Kampar, Riau, 2011
“ Jogja saja sudah begitu jauh, apalagi Malaysia”.
Kata-kata itu terngiang ditelinga, diiringi dengan senyum pahit yang terpancar dari bibir tipisnya. Entah mengapa aku merasa dia bak melati yang mendadak layu seakan seminggu tak tersiram dengan air. Matanya basah berair. Dapat aku lihat bagaimana ketidakrelaan tersorot dari pandangan matanya. Aku bisa apa, tidak ada yang bisa kulakukan selain memegang kedua bahunya berusaha menghentikan banjir airmata di pipinya.
“ Tidak lama kok, hanya dua tahun.” Jawabku.
“ Itu lama.”
Ahhh, aku sudah nyaris kehilangan kaa-kata lagi. Dilema mulai merasuki segenap perasaan hatiku. Ada dua tekanan yang seakan menghimpitku. Pertama, ini adalah kesempatan langka dalam hidupku untuk mengukir masa depan, sisi lainnya adalah aku tak mampu meninggalkan kekasih hati yang sudah bertahun-tahun menemani segenap perjuanganku ini. Gadis cantik berhidung bangir dan tinggi semampai itu bukan gadis yang lemah, namun untuk terpisah dengan waktu yang berbulan bahkan tahun mungkin akan menjadi sebuah jarak yang tidak dekat. Perlahan aku usap pipinya, ku seka airmatanya dengan telapak tanganku.
“ Jadi aku harus bagaimana? Beasiswa ini penting untuk masa depanku.” Aku masih berusaha memintanya mengerti. Usaha sekali lagi.
“ Aku tahu. Aku tak menghalangimu pergi, mas Hanif. Aku hanya tak mampu membayangkan bagaimana rindunya aku nanti.”
“ Khan bisa telepon, whatsapp, videocall.”
“ Kita pernah berada dititik itu.”
“ Kita bisa melewatinya”.
Kinara Elrahdani, gadis berhidung bangir itu memandang jauh ke atas langit yang nyaris tak berbintang. Ini malam minggu, namun menjadi sebuah malam penuh dilema baginya. Mungkin aku bisa sedikit meraba apa yang dirasakannya. Dani sudah menjadi kekasihku sejak SMA atau tepatnya tujuh tahun silam saat kami sama-sama sekolah di SMA 1 Kelapa Batu, Kabupaten Kampar, Riau, lalu saat lulus sekolah kami terpaksa harus berpacaran jarak jauh. Dani melanjutkan kuliahnya di Ilmu Politik Universitas Islam Riau sementara aku berangkat ke Jogja untuk melanjutkan studi di Universitas Ahmad Dahlan jurusan Manajemen. Ditahun keempat kami nyaris berpisah karena aku yang tak pernah pulang, selama lima tahun di kota Jogja hanya sekali aku pulang itupun tiga tahun silam. Masa menjalin kasih lebih banyak dihabiskan melalui koneksi internet dan pulsa. Dani tak pernah meminta lebih, bahkan dia terlalu setia untukku. Namun kami mampu melewatinya dan di tahun ketujuh kami harus terpisah semakin jauh. Setelah menyelesaikan S1 ku, aku tidak langsung pulang. Aku langsung diterima bekerja sebagai staff di kampus sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa ke sebuah Universitas di Malaysia, University of Malaya. Orang yang pertama kali menerima kabar itu adalah Dani. Dihari yang sama saat aku menerima sebuah amplop berwarna cokelat dan saat ku buka ternyata berisi surat pengumuman bahwa aku lulus seleksi beasiswa, saat itu juga aku langsung menelepon Dani. Dani sempat mengucapkan selamat dan mengatakan bagaimana bangganya dia kepadaku. Saat itu. Namun semua seakan berubah ketika hari dimana aku mendatangi rumahnya untuk pamit; Dani seakan tak ingin aku berangkat ke Malaysia.
“ Aku tak pernah melarangmu pergi. Aku bangga dengan semua pencapaianmu.”
Kata-kata itu yang aku ingat darinya. Mungkin dia berkata jujur, atau bisa saja dia menutupi segenap perasaannya. Perempuan mana yang bisa menutupi kesedihannya. Senyumnya mungkin tak berubah, tapi story Instagramnya yang kerap mengunggah quote-quote kehilangan membuatku yakin betul seperti apa perasaannya. Aku bukan lelaki bodoh yang tak paham bagaimana alam ini bekerja. Aku paham seperti apa perasaan gadis berhidung bangir itu.
“ Jadi, kamu mengizinkan aku pergi?” Tanyaku pelan.
