Bagian 1

Dengan mengendap-ngendap aku memberanikan diri membuka pintu kamar yang selama ini selalu terkunci rapat. Tidak ada satu suarapun yang terdengar, hanya suara jangkrik dan detak jarum jam di tanganku yang terdengar berdetak. Sedikit tegang aku menarik handle pintu yang terbuat dari besi mengkilat. Pintu kayu jati itu berderit pelan. Perlahan kuputar kearah kanan. Kluk! Dengan nafas tertahan aku dorong daun pintu itu pelan-pelan. Hah!
Tersentak aku begitu setengah daun pintu itu terbuka. Sekelebat bayangan seperti tengah berada di lantai menggelosor menjauhiku. Rambutnya putih, badannya membungkuk, matanya merah tajam, diperlihatkan gigi-giginya yang hitam. Seketika jantungku seperti mau copot. Sedetik kemudian aku banting kembali daun pintu itu dengan keras dan berlari menjauhinya. Langsung aku berlari keluar rumah mewah itu dan terduduk dikursi depan pintu utama. Nafasku masih terengah-engah. Bulu kudukku merinding seketika. Berulang kali kalimat kitab suci mengalir dari mulutku.
“Astaghfirullah, mahluk apa itu?” Teriakku dalam hati.
Langit terlihat begitu gelap dan gerimis hujan mulai turun. Sesaat kemudian aku serasa terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan. Ingin pergi dari rumah itu namun mau menginap dimana, bila tetap bertahan semalam saja mungkin bayangan nenek-nenek mengerikan tadi akan menghantuinya sepanjang malam. Jam ditangan menunjukkan tepat pukul 01.25. Bulu kudukku tetap merinding.
Salahku juga nekat memberanikan diri membuka pintu kamar yang terlarang. Rasa penasaran sejak pertama menginjakkan kaki dirumah ini yang menjadi penyebabnya. Sejak awal tinggal dirumah mewah ini memang sudah dibuat penasaran oleh kamar yang ada dibalik tangga keatas. Pak Helmy, bos ku yang juga pemilik rumah ini kerap mewanti-wanti untuk membuka atau masuk kedalamnya. Sejak empat bulan yang lalu aku masih bertahan memegang janji itu, namun sejak seminggu terakhir rasa penasaranku meningkat terlebih kejadian-kejadian aneh kerap muncul belakangan. Puncaknya malam ini aku melanggar perintah dari Pak Helmy, dan inilah yang terjadi. Ketakutan benar-benar menjalariku sekarang. Tidak hanya soal nenek-nenek mengerikan yang muncul tiba-tiba tapi takut ada hal lain yang akan terjadi akibat aku melanggar perintah Pak Helmy itu. Takut dan perasaan lain menghunjam jantungku.
Aku berlari mundur menjauhi pintu kamar terlarang tersebut. Tujuanku adalah pintu keluar, suasana sedemikian menceka. Entah darimana datangnya tiba-tiba angin bertiup kencang menerpaku, beberapa kursi tergeser dan lampu gantung ikut bergoyang-goyang. Aku hanya bisa berjalan mundur berusaha menyelamatkan diri.
Blaaaak! Blaaaak!
Pintu utama terbuka dan tertutup dengan sendirinya. Aku berbalik badan dan mundur pelan-pelan. Ssssst! Dari arah depan mendadak muncul kembali bayangan yang tadi aku temui di kamar terlarang. Kali ini benar-benar memperlihatkan wujudnya dalam bentuk yang nyata. Wajah seram itu berwujud nenek-nenek renta ala Mak Lampir. Rambutnya awut-awutan, baju yang dikenakannya adalah gaun panjang, giginya yang besar hitam diperlihatkan seakan hendak menggigit tubuhku hidupku. Badannya lunglai seakan mau rubuh, jalannya merangkak cepat dan bergerak kearahku.
“Hihihi...”  
Tawanya seperti suara tawa kuntilanak. Moncong mulutnya yang memproduksi tawa mengerikan itu menyemburkan bau busuk mayat, lalu berulang kaki menyemburkan darah kental menjijikan. Dengan bergerak cepat, nenek-nenek hantu itu menggelosor kearahku. Allahu akbar!
Aku menggigil setengah mati. Seakan aku serasa kaku tak mampu menggerakkan badanku. Aku seakan terdorong oleh angin kencang yang sedari tadi menerpaku, berdiri kaku di sudut ruangan, tanganku terkembang seperti terpaku di dinding, Mulutku ikut-ikutan kaku tak mampu lagi melafadzkan bacaan ayat-ayat suci Al Quran pengusir setan. Berlahan nenek-nenek hantu itu merangkak mendekatiku, merayapi kaki dan tubuhku. Bau busuknya semakin kuat dan nyaris membuatku muntah. Sedetik kemudian wajah menyeramkan itu benar-benar hanya berjarak dekat dengan wajahku. Mulutnya terus mengeluarkan darah yang berbau busuk, kepalanya lunglai ke kiri dan ke kanan seakan tidak memiliki tulang dan otot. Tawanya semakin keras sambil menyemburkan ludah dan darah menerpa tubuhku. Aku terjepit. Tak mampu aku melakukan apa-apa, ingin menjerit sekeras-kerasnya namun tidak ada satupun suara yang keluar dari mulutku. Wujud menyeramkan itu membuatku hanya bisa menutup mata,sedetik kemudian aku lemas tak berdaya dan ambruk seketika di lantai.

