Yogyakarta, 30 Oktober 2016
Malam itu langit begitu gelap disertai dengan derasnya hujan yang serasa enggan berhenti saat tanpa sadar Bimo menggengam tangan Hanna yang mendadak menjadi sedingin es kutub selatan. Hujan di malam minggu menimbulkan genangan banjir yang membuat volume air menaik di beberapa daerah di kota pelajar. Genangan air dan curah hujan yang sedemikian lebat itulah yang membuat beberapa kendaraan terpaksa berhenti dan berteduh.  Bimo yang tidak membawa jas hujan jelas memilih berteduh, terlebih gadis cantik yang duduk dibelakangnya beberapa kali terlihat memeluk pinggang Bimo dengan erat sambil terus menggigil kedinginan.
Bimo menyeret tangan gadis itu menjauhi motor yang diparkir di bawah cakruk dan berlari-lari kecil mencari tempat yang tidak basah. Tangannya dingin. Sejak perjalanan menuju pulang tadi memang hujan mendadak menguyur dan tidak sempat berteduh sehingga sebagian tubuh kami basah-basahan. Kursi bambu kayu panjang menjadi tempat yang dituju. Gadis cantik itu mengikuti dan duduk disebelahnya.
“ Tanganmu dingin.” Kata Bimo 
“ Tanganmu juga.” Gadis itu menjawab pelan.
Bimo menggengam erat tangan gadis itu.
Bimo bangkit sejenak dan menatap ke langit. Dari cahaya lampu jalan terlihat derasnya hujan menurunkan ribuan titik air seakan tercurah begitu saja dari bak penampungan di langit sana. Bimo kembali ke gadis cantik itu. Meskipun suasana ditempatnya duduk sedikit gelap karena sorot lampu jalan terhalang dahan-dahan pohon, namun Bimo bisa melihat bagaimana Hanna meringkuk dan mengginggil kedinginan.
“ Sepertinya hujannya akan lama. Fariz  sama mbak Gita dimana ya?”
Gadis itu batuk sebentar. “ Handphoneku baterainya sudah habis Bim.”
Bimo merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone. Baterainya juga tinggal beberapa persen lagi. Bimo mengetik pesan di Whatsapp. Tadinya mereka memang pergi berempat, setelah berjalan di beberapa tempat akhirnya mereka memutuskan untuk menghabiskan malam minggu dengan bergadang di kafe, namun entah kenapa hujan mendadak turun sedemikian lebat sehingga akhirnya terpisah satu sama lain. Fariz dan Gita tertinggal dibelakang, sementara Bimo dan Hanna lebih dulu meninggalkan mereka.  Bingungnya adalah bila kedua temannya itu tidak diketahui keberadaannya, akan kemana mereka berdua malam ini, dengan badan basah, dan tentu saja Bimo akan kebingungan tidak tahu harus menginapkan gadis cantik itu dimana.
“ Aku hubungi dulu. Bateraiku juga sudah hampir habis, semoga tidak tertinggal terlalu jauh.” Kata Bimo.
“ Iya Bim,” Jawabnya.
Tidak ada balasan pesan, demikian juga dengan panggilan suara.  Dengan sedikit mengginggil Bimo kembali ke gadis itu. “No respon,”.
“ Aku tidur dimana malam ini, masak aku harus pulang kerumah Bim?”
“ Mereka pasti mencari kok,” Bimo menenangkannya.
Beberapa saat Bimo mencari matanya didalam gelap. Gadis itu matanya agak sipit meskipun dia tidak ada keturunan chinnese, bahkan lebih ke Jawa tulen. Wajah cantiknya sedikit pucat karena hawa dingin terus menyerang  hingga ke tulang.  Gadis itu adalah Hanna. Hanna Elsya. Pertama kali Bimo melihatnya saat gadis sedang praktik mengajar dikampus, sekitar tiga bulan yang sudah lewat. Kurniawan yang mengenalkannya, karena ternyata Hanna adalah ketua divisi di organisasi kemahasiswaan yang sama dengan Bimo. Secara akademis Hanna memang kakak senior bagi Bimo. Pertama mengenalnya Hanna sudah menunjukkan sifat menyenangkan,  friendly, dan baik hati. Bagi Bimo gadis itu menjadi kebiasaan baru baginya, setiap bangun pagi selalu melihat recent update dari aplikasi messagingnya, melihat story yang dibuat di Instagramnya. 
