempat menariknya namun juga jenis makanan dan budayanya. Keinginan Dania untuk sampai di kota istimewa itu sepertinya akan segera terwujud sebentar lagi. Dulu Satrio selalu bercerita akan mengajak Dania ke Pantai Parangtritis, pantai yang tersohor itu. Satrio juga akan mengajaknya ke Malioboro. Rasanya tidak sabar menunggu waktu itu tiba. Sebulan ini rasanya Dania tidak akan tidur nyenyak, bukan karena masalah perlombaan tapi karena keinginannya untuk sampai di kota Jogja akan terus menghantui pikirannya.
Angannya melayang begitu sampai di kota itu maka dia jalan-jalan kemanapun yang dia mau. Ke Malioboro, menuju kepantainya, atau berfhoto di depan candi, dan tentu saja ada Satrio atau Hanafi yang menemaninya. Satrio sepertinya tidak akan menemani, karena kabarnya dia tengah interview sebagai dosen di Pekanbaru. Kalau Satrio diterima sebagai dosen, tentulah dia akan di Pekanbaru, bukan di Jogja. Kalaupun itu terjadi, maka Hanafilah yang beruntung akan menjadi teman perjalanannya selama di Jogja. Hanafi jelas akan menjadi temannya karena dia memang sudah pasti akan ditunjuk untuk ke Jogja sebagai pembimbing kontingen. Mungkinkah semua ini sudah memang sudah digariskan kalau Hanafi secara kebetulan akan terus ada didekatnya. Perjalanannya akan menyenangkan dan tentu saja akan membuat iri guru-guru yang lain.
Dania tersenyum kalau membayangkan bagaimana ekspresi guru-guru dan teman-temannya yang selama ini mengidolakan Hanafi begitu tahu kalau Hanafi akan bersama dirinya selama di Jogja. Dania bisa dibilang akan dianggap beruntung atau setidaknya dia sudah memenangkan sedikit kompetisi untuk merebut hatinya Hanafi. Meskipun begitu rasanya kedekatan mereka selama ini berjarak, entah kenapa Hanafi sepertinya memberi jarak antara dirinya dengan Dania. Hanafi memang perhatian dan kerap memberi kemudahan, namun Dania juga sangsi kalau Hanafi memiliki perasaan kepadanya. Hanafi mungkin selalu tersenyum manis dan mengulurkan tangan ketika Dania membutuhkan bantuan, tapi itu hanya sebatas kehidupan di sekolah, diluar itu Hanafi sepertinya memberi jarak dan itu yang membuat Dania merasa bahwa Hanafi hanya menganggapnya sebagai rekan kerja, dan dirinya yang terlalu percaya diri dengan semua anggapan bahwa Hanafi yang pantas untuknya. Dibalik itu semua, Hanafi sepertinya tidak pernah menganggap semua itu sebagai hal yang besar, terlihat bagaimana dia memperlakukan Dania. Tidak ada yang istimewa.
***
Sungguh betapa memalukannya sikap Zulfikar kali ini. Malam minggu yang cerah menjadi hal memalukan selama hidup Dania. Itu terjadi begitu mereka berdua keluar dari sekolah dan menuju ke sebuah kafe di daerah Jalan Sudirman. Tidak hanya marah-marah kepada pelayannya namun juga sudah melecehkan pelayan itu dengan menyiramkan minuman ke kepala pelayan itu. Padahal masalahnya hanya sederhana, si pelayan salah memberikan pesanan, harusnya yang dipesan Zulfikar adalah gurame namun yang di antarkan adalah lele goreng. Tidak hanya salah dengan pesanan, si pelayan juga menumpahkan sambal tepat di bajunya Zulfikar. Bukan Zulfikar namanya kalau tidak menyombongkan kekayaannya, namun kali ini dia benar-benar keterlaluan. Zulfikar menghina si pelayan bahkan mengatakan si pelayan sebagai perempuan yang tidak benar. Dania yang melihat kejadian tersebut rasanya ingin pergi menjauh karena tidak tahan melihat orang di hina dan dibentak seperti itu. Berulang kali dia menenangkan Zulfikar, bahkan menyeret laki-laki itu pergi dari kafe. Akhirnya keduanya hanya terdiam di taman kota. Dania berulang kali meminta pulang tapi lelaki itu tidak mengubrisnya. Zulfikar justru meminta maaf karena tadi sedikit emosionil. Taman kota memang ramai seperti biasa, tapi rasanya seperti tempat yang buruk bagi Dania. Zulfikar adalah penyebabnya. Kejadian tadi masih membekas didalam hati Dania. Sepertinya Zulfikar akan terus seperti itu dan tidak akan berubah.
