Nama Andra hanyalah masa lalu bagi Ratri.
Tidak ada lagi nama Andra terlintas di ingatan gadis itu. Tidak ada bayangan
soal pemuda tampan yang pernah singgah dan membuat hatinya selalu ceria. Andra
yang pernah dikenalnya sudah Pergi. Pemuda manis yang kerap dirindukan sosoknya
itu telah menghilang bak ditelan bumi, dan sejak itulah segenap kerinduan dan
cinta yang Ratri tahu berubah menjadi kepahitan yang terus menghantui setiap
langkah hidupnya.
Ratri mengenalnya saat pemuda itu hadir ke Dusunnya
sebagai salah satu mahasiswa kota yang datang ke Dusunnya saat ada kegiatan
KKN. Andra Aldiansya, nama pemuda itu. Dia bersama dengan kesepuluh temannya
adalah mahasiswa KKN di Dusunnya. Mereka tinggal di samping rumah pak RT yang
kebetulan dekat dengan rumahnya. Andra adalah mahasiswa paling komunikatif
dibanding teman-temannya yang lain. Sebagai orang Dusun, Ratri dan remaja Dusun
lainnya masih terkagum-kagum dengan sosok ‘orang
kota’ yang melekt pada diri mahasiswa-mahasiswa tersebut. Malu rasanya
dekat dengan mereka, apalagi mereka juga memiliki kebiasaan yang berbeda dengan
pemuda-pemuda di Dusun ini. Dusun ini masih jauh dari perkotaan, berada di
pinggiran antara Kabupaten Gunungkidul. Wajar saja di Dusunnya ini masih begitu
‘welcome’ dan ada sedikit pandangan ‘wah’ terhadap orang kota.
Andra berbeda. Andra yang paling rajin
berkumpul dengan pemuda Dusun, meskipun tidak ada teman-temannya yang ikut
bergabung. Andra yang mahir bermain gitar mampu membuat remaja Dusun itu suka
bernyanyi bersama dengan mereka. Andra juga tak malu ikut bermain badminton
bersama dengan remaja Dusun lainnya. Seminggu saja di Dusun itu, semua anak
sudah mengenalnya, begitu juga dengan warga Dusun lainnya. Andra menjadi idola
baru mereka. Andra memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi, namun tubuhnya
berotot, yang paling diingat adalah sifatnya yang ramah dan tatakramanya bagus.
Pemuda itu padahal bukan berasal dari Jawa, tapi sopan dan santunnya sungguh
luar biasa, itu yang membuat banyak yang menyukainya.
Sebagai gadis Dusun yang terbilang masih
polos dan lugu, rasa tertarik pada pemuda itu muncul di diri Ratri. Entah sejak
kapan perasaan gugup dan nervous hinggap di dadanya setiap dekat-dekat dengan
pemuda itu.
Hari itu dia merasakan nervous luar biasa
ketika dia sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah lalu tanpa sengaja
pemuda itu juga tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Saat itu Andra
sedang bersama Lukman, teman KKN nya. Meskipun jaraknya belum dekat Ratri sudah tak kuasa mengangkat wajahnya,
sontak dia hanya menunduk. Dadanya bergetar hebat ketika langkah kedua pemuda
itu semakin mendekat ke arahnya.
“Dek Ratri baru pulang sekolah?”
Suara itu.
Menghancurkan segenap kekuatannya. Ingin rasanya dia menggelosor di
jalanan seketika. Dihadapannya kini sudah ada pemuda tampan berambut klimis.
Aroma parfumnya menusuk hidung. Pemuda itu tersenyum kepadanya. Masya Allah. Betapa nervousnya luar
biasa.
“Iy..iyaa kak. Baru pulang.” Jawabnya
terbata-bata.
“Kok sendirian? Biasanya sama Janah?” Tanya
pemuda itu.
Janah adalah teman sekolahnya yang berasal
dari Dusun yang sama. Di Dusun ini hanya ada Janah dan dirinya yang duduk di
sekolah menengah atas, sementara yang lain masih duduk di sekolah menengah dan
sekolah dasar. Pemuda dan gadis-gadis di Dusunnya rata-rata sudah meninggalkan Dusun
begitu selesai sekolah menengah untuk bekerja di kota. Ada yang ke Jakarta, ke
Surabaya, Jogja, atau ke Semarang.
“Janah masih ada kegiatan di sekolah kak,
jadi aku duluan.”
“Jalan kaki?”
“Iya kak.” Jawab Ratri. “ Kakak-kakak ini mau
kemana?”
“Kita mau ke rumahnya Pak,...siapa ini? Ohya,
Pak Hamdani.” Kata Andra sembari melihat ke ponselnya. “ Tapi kami tidak tahu
rumahnya.”
“Iya nih,
rumahnya tidak tahu.” Lukman ikut menimpali.
“Rumahnya di sebelah barat kak, perbatasan
yang mau ke RT 2. Nah, disana nanti ada empat rumah, yang dua berwarna hijau
tua, lalu ada rumah yang di depannya ada bibit-bibit pohon mangga di plastik,
rumah Pak Hamdani yang paling barat. Pak Hamdani ketua RW khan maksudnya?”
“Iya betul, Pak RW yang itu. Jadi ini ke
barat ya, ada tikungan atau perempatan? ” Tanya Andra lagi.
“ Perempatan hanya satu kak. Setelah itu
tidak ada rumah lagi.”
“Bagaimana, Lukman?” Andra bertanya pada
temannya.
“Kita cari?” Tanya Lukman kembali.
“ Dek Ratri tidak mau mengantarkan?”
Pertanyaan Andra membuat gadis itu sedikit
terhenyak.
“ Apa kak, ehm mengantarkan?” Tanyanya.
Kepalanya menunduk.
“Tidak keberatan?”
Pertanyaan Andra seakan menjadi pertanyaan
yang tidak memiliki jawaban tidak. Ratri yang sudah diserang nervous luar biasa
sedari tadi hanya bisa mengangguk pelan dan kembali menunduk, tak mampu dia
mendongakkan kepala melihat ke arah pemuda itu. Andra sekilas dilihatnya
tersenyum. Tangan pemuda itu mengacungkan jempolnya di posisi terbalik dan menunjuk
jalan yang ada didepan mereka seakan mempersilahkan dirinya untuk memutar arah
dan mengikuti kedua pemuda itu. Tentu saja Ratri tahu betul dengan gerakan
tangannya itu, karena bagi orang Jawa itu adalah isyarat mempersilahkan atau
meminta dengan sopan. Ratri hanya bisa melangkahkan kakinya bersama kedua
pemuda kota itu. Kedua pemuda itu berjalan sambil berbincang tentang kegiatan
mereka selama KKN, tak jarang mereka juga bertanya kepadanya tentang banyak hal
tentang Dusunnya itu. Kadang diselipi dengan tawa dan candaan yang sebenarnya
membuatnya rikuh untuk menimpali namun dia juga terlarut dalam obrolan kedua
anak kota itu, ada beberapa topik yang tidak diketahuinya, dia cukup mendengar
dan menikmati obrolan mahasiswa-mahasiswa itu.