Bagian 2

“ Fit, Fitra!” 
Sebuah suara seakan mengalun-alun ditelingaku. Membangunkanku seketika. Dengan berlahan aku membuka kelopak mataku. Ternyata aku masih dalam posisi terbaring didepan pintu kamar terlarang. Tersungkur sedari malam tadi. Aku spontan bangun dan memperhatikan sekelilingku. Aku perhatikan bajuku. Tidak ada darah busuk yang tadi malam menyembur dari mulut nenek-nenek hantu. Ruuangan itu juga tidak berantakan seperti tadi malam, padahal aku ingat betul bagaimana kursi-kursi itu tergeser dan beberapa benda diatasnya terjatuh. 
Hal yang pertama yang menarik perhatianku adalah pintu kamar terlarang yang tadi malam aku buka. Aku bangun dan memutar handlenya, masih terkunci. Aku mulai heran dengan semua ini, apakah tadi malam aku berhalusinasi atau hanya bermimpi saja? Jelas-jelas tadi malam pintu kamar ini aku buka dan kuncinya bahkan aku buang entah kemana saking kagetnya, belum lagi wujud nenek-nenek hantu mengerikan itu, kemana? Ruangan ini seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Dengan kepala masih berat aku terhuyung-huyung melangkah ke arah pintu. Aku putar anak kunci dan membukanya pelan-pelan.  Bayu, teman kantorku tampak sudah berdiri didepan pintu dengan setelan kemeja kantor berwarna biru, rapi, lengkap dengan tasnya dan tatapan mata yang seakan memandang aneh kepadaku.
“ Baru bangun?” 
“ Bayu?” Aku malah melempar pertanyaan kepadanya.
“ Terlalu kamu. Kita ada presentasi dengan klien pukul 09.00, tapi jam 08.30 kamu baru bangun tidur. Untungnya aku punya inisiatif untuk mendatangi kesini.”
Aku dengan terhuyung-huyung melangkah ke kursi dan duduk sambil terus memegangi kepalaku. Pusing berat menyerangku seperti ribuan jarum menikam kepalaku.
“ Rumah ini aneh bay!” Jawabku.
“ Yang aneh itu kamu. Buruan mandi, jangan sampai pak bos marah dengan tingkahmu. Jarak ke kantor klien itu tidak cukup lima menit lho Fit. Jangan mencari alasan ya.”
Aku hanya menimpalinya dengan tarikan nafas berat.
“ Iklan untuk produk barunya Indomie?” Aku bertanya balik.
“ Itu kamu inget.” Jawab Bayu.
“ Temani aku kedalam sebentar, ada sesuatu yang aneh dirumah ini. Nanti aku ceritakan.” Jawabku.
Bayu kembali memandangku dengan tatapan aneh. Ada semacam rasa tidak percaya terpancar dari sorot matanya. Namun sesaat kemudian dia menganguk mengiyakan. Aku bangkit dan memasuki ruangan itu diikuti oleh Bayu. Ke kamar mandi. Bayu kedua telapak tangannya dan berdiri disamping pintu kamar mandi, sementara aku masuk kedalam. Aku arahkan pandanganku mengitari ruangan kamar mandi. Aku nyalakan shower. Lalu berdiri didepan kaca dan membuka pakaian hanya mengenakan handuk saja. 
Sssssssssttttt. Entah darimana datangnya tiba-tiba aku melihat bayangan hitam yang berkelebat dari pantulan cermin. Namun hanya sesaat saja, karena kemudian hilang.
Akkkkhhh! Spontan aku berteriak kencang.
Tookkk toookkk! 
“Fitra, Fitra, kamu tidak apa-apa?”,  Suara Bayu diluar sana.
“ Tidak apa-apa. Maaf.” Kataku terbata-bata.
“ Jangan becanda, kita sudah ditunggu.” Suara Bayu.
Kekagetanku semakin bertambah ketika air shower itu mendadak mengeluarkan air berwarna merah dan terus bercampur dengan air jernih yang ada di bak mandi. Aku mengucek mata berulang kali memastikan tidak salah lihat. Aku raup air di bak mandi, aku ciumi baunya. Anyir. Astaga. Ini darah.
Aku mundur beberpa langkah dan berulang kali mengucek mata. Tak lama kemudian air itu kembali seperti semula. Tidak ada darah dan bau anyir, hanya air yang jernih dan tidak berbau. Aku raup dan membasuh mukaku sambil terus memukul-mukul kepalaku sendiri. Entah apa yang terjadi pada diriku. Mungkinkah ini sebatas halusinasi atau memang benar-benar nyata terjadi. Cukup lama aku berdiri mematung sampai akhirnya aku segera mengambil gayung dan menyiramkan air ketubuhku. Aku harus segera berangkat meeting. Sudah ditunggu.