“ Aku itu tidak pernah suka ya bang kalau abang itu sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit main kasar. Bosan aku bang!” Protes Dania.
“ Orang seperti itu harus diberi pelajaran Dania. Miskin tapi belagu.”
“ Abang! Tolong ya, berhenti berkata seperti itu.” Bentak Dania.
“ Oh kenapa, kamu mau membela pelayan bengak itu. Mereka tidak professional Dania, atau ini hanya manuver kamu saja biar menjauh dari aku lalu kamu akan dekat si taik Hanafi itu, mau jadi pelacurnya guru tidak jelas itu?” Kata Zulfikar berapi-api.
Plaaak!
Dania menampar Zulfikar dengan kerasnya. Ini adalah puncak kekesalan pada Zulfikar hari ini. Sudah bersalah namun tingkahnya malah menimbulkan kemarahan. Dania mengambil tasnya dimobil, setengah berlari Dania beranjak meninggalkan Zulfikar yang hanya melongo tanpa bisa berkata apa-apa. Tanpa Daia sadari, ponselnya terjatuh di dashboard. Zulfikar memungutnya dan kemudian melajukan mobilnya secepat kilat mengejar Dania yang hilang di gelapnya malam.
***



Bagian 5 : Menemukan Takdir

Seakan petir menyambar di siang bolong ketika Satrio menerima pesan Whatsapp dari Dania malam itu. Badannya menggigil dan kakinya mendadak gemetar hebat. Tanpa sadar Satrio jatuh bersimpuh di lantai marmer, tak bisa rasanya dia bangun dan berdiri lagi. Ponselnya juga terlepas seketika dikasur. Dengan memeluk erat kepalanya Satrio meringkuk dilantai. Kepalanya mendadak pusing, dan entah darimana asalnya tiba-tiba airmata sudah membanjiri pipinya. Tangisnya pecah. Sosok lelaki kuat yang selama ini menjaga ketegaran dan kesabarannya runtuh seketika. Dunia ini seperti menghimpit tubuhnya dan mematahkan setiap tulang-tulangnya, begitu juga dengan benda-benda yang ada di kamar hotel itu seakan-akan memukul keras tubuhnya.
Satrio meringkuk dilantai dengan terus sesenggukan meratapi dirinya. Tubuhnya terguncang dan tangisannya tak dapat berhenti. Hampir berjam-jam lamanya dia terbaring lemas tanpa mampu bergerak. Dering ponsel yang berulang kali tak dijawabnya. Jam di dinding kamar hotel tempatnya menginap itu terus berdetak seakan menghitung seberapa lama lelaki tampan itu terus terbaring dan sesengukan di lantai. Sampai matahari muncul di timur dan bergelincir kearah barat Satrio tetap meringkuk dibawah ranjang. Tatapannya kosong. Mendung airmata yang memenuhi rongga matanya berkali-kali banjir dan meluap.
Pesan singkat sebanyak 160 karakter yang dikirimkan Dania malam itu memang berhasil meruntuhkan hatinya. Penantian cinta bertahun-tahun hilang seketika. Di pesan singkat hanya menanyakan kabarnya, dan yang paling menyakitkan adalah tulisan diakhirnya dimana Dania menulis bahwa Satrio jangan mengharapkan jawaban akan cinta Dania lagi dengan alasan yang membuat Satrio langsung jatuh bersimpuh dilantai. Dania hamil. Tidak terbayangkan bagaimana bisa semua itu terjadi. Diujung penantian dan pengorbanan hatinya, Dania masih tega menyakitinya sekali lagi. Luka itu begitu besarnya. Rasanya ingin dia berteriak sekeras mungkin agar seluruh dunia tahu betapa pedih yang dirasakan saat ini. Hatinya bak luka yang disiram oleh air garam lalu dipanaskan ke dalam oven membara.
Sungguh tak pernah menyangka bila Dania bisa berbuat begitu. Penilaiannya terhadap Dania hilang seketika. Sakitnya bukan main hati Satrio memandang wajah Dania yang menjadi wallpaper di ponselnya itu. Ingin sekali dia membanting dan melemparkannya sehingga wajah itu tak lagi dilihatnya.
