Perjalanan Waktu
Nyanyian Hidup Kotaku
Kebumen, Jawa Tengah
LIBURAN yang kujalani membuatku kembali mengijakkan tanah tinggi pedesaan tepatnya di sebuah daerah kecil di Kebumen Jawa tengah, tempat orangtuaku dulu dilahirkan. Sebuah desa yang buatku adalah tempat yang begitu menyejukkan jiwa dan bathinku setelah berkutat dengan segala kebisingan dikota pelajar yang penuh dengan bermacam-macam kesibukan, mulai dari jadwal kuliah yang padat, tugas menumpuk dan kegiatan diorganisasi. Belum lagi aktifitas rutin setiap akhir pekan bersama teman-teman yang kebanyakan adalah teman-teman wanita-wanita. Pola hidup yang tidak pernah berubah, selalu berjalan lalu terhanyut didalamnya menciptakan sebuah kebosanan dan pergi jauh dari cengkramannya adalah pelarian. Kegiatan jalan-jalan keluar kota, menikmati alam, mengunjungi keluarga atau hanya sekedar mencari selingan dengan melakukan perjalanan bisa menjadi kegiatan yang positif menghilangkan kejemuhan dalam hidup. Dan itulah yang sedang kujalani saat ini. Namun ini bukan hanya sekedar perjalanan membuang waktu, karena selain liburan Kebumen adalah salah satu tempatku melakukan penelitian untuk merampungkan tugas akhirku sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa tentulah tugas akhir menjadi saksi dari segala perjuangan selama menempuh pendidikan di universitas, bisa dikatakan bahwa bertahun-tahun yang dipelajari dari semester-semester sebelumnya adalah modal ketika mahasiswa menulis final projectnya yaitu tugas akhir.
Segala bentuk pemahaman mahasiswa tentang apa yang didapatnya selama menempuh di universitas juga mempengaruhi seberapa berkualitas tulisannya di tugas akhir. Dan memang tugas akhir ini cukup berat dan membutuhkan perjuangan lebih; tidak hanya berbicara soal bahan dan materi yang diangkat sebagai topik pembahasan, penelitian yang benar-benar penting untuk diangkat sebagai bahan, pengeluaran yang tidak sedikit sampai perjuangan melawan rasa malas ketika menuangkan semua bahan kedalam tulisan. Belum lagi ketika proses pembuatan tugas akhir dibimbing dengan dosen yang tidak memahami mahasiswa, yang hanya menomorduakan apa yang menjadi prioritas bagi mahasiswa akhir. Dan satu-satunya yang menjadi kesalahanku adalah : aku salah memilih judul.
Tentu saja judul itu penting untuk dibahas, karena pemilihan judul berpengaruh pada content dari tugas akhir dan juga kesulitan dalam mengerjakannya. Sebagai mahasiswa linguistik yang berkutat pada pemahaman bahasa maka tugas akhirku tidak jauh-jauh dari penggunaan bahasa, mixing antara bahasa satu dengan bahasa lain, perbandingan bahasa , dan topik lain yang masih berhubungan erat dengan pemahaman linguistik. Dan topik yang kuangkat sebagai bahan tugas akhirku adalah perbandingan penggunaan bahasa antara satu daerah dengan daerah lain. Entah ilham apa yang mendorongku untuk menemukan judul sebagus itu. Dari sudut pandang seorang dosen pembimbing tentu saja judulnya sangat bagus karena inti dari permasalahannya langsung menuju kepada aplikasi kebahasaan dalam konteks yang nyata, dan berita buruknya adalah dosen pembimbing memberikan tugas negara yang tidak tanggung-tanggung yaitu penelitian langsung ke daerah-daerah tertentu untuk menemukan bahan yang real dan orisinil. Tadinya aku berfikir bahwa ini bakal menyenangkan, mengerjakan tugas akhir sambil berpiknik-ria ke daerah-daerah yang bahkan sebelumnya belum pernah kudatangi. Namun ternyata kenyataannya berbeda, pihak target penelitian yang sebelumnya mengiayakan malah memintaku mengajar ditempatnya dan itu sama dengan mengulur waktu wisudaku walaupun secara istilah mungkin aku berhasil menciptakan peluang “sambil berenang minum air”.
Bahan skripsi yang membuatku menghabiskan banyak waktu dan pengeluaran dengan mendatangi atau tinggal di lokasi penelitian ini memang membuatku dekat dengan lingkungan baru. Dengan rekomendasi dari dosen pembimbing, total aku sudah menyelesaikan dua dari tiga target penelitianku. Dosen pembimbingku; namanya pak Saptohadiprawirodinoto atau biasa dipanggil pak wiro adalah master linguistik lulusan UNNES dan kenalan instansinya banyak dan beberapa diantaranya direkomendasikan sebagai target lokasi penelitianku diantaranya ada yang di kota Jogja, Magelang , Semarang , Gunungkidul dan tempat lain di Jawa tengah. Ketika di beri pilihan dari banyak instansi dan target lokasi untuk memilih tiga pilihan; aku memilih Kebumen , Gunungkidul dan kota Jogja. Alasannya adalah, Kebumen merupakan daerah asal orangtuaku dan keluarga mereka ada disana itu menjadikan penelitianku nanti tidak akan menjenuhkan. Aku memiliki tempat tinggal bersama keluarga, bisa lebih mengirit dalam hal pengeluaran budget. Kedua adalah Gunungkidul, sebenarnya sedikit kurang ngeh jika harus bolak-balik dari kota Jogja ke Gunungkidul karena memang pasti melelahkan, namun tenyata pak Wiro bemurah hati dengan memberikan rekomendasi lain yaitu di daerah Prambanan. Prambanan yang tidak jauh dari kota membuatku memberikan bintang lima untuk kebijaksaan dosen pembimbingku tersebut. Berita buruk kedua; pak Wiro mencoret kota Jogja sebagai lokasi terakhir penelitianku dan menggantinya dengan Magelang.
“Prambanan dengan Jogja itu tidak jauh bedanya, jadi saya lebih setuju kalau kota Jogja diganti dengan Magelang. Mas jangan khawatir, karena nanti disana ada teman semasa kuliah saya yang akan membantu. Nanti saya kabari,namanya pak Wiyoko. Orangnya baik dan ramah, beliau bekerja di dinas pendidikan di Magelang, beliau akan membantu mencarikan mas instansi untuk lokasi penelitian. Tenang saja mas.” begitu katanya ketika memberikan tugas negara ini.
“Begini pak, tidak masalah jika Magelang menjadi lokasi terakhir. Tapi bagaimana kalau di change saja misalnya Kebumen menjadi lokasi pertama, Magelang kedua dan yang terakhir adalah Prambanan. Ini penting pak, karena lokasi juga berpengaruh sepertinya,” Jawabku waktu itu.
“Oh ya kalau itu monggo njenengan atur saja sendiri, karena yang terpenting buat saya adalah pilihan lokasinya. Saya juga sudah mengira bahwa ketiga tempat ini memang memiliki perbedaan yang signifikan, jadi saya pikir tidak masalah mana yang mau didahulukan. Itu hanya teknis lapangan, dan njenengan harus lebih cerdas mengatasinya, itulah yang sebenarnya harus dilakukan mahasiswa. Jadi jangan sampai menemukan jalan buntu, harus ada penyelesaiannya.”
Dan itulah yang membuatku sedikit nyaman dalam mengerjakan tugas akhir ini,meskipun ternyata dilapangan dihadapkan problem baru yaitu harus tinggal dan mengajar. Namun berada dipedesaan kecil seperti di Kebumen ini membuatku begitu damai, warganya baik, ramah dan memiliki jiwa islami yang sangat menonjol. Jadi tak heran jika setiap waktu shalat telah tiba,maka semua pekerjaan akan ditinggalkan sejenak dengan berbondong-bondong mengisi masjid untuk shalat, mesti tetap ada juga yang shalat dirumah masing-masing, tapi sejauh masa penelitianku hampir semua warganya tidak meninggalkan kewajibannya untuk shalat lima waktu. Belum lagi jika senja telah tiba, masjid akan serasa hidup sampai pagi dengan puji-pujian sebagai bentuk syukur mereka. Dan semua keindahan itu menjadi inspirasi untuk lebih mengerti bahwa interaksi dengan tuhan adalah prioritas diatas segala hal yang berhubungan dengan manusia.
Berbicara soal interaksi antar manusia, satu bulan peuh tinggal di Kebumen rasanya logatku mulai berubah karena Kebumen yang merupakan sebuah kabupaten diJawa tengah mayoritasnya berbahasa jawa dengan bahasa percakapan sehari-hari yang memadukan bahasa jawa halus dan kasar yang menghasilkan sebuah komposisi bahasa yang penuh tekanan dan mungkin akan terdengar aneh ditelinga orang-orang melayu. Logat ngapak namanya. Aku beberapa kali mencoba dan ada yang berhasil dan sisanya menjadikan logatku justru terlihat aneh.
Sungguh sebuah pengalaman baru banyak kutemukan disini, sayangnya masa penelitianku berakhir dan pagi ini aku harus kembali ke Jogja untuk menemui pak Wiro dan melaporkan segala hasil dari satu bulan mengadakan penelitianku.
Kututup laptopku dan segera kumasukkan kedalam tas ranselku. Hampir semalaman aku mengetik, Penat dan pegal datang menghampiriku. Aku segera menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Selama di Kebumen aku tinggal di rumah Budhe Wasini, anak pertama mbah yang juga kakak dari ibu ku. Kejadian tiap pagi yang kutemui adalah setiap aku bangun,budhe sudah tidak ada ditempat, biasanya sudah berada di sawah. Terasa ada perbedaan antara mahasiswa dengan orang biasa dalam mengisi hari-harinya. Baru akan menyiram tubuhku,kudengar ponselku berdering. Dari nadanya itu adalah panggilan masuk, kubiarkan saja sampai aku rampung menyelesaikan mandiku meski nada dering itu berulangkali mengganggu dan mengusikku. Selesai mandi kusegera menuju teleponku.
“Halo…”
“Selamat pagi mas, kok teleponku tidak diangkat sih, baru bangun ya?” suara merdu diujung telepon.
“Iya maaf, mas tadi sedang mandi pas kakak menelpon. Maafkan mas ya.”
“Iya mas ndak apa-apa, sudah sarapan belum? Hari ini jadi pulang keJogja?”
“Belum sarapan dan mungkin sebentar lagi. Terus siang ini mamas sudah bisa pulang keJogja kok, kenapa? Oh kakak rindu ya, hehehe.”
“Eh mas kamu kok malah diketawain tha, iya aku rindu berat sama kamu belahan hatiku. Rasanya Jogja begitu sepi tanpa ada kamu disini, kalau ke Jogja jangan lupa oleh-oleh buatku ya mas? ”
“Ya, pastilah aku ingat. Sudah nanti mamas hubungi kalau sudah sampai, sekarang makan dulu setelah itu siap-siap untuk pulang keJogja lagi, kakak nanti masuk kerja? Maaf ya, teleponnya mamas matikan.”
Diam sesaat.
“Oh, iya mas nanti aku kerja seperti biasa. Okay, selamat sarapan mamas dan Hati-hati dijalan. Jangan lupa ngasih kabar kalau sudah sampai. Jangan lupa.”
Tak kujawab lagi karena aku segera bersiap untuk sarapan. Telepon dari seorang yang begitu spesial dihidupku, Sandra puspita. Wanita yang pernah dekat denganku dalam sebuah ikatan cinta, tapi sekarang kenyataan pahit membuat hubunganku dengan dia hanya sekedar “mantan kekasih”. Kami berdua memilih jalan masing-masing dikarenakan sama-sama mempunyai pendirian yang tidak bisa menyatu. Kami adalah orang yang begitu teguh memegang pendirian dan hasilnya tidak ada satupun yang mau mengalah satu sama lain. Banyak kenangan indah yang sudah aku lalui dengannya dan semua itu rasanya memang begitu sulit dilupakan. Astaghfirullah, aku mengusap wajahku. Tidak baik rasanya mengingat hal-hal yang telah lalu. Sekarang aku dan dia masih dekat dan layaknya saudara, apalagi tautan umur yang yang berbeda memaksaku harus memanggilnya “kakak”. Justru aku melihat ada kebahagiaan diwajahnya setiap kali aku memanggil kakak padanya. Dan itu tidak membahagiaankan diwajahku.