Dani menggenggam tanganku. Ada aliran listrik dari kulit halusnya yang merasuk kedalam kulitku. Kepalanya mengangguk. “Tentu saja.” Jawabnya pelan.

Malaysia, Awal April 2012
Perasaan cemburu terus memenuhi rongga dadaku. Dadaku terus bergemuruh seperti gunung Merapi yang akan memuntahkan laharnya pada 2010 silam. Konsentrasiku nyaris terpisah-pisah. Tidak hanya di kelas bahkan terbawa hingga ke flat tempatku tinggal. Beberapa kali aku nyaris membanting apapun yang kutemui. Entah susah istighfar yang keberapa aku lantunkan seharian ini. Teman satu flat denganku, Abdullah Fatih bin Asyhar, lelaki kelahiran Johor yang juga menempuh program Magister yang sama denganku bahkan sempat menggodaku beberapa kali. Semua ini karena tanpa sengaja aku melihat story Instagram Dani kekasihku yang tengah naik mobil dengan pria yang tak kukenal siapa namanya. Aku begitu cemburu. Sejak tiga hari yang lalu tak ada sekalipun aku menelepon apalagi mengiriminya pesan, padahal sebelumnya hampir setiap saat selalu berkirim pesan singkat.
“ Kamu tak nak paham, kerana semua ini bermula dari cemburu sahaja.” Kata Fatih tadi pagi saat aku cerita kepadanya. Fatih adalah sahabat terbaik, dia mahir menebak apa yang digundahkan sahabatnya sehingga aku ‘terpaksa’ harus mengatakan masalahku padanya.
Aku kembali mengelus dada.
“ Saya dah coba menenangkan hati Fatih, tapi saat teringat semua itu: panas rasanya dada ini.”
“ Bisa jadi lelaki itu bukanlah orang seperti yang Hanif sangka kan. Siapa tahu hanya teman kantornya. Kamu sendiri yang mengatakan kalau kekasih kamu itu punya teman lelaki yang tak sedikit.” Fatih masih berusaha menenangkanku.
“ She’s look happy, Fatih.” Jawabku lesu.
Fatih tertawa.  Sambil mencukur jenggot panjangnya dia tertawa-tawa kecil.
“ Kamu ni macam budak baru kenal cinta pertama kali. Take it easy, Hanif. Saya yakin kamu salah menilai. Pertama, kalian berdua sudah menjalin kasih bertahun lamanya dan itu artinya sudah saling mengerti. Kalian sudah merasa nyaman satu dengan yang lain. Kedua, bisa saja sangkaan kamu salah atau kekasih kamu setia tapi kamu yang merasa kalau dia mendua. You need to clarify with her.” Kata Fatih sembari melemparkan senyum. “ Bawa shalat.” Lanjutnya.
Huhhh!
Aku menepuk jidatku sendiri. Mungkin Fatih benar. Bisa juga aku yang terlalu terbawa akan perasaan. Anehnya, mengapa sekarang aku yang begitu cemburu padanya padahal dulu Dani yang lebih possesif. Gadis yang kini bekerja sebagai kader di sebuah partai politik itu memang kerap pergi kemana-mana, dengan lelaki yang berbeda.Tidak masalah dengan siapa dia pergi, namun bukankah tidak perlu di posting agar aku tidak tahu. Kalau aku melihat juga pasti akan bertanya. Dani sempat emosi saat aku mencerca dengan pertanyaan ketika  dulu dia memposting fhoto dengan lelaki lain yang mungkin teman kerjanya. Aku begitu panas melihatnya.
“ Itu hanya teman kerja mas, tidak lihat apa seragam kami sama?!” Itu katanya.
“ Tapi kenapa harus diupload, biar aku melihat?”
“ Kenapa sekarang kamu jadi kekanak-kanakan gini sih mas?”
Menyebalkan. Aku malah dikatakan kekanak-kanakan. Seharusnya dia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya, bukan malah menyulut emosiku yang semakin meledak. Hampir saja aku membanting telepon karena kesal kepadanya. Itu kejadian dulu, sekarang terjadi lagi. Kali ini aku tak berniat untuk meminta klarifikasinya, biarkan saja. Namun sesak itu terus hinggapi dadaku. Sempat mempenaruhi kinerja otakku. Dikelas Prof. Umani bahkan aku tidak mendengarkan penjelasannya sama sekali, padahal diakhir pertemuan beliau memberikan tugas. Ujung-ujungnya aku meminta tolong kepada Fatih untuk menjelaskan lagi. Beruntungnya adalah Fatih selalu bermurah hati menjelaskannya.