Sudah sekitar dua mingguan lebih Bimo merasa begitu dekat dengan gadis itu. Beberapa kali melaui malam dengan pergi bersama, dan sedikit banyak Bimo mulai tahu seperti apa dirinya. Dia cerewet, tidak bisa diam, dan teman prianya tidak sedikit. Meskipun begitu, dia tetap saja telah berhasil membuat Bimo jatuh hati. Malam ini Bimo sengaja mengajak Hanna untuk menikmati sabtu malam dengan menghabiskan waktu di beberapa tempat. Hanna pun terlihat begitu menikmati suasana malam itu. Ditemani dengan Fariz dan pacarnya, sabtu malam ini terasa berwarna. Fariz adalah teman mereka berdua, Fariz seangkatan dengan Hanna, dan dia merupakan teman Bimo di komunitas fhotografi. Bimo belum pernah berpacaran, sehingga sedikit canggung ketika jalan berdua dengan teman lawan jenis, itu mengapa dia juga mengajak Fariz agar menjadi jembatan obrolan sepanjang malam mingguan ini. Sialnya, Fariz mengajak pacarnya juga sehingga mereka hanya bisa saling berpandangan saat temannya itu sedang bermesraan dengan pacarnya.
“ Aku coba hubungi lagi,” Kata Bimo.
Kali ini sepertinya Fariz membalas teleponnya Bimo. Benar saja dia tertinggal dibelakang, dan akan segera menyusul. Bimo beringsut bangun dan berdiri di pinggir jalan sambil terus melengak-lengok kearah jalan. Di seberang jalan ada kafe kecil yang masih buka, lampunya masih menyala dan alunan musiknya masih terdengar. Bimo melirik jam, sudah hampir tengah malam. Walau tadi si gadis sempat bersikeras ingin nongkrong sampai pagi, namun begitu melihat kondisi badannya yang basah Bimo merasa sebaiknya pulang saja.
“ Kafe didepan masih buka,  Bim,” Hanna berseru padanya.
“ Mau kesitu?” Tanya Bimo.
“ Kita tunggu Fariz sama mbak Gita dulu aja,”
“ Baiklah.”
Tak lama kemudian sorot lampu motor semakin mendekat dari arah selatan. Sepeda motor matic. Fariz dan Gita. Pasangan paling mesra di kampus itu menoleh kekiri kanan, dan mereka seperti sedang mencari kami berdua. Untungnya Bimo berdiri ditempat yang agak terang sehingga dengan mudah dia menemukanku. Bimo melambaikan tangan pada keduanya.
“ Wah, disini rupanya. Padahal kami sudah lewat sini tadi loh mas.”
Fariz datang langsung memberi laporan. 
“ Dari tadi kami disini Riz,” Kata Hanna. Fariz mendelik setengah terkejut.
“ Jadi bagaimana, lanjut atau bagaimana?” Fariz kembali bertanya.
Hanna melirik dengan ujung matanya ke arah Bimo. Bimo melakukan hal yang sama, ada sedetik mungkin kedua mata kami bertemu. Berdesir hati bimo untuk sesaat. Entah, tidak ada makna berarti yang ditemukannya. “ Pulang saja mas, Hanna sudah kedinginan,” Jawabku.
“ Menginap ditempatku saja mbak Han,” Gita menimpali.
“ Betul. Daripada Bimo mengantarkan malam-malam ke kontrakanmu Han, lebih baik kamu menginap di tempat Gita, ganti baju, lalu besok pagi baru pulang, bagaimana?” Fariz meneruskan ide kekasihnya itu.
“ Aku nurut sama Bimo aja Riz,” Kata Hanna.
Bimo terhenyak mendengarnya. Itu adalah kata-kata yang cukup menggambarkan bagaimana seorang wanita mempercayakan laki-laki sebagai seorang yang bisa mengambil keputusan, dan gadis baik akan melakukan hal itu.
“ Ya sudah, kamu menginap saja di tempatnya mbak Gita ya, besok pagi-pagi aku jemput lalu aku antarkan kamu pulang.” Kata Bimo. Hanna mengiyakan.