Tak terasa hari sudah beranjak siang dan aku segera berbenah. Kutemukan Budhe Wasini disawah tengah menggebuk kacang hijau. Kali ini aku enggan turun tangan,aku segera pamit padanya. Seperti biasa, bawaanku bertambah. Kali ini aku menolak membawa beras 20 kg. Aku memilih membawa beberapa bungkus saleh pisang,keripik dan lamting, makanan khas Kebumen yang rasanya selalu bercerita tentang kerinduan tentang tempat yang nyaman dan damai ini.
Pukul sebelas aku sampai di sebuah persimpangan dimana biasanya banyak bis kearah Jogja dan solo yang stanby ditempat itu. Benar saja, begitu sampai sang kernet bis langsung menghampiriku.
“Jogja, Solo?” teriak khas kernet bis seolah meyakinkan tujuan bisnya.
Padahal aku sudah hapal dengan bis-bis tersebut,lagipula ada tulisan besar yang menunjukkan tujuannya. Mungkin itu prosedur yang harus dilakukan sang kernet untuk meyakinkan penumpangnya. Tugas kernet adalah menggaet penumpang sebanyak-banyaknya,kalau bisa bis setelahnya tidak
mendapatkan penumpang. Dan bisa saja itu akan menyebabkan setorannya berkurang.
Kadang kala mendapatkan bus yang sesak dan penuh. Bukan karena mengejar setoran, tapi bisa jadi itu ulah si kernet yang jago menarik perhatian penumpang.
“Jogja kang…” Jawabku.
“Ya. . ayo mangkat. Ngeneh gawanane,inyong bantu.” Sang kernet itu membantu memikul tas ranselku. Dan membawaku ke kursi rumah kontrakanong dibagian tengah. Bis lumayan rumah kontrakanong. Mendapat kursi rumah kontrakanong adalah rezeki, jadi aku bisa santai menikmati perjalananku dengan bisa memejamkan mata atau mendengarkan musik. Walaupun terkadang terusik dengan adanya pedagang asongan yang menawarkan dagangannya ataupun pengamen dengan musik berisik yang semakin menambah panas dan sumpek suasana di bis. Meski begitu, aku terkadang juga sedikit terhibur dengan hal itu. Terlebih dengan adanya pengamen jalanan, seakan menghibur selama perjalanan. Jadi bisa dipastikan, pegamen itu bagus atau tidak dalam melantunkan lagu, aku tetap menjatuhkan recehan kekantong bekas bungkus permen atau kaleng kecil yang disodorkan padaku.
Buatku, melihat pengamen sama dengan melihat diriku sendiri. Apa bedanya pengamen jalanan dengan anak band yang setiap saat manggung dengan menharapkan bayaran yang cukup dibagi lima, buat pemain dan manager band. Jadi, tak ada perbedaan antara pengamen jalanan dengan pemain band menurutku. Sama-sama musisi yang mengharapkan uluran tangan dan memasang teling bagi yang mendengarkan musik mereka. Bedanya hanya band lebih rapi, dan pengamen tidak peduli dengan penampilan. Anak band memainkan musik tidak hanya mencari uang, namun juga popularitas. Sementara para pengamen murni mencari uang untuk sesuap nasi, atau usaha mereka melawan kata pengangguran. Pengamen bisa jadi profesi, tentu saja bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan. Susahnya mendapatkan pekerjaan karena terbentur ijazah atau kemampuan itulah yang memaksa mereka menjadi pengamen, dan mengamen bukan suatu pekerjaan yang rendahan; selama itu untuk hidup dan merupakan simbol dari sebuah usaha, bisa jadi itu menjadi sesuatu yang disukai tuhan karena tuhan amat menyukai orang-orang yang berusaha. Daripada menjadi pengemis, meminta-minta belas kasihan dan terkadang rela berbohong dengan berpura-pura cacat fisik; itu jauh lebih memalukan.
Selain itu, bagiku dengan adanya genjrengan musik dari para pengamen membuat kita sejenak terlupa bahwa bis sedang berjalan dan ketika pengamen turun baru kita akan merasakan bahwa hampir seperempat perjalanan yang sudah kita lalui. Sejauh ini ada klasifikasi pengamen yang aku tahu, pengamen mencari makan yaitu pengamen yang benar-benar mengandalkan musik untuk mencari recehan,biasanya lagunya bercerita tentang penderitaan pengamen, menyindir penumpang yang enggan memberi recehan, sampe berbicara soal politik dan kebusukan pejabat pemerintahan versi mereka. Kedua,pengamen yang tidak memiliki pekerjaan atau mereka anak-anak muda yang bingung mencari pekerjaan lalu memutuskan menjadi pengamen dan perbedaanya sura mereka bagus dan materi lagu yang dibawakan juga enak didengar. Jenis pengamen ketiga adalah pengamen asal ngamen yaitu pengamen yang sepertinya memadukan antara mencari recehan uang rokok dan juga tidak memiliki pekerjaan, sumpah ini tipe pengangguran yang tidak bermutu; biasanya bertatto pakaian asal-asalan dan nyanyinya juga asal bernyanyi atau secara ekstrimnya disebut sumbang,dan aku paling sebel sama pengamen tipe ini. Sudah menyanyinya tidak bagus, terkadang memaksa penumpang meminta recehan. Tipe selanjutnya adalah pengamen Balita atau bawah lima belas tahun, anak-anak yang putus sekolah karena kemiskinan dan memutuskan menjadi pengamen. Terakhir adalah pengamen musiman, pengamen ini memakai pakaian yang layak lalu memainkan lagu yang menghibur dan mereka masih muda. Tipe terakhir bisa jadi itu adalah teman-temanku, yaitu mahasiswa yang kehabisan uang sebelum transferan uang datang. Mengamen adalah pilihan terakhir, karena lapar dan rokok tidak bisa menunggu.
Handphoneku bergetar. Ada pesan masuk. Segera kubuka.
“Bang….”
Pesan dari Silfiani gunawan, gadis cantik yang sekarang ini begitu dekat padaku walau Cuma sekedar lewat media sms maupun telepon. Kedekatan kami yang lagi-lagi sebatas kakak-adik ini begitu indah, sejak masih duduk di sekolah menengah atas sampai sekarang hampir tujuh tahunan. Aku tak pernah menunda untuk membalas pesan-pesannya.
“Iya sayangku, kenapa? Abang masih di bis.” balasku.
Kenapa? Aku dan dia memang terbiasa sayang-sayangan dengannya semenjak dahulu. Walaupun sekarang dia telah punya kekasih tapi tidak ada salahnya ber sayang-sayangan,tokh hanya sekedar kata sayang tidak ada maksud lain.
“Abang dimana sekarang,sudah makan belum? ”
“Abang masih di bis,kearah Jogja. Abang pulang hari ini.”
Kutunggu cukup lama, tidak ada jawaban. Kumasukkan ponselku ke saku celana. Segera kupejamkan mata dan terlelap. Jalanan yang bergelombang membuatku serasa diayun. Jika saja tadi sebelum berangkat aku tidak minum obat anti mabok, pasti baru separuh jalan tadi aku sudah muntah-muntah. Memang susah menghilangkan kebiasaan buruk, fisikku begitu lemah jika harus berlama-lama di tempat se-sumpek bis umum. Seperti biasa, mengatasinya dengan memejamkan mata sambil mendengarkan lagu dari ipod ku.Teman perjalanan yang baik adalah musik, saat mendengarkan musik serasa di ayun dan di buai manja.
Oh mantan kekasihku, jangan kau lupakan aku
Bila suatu saat nanti kau merindukanku
Datang, datang, datang padaku…
Namaku Elang Mahardika namun seringnya dipanggil mas El. Aku kuliah di universitas negeri di kota pelajar ini semenjak tahun 2004 silam. Teman-teman seperjuangan hampir semuanya sudah lulus, ada yang sudah menikah bahkan ada yang sudah menimang anak. Sementara aku sampai detik ini masih mengerjakan skripsi yang belum selesai juga. Memang sungguh ironis, kiri kanan mulai menuntut dan bertanya mengapa tapi hanya aku yang tahu jawabannya. Tugas penelitianku ini semacam tugas hidup mati jadi aku memang bertekad segera menyelesaikannya, meskipun harus bolak-balik Jogja ke Jawa tengah dengan menggunakan bis angkutan.
Tekadku sudah bulat untuk menyelesaikan kuliahku tahun ini. Bisa di bilang semangatku sudah sangat membara seperti semangatnya Bung Karno ketika membakar semangatnya rakyat Indonesia ketika masa perjuangan. Di dinding kamarku sangat banyak tulisan-tulisan motivasi dari berbagai tokoh. Mulai dari Syekh Abdul Qadir Jaelani, Al Gazali, sampe Presiden Indonesia Baharrudin Jusuf Habibie, semuanya ada di sana.
Dan yang paling besar tentu saja tulisan yang artinya “ Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil”.
Aku kerap tersenyum melihat kata-kata yang ku tulis sendiri. Kadang apa yang kita tulis dengan kenyataan pasti ada perbedaan, terutama ketika akan melaksanakannya.
*
Hampir empat jam dibis, akhirnya berhenti di terminal giwangan, sebuah satu terminal diJogja. Aku tidak langsung menuju ke rumah kontrakan ku walaupun begitu banyak tukang ojek yang menghampiriku dan menawarkan tumpangan dengan alasan cukup mahal buat seorang mahasiswa hemat sepertiku. Aku memilih naik trans Jogja, bis angkutan kota yang cukup murah dan nyaman. Hanya dengan beberapa lembar ribu aku bisa sampai dimanapun diseluruh sudut Jogja. Hampir lima belas menit menunggu, akhirnya bis berwarna hijau itu datang juga. Nyaman dan tentram kurasakan setelah duduk ditrans Jogja, dinginnya mampu menyejukkan setelah kepanasan diluar sana. Sungguh berbeda ketika kita naik trans Jogja dengan bis kota biasa yang kadang seperti jarang di servis, baru naik saja kepanasan dan mau muntah. Belum lagi kepulan asap dari knalpotnya. Panas. Sesampainya di kamar kontrakan langsung kurebahkan badanku, penatnya bukan main. Tapi, kubuang rasa penatku dengan segera mengambil air wudhu dan segera shalat Dzuhur. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga. segera kutunaikan ibadah lalu segera saja merebahkan diri dan tidur. Sudah sangat merindukan tertidur dikamar kontrakanku,dan inilah saatnya. Kupejamkan mata dan mulai menghitung menuju mimpi indah.
Handphoneku bergetar.
Aku lirik layarnya, ada telepon masuk dari Silfiani gunawan tapi aku abaikan saja dan tetap melanjutkan tidur. Sudah sangat hapal dengan gadis itu, paling-paling hanya mau curhat tentang masalah percintaannya atau kadang bercerita panjang tentang drama Korea yang baru di tontonnya, aku suka tertidur ketika dia bercerita banyak terutama soal bintang-bintang tampan Korea. Seperti biasa.
Aku diamkan saja teleponku dan segera memejamkan mata. Badanku terasa demikian letih dan sangat ingin segera tertidur. Tadi di ruang depan, teman satu kontrakan juga sedang makan-makan tapi aku tidak bergabung. Yang kuingin hanyalah istirahat.
=
Ronde Rindu-rindu
di Bawah Lampu-lampu
BEDUG magrib membangunkanku. Tak terasa tidur yang enak membuatku lupa waktu. Aku lupa shalat ashar, menyadari itu aku hanya tersenyum pahit. Ini bukan pertama kalinya tidur membuatku lupa akan waktu shalat, aku memang belum bisa sepenuhnya tepat waktu dalam beribadah apalagi saat ini yang selalu sibuk dengan aktivitas-aktivitas yang terkadang memaksa untuk meninggalkan kewajibankusebagai seorangmuslim.
Tak perlu pikir panjang lagi,aku segera membersihkan diri dan segera shalat magrib. Perut lapar membuatku sedikit malas untuk beraktivitas, aku baru sadar hanya tadi pagi perutku menerima nasi. Kuputuskan menuju sebuah angkringan didepan kontrakan,angkringan pakde Kisman.