Berjalan bersama kedua mahasiswa kota itu
membuat beberapa warga Dusun melihat kearahnya. Mereka ada yang menyapa dan
sebagian justru menggodanya. Di depan rumah Mbak Dewi misalnya, kebetulan ada
Mbak Dewi dan Ibu Yani, keduanya menggoda Ratri dengan memberikan “cie cie” kepadanya. Pemuda itu hanya
membalas dengan senyuman saja, seakan mereka tidak terlalu peduli dengan
tanggapan mereka.
“Mbak-mbak itu naksir kamu, Lukman!” Kata
Andra sambil tertawa.
“Bukannya naksirnya ke dirimu bang!, kamu
khan yang paling banyak fans nya. Dari mulai anak-anak sampai ibu-ibu.” Sahut
Lukman.
“Kata Siapa?” Tanya Andra.
“Tanya saja sama Ratri.”
Ratri ikut tersenyum. “Betul kak.”
“Wah, begitu ya? Kok aku baru tahu ya?” Andra
terkekeh.
“Makanya peka!”
Ratri ikut tertawa saja mendengarnya. Andra
sepertinya memang orang yang tidak terlalu ambil peduli dengan apa tanggapan
orang lain kepada dirinya. Sepertinya dia termasuk sosok yang tulus-tulus saja
melakukan sesuatu tanpa memikirkan balasan dari orang lain. Ah, pemuda yang mengagumkan. Ratri
serasa ingin menepuk jidatnya, entah setan mana yang memaksanya untuk
memikirkan hal itu.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di
rumah Pak RW yang dituju. Begitu sampai dirinya hendak memutar arah dan pulang
karena tugasnya sudah selesai. Namun Andra justru memegang tangannya seakan
menahannya untu pergi. Dirasakannya ada aliran listrik yang menyengat kulitnya.
Kulit pemuda itu yang menyentuh tangan lembutnya hanya bisa membuatnya berdiri
termangu. Bulu disekujur tubuhnya seakan berdiri seketika. Terlebih saat pemuda
itu membisikkan sesuatu kepadanya.
“Masuk
dulu, pulangnya nanti bareng kakak.” Katanya.
Ratri tergagap. Dia hanya mengikuti saja saat
pemuda itu menyeret tubuhnya memasuki halaman rumah Pak Hamdani. Dia bagai
kerbau yang dicocok hidungnya. Senyum kecil berkembang di bibirnya. Akhirnya
mau tidak mau dia ikut pemuda itu. Bahkan Pak RW juga sempat membuatnya rikuh
seketika melihat dirinya bersama dengan pemuda-pemuda itu.
“Wah
ada Ratri juga ternyata. Ini gadis yang paling cantik di Dusun ini lho mas
Andra, banyak yang sudah kepincut.” Kata Pak RW.
“Ohya?
Seperti itu nggeh pak?”
Andra melirik ke arahnya. Ratri berusaha tak
bereaksi.
“Pak
RW berlebihan ah!” Jawab Ratri pelan.
“Haha,
Benar begitu adanya kok!” Pak RW tertawa menggodanya.
Kemudian Pak RW bertubuh gemuk itu
mempersilahkan mereka masuk. Rumah sejuk Pak RW dengan kipas angin besar di
sudut ruangan seakan menjadi pengusir peluh yang membanjir karena sedari tadi
di terjang terik matahari. Tak lama kemudian beberapa gelas yang berisi air es
dengan sirup berwarna merah dibawa keluar dengan istri Pak RW. Sirup merah itu
menggodanya seakan menari-nari memintanya untuk mencicipi, dia hanya menunggu
dipersilahkan saja. Tak lama bakwan dan pisang goreng juga keluar dari dalam
disuguhkan kepada mereka.
Hari itu mahasiswa-mahasiwa itu tengah
membicarakan tentang salah satu kegiatan mereka selama kegiatan KKN. Salah satu
kegiatannya mereka adalah mengadakan pengajian remaja bersama di masjid setiap
malam minggu, selain itu juga diselipi oleh pembahasan inspiratif yang nantinya
akan menambah wawasan para remaja Dusun. Bila di malam minggu ada pengajian
remaja, malam selasa dan rabu ada pengajian lain di rumah-rumah remaja. Intinya
adalah memberikan kegiatan positif kepada remaja Dusun sekaligus sebagai media
untuk mengkampanyekan hal-hal positif. Ratri serius mendengarkan gagasan
mereka, namun semuanya tidak ada nyangkut di kepalanya selain ucapan terakhir
Andra ketika mereka dalam perjalanan pulang.
“ Nanti ketemu ya di masjid!” Begitu kata
Andra.
***
Cerita soal dirinya menemani pemuda itu ke
rumah Pak RW menjadi cerita menarik sore itu, dimana sebelum pengajian dimulai
semua hampir-hampir menggodanya. Bukan main malunya Ratri. Ini adalah pertama
kali dirinya berjalan berdua dengan lawan jenis. Di sekolahnya saja dia begitu
menutup diri dengan enggan untuk menerima ajakan teman lelakinya walau hanya
sekedar jalan bersama di kantin atau perpustakaan. Tidak ada yang tahu bagaimana
rasanya berdekatan dengan pemuda yang mampu menghipnotis dirinya itu, tidak ada
yang tahu bagaimana rasanya melawan dirinya untuk mengatakan tidak saat pemuda
itu meminta dirinya untuk menemani pemuda itu. Lagipula hanya menemani
mengantarkan saja, apa salahnya?
Tidak hanya teman-temannya saja, di rumah
ibunya pun mulai sedikit menggoda ketika sedang makan malam. Ibunya awalnya
hanya bercerita soal para mahasiswa-mahasiswa KKN itu yang belakangan lebih
sibuk dengan kegiatannya yang melelahkan, lalu lama-lama pembicaraannya semakin
personal. Menurut ibunya, dari kesebelas mahasiswa itu hanya beberapa saja yang
dikenalnya, ada Lukman, Intan, Hanif, dan Andra. Andra adalah nama yang paling
sering dibahas. Ratri hanya bisa tersenyum-senyum malu saja mendengarkan setiap
pujian yang didengar dari mulut ibunya itu. Diam-diam pipinya merona merah, dan
tanpa diketahuinya ibunya memperhatikan tingkahnya itu.
Ketika ibunya hendak membahas soal kemarin
saat Ratri yang terlihat berjalan bersama pemuda itu, Ratri mendadak merasakan
ada gemuruh di dadanya. Ibunya tidak marah sama sekali, justru dia tersenyum
menggoda kearahanya.
“Kemarin mereka kebingungan mencari rumah Pak
RW.” Kata Ratri.
“Mbak-mbak yang disana malah bilangnya dirimu kencan dengan mereka.
Jalan-jalan santai dengan cowok-cowok tampan. Hehe.”
“ Ibuuuuk!” Teriak Ratri.