Bimo menghidupkan kembali motornya. Hanna naik dan kali ini seperti memeluk pinggangnya lebih erat. Bimo buru-buru ketika berangkat dan lupa tidak membawa jaket, separuh badannya sudah basah. Rapatnya tubuh Hanna membuat ada kehangatan yang menjalar menembus kaki dan meresap ke kulitnya. Fariz dan mbak Gita yang menyaksikan itu mengangkat alisnya dan tersenyum manis seakan itu perpaduan antara senang dan menggoda.
“ Jadi selama kami tinggal kalian pacaran disini?” Goda mbak Gita.
Itu adalah ucapan mematikan yang membuatku terdiam dan hanya bisa diam tidak mampu mengatakan apa-apa, ternyata Hanna melakukan hal yang sama. Perasaan tak menentu berkecamuk dan itu yang membuat Bimo dan Hana hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan tertawa kecil. Lalu sesaat kemudian kembali telusuri jalanan mengikuti Fariz dan Gita yang jalan didepan. “ Pikir saja sendiri.” Jawab Bimo sambil tersenyum manis.
***


Hujan terus turun seakan tidak peduli dengan tubuh keduanya yang terus menggigil kedinginan. Berulang kali Bimo mengusap wajahnya yang diterpa derasnya air. Suasana malam cukup sepi, hanya ada satu dua kendaraan yang lewat, terlebih saat mulai memasuki gang kecil menuju rumahnya Gita. Gang kecil ditelusuri diantara rumah berpetak. Tidak ada sepatah katapun keluar selama perjalanan pulang ini. Entah kenapa mendadak jadi canggung, padahal tadi ketika sore masih becanda dan tertawa lepas dengan guyonan-guyonan yang menimbulkan tawa. Hanna sempat bercerita soal ibunya yang tentah belajar bahasa gaul setiap ditelepon, tentang tempat di Jogja yang pernah dikunjungi bersama mantan pacarnya. Ketika diwarung bakmi tadi bahkan juga sempat saling melempar guyonan sampai dengan akhirnya memecahkan tawa berdua saat Gita ngambek karena Fariz salah pesan makanan. Ekspresi Gita memang begitu lucu ketika sedang marah dengan Fariz, mulutnya dimoncongkan, suaranya berubah memanja, dan tingkahnya seperti anak kecil yang tidak dituruti kemauannya, kalau sudah begitu Fariz langsung kalang kabut untuk menenangkannya. Kemesraan mereka memang sudah terkenal cukup romantis sejauh ini. Dari cerita Hanna juga Bimo baru tahu kalau kedua sejoli itu sudah bertahun-tahun menjalin hubungan percintaan, dari semasa sekolah sampai dengan semester akhir di perguruan tinggi. Sebuah relationship yang cukup membuat iri.
Gang kecil yang dilalui begitu sepi. Tidak sampai setengah jam kemudian mereka sudah sampai di rumah kontrakan Gita yang berada di sebuah komplek perumahan. Rumahnya berwarna hijau dan dipenuhi dengan tanaman kaktus di teras depannya. Mungkin itu adalah tanaman miliknya pemilik rumah kontrakan itu, karena tidak mungkin mahasiswa yang memiliki hobi menanam kaktus. Rumahnya tidak terlalu besar, mungkin hanya berisi dua sampai tiga kamar saja.
“ Bim, rumahku disini. Besok kalau mau jemput mbak Hanna disini ya.”
Kata Gita begitu memasuki pagar. Hanna melihat kepada Bimo bak meminta persetujuan yang di sembunyikan dari tatapan matanya.
“ Oke siap, besok pagi aku jemput disini.” Kata Bimo.
“ Jangan telat bangunnya. Jangan telat jemputnya. Besok pagi aku harus mempersiapkan print out proposal penelitian, Bim.”  Kata Hanna.
“ Oke Han, siap.” 
Bimo memutar motornya berbalik arah. Fariz dan Gita masih terlihat asyik berbincang di depan pagar. Bimo melambaikan tangan ke arah keduanya.
“ Mas Fariz, aku duluan mas.” Kata Bimo kepada Fariz.