“ Pakde, bikin es kopi sama nasi sambalnya dua dibungkus, gorengan empat dan sate hatinya tiga.” Pesanku pada bapak-bapak berbaju cokelat dan mengenakan topi.
“Lhah lhoh mas El, sudah disini lagi. Sudah selesai penelitiannya mas?” Pakde Kisman sedikit terkejut akan kehadiranku yang tiba-tiba. Memang sebelumnya aku mengatakan padanya bahwa akan penelitian di luar kota. Entah aku lupa kapan tepatnya.
“Alhamdulillah, sudah selesai yang di Kebumen. Tinggal terakhir di Prambanan, mungkin sekitar dua minggu lagi saya kembali penelitian pakde.” Jawabku.
“Wah semangat terus mas El, tinggal sedikit lagi.”
Pakde Kisman menepuk pundakku sambil menyodorkan pesananku.
Aku membalas dengan memberikan selembaran uang kertas lima puluhan kepadanya.
“Ini semangat sekali pakde,doakan segera sukses.” Aku tersenyum.
“Harus itu. Kalau sudah sukses , pulang mengabdi sama kampung halaman terus menikah. Mas El sudah berumur lho, sudah waktunya memikirkan itu. Jangan ditunda-tunda, ndak selak loyo. Hahaha.”
Malah di godain sama mereka. Aku tersenyum. Umurku memang sudah dua puluh delapan, masih belum juga menyelesaikan S1 lalu bagaimana memikirkan tentang menikah kalau memikirkan skripsi yang belum rampung-rampung saja rasanya sudah cukup membuat kepala pusing.
“Nah, kalau soal menikah di doakan saja pakde. Insya Allah selesai kuliah saya akan mencari calon istri yang baik, nanti akan saya bawa kesini.” Jawabku.
“Bagus mas El, perlu itu berfikir seperti itu. Jangan ditunda-tunda.”
“Mohon doanya ya pakde.”
“Amiiin. Ini kembaliannya, tak kasih bonus nasinya gratis anggap saja itu hadiah penyambutan mas El kembali ke Jogja.”
Rezeki. Alhamdulillah.
“Wah wah maturnuwun. Kalau begitu saya doakan semoga nomor buntutnya minggu ini tembus,hahaha.” Aku balas menggoda pria berkumis itu.
Semua orang yang di angkringan tersebut tertawa. Siapa yang tidak kenal pakde Kisman, expert dalam hal ke-nomor-buntut-an alias togel. Hampir dipastikan seminggu sekali beliau memasang nomor buntut sebagai ajang peruntungan sekaligus iseng katanya, persentase keberhasilannya sekitar 70-80%. Jika dalam sebulan beliau memasang lima nomor, tingkat keberhasilannya tiga. Jelas bahwa beliau cukup beruntung dalam hal ini.
Pakde Kisman tersenyum ketika aku menggodanya dengan masalah nomor buntut. Tidak ada jengkel atau marah, karena memang sudah menjadi hal biasa saling menggoda. Dan itulah hebatnya orang-orang di Jogja ini, sangat friendly dan tidak pernah membedakan antara orang asli dengan pendatang. Selama kita bisa berbaur dengan mereka, maka kita adalah bagian mereka.
Selesai makan kuambil handphoneku, kutulis pesan ke Sandra puspita. Hampir dua bulan lebih tidak bertemu denganya membuatku rindu akan sosoknya, lagipula tadi aku sudah janji untuk memberi kabar kalau sudah sampai ke Jogja.
Kunyalakan handphoneku, handphone monoponik tipe nokia 1202 andalan. Satu-satunya yang aku punya, yang hanya bisa kubeli saat ini. Ku tulis pesan menanyakan keberadaan gadis bermata sayu itu. Namun lama menunggu tidak ada jawaban, aku menghidupkan laptop dan memutar lagu-lagu nasyid sambil sesekali melirik handphoneku.
Handphoneku berdering. Sandra puspita meneleponku.
“Haai. . Aku lagi siap-siap mau pulang. Hari ini toko tutup lebih awal, jadinya aku pulang cepat, mas sudah di kontrakan? ”
“Kebetulan, jalan-jalan yuk. Mamas suntuk malam ini,setelah hampir sebulan berkutat dengan penelitianku. bisakah malam ini dirimu menemaniku? “
“Boleh. Nanti aku jemput di rumah kontrakan, kalau aku sms segera siap-siap, aku capai kalau menunggu terlalu lama, memangnya malam ini mau jalan kemana? ” Tanyanya.
“Hemm, Mamas bingung mau kemana. Ada referensi? ” Tanyaku.
“Bagaimana kalau kita duduk santai didepan perempatan BNI, malam ini khan malam sabtu. Pasti banyak keramaian disana, lagipula sudah lama rasanya tidak kesana. Ada kursi batu yang bisa buat duduk, sambil memandangi orang-orang yang lewat atau sambil ngewedang-ronde. Bagaimana dengan ideku? ”
“Boleh, Mamas siap-siap dulu ya.”
“Oke mas. Lima menit lagi aku sampai”.
Balasnya singkat. Dan segera telepon itu ditutupnya. Tak kuhiraukan lagi karena aku segera bersiap berdandan. Meskipun aku seorang lelaki tapi soal dandan apalagi untuk ngedate dengan wanita pasti aku persiapkan. Itu sebagai cara agar wanita merasa nyaman dan tidak malu jalan bersama.
Aku mengenakan celana panjang dengan ujungnya mengecil, baju kemeja warna cokelat muda tanpa gambar dan tidak lupa kupakai gelang tangan berwarna hitam dipergelangan tangan kanan. Mungkin gelang tangan ini sudah menjadi semacam ciri khasku, aku sudah memakainya sejak dibangku sekolah menengah. Seakan itu mewakili jiwaku yang suka akan musik. jadi, dimanapun aku berada benda itu tak pernah lepas dari pergelangan tanganku. Kalaupun kulepas itu ketika bimbingan skripsi atau ketika ada acara resmi dan kegiatan agamais, penampilan khan juga perlu untuk diperhatikan. Sekedar penyesuaian belaka pada situasi dan timing..
Parfum wangi bermerk La Rive membuat tubuhku lebih segar. Memang beginilah persiapanku jika kencan dengan wanita se-glamour Sandra puspita. Wanita yang selalu update dengan fashion dan selalu bawel dengan masalah pakaian. Bahkan setiap saat aku harus berpakaian yang bagi dia pantas dikenakan, namun buatku terasa berlebihan. Aku tidak suka dengan pakaian yang terlalu mewah maupun yang selalu update layaknya mahasiswa lain yang tidak mau berpakaian selain pakaian distro. Aku lebih suka berpakaian apa adanya, selain hemat uang sku juga sebagai suatu hal yang bisa menyadarkanku bahwa aku hanyalah anak seorang petani miskin yang nekat kuliah di kota pelajar ini. Tapi semua itu buat Sandra puspita penting, sehingga tak jarang dia membelikan aku pakaian-pakaian bagus dan mahal untuk kupakai. Aku memang tidak pernah minta padanya, tapi aku juga tidak bisa menolak apa yang dia berikan padaku. Hampir semua barang-barang bagus yang kupunya adalah pemberian darinya. Aku masih ingat ketika putus dengannya, aku mengembalikan semua yang sudah pernah dia berikan padaku. Tapi dia tidak mau menerimanya dengan alasan sebagai kenangan terindah darinya.
Sementara aku selama menjalin hubungan dengannya hanya sedikit yang kuberi padanya, Kalung hati yang kubeli seharga 15ribu diMalioboro, boneka tazmania seharga 30ribu dan gelang tangan berwarna ungu. Kalung hatinya yang sebelahnya masih ada padaku saja warnanya yang perak telah berubah menjadi merah tua karena luntur. sedangkan gelang tangan berwarna ungu sendiri, digantinya dengan diam-diam menyelipkan uang pecahan 20ribu ditasku, padahal harganya hanya 5ribu rupiah. Setiap kutanya, pasti dia akan menjawab “simpan saja uangmu, dan gunakan untuk hal-hal yang lebih bermamfaat ”.
Begitulah yang selama ini terjadi, aku tidak pernah mengeluarkan sepeserpun selama menjalin cinta dengannya. Sebenarnya aku sering menolak pemberiannya, tapi dia hanya berujar bahwa dengan begitu dia akan merasa lebih bahagia, mau gimana lagi. Aku tidak pernah bisa untuk mengatakan bahwa aku juga ingin seperti pria-pria lain yang terlihat gagah karena mentraktir pacarnya.
Handphoneku berdering. Pasti dia sudah menunggu diluar, didepan gang masuk kontrakanku tepatnya. Aku segera turun, aku tidak mau membuatnya menunggu terlalu lama. Karena wanita yang dibiarkan terlalu menunggu bisa lebih seram dari harimau bunting yang pacarnya selingkuh dengan tetangga sebelah kandangnya.
Benar saja, motor Vario Techno warna hitam yang terparkir membuatku yakin bahwa wanita bertubuh indah itu adalah Sandra puspita. Segera kuhampiri dengan senyum manis dan mata berbinar memancarkan kerinduan yang bertumpuk-tumpuk.
“Hai. .” Sapaku.
Sandra puspita membuka helmnya dan memperlihatkan wajah cantiknya. Senyun manis yang membuat jantungku berdegup kencang itu terpancar dibibirnya. Sandra memakai pakaian santai, celana dan bajunya ketat. Aku tak pernah bertanya, karena aku sudah tahu jawabannya. Pakaian itu membuatnya lebih kurus dan tidak terlihat bahwa dia lebih tua dariku,sebuah alasan kenapa dia selalu berpakaian yang update. Entah dia malu mengakui bahwa dia memang lebih tua atau entah alasan apa yang ada dibenaknya, yang jelas dia selalu memperhatikan secara detail apapun yang berkaitan pakaian dan fashion-fashion yang sedang IN di pasaran.
“Hai. . Yuk berangkat!” serunya sambil tersenyum manis. Oh Tuhan.
“Sandra, cantik sangat malam ini. Lama tidak melihatmu seakan membuatku gerah, dan malam ini aku merasa sejuk ketika kupandangi wajahmu itu. .”Aku mulai melancarkan jurus andalan.
Mengatakan “cantik” kepada wanita itu adalah kata-kata hipnotis yang mampu membuat wanita manapun membusungkan data dan tersipu manis.
Aroma parfumnya benar-benar menggoda hasrat kelelakian. Aku diam saja sambil menarik nafas dalam-dalam,walau dalam hatiku merasa bangga bisa berada didekat wanita yang mempunyai ribuan teman di jejaring sosial Facebook ini. Entah sudah berapa ratus kali dia menolak setiap pria yang mendekatinya, sementara denganku dia rasanya enggan menjauh meskipun sekarang hubungan kami bukan lagi sebagai sepasang kekasih.
“Ah, kata-katamu membuatku rasanya ingin muntah, sudah ah. Ayo berangkat aku takut kemalaman pulangnya.”jawabnya sambil tersipu.
Bener khan dia tersipu. Itu artinya statemen ku tadi tidak salah, dan memang itulah fakta sebenarnya dari seorang wanita yaitu tidak bisa menyembunyikan kalau wanita memang suka dipuji, terlebih dikatakan cantik maka ia akan melayang-layang lalu berlahan-lahan akan jatuh ke bumi sambil tersipu dengan wajah merah merona, lalu tanpa sadar bahwa pria yang memuji menangkapnya dengan pelukan.
Jantungku berdetak cepat saat kedua tangannya merangkul pinggangku. Hal yang sampai saat ini belum bisa kumengerti. Kenapa dia masih bertingkah mesra padahal dia tahu bahwa aku ini hanya “mantan kekasih”. Kenapa tidak bilang kalau masih sayang, padahal aku juga begitu. Kenyataanya dia tidak pernah mengaku, begitupun aku dan kita masih selalu kaget dengan tingkah mesra yang terkadang kurasa berlebihan. Tapi tokh aku memang tidak bisa menolak itu. Aku menikmati setiap kemesraan itu,karena aku juga merasa bahagia diperlakukan begitu. Sama seperti setiap kemesraan yang aku berikan kepadanya. Dia juga pasti merasakan hal yang sama, buktinya dia tidak pernah menyinggungnya.