Seeeeerrrrrrr
Serasa ada perasaan aneh yang hinggap di
hatinya. Tidak dapat dia meneruskan pembelaannya, sehingga akhirnya dia hanya
bisa memutuskan untuk mendengarkan cerita ibunya saja. Ayahnya juga tak mau
kalah, sepertinya cukup antusias mendengar cerita ibunya itu. Ayahnya juga
bercerita saat pertama dengan mahasiswa-mahasiswa itu. Menurut cerita ayahnya,
mahasiswa-mahasiswa itu ikut membantu warga mengangkuti batu-batu kapur besar
untuk membuat tembok di sepanjang selokan Dusun. Batu-batu besar itu beratnya
luar biasa, mahasiswa-mahasiswa itu sok merasa kuat dengan ikut membantu
mengangkat batu-batu yang berukuran besar, namun tidak sampai satu jam mereka
sudah kelelahan sehingga di hari berikutnya mereka tidak ikut kerja bakti lagi
karena semuanya tidak ada yang bangun pagi karena kelelahan, bahkan ada yang
sampai urut untuk memulihkan badan mereka yang kelelahan. Warga Dusun yang
mengetahuinya hanya tertawa saja. Tidak ada yang mengejek apalagi menghina
mereka. Bagi warga Dusun wajar kalau anak kota tidak terbiasa dengan pekerjaan
orang Dusun, sehingga meskipun di hari berikutnya tidak ada satupun mahasiswa
KKN yang datang mereka tetap melanjutkan kerja bakti, bahkan ada yang menjenguk
mereka di posko KKN untuk melihat kondisi mereka. Ayahnya ikut menjenguk,
sambil membawakan sekarung singkong untuk di masak oleh mahasiswa-mahasiswa
itu. Ibu Maryam bahkan membawakan beras dan gula untuk mereka. Bagaimanapun
juga mereka yang sedang KKN cukup membuat sedikit banyak perubahan bagi warga Dusun,
untuk pemikiran dan kebiasaan baru bagi warga Dusun. Di minggu ketiga ini sudah
terlihat perubahan kecilnya. Warga Dusun banyak yang ke masjid untuk shalat
berjamaah, anak-anak yang ikut banyak pelatihan di kegiatan mahasiswa tersebut
juga mulai semakin rajin belajar. Biasanya sepulang sekolah hanya bermain-main
saja, sekarang mereka berkegiatan di balai dusun ataupun di masjid dusun.
Sepanjang cerita ayahnya, Andra memang paling banyak disebut namanya. Pemuda
yang kerap sebagai juru bicara itu memang yang paling dikenal. Mendengar semua
itu rasanya semakin merona saja pipi Ratri.
Malam itu nama pemuda itu terus saja
menghantui pikirannya Ratri. Wajah Andra yang rupawan dengan kumis tipis dan
hidungnya yang sedikit bulat itu terus menyerang ingatannya. Bau parfumnya
apalagi, Ratri seakan hafal dengan baunya dan terus terasa ada didekatnya.
Malam itu semua yang ada pada sosok pemuda itu tergambar jelas, bahkan pakaian
pemuda itu juga seakan begitu jelas di ingatannya. Andra orangnya memang mudah
diingat. Pemuda itu kerap mengenakan kaos dan jaket berwarna merah yang ada
gambar logo salah satu klub sepakbola Inggris, Manchester United. Agaknya Andra
memang menyukai tim sepakbola itu. Jaket itu selalu dikenakannya. Kadang Andra
juga mengenakan jaket hitam KKN miliknya, namun hampir setiap saat Andra memang
terlihat mengenakan jaket.
Duuuuuh!
Ratri hanya bisa mengucek-ucek wajahnya
berusaha menghilangkan bayangan pemuda itu. Gadis kelas tiga SMA sepertinya
rasanya memang berada di masa saat perasaan suka pada lawan jenis mulai hadir.
Tapi kenapa perasaan itu tumbuh pada sosok pemuda yang seakan berbeda kasta
dengan dirinya. Mahasiswa kota itu jelas memiliki background yang berbeda
dengannya, setidaknya Andra sudah mahasiswa. Mahasiswa seakan cukup mewakili
bagaimana kehidupan Andra. Pakaian bagusnya, gadget mahalnya, dan topik
pembicaraan yang tak dimengertinya sudah menunjukkan betapa dia dan pemuda itu
seakan memiliki separate gate untuk bisa memuluskan perasaan yang tumbuh
dihatinya itu.
Tapi apakah salah bila dia mengagumi sosok
Andra seperti orang lain mengaguminya. Sebenarnya dia juga mengakui itu, namun
dia tak mampu untuk melangkah lebih jauh. Pemuda itu bak hanya singgah selama
empat puluh hari di Dusunnya, setelah itu akan pergi. Tak pantas rasanya Ratri
menaruh hati padanya, bila akhirnya nanti akan merasakan bagaimana dia
ditinggalkan begitu kegiatan pemuda itu berakhir.
***
Hari semakin senja namun suasana posko KKN
terlihat sepi ketika Ratri dan Janah tiba disana. Hari itu memang ada semacam
pelatihan membuat kerajinan dari kain flanel. Seorang kakak mahasiswa kemarin
memang memberitahukan selepas kegiatan pelatihan komputer di balai dusun. Hari
itu hari kamis, biasanya memang sepi karena pasti ada kegiatan KKN lain di Dusun
sebelah, pengolahan limbah menjadi kreasi yang bisa dijual. Namun bila
pengumuman dari salah satu kakak mahasiswa kemarin harusnya sore ini ada
kegiatan di posko bersama anak-anak.
Agak sedikit canggung Ratri dan Janah menyusuri
jalan kecil menuju posko tempat mahasiswa-mahasiswa itu tinggal selama kegiatan
KKN. Rumah kosong yang ditempati mahasiswa-mahasiswa tersebut sudah berubah
menjadi rumah yang selalu ramai setiap sore. Banner besar yang terpasang
didepan posko itu seakan menunjukkan bahwa rumah kosong itu sudah menjadi
markas mahasiswa-mahasiswa kota itu. Mereka adalah mahasiswa dari salah satu
kampus swasta yang cukup besar di Kota Pelajar. Penampilan-penampilan mereka
juga terlihat begitu mencolok. Kebiasaannya juga terkadang terlihat berbeda
dengan remaja di Dusun ini. Kalau malam biasanya sudah berjejeran motor-motor
mereka terparkir didepan posko, begitu juga saat pagi pasti kendaraan mereka
sudah keluar rumah. Musik selalu terdengar dengan berbagai macam lagu-lagu yang
diputar. Kalau pagi hari ada yang senam atau berjalan-jalan di sepanjang jalan Dusun,ada
juga yang pergi ke pasar untuk membeli sayur dan kebutuhan selama di posko.
Di posko KKN itu memang tidak ada hiburan
apa-apa, hanya ada speaker dan laptop milik mereka. Menurut cerita Andra,
biasanya mereka bila sedang tidak ada kegiatan maka akan menonton film di
laptop atau menonton televisi melalui TV Tuner yang konek dengan laptop mereka
lalu dengan tambahan proyektor mereka menonton ramai-ramai. Semakin dekat
dengan berakhirnya kegiatan mereka memang katanya sudah jarang melakukan hal
tersebut, rata-rata sudah sibuk lembur mengerjakan laporan dan matriks kegiatan
mereka yang nanti akan diujiankan untuk mendapatkan nilai maksimal. Itulah
sebabnya mengapa di minggu-minggu akhir ini mahasiswa-mahasiswa itu sepertinya
berada di titik super hectic untuk menyelesaikan program-program yang sudah di
rencanakan di awal kegiatan. Jadi kalau mereka sudah jarang bersama-sama lain
itu hal wajar, karena kegiatan yang berbeda membuat mereka kadang terpisah saat
melakukan kegiatan, yang sesuai dengan program studinya masing-masing.