“ Monggo, duluan Bim. Aku mau mengobrol sebentar.” Kata Fariz.
Bimo mengangguk.
“ Bim, sebentar.” Hanna menghentikan Bimo.  Gadis itu berjalan dengan pelan. Terlihat dia membuka sweaternya yang berwarna merah tua, disodorkan kepada Bimo. Senyuman manis gadis itu terasa memberi kehangatan yang menghunjam mata Bimo. Dimatikan motornya. “ Ada apa?” Tanyanya.
“ Badanmu basah. Pake sweaterku. Nanti kamu masuk angin.” Ujar Hanna.
Bimo tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
“ Maksudnya, aku pakai sweatermu?” 
“ Iya. Ini pakailah. Kasihan kamu nanti sakit.” Jawab Hanna.
“ Nanti kamu pakai apa?” 
“ Aku bisa pinjam bajunya mbak Gita.” 
“ Yakin?”
“ Besok nggak bisa jemput aku kalau kamu sakit.” 
“ Oke, aku pakai.” 
Hanna tersenyum manis. Diserahkannya sweater berwarna merah tua kepada Bimo. Bimo menerima dan langsung mengenakannya. Sedikit lebih hangat yang dirasakannya. Sweaternya yang terbuat dari kain tebal itu sedikit mampu mengalahkan hawa dingin yang terus merasuk ke tubuhnya. Pakaiannya memang sudah basah semua, berbeda dengan Hanna yang dudu di belakang yang tidak terlalu basah bajunya, hanya celananya yang basah dan sedikit lembab pada sweaternya.
“ Hati-hati di jalan.” 
“ Selamat tidur, tuan putri.”
Hanna melambaikan tangannya. Bimo hanya mengangguk dan melajukan motornya kembali menembus hujan yang mulai turun rintik-rintik. Rumah kontrakannya memang berada di arah yang berbeda, berada di utara kota Jogja. Hawa dingin terus merasuki tulangnya. Sweater merah tua milik Hanna seakan menjadi tameng yang mampu menahan dinginnya suasana. Bau harum parfum gadis cantik itu masih tertinggal, dan itu yang membuat Bimo merasa kalau gadis itu masih berada didekatnya.
***

Gara-gara sampai menjelang pagi baru bisa memejamkan mata, jadinya Bimo bangun kesiangan. Harusnya pagi-pagi dia menjemput Hanna, jam 9 dia baru berangkat. Tidak ada pesan apapun dari Hanna di handphonenya, takut sekali gadis itu akan marah kepadanya. Mandinya pun secepat kilat, disambarnya jaket dan kunci motornya dan segera melarikan motornya dengan kecepatan tinggi.
Rumah kontrakan Gita masih terlihat sepi, hari minggu bisa jadi sebagai penyenab sepinya suasana. Kemungkinan masih tertidur. Motor Yamaha Mio merah sudah terparkir di depan, motornya Fariz. Temannya itu pasti sudah sedari tadi disitu. Bimo memarkirkan motornya di samping Yamaha Mio Merah. Pelan-pelan dia mengetuk pintu. Tidak terlihat Fariz disana. Tak lama kemudian seraut wajah yang dikenalnya muncul. Wajah oriental itu terlihat segar seperti habis mandi, rambut panjangnya juga masih basah. Dia mengenakan pakaian biru seperti daster panjang. Senyumnya berkembang menyambut kehadiran Bimo.
“ Baru sampai Bim?” Tanya gadis cantik itu.
“ Terlambat ya?” Tanya Bimo.
“ Tidak terlalu. Aku baru selesai mandi. Sarapan dulu ya Bim, belum makan? Mbak Gita dan Fariz sedang memasak nasi goreng.” 
“ Kamu tidak ikut memasak?”
“ Aku bantu makan saja, hehe.” Jawab Hanna.
Bimo ikut tertawa.
Di dalam sana memang terdengar suara Fariz dan Gita sedang tertawa keras, mereka memang tengah memasak bersama. Hanna masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Bimo hanya bisa mencuri pandang ke arahnya. Tadi malam gadis itu cantiknya bukan main dengan balutan make up tipis, sekarang tidak ada polesan sama sekali di wajahnya, namun cantiknya masih begitu melekat di wajahnya.