“Dania,....”
Berulang kali kata-kata itu keluar dari mulutnya. Cintanya pada Dania yang sebesar dunia serasa hilang begitu saja. Teganya Dania mencampakkan cintanya begitu saja demi orang lain. Jadi inilah jawaban yang harus diterima. Rasanya hilang sudah semua pengharapannya di kota ini. Tempat dimana dia dilahirkan namun cinta membuat dirinya begitu membenci kepulangannya. Ingin rasanya dia bangun dan terjun melakui balkon lantai tiga hotel itu. Dadanya terus bergemuruh. Tanpa disadarinya, Satrio terbaring lemas dan hanya bisa berguling-guling di lantai keramik dari malam hingga malam lagi. Kaki-kakinya sudah tak mampu menyangga berat tubuhnya. Ini adalah penderitaan terbesar didalam hidupnya. Luka karena cinta membuat tubuhnya menjadi rapuh seperti daun kering yang diremas-remas. Berulang kali Satrio memanggil nama Dania dan bayangan bunuh diri melintasi alam pikirannya, namun lagi-lagi dia tak mampu melakukan apapun, selama itulah dia hanya bisa terbaring tak berdaya di lantai kamar hotelnya.
***
Dering ponsel berulang-ulang membangunkan Satrio.
Satrio bangun dan meraih ponselnya. Ada puluhan panggilan dan pesan masuk terpampang di layar ponselnya, yang terbanyak adalah dari Ali, teman partner kerjanya di Jogja. Ada apa kiranya, pasti ada masalah urgent seputar pekerjaan. Di tekannya tombol telepon.
Tuuuuuuuuuuuuut, Tuuuuuuuuuuuuuuuutt
Lama tidak ada yang merespon. Satrio melirik kearah jam, sudah jam sepuluh lebih dua puluh lima menit. Di bukanya balkon kamarnya, sudah gelap. Dilihatnya tanggalan di ponselnya, sedikit kaget rasanya. Sudah sehari dua malam dia terkampar di lantai, belum mandi, belum makan. Matanya masih sedikit buram karena sepanjang hari berulang kali airmatanya tak berhenti. Akhirnya dia baru sadar betapa cengeng dirinya. Hanya karena persoalan hati dia menanggalkan kewibawaan dan kebesaran jiwanya. Berulang kali menelepon, akhirnya disambut juga. Suara khas diujung sana langsung membuyarkan lamunannya.
“ Halo bos, gimana? Baru bangun lu?” Suara Ali Hidayat ditelepon.
“ Maaf, ane baru sempat balas. Ada apa lu nelpon banyak bener ya?”
“ Gini bos. I got some problem nih. Soal pekerjaan.” Suara Ali. “ Jadi, pak Ferdy managernya Kencana Inn yang di Semarang itu ngajakin meeting sama kita sekitar dua hari lagi. Masalahnya pak Ferdy tidak mau diwakilkan. Nah gue sekarang posisinya ada di Malang sampai seminggu kedepan.” Lanjutnya.
“ Lalu masalahnya dimana?” Tanya Satrio.
“ Masalahnya di elu. Elu kapan balik ke Jogja?, pak Ferdy ngototnya pengen ketemu sama elu, elu sebagai CEO nya Denia Travells, pastilah ada prospek bagus tuh kalau dilihat dari lagaknya. Gue udah bilang kalau elu lagi Pekanbaru, bisa sih meetingnya sama gue, tapi gue khan lagi nggak di Jogja. Terus yang kedua, ada undangan pembicara seminar di dua tempat untuk bulan depan, kali ini elu jangan minta gue buat mewakilin soalnya gue lagi ribet banget. Gue masih ada urusan urgent di Malang.”
“ Tidak bisa diwakilkan sama Wisnu?, dia khan Public Relation, atau via telepon saja tidak bisa, jaman khan sudah canggih?”
“ Kagak bisa bos. Gue udah bilang begitu.” Kata Ali.
“ Ya mungkin memang ada yang penting, Ali.” Kata Satrio.
“ Terus bagaimana?” Tanya Ali lagi.
“ Telepon lagi pak Ferdy, atur ulang janjian empat hari lagi. Gue besok sudah berangkat lagi ke Jogja.” Kata Satrio.
