Jangan harap ada reunian SMA lagi. Reunian SMA yang terakhir aku rasain sepertinya saat aku masih semester 7 di bangku kuliah kemarin, sebelum akhirnya kebebasanku dirampas oleh kecemburuan istriku. Aku pikir sih wajar kalau semua istri akan cemburu kalau suaminya di reunian nanti akan bertemu dengan mantan atau gebetannya semasa sekolah. Katanya cinta semasa sekolah itu yang paling berkesan. Mungkin itulah alasan utama mengapa istriku tidak pernah mau setiap aku ajakin ke reunian sekolah, selain tidak mau dia juga melarangku untuk hadir. Kadang aku merasa itu terlalu berlebihan, apalagi rumah tangga yang aku bangun dengannya hampir mengijak tahun ke delapan. Harusnya perasaan itu sudah tidak ada lagi, tapi nyatanya tetap saja istriku melarangku ke acara reuni.
“Pokoknya mama tidak akan pernah mengijinkan ayah pergi ke reunian SMA, apapun alasannya. Pasti hanya alasan saja bertemu dengan teman-teman sekolah, alasan utamanya pasti bertemu denga Ezra, mantan ayah semasa sekolah itu,...”
Aku hanya melongo mendengarnya. Entah darimana awalnya, saat malam sudah turun dan suasana begitu sunyi, ditempat tidur dan siap memejamkan mata, tiba-tiba istriku membuka perbicaraan tentang reuni lagi.
Yaaa ampunn. Jeritku dalam hati. Betapa konyolnya istriku ini. Masih saja nama mantan pacarku itu disebut-sebut, padahal Ezra Arfianti mantan kekasihku itu sendiri sudah lama tidak menjalin berkomunikasi denganku. Memang dulu semasa sekolah Ezra cukup lama menjadi pacarku, 2 tahunan sepertinya atau kalau dihitung-hitung dari awal masuk SMA hingga akhir semester dua di kelas 11. Sejak itu kami memang memutuskan berpisah, sempat balik lagi setelah kuliah namun akhirnya terpisah lagi. Beberapa tahun kemudian aku menikahi Reni, istriku. Ezra sendiri kemudian menikah dengan seorang pengusaha restoran namun entah apa sebabnya, rumah tangga mereka hancur, dan sekarang Ezra hidup menjanda dengan anak hasil pernikahan dengan suaminya yang pertama. Dari informasi yang kudapatkan, Ezra memang selalu datang setiap reunian SMA. Temannya banyak sih.Semasa sekolah dulu nama Ezra Arfianti bahkan termasuk dalam jajaran cewek-cewek hits. Mungkin itulah alasan mengapa Reni, istriku, seakan memberi pagar besi supaya aku tidak berada dekat-dekat dengan Ezra.
“Mama ini, sudahlah, Ezra hanya masa lalu. Lagipula ayah tidak ada lagi perasaan sama dia ma, sungguh.” Jawabku. Tatapan mata Reni seperti belati yang merobek ulu hati.
“Tetap saja mama tidak bolehin.” Jawabnya.
“Khan ayah juga rindu dengan suasana reunian ma, terakhir reunian juga sebelum kita menikah. Lagipula ayah nggak pernah melarang mama untuk ketemu dengan teman-teman sekolah. Bener khan?”
Istriku mendelik.
“Maaf ma,” Aku buru-buru meralat perkataanku.
Eh, Aku bukan suami yang takut istri ya. Pasti kalian akan berfikir kalau aku suami yang ‘tunduk’pada perkataan istri. Sebenarnya tidak, aku hanya suami yang takut mengecewakan istri. Aku begitu menyayanginya, jadi hampir setiap perkataan dan perbuatanku selalu aku jaga agar tidak menyakiti dan mengecewakan hatinya. Masalahya adalah kadang Reni bertingkah diluar batas, seakan-akan aku harus menurut semua perkataannya, dan kadang hanyalah sebuah kekonyolan yang dibalut dengan ego ‘wanita tidak pernah salah’.
“Khan lebaran bisa berkunjung kerumahnya yah!, ayah kenapa sih ngotot banget pengen datang ke reunian” Istriku terus menyerbu dengan pertanyaan. Bukan pertanyaan, lebih seperti introgasi interpol kepada terdakwa kasus narkoba golongan A.
“Ya papa khan nggak enak sama teman-teman ma, masak setiap diajak ngumpul tidak pernah bisa, tidak ada waktu, ayah bisa di cap sombong nanti.” Jawabku.
“Tapi janji tidak macem-macem?” Tanyanya lagi.
“Maksudnya bagaimana dengan macem-macem?, mama itu terlalu cemburuan.”
“Mama tidak cemburuan yah, mama juga bolehin khan kalau ayah pergi dengan teman-teman kantor untuk memancing atau touring dengan geng motornya ayah itu, tapi kalau reunian mama masih sangsi mengijinkan. Mama nggak mau nanti ayah ketemu sama mantan ayah itu.”
“Haha, mama ini ada-ada aja.” Aku tertawa mendengarnya.
“Apalagi sekarang dia janda yah!”
Aku mulai tidak sukadengan ucapannya. Ini sih sudah keterlaluan. Namun aku tidak mau mengeluarkan kata apapun, sekali lagi bukan karena aku takut pada istriku namun aku harus bisa menahan diri untuk tidak memancing sesuatu yang menimbulkan perdebatan.
“Mama percaya sama ayah khan? Kalau mama tidak percaya, mama khan bisa ikut. Kenapa harus dipermasalahkan sih, ini hal sepele. Dengan mama ikut maka semua pikiran tidak baik yang ada di kepalamu itu bisa pergi jauh, daripada kita berdebat panjang,...” Jawabku.
“Mama tidak mau ikut.” Jawabnya.
“Jadi, ayah tidak diijinkan pergi?” Tanyaku.
“Tidak.”
Aku melengos dan bangun dari tempat tidur. Sudah malas rasanya membahas hal tidak penting ini. Istriku hanya mendelik saja saat aku melongok kearahnya. Sungguh kesal sekali rasanya, tapi aku enggan untuk berkomentar.
“Mau kemana, masak gitu aja marah?!” katanya.
“Mau shalat.” Jawabku.