Untungnya tak lama kemudian dari dalam muncul
dua kakak mahasiswa yang cukup mereka kenal, yaitu Kak Dipa dan Kak Nuri.
Mereka kebetulan ada di posko saat Ratri dan Janah celinguk-celinguk.
“Yang lain sebentar lagi pulang, sedang ada
kunjungan ke posko di Dusun sebelah. Kebetulan pembimbingnya sama, ditunggu
saja ya!” Kata Kak Nuri. Kak Nuri mahasiswa asal Purworejo, dia memakai jilbab
syar’i dan senyumannya yang selalu terlihat diwajahnya. Kak Nuri sangat cantik
dan sopan, bahkan di antara mahasiswa KKN yang ada disitu dialah yang paling
sering menyapa kalau bertemu.
Kak Dipa sendiri dari perkenalannya dulu
mengaku berasal dari Bantul. Berbeda dengan Kak Nuri, Kak Dipa terkenal jauh
lebih ceplas-ceplos bicaranya, namun
sama baiknya. Selain mereka berdua, mahasiswa KKN yang putri lainnya ada Kak
Intan, Kak Lani, Kak Dwi, dan Kak Rahma. Sementara yang putra ada Kak Andra,
Kak Lukman, Kak Hanif, Kak Endra, dan Kak Fadil.
“Jadi pelatihannya?” Tanya Ratri.
“Jadi, sebentar lagi ya dik, menunggu Kak Lani
dan Kak Rahma.”
“Kami tunggu di depan saja kak!”
“Tidak mau masuk?”Tanya Kak Dipa.
“Di sini saja kak,”
“Ya sudah, sebentar ya.”
“Ya kak.” Sahut Ratri dan Janah serentak.
Ratri dan Janah segera duduk di dipan yang ada di samping pintu masuk.
Di hadapan mereka adalah kebun kacang tanah miliknya Pak RT, suasana semilir
begitu mendamaikan hati. Janah tampaknya sibuk dengan ponselnya. Beberapa waktu
yang lalu dia memang dibelikan ponsel baru oleh kakaknya yang kerja di Jakarta,
sebuah handphone Android yang membuat temannya itu jadi lebih sering menatap
layar ponsel.
Di Dusunnya yang mempunya ponsel bagus masih
bisa dihitung jari, jadi memiliki ponsel bagus pasti akan terlihat lebih
dibanding yang lain. Katanya dengan Android bisa melakukan apa saja, bukan
hanya sekedar Facebookan atau membuka email tapi juga menonton video atau
bermain game. Ponsel Ratri sendiri hanyalah handphone jadul merk Nokia, untuk
bermain Facebook harus menggunakan aplikasi Opera Mini. Tidak ada aplikasi
messaging seperti Blackberry Messenger atau Whatsapp. Baginya itu sudah cukup.
Setidaknya dia memiliki, lagipula bagi anak yang masih duduk di bangku sekolah
menengah rasanya kebutuhan komunikasinya sudah tercukupi. Sebenarnya juga
pingin memiliki handphone bagus, tapi mau meminta kepada orangtua rasanya tidak
akan dikabulkan. Harga handphone yang berjuta-juta tentu tidak akan pernah
disetujui bila dia meminta. Lagipula dia juga sadar diri, kondisi keluarganya
rasanya tak ada pantas-pantasnya untuk memiliki barang mahal. Beruntung Janah
tidak pernah pelit kepadanya, sehingga kalau sedang bersama, Ratri masih bisa
meminjam untuk sekedar membuka internet untuk mencari informasi kalau ada tugas
dari sekolah atau hanya sekedar membuka Facebook.
***
Bukan main kesalnya hati Ratri saat melihat
Andra dan Lani berboncengan bersama sore itu. Keduanya terlihat begitu
mesranya. Selama ini memang keduanya cukup dekat, bahkan motor yang kerap
digunakan Andra adalah motornya Lani. Keduanya juga kerap bersama bahkan diluar
kegiatan. Sore itu pemandangan itu ada didepan matanya. Rasanya ada gelora
berkecamuk di hati Ratri melihatnya. Dia hanya bisa diam saja saat mereka
datang danlewat begitu saja dari pintu yang lain. Dadanya bergemuruh, ada
kecemburuan yang hinggap didalam hatinya.
Sebelumnya memang dirinya sudah berusaha
untuk menghilangkan apa yang ada didalam hatinya. Kekagumannya pada Andra
mungkin hanya sebatas kagum karena pemuda itu baik dan mampu menjadi pembimbing
yang menyenangkan, namun hatinya juga tak dapat menahan firasat yang hadir.
Andra mungkin memiliki kekasih, atau kedekatannya dengan Lani adalah hal yang
membuatnya harus menghentikan semua perasaan yang tumbuh di hatinya.
Sore itu Lani yang menjadi instruktur di
pelatihan membuat kreasi dari kain flanel. Pandangannya terus tertuju pada perempuan
itu. Selama kegiatan, Ratri terus memperhatikan, bukan apa yang dikatakan oleh Lani,
namun memperhatikan sosok Lani. Lani memang cantik, bahkan mungkin lebih cantik
darinya. Lani memiliki kulit yang putih bersih, wajahya juga sangat canti
seperti rembulan empat belas hari. Lani matanya sedikit sipit, gadis yang besar
di Palembang itu sepertinya ada keturunan chinnese. Bedaknya tipis, namun
lipstik merahnya sangat ketara menghiasi bibir indahnya. Pakaiannya rapi.
Rambutnya panjang lurus begitu indahnya. Iri rasanya Ratri melihat sosok gadis
itu.
***
Entah
ada bisikan gaib dari mana yang membuat Ratri bersolek sebelum ikut di kegiatan
yang diadakan mahasiswa KKN di balai dusun pada hari itu. Sedikit ada dorongan
yang membuatnya hari itu dengan sengaja mengoleskan lipstik ke bibirnya. Jilbab
berwarna biru yang seragam dengan baju lengan panjangnya, bila biasanya memakai
rok maka hari itu dia sengaja memakai celana jeans. Selama ini Ratri memakai
jeans hanya kalau sedang jalan-jalan ke tempat wisata atau sedang dalam
perjalanan ke tempat acara pernikahan atau ada acara keluarga.
Tidak hanya ibunya saja yang terkaget melihat
penampilannya hari ini. Janah, sahabatnya itu yang paling terkejut. Perubahan
itu sedemikian mencolok. Terutama lipstiknya. Rasanya sejak kenal dari lahir, Ratri
hanya memakai lipstik beberapa kali saja itupun kalau sedang ada acara
pernikahan atau sedang ikut karnaval kegiatan di sekolah, selebihnya tak pernah
dilihatnya berdandan seperti sore itu.