“ Yakin urusan lu udah kelar?” Tanya Ali.
“ Semua sudah selesai. Hasilnya nanti menunggu saja. Sementara gue memang harus kembali ke Jogja dulu. Begitu.” Kata Satrio.
“ Oke bos. Siap. Sampai ketemu di Jogja ye!” Kata Ali.
“ Oke Ali. Gue tutup ya teleponnya. Wassalamualaikum.”
Tuuuuut Tuuuuut.
Satrio kembali meletakkan ponselnya ke kasur. Sejenak kemudian diambilnya lagi. Dia otak atik sebentar lalu kembali diletakkannya. Wallpaper yang tadinya adalah kumpulan fhoto Dania sudah berganti dengan gambar kucing. Ternyata tidak hanya wallpapernya saja yang diganti, namun semua file yang berhubungan dengan Dania juga dihapus. Demikian juga dengan semua chat nya dengan Dania, namun sejenak ada keraguan saat hendak menghapusnya, jadi diurungkan saja.
Aaaakhhhh! Sial!
Dibantingnya ponselnya itu kekasur. Kemudian buru-buru bangun dan menuju kekamar mandi. Ditutup pintunya dengan keras kemudian disiramkan air sebanyak-banyaknya agar semua beban fikirannya saat ini bisa hilang begitu saja bersama dengan air yang mengalir.
Kepalanya masih berdenyut-denyut. Perutnya juga sakit karena memang sejak kemarin belum terisi makanan. Badannya tidak karuan pegalnya. Namun lagi-lagi pikirannya melayang ke sosok Dania, mungkin disana Dania tengah tertawa bahagia ataukah sedang dirundung kemalangan yang sama seperti dirinya. Berita yang diterima dari Dania sendiri sepertinya akan menjadi mimpi buruk sepanjang hidupnya. Entah bagaimana caranya dia akan hidup setelah ini dengan harus menghilangkan bayangan gadis yang beberapa waktu yang lalu ditemuinya itu.
Dinyalakan shower dan membiarkan airnya menyiram tubuhnya. Segar memang, namun lagi-lagi tidak menimbulkan perubahan apapun dengan perasaan hatinya.  Hampir sejam dia menyiram tubuhnya. Setelah hampir mati menggigil kedinginan, Satrio keluar kamar mandi. Tas ransel berisi tas itu dibuka dan dikeluarkan isinya, lagi-lagi ada fhoto Dania yang dia temukan. Diambilnya, diremas, kemudian dilemparkan ke tong sampah plastik yang ada di sudut kamar. Diambilnya kaos berwarna biru muda dan celana jeans nya. Dirapikan kembali tas nya. Setengah gontai  Satrio mengambil handphonenya dan segera keluar meninggalkan kamar hotelnya. Tujuannya adalah restoran yang ada didepan hotel tempatnya menginap. Setengah berlari kecil dia menelusuri tangga lorong menuju lift. Sapaan beberapa orang yang ditemuinya juga tak dihiraukannya. Satrio terus fokus dan berlari-lari kecil menuju restoran. Perutnya sudah melilit minta diisi.
Beberapa mobil mewah melintas didepannya. Hampir Setengah berlari Satrio menyebrang jalan. Restoran di depan hotelnya itu memang buka 24 jam, jadi meskipun tengah malam begini masih buka. Ini adalah hari ketiganya di kota Pekanbaru. Tengah malam begini suasananya memang sudah tak seramai sore namun beberapa kendaraan masih terus melintas tak berhenti-henti. Beberapa pedagang yang membawa gerobak dengan dagangan nasi goreng juga tampak melintas di trotoar. Beberapa pasangan muda-mudi juga tampak lewat berjalan kaki melintasi restoran. Wajarlah karena lokasinya memang dekat kampus UNRI, jadi mungkin itu adalah mahasiswa yang menghabiskan malam dengan pasangan kekasihnya. Satrio memang sengaja memilih menginap di hotel didekat kampus, agar tidak terlambat menuju kampus. Meskipun semua sudah gampang karena adanya aplikasi transportasi online namun tetap saja untuk menghemat biaya Satrio mmilih lokasi terdekat. Kota Pekanbaru sangatlah berbeda dengan Jogja. Tiga hari di kota ini entah sudah berapa ratus ribu yang dia keluarkan. Pertama datang saja dia geleng-geleng dengan harga menginap dihotel yang rasanya begitu mahal. Sebagai seorang owner biro perjalanan wisata, tentulah dia paham betul harga hotel standar. Namun lagi-lagi pasti ada kelebihannya kenapa harganya mahal, fasilitasnya, kemewahannya, akses lokasi, hiburan, dll. Sangatlah dimaklumi. Setiap kota pasti memiliki perbedaan, selalu ada, namun tetap saja ada kelebihan dan kekurangannya.