Aku keluar dari kamar tidur menuju kedapur dan mengambil sebotol air mineral dari kulkas, aku teguk hampir seperempatnya. Lalu menuju kearah kamar mandi untuk mengambil wudhu. Tadi memang belum sempat shalat karena pulang kerja hampir pukul 20.00 wib dan langsung tergolek keletihan di tempat tidur. Jangan ditanya mengapa pulang ngantor selarut itu, entah sejak kapan Jogja menjadi semakin macet. Kantorku yang terletak di timur memang harus melewati jalan utama Jogja-Solo yang mulai padat. Tengah hari saja bisa sampai setengah jam macetnya, apalagi jam pulang kantor, akan semakin sulit bergerak. Kadang kepikiran kalau sedang macet ingin ngantornya naik ojek online saja daripada naik mobil pribadi tapi jadinya lama dijalan. Pulang terlambat juga membuat pengeluaran bertambah. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan dari istriku yang kerap tidak mengenakkan, dikira aku mampir atau pergi dengan perempuan lain. Huh!.
***
Sebenarnya istriku sangat cantik. Tubuhnya tinggi sintal, rambutnya hitam lebat, wajahnya bak bidadari. Teman-teman kantorku yang pernah bertandang kerumah bahkan begitu terpesona dan mengagumi kecantikan istriku. Kata mereka istriku seperti model. Memang kuakui kecantikan dan keindahan fisiknya. Aku kerap bersyukur karena memiliki istri secantik itu, terlebih aku memang tidak begitu tampan atau bisa dibilang pas-pas an. Tubuhku juga tidak gagah, bahkan lebih tinggi istriku sedikit. Entah mengapa dia dulu bisa mau saat aku mengatakan ingin menikahinya. Sekarang usia pernikahan sudah delapan tahun, anak pertamaku bahkan sudah mulai masuk SD, sementara anak kedua baru dua tahun. Satu-satunya yang aku tidak ngeh sama istriku adalah sikapnya yang kadang kerap ‘memegang kendali’, apa-apa harus dituruti, dan termasuk golongan pencemburu tingkat dewa. Jangan harap aku bisa bertelepon ria dengan perempuan lain, apalagi bertemu berdua, tidak akan pernah terjadi.
Dikantornya yang bergerak dibidang advertising, istriku cukup memegang kendali. Posisinya dikantor adalah manager production, sebuah posisi yang membawahi semua lini yang membutuhkan teamwork. Posisi leader dikantor kadang dibawa pulang ke rumah, which is itu adalah aku. Aku sendiri hanyalah staff pemasaran di sebuah perusahaan finance. Bisa dibayangkan bagaimana posisiku saat berada didekatnya bila dilihat dari tingkatan karir.
Itulah dia. Meskipun kadang sifat ‘pemegang kendali’ dan manusia pencemburu selalu ada di dirinya, namun aku begitu mencintainya. Saat mengatakan pada ibu ku bahwa aku akan melamar Reni memang cukup mengagetkan, aku bahkan sempat minder apakah akan diterima. Karena durasi pacaran kami juga terbilang singkat, hanya enam bulan aku sudah memberanikan melamar, dan puji Tuhan gayung bersambut, dan sekarang usia pernikahan kami sudah cukup matang, apalagi sudah dikarunia dua orang anak. Duh rasanya makin sayang saja sama istriku. Memang sekarang tubuhnya makin melebar tidak se-seksi dulu. Kala belum menikah, Reni masih memiliki bobot sekitar 50kg an, sekarang sudah 63kg. Walau begitu,tubuhnya tetap proposional, dan kecantikannya tidak berkurang sama sekali. Rasa cintaku masih tetap sama, meski perubahan-perubahan mulai hadir. Banyak hal yang aku baru tahu dari sosok istriku, yang terparah ya saat dia melarangku ke reunian SMA dengan alasan personal. Itu menyebalkan sih menurutku.
***
Entah ada angin apa akhirnya aku diperbolehkan juga pergi; tentu saja dengan syarat dan ketentuan yang berlalu. Itu sudah cukup buatku. Ketemu dengan teman-teman lama semasa sekolah itu jelas menjadi agenda yang tidak boleh dilewatkan. Ada banyak kenangan semasa remaja yang terlalu manis kalau diceritakan ulang. Misalnya tentang masa-masa MOS, saat mulai belajar merokok, bolos sekolah pertama kali, dan yang paling menarik tentu tentang dia yang pertama kali membuat merasakan yang namanya kita jatuh cinta. Untuk pertama kalinya aku tidak berharap untuk bertemu dengan hal ketiga itu, alasannya sudah jelas mengapa. Yaa, lagi-lagi karena istriku.
Malam itu suasananya memang cukup cerah. Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 18.34. Aku juga sudah mandi dan memakai wangi-wangian. Penampilan di reuni katanya memberikan persepsi positif bagi teman lama. Makanya aku sengaja hanya memakai celana jeans, kemeja biru muda lengan panjang, dan bersepatu. Istriku sudah menyetrikanya saat aku mandi tadi. Meskipun awalnya melarang, namun tetap saja disiapkan pakaian terbaikku.
“Ayah pergi dulu ya...” Kataku sambil mengecup keningnya.
“Iya yah, hati-hati dijalan. Ingat pesan mama.” Katanya pelan.
Aku tersenyum. Kulihat kedua anakku sedang berbaring dikarpet sambil menatap kearah televisi. Aku biarkan saja, karena kalau Rayya si anak pertamaku itu melihatku pergi biasanya dia akan langsung merengek untuk ikutan. Istriku juga kerap ‘membuat terlena’ Rayya ketika ayahnya akan pergi keluar kota, biasanya diberikan tablet edukasi yang berisi game-game puzzle. Rayya begitu menyukainya. Ketika sudah memegang benda itu biasanya anak tampan itu langsung anteng dan mulai tidak peduli dengan lingkungannya. Begitulah cara ampuhnya. Sehingga akupun bisa leluasa menuju garasi, menghidupkan mobil, dan meluncur ke jalanan kota Jogja.
***
Selalu ada hal menarik ketika reuni. Sepertinya kata-kata itu 100% benar. Di reunian kali ini jumlah yang datang memang lebih banyak. Kafe yang dijadikan lokasi reunian juga nyaris penuh. Kendaraan yang terparkir begitu banyak, ternyata ada juga yang membawa sepeda motor. Malam itu aku memang terlihat lebih gagah karena datang dengan menunggangi Honda Jazz silver milikku.
“Akhirnya, si bintang kelas bisa datang juga”.
Fikri, seorang sahabat lama langsung menyambutku. Lelaki berjenggot tebal dan tinggi itu langsung menyalamiku. Fikri dulu satu kelas denganku, di IPA-2, sekarang bekerja sebagai seorang HRD di sebuah perusahaan. Itu info terbaru yang aku tahu.
“Wadaw, Fikri. Apa kabarnya...” Langsung saja aku membalas jabat tangannya.
“Seperti yang anda lihat, masih tampan seperti itu.”
Kami tertawa.