Baca juga Cerita Pendek: Reuni



Bagian 3

Hari ini pikiranku benar-benar kacau. Sepertinya memang ada sesuatu yang besar benar-benar terjadi padaku. Dari kejadian tadi malam yang begitu menyeramkan, kejadian di kamar mandi, tadi dijalan sempat nyaris kecelakaan karena tiba-tiba mengerem mobil mendadak, lalu ketika meeting kejadian aneh kembali menghampiri. Dijalan tadi jelas-jelas aku melihat ada nenek-nenek hantu yang duduk dikursi belakang saaat aku mengarahkan pandangan melalui spion. Bayu tidak melihat apa-apa. Aku yang menyetir langsung mengerem mendadak sehingga tak ayal lagi ditabrak oleh mobil Avanza hitam yang ada dibelakang mobil yang dikendarai. Sementara ketika meeting hal yang aneh juga terjadi. Mulai dari tanpa sengaja aku memuntahkan teh manis yang aku serutup karena mendadak berubah anyir dan berubah menjadi darah kental. Lalu berlanjut dengan tangan menyeramkan yang keluar dari dalam tas ku itu sungguh membuatku kacau hari ini. Beruntung Bayu bisa menghandle semua presentasi, bila tidak mungkin klien besar di perusahaan advertising tempat kami bekerja itu bisa marah besar. Bila itu terjadi dan Pak Helmy, si bos kami tahu, maka bisa dipastikan akan dipecat secara tidak hormat. Bila itu terjadi maka akan menjadi pengangguran lagi. Parahnya maka aku akan kehilangan tempat tinggal yang selama ini dititipkan oleh Pak Helmy kepadaku. 
Yaa, rumah yang aku tempati sekarang adalah rumah miliknya Pak Helmy. Pertama datang ke Jakarta aku sempat kebingungan untuk memilih tempat tinggal. Apartemen tentu tidak terbeli, sementara kost-kostan juga mahal. Enam bulan bekerja di Jakarta, di Perusahaan Advertisingnya Pak Helmy, aku malah ditawari untuk menempati salah satu rumahnya yang ada di daerah Daan Mogot. Rumahnya tidak terlalu besar. Menurut beberapa teman, rumah tersebut adalah rumah pertama Pak Helmy sebelum akhirnya pindah ke rumah mewahnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku tentu tak menolak tawaran itu. Pertama kali datang rumah itu memang cukup menyenangkan. Meskipun masih berbentuk rumah lama, namun cukup asri dan nyaman. Interiornya juga cukup khas ala-ala rumah jaman dulu. Beberapa barang antik koleksinya Pak Helmy juga ditaruh ditempat itu, misalnya motor CB kesayangannya, ada juga koleksi-koleksi barang antik yang ditaruh diruang khusus. Pak Helmy memang terkenal memiliki kegemaran menyimpan barang antik. Benda-benda kesayangan semasa mudanya ditaruh semua dirumah itu. Beberapa motor antiknya bahkan aku diminta untuk merawat dan memakainya sehari-hari agar tidak rusak. Benda-benda itu tidak murah pastinya. Jujur sampai detik ini aku tidak tahu mengapa bos ku itu begitu mempercayakan semua barang-barang bahkan rumahnya kepadaku, padahal aku masih terhitung baru bekerja di perusahaannya. Entah bagaimana bos ku itu bisa percaya. Tidak ada ketakutan aku akan mencuri atau mengambil barang-barang kesayangannya itu. Tentu itu masih menjadi pertanyaan besarku selama ini.
Satu-satunya yang menjadi misteri adalah adanya larangan untuk tidak membuka salah satu kamar di rumah itu. Kamar itu terletak dibawah tangga utama disamping ruang penyimpanan benda-benda koleksinya Pak Helmy. Rumah itu dua tingkat, aku kerap tidur dilantai dua. Kalau Pak Helmy dan keluarga mengunjungi rumah ini biasanya tidur dilantai bawah, begitu juga dengan anak-anaknya, Rahmi dan Gina. Kamar dilantai dua dulunya adalah kamarnya Gina, begitu menurut Pak Helmy. Dari semua ruangan dan bagian rumah itu, hanya kamar dibawah tangga itu yang tidak dideskripsikan isinya. Pak Helmy hanya mewanti-wantiku untuk tidak pernah membukanya, meskipun hanya mengintipnya saja. Di tahun pertama aku memng memegang erat apa yang di wanti-wantikan kepadaku, namun sejak dua bulan terakhir rasa penasaranku menjelma menjadi sebuah tindakan yang kemudian aku sesali. Belakangan memang kerap terdengar suara-suara aneh dari dalam ruangan itu, seperti suara orang mengerang, suara harimau, tak jarang aku juga mendengar suara seperti desahan wanita yang tengah berhubungan badan. Hal terakhir yang menjadi alasan terbesarku mengapa akhirnya semua rasa penasaranku itu menjadi sebuah keberanian untuk membuka pintu kamar terlarang itu. Dan inilah dampaknya, sekarang aku diterror oleh hantu nenek-nenek dan halusinasi tentang darah. Aku yakin semua yang kualami ini tidak hanya sekedar halusinasi. Ada misteri besar dibalik pintu kamar itu, ada rahasia besar yang harus aku ungkapkan. Tapi bagaimana aku mengetahuinya? Apakah aku harus mencari tahu ada apa didalam kamar itu, sementara kejadian seram itu masih menyisakan trauma buatku. 