Restoran yang ditujunya juga makanannya tidak murah. Untungnya Satrio bukan tipe yang memilih murah. Untuk soal makan Satrio memang begitu memperhatikan. Baginya pekerjaan yang hebat juga harus sebanding dengan asupan gizi untuk tubuh. Restoran ini bukan restoran padang, namun seperti restoran yang menjual masakan Indonesia. Sejak kemarin memang Satrio selalu makan di tempat ini. Karena mungkin ini yang paling berbeda dengan restoran lain di sekitar hotel lainnya. Bukan Pekanbaru namanya kalau tidak dikuasai oleh populasi warung nasi Padang. Populasi warung nasi Padang di kota Pekanbaru itu seperti populasi warung Burjo Warmindo di kota Jogja. Itu sebabnya ada sisi menarik dari restoran ini. Namanya juga cukuplah berkelas. “ Restoran Wilhemnia” terpampang di depan restoran. Namanya seperti nama-nama khas Belanda atau ada unsur-unsur monarki, namun menjual masakan Indonesia. Aneh memang. Namun itu jauh lebih menarik dibanding restoran-restoran disebelahnya yang memiliki nama khas Minang, seperti Dua Saudara, Tiga Saudara, Empat Saudara,dan sejenisnya.
Malam itu restoran tidak terlalu ramai. Mungkin dari 20 kursi melingkar hanya lima kursi yang terisi yang rata-rata berjumlah dua orang. Satrio memilih kursi yang terdekat. Suasana  restoran itu lebih mirip seperti food court. Gaya penataan interiornya juga khas Sumatera dimana menggunakan kursi dan meja. Diatas meja lengkap berisi kerupuk, air mineral. Asbak, tusuk gigi, garam, saus, dan kecap. Tidak ada buku menu. Karena kalau mau memesan sesuatu tinggal bersiul atau tak lama setelah duduk seorang pramusaji akan datang dan menanyakan pesanan.
Benar saja dugaannya, tak lama kemudian datanglah seorang pramusaji menghampirinya. Senyumnya manis namun terkesan dipaksakan. Terlihat matanya sudah sembab dan mengantuk.  Satrio memesan ayam penyet dan teh hangat. Benar khan, makanannya semua yang tertulis di menu adalah menu khas Nusantara. Jadi apa gunanya menulis nama restoran keren kalau isi menunya tidak ada beda dengan warung kaki lima? Tempat yang aneh. Setidaknya itu adalah hiburannya malam ini. Tak pantas rasanya dia berlarut dalam kesedihan meratapi sosok wanita yang dicintainya itu. Life must go on. Mungkin memang seharusnya dia harus tahu kalau Dania takkan pernah menjadi miliknya.  Dulu jarak yang menjadi penghalang, rasa percaya Dania yang tak pernah membuka ruang untuknya,dan sekarang dengan tegas Dania yang mengatakan kalau Satrio harus menjauhinya karena ada laki-laki lain yang harus memiliki Dania selamanya. Mungkin dia memang harus menerima ini semua. Pergi jauh dari semua ini dan membuka lembaran baru. Besok dia akan pulang kerumah, lalu setelah itu akan kembali ke Jogja. Disana dia akan memulai hidupnya sebagai Satrio yang dulu, yang bisa hidup tanpa Dania.
***
“ Ke Jogja lagi?”
Aisyah, ibu Satrio mendelik mendengar perkataan anaknya itu. Rasanya baru beberapa hari dirumah, sudah harus pergi lagi. Rasanya rindu di dadanya belum tuntas tapi ditinggal lagi oleh anak terkasihnya. Kemarin pulang langsung ke Tembilahan, pulang kerumah lalu berangkat ke Pekanbaru, sekarang di rumah dan akan berangkat ke Jogja lagi. Entah apa maunya anak ini. Pergi-pergi terus.
“ Pekerjaan, mak.” Jawab Satrio.