“Tumben...,”Katanya sahabatnya itu.
“Tumben apanya Janah?” Tanya Ratri pelan.
“Tumben hari ini cantik. Mau ketemu siapa?”
“Siapa, siapa? Memangnya aku terlihat
berbeda?”
“Mungkin aku yang salah atau bagaimana, tapi
hari ini terlihat beda.”
“Ah, hanya perasaanmu saja!” Kata Ratri.
Sebenarnya dalam hatinya juga terselip
sedikit malu. Rikuh karena tidak terbiasa berdandan membuatnya mendadak merasa
jadi pusat perhatian. Bagi Ratri sekarang semua mata seorang menelanjanginya
dari atas sampai kebawah. Dia berusaha untuk tidak peduli, namun akhirnya dia
serasa melayang juga saat pemuda nan rupawan yang menjadi alasannya berdandan
itu menyapanya dan mengagumi makeup nya hari ini.
“Wah ada Dek Ratri, ah hari ini ada yang
beda. Cantik sekali.”
“Yaaa ampun.
Kak Andra memujiku!” Teriaknya dalam hati.
Begitu katanya. Bukan main meronanya kedua pipi
Ratri mendengar pujian itu. Di dadanya yang sedari tadi bergemuruh karena
nervous mendadak serasa terisi oleh udara berlebih sehingga membuat tubuhnya
menjadi enteng bak balon gas. Sesaat tubuhnya melayang terbang jauh keatas
diantara awan-awan. Namun sesaat kemudian dia kembali mengijakkan kaki di bumi,
berusaha menguasai dirinya.
“Ratri,
sadar, jangan seperti ini.” Jeritnya dalam hati.
“ Hai kak Andra...”
Akhirnya hanya kalimat itu yang terucap dari
mulutnya.
Andra tersenyum manis dan berlalu darinya.
Ratri hanya memandangi punggung pemuda itu dengan perasaan yang berkecamuk di
dadanya. Pemuda sudah berdiri di depan anak-anak dan remaja yang hadir, seperti
hari-hari sebelumnya Andra menjadi instruktur sekaligus sebagai pembimbing
mereka selama pelatihan di kegiatan KKN. Andra yang terlihat sabar tampak sibuk
kesana-kemari untuk memberikan tutorial kepada peserta pelatihan. Sore itu
pelatihannya adalah pelatihan komputer. Andra yang merupakan mahasiswa Tekhnik Informatika
sangat pintar membuat anak-anak di Dusun ini antusias mengikuti pelatihan.
Ratri jangan ditanya. Sedari tadi dia hanya
memandangi terus pemuda itu. Terkadang dia tersenyum sendiri. Ucapan Andra yang
memujinya tadi seakan terus terngiang di kepalanya, namun yang terpenting
adalah sore itu Lani, teman KKN Andra yang selalu bersama pemuda itu tidak
hadir di balai Dusun. Mungkin kalau mahasiswa cantik itu ada disitu, bisa jadi
perasaan cemburunya akan kembali hinggap. Secara Lani lebih memiliki ruang
gerak yang lebih banyak untuk berada di sisi Andra, dibanding dirinya. Hari itu
Andra hanya ditemani oleh Hanif, Intan, Fadil, dan Nuri. Sementara menurut
berita yang didapatkan dari anak-anak yang ditanyai nya tadi, Lani dan
teman-temannya yang lain sedang di posko untuk persiapan kegiatan nanti malam
di rumah Pak RW.
Sampai pelatihan selesai, tidak ada satupun
materi yang diberikan Andra yang hinggap di kepalanya. Pandangannya sering
mencuri ke arah pemuda itu. Hari itu Andra terlihat tampan, rambutnya yang
klimis mengkilap oleh minyak rambutnya, kulitnya yang putih bak memancarkan
cahaya dan yang paling disukai Ratri adalah jaketnya. Kalau Andra sudah memakai
jaket, pemuda kota tampak lebih gagah bak model iklan yang sering dilihatnya di
televisi.
Selesai pelatihan Ratri ditemani Janah masih
duduk bersantai di lapangan tepat di depan balai dusun. Mahasiswa-mahasiswa KKN
itu terlihat tengah mengangkati kursi besi kedalam ruangan yang ada di belakang
Balai dusun. Fadil dan Nuri sudah beranjak hendak pulang, begitu juga dengan
Intan dan Hanif. Mereka sempat menyapa Ratri dan Janah, menanyakan mengapa
belum pulang. Ratri hanya mengatakan masih ingin menikmati suasana. Balai dusun
memang memiliki halaman luasayang ditumbuhi oleh rerumputan kecil, ada
kursi-kursi kayu dan lapangan volley didepannya. Balai dusun berbentuk seperti
rumah Joglo yang terbuat dari kayu jati, pertama kali sampai didusun ini
mahasiswa-mahasiswa itu juga mengagumi keindahannya, apalagi kalau menjelang
senja berlalu suasananya terasa semakin damai dan menyenangkan.
Andra yang muncul belakangan langsung menuju
motornya. Langkah pemuda di ikuti oleh tatapan mata kedua gadis remaja itu.
Janah diam-diam membisiki sesuatu kepada Ratri.
“Tampan ya?” Begitu yang dibisikkan.
“Haah, siapa?” Tanya Ratri tergagap.
“Itu, Kak Andra.”
“Lumayan,..”
“Katanya Kak Andra itu belum pernah punya
pacar.”
“Ohya?, kok bisa?”
Mata Ratri seakan membesar. Wah Kak Andra sedang Jomblo!
“Tidak tahu juga, katanya orangnya fokus sama
kuliah. Eh orangnya datang, pura-pura tidak sedang ngomongin dia...”
Buru-buru keduanya merubah arah pandangan,
kearah ponsel Janah.
“Belum pada pulang?” Suara itu mendekat.
Andra!
Keduanya sontak menoleh, menutupi
kekagetannya.
“Belum kak, masih santai dulu disini.” Jawab
Janah.
“Pada mau makan bakso nggak? Kak Andra lagi
ingin makan bakso.”
“Ada sih kak bakso enak di daerah sebelah,
jam segini masih buka.”
Andra tersenyum.
“Ada yang lagi slow?” Tanyanya.
“Wah pingin sekali kak, tapi motornya kami
tidak ada.” Kata Janah.
“Ada motor di Posko, nanti bisa membawa
satu.” Kata Andra.
“Lama tidak kak? Aku mau sekalian ke toko
disana, membeli sesuatu.” Ratri sambil menatap ke arah Andra.
“Begitu selesai langsung pulang, nanti malam
khan ada pengajian.”
“Ya sudah kalian berdua saja kak, nanti kalau
ke Posko lalu pergi ke desa sebelah, waktunya tidak cukup.” Kata Janah. “Ahhh Janah” Teriak Ratri dalam
hatinya.
“Bagaimana?” Andra mengangkat alis matanya.
Ratri menarik nafasnya. “Janah pulang?”
Tanyanya pada sahabatnya.