Bagian 4

Bayu tertawa keras saat aku menceritakan semua yang aku alami setelah pulang dari meeting tadi. Lelaki asal Purbalingga itu benar-benar tidak percaya dengan hal aneh yang tengah kualami.
“ Ini sudah tahun 2018 lhoh, udah jaman serba online dan digital, bagaimana bisa masih ada cerita tentang hantu-hantu begitu. Haha, ada-ada saja kamu.”
“ Aku ngomong beneran Bay, itu yang aku alami.”
“ Haha. Akh mungkin ini efek kamu nonton film The Dolls 2 kemarin ya?”
Bayu tertawa keras.
“ Ada sesuatu di kamar itu. Entah kenapa Pak Helmy melarangku mengintip apalagi membukanya, dan sekarang semua itu sedikitnya terbuka alasannya.”
“ Maksudmu? Ada sebuah misteri besar dikamar itu?”
“ Yang ada dipikiranku seperti itu Bay, dan semua kejadian ini itu cukup memberikan penjelasan kalau memang ada sesuatu dikamar itu. Pasti.”
Bayu tertegun. Lelaki berkacamata itu mulai sedikit mencerna semuanya.
“ Jangan-jangan seperti di film-film horror, dimana ada pembunuhan dikamar itu, lalu mayatnya dikubur tidak wajar, dan dia bergentayangan menjadi arwah nenek-nenek tua?” Bayu mulai meraba kejadian itu.
“ Bisa jadi. Semua pertanyaan itu akan terjawab kalau kita melihat apa yang ada didalam kamar terlarang itu.” Jawabku pelan.
“ Bagaimana kalau hantu nenek-nenek itu menyerang kita? Serem ah.” 
Gantian aku yang tertegun.
“ Apa kita harus membawa orang pintar?” Tanyaku.
“ Jangan Fit. Khawatirnya kalau Pak Helmy tahu nanti beliau malah marah, bisa-bisa nanti kamu diusir dari rumah itu karena sudah terbukti melanggar perintahnya. Kabar buruknya lagi kamu bisa saja dipecat dari kantor.” Kata Bayu.
“ Benar juga, tapi bagaimana kita mengantisipasinya kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat Bay, mereka bukan manusia.” 
“ Mereka?” Bayu mengkeryitkan dahinya.
“ Bisa saja lebih dari satu. Tapi jujur, nenek-nenek hantu itu seram sekali. Aku pingsan saat menatap wajahnya.” Kataku seketika.
“ Jelaskan seperti apa wujudnya.” 
Aku tertegun. “ Seperti orang gila, mulutnya mengeluarkan darah, baunya busuk seperti mayat yang telah lama membusuk, jalannya menggelosor seperti suster ngesot, dan yang yang aku ingat adalah giginya hitam dan setiap tertawa menyemburkan ludah dan darah yang baunya busuk.”
Bayu terlihat sedikit terkejut mendengar penjelasanku. Tapi karena dia belum melihat langsung sepertiku jelas yang aku sebutkan tadi masih berupa imajinasinya saja, aslinya jauh lebih menyeramkan. 
“ Baik. Itu cukup terdengar menyeramkan. Kita akan cari tahu dua hari lagi, tepat di hari Selasa. Untuk malam ini kamu tidur saja di tempatku. Jangan takut dan trauma, itu bisa mengganggu psikismu. Halusinasi itu mengikutimu. Saranku, malam ini kamu mengaji saja.” Kata Bayu.
“ Pakaianku Bay...?”
“ Pakai saja pakaianku dulu. Aku takutnya kalau pulang nanti kamu malah menghalami hal-hal yang berlebihan. “ Begitu kata Bayu.
Aku mengiyakan saja. Lagipula aku butuh istirahat setelah semua kejadian-kejadian ini. Sedikit banyak aku lega karena akhirnya Bayu mau mendengar ceritaku. Walaupun tadi aku sempat membuat kacau di meeting dengan klien, namun Bayu malah menjadi penyelamat; dan sekarang dia melakukan hal yang sama. Bayu pernah di sebuah pondok pesantren, aku yakin dia bisa menjadi tempat perlindunganku malam ini.