“ Kenapa Bim, kok melihatnya begitu banget?” Tanya Hanna.
“ Kamu cantik....”
“ Jelas. Karena aku bukan lelaki.”
Keduanya tersenyum bersama-sama.
Pasangan paling romantis di kampus muncul dari dalam dengan membawa piring dan baskom yang sudah terisi oleh nasi goreng. Hari itu makan pagi bersama. Nasi goreng buatan keduanya cukup enak. Bimo yang penyuka nasi goreng langsung saja melahapnya. Sesekali dia menimpali candaan kedua pasangan romantis itu yang terus menggodanya sejak kemarin.
Selesai makan, Hanna bersiap untuk pulang ke rumah kontrakannya lagi. Jaraknya juga cukup jauh dari Jogja kota. Rumah kontrakannya yang berada di daerah Bantul. Sepanjang perjalanan selalu diselipi oleh gurauan. Hanna kalau tertawa cukup keras, dia kerap melempar jokes-jokes. Sementara Bimo lebih cenderung pendiam dan tidak banyak bicara, bahkan bisa dibilang sangat hati-hati saat berkata. Sangat susah mengobrol dengan Bimo bila tidak memiliki kesamaan kegemaran. Namun pagi itu, Hanna menjadi sosok yang menjadi teman ngobrol yang membuat Bimo seperti menemukan lawan bicara yang sesuai.
“ Bim, besok mau menemani aku penelitian?”
Pertanyaan Hanna cukup mengagetkannya hari ini. Pertanyaan dilontarkan oleh Hanna begitu sampai didepan rumah kontrakannya. Bimo terdiam sesaat.
“ Penelitian tugas kuliah?” Tanya Bimo.
“ Iya, mungkin seharian. Kamu tidak ada acara khan?”
“ Kalaupun ada aku akan memprioritaskan ajakanmu.”
Hanna tersenyum.
“ Jam 7 jemput aku disini. Pakai baju rapi ya.” 
“ Bagaimana kalau nanti aku terlambat bangun?” 
“ Aku yakin kamu akan bangun lebih awal.”
“ Oke, sampai ketemu besok.”
***

Penelitian tentang Kewirausahaan Hanna ternyata tempatnya cukup jauh. Tidak hanya jauh, tapi juga tempatnya terpisah-pisah sehingga seharian itu Bimo terpaksa harus mengekor saja di belakang dan menjadi tukang fhoto selama proses penelitiannya Hanna. Tidak ada masalah buat Bimo, justru dia senang bila gadis itu membutuhkan dirinya. Setelah berputar-putar dari Jogja bagian timur sampai tiba di Jogja selatan, hampir bedug maghrib penelitiannya baru selesai. Hanna mengajak Bimo untuk mengisi perut. Pilihannya adalah Sop Pak Min Klaten, sebuah warung sop yang cukup terkenal di kota Jogja. Menurut Hanna ini adalah sop paling enak. 
“ Sering makan disini?” Tanya Bimo pelan.
“ Lumayan sering, dulu, sama pacarku.”
“ Pacar? Kamu punya pacar?” 
Hanna tersenyum.
“ Sudah bukan pacar.”
“ Ohhh...” Bimo menjawab pelan.
“ Kenapa Bim?” Tanya Hanna.
“ Tidak ada apa-apa. Hanya kaget saja, berarti kamu sekarang sendiri?”
“ Khan sudah sama kamu.” Hanna menjawab dengan tersenyum.
“ Maksudku, kamu tidak punya pacar?,”
“ Kalau teman dekat ada, kalau pacar tidak.” 
“ Kata orang-orang kamu cerewet.”
Hanna tertawa.
“ Bukan rahasia lagi kalau itu.”
Bimo ikut tertawa.
Dalam hatinya ada sedikit kegembiraan. Bila gadis itu hatinya belum ada yang menempati, bukankah ada kesempatan untuk dirinya mendekati gadis itu lebih dari sekedar teman jalan saja. Bimo tak dapat membohongi dirinya kalau dia sudah jatuh cinta pada sosok gadis itu. Hanna adalah gadis yang sangat diidamkan olehnya. Pembawaan dan sifat gadis itu mampu membuatnya tak berhenti memikirkan tentangnya.