“ Kamu butuh refreshing lah. Tak baik kalau pikiran seperti itu dipendam, buktinya itu sangat menganggu. Ingat kamu tengah berada di proses belajar, jangan terbagi-bagi pikirannya.” Begitu kata Fatih. Mungkin dia benar kali ini.

Malaysia, Juni 2012
Kisah cinta yang manis itu semakin semrawut rasanya. Komunikasi mulai memburuk sejak kejadian kemarin. Pikiran-pikiran aneh mulai menyerang, dan entah sejak kapan rasa kepercayaan dalam diri seakan berkurang. Hampir beberapa waktu terakhir tidak ada pesan dan panggilan tak terjawab dari Dani muncul dilayar ponselku. Begitu juga sebaliknya. Aku sendiri mulai belajar untuk melawan segenap perasaan dan pikiran aneh yang menyerangku dengan menyibukkan diri dengan kegiatan positif di luar jam kuliah. Salah satunya adalah Talaqi atau belajar membaca Al Qur’an. Fatih menjadi teman perjalanan yang baik. Aku mengikuti sarannya untuk mengisi kegiatan dengan hal-hal positif. Selain Talaqi, Fatih juga mengenalkan tentang destinasi-destinasi wisata yang ada di KL maupun didaerah lain diluar ibu kota Malaysia. Tidak terasa memang tapi sebentar lagi studi ku di negeri ini akan berakhir. Saat-saat akhir seperti ini menjadi rangkaian tour untuk mengumpulkan moment selama studi di luar negeri. Seperti hari itu misalnya, aku mengikuti Fatih yang akan memberikan pelatihan di sebuah fakultas ilmu manajemen di Port Dickson. Aku bertindak sebagai assistennya kali ini. Fatih memang kerap diundang untuk mengisi workshop maupun sebagai pemateri di seminar gitu. Hari itu kami berangkat menuju Negeri Sembilan, ke kampus Kolej Uniti. Pagi-pagi buta kami berangkat, ditemani dengan Abdul Jafar, seorang supir yang memang menjemput kami . Fatih yang tampan dengan potongan tubuh tinggi besar, jenggot panjang, dan kerap mengenakan peci itu tertidur pulas sepanjang perjalanan. Aku tahu betul kebiasaannya yaitu mudah banget tidur. Dimanapun berada, nyender dikit bablas. Jadinya sepanjang perjalanan aku menemani pak supir sambil berbincang-bincang seputar kuliner atau hal-hal yang basa-basi lainnya. Supir di Malaysia memiliki ‘tahu segalanya’, jadi akan nyambung kalau diajak mengobrol dengan topik apa saja. Mulai dari Upin-Ipin sampai dengan topik kekalahan tim sepakbola Selangor FC saat melawan klub sepakbola asal Indonesia. Aku tersenyum saja saat pak Abdul Jafar bercerita dengan berapi-api tentang peluang sepanjang perjalanan. Entah karena beliau tidak tahu kalau aku berasal dari Indonesia atau bagaimana, yang jelas terlihat dari setiap kata-katanya kerap menganggap Malaysia lebih ‘jago’ dalam hal sepakbola. Aku memang tidak begitu ‘tampak’ seperti orang Indonesia menurut anggapannya, karena sebagian besar orang Malaysia hanya mengidentikkan orang Indonesia semua dipukul rata seperti orang Jakarta yang menurut mereka lebih ceplas-ceplos dan high class banget. Beberapa mahasiswa di kampus bahkan sempat ikut-ikutan menggunakan kata-kata ‘Gue’ dan ‘Elu’ untuk mempresentasikan aku dan kamu. Aku kerap tertawa dengan logat mereka yang mencampur-adukkan gaya Jakarta dengan logat melayu plus ditambahi bumbu-bumbu Bahasa Inggris.
Cukup menghiburlah cerita pak sopir ini. Cukup membuat perjalanan tidak terasa. Entah sudah berapa lama waktu yang ditempuh, tahu-tahu sudah sampai ke kampus tujuan. Kami langsung disambut dengan panitianya. Mereka menyalami dan membawa kami menuju ruangan transit yang disediakan. Dan sejak saat itulah tugasku sebagai assistennya Fatih dimulai. Mulai dari menjadi tukang fhoto sampai dengan jagain tas nya. Tapi lumayanlah, aku juga bisa belajar banyak. Fatih salah satu mahasiswa magister yang pintarnya luar biasa. Sama sepertiku, dia juga mendapatkan beasiswa. Dikampus dia selalu mendapat pujian karena memiliki gaya presentasi dan pola pikir kritisnya yang luar biasa.