=
Malam sabtu Jogja tampak seperti biasa, selalu ramai. Kota yang hampir tak pernah mati ini malam itu dipenuhi cahaya terang lampu-lampu jalanan dan gedung yang berwarna warni. Ini yang kadang membuatku selalu berfikir kenapa masih banyk orang yang menganggap Jogja adalah kota yang sederhana dan terkesan kuno, katro maupun tempatnya orang-orang yang ketinggalan jaman. Padahal jika melihat dan berada disini akan merasakan kedamaian kota ini. Bahkan sebagian besar tempat dikota Jogja selalu dipenuhi oleh orang. Jadi kota ini tidak pernah sepi. Turis luar negeri maupun lokal begitu banyak dijumpai dikota ini. bahkan tak jarang dibeberapa tempat misalnya benteng Vredeburg, kantor pos, Malioboro, alun-alun, Tamansari bahkan sampai sudut kali code pun akan menemukan banyak artis ibukota yang syuting film ataupun iklan dikota ini. Aku bahkan pernah membuktikan sendiri bertemu oleh seorang musisi tanah air yang juga berasal dari Jogja yaitu mas Eros Candra, musisi yang berprofesi sebagai gitaris band sheila on 7. Pertemuan yang tidak disengaja itu juga karena secara kebetulan aku diajak teman se-organisasi membeli alat musik didaerah mataram. Dan uniknya, sikap biasa dan tidak berkesan seperti artis besar menunjukkan bahwa siapapun yang berasal dari Jogja ataupun tinggal di Jogja sangat patut diacungkan jempol dalam hal tatakrama dan kesahajaan menjalani hidup.
Begitulah suasana Jogja,aku betul-betul menikmati setiap liku-liku jalan yang kulalui. Namun lagi- lagi aku merasakan sedikit ada aliran hangat ketika Sandra puspita menyandarkan kepalanya dibahuku. Tidak hanya tangannya yang melingkari pingggangku, tapi sekarang kepalanya bersandar. Kurasa malam itu dia benar-benar dimabuk asmara. Akupun begitu, tapi aku tidak mengakuinya. Sayangnya adalah helm yang dikenakan membuat suasana jadi biasa saja. Kemesraan terhalang helm.
“Kakak sudah mengantuk ya?”tanyaku.
“Tidak kok, dipercepat jalannya”serunya.
Aku mempercepat laju kendaraan. Tujuanku adalah museum serangan umum sebelas maret diperempatan paling ramai dikota Jogja.
Begitu sampai aku segera parkir motor. Seribu rupiah adalah jaminan bahwa motor aman,begitu kata tukang parkir ditempat itu.
Suasana cukup ramai, banyak orang lalu-lalang dan berfhoto-fhoto.
Lampu jalanan yang terang memandikan kami dengan cahaya damai, aku dan Sandra bingung mencari tempat duduk. Kursi batu diarea tempat itu sudah dipenuhi oleh pasangan muda-mudi maupun sekelompok orang. Mereka ngobrol disana sini, tertawa dan bercanda. Puji tuhan, teriakku saat aku menemukan kursi rumah kontrakanong pas didepan sebuah lampu jalanan. Kugandeng Sandra ke kursi itu. Baru duduk sebentar, pengamen dan pedagang asongan menyerbu kami.
Inilah salah satu keunikan ditengah kota Jogja, Aku buru-buru menjatuhkan receh kekaleng sang pengamen. Bukannya tidak mau mendengarkan senandung mereka, tapi aku tidak mau Sandra mengusir mereka karena paling tidak suka dengan pengamen. Terkadang aku kesal padanya, seperti ada seonggok sisi kesombongan dihatinya. Pengemis, pengamen maupun penjual koran bakal angkat kaki tidak sampai dua menit dari hadapannya. Aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa mereka juga terpaksa melakukan itu tapi Sandra tidak mau tahu. Baginya dia hanya butuh suasana nyaman tanpa gangguan. Dan bisa jadi itu juga yang dirasakan sebagian orang yang menikmati malam disini, menjadi kenyamanan dan kedamaian tapi tiba-tiba diusik oleh kehadiran pengamen dengan nyanyian ceprang-cempreng atau mendadak ada ibu-ibu menggendong bayi dengan wajah memelas meminta-minta.
Aku memesan wedang ronde dan kembali duduk menemui gadis cantikku. Ini istimewanya kota ini yang membuatku sulit menemukannya di kota lain. Suasananya, wedang rondenya , lampu jalanan , dan dengan siapa kita melewatinya , itulah keistimewaan malam sabtu di kota ini.
Kutatap wajahnya, dia benar-benar cantik malam ini.
“Kakak kamu tahu tidak kenapa malam ini langit begitu indah?”tanyaku membuyarkan lamunannya.
“Aku tahu, tapi aku pura-pura tidak tahu. Karena aku mau mendengar untuk kesekian kalinya mas bilang aku cantik.” Sandra puspita tersenyum manis kearahku.
Dia sudah hafal dengan kebiasaanku. Aku tertawa.
“Betul. Karena malam ini ada bidadari nyasar ke bumi, dan bidadari itu kamu. Tapi sebenarnya ada satu hal yang membuat malam ini lebih indah dari malam-malam sebelumnya.” Jawabku pelan.
“Apaan?” Dia memandangku dengan sorot mata yang penasaran.
“Karena malam ini, aku diterangi sama tiga rembulan.” Jawabku.
“Cuma ada satu rembulan dilangit.”
“Ada tiga. Satu berkelana dijenjang langit, dan dua lagi tenggelam berenang dikedua bola matamu. Dan itu yang kuperhatikan sedari tadi, Kamu cantik ya?”
“Nah khan, mulai kata-kata puitisnya bersepahan dari mulut romantisnya. Terimakasih ya selalu bilang aku cantik, kadang-kadang memang itu yang bikin aku merindukan sosokmu saat kamu tidak ada disini mas,” Jawabnya pelan.
Kata-kata romantis? Aku bukan pria romantis yang mendadak bisa menciptakan kata-kata romantis ya, karena kata-kata tadi aku dapatkan ketika membaca sebuah cerpen di majalah Kartini edisi tahun 1997-an. Cukup lama memang, dan kebetulan pada masa itu istilah lebay belum diketemukan.
“Kalau soal cantik, itu bukan sebuah kata gombalan lho kak. Karena ya memang kamu cantik, tidak cuma cantik tapi kamu juga…. .”
“Mas, rondenya mas!” Tukang ronde malah mengacaukan suasana.
Damn!
Sandra puspita tertawa lepas melihat ekspresiku yang mendadak kecut gara-gara tingkah tukang ronde. Sudah berusaha membangun kata-kata maut, malah buyar karena tukang ronde menyodorkan dua mangkuk wedang ronde. Terpaksa dengan mulut manis aku mengucapkan terimakasih sambil mencoba untuk menikmati hangatnya wedang ronde.
“Wedang rondenya enak ya,,.” Hanya itu yang bisa kukatakan.
“Lho, ndak jadi bilang cantik?” Sandra menggodaku lagi.
Dia kembali tertawa pelan sambil menikmati wedang ronde di mangkuknya.
“Yaa bagaimana ceritanya ketika kita tengah membangun kata-kata bagus untuk orang yang spesial,tiba-tiba dipotong sama mas rondenya mas,mendadak hilang semua yang ada pikiran.” Jawabku.
“Memangnya aku spesial ya?” . Dia melirikku.
“Spesial sekali.” Aku menjawabnya tanpa menolehnya, seolah-olah fokus menikmati wedang ronde di mangkukku. Sebenarnya itu hanyalah sebuah trik, dari sebuah artikel yang aku baca di majalah era 1997-an. Majalah Kartini tadi.
Benar saja, dia menunduk dan meneruskan menikmati wedang rondenya. Dari analisa gesture, mungkin dalam hatinya tengah berkecamuk dan terkena oleh sihir kata-kataku tadi. Ini fakta kedua soal wanita, wanita lebih mudah tersentuh hatinya bisa lewat kata-kata atau perhatian, oleh tindakan atau hal-hal lain yang memakai hati sebagai indikator utamanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa lirik lagunya Ari lasso “Sentuhlah dia tepat dihatinya, dia kan jadi milikmu selamanya. Sentuh dengan sepenuh cinta, buat hatinya terbang melayang” itu betul. Dan itulah rahasia perempuan yang sesuai dengan fakta yang ada, dan aku telah mempraktekkannya. Hanya saja gadis disebelahku belum kumiliki selamanya,bahkan aku tidak tahu dia masih sayang padaku atau perasaan itu sudah hilang. Dan aku sangat ingin mengetahuinya.
“Kamu masih sayang sama aku?”
“Kamu masih sayang sama aku?’
Entah bagaimana ceritanya, kami malah bertanya dengan berbarengan dengan pertanyaan yang sama. Dengan mata yang saling menatap, dan binar matanya yang kembali sayu sama seperti dulu saat aku mengatakan cinta kepadanya. Tatapan mata yang tak pernah berubah.
“Iya.”
“Iya.”
Kali kedua kami saling menatap.
“ Kamu tidak mau kita kembali seperti dulu?”
“Kamu mau balikan?”
Ketiga kalinya. Dan sumpah, ini seperti kisah cerita cinta di SCTV. Mungkin kalau keempat kalinya akan mengucapkan kata yang sama, dua menit kemudian kami akan berpelukan ditengah kota tanpa peduli keadaan sekitar. Tapi ini kisah sebenarnya, bukan kisah cerita FTV. Yang terjadi adalah kami sama-sama menunduk dan meneruskan menghabiskan wedang ronde. Senyum malu, dan entahlah. Rasanya wedang ronde semakin manis untuk segera di habiskan.
Entah kenapa, mendadak muncul sebuah perasaan yang entah susah dijelaskan merasuki hatiku. Rasanya sejuk namun menghangatkan. Pertanyaan ketiga rasanya tidak perlu dijawab, tokh tanpa dijawabpun kami sudah tahu jawabannya. Hanya saja, aku pernah bertanya seperti itu dulu. Inti pertanyaan yang samatapi dengan redaksi kata yang berbeda, sama-sama menginginkan kami bersama menjalin ikatan yang didasarkan pada hati dan kebutuhan. Cinta khan tidak hanya berbicara soal hati, tapi juga soal kebutuhan yaitu aku butuh dia dan dia membutuhkanku. Kami pernah gagal menjalin cinta karena keegoan, dan semoga kali ini adalah permulaan yang baik dikesempatan kedua untuk membangun kembali rumah yang pernah kita dirikan bersama. Demikian syahdunya malam ini.
Sampai akhirnya tukang ronde datang lagi dan menepuk pundakku ketika aku akan mengatakan “iya” pada Sandra.
“Maaf mas, ini mangkuknya sudah?” “Damn!”
=
Baca juga Cerita Pendek: Loving
Pemilik Nostalgia
Simbol Persinggahan Hati
“LUMOS MAXIMA” pagi-pagi kubuka pintu kamar sambil mengucapkan mantra Lumos maximanya Harry potter dan membiarkan sinar mentari pagi menerobos celah-celah kamarku. Hari ini adalah hari senin, dan aku sudah janji bertemu dengan pak Wiro dosen pembimbing skripsiku. Aku begitu bersemangat, memang rasa malas pasti akan mengganggu. Tapi aku tidak mau gagal seperti nasibku disemester empat, gara-gara malas nilaiku tidak ada yang keluar dan dampaknya begitu besar karena sudah pasti aku ketinggalan oleh teman-teman yang masuknya bersamaan denganku. Sahabat-sahabatku sudah lulus semua. Meski hanya berjarak beberapa bulan tapi secara tidak langsung membuatku tertinggal. Dan aku tidak mau gagal kembali. Aku begitu bersemangat kali ini. Apalagi pak Wiro semakin sibuk dengan tetek-bengek urusan akademisnya sehingga hampir tidak pernah ada waktu lebih banyak untuk bertemu walaupun hanya sekedar konsultasi. Dan itu adalah saat-saat menyebalkan menempuh pendidikan di Universitas bagi mahasiswa tingkat akhir, tidak hanya diburu target dan tuntutan orangtua namun tingkah dosen pembimbing kerap membuat jengkel. Menomorduakan apa yang menjadi prioritas utama mahasiswa. Namun mau bagaimana lagi, sekali lagi harus tetap pasrah dan bersemangat pantang menyerah. Perjuangan tinggal sedikit lagi.