Malam itu memang cukup ramai oleh kehadiran teman-teman semasa sekolah ini. Aku langsung saja nimbrung dengan mereka. Beberapa memang satu geng dulu semasa sekolah dan demikian akrabnya. Agus, Rio, dan Warsito. Itu mereka geng yang sama denganku. Arah topik pembicaraannya jelas masih sama. Hal paling serius tentulah saat membahas tentang gadis pujaan semasa sekolah dulu. Kabar bahwa dia belum menikah dan semakin cantik itu membuat kami semakin flashback ke masa putih abu-abu.
Dan semuanya berubah menjadi sedikit kaku, ketika Ezra, perempuan yang sejak kemarin selalu menonjok-nonjok syaraf di otakku itu muncul dari depan pintu masuk. Rio menyikut lenganku seakan memberikan kode morse yang jelas aku tahu maksudnya.Bagaimana ini, tegur tidak ya? kataku dalam hati.
“Hai Mas Aji, apa kabar?”
Jleg!
Bayangan wajah Reni yang cemberut sambil membawa pisau dapur melintas dibenakku.
“ Ahh iyaaa, alhamdulillah baik. Ezra apa kabar?”
Entah setan mana yang menguatkanku sehingga aku kemudian berdiri dan menyalaminya. Kalau kalian ada ditempat itu, pasti sepakat bahwa kalian akan terpesona sama sepertiku. Ezra itu cantiknya luar biasa. Aku dulu selalu mengatakan kalau Ezra itu mirip-mirip dengan artis Nafa Urbach. Parfumnya begitu kuat dan nyaris membuat sisi kuat lelaki bangkit karenanya. Wajahnya glowing dan begitu cerah. Bisa dibayangkan?
“Boleh duduk disini?” Tanyanya kepadaku.
Mati aku. Aku hanya bisa memandangi kearah teman-temanku. Kulihat Rio dan Agus hanya mengangguk dan mengiyakan. Dua detik kemudian, parfum dan aroma tubuhnya itu semakin menyergap ke hidungku. Tentu saja, karena makhluk luar biasa seksi itu duduk tepat berada disampingku.
***
Reuni tanpa baper, begitu aku menyebutnya untuk mendeskripsikan pertemuan malam itu. Acaranya reuni memang selalu menyenangkan, diisi dengan gelak tawa, nyanyi-nyanyian, dll. Tidak semua anak IPA-2 SMA MUHI 5 malam itu hadir. Dari tiga puluhan siswa IPA-2 angkatanku, hanya sekitar 15an saja yang hadir. Sisanya entah kemana. Ada yang sibuk berbisnis, ada yang sudah ikut suami, ada yang jadi artis, dll. Kami-kami yang bisa reunian ini ya kami yang ‘ndekem’ di Jogja saja alias tidak kemana-mana. Beberapa memang sempat menempuh bangku perkuliahan keluar provinsi namun akhirnya bekerja di kota asal. Aku sendiri begitu lulus SMA langsung melanjutkan ke Universitas Negeri Yogyakarta, jelas tidak pergi kemana-mana,sudah gitu kerjanya juga di kota yang sama.
Malam itu reuni kami semakin meriah ketika dua sahabat lama yang sudah menjadi penyanyi dangdut dan stand up comedian hadir. Ana Jelita dan Deddy Halid. Lumayan bisa berbagi cerita dan foto bersama. Reunian itu luar biasa. Kadang ada orang yang minder datang ke reunian karena semasa sekolah seakan tidak ada hal menarik yang diceritakan, ada juga yang minder karena persoalan lain. Namun sedari awal kami memang sepakat kalau reunian kali ini hanya sebagai ajang senang-senang saja.
“Terimakasih kepada semua teman-teman alumni IPA-2 yang hari ini bisa berkesempatan hadir meskipun diluar hujan badai, meskipun menerjang macetnya kota ini, I love u so much. Hati-hati dijalan, ingat selalu kami dihati teman-teman...”
Kami semua yang hadir bertepuk tangan ketika Joe Kribo yang bertindak sebagai MC pada malam itu mengakhiri closing speechnya. Tidak terasa memang acara reunian sudah selesai. Jam ditanganku baru menunjukkan pukul 22.31.
“Teman-teman sepertinya aku harus pulang duluan.”
Ezra yang duduk disebelahku memberikan kode.
“Ah iya, Ezra terimakasih sudah hadir semoga besok bisa bertemu lagi.” Warsito bangun dan menjabat tangannya. Diikuti dengan Rio dan Agus. Aku setengah gugup saat menyalaminya. “Terimakasih Rae.” Kataku.
“Aku duluan yaa...”
Kami semua mengangguk. Dan seketika menarik nafas ketika perempuan itu melangkah menjauh. Apalagi kalau bukan lekuk tubuhnya sempurna, dan begitu indahnya. Ezra berjalan ke arah meja lain dan menyalami teman-teman lain. Sesekali terdengar gelak tawa saat beberapa teman menggodanya. Ezra yang sekarang tengah menjanda itu memang menjadi primadona malam itu, beberapa kali MC dan pembawa acara menyebut namanya sebagai orang tercantik malam itu. Aku sepakat. Ezra memang cantik, bahkan kalau disuruh memberikan angka antara 1-10, Ezra ada di angka 9. Istriku juga 9. Aku menepuk jidat sambil sesekali beristighfar. Bayangan istriku tengah cemberut sambil membawa pisau kembali melintas dibenakku.
Pesta tetap berlanjut tapi lebih santai. Pembicaraan juga mulai beralih ke hal-hal serius, misalnya pembahasan tentang pilpres 2019 nanti. Kali ini teman kami yang lain, Ahmad dan Jay ikutan gabung. Mereka berdua ditambah dengan Rio dan Agus adalah pendukung dari pasangan calon Prabowo dan Sandiaga Uni, sementara aku dan Warsito malam itu menjadi minoritas karena mendukung pasangan Jokowi dan Makruf Amin. Sama-sama ngotot mempresentasikan kehebatan masing-masing calon. Tentu saja masih diselingi dengan gelak tawa. Ini seperti tengah membahas pertandingan bola antara Timnas Indonesia dengan Malaysia, sama serunya. Tanpa terasa malam terus bergulir. Entah beberapa kali ada panggilan telepon di Whatsapp ku, aku yakin itu adalah Reni. Aku hanya tersenyum saja kalau melihat semua itu, rasanya setelah pesta ini usai aku akan datang kepadanya, kupeluk dan kucium sambil mengatakan bahwa dialah satu-satunya perempuan yang paling aku cintai saat ini. Tunggu aku dirumah ya saayang, bisikku dalam hati.