Malaysia, September 2012
Ternyata ada berkah tersendiri saat menemani Fatih ke Negeri Sembilan. Tidak hanya perjalanan menyenangkan, namun ternyata aku bisa berkenalan dengan Raudah Amrillah, seorang mahasiswa yang saat aku dan Fatih mengunjungi kampusnya si gadis tersebut bertindak sebagai panitia. Raudah cukup menyenangkan. Aku sempat meminta nomor ponselnya sebelum aku pulang, dan malam harinya aku meneleponnya sekedar mengucapkan terima kasih. Tidak disangka itu menjadi awal sebuah perbincangan yang serius. Entah bagaimana mulainya, Amri, demikian dia kupanggil masuk dalam lingkaran hubunganku dan Dani. Amri sempat kuajak jalan-jalan ke KL untuk sekedar menikmati keindahan ibukota Malaysia tersebut. Dia juga tidak keberatan jauh-jauh dari Negeri Sembilan ke KL. Aku mulai merasa Amri memberikan sesuatu yang hilang dan aku menemukan pada dirinya.
Dani apa kabar?
Gadis baik itu entah kemana sekarang. Seakan ada ‘limit’ conversation dalam setiap chat kami. Videocall juga sudah berkurang. Mungkin dia sibuk dengan aktifitasnya atau mungkin juga terlena dengan kenyamanan yang diberikan pemuda lain. Biarlah, aku sudah nyaman dengan kehadiran Amri disini.
Tapi sepertinya Amri mulai meminta perhatian lebih. Dilema itu hadir. Aku tak mampu menghadapi hal yang diluar kemampuanku. Kini aku malah terjebak dengan lingkaran itu. Fatih menegurku dan mengingatkanku. Fatih sepertinya amat sangat tidak senang dengan tindakanku belakangan.
“ Kamu tak boleh macam itu. Itu namanya menzalimi hati waDani, Hanif Arsyadi. Bagaiamana teganya engkau menanam benih harapan sementara hatimu terisi dengan hati yang lain?”
Fatih sedemikian berang rasanya saat aku menceritakan semuanya.
“ Engkau tahu masalahku Fatih.” Jawabku.
“ Tapi itu bukan jalan keluar. Saya sudah berkata kepada kamu bagaimana menyelesaikannya, gadismu bisa saja mencoba melakukan hal tidak baik disana tapi bukan berarti kamu melakukan hal yang sama. Itu dzalim namanya. Kasihan Amri, dia dikorbankan untuk kepentinganmu.”
“ Apa yang harus saya lakukan?”
“ Meminta ampunlah kepada Allah. Sesungguhnya kamu akan menyakiti hati orang lain.”
Aku menangis sesenggukan karenanya. Rasanya tak pantas aku disebut sebagai laki-laki, laki-laki mana yang tega menyakiti hati orang yang disayanginya. Amarah dan cemburu membuatku lupa dan mencarikan pelarian dari masalahku. Aku harus mengatakan kejujuran ini, harus. Aku tak akan merelakan diriku menyakiti hatinya yang begitu baik. Aku harus menemui Amri, harus.

Malaysia, September 2012
Amri seakan terjebak kontemplasi yang terbangun karena aku datang ke Negeri Sembilan dengan membawa kabar tidak menyenangkan. Aku melihat ada sorot mata kekecewaan di matanya, namun gadis berhijab itu hanya tersenyum manis.
“ Tidak apa-apa abang, saya senang karena abang sudah berkata sejujurnya.”
“ Amri tidak apa-apa? Maaf bila saya menyakitimu. Ijinkan saya bersimpuh dikakimu agar hilang semua penyesalan didada ini. Sungguh saya tak berniat menyakiti.” Kataku.
“ Abang laki-laki. Tak pantas untuk menghiba. Sudah saya maafkan.”
Aku trenyuh karenanya. Seerrrrrr, desiran didada ini. Ingin rasanya kupeluk cium tangannya. Namun itu tidak mungkin. Bukan muhrim.
Kekecewaan pasti ada dihati gadis berhijab itu. Bagaimana tidak,lelaki yang selama ini selalu memberi perhatian, memberikan candaan yang menyenangkan dan berhasil membuat hatinya selalu jatuh hati, tiba-tiba datang memberi kabar berita bahwa bukan dia orang yang ada di hati lelaki itu. Amri tidak menangis sama sekali, tidak ada raut kecewa berlebih dimatanya, aku melihat sisi tegar dimatanya. Namun sesaat saja itu terjadi, karena ketika aku pamit dia memanggil namaku. Matanya berkaca-kaca. Uraian airmata mengalir membasahi pipinya membasahi jilbab Syar’i yang dikenakannya.
“ Abang, aku mencintaimu.” Katanya singkat.