Bagian 5

Ssssssstttt.. Ssssssstttttt!
Ssssssssttttt,. Akkkkkhhh,, Heeeemmmh, Hihihi, Ssssssstttttt!
Aku berusaha menutup kupingku kuat-kuat. Suara-suara menyeramkan itu datang lagi mengisi kepalaku. Aku yang sedari tadi tidak tidur nyenyak mendadak harus menghadapi hal terseram dalam hidupku ini. Suara desiran angin, suara jeritan, dan suara wanita yang mendesah itu kembali menyerbu pendengaranku. Aku tidak berani membuka mataku. Sedetik kemudian mimpi buruk itu datang lagi ketika bau busuk mayat itu menyerbu hidungku. Akkkkkhhh!
Sekarang aku berada dititik kebingungan, harus menutup hidung, mata, atau telingaku. Lamat-lamat aku membuka mataku yang sedari tadi tertutup rapat. Bukan main terkejutnya aku saat membuka mata. Wajah nenek-nenek hantu yang kepalanya lunglai ke kiri dan ke kanan, lengkap dengan giginya yang hitam dan menyemburkan ludah dan darah berbau busuk itu sudah berada tepat didepanku, hanya berjarak sekitar 10 cm saja.
Aku nyaris berteriak sekencang-kencangnya, dan suara itu tidak keluar dari mulutku. Aku berusaha keras untuk melawan segala ketakutanku. Aku dorong tubuh itu sekeras-kerasnya. Seperti mendorong angin, namun nenek-nenek hantu itu jatuh terjerebab dan tersungkur menabrak kursi-kursi di ruangan yang tidak asing bagiku. Aku memandang sekeliling. Sebuah tempat yang aku cukup mengenali. Ada kursi-kursi kayu, ornamen-ornamen kayu jati dan beberapa lukisan menir dan noni-noni Belanda di ruangan itu. Aku tidak sangsi lagi. Ini rumahnya Pak Helmy!
Bagaimana bisa aku kembali ke rumah ini? Bukankah aku tidur di rumahnya Bayu? 
Pikiranku belum sampai menjawab pertanyaanku sendiri kini aku harus berfikir keras bagaimana harus melarikan diri dari nenek-nenek hantu menyeramkan yang merangkak cepat ke arahku. Aku bangkit dan setengah berlari menuju ke pintu. Aneh, aku sudah berlari sedemikian kencang namun tidak juga sampai. Angin kencang berhembus menerpaku, membuat karpet dan kursi-kursi bergeser. Bahkan kali ini lampu gantung sampai terjatuh, begitu juga guci antik benda koleksi Pak Helmy yang ada di sudut ruangan sampai terjatuh dan pecah seketika.
Aku terus berusaha berlari sekencang-kencangnya. Namun sesaat kemudian aku hanya bisa pasrah saat aku merasakan ada cengkraman tangan erat di kedua kakiku. Seketika aku terjerebab. Bau busuk mayat itu menusuk hidungku.
“ Hihihihi.”...
Tawa menyeramkan itu menjadi hal terakhir yang aku ingat. Sebelum akhirnya wajah menyeramkan nenek-nenek hantu itu kembali memandangi wajahku yang membuatku kembali tidak sadarkan diri untuk kesekian kalinya.