Bimo menatap wajah cantik gadis yang ada didepannya. Hasrat cintanya seakan meluap. Namun butuh waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan yang ada di dalam hatinya itu. Mungkin setelah pulang dari tempat ini Bimo harus mulai memikirkan hal itu. Hanna terkenal memiliki banyak teman dekat laki-laki di kampus dan di luar kampus. Bila dirinya tidak segera mengungkapkan perasaannya, bisa jadi lelaki lain yang akan mendahului dirinya.
***

“ Maafkan aku Bim, tapi aku tidak bisa...”
Kata-kata itu seakan menjadi hal yang paling tidak inginkan oleh Bimo selama ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Bimo kalau Hanna menolak perasaan yang selama ini tumbuh subur di hatinya. Penolakan Hanna seakan menjadi luka yang membekas di hatinya. Hatinya sudah bak taman yang terlah ditumbuhi oleh bunga-bunga indah, namun hari itu semuanya seakan gugur dan menjadikan hatinya berubah menjadi ladang gandum yang habis tergilas oleh traktor. Hanna sudah menyemai bunga yang tumbuh berkembang di dalam hati Bimo, namun bunga yang ditanam hanyalah hiasan belaka, tidak ada niat untuk membuatnya menjadi tanaman indah yang pantas untuk dimiliki.
“ Mungkin selama ini aku memang selalu sendiri dan kerap pergi bersama dengan teman-teman pria lainnya, tapi itu bukan berarti aku jomblo dan merasa kesepian karenanya. Aku justru tengah menikmati kesendirianku, saat dimana aku bebas berteman dengan siapa saja, tanpa ada yang cemburu apalagi membatasi.”
Itu kata-kata yang menjelaskan alasan mengapa Hanna tidak bisa menerima cintanya Bimo. Cinta Bimo bertepuk sebelah tangan. Hanna yang beberapa waktu terakhir seakan menjadi gula pemanis bagi hari-harinya, ternyata semua itu tak bermakna bahwa Hanna memiliki perasaan yang sama.
“ Mantan pacarku selalu mengajak kami balikan. Jujur, aku masih memiliki perasaan yang sama, jujur aku belum bisa menjalani semuanya.” Lanjutnya.
Bimo mendadak terdiam. Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulutnya. Detik demi detiknya menyesakkan dadanya. Padahal hari itu sudah mempersiap hal romantis untuk menyatakan cintanya. Tepat di malam minggu, Bimo menjemput gadis itu dan mengajaknya pergi makan malam, lalu membawanya ke sebuah kafe. Di kafe itu Bimo menyanyikan lagu yang ditulisnya untuk Hanna. Lagu yang ditulis dengan penuh perasaan. Lagu yang ditulis Bimo sejak pertama kali dia mengenal gadis itu, sekitar empat bulanan  yang lalu.
Seakan semua apa yang dilakukannya selama ini berakhir dengan sebuah ke sia-sia an.  Apalah arti seribu puisi dan pengorbanan, bila hati yang di inginkan tak membuka celah untuknya. Hanna yang manis hanya menganggapnya sebagai teman dekat, tidak celah untuk melangkah lebih, apalagi memiliki hatinya.
Bimo terlarut dengan suasana. Nafasnya mendadak berat.
“ Jadi selama ini kamu hanya menganggapku teman?” Tanya Bimo.
“ Bim, semua perempuan itu makhluk perasa, aku tak mungkin berbohong dengan berkata aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatimu. Bila kamu bertanya begitu, aku menjawabnya iya. Mungkin ini akan menjadi hal menyakitkan buatmu, tapi kuharap kamu memahaminya bila berada di posisiku.” Kata Hanna.
“ Aku mau fokus sama studi ku Bim. Kalaupun hatiku terbuka, aku berharap itu bukan kamu Bim. Kamu baik dan tulus. Aku takut kehilanganmu.” Lanjutnya.
“ Bila kamu takut kehilangan, mengapa kamu menolakku, Han?” 
Bimo menatap mata gadis yang juga menatap terus ke arahnya. Mata sendu di wajah cantik itu rasanya memandang penuh arti kepadanya. Bimo menelan ludah dan berusaha menahan perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.