***
Jam ditangan menunjukkan pukul 23.21. Pelan-pelan aku perlambat laju Honda Jazz yang aku kendarai. Sesuatu yang menarik perhatian terpampang didepanku. Aku segera menepikan mobilku. Aku buka pintu mobil sebelah kanan, berlahan aku keluar dari mobil. Sesuatu yang menarik perhatianku adalah pemandangan yang tidak wajar di sisi kiri jalan. Sebuah corolla merah yang teringsek di semak-semak dan tampak bergerak-gerak, terdengar juga jeritan wanita meminta tolong. Setengah berlari aku menghampirinya. Sekilas dari jendela pintu samping kanan tampak tiga bayangan di sisi kiri. Berlahan aku mendekatinya.
“Shiiit!” umpatku.
Tampak dua sosok pria bertubuh besar tampak sedang berusaha merebut tas seorang wanita yang aku kenal. Wajah yang tidak asing. Ini jelas sebuah perampokan. Aku melihat salah satu dari dua kawanan perampok itu membawa sebilah pisau besar dan berkilap saat tertimpa cahaya.
“Please.....help!”
Wanita berusaha memohon belas kasihan namun tetap meronta mempertahankan tas nya. Namun sepertinya dia akan kalah. Aku mulai dilanda keraguan, wanita itu pasti amat sangat membutuhkan pertolongan, tapi kalau aku ikut membantu bisa jadi aku akan menjadi korban kebuasan kawanan perampok itu, lihat pisaunya yang tajam, aku yang tidak bisa berantem, dan mereka pasti akan nekat. Wanita itu adalah Ezra. Aku mengucapkan basmallah berkali-kali sampai akhirnya memberanikan diri keluar dari persembunyian. Berdiri tegak bak aktor pemain film laga saat menghadapi para penjahat. Salah satu dari perampok itu langsung bereaksi melihat kehadiranku.
“Lepaskan wanita itu.” Kataku dengan nada yang sedikit arogan, seolah-olah jago berkelahi. Padahal dalam hatiku sudah berkecamuk hebat melihat pisau berkilat ditangan perampok itu.
“Mas Aji, tolong masssss....”
“Hai, jangan ikut campur, atau akan kugorok lehermu bung!”
Astaga. Gertakan kawanan perampok itu membuatku ciut seketika. Namun aku tak bergeming. Seorang dari perampok itu maju menghadapiku dengan pisau mengkilatnya. Bukan main gemetarnya badanku. Namun otak dikepalaku dipaksa untuk berfikir cepat, karena sesaat kemudian pisau yang ada digengaman tangannya sudah mengarah ke arah perutku, aku spontak mengelak sehingga serangan perampok itu hanya mengenai angin. Aku kembali memasang kuda-kuda, berikutnya serangan itu kembali datang.
Aku lihat tatapan mata perampok itu begitu tajam. Wajahnya seram, dan nyaris tidak menunjukkan tatapan bersahabat. Perampok yang satunya mengeluarkan pisau dan membuat Ezra tampak tidak berkutik sama sekali, pistol itu mengarah ke lehernya. Sungguh ini pemandangan yang berbeda dengan kemeriahan pesta yang kami nikmati beberapa jam yang lalu.
Serangan demi serangan berhasil aku hindari. Ketika tusukan pisau melewati pinggangku, aku tendang tubuh besar perampok itu hingga terguling di rerumputan. Namun sejenak kemudian dia bangkit lagi dengan tatapan mata yang menyeramkan, lalu dia kembali menyerang dengan membabi-buta. Aku blingsatan karenanya.
Akkkkkkhhh!
Aku bereaksi ketika sayatan pisau itu merobek lenganku. Darah merah menyembur dan membasahi kemejaku. Aku sontak mundur dan memegangi lenganku, hampir lima senti robekannya. Pedihnya bukan main. Belum habis aku memikirkannya, serangan itu kembali datang. Aku ikutan kalap, sejenak menghindar lalu aku tangan yang memegang pisau. Lelaki itu terus menekan seakan ingin merobek dadaku, akupun sekuat tenaga mempertahankan agar pisau itu tidak merobek dadaku.
“Hai bung, menyerahlah, atau perempuan ini aku bunuh!”
Perampok satunya terus menggertakku. Aku lihat dia memang mulai menempelkan pisau di leher Ezra, aku mulai panik, namun aku tidak akan menyerah. Kalau aku menyerah, kami berdua tetap akan dilukai olehnya, sekuat tenaga aku mempertahankan tangan besar laki-laki yang terus mengarahkan pisaunya merobek dadaku.
“Bung!” Perampok yang satunya terus menggertak.
Aku geram minta ampun. Aku membuat gerakan meliuk lalu kemudian aku tendang pergelangan lutut perampok itu. Dia memekik kesakitan. Kesempatanku untuk membalikkan keadaan, pisau yang tadi digenggamnya aku rebut, namun karena cengkramannya begitu erat aku menggunakan cara lain, aku dorong tubuh besar itu hingga terjatuh. Sesaat kemudian aku mengambil bongkahan batu berukuran sedang, tanpa sadar sama sekali aku pukulkan batu itu ke kepalanya. Perampok itu memekik. Darahpun memancar hebat dari dahinya.
“Bung, berhenti sekarang!”
Aku menoleh ke arah perampok yang satunya. Tanganku tetap memegangi lenganku yang terus mengucurkan darah. Batu ditanganku aku lepaskan seketika. Aku tidak akan bertindak yang membahayakan keselamatan Ezra.
“Mundur!” Teriak perampok itu.
Aku menuruti permintaannya. Perampok yang tadi tersungkur dan sempat kupukul itu bangkit dan menuju kearahku. Nyaliku langsung gentar seketika. Ini posisi yang tidak menguntungkan sama sekali. Aku melawan pasti Ezra akan celaka, bila aku diam maka aku akan terluka.
“Apa yang kamu mau, lepaskan dia, aku akan berikan apapun sebagai penggantinya.”
Laki-laki yang menyandera Ezra itu tertawa. Trik nya berhasil.
“Serahkan semua hartamu. Dompet, hape, dan kunci mobil.” Jawabnya.
Aku menggerutu bukan main. Ternyata mereka bukan perampok biasa. Jelas sekali kalau mereka juga akan merampas mobil, berarti itu bukan perampok ecek-ecek atau begal yang kerap membacok orang diam-diam di jalan. Aku mulai bingung.
“Cepat!” Teriak perampok yang tadi aku pukul kepalanya.
Perlahan aku keluarkan dompet dan kunci mobilku, aku angkat kedua tanganku tinggi-tinggi. Perampok yang menyandera Ezra tertawa keras sembari memberi kode kepada temannya untuk mengambil benda berharga yang ada ditanganku. Tengkukku mulai dingin ketika perampok yang tadi kupukul semakin mendekat.