Bagian 6

“ Fit, Fitra!” 
Sebuah suara seakan mengalun-alun ditelingaku. Membangunkanku kembali Dengan berlahan aku membuka kelopak mataku. Itu suara Bayu. Aku beringsut bangun dan bangkit untuk menuju ke pintu. Aku perhatikan sekelilingku. Benar, ini adalah rumahnya Pak Helmy. Dan aku tergeletak tepat didepan pintu kamar terlarang. Tidak ada yang berubah di ruangan ini. Harusnya kursi-kursi berantakan. Semuanya seperti sedia kala. Aku berlari seketika membukakan pintu. Tampak Bayu sudah berdiri rapi didepan pintu lengkap dengan tas kantornya.
“ Baru bangun?” 
“ Bayu?” Aku malah melempar pertanyaan kepadanya.
“ Terlalu kamu. Kita ada presentasi dengan klien pukul 09.00, tapi jam 08.30 kamu baru bangun tidur. Untungnya aku punya inisiatif untuk mendatangi kesini.”
Aku kembali terhuyung-huyung menuju ke arah kursi yang ada disamping pintu. Memegangi kepalaku. Pusing dan bingung, itu hal yang aku alami saat ini.
“ Apa yang sedang terjadi? Ini hal teraneh yang pernah aku alami.” Jawabku.
“ Yang aneh itu kamu. Buruan mandi, jangan sampai pak bos marah dengan tingkahmu. Jarak ke kantor klien itu tidak cukup lima menit lho Fit. Jangan mencari alasan ya.”
Aku menghentikan aktifitasku. Memandang ke arah Bayu.
“ Iklan untuk produk barunya Indomie?” Aku bertanya balik.
“ Itu kamu inget.” Jawab Bayu.
Aku memegangi erat kepalaku.
“ Ini benar-benar aneh. Kita sudah presentasi kemarin Bay!”
Bayu mengkeryitkan dahinya.
“ Jangan mengada-ada. Cepat mandi dan kita berangkat sekarang.”
“ Aku mandi di SPBU saja. Ayo berangkat.”
Bayu tertegun dan terus memandangiku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku tidak peduli, aku menuju ke arah Pajero yang terparkir tepat didepan rumah. Bayu mengikutiku dan dia membukakan pintu. Tatapannya terus menunjukkan ada pertanyaan menari-nari di kepalanya. “ Jangan banyak tanya.” Kataku.
Sungguh aku benar-benar pusing dengan semua kejadian ini. Pagi itu aku mandi di SPBU dan langsung menuju ke kantor klien untuk mempresentasikan sampel iklan untuk produk mereka. Diluar nalarku, ada kejadian yang sama persis seperti hari kemarin. Ada nenek-nenek hantu yang terlihat di spion, ada darah di teh manisku dan hal yang sama seperti yang aku lakukan kemarin.
“ Apa yang terjadi padaku, Bay?”
Bayu tertegun. Sama seperti ekspresinya kemarin.
“ Maksudmu? Mungkin kamu tengah berhalusinasi, ini akibat dari menonton film’...
“ The Dolls 2! ” Sahutku menimpalinya.
 Bayu tersentak. “ Bagaimana kamu bisa menebak apa yang akan aku katakan?”
“ Karena kamu sudah mengatakan hal yang sama; kemarin.” Jawabku.
“ Apa yang terjadi sebenarnya, kamu bisa ceritakan.”
“ Kita ke rumah Pak Helmy sekarang. Aku rasa ada sesuatu dirumah itu, apapun itu adalah jawaban dari semua keanehan hari ini.” Jawabku.
Bayu sedikit terkejut, namun karena ekspresiku yang menunjukkan ketegangan luar biasa akhirnya dia mengiyakan. Dengan kecepatan tinggi aku menyetir mobil seperti kesetanan dan langsung menuju kerumah itu. Bayu sempat berteriak-teriak saat aku membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Tapi aku tidak peduli.
Rumah itu sepi. Karena selain hanya aku yang tinggal disitu, rumah itu juga cukup jauh dari tetangga lain. Tidak seperti berada di kompleks perumahan lain, rumah Pak Helmy yang terletak ditengah-tengah memang tidak memiliki tetangga. Ada tetangga kompleks berjarak lima rumah di kiri, sementara di kanan berselang dua rumah. Rumah terdekatnya juga sama tidak berpenghuninya. Aku yang selalu sibuk bekerja sebelumnya tidak pernah peduli dengan semua itu, satu-satunya tetangga terdekat adalah rumah Om Bambang yang ada tepat didepan rumah, itupun sedikit kekanan berjarak dua rumah. Rumah yang berada tepat didepan rumah Pak Helmy itu juga kosong, dulu sempat bertanya dengan Om Bambang, dan menurutnya rata-rata sudah memiliki rumah baru dan memilih untuk tidak berada di kompleks tersebut. Rumah Pak Helmy memang yang paling bagus, terlebih didalamnya ada barang-barang koleksinya yang berniat jutaan rupiah, tentulah harus dihuni untuk menjaganya. Pembantu rumah dan tukang kebun hanya datang seminggu sekali. Namanya Kang Jamil dan Ceu Reni. Keduanya adalah pasangan suami istri yang konon telah bekerja lama kepada keluarganya Pak Helmy. Pasangan suami istri yang sudah menikah justru bekerja di rumahnya Om Ruslan tidak bekerja di rumah Pak Helmy, bukankah aneh. Om Ruslan adalah sahabat Pak Helmy yang tidak beberapa blok dari rumah Pak Helmy tersebut. 
Siang itu Kang Jamil menjadi orang pertama yang harus aku temui. Aku merasa bahwa Kang Jamil yang sudah lama bekerja pada Pak Helmy pasti tahu akan kebenarannya. Namun hanya kekecewaan yang aku dapatkan, tidak ada informasi yang diberikan oleh Kang Jamil.
“ Anu mas, saya sudah lama tidak tinggal disitu. Sejauh yang saya tahu tidak ada apa-apa disitu, memang ada beberapa benda pusaka miliknya bapak. Terutama di ruang khusus koleksinya.” Begitu menurut penuturan Kang Jamil.
“ Kalau itu saja juga tahu Kang, namun yang saya maksud adalah kamar di bawah tangga itu kang. Belakangan saya menemukan kejadian aneh dan suara-suara yang berasal dari kamar itu.” 
Kang Jamil terdiam.
“ Saya kurang tahu banyak mas.” Jawabnya.
Entah kenapa aku merasa Kang Jamil menyembunyikan sesuatu, namun aku tidak tahu itu apa. Meski begitu aku sudah membulatkan tekad untuk mencari tahu apa yang ada di ruangan itu.
Bayu hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkahku. Namun aku tidak peduli.
Dan itu memang menjadi hal yang harus aku lakukan hari itu juga. Begitu sampai di rumah itu aku langsung menuju ke arah kamar terlarang yang terletak di bawah tangga. Bayu terus saja mengikutiku. Aku mulai mencari dimana kunci kamar yang aku buang tanpa sekarang kemarin. Tidak ditemukan. Aku memutuskan untuk mendobraknya.
Braaaaakk!
Pintu kamar itu terbuka. Kaget dan rasa tidak percaya menghinggapi. Kamar itu kosong tidak ada apa-apa. Benar-benar hanya sebuah ruangan kosong. Hanya ada sebuah lukisan besar di dinding kamar.
Bayu melipat kedua tangannya didepan dada. Dia bertepuk tangan kearahku, seakan mengejek dengan semua kekhawatiranku kali ini. “ See?” katanya.
Aku mengitari sekeliling ruangan. Aku ketuk-ketuk dinding ruangan seakan mencari sesuatu. Satu-satunya yang menarik perhatian ada lukisan besar di sisi kiri dinding. Lukisan itu adalah gambar seorang noni Belanda yang berpakaian ala bangsawan Belanda. Wajahnya cantik. Tidak hanya aku saja, Bayu juga ikut memandangi lukisan itu. Mata gadis bule di lukisan itu begitu hidup. 
“ Gadis yang cantik. Ini seperti lukisan mahal dari maestro lukis pada jaman masa kolonial. Tapi yang membuat aku heran, lukisan ini hanya dipajang disini, dan hanya ada lukisan ini saja satu-satunya benda yang ada disini.” Kata Bayu.
“ Sama Bay, aku juga heran. Aku jelas-jelas mendengar suara-suara aneh itu disini, bahkan saat pertama kali membuka pintu itulah nenek-nenek hantu itu muncul dan menghantuiku.” Jawabku.
“ Nenek-nenek yang tadi kamu ceritakan?”
“ Betul.” 
Bayu bergerak ke arah lukisan itu. Dia mengangkat lukisan itu. Sepertinya dia mulai tertarik pada lukisan itu. “ Pasti ada sesuatu di lukisan ini.” Katanya.
“ Bagaimana menurutmu?”
“ Dinding di belakang lukisan ini adalah jawabannya. Pernah menonton salah satu film horror yang menyembunyikan mayat dibelakang dinding?” Tanya Bayu.
“ Jadi?.....” .
“ Ambil Linggis Fit. Kita bongkar dinding ini.” 