Tepat pukul delapan aku berangkat kekampus, hanya sekitar lima menit sudah sampai juga. Begitu ramai. Mahasiswa baru memenuhi sepanjang area menuju kampus. Dari sebuah buletin kampus yang kubaca, aku mengetahui bahwa kampusku untuk tahun ajaran ini menerima hampir ribuan mahasiswa baru dijurusan pendididikan , sekitar dua ribu di fakultas tekhnik dan dan mendekati angka dua ribu di fakultas sosial darn ribuan lagi di fakultas lain.
Angka yang cukup fantastis dibandingkan saat pertama aku masuk ke kampus ini. Kini perguruan tinggi tempatku kuliah tidak lagi sebagai kampus elite peninggalan sejarah sudah beranjak ke kampus yang mengedepankan visi misi dan kompetensi setaraf internasional. Banyak gedungnya yang diperbaiki, pembangunan prasarana baru, gedung kampus baru, sistem akademis yang sudah berbasis online, sampai membayar SPP pun sekarang sudah bisa lewat telepon genggam alias tinggal transfer menggunakan sistem mobile banking.
Ini berbeda dengan beberapa waktu yang silam cerita tentang kampus lain di Jogja yang justru merosot karena managemen pengelolanya yang tertangkap basah korupsi dan mengadakan kelas jauh yang memang sangat tidak dibenarkan. Ujung-ujungnya akreditasinya bermasalah, kalau sudah seperti ini siapa yang harusnya disalahkan, orang yang salah karena tidak mengenal seperti apa managemen atau memang sebagian tidak peduli. Atau tentang cerita kampus lain dimana managemen kampus yang begitu pelit akan kemajuan perguruan, sehingga membuatnya tidak pernah beranjak kearah yang disebut kesuksesan. Ketika kampus-kampus lain telah mencoba akan peningkatan sumber daya dikampus dan penambahan perangkat teknologi dikampusnya, namun masih berkutat dengan sistem yang merepotkan mahasiswa dan civitas akademisnya. Dimanapun itu kampusnya, kalau pelayanan dan fasilitasnya baik maka mahasiswanya juga akan terus bertambah. Jumlah mahasiswa juga berpengaruh. Dan itu seharusnya wajib dipahami oleh pihak managemen kampus. Birokrasi yang menyulitkan mahasiswa tentu akan menjadi buah bibir yang kemudian beredar di masyarakat. Bisa jadi itu nanti menjadi bumerang tersendiri bagi managemen kampus. Sepertinya begitu. Dan satu-satunya yang aku tidak nyaman dengan kampus ini adalah wanita tua yang bertindak sebagai bagian Tata usaha di administrasi fakultas.
Tak terasa aku sudah sampai diruang TU, ibu-ibu berumur setengah baya dengan kacamata tebal menyambutku dengan sikap yang tidak bersahabat. Penjaga TU yang ada sejak jaman baheula ini masih saja dipertahankan oleh kampus padahal pelayanannya sudah dianggap tidak efisien lagi. Entah karena kampus memperhitungankan dana gaji yang lebih kecil daripada menggaji penjaga TU yang lebih muda dan berwajah manis atau ada hal lain sehingga wanita tua nan aktik itu masih tetap di sini meski secara umurnya sudah tidak se-ego dengan yang muda-muda.
Sikap arogan ditunjukkan ibu-ibu itu benar-benar kerap membuat kesal, sehingga ingin sekali kuludahi wajah keriputnya sambil berkata kotor. Tapi hanya berdiam saja, sambil pura-pura ramah aku permisi pulang. Seperti biasa, sang dosen pembimbing tidak kujumpai lagi dan si ibu-ibu berwajah arogan tidak memberikan keterangan yang jelas. Padahal tadi pagi pak Wiro sudah berjanji akan berada dikampus pada jam setengah delapan, entah dimana beliau sekarang mungkin sedang bertemu dengan gurunya; eyang Shinto gendeng. Haha.
Alangkah menjengkelkan.
Dengan langkah gontai aku menuju kantin disamping parkiran. kantin sepi dikarenakan jadwalnya masuk kelas, cuma ada beberapa mahasiswa yang terlihat bersantai sambil membuka laptop mereka. Ini kebisaan baru dikampusku, mahasiswa yang tidak berniat masuk kelas lebih memilih kantin sebagai tempat mangkal sekaligus sebagai area yang bisa membuat mereka membuka dunia maya, internetan gratis. Sejak kampus dilengkapi Hotspot area, mahasiswa semakin kaya informasi dengan hampir tiap hari mengupdate status dijejaring sosial semacam Facebook dengan mudah, tanpa susah-susah ke warnet dengan membayar tiga ribu enam ratus per-jam. Begitulah keadaan kampusku sekarang, sangat-sangat berbeda dengan saat pertam kuinjakkan kaki dan menuntut ilmu dikampus ini. Jika dulu aku sedikit menyesal diterima dikampus kecil ini, tapi sekarang aku bisa cukup bangga karena aku yakin bahwa kelak masa depanku akan bagus karena menuntut ilmu dikampus ini. Karena kampus ini tidak lagi kecil, namun sudah cukup diperhitungkan di Jogja.
Seperti biasa aku selalu minum dan makan dikantin ini. aku bergegas masuk kekantin dan segera menghampiri empunya. Belum sempat memesan, sebuah suara merdu mengagetkanku. Suara yang kukenal menyebut nama makanan yang selalu jadi favoritku sejak berada di Jogjakarta.
“Nasi goreng pedas telurnya di dadar dan minumnya es teh manis!“
Sebuah tepukan pelan hinggap di bahuku. Dan suara itu,..
Tidak salah. Ketika aku melongok, aku menemukan sesosok yang kukenal. Ratnawati alatas subandria, sahabatku yang juga wanita yang pernah menjadi permaisuriku itu ada disini. Dia megenakan kebaya dan jilbab warna pink, dan celana jeans panjang yang kukenal. Celana panjang yang kuberi sebagai hadiah Valentine’s day ketika kami masih berpacaran dulu. Ratna terlihat berbeda,semakin cantik dan kurus. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, dia dulu sedikit gemuk dengan pipi tembem. Kuulurkan tanganku, dan dia menyambutnya dengan cepat. Dia masih seperti dulu, mencium tanganku setiap kali bertemu. Walau setahun aku tidak pernah menemuinya, setelah dia wisuda dan pulang ke prambanan dan hampir tak pernah ke Jogja lagi. Dan hari ini, aku tak percaya jika dia berdiri didepanku. Ingin sekali kurangkul tubuhnya jika saja tidak ada orang lain disekitarku. Terakhir menghubungi pas aku mulai mengajukan judul skripsiku sejak itu aku tak pernah menghubunginya lagi. Begitu juga dirinya.
“Apa kabarnya mas?” Dia bertanya setelah mencium tanganku.
“Kabarku baik nduk, kamu sendiri bagaimana kabarnya. aku lihat semakin kurus saja, apa yang kamu lakukan saat ini?” Tanyaku
“Aku kerja disebuah toko pakaian sambil sesekali mencoba peruntungan yang bisa mewujudkan impianku sebagai seorang guru bahasa inggris. Aku juga mengajar dilembaga les bahasa Inggris, walau hasilnya masih hitungan per-jam tapi lumayan bisa buat beli pulsa.” Ujarnya.
“Oh begitu, terus bagaimana apakah sudah ada prospek kedepan, mendaftar PNS atau melamar sebagai guru di sekolah-sekolah?” Tanyaku.
“Belum mas, aku masih fokus di kerjaku sekarang. Gajinya aku tabung untuk modal membuat sebuah usaha, aku rencananya mau bikin usaha kecil-kecilan bersama mbak Eka, cuma masih bingung mau membuat usaha apa dengan modalnya yang rasanya tidak terlalu besar tapi hasilnya menjanjikan, lha sampeyan bagaimana dengan skripsinya? sudah sampai mana?” Ratna mengejarku dengan pertanyaan yang membuatku tersenyum pahit.
“Aku lagi sibuk dengan hal itu, memang hampir selesai dan mudah-mudahan mei aku bisa wisuda, doakan saja mas mu ini ya nduk?” Jawabku
Pesanan datang,sehingga kami berhenti sejenak. Kami meneruskan perbincangan sambil menikmati makanan. Tiba-tiba aku teringat ketika dulu masih berpacaran dengannya, hampir sehabis kuliah kami makan bersama dikantin itu. Sampai akhirnya, Aku pindah jurusan membuat waktu kami yang tidak selalu bersama lagi. Dan kesempatan bersama sangat mustahil, apalagi mata kuliah yang kuambil sangat banyak sehingga komunikasi terputus. Ujungnya adalah kami memilih jalan masing-masing, dan disaat itulah Sandra datang mengisi hari-hariku. Aku sempat mendengar dari sahabatku, bahwa Ratna sempat patah hati saat itu. Tapi dengan kebesaran hatinya, dia bisa menerima semuanya dan yang kutahu sampai sekarang dia masih belum mencari penggantiku. Bahkan dari chattingan dengan sahabatnya, aku tahu kalau jika dirinya masih mempunyai perasaan yang sama. Kucari kebenaran itu di matanya, tapi aku tidak menemukan apa-apa hanya bayangan nostalgia tentang sosok baik yang selalu mengerti aku dan selalu memberi maaf saat aku melakukan kesalahan.
“Nduk. . . .”
“Kenapa mas, kok menatapku seperti itu?” Dia mengkeryitkan matanya.
Aku buru-buru menundukkan kepala. Aku tidak mau dia membaca pikiranku. Aku sedikit menyembunyikan kekagetanku saat tiba-tiba dia melancarkan pertanyaan yang membuatku tersenyum manis karena sedetik yang lalu aku punya pertanyaan yang sama.
“Kamu masih ingat nggak dulu kita sering makan bareng disini?” Tanyaku padanya.
“Dulu kita sering makan disini ya mas?”
Mendadak aku berharap jangan ada tukang ronde lewat dan mengacaukannya.
“Aku pikir kamu sudah lupa, lupa sama aku, lupa sama semuanya,”
“Ndak lah mas, mana mungkin aku bisa melupakan semua itu. Bahkan sampai saat ini aku masih selalu menangis jika mengingat semua itu, andai waktu bisa terulang kembali lagi ya mas, aku ingin seperti dulu.”
Mungkin dengan jujur dia mengatakan itu, karena dia tidak pernah bohong. Aku tak kuasa menahan ludah pahit dalam sanubariku, tapi sebagai lelaki aku pintar berbohong tentang apa yang aku rasakan saat ini. Aku pernah menyakitinya. Betul.
“Aku masih tidak bisa melupakan kamu mas, aku sakit saat mendengar dan melihatmu bersama wanita lain. Aku hanya berpura-pura tegar dihadapan semua orang padahal hatiku itu hancur mas, sedikit berlebihan tapi itulah sebenarnya”.
“Dengan semua yang sudah terjadi, aku minta maaf jika selama ini aku selalu menyakitimu. Aku juga masih ingat dengan semua kenangan kita, saat aku menemanimu mendaki merapi, bagaimana kamu merayakan ulangtahunku bersama sahabat-sahabatmu itu, bahkan kemeja pemberianmu masih kerap kupakai nduk, aku tahu kamu juga pasti masih sayang aku, hadiah valentine disaat kita pacaran kulihat masih selalu kamu pakai khan?” Jawabku syahdu.
“Ya mas, itu satu-satunya kenangan paling berharga dalam hidupku. Dengan semua kenangan ini, aku bisa menjadi tegar dalam menjalani hidup. Aku juga sudah merelakan kamu dengan mbak Sandra mas, biarlah cintaku ini terkubur bersama semua kenangan kita, kurasa itu lebih baik untuk kita berdua. Aku…”
“Aku sudah putus dengan Sandra…“singkat saja aku memotong ucapannya. Aku melihatnya terperangah, namun cepat-cepat dia kembali menuduk dan meneruskan makannya, entah apa yang ada dibenaknya sekarang. Aku mencari matanya tapi yang kutemui hanyalah ke rumah kontrakanongan, dia pintar menyembunyikan.
“Aku sudah tidak dengan Sandra…” Untuk kedua kalinya aku berusaha meyakinkan.