“Tak apa. Kamu menemani Kak Andra saja.”
Jawab sahabatnya.
“Kak Andra ambil motor dulu, nanti sekalian
kita mengantarkan Janah pulang ya.” Kata Andra.
“Aku pulang jalan saja tidak apa-apa Kak.
Sudah biasa.” Kata Janah.
“Tidak boleh menolak.” Kata Andra sambil
tersenyum.
Begitulah, sore itu akhirnya menjadi sore
terindah bagi Ratri. Sungguh suatu keajaiban, akhirnya bisa merasakan dekat
dengan pemuda itu. Rasanya dia ingin mencium Janah sahabatnya. Sebelum
berangkat kedesa sebelah, terlebih dahulu mengantarkan sahabatnya itu pulang.
Nervous dan rikuhnya kembali hadir ketika motor matic yang dikendarai Andra
melaju melintasi jalanan kecil itu.
Desa sebelah sudah masuk Kecamatan Ponjong,
sebuah kecamatan yang ada di Gunungkidul. Disana ada pasar dan yang jualan
banyak, salah satunya adalah bakso. Bakso yang paling terkenal adalah bakso
Sedap. Ratri biasanya selalu kesana dengan Janah atau saat menemani ibunya
berjualan di pasar. Ibunya yang berjualan sayur mayur selalu berjualan
dipasar-pasar setiap harinya, setiap pagi berkeliling, dan begitu jualannya di
Pasar Ponjong biasanya pas hari minggu sehingga Ratri kerap ikut menemaninya
berjualan. Bila hasilnya lumayan banyak, maka ibunya selalu mentraktirnya makan
bakso.
***
Di Toko Niaga Ratri membeli beberapa bahan
flanel kain dan benang warna-warni yang nantinya akan digunakan untuk tugas
kesenian di sekolah. Tugas pelajaran kesenian adalah membuat kerajinan dari
bahan kain flanel. Kain yang dibelinya juga bukan yang termahal. Ibunya hanya
memberinya uang 30 ribu saja untuk tugasnya, itupun rasanya cukup banyak. Semua
kebutuhannya hanya menghabiskan sekitar 20 ribuan saja. Lumayan ada sisa 10
ribu bisa untuk keperluannya yang lain.
Selesai membeli keperluannya, Ratri mengajak
Andra segera ke warung bakso langganannya yang ada di timur Toko Niaga. Warung
bakso hanya berjarak beberapa meter saja. Kalau di hari Jumaat sore begini
biasanya tidak terlalu ramai, ramainya saat akhir pekan atau di jam-jam
sekolah. Kalau sepi berarti itu menguntungkan baginya. Ratri akan merasa malu
kalau ada yang melihat mereka. Bukan karena dandanannya hari itu namun karena
dia tidak pernah percaya diri saat berjalan dengan lawan jenis, bisa jadi ini
adalah kali keduanya dibonceng oleh lawan jenis, selain ayahnya.
“Ini baksonya?” Tanya Andra begitu sampai di
depan warung.
“Iya Kak, disini.” Kata Ratri.
Sebenarnya ada sedikit kecemasan di hati
Ratri, takutnya Andra tidak berkenan dengan warungnya. Di benaknya Andra pasti
terbiasa makan di tempat yang lebih bersih atau lebih nyaman seperti di kafe
atau restauran, minimal di warung yang lebih bagus. Warung Bakso Sedap tidak
terlalu besar, hanya ada dua dua meja panjang yang terbuat dari kayu dengan
tripleks putih dibagian atasnya. Di atas meja hanya ada botol saos dan kecap.
Lesehannya juga hanya beralasakan tikar
plastik. Bagian dindingnya juga begitu sederhana, hanya ada kalender berwarna
putih dengan angka-anga besar yang menandai tanggalannya, di bagian paling
dalam terpajang poster pemilu yang menunjukkan gambar seorang calon anggota
DPRD lengkap dengan nomor urut dan visi misinya. Sepertinya itu adalah poster lama
yang belum dicopot hingga dua tahun setelah proses pemilu.
Ratri dan Andra memilh duduk paling pojok,
tepat disamping kipas angin. Suasananya memang mendukung sehingga mereka bisa
mengobrol dengan santai. Andra paling sering bertanya, dia bertanya banyak hal.
Tentang sekolah Ratri, teman-temannya, sampai dengan hal-hal lain yang cukup
mendetail seperti keluarga hingga kebiasaan-kebiasaannya. Ratri hanya bisa
menjawab sambil sesekali melemparkan pertanyaan yang sama. Pertama kali bagi
Ratri bisa duduk bersebelahan dengan pemuda selama belasan tahun hidup. Untungnya Andra adalah
tipe orang yang bisa membuat nyaman sehingga sedikit demi sedikit rasa
canggungnya itu berkurang, bila sedari tadi tidak pernah tertawa akhirnya dia
bisa memberanikan diri untuk tertawa mesti ditahan-tahan. Kata orangtua, gadis
yang tertawa kencang tidak ilok
dipandang. Tapi dia juga tidak bisa menahannya, saat Andra menceritakan tentang
kelucuan anak Pak RT yang selalu datang ke Posko KKN. Lengkap sudah apa yang
diidamkan oleh Ratri, semuanya ada pada diri Andra. Tapi rasanya tak berhak
dirinya berharap lebih. Wajah yang sedang dilihatnya hari itu, mungkin akan
hanya hadir di dalam mimpi indahnya saja, bukan di dunia nyata.
***
Waktu perpisahan semakin dekat. Tanpa terasa
mahasiswa yang sedang KKN akan segera menyelesaikan tugasnya dan akan kembali
lagi ke kota, tidak terkecuali mahasiswa-mahasiswa yang KKN di dusunnya. Satu hari
sebelum mahasiswa-mahasiswa itu pulang, semua anak-anak dan remaja di dusun mulai
merasakan kesedihan yang mendalam, seakan akan terpisah jauh dengan kakak-kakak
yang selama sebulan ini sudah menjadi teman yang baik bagi mereka.
Kakak-kakak manis itu pertama kalinya memang
rasanya memberi jarak pada anak-anak dan remaja di dusun, namun lama-lama
semakin dekat. Masa tugas mereka selesai akan menimbulkan kerinduan dikemudian
hari. Rasanya baru kemarin mereka datang ke dusun mereka, mengajak bermain,
belajar, dan kerap memberikan hal-hal menarik bagi mereka. Sekarang tak lama
lagi mereka akan pergi. Waktu yang terus beranjak memilukan bagi mereka. Nanti
malam adalah acara perpisahan dan akan diadakan di balai dusun. Acara yang
tepat dengan malam minggu itu akan menjadi saksi malam terakhir mereka disini.
Sedari pagi mahasiswa-mahasiswa itu sudah
sibuk di posko dan di balai dusun dengan segala persiapan untuk acara
perpisahan nanti malam. Di posko semua mahasiswa putri memasak dan membuat
berbagai macam kue dibantu dengan ibu-ibu yang ada di dusun, sementara
mahasiswa yang putra mempersiapkan panggung dan sound system di balai dusun.