Bagian 7

Benar seperti yang ada dipikiran Bayu. Memang ada sesuatu dibalik lukisan noni Belanda itu. Begitu dinding itu dijebol, yang kami temukan adalah sebuah tulang-tulang yang kemudian berserakan di lantai. Hampir bergidik jantungku melihat itu semua. Sungguh rahasia besar itu ada diruangan itu. Pak Helmy sebagai pemilik rumah ini saksi kunci dari semua ini. Mungkin dulu pernah ada peristiwa kriminal atau pembunuhan disitu. Dan entah apa hubungannya antara lukisan, tulang belulang yang kami temukan, dan nenek-nenek hantu yang belakangan menghantuiku itu.
Sungguh sangat ingin rasanya aku melaporkan kejadian  itu ke kepolisian. Namun tentu saja itu bisa mengancam karir, karena kalau Pak Helmy tahu selesailah semua pekerjaan di perusahaannya. Tapi bila penemuan ini tidak dilaporkan, bisa jadi ini akan menjadi sebuah kasus kriminal yang tidak terungkap.
“ Jelas ada kasus pembunuhan yang pernah terjadi disini. Tapi kalau hal ini sampai ke tangan polisi, dan Pak Helmy tahu, maka mungkin karirmu di perusaahaan ini akan berakhir.” Kata Bayu.
Aku terdiam sesaat.
“ Jadi bagaimana, ini sebuah hal yang harus diselesaikan.”
“ ...Atau kita beritahu Pak Helmy?”
“ Itu bunuh diri namanya Bay!” Jawabku singkat.
“ Tidak perlu!”
Sebuah suara dari luar membuat kami terkejut setengah mati. Laki-laki bertubuh gemuk, mengenakan jas, dan berkacamata tebal, berdiri dengan pandangan tajam ke arahku dan Bayu. Sontak saja kami merasakan ada getaran di kedua kaki. Laki-laki itu menyilangkan tangannya didepan dada, matanya menunjukkan ketidaksenangan dari apa yang sudah kami lakukan tadi. Pak Helmy!
“ Bapak,....” Kami berdua koor seketika.
Pak Helmy melangkah kearahku dan Bayu. Kami berdua mundur seketika. Bos perusahaan tempat kami bekerja itu tidak mengeluarkan senyum sedikitpun. Dia jongkok dan menatap ke arah tulang belulang itu. 
“ Pakkk, kami...”
“ Diam!” Bentak Pak Helmy kepadaku.
“ Kamu sudah melanggar perintah saya. Bukankah saya sudah berkata kalau jangan pernah membuka ruangan ini. Kamu lancang sekali, dan sekarang kamu telah melampaui batas.” Katanya lagi.
“ Pak, ada hal yang harus saya ceritakan.....” 
“ Saya sudah tahu. Tidak perlu diceritakan.” Potong Pak Helmy.
Pak Helmy duduk bersila. Tangannya memegang lukisan noni Belanda yang begitu cantik itu. 
“ Namanya Ann Rosaline. Dia adalah satu gadis cantik keturunan Nederland yang pernah tinggal di Indonesia. Dia paling cantik, semua orang menyukainya. Lalu dia kemudian menjalin hubungan dengan pemuda lokal, dia adalah ayah saya. Tapi sayangnya cinta mereka tidak berjalan mulus. Ketika mereka berencana menikah, ayah saya yang seorang pelukis mendadak menerima undangan untuk menjadi pemateri di sebuah seminar nasional di Jogja, disaat yang bersamaan terjadilah peristiwa kejam itu. Dirumah ini Ann dibunuh, diperkosa, dan dimutilasi oleh orang yang begitu iri pada Ann dan ayah saya tersebut. Pembunuhnya tidak lain tidak bukan adalah ibu saya sendiri. Ibu adalah calon istri yang sudah dijodohkan dengan ayah saya. Ayah saya tidak mencintainya. Memang bukan ibu yang melakukannya, tapi dia menyewa preman-preman.” Cerita Pak Helmy.
“ Rumah ini adalah rumah peninggalan kakek dari ibu. Dirumah inilah Ann di dibunuh. Ibu panik. Akhirnya dia menutupi kesalahannya dengan mengubur jasad Ann dirumah ini, diruangan ini. Dulu ruangan ini adalah gudang penyimpanan. Entah bagaimana caranya, tapi ibu dan preman-preman itu yang melakukannya. Akhirnya ibu dan ayah menikah, karena perjodohan itu. Ayah tidak pernah tahu kalau Ann sudah dibunuh, yang dia tahu Ann meninggalkannya. Ibu bertahun-tahun menyimpan kejahatannya. Ibu pernah memiliki keinginan untuk mengakuinya, namun ibu takut akan masuk penjara.”
“ Arwah Ann menghantui segenap penghuni rumah. Preman-preman yang membunuhnya mengalami nasib tragis. Ada yang meninggal kecelakaan, ada yang tersengat listrik, dll. Semua percaya meninggalnya yang tidak wajar karena disebabkan oleh arwah Ann yang membalas dendam.  Ibu yang tidak pernah mengatakan kejujurannya bahkan bertahun-tahun menyimpan rahasia itu dari ayah, dari saya, dari semua keluarga. Tahun 1999 ayah saya meninggal,disusul tahun 2011 kemarin ibu meninggal dunia karena penyakitnya. Sebelum wafat ibu mengatakan kebenarannya.”
“ Sungguh, saya ingin membongkar rumah ini dan menguburkan mayat Ann dengan sewajarnya. Namun saat begitu mencintai ibu saya. Saya tidak ingin aib ini terbuka. Tidak pada siapapun , termasuk istri saya. Setiap ada yang bertanya mengapa keberadaan kamar dan lukisan ini saya rahasiakan, saya selalu berkata bahwa ada sejarah dan kenangan yang membuat saya tidak ingin melihatnya kembali. Tapi sekarang kalian berdua mengetahuinya, saya hanya meminta satu hal: bantu saya, dan jangan ceritakan kepada siapapun. Tolong,...”
Aku dan Bayu hanya bisa berpandangan saja.
“ Apa yang harus kami lakukan pak?” Tanyaku kepadanya.
“ Kita kuburkan mayat Ann seperti selayaknya. Bayu kamu bisa bantu saya untuk hal-hal yang berkaitan dengan agama, dan kamu Fitra kamu bisa bantu saya untuk mengurus segala keperluannya. Seperti yang saya katakan tadi, jangan pernah ceritakan kepada siapapun. Hari ini saya memang sengaja datang kesini, entah mengapa ada sebuah bisikan yang membuat saya harus mendatangi rumah ini. Ternyata hal itu terjadi lagi. Arwah Ann memang kerap datang setiap setahun sekali, terutama saat hari-hari sebelum ulangtahunnya.”
“ Baik pak. Kami akan membantu. Insya Allah.” Jawab Bayu.
“ Sama pak. Saya juga. Tapi karena perbuatan kami ini, bapak tidak akan memecat kami khan pak? Kami masih ingin bekerja di perusahaan bapak...”
Pak Helmy tersenyum “ Tentu saja tidak.” Jawabnya.