“ Mak pikir kamu akan pulang lama Satrio. Kamu pulang tiga bulan yang lalu, sekarang hanya seminggu disini. Bukankah itu terlalu buru-buru. Kangen mak belum terpenuhi, anakku. Tunggulah, seminggu lagi.” Kata Ibunya.
Satrio menyandarkan badannya ke kursi kayu sambil menatap ke arah dinding ruang tamu rumahnya. Ada fhoto-fhoto wisuda mulai dari kakaknya sampai dirinya ada disana, sebuah kebanggaan bagi orangtua. Sungguh, sebenarnya ingin sekali dia lebih lama dirumah ini. Rumah ini adalah tempat ternyaman baginya untuk sembunyi dari segala permasalahan dirinya.
“ Ibu tahu kalau pekerjaanmu memang sedemikian membuat sibuk. Mak juga tidak bisa dan tak mampu memaksa dirimu kalau memang sebegitu pentingnya dibutuhkan disana. Pekanbaru saja sedemikian jauh bagi mak nak, apalagi Jogja.” Lanjut ibunya. “ Atau kamu ada masalah lain sehingga ingin buru-buru pergi nak?”
Tanpa sadar airmata Satrio menetes tiba-tiba membasahi pipinya. Sudah sedemikian kuat membendung namun tak mampu menahan buncahan airmata itu. Satrio sesengukan. Ibunya terkejut dengan tingkah anaknya. Satrio bukanlah orang yang cengeng. Satrio bahkan tidak menangis saat ayahnya meninggal dulu, namun bila kali ini dia mengucurkan airmata pastilah ada satu hal yang membuat anak laki-lakinya itu runtuh ketegarannya. Anak laki-lakinya itu memang dari dulu selalu sabar dan tegar meskipun begitu banyak masalah yang menghadang, bagaimana bisa laki-laki kuat itu mendadak bisa mengucurkan airmata dan menangis tersedu bila tidak ada sebab yang benar-benar menyiksa batinnya.
“ Ada apa nak? Kamu kenapa?”
Dipeluknya anak laki-lakinya itu dengan erat sehingga airmata Satrio tumpah didadanya. Satrio sesengukan bagai anak kecil yang baru saja mengalami hal buruk dalam hidupnya. “ Ada apa Satrio, bilang sama mak.”
“ Rasanya hidup Satrio sudah tak berhasrat lagi mak. Apalah arti hidup ini bila wanita yang paling Satrio cintai jatuh kepelukan laki-laki lain. Hidup ini hanya sebuah kehampaan mak, dan Satrio berjalan sendiri sementara setiap langkah Satrio terus dibayangi oleh luka yang sedemikian pedih.”
Aisyah memeluk semakin erat anak laki-lakinya itu.
Sekarang dia tahu apa yang sedang dialami anak itu. Sungguh maha dahsyatnya cinta yang menciptakan kebahagiaan dan kesakitan dalam hidup manusia. Benar kata orang bijak kalau hanya cinta dan perasaan yang dapat melukai diri manusia demikian pedihnya. Sekarang dia menyaksikan sendiri anak lelakinya menjadi korban cinta manusia. Tak mampu dia menyaksikan betapa terkoyaknya hati anaknya itu.
“ Satrio,....”
Hanya kata-kata itu yang mampu terucap. Tanpa disadarinya, Aisyah juga ikut meneteskan airmata. Satrio sang anak tegarnya itu meringkuk di sofa dengan airmata dan tangis yang terus menerus menguasai dirinya. Betapa menyedihkannya melihat kondisi buah hatinya itu. Perlahan diusapnya kepala buah hatinya dengan segala kasih sayangnya.
“ Mak tidak tahu seperti apa dirinya. Mak yakin dia pasti cantik seperti bidadari yang bersinar dan mampu membuatmu selama ini bisa hidup dan menjadi laki-laki kuat, nak. Satrio yang mak tahu selalu gagah dan menjadi kebanggaan mak, bukan Satrio yang menangis dan terpuruk karena cintanya yang tak terbalas.” Kata Aisyah.