Aku terhenyak. Gadis melayu tak pernah punya keberanian untuk mengatakan cinta pada lelaki. Gadis melayu lebih banyak berdiam dan menunggu, karena mereka tahu betul bagaimana menjaga hatinya. Namun itu mungkin adalah puncak dari kegundahannya. Ingin aku berlari memeluk tubuhnya, dan mengatakan semua apa yang ada didalam dadaku. Namun seketika aku hilangkan semuanya, kembali lagi ke faktor bukan muhrim. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan kata tanpa suara terdengar, hanya bibirku yang bergerak mengatakan “ Aku mencintaimu.”. Siang itu semuanya menjadi begitu pahit. Aku hanya tertunduk lesu saat membuka pintu mobil dan dari jendela mobil aku lambaikan tangan kepadanya sembari mengucapkan “Assalamualaikum” nyaris tanpa suara. Aku melihat Amri berlari menjauh tergesa-gesa. Sesak itu menghinggapi dan menusuk dadaku dengan ribuan jarum-jarum tajam. Dia pasti menangis. Pasti.

Sekarang
Dani tampak begitu cantik dengan balutan gamis ala modernnya. Jilbabnya seragam dengan bau lengan panjangnya. Penampilannya sedikit berbeda. Sepatu high heels yang dikenakannya seakan menambah keanggunannya. Hari ini dia menjemputku di bandara. Tepat di hari kepulanganku setelah sekian bulan berjuang meraih titel master ilmu manajemen di negeri jiran. Dani sengaja datang menjemputku. Ada buklet bunga digenggamnya. Begitu melihatku berjalan keluar dari pintu, gadis itu berlari dan memelukku erat.
“ Mamas!”
Aku memeluknya sedemikian erat. Tidak peduli lalu-lalang orang datang memperhatikan kami. Aku begitu merindukannya. Aku memeluk tubuh semampainya seakan tak ingin melepasnya. Dia masih secantik saat terakhir aku tinggalkan, hanya saja sekarang tubuhnya sedikit bertambah gemuk. Pipinya tidak setirus sembilan tahun yang lalu saat awal-awal pertama bertemu, tapi sekarang dia jauh lebih cantik. Kulitnya putih bersih dan harum, menandakan bahwa dia begitu merawat tubuhnya. Aku jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada gadis itu.
“ Apa kabar?” Tanyaku.
“ Masih merindukan orang yang sama?”
“ Siapa?” Tanyaku.
“ Perlu aku jawab siapa?”
Aku mengangguk.
Dani tersenyum. Telunjuknya menekan dadaku, sambil mengedipkan mata, dan senyum manisnya dia membisikkan kata “ Kamu. Suamiku.”
Aku tersenyum. “ Terima kasih istriku.”
Fatih mungkin benar. Dani adalah cinta sejati. Bertahun menjalani kisah percintaan semuanya akan berakhir dengan indah. Hal-hal kecil yang kerap hadir dan menggangu sebuah perjalanan cinta seperti kerikil-kerikil yang kita temui saat berjalan di gurun pasir. Siapapun kita, kita pasti akan menemukannya. Yang kita lakukan adalah menyingkirkan atau kita mencari jalan lain, ada banyak jalan halus yang kita temui disepanjang perjalanan. Bila kesetiaan dan kepercayaan adalah kendaraannya, maka kita tak boleh berpindah haluan. Semuanya akan berakhir dengan keindahan pasti.
Apa kabar Amri?
Gadis itu tak pernah menutup dirinya. Tak pernah ada perubahan dan kebencian dalam dirinya. Aku begitu salut pada sikapnya. Setiap sujudku aku selalu titipkan doa untuknya, semoga dia menemukan lelaki yang lebih baik. Kisah percintaan tanpa ikatan hanyalah pemanis dalam perjalanan hidup manusia. Amri mengajariku banyak hal. Dan seperti yang Fatih nasehatkan “ Cukup satu Amri yang kamu sakiti, gadismu jangan.” Begitulah. Aku sempat berjanji aku akan kembali ke Negeri Sembilan suatu hari ini bila Amri akan menikah. Entah diundang atau tidak, akau akan datang untuk mengucapkan selamat. Aku juga akan menceritakannya pada Dani tentang gadis itu. Tentang cinta yang pernah tumbuh. Dani pasti mengerti. Cinta yang pernah tumbuh pada gadis itu semuanya pernah ada saat pertama kali jatuh cinta pada Dani, gadisku, dan bila ini adalah awal dari sebuah kisah percintaan yang baru, aku ingin jatuh cinta lagi pada gadisku.

TAMAT.