Bagian 8

Begitulah. Akhirnya semua bisa diselesaikan dengan baik. Di hari yang sama tulang belulang Ann dikuburkan sebagai layaknya. Seperti yang Pak Helmy perintahkan, kami memang tidak melaporkannya kepada polisi, karena pelakunya juga sudah meninggal. Cukup menjadi sebuah pelajaran saja dari semua kejadian ini, kabar baiknya Pak Helmy tidak memecat kami dan kami masih bekerja seperti biasa. Hanya saja aku sudah tidak tinggal dirumah itu lagi. Aku memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama dengan Bayu. Pak Helmy menerima keputusanku itu, belakangan  beliau memutuskan akan merenovasi rumah tersebut. Harapan kami tentu saja dosa yang pernah dilakukan oleh ibunda Pak Helmy bisa diampuni, dan yang terpenting adalah penampakan nenek-nenek hantu Ann itu tidak lagi menghantuiku. Sudah cukup rasanya. 
Malam itu aku akhirnya bisa tidur dengan nyenyaknya di rumah kontrakannya Bayu. Meskipun Bayu kerap menggodaku bahwa arwah Ann akan datang, namun aku sudah merasa bahwa arwah Ann sudah tenang di alam sana. Amiiinnn.

Bagian Sembilan
Pagi-pagi aku bangun dengan segarnya. Tidak ada bau busuk yang menghantuiku. Tidak ada nenek-nenek hantunya Ann yang membuatku pingsan. Aku bisa melihat dengan jelas matahari dari balik jendela. 
Eh, sebentar....
Aku perhatikan sekelilingku. Ruangan yang tidak asing bagiku. Sebuah kamar berwarna cokelat, ada beberapa lukisan di dinding kamar. Aku mulai merasakan hal yang membuat bulu kudukku berdiri seketika. Aku hapal betul ruangan ini. Ini adalah ruangan kamar tidurku di rumahnya Pak Helmy. Bagaimana mungkin aku bisa berada disini? bukankah aku tidur di kamar baru di kontrakannya Bayu?
Aku bangun dan segera turun menuruni tangga. Bulu kudukku merinding seketika saat melewati pintu kamar terlarang disamping tangga yang pernah ditemukan tulang belulangnya noni Belanda itu. What the... bagaimana bisa ini terjadi?, apa maksud semua ini sebenarnya?
Tokk Tokk ! “ Fit, Fitra!” 
Took Took! “ Fit, Fitra!” 
Suara pintu diketuk. Suara itu aku kenali, suara Bayu. Dengan berlari-lari aku menuju pintu. Aku buka pintunya. Tampak Bayu ada didepan pintu mengenakan kemeja biru, rapi, lengkap dengan tas kantornya.
“ Baru bangun?”
“ Bayu?”
“ Terlalu kamu. Kita ada presentasi dengan klien pukul 09.00, tapi jam 08.30 kamu baru bangun tidur. Untungnya aku punya inisiatif untuk mendatangi kesini.”
“ Iklan untuk produk barunya Indomie?” Aku bertanya balik.
“ Itu kamu inget.” Jawab Bayu.
Akhhhhhhh!
Bagaimana bisa? Kenapa aku kembali kerumah ini, dihari yang sama? Apa yang sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa harus aku?

T A M A T