“ Cinta kepada manusia takkan abadi nak. Semua orang pasti akan merasakan pertemuan dan perpisahan. Bukan hanya kamu saja. Mak juga merasakannya. Mak begitu mencintai ayahmu, mak ikuti kemana ayahmu pergi keujung dunia sekalipun, dan itu yang membuat kami akhirnya bisa sampai ke Sumatera ini. Tanah dimana kamu dan kakak-kakakmu lahir dan besar. Tidakkah kamu bisa merasakan bagaimana saat mak melepas kepergian ayahmu saat meninggalkan dunia ini? Orang yang membuat mak rela meninggalkan tanah kelahiran mak, menyerahkan hati dan jiwa mak, dan sekarang mak sendirian ditinggalkan olehnya?”  Lanjut Aisyah.
“ Bila kamu melihat bagaimana mak bisa tersenyum sekarang dengan kamu, dengan saudara-saudaramu, dengan cucu-cucu mak, itu tak sebanding dengan rindunya mak akan ayahmu. Kepergian ayahmu selalu menyisakan rasa kehilangan yang selalu menghantui mak sepanjang sisa hidup mak. Itulah kehilangan sesungguhnya Satrio. Kadang mak duduk sendiri didepan rumah, melihat jalanan, menanti sesuatu tapi mak tidak pernah tahu apa yang mak tunggu...”
Ucapan ibunya itu sungguh semakin mengoyak kebimbangan hatinya. Sungguh betapa malunya dia telah menangis didepan ibunya. Rasanya memang tak pantas dia menangisi kehilangan dirinya yang memang belum menjadi milik kita. Ucapan ibunya membangkitkan sisa jiwanya yang sudah tak kuasa lagi menempatkan nafas di kantung jantungnya.
“ Ketulusan cintamu yang akan membuat cinta itu menjadi hasrat membangun jiwa nak. Ketulusan dan keikhlasan mencintai akan selalu dipandang oleh Tuhan.  Semakin tulus kamu mencintainya, kamu takkan pernah takut kehilangan. Kehilangan yang kamu rasakan sekarang itu karena besarnya keinginanmu untuk memilikinya. Itu bukan cinta nak. Cinta itu suci dan tulus, apa yang kamu beri, senyuman yang tergambar dibibirnya karenamu, dan tawanya yang selalu menceritakan bahagia itulah cintamu. Bila kamu berhasrat memilikinya untuk menjadikannya milikmu selamanya maka yang akan kamu lakukan adalah melakukan apa saja untuk itu dan ketika kamu kehilangan, maka kamu akan kehilangan pegangan, karena kamu telah mempertaruhkan seluruh hidupmu padanya. Bila kamu mencintainya, kamu akan terus berusaha membuatnya bahagia, dengan cara apapun, dimanapun. Mungkin dia tidak akan peduli seberapa besar cintamu padanya, tapi bila kamu mampu sekejap saja membuatnya bahagia maka dia akan tahu besarnya cintamu padanya.”
“ Itu berarti aku harus merelakannya?” Tanya Satrio.
“ Cinta tak harus memiliki nak. Bila hatimu bersih dan baik, Tuhan akan mendatangkan yang lebih baik. Bila ternyata dia adalah jodohmu, maka dia yang terbaik dan kamu sedang di uji oleh perasaanmu sendiri.”
Sungguh perkataan ibunya kali ini benar-benar meresap tenggelam dalam merasuki hatinya, seakan air sejuk yang menyiram daun-daun jiwanya yang mendadak layu. Memang kali ini dia harus berani menghadapi hidup. Tekad baru berkembang. Satrio bangkit dan memeluk erat ibunya. Diciumi perempuan hebat yang cintanya tak pernah luntur baginya itu. “ Terima kasih mak. Sekarang Satrio lebih tenang.”
Ibunya memeluk erat Satrio seakan mengiyakan. Satrio begitu damai dipelukan ibunya. Rasanya memang berdosa bila dia mengabaikan rindu perempuan terbaik dalam hidupnya itu. Sejenak diputuskan untuk menunda kepulangannya seminggu lagi. Dia akan lebih lama dirumah ini, menghabiskan waktu bersama dengan ibunya, seterlah itu dia akan kembali ke aktifitasnya lagi.  Tak peduli seperti apa nanti pekerjaan dan rutinitas memanggil. Liburan ini harus bermakna. Lupakan sejenak tentang Dania, biarkan dia berbahagia dengan hidupnya. Seperti kata ibunya, merelakan dan ikhlas adalah hal terbesar dalam percintaan. Dia akan memulainya. Mulai detik ini.


BERSAMBUNG