Ratna menyudahi makannya. Diteguknya es dingin, kemudian menatapku dalam-dalam seolah mencari kebenaran dari apa yang barusan keluar dari mulutku.
“Aku tahu kamu sering bohong padaku, tapi sekali ini aku percaya padamu mas, kok bisa?”tanyanya.
“Ada sesuatu yang membuat kami tidak bisa bertahan. Mungkin karena kami sama-sama keras sehingga keegoan itu selalu menjadi bayang-bayang penghalang segala macam hal yang kami lakukan. Kadang kita berusaha saling mengalah,tapi tetap saja hal yang sama selalu hadir lalu kamu tidak bisa mengalahkannya. Ketika semua itu terjadi dan kita gagal meredam keegoan, pilihan terbaiknya adalah berpisah. Dan itu yang terjadi. Aku sekarang bagai pria yang berjalan sendiri, tertinggal jaman tanpa ada teman menemaniku melewati pintu-pintu besi didepan sana, aku terlihat tegar namun aku rapuh didalam.”
“Terus sekarang kamu sendirian ya, apa ndak mencoba mencari gadis yang lain lagi, karena setahu aku kamu memang susah lepas dari bayang-bayang gadis cantik. Hidupmu khan selalu dipenuhi gadis-gadis, siapa itu Ranya, Fifi, Dewi, dan lain-lain?”tanyanya sambil menatapku.
“Ngece. Entahlah nduk, aku mau fokus pada skripsiku saja dulu. Untuk saat ini aku ndak begitu tertarik pada wanita cantik, cukups sebagai teman dekatku saja aku sudah merasa bahagia nduk. Karena yang jelas, targetku sekarang adalah lulus kuliah kalau bisa lulusan terbaik.” Jelasku.
Aku berbohong padanya.
“Terus sekarang ini siapa yang menemani kamu merampungkan skripsimu mas?” Kejarnya lagi.
“Ndak ada nduk, kamu mau nemenin?” Tanyaku.
“Dengan senang hati mas ku “ Dengan berbinar dia mengatakan itu.
Kulihat ada senyum dibibirnya, senyum yang dulu pernah membuatku tergila-gila. Dan kali ini aku kembali memenangkannya. Jadilah kami seharian mengobrol seperti dulu. Aku bahagia bisa menemukannya lagi setelah lama menghilang dariku. Dan aku hebat, bisa membuatnya kembali merengkuh apa yang sebelumnya hilang entah kemana. Mungkin passionku disini.
“ Kamu masih menyimpan nomorku?”
Aku tatap matanya, dia menatapku juga. Ada beberapa detik mata kami bertemu, energi listrik yang terpancar dari matanya itu merobek-robek hatiku. Seakan dia menikamkan pisau ke hati, lalu saat dia memalingkan wajah semuanya berubah menjadi mutiara. Mendadak ada salju dan bunga-bunga melati berjatuhan menimpa kepalaku.
“ Masih”
“ Aku kira sudah di hapus,”
“ Tidak mungkin”
Sudah cukup menjelaskan bahwa perpisahan dalam sebuah hubungan tidak berarti harus melupakan. Tanpa kita tahu, bahwa kisah hidup bisa berubah tiba-tiba di masa depan, dan itulah yang sebenarnya telah terjadi.
Dan entah kenapa pertemuan lagi justru berubah menjadi ajang nostalgia. Bagaimana bisa. Gadis ini tentu saja sudah melekat kuat di pikiranku. Dia menyukai band rock Paramore, namun tidak suka dengan Avril Lavigne. Dan dia menyukai kucing tapi paling tidak suka dengan bulu kucing yang menempel. Gadis yang aneh. Setiap berdebat, dia selalu berhenti dan meninggalkan pertanyaan.
“ Bagaimana bisa Thomas Alfa Edison bisa menciptakan bola lampu bila dia berhenti berusaha untuk menyelesaikan penelitiannya, dan pasti dia tidak akan menemukan rumus-rumus menemukan lampu pijar”
“ Thomas Alfa Edison itu tidak cerdas, tapi dia ulet”
“ Bukannya setiap penelitian butuh perumusan?” Tanyaku.
“ Tapi dia ulet”
Hanya itu jawabannya. Percuma berdebat dengannya panjang lebar, karena jawabannya selalu tidak lebih dari lima kata. Albert Einstein bila berdebat dengan dia juga pasti akan gantung diri karena kesal sendiri.
=
Baca juga Cerita Pendek: REUNI
Sejak pertemuan dikampus kemarin, Aku dan Ratna semakin sering bertemu. Ratna begitu bersemangat menemani hari-hariku. Hampir dipastikan setiap dua - tiga hari sekali dia mengunjungiku di rumah kontrakan, membawakan makanan dan juga membantu membersihkan kamarku. Terkadang tanpa malu-malu dia mencucikan bajuku. Jarak antara Prambanan - Jogja tidak pernah menjadi masalah baginya. Aku melihatnya selalu bersemangat, sesemangat aku ketika disemangatinya.
Dan tentu saja itu juga menjadi motivasi buatku untuk cepat-cepat menyelesaikan tugas akhirku ini. Karena dia tidak hanya menyemangati, tapi bak supporter garis keras yang memaksaku untuk menyelesaikan skripsiku. Ini luar biasa, karena ditengah perjuanganku yang maha berat; ada orang yang tak pernah lelah mengingatkan tentang prioritas. Entah iblis atau setan apa yang membisikan ketelingaku sehingga dulu aku meninggalkannya, dia baik dan perhatian. Aku yang bodoh.
Seperti pagi ini, tepat jam sembilan pintu kamarku diketuk. Aku yang masih terkantuk-kantuk membuka pintu. Ratna telah berdiri didepan kamarku. Berpakaian rapi dan anggun membuatnya cukup cantik pagi ini.
“Assalamualaikum. .”
“Waalaikumsalam, pagi-pagi sekali sudah sampai disini. Aku baru bangun nih”Jawabanku singkat. Pakaianku masih mengenakan singlet dan celana pendek, plus iler di bibir.
“Sudah siang ini mas, ayo mandi sana. Nih aku bawain sarapan, kamu tuh harus semangat mas. Ndak boleh bermalas-malasan lagi.”
Dan seperti biasa segera saja kamarku diotak-atiknya. Aku segera mandi dan ketika kembali, aku sudah melihat kamarku rapi. Tidak berantakan seperti sebelum dia datang. Aku segera berpakaian, bercelana pendek dan Tshirt bergambar bullet for my valentine.
“Sarapan mas. .”
Ratna menyodorkan tempat bekal nasi bergambar Mickey mouse dan sebotol air mineral. Rasanya aku familiar dengan kotak makanannya. Itu kotak favoritnya.
Aku ingat betul, dulu semasa kuliah air mineral itu tidak pernah jauh darinya. Buat penghematan katanya. Pulang pergi dari Prambanan – Jogja membuatnya tidak pernah merasa malu membawa bekal. Sangat berbeda dengan mahasiswi lain yang merasa gengsi membawa minuman ataupun bekal makanan. Apalagi dengan Sandra puspita, rasanya berbeda jauh antara bumi dan langit.
Dan kotak makan bergambar Mickey mouse ini dari dulu yang dia pakai. Rasanya sudah cukup lama dan dia tidak berminat mengganti dengan kotak makan baru, tidak perlu di tanya karena sudah jelas jawabannya.
“Lha kamu dah sarapan belum nduk?”Tanyaku balik.
“Belum mas, khan aku mau sarapan sama kamu. Aku bawanya banyak kok.”Ujarnya menggoda.
Aku tersenyum. Kubuka tutup bekalnya. Nasi goreng dengan telur dadar plus abon sapi membuatku hampir ngiler. Aku ngambil sendok dua. Alangkah indahnya makan bersama. Ratna merapikan buku-buku bahan skripsiku yang berserakan dilantai dan mematikan laptopku, sepertinya aku lupa mematikannya. Seperti biasanya, dan semua mahasiswa akhir begitu.
“Minum mas, aku keselek nih.” Ujarnya sambil terbatuk.
Aku mengambil air mineral,menuangkan kedalam gelas dan mendekatkan dibibirnya. Begitulah mesranya kami menjalani hari ini. Aku mungkin memang ditakdirkan sebagai seorang lelaki yang romantis pada wanita. Tidak hanya dengan kekasihku, aku memang selalu lembut pada wanita dan mungkin itu sedikit faktor kenapa banyak wanita yang dekat ku. Tidak hanya sebatas teman kuliah, tapi banyak juga yang benar-benar dekat denganku layaknya sepasang kekasih, walaupun itu hanya sebatas teman aja. Namun setiap dekat dengan wanita satu ini, aku merasakan berbeda. Aku seperti dituntut untuk menjadi teladan. Harus bisa bersikap sebagai orang dewasa.
Dia tidak pernah berubah,sama seperti masa pacaran dulu, aku selalu diminta pakai kemeja, berpakaian sopan dan tanpa ada asesoris band di badanku. Tak pernah lupa mengingatkan aku untuk shalat, tak jarang kami shalat berjamaah.
Ratna sendiri kemana-mana selalu membawa mukenah, dan jangan harap melihatnya mengenakan baju seksi seperti mahasiswi lain. Satu hal yang aku suka, Ratna sering membuatku mati kutu alias tidak bisa berkutik dihadapannya. Sebelum berpacaran, alias masih pendekatan Ratna sering membuatku mati gaya didepan sahabat-sahabat. Misalnya, ketika aku dan sahabat-sahabat masih diluar kelas sambil menunggu jam masuk, aku ingat betul waktu itu. Sedang asyik ngobrol bersamanya dan teman-temanku yang lain,tiba-tiba handphoneku berbunyi. Tentu saja ada yang menyeletuk.
“Halo sayang, aku masih dikampus nih. Aku cinta kamu.” Celetuk seorang teman waktu itu.
Tapi sang wanita yang sedang kudekati itu justru menimpali dengan kata-kata yang diluar dugaan.
“Sayangnya khan ada disini mas,”. Begitu katanya.
Dan tentu saja,suasana menjadi gaduh dan hampir-hampir membuatku malu. Dan anehnya dia tidak pernah minta maaf. dan sampai akhirnya, ketika kami resmi berpacaran dia baru minta maaf dengan kejadian-kejadian itu. Dengan alasan yang simple bahwa dengan begitu aku harus lebih berani mengekplorasikan perasaanku. Dan dengan itu jugalah berita bahwa kami berpacaran tidak menjadi gosip lagi, bahkan hampir semua yang kukenal itu mengetahuinya dalam waktu yang sigkat. Tidak sampai dua hari, peresmian kami sudah menjadi bahan omongan setiap mahasiswa dan mahasiswi dikampus khususnya dikelasku dan kelas sebelah.
“Mas, kalau pas makan bareng suap-suapan begini, aku jadi ingat waktu kita pacaran dulu mas. Sekarang khan kita sudah ndak pacaran lagi, tapi aku merasakan masih sama dengan masa-masa pacaran dulu. Kamu tetap mesra saja mas,hehe he”.
“Halah nduk, biasa saja lah. Kamu tuh selalu bicara begitu, membuatku jadi geregetan tahu ndak?”
“Mas. . . . !”
Tiba-tiba saja raut wajahnya menjadi serius. kutatap matanya, kucari penyebabnya.
“Kenapa?”
“Sakit. . . . !”
Ucapnya sambil meringis. Tangan kanannya kududuki. Spontan dia tarik. Dikibas-kibaskan sambil ditiup-tiupkan dengan meniup angin dari mulutnya. Wajahnya sedikit merengut.
“Oh maaf. . . ndak sengaja nduk, habis tanganmu itu sih yang megang-megang pantatku, ya kududuki saja. terus siapa yang salah?” Jawabku seenaknya sambil mengusap tangannya, berharap mengurangi rasa sakit.
“Enak aja, pantatmu itu yang ndak ada matanya…” Sewotnya yang aku tahu hanya pura-pura. Menjulurkan lidah, bertingkah seperti anak remaja yang sedang bermanja-manja dengan kekasihnya. Dia tidak pernah berubah.
“Iya maaf. . . lain kali, pantatku dibilangi dong supaya permisi dulu sebelum duduk,okay khan?” Jawabku mesem sembari mengelus-elus rambutnya.