Perampok kedua itu menunjukkan gelagat yang tidak terduga. Tadinya ku kira akan dia hanya akan mengambil dompet dan kunci mobilku, namun ternyata dia membuat gerakan berbeda. Tangannya yang masih memegang pisau tajam itu membuat gerakan menusuk. Ternyata dia masih berusaha melumpuhkanku. Untungnya aku masih sadar situasi sehingga hanya dalam beberapa hitungan detik aku bisa menghindarinya, aku mengelak kesamping kiri sehingga tusukannya mengenai angin saja. Bukan main geramnya aku. Sepintas pikiran aneh memang menghinggapiku, meskipun hartaku aku serahkan pasti mereka akan tetap akan melukaiku. Aku berguling-guling menjauhi perampok kedua itu. Berusaha berlari menghindarinya. Aku harus mendapatkan bantuan.
Perampok kedua ternyata berusaha mengejarku. Aku secepatnya berlari menjauh menuju mobilku. Aku tidak peduli dengan Ezra yang tampak semakin terjepit dengan situasi. Perampok pertama tampak mulai berubah sikapnya. Mungkin dia menduga aku akan menyerah dengan memberikan dompet dan kunci mobil.
“Tangkap dia!” Teriaknya pada perampok kedua.
Aku sudah berada didalam mobil. Terdengar pengecut memang yang tidak jantan membiarkan mantan kekasihku itu tersandera disana, namun aku yakin inilah cara terbaik untuk menyelamatkannya. Bagaimanapun juga, kedua perampok itu pasti ‘tidak merasa aman’ bila aku dibiarkan lolos, setidaknya identitas mereka sudah aku kenali sehingga bisa menjadi bukti untuk laporan kepada polisi. Bila perampok itu mengejarku, maka trik ku berhasil. Aku hidupkan mobilku dan melaju seketika dijalanan. Sepintas perampok kedua tampak berusaha menghentikan laju mobilku dengan cara menghadang didepan.
Braaaaaakkkk!
Akkhh!
Perampok kedua itu jatuh tersungkur dipinggir jalan. Aku menabrak tubuhnya tanpa ampun. Dengan terus melajukan mobilku, aku melihat kebelakang, tampak perampok pertama melepaskan Ezra dan menghampiri perampok kedua. Perampok kedua terlihat mengerang kesakitan dan menunjuk kearahku. Meskipun suasana cukup gelap namun aku masih melihat dengan jelas wajah kedua perampok itu karena memang mereka tidak menggunakan penutup wajah sama sekali. Huuuh! Setidaknya aku selamat, tapi aku harus segera mencari bantuan untuk menyelamatkan Ezra dan tentu saja menyelamatkan diriku sendiri. Aku harus laporan kepada polisi. Wajahku juga pasti dikenali oleh mereka, dan aku yakin mereka pasti akan mengejarku sampai dapat untuk memastikan keamanan dan keselamatan mereka juga.
***
Beruntungnya aku bisa segera menemukan pos polisi terdekat. Seorang Brigadir Polisi langsung menerimaku di ruangannya dan memproses laporanku. Melihat keadaanku yang terluka parah, mereka langsung berusaha bertindak cepat. Namun kali ini kami tidak boleh gegabah, bagaimanapun juga kedua perampok itu pasti sedang kalap dan akan nekat karena juga berada di posisi tersulit.
Bripda Nyoman Gde Bagus yang ditugaskan malam itu berusaha tetap menenangkanku yang sedang dalam keadaan panik. Polisi yang berasal dari Denpasar itu memang tampak terlihat tenang namun tengah berfikir keras.
“Pak Aji tenang sebentar, kita akan tuntaskan kasus ini. Ada dua hal penting yang harus kita selesaikan, pertama adalah menyelamatkan korban yang tengah disandera, yang kedua adalah menyelamatkan anda. Saya yakin kawanan perampok itu akan mengincar anda dan tetap menyandera korban untuk membuatnya tetap berada di posisi aman.”
“Jadi bagaimana pak?” Tanyaku dengan cemas.
“Saya akan membagi dua tim. Pak Aji boleh tinggal disini karena luka anda cukup mengkhawatirkan, atau ikut kami. Saya dan tim pertama akan menuju rumah anda, tim kedua akan kembali ke lokasi kejadian. Asumsi saya adalah kawanan perampok itu akan menuju rumah anda.”
“Pak, anak istri saya.....”
Aku mulai mencemaskan Reni dan anak-anakku.
“Tenang pak, kita akan kesana sekarang.”
Aku menggeloyor di kursi sembari terus memegangi lenganku yang tak hentinya mengucurkan darah. Seorang polisi menuju kearahku dengan membawakan kotak P3K dan langsung memberikan pertolongan padaku. Kemejaku sudah hampir setengah dikotori oleh darahku sendiri. Memang luka robek dilenganku cukup lebar, tadi sempat aku biarkan mengucur ketika menyetir mobil seperti kesetanan. Dibenakku sekarang adalah Reni dan anak-anakku. Kawanan perampok itu pasti telah mengintrogasi dan memperalat Ezra untuk mendapatkan alamat rumahku. Sasaran mereka sekarang adalah diriku.
Sambil terus menahan perihnya luka, aku mengeluarkan ponselku, berusaha menghubungi Reni. Tidak ada jawaban sama sekali membuatku semakin panik dan tidak karuan. Polisi-polisi yang akan bergerak juga lama sekali prosesnya, bangsatlah! Umpatku dalam hati.
“Pak Aji tenang pak, kami menunggu bantuan lagi pak baru kita akan kesana. Jarak antara lokasi kejadian dengan rumah anda lumayan berjarak, kita akan sampai tepat waktu.”
Brigadir polisi itu terus saja menenangkanku. Gila mana bisa orang tenang dengan keadaan seperti ini, apapun alasannya tetap saja ini mencemaskan. Pertama, Ezra jelas terancam keselamatannya, dan sekarang istri dan anak-anakku bisa saja akan dijadikan target kebuasan kawanan perampok itu. Bagaimana bisa tenang, nggak mikir nih orang!
***
Tim A yang dipimpin langsung oleh Bripda Nyoman Gde Bagus langsung menuju ke rumahku. Aku ikut dirombongan itu sambil terus berusaha menghubungi Reni, dan entah kenapa tidak ada respon sama sekali baik melalui telepon rumah atau ke nomor handphonenya. Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa pada istriku. Doa ku sepanjang jalan. Sesaat aku mulai menRenil malam itu aku bersikeras pergi ke reunian SMA padahal Reni sudah melarangnya.