Balai dusun sudah disulap menjadi panggung mini. Dindingnya yang hanya ada
black board yang terbuat dari semen di cat hitam sudah ditutupi oleh kain hitam
besar dan diberi tempelan kata-kata dari kertas warna warni yang dibentuk.
Dua sound system lengkap dengan mikropon dan
proyektor juga sudah disusun dengan rapi di pinggir ruangan. Andra yang
bertugas sebagai operator mengecek persiapannya dibantu oleh Lukman dan Hanif.
Sementara Fadil tampak sibuk laptop dan Proyektor membuat slide dan musik
ilustrasi. Acara nanti memang tengah disusun, ada Lani dan Rahma yang sudah
tengah mengantur rundown acara. Nantinya ada acara sambutan dari Pak RW, Pak
RT, Ibu Kepala Dukuh, dan juga dari ketua posko KKN, lalu ada juga penampilan
tarian muda-mudi dan orangtua dari warga dusun. Di akhir acara ada pemutaran
film pendek kegiatan KKN dari awal kedatangan sampai berakhirnya acara malam
itu.
Ratri yang masih di sekolah sudah tidak
tenang, ingin segera pulang. Untungnya hari Sabtu jam pelajaran selesai lebih
cepat sehingga dia bisa pulang lebih awal. Jemputan ayahnya dirasa sangat lama
datangnya. Ayahnya yang datang terlambat hampir sejam membuatnya semakin
gelisah, ingin segera dia pulang ke rumah. Malam ini yang bertepatan dengan
pengajian remaja di masjid terpaksa diliburkan. Pak Ustadz Yogi, Ustadz muda
yang kerap mengajari tadarus awalnya sempat protes karena kegiatan perpisahan
yang menampilkan nyanyian dan tarian itu lebih diutamakan daripada mengaji.
Namun akhirnya dengan berat hati Ustadz muda itu akhirnya juga luluh juga
dengan meliburkan pengajian malam itu.
Bukan main senangnya anak-anak dan remaja di
dusun. Sehari sebelumnya mereka memang sudah berkonspirasi kalau Ustadz muda
itu tidak mengijinkan maka mereka akan bolos pengajian. Kakak-kakak mahasiswa
bahkan sampai mengirimkan surat kepada Ustadz muda itu, beruntung akhirnya di
ijinkan juga olehnya. Mahasiswa-mahasiswa itu sudah menjadi teman baru bagi
anak muridnya, dan besok sudah kembali ke kota, jadi tidak ada salahnya bila
pengajian malam itu diliburkan, dengan catatan anak-anak selesai acara harus
mengaji atau menggantinya di hari minggunya.
Bagi Ratri, perpisahan itu akan menjadi hal
memilukan. Mereka sudah cukup bisa menyentuh hati, terutama sosok Andra yang
belakangan selalu hadir mewarnai harinya.
Pertama kalinya dalam hidupnya dia memiliki ketertarikan pada sosok
pemuda. Nafasnya terasa sesak. Tak terbayangkan bagaimana nanti dia akan
menahan semua perasaannya saat melihat pemuda itu akan beranjak pergi
meninggalkan dia dan dusunnya. Bila saja waktu ini bisa berputar lebih lambat
maka itu akan menjadi hal yang paling menyenangkan bagi dirinya.
***
Malam semakin mendekat. Lampu-lampu terang
yang terpancar dari balai dusun membuatnya begitu terang. Lampu kerlap-kerlip
warna warni cukup membuat indah suasana. Tikar-tikar plastik sudah digelar di
rumput yang ada di depan balai dusun. Orang-orang sudah berdatangan dan mengisi
tempat. Penuh. Menurut kakak-kakak mahasiswa, tepat pukul 19.00 acara akan
dimulai. Fadil dan Lani yang bertugas sebagai MC sudah bersiap-siap di pinggir
panggung. Di sisi yang lain Hanif dan Lukman juga sudah bersiap dengan kamera
di tangan mereka. Andra terlihat sibuk kesana kemari, menemui tamu lalu kembali
ke dalam, dll. Andra memang paling aktif. Bisa dibilang dia adalah director
dari acara malam itu. Sementara teman-teman yang lain ada di backstage untuk
mempersiapkan semua di belakang layar.
Malam itu Ratri dan Janah diminta sebagai
penerima tamu dan juga nanti akan naik ke panggung saat penyerahan hadiah.
Beberapa waktu yang lalu mahasiswa KKN itu memang membuat beberapa perlombaan
untuk anak-anak, dan malam ini adalah pengumumannya. Jam di tangan sudah
menunjukkan 10 menit sebelum acara dimulai. Musik yang berkumandang dari
speaker besar mengalunkan lagunya Still
I’m Sure We’ll Love Again nya Dewa 19. Lagu lembut itu membuat suasana
seperti kembali ke era 90-an. Ratri yakin pasti itu adalah lagu pilihannya
Andra. Andra memang amat menggemari band Dewa 19, setiap di posko bila Andra
yang memegang laptop dan speaker maka lagu-lagunya yang diputar.
Tepat pukul 19.00 acarapun dimulai. Diawali
oleh pembukaan oleh MC yang disambut begitu meriah oleh semua yang datang.
Rupanya tidak hanya warga dusun saja yang hadir, ada warga dari dusun sebelah
bahkan dari kecamatan yang hadir. Puluhan orang itu seakan menjadi saksi
perpisahan mereka.
Satu persatu acara berlangsung dengan meriah.
Pak RW yang hadir memberi sambutan bahkan mampu membuat suasana semakin meriah
dengan bernyanyi karaoke lagu dangdut. Ibu Patmi, sang Kepala Dukuh juga ikut
menyumbangkan suaranya lewat lagu campursari Perawan Kalimantan dengan berduet dengan Endra. Endra yang paling
suka bernyanyi diantara mahasiswa lain di posko, lagu-lagu kegemarannya juga
dangdut atau kadang malah lagu Campursari miliknya Didi Kempot. Malam itu dia
sukses berduet dengan Ibu Dukuh. Penonton bahkan bertepuk riuh dan meminta
pasangan duet itu kembali bernyanyi lagu lain, akhirnya lagu keduapun di nyanyikan,
kali ini lagu miliknya Broery Marantika dan Dewi Yull, Kharisma Cinta.
Acara mengesankan itu juga menampilkan
tarian-tarian dari warga dusun. Sesi pertama diisi oleh remaja lalu dilanjutkan
oleh ibu-ibu yang menari dengan gemulainya. Malam itu acara ditutup dengan
penampilan semua mahasiswa KKN dengan membawakan lagu Kemesraan miliknya Iwan Fals dan diberi background slideshow
kegiatan mereka selama 40 hari di dusun. Semua penonton yang hadir seakan ikut
terbius, ada tawa dan duka saat alunan lagu dan fhoto-fhoto tersebut di putar
berbarengan. Saat fhoto yang membuat tawa semuanya ikut tertawa namun dengan
berkaca-kaca.
Kemesraan
ini janganlah cepat berlalu
Kemesraan
ini akan ku kenang selalu
Hatiku damai
jiwaku tenang di sampingmu
Hatiku damai
jiwaku tentram bersamamu...