”Nang ning nung ning nang ning nung. . .” Ledekku lagi.
“Edan kamu mas. . . .” Serunya sambil menjatuhkan kepalanya dibahuku.
Ini Kebiasaan yang aku suka, jika ada apa-apa Ratna selalu menyandarkan kepalanya dibahuku. Begitu kemesraan dn kehangatan yang kami jalani sepanjang hari. Semua pekerjaanku rasanya menjadi mudah dengan kehadirannya. Ternyata aku bisa lebih cepat menyelesaikan tugasku dari target awal. Sekarang aku sudah bisa sedikit santai mengerjakannya, tidak seperti sebelumnya.
Soal menyandarkan kepala, Sandra juga kerap melakukannya. Tepatnya beberapa waktu yang lalu saat kami bertemu, dan aku juga suka. Kemesraan dari keduanya adalah motivasi yang hebat, entah apa jadinya kalau keduanya tahu apa yang aku lakukan dibelakang mereka. Mungkin semua akan berubah.
Ratna tidak hanya sebatas nostalgia yang hadir, dia bukan juga persinggahan hatiku karena dia selalu menjadi bagian dari hari-hariku. Dan dia tidak pernah berubah, sungguh sangat sulit menemukan sosok sepertinya. Aku belum belum berfikir lebih jauh, setidaknya sekarang dia adalah teman yang baik. Dan mungkin tuhan yang memberikan keajaiban ini, karena lokasi terakhir dari penelitianku adalah Prambanan yaitu tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Tuhan sengajakah engkau mendekatkan aku dengan dia?
Baca juga Cerita Pendek: Ada Sesuatu di Kamar Itu
Selama diJogja aku baru tiga kali ke Prambanan. Dan hanya pertama kali singgah kerumahnya, waktu itu dengan teman-teman sekelas. Itupun belum resmi berpacaran dengannya, masih dalam suasana pendekatan. Tapi penyambutannya luar biasa, kami disuguhi makan, minum dan lain-lain. Orangtuanya juga sangat ramah, satu-satunya kata yang kuingat waktu itu adalah ucapan ayahnya ketika ada seorang teman yang menceletuk bahwa aku adalah calon menantunya. Ayahnya mengatakan “Kuliah dulu diselesaikan, kalau soal calon itu bisa diatur. Yang penting baik, bapak terima-terima saja, asal anak saya juga seneng. Tidak usah terlalu dipikirkan, karena jodoh sudah ada yang mengatur, nggeh mboten?”.
Waktu itu rasanya aku ingin memeluk ayahnya, tapi tidak jadi. Sekarang keadaan berubah, karena dari semua yang datang waktu itu hanya aku yang belum juga menyelesaikan kuliahku. Kuliahku saja belum selesai, bagaimana bisa datang kembali kesana lalu mengatakan “Aku lho pak, dulu yang bilang mau jadi calon menantunya bapak.” . Tidak lucu khan…
=
Membangun Istana
Berdinding Kepalsuan
Prambanan, Yogyakarta
LAGI-LAGI pak Wiro menunjukkan kebijaksanaannya, aku diberi kemudahan mencari sendiri instansi tempat penelitianku. Kali ini aku terjun langsung survey selama dua minggu ke Prambanan, targetnya adalah candi Prambanan dan orang-orang disekitar candi. Proses pengambilan data melalui proses interview dan wawancara aku lakukan setiap hari selama dua minggu, hasilnya adalah sebagian dari para pegawai di candi Prambanan cukup bisa menggunakan bahasa Inggris sebagai media berkomunikasi. Meskipun secara grammatical structure nya bisa dibilang sangat salah, namun untuk berkomunikasi cukuplah. Beberapa pedagang dan tukang becak bahkan bisa speaking bahasa Inggris dengan cukup baik dan dimengerti oleh para turis asing meskipun sebelumnya mereka tidak merasakan belajar bahasa Inggris di bangku formil atau kursus bahasa. Ini adalah sebuah result penelitian yang sangat bagus, dari situ aku dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya bahasa itu bisa dipelajari dan bahasa itu juga merupakan sebuah kebutuhan. Dan memang, jika kita mampu memahami dan menggunakan bahasa itu juga bisa berguna bagi tingkat keberhasilan. Bahasa adalah alat komunikasi, bila bahasa komunikatif sudah kita miliki maka kita akan sukses membangun sebuah interaksi. Dari situ kita akan mengenal orang baru dari berbagai kalangan, klien, bahkan bisa jadi dari situ kita membangun sebuah persepsi dalam diri sendiri bahwa tingkat seseorang juga bisa dilihat dari penggunaan bahasa dan kata-kata dalam keseharian.
Ilmu komunikasi itu memang penting dan perlu dipelajari , dan dari penelitian ini aku mendapatkan banyak hal yang berguna. Berita baiknya pak Wiro memuji penelitianku, menurutnya jika tugas akhir ini sukses maka kelak akan berguna bagi siapapun yang membacanya.
Berita baik kedua adalah selama tinggal di Prambanan membuatku merasa tinggal dirumah sendiri. Ratna memberikan tumpangan gratis selama dua minggu dirumahnya, dan kebetulan keluarganya juga sangat welcome dan menerima dengan baik. Sungguh keajaiban tuhan itu sangat luar biasa. Terlebih keramahan dan sikap bersahabat yang mereka tunjukkan membuatku merasa nyaman dan spontan juga ikut aktif dan terbiasa dengan kebiasaan mereka. Aku tak segan-segan mencangkul disawah membantu bapaknya Ratna menggarap sawahnya yang lama tidak digarap. Bapak terlalu sibuk dengan kerja di perusahaan kereta api dan ibunya adalah seorang guru, kakak sulungnya bernama mbak Eka telah menikah sekitar setahun yang lalu tapi karena tugas suaminya sedang di Surakarta dan dia sibuk mengurusi toko pakaian yang merupakan bisnis keluarga jadi lah dia lebih sering dirumah dan tidak ikut dengan suaminya, sementara adiknya Ratna yang satu-satunya lelaki sekaligus si bungsu bernama Danang sudah semester dua diperguruan tinggi Muhamadiyah diJogja. Ratna sendiri yang juga sudah lulus kuliah juga sudah berkerja disebuah lembaga bimbingan belajar bahasa Inggris sekaligus sebagai kasir di toko pakaian yang di rintisnya bersama mbak Eka, jadi sekarang mereka dua usaha yaitu toko pakaian dan juga butik batik. Terkadang tugas baruku disaat free atau disela-sela mengerjakan penelitian adalah mengantar dan menjemputnya kerja. Salah satu yang membuatku terkesan adalah aku mulai tidak takut kesawah atau ikut angon menggembala kerbau milik keluarganya yang ditempatkan dibelakang rumah. Setiap sore aku mencari rumput yang tempatnya cukup jauh, membawanya pulang dan memberi makan kerbau-kerbau itu. Dan ketika waktu shalat telah tiba, aku didaulat menjadi tukang adzan dimasjid didekat rumahnya.
Rumah Ratna tidak terlalu jauh dari candi Prambanan, hanya sekitar tiga kiloan dari kompleks candi. Dari kejauhan, setiap sore aku bisa memandangi ketinggiannya yang menjulang mencakar langit. Candi prambanan begitu megah dan gagah. Bangunan yang dibangun pada masa kerajaan Mataram dulu benar-benar bisa menjadi daya tarik bangsa indonesia. Belum lagi dengan Mitos Roro jongrang yang membarengi keberadaan candi itu membuatnya begitu Mistis. Tiba-tiba aku teringat Mitos bahwa semua pasangan yang mengunjungi candi Prambanan akan putus setelah keluar dari komplek candi. Hal yang selalu kuingat,karena ketika aku dan sahabat-sahabatku semasa kuliah mengunjungi candi itu dan tentu saja bersama Ratna, Ratna bersikeras tidak ikut kedalam candi. Aku awalnya juga sempat marah dengan sikapnya padahal aku dari Jogja sudah berniat berphoto bersama dicandi tersebut.
Tapi akhirnya aku bisa memaklumi ketika salah seorang sahabat asal klaten yang memberitahukan mengapa sampai seperti itu. Aku cuma tertawa mengejek saja, tapi setelah membaca dari beberapa artikel disurat kabar ataupun Internet aku sedikit kaget dengan hal itu. Buatku itulah mistisnya pulau jawa. Hal yang terkadang juga ada didaerah dikampung halamanku, namun tidak terlalu di ekspos seperti disini.
Aku sendiri berasal dari Kabupaten Indragiri Hilir, sebuah kabupaten dipinggiran Provinsi Riau. Meskipun dipinggiran ibukota provinsi, namun untungnya tempat tinggalku berada di dekat perbatasan antara provinsi Riau dan provinsi Jambi, jadi aku benar-benar berasal dari ujungnya kabupaten di ujung provinsi Riau. Ada akses jalan besar lintas timur yang dijadikan sebagai akses utama lintas provinsi, jalannya sangat mulus dan bagus. Tidak ada bedanya jangan jalan di Jawa. Namun begitu masuk ke daerah tempat tinggalku, yaitu di Kecamatan Kemuning maka suasananya akan berubah. Sepanjang jalan yang ada hanya timbunan tanah kuning berdebu dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Dan ketika malam menjelang maka suasananya menjadi gelap gulita, karena daerah yang memiliki suplai listik hanya daerah yang berada didekat ibukota kecamatan, sisanya sebagaian ada yang masih menggunakan PLTD, bahkan masih ada yang menggunakan lampu berbahan bakar minyak tanah. Bayangkan dengan suasana seperti itu, mitos yang berkembang di masyarakaratpun merajalela; mulai dari mitos persugihan babi hutan para tokeh-tokeh yang kekayaannya demikian mencolok, belum lagi mitos tuyul milik pak haji-pak haji yang memiliki toko besar, atau mitos tentang orang yang memiliki kembaran buaya sehingga setiap air pasang buaya tersebut naik kedaratan mengunjungi kembaran mereka. Soal kembaran buaya ini sudah sangat melegenda, entah karena itu mungkin yang menyebabkan sepanjang bantaran sungai Reteh sampai sekarang tetap dibiarkan seperti hutan menyeramkan. Benar-benar seperti sarang siluman buaya jadi-jadian.
Sekarang bandingkan dengan mitos yang ada di tanah Jawa, misalnya legenda Bandung Bondowoso yang membuatkan candi Prambanan hanya dalam waktu semalam, kisah Roro Jongrang yang menjadi batu. Belum lagi cerita tentang penguasa laut selatan, memang sih ceritanya lebih menarik dikisahkan dibanding orang yang kembar buaya lalu buayanya memakan orang dipinggir sungai.
“Mbak, apa benar bahwa setiap pasangan yang masuk ke komplek candi ini bakal putus?” Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutku.
Kebetulan penelitiaku kali ini aku ditemani sama mbak Eka, kakaknya Ratna. Karena Ratna sedang ada urusan dengan lembaga mengajarnya sementara aku butuh guide selama penelitian, jadilah mbak Eka yang menemaniku saat ini.
“ Kamu percaya Mitos?, tapi memang sih sudah banyak kok yang membuktikan. Jadi percaya ndak percaya itu tidak cuma sekedar isapan jempol. Kenapa kamu nanya hal-hal seperti itu? apa mau kamu angkat juga di tugas akhirmu, sepertinya boleh juga kok. Jadi ada sedikit sesuatu hal yang berbeda dari tanah jawa, sedikit Mitos saja bisa menambah bumbu-bumbu bahwa Pulau jawa adalah pulau yang cukup unik, bagaimana menurutmu?” Begitu kata mbak Eka saat aku bertanya kepadanya. Bukannya menjelaskan rinci, malah dijadikan guyonan tentang tugas akhir.
“Cukup menarik, tapi apakah tidak membuat Candi Prambanan terkesan serem mbak? jadi setiap muda-mudi yang bertandang ke Prambanan akan mikir-mikir dulu akibatnya, apalagi mereka yang berpasangan. Aku jadi ragu, padahal kuakui sangat menarik karena Mitos seperti ini khan sudah ada sejak masa dulu?” Aku berusaha meminta keterangan lebih kepada mbak Eka.