“Tim B sudah menuju ke TKP.” Suara radio miliknya Bripda Nyoman mememcahkan keheningan. Memang seperti yang sudah di instrukan oleh polisi tampan itu, ada dua tim yang malam itu meluncur ke dua lokasi berbeda. Bagaimanapun juga kasus perampokan bersenjata merupakan kasus yang serius, bila tidak ditangani secara tepat dan cepat, bisa dikhawatirkan akan menimbulkan korban.
“Baik, segera amankan TKP. Bila ada hal mencurigakan segera laporkan. Saya dan Tim A menuju ke rumah korban. Kawanan perampok itu bersenjata, sesuai dengan laporan korban sementara hanya ada dua pelaku tapi mungkin bisa lebih, bila dalam keadaan mendesak dan butuh penanganan serius, bertidaklah seperti seharusnya. Malam ini kita lumpuhkan mereka.” Perintah Bripda Nyoman kepada pasukannya yang juga tengah bergerak ditempat berbeda.
“Siap laksanakan.” Sahut suara di radio tersebut.
Aku memperhatikan sekelilingku. Malam itu ada tiga polisi yang bersamaku dan dua lagi berboncengan menggunakan motor mengikuti dibelakang. Tim B yang bergerak di lokasi kejadian juga sekitar empat orang polisi. Total ada 9 polisi yang menangani kasusku malam ini. Kasus perampokan bersenjata dirasa cukup membahayakan. Tadi aku juga sempat mendengar instruksi singkat dari Bripda Nyoman kepada bawahannya bahwa kalau perampok itu melawan dan membahayakan maka tidak segan-segan mereka akan dilumpuhkan dengan tembakan timah panas. Semoga tidak ada hal serius yang mengkhawatirkan. Aku berusaha tenang meski pikiranku berkecamuk hebat. Dua wajah cantik bergelayut dipikiranku. Reni Armain dan Ezra Arfianti, kedua wajah cantik itu tampak tersenyum manis namun ada bayangan kepedihan yang menghantui keduanya. Terbayang ada hal mengerikan yang akan menimpa salah satu dari dua wanita yang begitu penting bagiku itu. Ya Allah, lindungilah kami dari segala marabahaya.
Tanpa sadar airmataku menetes seketika.
***
“Maaaah, buka pintu mah!”
Begitu sampai rumah aku langsung menggendor pintu rumahku. Bripda Nyoman yang dibelakangku langsung bereaksi dan berusaha menenangkanku. Aku mulai panik luar biasa saat mendapati lampu di teras dan didalam ruanganku dalam keadaan mati. Seumur-umur lampu itu terus menyala. Perasaanku mulai berkecamuk. Jangan-jangan kedua perampok itu sudah ada didalam ruangan.
Bripda Nyoman memberi isyarat kepada kedua temannya untuk mendobrak rumahku itu.
Braaaaaakkkkkk!
Pintu terbuka dengan paksa. Kedua polisi berjaket hitam yang tadi ada dibelakang Bripda Nyoman langsung mengarahkan pistol mereka ke depan. Ruangan tamu gelap, tidak ada lampu yang menyala. Aku menuju saklar di sisi kiri dan menghidupkan lampu. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Aku langsung berlari ke dalam diikuti oleh dua polisi berjaket hitam kulit itu. Keduanya tetap mengacungkan pistolnya. Tujuanku adalah kamar tidur.
Blaak!
Pintu kamar tidur terbuka. Reni istriku tidak ada dikamar, hanya ada Fahri, anak bungsuku yang tampak tertidur pulas. Aku menuju kearahnya, dan berusaha mengecupnya, namun aku batalkan karena takut membangunkannya. Aku keluar ruangan lagi dan menuju ke kamar sebelah. Kamar Gusti Rayya, anak pertamaku. Kamar Rayya juga tidak ada yang berubah. Rayya juga tampak tertidur pulas. Anak pertamaku itu memang terkenal pemberani. Di usianya yang masih 8 tahunan tapi sudah berani tidur sendiri. Katanya biar adik saja yang tidur dengan ayah dan mama, sementara dia memilih tidur dikamarnya sendiri. Huh, lalu dimana Reni istriku?
“Pak Aji, saya menemukan ini di depan.”
Bripda Nyoman menyodorkan secarik kertas kepadaku. Dengan gemetar dan perasaan tidak karuan aku menerimanya. Ada tulisan dari spidol di kertas itu yang membuatku darahku mendidih seketika.
“Temui kami di belakang pabrik kayu di Jalan Parangtritis KM 10
Bawa uang 50 Juta dan juga kunci mobilmu, malam ini juga
Jangan bawa polisi kalau mau istri dan teman cantikmu selamat”
Bangsat!
Aku terduduk lemas di lantai. Ancamannya sungguh langsung melemahkan persendianku. Kenapa semuanya jadi begini? Tadinya niat menolong kenapa sekarang malah aku yang jadi target utama? Oh Tuhan, uang 50 juta juga bukan nominal yang sedikit. Walaupun aku memilikinya namun rasanya juga berat untuk memberikannya begitu saja kepada orang lain. Tapi bila tidak diberikan, istriku akan terancam keselamatannya.
Rasanya sendi-sendi ditubuh tak dapat lagi menahan beban ini. Aku begitu mencintai istriku. Sungguh, terbayang bagaimana kawanan perampok itu memperlakukan istriku, betapa sedih rasanya. Ah, uang 50 juta dan mobil tak sebanding dengan istriku. Istriku adalah harta paling berhargaku, bukankah semua harta ini juga untuk dirinya, dia lah sebenarnya harta yang berharga yang aku miliki didunia ini?
Dengan gontai aku bangun dan berusaha untuk berdiri. Bripda Nyoman membantuku, aku hanya mampu terduduk di sofa dengan airmata mengalir. Seorang polisi menyodorkan segelas air minum, entah darimana dia mengambilnya, aku teguk hingga setengah.
“Apakah istriku aman disana?......” tanyaku pada diri sendiri.
“Ini jelas sudah merupakan tindakan kriminal, kami akan berusaha menyelamatkan istri bapak dan korban yang dibawa. Kita harus atur strategi untuk melumpuhkannya.”
Bripda Nyoman tetap berusaha tenang. Beberapa kali dia terlihat menghubungi tim nya yang ada di lokasi berbeda. Polisi itu juga sudah mengabarkan bahwa tim nya segera bergerak menuju ke TKP.
“Pelaku menyandera istri korban. Begitu juga dengan korban sebelumnya. Pelaku meminta uang tebusan sebesar 50 juta dan mobil milik korban. Kepada tim B yang sudah selesai dengan urusan di TKP A harap segera meluncur ke lokasi pertemuan korban dan pelaku, ingat pelaku mengancam korban untuk tidak membawa polisi.” Perintah Bripda Nyoman.