Malam terakhir mereka ditutup dengan
fhoto-fhoto bersama. Semua yang hadir berebutan menyalami mahasiswa-mahasiswa
kota itu. Ibu Dukuh dan ibu-ibu lainnya bahkan tak kuasa menahan tetesan
airmata, sementara yang lain ikut merasakan mrebes
mili. Memang ini adalah pertama
kalinya ada mahasiswa yang KKN didaerah mereka jadi sangat begitu berkesannya
kehadiran mereka. Cerita mereka telah berakhir, karena besok mereka akan pergi
meninggalkan mereka, dengan sisa pengabdian dan kenangan yang tak mudah untuk
dilupakan begitu saja.
***
“Selamat tinggal adik-adik semua, terima
kasih sudah menerima kami kakak-kakak mahasiswa selama sebulan disini. Terima
kasih yang sudah dengan antusiasnya mewujudkan program-program kami, terima
kasih yang telah menjadi teman terbaik selama disini, semoga di lain waktu kita
bisa bertemu lagi...”
Begitu kata perpisahan yang keluar dari mulut
Hanif. Hanif yang sebagai ketua kelompok memberikan kata perpisahan dihadapan
anak-anak dan remaja dusun. Pagi itu memang mereka membuat acara perpisahan
khusus dengan anak-anak, karena selama KKN anak-anak dan remaja itulah yang
selalu menjadi bagiannya. Mata berkaca-kaca dan senyum yang penuh makna menjadi
pemandangan pagi itu. Mobil pick up yang akan mengangkut barang-barang milik
mahasiswa-mahasiswa itu sudah datang, beberapa barang sudah diangkut ke pick
up. Hari itu mereka benar-benar akan pergi.
“Kak Hanif besok main lagi kesini ya!” Sahut
Bintang berteriak.
“Iya kak, besok main lagi kesini.”
Anak-anak yang lain juga ikut berteriak.
Mereka mulai memanggil nama-nama mahasiswa itu. Tepat pukul 08.00 mereka makan
Nasi goreng bersama di posko, pagi-pagi sekali memang sudah disiapkan. Pagi itu
tidak ada yang pergi kepasar atau memasak, mereka membeli nasi goreng di Kota
Wonosari dan dibawa pulang untuk dimakan bersama-sama dengan semua yang datang.
Semuanya hadir, termasuk Ratri dan Jannah.
Perpisahan sudah didepan mata. Bagi Ratri
separuh hati dan jiwanya ikut terbawa saat lambaian tangan mereka menjadi saksi
terakhir kali melihat mereka di dusun ini. Beberapa mahasiswa dipeluk
satu-satu, ingin rasanya dia menumpahkan airmata saat Andra, pemuda yang sudah
hinggap di hatinya itu berdiri merentangkan tangannya.
“Ahhhhh tak
perlu malu, Ranti, peluk dia!”
Bisikan gaib terus membujuknya, hingga dia
tak kuasa menahan semuanya. Dipeluknya tubuh kekar pemuda itu seakan tak ingin
dia lepaskan. Airmatanya tidak tumpah, namun kesenduan merasuki tubuhnya.
Langit seakan mendung tiba-tiba. Saat pemuda itu melepaskan pelukannya, saat
itu juga seakan tubuhnya lunglai tak bersemangat lagi.
Lambaian tangan mengiringi kepergian
mahasiswa-mahasiswa itu. Entah kapan lagi akan bertemu. Ratri, Janah dan semua
anak-anak itu hanya bisa mengantarkan sampai ke pinggir jalan dan hanya
termangu memandangi punggung mereka yang terus menjauh, jauh, jauh, dan hilang
dari pandangan. Ratri mengikuti anak-anak itu memasuki rumah kosong yang
dijadikan posko mereka. Rumah itu sudah kembali seperti sedia kala. Tak
berpenghuni. Bintik-bintik merah dan mendung airmata tampak terlihat dimata
anak-anak itu. Hanya kenangan saja yang tersisa, dan benih kerinduan yang
tumbuh di hati mereka. Mahasiswa-mahasiswa itu sudah pergi, namun apa yang
mereka tinggalkan akan terus diingat, sampai mereka besar nanti, dan iringan
doa mengiringi setiap langkah yang menjauh meninggalkan mereka, semoga suatu
saat bertemu kembali.
***
Sehari, dua hari, tiga hari, hingga
berminggu-minggu Ratri mulai mencoba membiasakan diri seperti dulu sebelum
Andra dan teman-temannya datang. Keadaan memang tidak berubah seperti sedia
kala, merea tetap mengaji dengan Ustadz Yogi di masjid, mereka tetap pengajian
setiap hari, namun seperti ada yang kurang. Mahasiswa-mahasiswa kota itu selalu
menjadi topik setiap saat oleh anak-anak yang ada didusun, mereka hafal dengan
sosok masing-masing mahasiswa itu. Ada yang mengeluh bahwa pengajian tidak
seasyik saat ada mahasiswa-mahasiswa itu, karena biasanya sebelum pengajian
selalu ada permainan atau pelatihan yang menyenangkan dari mereka. Namun
bagaimanapun juga semua harus tetap berjalan.
Anak-ana mulai merindukan mereka.
Satu-satunya yang menjadi obat kerinduan adalah berkirim pesan melalui SMS atau
di Facebooknya, namun balasan mereka lama bahkan ada yang membalas namun sekali
dua kali lalu tidak membalas lagi. Mungkin mereka sibuk dengan kegiatan lain di
kampus, atau apapun itu, yang jelas mahasiswa-mahasiwa itu selalu dirindukan
kehadirannya.
Bagi Ratri, tidak hanya rindu saja yang
menyusupi batinnya, namun ada kehilangan yang ikut terbawa. Kabar pemuda itu
juga tak lagi terdengar. Sejak perpisahan hari itu sampai berminggu-minggu ini
Andra hanya tiga kali membalas pesan singkatnya. Ratri sepenuhnya memahami.
Benih-benih kerinduan yang tumbuh hanyalah semu, tak perlu rasanya dia berharap
bahwa kelak semua pengharapannya menjadi nyata. Namun bila dia boleh berharap,
andai pemuda itu berada disampingnya saat ini maka ada satu kalimat yang akan
diucapkan tanpa harus bersembunyi dibalik malu.
“Aku rindu kamu. Datanglah ke desaku, maka
akan kupeluk erat dirimu, dadamu akan menjadi tempat penampungan airmata dan
kerinduanku. Terima kasih sudah mengukir namamu dihatiku yang lugu, inilah
rasanya, aku tak berhenti menantikanmu kembali. Kesini.”
T A M A T
Kamus singkat
Nggeh : Bahasa Jawa,
bermakna Iya atau mengiyakan
Ceplas-Ceplos : Suka berbicara seenaknya tanpa peduli
sekelilingnya
Dipan : Meja panjang berbentuk ranjang yang terbuat dari
bambu
yang disusun horizontal dan
digunakan sebagai tempat
untuk bersantai
Mrebes Mili : Perasaan ingin menangis karena terharu


0 Comments