“Tergantung pemikiran individu masih-masing sih, bagaimana menanggapi hal semacam itu, tokh kalau dianggap betul juga itu khan bisa membuat orang tidak asal sembarangan melakukan sesuatu disini. Selain sebagai objek wisata, Prambanan khan juga masih merupakan bangunan suci bagi masyarakat yang menganut keyakinan Hiduism, jadi tidak sepantasnya kalau hanya untuk berpacaran itu mainnya ke candi atau bangunan seperti ini, tidak tepat!,”
Aku bersyukur sekali bisa bertemu dan berdiskusi dengannya. Bisa sebagai teman diskusi yang baik, walau memang sebagian besar aku banyak menghabiskan waktu dalam membahas tugas akhirku bersama Ratna. Hanya bedanya ketika bersama Ratna suasana lebih santai, sementara mbak Eka jauh terlihat serius meskipun terkadang dibawa sesantai mungkin. Tapi dari mbak Eka aku justru banyak mendapatkan informasi yang bagus untuk bahan penelitian.
Terkadang pembicaraan tidak hanya membahas soal kebahasaan dan segala macam yang berkaitan dengan materi skripsiku tapi bisa kemana-mana termasuk soal hati. Mbak Eka paling suka bila di ajak berbicara tentang film. Film kesukaannya adalah film India. Meskipun tidak banyak mengerti tentang film Bollywood namun dulu kerap menemani Silfiani menonton film india. Film favoritnya mbak Eka adalah Kabhi Kushi Kaabi Gaam. Dan satu-satunya film India yang aku tahu ceritanya dari awal sampai akhir hanyalah Kahoo Naa Pyaar Haai.
“ Roshan jelas lebih gagah di banding Shahrukh Khan mbak, dia juga pandai menari. Di Film Kahoo Naa Pyaar Haai misalnya, dia juga bernyanyi di film itu. Saya suka aktingnya,”
“ Shahrukh Khan juga bisa bernyanyi dan menari. Hampir di semua film yang di bintaginya dia melakukan semua itu. Keren.”
“ Film Shahrukh Khan yang cukup saya ingat itu di film Baadshaah, mbak. Di Film itu dia berperan sebagai detektif lokal, tapi malah dijadikan sebagai pembunuh menteri. Di film itu juga dia mendapat alat-alat ala James Bond. Keren.”
Mbak Eka mulai senang saat aku membahas tentang aktor idolanya. Salah satu cara untuk menyenangkan orang lain, dan dia semakin antusias berbagi cerita denganku. Jadilah aku sebagai pendengar yang baik dari cerita-cerita dramatisnya. Menurutnya Kaabi Khushi Kaabi Gaam adalah film terbaik yang pernah dia tonton. Sebuah drama keluarga yang menguras hati.
Sehabis dari Prambanan, mbak Eka mentraktirku disebuah warung bakso. Aku sebenarnya minder ditraktir oleh wanita, tapi aku tidak bisa menolak karena mbak Eka mengatakan bahwa dia senang mentraktirku.
Bakso salah satu favoritku, bila di Jogja aku punya tempat khusus yang bisa menjadi tongkrongan saat hendak menikmati bakso. Bakso setan di daerah Bantul tepatnya. Porsinya besar namun harganya terjangkau. Dan di tempat makan seperti ini biasanya perbincangan kami berlanjut dari masalah tugas sampai hal-hal yang lebih berani lagi.
Mbak Eka mulai menanyakan hubunganku dengan adiknya, tanpa ada yang kututupi aku menjelaskannya. Semua aku ceritakan padanya tanpa terkecuali. Aku memang tidak bisa berpura-pura berbohong, aku lebih suka jika mengatakan sebenarnya. Terserah apa tanggapan orang. Tapi mbak Eka hanya senyum-senyum saja mendengarnya.
“Ratna baik kok, dia orangnya mandiri. Kamu khan pernah merasakan dekat dengannya, pasti kamu tahu bagaimana dia sehari-hari” Begitu penjelasannya.
“Memang kalau soal mandiri, dia bisa seperti itu. Dulu ketika kami pacaran,dia paling ndak mau kalau aku anterin sampai ke shelter pas mau pulang kerumah.”
“Ya sudah, kalau kalian jodoh pasti ada jalannya khan, apalagi bapak khan sepertinya setuju sama kamu. Mbak lihat bapak sama ibu juga senang menerima kehadiranmu dirumah”
Mbak Eka malah menggodaku.
“Aku masih ingat kata kata-kata bapak pas dulu pertama kali kerumah bersama teman-teman kuliah. Mereka pada menggoda bahwa aku adalah calon menantunya, tapi bapak Cuma senyum-senyum sambil mengatakan bahwa kalau sampai ndak jadi sakit hati, jadi jalani saja dulu. Begitu katanya, ternyata bapak benar karena beberapa bulan kemudian kami putus. Tapi sekarang bisa dekat lagi seperti ini, mungkin juga kehendaknya seperti ini mbak?” Jawabku dengan mantap
“Serius bapak pernah bilang begitu?” Kejar mbak ika lagi.
“Ya serius lah mbak, makanya kadang suka berfikiran kearah situ. Jadi aku ya tidak berfikiran lebih, jalani saja semuanya dengan baik-baik. Yang terpenting khan sekarang aku fokus menyelesaikan tugasku sebagai mahasiswa”
“Yang sabar saja dik, siapa yang tahu kalau Ratna adalah jodohmu. . .”
Mbak Eka tiba-tiba ikut trenyuh mendengar kisahku. Kulihat matanya ikutan berkabut, memang wanita mudah sekali tersentuh. Mungkin dia trenyuh bukan karena kisah percintaanku, tapi lebih kepada skripsiku yang tidak selesai-selesai.
Aku hanya mengamini saja. Dalam hati aku mengucap syukur bahwa ternyata masih ada yang peduli pada keadaanku. Keluarga Ratna adalah keluarga yang benar-benar membuatku nyaman. Selam berada disitu aku sudah diperlakukan layaknya menantu dikeluarga itu. Aku juga tidak merasa segan lagi, aku menjalani hari-hari layaknya dirumahku sendiri. Secara tidak langsung semua itu membuatku kembali dekat pada Ratna. Kami semakin sering bersama, dan aku tidak pernah menyangkal bahwa aku masih mencintainya. Banyak kenangan yang kutemukan dirumahnya, Misalnya diatas komputernya masih bertengger Boneka I LOVE YOU Pemberianku saat ulang tahunnya yang ke-19. Begitu juga buku berisi Ungkapan cinta yang kuberi bersamaan dengan jeans favoritnya ketika aku menghadiahinya kado Valentine. Dan hal yang paling menonjol adalah bunga edelwies terbuat dari kertas hadiah ulangtahunnya masih terpajang di dinding kamarnya. Itu semua adalah pemberianku, dan jika dia masih menyimpannya bisa jadi itu memiliki nilai historis. Secara teori khan seperti itu.
Semua itu seakan menjadi semacam flashback untuk mengulang kembali kisah yang pernah terjalin. Tapi aku belum memikirnya, aku masih fokus dengan tugas akhirku dan ingin segera menyelesaikannya. Aku yakin akan bisa cepat menyelesaikannya.
=
Penelitian-penelitian demi penilitian aku jalani sepenuh hati, rasanya dua minggu begitu cepat berlalu. Tidak terasa tinggal beberapa hati lagi aku harus segera selesai membuat laporannya. Pak Wiro sudah beberapa kali memberi deadline agar segera dirampungkan, mengingat waktu ujian semakin menyempit. Kali ini benar-benar sistem kebut supaya secepatnya bisa selesai dan segera ujian.
Sistem kebut supaya cepat selesai ini sungguh menyita tenaga. Berulang kali aku harus drop, sehingga semua hasil penelitianku justru dikerjakan oleh Ratna semua laporannya. Dan kali ini dia benar-benar menunjukkan perhatiannya, setiap pagi dia memasak untukku menyediakan sarapan. Dan tak jarang dia membawakan makanan ketika aku sedang berada di lokasi penelitian. Semua perhatiannya ini justru semakin menyiksaku. Aku bisa saja senang diperlakukan dengan perhatian tulusnya, sementara di ujung sana ada perempuan lain yang juga memberikan perhatian lebih. Karena merasa tidak enak hati pada Ratna, sekarang aku kerap mengabaikan pesan singkat dan panggilan teleponnya. Bukannya menemukan solusi justru malah memperburuk keadaan, karena ternyata hal itu menyebabkan kekhawatiran lebih di hati Sandra, sehingga dia mencariku bahkan ketempat lokasi penelitian. Dan aku terus menghindari pertemuan keduanya.
Ini adalah dilema besar yang muncul dari perjalanan cintaku, ada dua wanita yang sama-sama memberi perhatian sementara kepada keduanya aku mengatakan aku tidak berhubungan lagi satu sama lain. Yang terjadi kemudian adalah, aku mulai berbohong kepada Sandra saat aku bersama Ratna atau sebaliknya berbohong kepada Ratna saat aku bersama. Ketika di Prambanan aku bersama Ratna lalu saat aku kembali ke Jogja aku sempatkan waktu untuk bersama Sandra. Entah kenapa aku ingin sekali terlepas bebas dan mengatakan pada keduanya tentang apa yang sebenarnya kulakukan, tapi aku melihat akan ada rasa sakit dan kekecewaan di mata mereka. Hal itu yang membuatku tidak pernah jujur mengatakan kepada keduanya, bahkan sampai saat penelitianku selesai dan aku harus kembali ke Jogja untuk mengejar kemungkinan wisuda bulan Mei nanti.
“Mas boleh kembali ke Jogja, segera selesaikan skripsinya. Tapi harus selalu kesini ya mas, kalau mas tidak pernah kesini. Aku yang akan kesana.”
Begitulah pesan yang disampaikan Ratna kepadaku. Sungguh miris mendengarkan.
Ini tugas baru ku sekarang, selain ngebut menyelesaikan skripsi aku juga harus membagi waktu untuk bersama dengan dua orang yang penting di hidupku, tidak boleh bertemu bersamaan. Dan yang terpenting tidak boleh ada yang tahu bahwa aku masih berhubungan. Entahlah…
Adzan magrib mengalun dari masjid didekat rumah Ratna. Aku menuju kesana, kali ini aku memang tidak menjadi Muadzin dimasjid itu dikarenakan aku sedang tidak enak badan. Muadzin digantikan oleh Muslih, remaja didesa itu. Aku cukup bangga bisa dipercaya sebagai mudzin meskipun selama beberapa hari , mereka berfikir karena suara adzanku yang merdu dan indah bisa memanggil orang untuk berbondong-bondong datang ke masjid. Itu merupakan penghargaan buatku. Andai ibundaku di Riau sana mengetahui bahwa aku menjadi Muadzin pasti akan bangga dirinya, tapi aku tak pernah mengatakannya. Takut pahalaku bisa hilang karena aku mengumbar semua kebaikanku. Setiap menelepon hanya menanyakan kabar, dan lebih seringnya meminta uang. Entah sudah berapa puluh juta uangnya aku habiskan untuk kuliah yang tidak pernah selesai. Beberapa waktu yang lalu beliau mengeluh karena beberapa tetangga mulai nyinyir dengan statusku sebagai mahasiswa yang tidak kunjung berakhir, belum lagi umur dan cerita tentang teman-temanku yang sudah memberikan cucu kepada orang tua mereka.
Perasaan bersalah terus muncul. Ingin rasanya memberikan kebanggaan lebih, dan semua itu diawali dengan menjadi sarjana.
Allahu akbar allahuakbar, laailahalallah
Aku beristighfar, kenapa tiba-tiba melamun didalam masjid. Imam masjid yang juga ayahnya Ratna datang dan segera mengimami. Seperti biasa, aku bertemu orang-orang yang sama. Sehabis magrib, aku bergegas pulang. Kepalaku pusing berat setelah hampir seharian aku melakukan aktivitas yang melelahkan. Aku mengambil bantal dan selimut, badanku panas dan apapun yang kulihat menjadi berputar putar. Aku masih sempat mendengar Danang memanggil-manggil namaku, biasanya dia mengajakku main gitar ditempat temannya. Tapi kepalaku yang pusing membuat telingaku merasakan suaranya semakin jauh dan jauh sampai akhirnya aku tidak mendengarnya lagi.
BERSAMBUNG