“Bagaimana pak?” Seorang polisi bertanya kepadaku, sepertinya dia menantikan kepastian apakah aku siap bergerak ke TKP atau tidak. Aku mengangguk.
“Tunggu sebentar pak”.
Aku masuk ke dalam kamarku. Membuka lemari, dan mengeluarkan kotak penyimpanan uang dari dalamnya. Uang itu adalah hasil kerjaku dan istri bertahun-tahun yang dikumpulkan. Tadinya kami sempat berfikiran untuk membuka sebuah restoran ayam geprek sebagai tambahan, namun karena kejadian ini seperti kami harus menabung lagi untuk mewujudkan mimpi kecil itu. Tak apalah, yang penting istriku harta berhargaku itu selamat.
***
“Baik dengarkan instruksi saya teman-teman. Tepat pukul 02.30 nanti korban dan pelaku akan bertemu di titik B untuk pertukaran uang dengan sandera. Saya harapkan tim B untuk jangan dulu memasuki ke lokasi, begitu juga tim A. Saya berfikiran bahwa pelaku akan merubah lokasi pertemuannya di tempat lain, yang kita lakukan adalah harus tetap tenang dan sabar. Kita akan meringkus mereka setelah proses pertukaran selesai.”
Bripda Nyoman memberikan instruksi lagi kepada anak buahnya. Aku melihat jam tanganku, sudah hampir 02.10. 20 menit lagi aku harus sudah ada di TKP untuk menemui kawanan perampok itu. Didalam hatiku terus berdoa memohon pertolongan, sebelum akhirnya aku masuk ke dalam mobilku. Seorang polisi berjaket hitam yang tadi memberiku minum ikut ke dalam mobilku dengan menyelinap di bawah jok, dari luar memang tidak terlihat. Tangannya sudah siap dengan pistolnya. Sepertinya kali ini polisi-polisi itu tidak main-main lagi. Mereka siap untuk melumpuhkan kawanan perampok itu. Tidak hanya polisi berjaket yang bersembunyi di bawah jok mobil, tadi aku sempat juga dipasangi mikropon kecil yang terhubung dengan radio transistor sehingga segala percakapanku nanti akan bisa dipantau dari jauh. Ini seperti sebuah aksi dalam film. Setidaknya membuatku bisa sedikit tenang.
Perlahan aku jalankan mobilku pelan-pelan. Entah mengapa AC mobil juga terasa dingin sekali. Beberapa saat kemudian handphoneku berbunyi, aku membukannya. Sebuah pesan Whatsapp dari Reni istriku. Benar saja, pasti kawanan perampok itu membawa ponselnya untuk menghubungiku.
Aku buka pesannya dan membacanya keras-keras, agar polisi-polisi yang memantau mendengarku.
Pindah lokasi. Temui kami di sebuah rumah kosong di KM 05.02.45
Tidak hanya pesan singkat, tapi kawanan perampok itu juga menjatuhkan pin lokasi. Tentu ini aneh. Memang dunia teknologi sungguh canggih karena dengan adanya map digital bisa membantu penggunanya bisa lebih mudah menemukan lokasi tujuan. Sayangnya, semua itu sudah diperkirakan oleh Bripda cerdas yang memimpin penyergapan malam ini. Semuanya sudah diperkiraan baik-baik. Begitu lokasi sudah ditemukan, aku segera men-share nya dengan Bripda Nyoman, dan semua anggota kepolisian yang ikut dalam aksi malam itu segera bergerak menuju TKP.
Benar saja, tidak sampai dengan 15 menit aku sudah sampai ke lokasi yang dimaksud. Sebuah rumah kosong yang dikatakan oleh kawanan pelaku itu sedikit gelap di bagian luarnya. Aku turun mobil dengan pelan, polisi berjaket yang ada di bawah jok memberi tanda kepadaku untuk tidak memberikan reaksi yang berlebihan atau seolah-olah aku masih tetap dengan kondisi ketakutan. Bagaimanapun juga kawanan perampok itu pasti juga sudah memperkirakan bahwa aku sudah memberi laporan kepada polisi, itu berbahaya, bisa jadi mereka menjadi nekat. Tas berisi uag itu aku panggul di kiri. Sementara tangan kananku memegang erat ponselku.
Ponselku kembali bergetar. Sebuah pesan Whatsapp masuk.
Berhenti disitu. Letakkan tas dan kunci mobil. Lalu tiarap.
Aku melakukannya. Perlahan aku letakkan tas berisi uang dan segera melakukannya. Hampir dua menit tidak ada apapun, tapi aku tetap tidak melihat ke arah tas itu. Hingga akhirnya ponselku kembali bergetar.
Jemput istrimu didalam. Masuk lewat kiri, istrimu ada di ujung lorong tsb.
Bukan main cerdasnya kawanan perampok itu. Kalau dipikir-pikir mereka sudah merencakan dengan matang apa yang akan mereka lakukan malam ini. Namun ini bisa jadi bumerang bagi mereka sendiri. Aku screenshoot percakapan itu lalu aku kirimkan kepada Bripda Nyoman agar digunakan sebagai petunjuk.
Bergegas aku bangun dan mengikuti instruksinya. Aku menelusuri semak-semak itu untuk menuju lorong yang dimaksud. Benar saja, dari jauh sudah terlihat ada sesosok yang bergerak-gerak. Aku berlari ke arahnya. Sosok itu adalah wanita, terlihat dari rambutnya yang panjang.
“Reni,...” Kataku.
Uuuuuuhh uhhh!
Perempuan itu menyahut. Mulutnya, kaki dan tangannya terikat. Aku sorotkan layar ponselku ke arahnya. Itu bukan Reni, tapi Ezra. Aku mulai gelisah, dimana istriku?
Ikatan tangan dan kaki serta mulutnya aku lepaskan. Ezra langsung memelukku dengan eratnya. Tangisan pecah meskipun tidak ada suara, hanya airmatanya yang membanjiri dadaku.
“Dimana Reni?” Tanyaku padanya.
“Mbak Reni masih dengan perampok itu mas.”
Bajingan sekali mereka!
Pasti mereka akan memperalat istriku untuk kabur. Aku segera bergegas keluar. Tanpa sadar aku menggandeng tangan Ezra keluar dari lorong gelap itu. Di luar pemandangan mengerikan itu terjadi. Tampak perampok pertama tengah menyandera Reni dan berusaha menjauhi rumah itu sementara perampok kedua mengambil tas yang tadi kuletakkan begitu saja di tanah lapang.Aku berlari menuju ke tengah lapangan.
“Hei lepaskan istriku!”