“ Aku takut bila kita bersama, lalu kita bermasalah dan putus di kemudian hari. Aku tidak mau itu terjadi. Kamu tahu aku memiliki banyak teman lelaki, kamu tahu tentang perasaanku pada mantan kekasihku. Aku tidak bisa menjamin aku bisa sepenuhnya sayang sama kamu Bimo...” Kata Hanna pelan.
“ Jadi, aku harus bagaimana?” Tanya Bimo.
“ Tetap jadi teman yang baik buatku, bisa?” 
“ Suatu keharusan agar aku tidak jauh darimu, atau itu hanya alasan bahwa kelak kamu akan pergi meninggalkanku padahal kamu tahu perasaanku? ” Tanya Bimo.
“ Percayalah Bimo, pertemanan tidak akan mengenal kata putus.”
“ Boleh aku menunggu sampai kamu siap menerima cintaku?” Tanya Bimo.
“ Untuk apa?”
“ Untuk membuktikan bahwa aku memiliki cinta yang besar buatmu.”
“ Aku tidak tahu, Bimo....”
“ Tidak tahu kenapa?” 
“ Kamu pasti akan tersiksa Bimo. Bila kamu mencintaiku, tak perlu sampai mengorbankan hatimu hanya untuk menungguku, kamu bisa mencari yang lebih dariku, Bim. Aku yakin kamu pasti bisa,....”
“ Aku tidak yakin, Han..”
Hanna menepuk pundak Bimo dengan pelan.
“ Hei, aku tidak pergi kemana-mana, kamu tidak perlu menunggu. Jalani saja semuanya seperti biasa. Kamu teman terbaikku. Kita bisa kok memutar waktu seperti saat pertama kenal dulu. Bila kita tidak bisa kenalan ulang, maka ingatlah aku sebagai orang yang menjadi penyemangat seperti lagu yang tadi kamu tulis buatku.” Jawab Hanna lagi. Senyum lebarkan menyejukkan hati Bimo seketika.
“ Janji tidak akan pergi, dan selalu ada buatku?” Tanya Bimo.
“ Bila aku bisa, kenapa tidak?”
Kecewa itu pasti. Siapa yang tidak kecewa bila cintanya ditolak oleh gadis pujaannya. Meskipun Hanna berulang kali mengatakan dia tak menolak cinta Bimo, namun sikap yang ditunjukkan gadis itu sudah menjelaskan semuanya. Apa daya. Gadis yang dicintainya memilih untuk tak menjalin hubungan percintaan dengan siapapun, memilih untuk fokus pada studinya yang tengah berada di semester-semester akhir, tentang perasaannya kepada mantan kekasih yang belum berubah, semua itu cukup jawaban penantian dan perhatian Bimo kepada Hanna sejak berbulan-bulan ini.
“ Adakah kesempatan untukku di hari yang lain?” Tanya Bimo lagi.
“ Kenapa tidak kita jalani saja semua perjalanan ini tanpa harus terbebani oleh perasaan dan persoalan hati. Hati tidak akan pernah berbohong kok, dia akan tahu kemana dia akan berhenti mencari. Suatu hari nanti aku tidak tahu apakah perasaanku bisa menjawab pertanyaanmu, tapi bila kamu tercipta untukku dan aku tercipta untukmu pasti tidak ada keraguan untuk menjawabnya.” Kata Hanna.
Dalam hati Bimo berkata dia tidak boleh menyerah begitu saja, hari ini Hanna belum bisa menerima cintanya, siapa yang tahu di kemudian hari semuanya akan berubah. Bimo akhirnya mampu tersenyum, dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Hanna benar. Hari ini dia belajar tentang cinta dan sayang dari Hanna. Untuk sayang sama seseorang, kadang tak harus dengan memilikinya sebagai kekasih. Bukankah pertemanan tak mengenal kata berpisah? Bukankah sayang sudah bermakna memiliki?. Hanna benar, mungkin mereka harus kenalan ulang, itu cara terbaik untuknya kembali menata hati.
“ Bim, kamu mau merekam lagumu tadi, lagunya bagus. Aku suka.”
“ Tentu saja. Itu aku memang tulis buat kamu. Sejak 3 bulan yang lalu.”

S E L E S A I