Halo readers, bentar lagi Natal dan tahun baru nih. Sudah kepikiran mau traveling kemana di tahun 2019 nanti? saya percaya kamu pasti sudah mulai merencanakan mau kemana, berwisata kemana untuk merayakan tahun baruan. Jujur, saya sempat iri dengan beberapa postingan teman-teman yang belum sampe tanggal 25 Desember sudah berangkat untuk berlibur ria, ada yang keluar negeri, ada yang keluar kota dll. Sementara saya malah justru dihimpit oleh deadline tugas-tugas negara. Naluri untuk traveling saya yang memang terlahir sebagai seorang traveler sejati ini memberontak. Namun apa daya ya gaes, kudu bisa menahan diri. Alasan finansial sedang terpuruk, deadline, dan beberapa hal lain membuat saya berencana untuk tidak kemana-mana hingga awal bulan depan. Dengan kata lain ini akan menjadi perayaan tahun baruan pertama dimana saya tidak kemana-mana. Well, tidak masalah, karena biasanya sehabis liburan semester saya akan kembali bertemu dengan deburan ombak ataupun sejuknya dedaunan hijau. Ya semoga saja.
  

Karena tidak ada aktifitas traveling hingga akhir tahun, jadinya sama minim konten ya gaes. Saya memutuskan untuk belajar tentang keyword Google Planner, Adsense, hingga Hosting untuk memperkaya pengetahuan seputar blogging. Bahkan sempet mengunduh template untuk blogataupun mencari informasi tentang optimazi blog dll. Ujung-ujungnya saya kembali membuka galeri di laptop saya gaes, kira-kira apa nih yang belum saya up. Wah ternyata banyak sekali galeri traveling saya yang memang belum pernah saya posting sebelumnya. Menarik. Akhirnya saya punya konten lagi untuk Traveling in Indonesia ini. Walaupun merupakan barang 'lama' tapi semoga kamu menikmatinya. Buat saya ini semacam harta karun gaes. Buat para Indonesia Travel Guide yang lain yang punya galeri foto-foto selama perjalanan pokoknya kudu di keep, biar sewaktu-waktu punya foto menarik yang bisa membawa kita kembali ke masa menyenangkan itu.
Nah, untuk kali ini saya akan cerita soal salah satu destinasi wisata yang memiliki kaitan erat dengan masa kolonial di Indonesia readers, dari judulnya saja sudah terlihat ya kemana tujuan saya di traveling kali ini. Yappp, Benteng Vredeburg. Benteng ini memang memiliki kaitan erat banget dengan masa kolonial Belanda dulu. Bangunan yang didirikan oleh residen Belanda pada masa itu memang murni sebuah benteng pertahanan,dimana dilengkapi dengan tembok yang tinggi, parit, menara pengintai dll. Letaknya yang berada di depan Istana negara, tidak jauh dari Kraton Yogyakarta, dan juga dua bangunan bersejarah yang sekarang menjadi Kantor Pos dan Bank BNI membuktikan bahwa benteng ini memegang peranan penting pada masanya. As we know, pada masa penjajahan kolonial dulu VOC memang kerap campur tangan politik pada segala urusan yang ada di Kraton Yogyakarta, beberapa sumber mengatakan kalau benteng ini dibangun sebagai bentuk antisipasi VOC untuk berjaga-jaga kalau Kraton berpaling dari dan memusuhi VOC. Bagi yang belum tahu, Kraton pada masa penjajahan hingga era kemerdekaan itu menjadi tempat paling 'aman' dan 'sakral' baik bagi para pejuang maupun bagi para penjajah. Kraton seakan punya kekuatan tersendiri yang tidak bisa dilewati oleh penjajah. VOC sendiri berusaha 'memasuki' Kraton dengan berbagai cara, salah satunya dengan politik dan segala tipu dayanya.



Benteng Vredeburg sudah mengalami beberapa kali perubahan sebelum menjadi seperti sekarang readers, terhitung sejak tahun 1760 sampai hingga tahun 1970an benteng ini telah berpindah 'kepemilikan' beberapa kali. Secara yuridis sih tanah lokasi benteng ini adalah milik Kasultanan, namun karena kuatnya pengaruh VOC pada masa itu membuat benteng ini menjadi milik mereka. Hingga saat VOC bangkrut pada tahun 1799, benteng ini malah menjadi milik pemerintah Belanda secara de facto. Herman Willem Daendels, gubernur pada masa itu yang mengambil alih benteng pada tahun 1807 hingga 1811. Pada masa penjajahan Inggris yang cukup singkat benteng juga ernah dikuasai oleh Thomas Stamford Raffles pada 1811 hingga 1816. Begitu juga pada masa kedudukan Jepang di Indonesia di tahun 1942 sampai dengan 1945, benteng ini menjadi gudang persenjataan Jepang, markas, sekaligus rumah tahanan bagi orang Belanda maupun Indo Belanda. Seiring dengan perkembangan dan berbagai macam peristiwa bahkan setelah masa kemerdekaan hingga era G 30 S/ PKI benteng ini tetap digunakan untuk berbagai macam kepentingan.


Untuk pertama kalinya Benteng Vredeburg digunakan sebagai ajang Jambore seni terjadi pada tahun 1978 tepatnya pada 26 sampai 28 Agustus. Melalui Surat Keputusan Mendikbud RI Prof. Dr. Fuad Hasan nomor 0475/O/1992 tanggal 23 November 1992 secara resmi Benteng Vredeburg menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional dan memiliki nama baru Museum Benteng Yogyakarta. Semenjak menjadi museum lah Benteng Vredeburg resmi menjadi milik rakyat alias sudah mejadi public area dimana semua orang bisa memasukinya. Cukup siapkan karcis retribusi dan parkir, kamu bisa melihat-lihat ke dalam benteng. Pembenahan dan rekonstruksi bangunan menjadikannya lebih indah dan lumayan adem readers, juga banyak spot yang bisa dijadikan lokasi untuk berfoto. Saya pertama kali memasukinya bahkan untuk keperluan syuting film pendek. Cita rasa kolosal yang epic banget masih kuat melekat loh, pokoknya kamu tidak akan menyesal kalau mengunjunginya. Spot foto terbaiknya ada dari bagian depan, dibawah tulisan "Vredeburg', taman, dan patung-patung yang merepresentasikan masa perjuangan. Ada meriam juga loh readers. Mantep pokoknya.





Akses ke Benteng Vredeburg mudah banget readers. Karena lokasinya berada ditengah-tengah kota. Tepatnya di bagian timur Gedung Agung, dan berada dekat dengan bangunan Kantor Pos, Bank BNI, Titik 0 KM, dan Malioboro tentunya. Kalau naik kendaraan bermotor dari arah utara kamu perlu parkir dulu di Abu Bakar Ali dan berjalan kaki melewati Malioboro, atau kalau dari arah timur bisa langsung melewati Taman Pintar dan parkir mobilnya di tempat yang disediakan. Bisa juga di akses dengan menggunakan GPS atau transportasi online. Jam buka museum adalah pukul 09.00 sampai dengan pukul 16.00, hari libur dan tanggal tertentu memiliki jadwal yang berbeda. (HSA).

Traveling in Indonesia, Indonesia Travel Guide, Yogyakarta, Traveling, Plasa Hosting, Online Colleges, Mesothelioma Law Firm, Donate Car to Charity California, Insurance, Bukalapak, IWA