Kedua perampok itu sedikit terkejut.
“Diam ditempat. Jangan ada yang bergerak, dan buat polisi yang sudah berjaga disini, jangan ada yang bergerak atau perempuan ini aku bunuh!” Ancam perampok pertama.
Mendidih darahku mendengarnya.
“Kamu sudah dapatkan apa yang kamu mau, sekarang lepaskan istriku!”
“Hah, kamu pikir aku bodoh? Pasti ada polisi di sekitar sini. Tidak bisa. Sekarang balik badan!”
Perampok kedua yang sudah mendapatkan tas segera menuju ke mobilku. Aku sempat balik badan namun aku batalkan.
Baru saja dia membuka pintu mobil, sebuah tembakan menyalak di kesunyian. Perampok kedua itu jatuh tersungkur seketika. Perampok pertama terkejut bukan main. Terlebih ketika dia menoleh ke sekelilingnya sudah berdiri beberapa polisi dengan menodongkan pistol ke arahnya.
“Bangsat. Mundur kalian atau perempuan ini aku bunuh!”
Perampok pertama itu menempelkan pisau tajam ke leher istriku. Istriku terlihat menangis tersedu-sedu karena ketakutan yang luar biasa. Dia juga tampak baru bangun tidur, karena masih mengenakan piyamanya.
“Anda sudah dikepung! Harap menyerahkan diri, demi keselamatan anda dan korban. Mohon untuk tidak bertidak nekat, bila anda melakukannya maka kami tidak segan-segan untuk menembak.” Geratakan Bripda Nyoman cukup menggetarkan nyali perampok itu.
Perampok itu hanya berputar-putar saja sambil terus menyandera istriku. Posisinya memang terjepit, satu-satunya jalan adalah menyerah, kalau melawan atau berbuat nekat nyawaya juga tidak akan selamat karena moncong pistol-pistol itu sudah siap memuntahkan timah panas untuk menghabisinya. Sungguh ini situasi yang menegangkan. Pertama kalinya dalam hidupku melihat peristiwa ini secara langsung, kasihan istriku, dia pasti amat sangat ketakutan. Sementara Ezra terus saja bergelayut dilenganku karena saking takutnya.
“Saudara, sekali lagi saya peringatkan, menyerahlah!, bebaskan sandera sekarang maka nyawa akan akan selamat malam ini.”
Perampok itu sepertinya mulai gentar.
“Baik, saya menyerah.....”
Perampok itu mendorong Reni hingga hampir tersungkur ke arh Bripda Nyoman, sementara dirinya langsung berguling-guling berusaha menjauhi lapangan.Tujuannya adalah semak-semak yang ada di sebelah kanan. Perampok itu berusaha melarikan diri. Ketiga polisi yang ada dibelakang Bripda Nyoman juga langsung bereaksi. Ketiganya ikut berlari ke arah kanan dan berusaha mengejar perampok itu.
Aku menarik nafas lega dan segera berlari mendapatkan istriku. Dia sedang didekap oleh Bripda Nyoman yang tadi menyambutnya ketika didorong oleh perampok itu. Aku dekap istriku dengan erat, airmataku tumpah seketika. Aku ciumi pipinya sambil terus mengatakan aku begitu mencintainya. Istriku terus terisak-isak didadaku. Tak terbayang dengan apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya, pasti sebuah kejadian yang amat mengerikan dan tak pernah terfikirkan olehnya sebelumnya. Bagaimana nyawanya dipertaruhkan. Ya Allah, terima kasih untuk segenap pertolonganMU. Tangisan itu pecah begitu saja. Hampir bermenit-menit aku mendekap istriku. Rasanya dia masih begitu ketakutan. Bisa jadi ini akan menjadi sebuah trauma bagi dirinya. Perempuan berjiwa lembut itu menangis sejadi-jadinya.
Di ujung semak-semak saja terdengar beberapa kali tembakan menyalak. Entahlah apa yang terjadi, aku sudah tidak peduli lagi dengan nasib perampok itu. Hal terpenting adalah istriku selamat, dia lah harga paling berharga milikku, malam ini kembali kepadaku tanpa ada kurang sedikit apapun. Alhamdulillah.
Malam terus merangkak. Tangisan Reni juga sudah mulai berkurang. Ezra yang sudah mulai tenang juga sudah tidak menangis lagi. Kedua wanita itu sekarang berpelukan erat, keduanya pasti telah melewati malam yang amat sangat menegangkan. Para polisi juga mulai mengusut TKP, mereka mengamankan mayat perampok yang tadi telah tertembak, barang bukti, dan juga mengambil foto-foto lokasi kejadian.
Tidak terasa hari beranjak pagi, sayup-sayup terdengar Adzan subuh dari masjid yang ada disekitar TKP. Aku berulang kali mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas segala pertolongan ini. Malam ini meninggalkan sebuah pelajaran berharga bagiku, dan malam ini juga lah aku merasakan bagaimana kecintaanku pada Reni istriku terasa meluap-luap. Semoga ini adalah kejadian pertama dan terakhir bagi kami. Amiin.
***
Bau nasi goreng favorit membangunkanku.
Aku beringsut dan berusaha untuk membuka mata. Sinar matahari pagi mengintip dari celah-celah gordyn kamar, begitu indahnya. Aku tersenyum dengan keindahan pagi ini. Tangan kananku masih terikat perban, entah sudah beberapa hari namun belum sepenuhnya pulih. Robekan besar akibat sayatan pisau tajam kawanan perampok di malam itu masih menyisakan luka yang belum sembuh-sembuh juga. Memang cukup dalam lukanya, hampir lima senti panjangnya. Tentu itu sangat mengganggu aktifitasku. Itulah mengapa akhirnya aku memutuskan untuk berlibur. Hampir tahunan bekerja, akhirnya seminggu ini aku meminta jadwal cuti untuk mengajak istri dan anak-anakku berlibur ke Bali. Bali menjadi pilihan memang, aku ingin menghilangkan segenap penatku, dan traumatik yang dialami oleh istriku sejak kejadian itu.
Tapi kali ini anggota tour kami bertambah.
Ada orang lain yang ikut bergabung dengan perjalanan keluarga kali ini. Bukan orang lain. Sekarang dia adalah bagian dari keluarga. Kejadian pahit di malam itu memang membuat semua keajaiban ini terjadi begitu saja. Entah percakapan apa yang terjadi antara kedua wanita itu saat sama-sama di sekap oleh kawanan perampok berbahaya itu, yang jelas semua kejadian itu membuatku sekarang harus bisa membagi hati, membagi pikiran, membagi jiwa, dan membagi perhatianku kepada dua wanita cantik itu.
Yaaaa,...
T A M A T

